Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Tarian Terang Bulan

leave a comment »


Tubuh Ratri bergetar turun dari taksi, mengenakan kruk di bawah ketiak tangan kanan. Memandang sejenak bias purnama di atas gedung-gedung kota lama. Bimbang. Termangu. Menggenggam tanganku. Ratri menyatu dengan cahaya bulan yang samar di antara kelelawar yang terbang di atas atap-atap bangunan tanpa penghuni. Bangunan-bangunan tua, gelap, dan tersia-siakan sepanjang musim membuatku terhenyak, terkesima.

Masih seperti sedia kala, kota lama yang ditinggalkan penghuninya diramaikan dengan cericit kelelawar. Perempuan-perempuan berdandan seronok menggoda lelaki lewat. Pedagang berlampu minyak redup di sudut-sudut gang menanti pembeli. Bau lumut lembab di dinding-dinding bangunan tua yang mengelupas tajam menyengat. Aku tersekap ke masa silam yang tertimbun berbagai kenangan. Di antara perempuan-perempuan yang turun dari mobil beraroma harum dengan ketenangan yang memantul dari wajah mereka, Ratri tetaplah wanita yang menjadi pusat perhatian karena kehalusan pancaran wajahnya. Ia serupa cermin yang menyimpan purnama. Beribu-ribu purnama yang pernah singgah di kota lama terpendam dalam wajahnya.

“Mestinya aku menari mengiringi resital piano malam ini,” kata Ratri, yang wajahnya memancarkan keteduhan bulan. Kulitnya bening, rambutnya lurus sebahu, menyempurnakan kecantikan wajahnya-sebagai wanita yang lahir pada tengah malam purnama.

Aku kehilangan kesanggupan untuk menghiburnya.

“Lama aku mempersiapkan diri untuk bisa mencapai pentas hari ini,” kata Ratri, “sampai datang malapetaka itu, pesawat yang kutumpangi tergelincir di bandara, kaki kananku remuk dan mesti diamputasi.”

“Barangkali kau akan menemukan cara untuk tetap menjadi penari,” balasku.

Ratri menyembunyikan kegelisahan yang mahadahsyat di balik wajah lembutnya, wajah yang memendam senyum bibir merah menyala. Rambutnya lurus sebahu, disusupi cahaya bulan.

Kami memasuki ruang pertunjukan. Cahaya serupa pancaran purnama menerangi piano di tengah panggung. Sang pianis setengah baya yang sempurna ketampanannya berdiri, membungkuk hormat, menanti tepuk tangan mereda. Panggung dalam kesunyian yang agung. Sang pianis tersenyum, berlinang air mata. “Saudara-saudara sekalian, di malam terang bulan ini, mestinya saya tak bermain piano sendiri di sini. Mestinya saya ditemani seorang penari kenamaan kita, Ratri Purnamasidhi Dewi. Tapi sayang, sebuah kecelakaan pesawat terbang telah menyebabkan kaki kanannya mesti diamputasi. Saya persembahkan resital piano ini padanya sebagai rasa simpati yang mahadalam.”

Ratri berdiri, dengan kruk di bawah ketiak tangan kanannya, membungkuk hormat pada penonton, yang memandanginya dalam sunyi, dalam kegagapan.

“Saya berharap, suatu saat, pada terang bulan macam ini, di gedung pertunjukan ini, bisa bersamanya untuk menuntaskan harapan pentas yang urung malam ini!” Sang pianis itu mengusap lelehan di sudut matanya. “Hadirin sekalian, terimalah persembahan saya yang pertama!”

Cahaya yang menerangi gedung pertunjukan padam. Tinggal redup lampu yang terpusat di tengah panggung, terpusat pada piano dan sang pianis. Dengan mata terpejam, pianis itu memperdengarkan alunan musik yang menyihir hadirin di gedung pertunjukan kota lama. Ratri menikmati alunan musik itu dengan tubuh yang tertahan. Lama-kelamaan, ia tampak menahan penderitaan yang munculnya dari dalam dirinya. Aku menyaksikan kelembutan wajah yang tersiksa.

DI luar gedung pertunjukan, usai semua penonton menyalami sang pianis, Ratri mengasingkan diri, menyepi, dan menghindar bertegur sapa dengan banyak orang. Aku mengikutinya dan berharap ia akan mengadukan kesedihan hatinya. Tapi ia berhenti melangkah.

“Biarkan aku sendirian. Aku ingin berjalan-jalan,” pinta Ratri.

“Apa kau memang tak lagi perlu teman?”

“Bahkan suami pun tak kuperlukan kehadirannya saat ini. Aku benar-benar ingin sendiri.”

“Apa kau tak ingin menemaniku minum?”

Tersentak, dia mempertimbangkan permintaanku. Aku tahu, dia sulit menolak ajakanku. Apalagi terang bulan begini, berbagi cerita di sebuah warung minum kesukaan kami, sambil berbincang-bincang, dia bisa larut dan suntuk. Dan purnama baginya membawa kenangan masa kecil ketika kami masih suka bermain petak umpet. Pada saat aku bersembunyi di balik semak belukar tanpa sengaja melihat Ratri kencing persis di depanku. Tubuhku yang bersembunyi di balik perdu bisa mengawasinya dengan sangat dekat. Bulan berkilauan di atas semak-semak dan perdu saat itu. Mendengar aku tertawa tertahan, dia menyergapku dengan seruan marah, “Kurang ajar! Kamu melihatku sedang pipis! Kelak kamu harus menjadi suamiku!” Tapi dia sendiri, yang ketika tumbuh dewasa menjadi seorang penari cantik, memilih Andre sebagai suaminya dan berpamitan padaku, “Aku tak mungkin menikah dengan lelaki lain, kecuali dengan Andre.”

Saat dia memutuskan untuk menikah dengan Andre, kami duduk berhadapan di sebuah warung minum kesukaan kami dalam lembut cahaya bulan purnama. Dia tampak sangat serius saat itu dan aku menertawakannya. Tak tega aku mengungkit-ungkit janjinya di masa kecil, yang diucapkannya dengan merengek hampir menangis.

Hati seseorang tak pernah tetap. Ratri tentu tak pernah memancangkan hatinya pada suatu janji masa kecil, sementara keinginannya ketika dewasa mengalami perubahan. Juga saat ini, ketika ia menolak permintaanku untuk bersantai di warung minum kesukaan kami, aku mesti menghormatinya. Ia naik taksi yang tadi membawanya ke gedung pertunjukan kota lama ini.

Rembulan pudar saat tengah malam ketika gedung pertunjukan telah menjadi sepi dan kota lama kembali pada kesunyiannya yang merapuh. Kelelawar-kelelawar makin banyak berseliweran di atap-atap gedung tanpa penghuni. Perempuan-perempuan penghibur, dengan bedak tebal, dengan langkah penuh godaan dan penantian yang letih, masih berlenggang di jalan-jalan kota lama.

Andre menghentikan mobilnya, menghampiriku. Wajahnya pucat berembun, menampakkan kecemasan.

“Kamu bertemu Ratri?”

“Dia sudah lama meninggalkan gedung pertunjukan,” balasku. Lampu gedung pertunjukan di kota lama ini dipadamkan. Pintu gedung yang tinggi dan tebal ditutup. Dikunci dari luar. Sama sekali tak menyisakan kesan baru saja digunakan sebagai tempat pertunjukan resital piano yang mahadahsyat.

“Mestinya aku tak melepaskannya pergi sendiri. Dia sangat menderita kehilangan sebagian kaki kanannya yang indah,” gumam Andre. Ditinggalkannya aku begitu saja dengan langkah limbung, langkah pencarian yang sia-sia. Tampak dia sangat letih dan gusar.

Sebuah rumah tua, tak terawat, di sebuah desa di lereng pegunungan-milik almarhum kakek Ratri-hampir-hampir tanpa cahaya. Hanya ada sebuah ruangan yang terang benderang meski hari menjelang dini hari. Ada bayangan perempuan di dalamnya. Di depannya sebuah kanvas, di tangan kanannya kuas, dan di tangan kirinya lempeng palet berisi cairan cat minyak. Ia terus melukis. Aku tahu, pasti Ratri sedang melukis. Pada masa kecil dulu, dia paling senang menari. Di mana pun ia selalu menggerakkan tangan, kaki, dan lehernya untuk menari. Dalam sepi ia suka melukis, dan biasanya melukiskan wajahnya dalam kesedihan, gambar dirinya sendiri, yang berperangai murung, marah, atau menangis. Apakah kali ini ia juga melukis kesedihannya yang mengerak sampai ke dasar hati?

Aku tak tahu, apakah ia akan marah, menangis, atau mengusirku. Sunyi pelataran rumahnya menggetarkan. Sunyi ketukan pintu mendebarkan. Tetap saja rapat setangkup pintu kusam tua di hadapanku. Ratri tak berkenan membukakan pintu itu untukku. Berada di pelataran, aku memandangi sebuah rumah tua yang tak terawat, kotor, kusam, dengan dinding mengelupas, dan kerisik sayap kelelawar mencari tempat bergantung di bawah lajur kayu usuk, menyungkup Ratri.

Dari jendela yang terbuka menjelang dini hari, ia seperti menyerahkan peristiwa dalam rumah tua itu pada cahaya bulan dan alam. Aku mendekati jendela yang terbuka itu. Dia melenyapkan diri dalam sapuan kuas dalam kanvasnya, seperti mencari dirinya sendiri di masa silam. Dia melukis dirinya sendiri dalam kecantikan, kemolekan, pancaran gairah menari. Kakinya ramping, singsat, kukuh, dan lincah.

Di depan jendela aku memandangi Ratri. Ia berada di sebuah ruang yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan dirinya, dalam kecantikan mahasempurna. Tanpa cela. Tanpa cacat. Ia menjelma: bidadari, seorang dewi, atau seorang putri yang mengundang dambaan pangeran tampan dermawan.

“Aku tak mengundangmu kemari,” kata Ratri, ketus.

“Aku pun tak ingin kemari. Aku hanya ingin memberitahukanmu, Andre mencarimu.”

Tak ada keinginan Ratri untuk mengundangku ke dalam rumahnya. Dia membiarkanku tetap berdiri di bawah jendela, terpisah tembok tua dengannya. Aku memandanginya dari jendela yang aus termakan rayap. Ia terus melukis dan tak mau kehilangan goresan kuasnya.

“Dia berpura-pura kehilanganku,” tukas Ratri, seperti ingin mengejek. “Telah lama ia ingin menceraikanku. Telah lama ia ingin menyingkirkanku dari kehidupannya. Kalau ia memang mencemaskan kepergianku, tentu akan menyusulku kemari. Aku yakin, dia tak ke mana pun, kecuali berpura-pura mencariku. Pada akhirnya aku harus merelakan Andre, seperti aku merelakan kaki kananku terpotong.”

Suara Ratri terluka, dalam, dan tak terselubung kerahasiaan. Dia kehilangan pandangan yang merajuk seperti pada masa menjelang remaja dulu saat kami sering menghabiskan waktu untuk bermain bersama di pelataran di balik semak belukar di kebun. Aku tak tega membiarkan Ratri sendirian. Tapi aku mesti meninggalkannya. Bagaimanapun aku tak ingin dia terus-menerus meradang dalam luka, mimpi, dan dendam masa lalunya. Aku melihat begitu banyak lukisan seorang putri yang menari dalam cahaya bulan dengan kesempurnaan kaki yang lincah dan mulus.

Menjelang dini hari, rembulan pudar, udara merembeskan embun. Aku berpamitan pada Ratri, tanpa menoleh lagi, dan mendengar isak tangis yang tertahan, tersengal-sengal. Aku tak ingin berpaling, menoleh, apalagi kembali menghampirinya. Lain kali barangkali akan kukunjungi Ratri ketika luka hatinya sudah sembuh dan penyerahannya pada dunia tak dilapisi dendam. Di gedung pertunjukan kota lama, ia bisa memamerkan lukisan-lukisannya, pada saat terang purnama bulan-bulan mendatang.

Sebelum aku benar-benar menjauhi jendela kamar yang terbentang menyambut purnama, kudengar percakapan Ratri dengan seorang lelaki. Tanpa menoleh, aku tahu pasti, itu suara sang pianis. Terdengar merajuk dan menenteramkan.*

Pandana Merdeka, Desember 2004

Written by tukang kliping

30 Januari 2005 pada 06:55

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: