Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung)

with one comment


Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

”Mau beli apa?”

Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli.

Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu.

Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih. Pada saat itu, di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas, 13 tahun, si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap.

Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh, sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi, saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya.

Belum lama berselang, Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap, yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam, menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali, Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu, tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. Yang jelas, keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak, telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu.

Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap

”Anak-anak burung itu tidak bodoh. Mereka memahami gerak-gerik kita.”

”Mereka belum bisa melihat penuh. Cuma asal terbang, makanya sering saling tubruk.”

”Tapi, setiap kali aku mau menghalau, mereka sudah terbang duluan.”

Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka, ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap.

”Heh, Horas? Mau ke mana?”

”Kau tidak belajar mesin?”

Horas menggeleng. Berlalu dari samping Anggi dan Olan.

Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka.

”Mau ke mana?” ulang Anggi.

”Ke rumah Gumortap,” kata Horas.

Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau, di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka.

”Ada enggak?” tanya Horas.

”Mau apa?” tanya Olan.

”Paling-paling masih di sawahnya di bukit,” kata Anggi.

”Dia dipanggil ayahku,” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan.

”Mau membawa kapal?” tanya Anggi.

”Mesinnya kan sedang rusak,” kata Horas.

”Coba dia membawa kapal sekarang. Nanti malam musim ombak besar. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak,” kata Anggi.

”Tapi semua sudah tahu, Gumortap sekarang membenci ayahmu,” ungkap Olan. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana, siap berkelahi dengan ayahmu.”

Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah. ”Aku jalan dulu,” katanya.

”Aku ikut,” kata Anggi.

”Heh, kita harus mengusir burung,” kata Olan.

”Mereka masih anak-anak burung,” kata Anggi. ”Biarkan saja mereka makan padinya, tak akan banyak!”

Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun, pemain gondang yang baik, dan tentu saja, juru mesin dan juru mudi yang baik.

Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang, Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka, sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka, bahwa Gumortap tidak bisa datang. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau.

Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah, melalui jendela, ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu.

”Kau saja yang memanggil lagi,” kata Ayah Horas. ”Bilang sangat penting, karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam,” kata Ayah Horas kepada abang Horas.

Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal, seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut, tapi kemudian berlanjut saling pukul, sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore.

Dan sejak itu, semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya, siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya, tak banyak yang tahu. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota.

Begitulah, karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil, ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak, tanpa dukungan juru mudi Gumortap. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga.

Enam hari sebelum kematian Gumortap

Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar. Dia baru saja menutupkan jendela. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah, Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu. Licin dan halus. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. Dan seseorang itu bisa saja…ayahnya!

Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. Suara ayahnya dan beberapa orang lain. Entah siapa yang datang bertamu. Horas mendengarkan dari balik pintu. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah, tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal. Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua.

”Kami mendengar lagi Pak,” kata salah seorang tamu itu.

”Banyak yang marah,” kata yang lain.

”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua, barangkali seusia ayahnya.

”Dia kurang ajar. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua,” kata yang lain.

”Bapak harus menegurnya, kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya.”

”Bila perlu mendatangi rumahnya.”

”Jangan mendatanginya.”

”Ya, jangan mendatanginya. Perintahkan, akan saya panggil ia ke sini.”

”Kita paksa saja!”

”Bawa belati ke mana-mana, dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar.”

””Katanya Bapak menghinanya.”

”Mana mungkin!”

”Bapak juga bawa belati, berjaga-jaga.”

”Jangan!”

Belum terdengar suara ayah Horas. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka.

”Eh, ada tamu,” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas.

“Baru dari pekan, Inang?” tanya salah seorang tamu itu.

Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya. Tapi kalau ia keluar, maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura, bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu. Yang dapat dilakukannya adalah, segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. Ia khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya.

Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. Belati telanjang dan berbahaya. Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya!

Hari kematian Gumortap

”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. Langit sore sebagian memerah.

Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya, tapi Horas berhasil mengibaskan. Di sebelahnya, di kakinya, tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. Beberapa orangtua berusaha menolong. Horas melihat sekilas, sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya, seraya mengatakan sesuatu. Namun Horas tak mendengar. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya.

Horas tak menjawab. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya, dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah. ”Anak gila!” umpatnya. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir, entah mengkhawatirkan siapa.

Horas terus merangsek, menusuk, menusuk, menusuk, hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. Tangan Horas kini berlepotan darah, darah seharum ombak malam. Lalu Horas menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah.

Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu. Tangannya gemetar menggenggam belati. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya, di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. Sesaat, Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak, seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah, yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak.*

Written by tukang kliping

26 Juni 2005 pada 10:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Sumber: https://cerpenkompas.wordpress.com/2005/06/26/kematian-gumortap-ombak-dan-belati-tanpa-sarung/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: