Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sepasang Maut

with 2 comments


Aku tahu kau telah bersungguh-sungguh mencintai laut. Setiap kau bicara tentang laut, pengalamanmu bersentuhan dengan laut, kerinduanmu kepada laut, aku melihat laut bergemuruh di matamu. Sekali waktu, ketika kau mengungkapkan pergulatanmu dengan laut, bahkan pernah kulihat laut membentang di bening bola matamu. Dan kalau kau bicara tentang kekasihmu, masalah kantormu, masa lalumu, adik-adik dan orangtuamu, nyaris tak pernah sekalipun tanpa diawali, diselipi, atau diakhiri kata-katamu tentang laut. Malah, bukan hanya di permukaan dan kedalaman matamu kutemukan laut, tetapi di seluruh lekuk tubuhmu. Sayangnya, penghayatanku terhadap laut tidak sebergelora, sebergemuruh, seberdebum, atau sehening, setakzim kecintaanmu kepada laut. Aku memang tidak pernah bersungguh-sungguh menghayati laut, juga ketika kau khusyuk menafsirkan berbagai sudut dan lekuk laut.

Akhirnya begitu saja kupanggil kau si mata laut. Setiap berjumpa, entah di rumahku, di kantorku atau di kantormu, atau di mana saja, selalu kupanggil kau si mata laut. Dan kau senang sekali dengan panggilan itu. Meski aku tidak pernah intens menghayati laut, tapi anehnya matamu justru selalu kuamati dengan jeli. Alismu tidak tebal, setipis hamparan rumput di tepi laut. Tulang pelipismu agak menonjol, menyebabkan matamu menjorok ke dalam seperti sebuah teluk. Walau tidak lebat dan lentik, bulu matamu hadir dalam pandangku seperti deretan daun kelapa yang tumbuh di sepanjang jalan menuju laut. Rambutmu mengembang seperti kembang pohon jati di keluasan hutan yang terlihat dari tepi laut. Dan bola matamu, ah lipatan-lipatan gelombang itu, meski tidak sebiru laut, memberi kesan kedalaman yang entah di mana dasarnya. Semakin kutatap lekat matamu, semakin terseret aku ke keluasan laut, ke kedalaman matamu. Sedang di kornea matamu yang hitam kudapati gelap, dingin, dan hening palung laut. Bertemu denganmu, menatap matamu, bercakap denganmu, sering kurasakan sebagai tamasya ke laut. Tapi sebenarnya aku tak pernah bersungguh-sungguh menghayati laut.

“Kalau mataku laut, kira-kira laut apa?” tanyamu suatu kali. Aku tak bisa menjawab saat itu. Selain karena tidak banyak laut yang pernah kudatangi, juga selalu tidak lekat kuhayati laut-laut yang pernah kujejaki.

“Apa laut di mataku seperti maut?” tanyamu lagi di hari lain ketika kembali kukatakan matamu adalah laut. “Seperti maut yang akan menjemput?”

Ah, aku tak pernah bisa menjelaskan laut di matamu. Itu sebabnya setiap kau memancing, bahkan pernah sekali waktu memaksa, agar aku mendefiniskan laut di matamu, aku mengatakan bahwa bola matamu, laut itu, sulit direnggut ke dalam kata, sukar dirumuskan dalam bahasa. Matamu seperti rahasia mengambang di jendela menjelang magrib tiba. Seperti gelora yang mungkin sirna, seperti hening yang barangkali tak sanggup membuat siapa pun berpaling.

Aku tahu kau telah bersungguh-sungguh mencintai laut. Terhadap apa pun kau bisa mengelak, juga kepada kekasih-kekasihmu yang tak satu pun kau miliki pada akhirnya. Hanya kepada laut kau takluk dan bertekuk lutut. Seluruh uangmu, hartamu, tenagamu dan perhatianmu, kau kerahkan semata-mata demi laut. Kau kitari seluruh kota di negeri ini, terutama kota yang berbatasan dengan laut. Andai, kukira seandainya uang dan tenagamu sanggup untuk mengitari seluruh laut di muka bumi, kau akan melakukannya. Laut bagimu seperti takdir, ke mana pun kau beringsut laut akan bertaut. Ke mana pun kau mengalir laut selalu hadir.

Entah sudah berapa ribu kali aku mengamati bola matamu, kelopak matamu, bulu matamu, alismu, tulang di sekitar matamu, dan aku selalu merasa bertemu laut. Tetapi getar apa yang ada di bola matamu, lengkung alismu, deretan bulu matamu, lekuk tulang di sekitar matamu, sungguh aku tak pernah bisa persis menangkapnya. Aku tahu, di matamu ada laut, dan setiap bertemu denganmu pada dasarnya bertemu laut. Tetapi, seperti ketika aku menjumpai laut di beberapa tempat, aku tak pernah bisa sampai ke geliat pekat laut di matamu. Aku hanya sebatas bertemu dan karena itu laut seakan berhenti dalam pandangku, beku dalam penghayatanku.

“Katakan saja apa pendapatmu tentang mataku? Tentang lautku?”

Aku ingin sekali merumuskan laut di matamu dengan kata-kata, dengan senandung, dengan tatapan sepenuh penghayatan. Tetapi, ah itulah kelemahanku, tak bisa bertaut sampai ke sumsum sosok bernama laut. Apakah karena aku orang daratan? Tetapi bukankah kau sendiri orang daratan? Hanya memang setahuku, sejak dulu, sejak kita masih sekolah, kau selalu larut dengan laut. Masih terekam dalam di ingatan, paling tidak dua kali dalam setahun kau dan aku tamasya ke laut. 100 km jarak laut dari sekolah bagimu hanya sejarak rumahku dan rumahmu yang 10 km itu. Aku juga tahu, selain bersamaku, sering kali kau bertamasya dengan teman lain, malah adakalanya kau ke laut sendirian.

“Cobalah baca sajak ini,” katamu ketika tak juga aku bisa merumuskan laut, baik laut yang pernah kujejaki maupun laut di matamu. Rupanya kau tak pernah berhenti membaca sajak. Aku jadi malu, sebab sajak bagiku telah menjadi nomor sekian di belakang rutinitas kehidupan. Sajak persis cuma kubaca dulu semasih sekolah. Itu pun karena tugas guru bahasa dan lebih-lebih karena aku berteman denganmu.

Aku baca juga sajak itu semata-mata agar aku tak kehilangan jejakmu. Agar aku bisa menjawab kalau suatu hari kau bertanya lagi tentang laut di matamu. Tetapi anehnya aku semakin tak mengerti apakah laut dan bagaimana merumuskannya. Bagian mana pula yang dianggap sebagai rahang laut dalam sajak yang kauberikan itu. Aku tahu sajak itu berlatar laut, respons kuat dari seorang penyair terhadap laut. Aku memang melihat gambaran laut dalam sajak itu. Tetapi, sekali lagi, aku tak pernah bisa menyelami laut sepekat penyair itu, apalagi sampai ke lekuk likat geliat laut yang sesungguhnya.

“Berceritalah sedikit saja penghayatanmu terhadap laut, meski bukan tentang lautku,” pintamu ketika masih saja aku tidak berkomentar. Dan aku hanya diam, lekat menatap laut yang bergemuruh di matamu. Sejak itu kau tak mau berjumpa lagi denganku.

Tetapi pada suatu sore tiba-tiba saja kau sudah duduk di kursi beranda rumahku. Rambutmu kusut, parasmu kisut, senyummu kecut, dan matamu, ah matamu, bola mata laut itu mulai surut. Sore memang tidak seredup kehadiranmu. Langit bersih, awan cuma tipis, dan lembayung memuncratkan warna emas ke seluruh penjuru angkasa. Kuseduh teh hangat agar lenyap segala pucat dan hasrat meloncat dari tatapmu. Tapi kau cuma mengucap terima kasih dan mengatakan bahwa kau mampir hanya sekejap. Hampir lepas cangkir dari genggaman ketika kemudian kau berkata lagi tanpa menunggu respons dari mulutku: “Aku hampir sekarat dan esok-lusa mungkin menjadi mayat.”

Aku termangu dengan cangkir tertahan di bawah dagu. Langit terasa jauh seperti keluh pada matamu. Jarak membengkak dan jantung nyaris kehilangan detak.

“Lautku mulai surut,” katamu lagi seperti membaca yang meriak di benakku. “Esok lusa mungkin aku benar-benar menjadi laut.”

Langit belum tertutup. Cakrawala masih terbuka. Burung-burung kapinis meliuk di keluasan senja. Anak-anak masih bermain pasir, bersepeda, dibimbing orangtua atau pembantunya. Menara mesjid kukuh di kejauhan menadah langit seakan menunjuk akhir segala alir. Dari beranda rumah di pemukiman berbukit ini kulihat hamparan bangunan di pusat kota, juga kemuning padi di tepi bukit, lembah yang tak henti menyimpan gairah bagi para penggarap sawah. Tapi memang laut tak ada, juga di bola matamu. Laut mungkin tetap bergemuruh di sebalik gunung-gunung itu, tapi deburnya tertahan seperti juga ombak pada matamu.

“Bantu aku dengan doa karena itulah yang kini kuperlukan!”

Aku selalu tak mengerti keberadaanmu. Sejak dulu kau hadir menggelisir di sisiku, berkisar-kisar dalam perjalanan hidupku, tetapi aku selalu tak berhasil menafsir, tak berdaya menggambar apa yang ada dalam dirimu, juga dalam mata yang sampai hari ini pun sulit kubaca. Aku tak pernah bisa menerka dan kau memang selalu berada jauh di balik duga. Juga kehadiranmu sore ini setelah sekian lama kau dan aku tak bertemu, setelah kau berhenti kerja, dan betapa sulit aku menjumpaimu. Pernah beberapa kali aku ke rumahmu, ke kantor kawanmu yang aku kenal, tapi selalu saja kau tak ada. Hanya kabar dari sekitar, dari kawan-kawanmu, yang kuterima sejak kau meninggalkan beranda terakhir kalinya pada suatu senja.

Sejak dulu aku selalu tak mengerti keberadaanmu. Juga pada suatu hari, ketika usiamu dan usiaku seranum pagi, kukatakan aku mencintaimu dan kau menolakku. Aku juga tak mengerti ketika di hari lain, kurang lebih sebulan setelah menolakku, kau malah memperkenalkanku pada seorang perempuan yang kini jadi istriku. Waktu aku menikah dengan perempuan itu kau datang dengan seorang lelaki yang kuduga kekasihmu sebagai jawaban menolak cintaku. Tapi dugaanku salah karena setahun kemudian lelaki itu menikah dengan perempuan yang konon juga kawanmu. Bertahun-tahun aku tak bisa memahamimu, juga ketika akhirnya kini kau dan aku telah menjadi tua dan kau belum juga berkeluarga.

“Kau tidak pernah mencintai laut, jadi tidak mungkin kita berpagut,” katamu dulu memberi alasan menolak cintaku. Dan selalu begitu ketika kemudian beberapa kali kutanyakan kembali mengapa tidak menerima cintaku. Ketika suatu hari aku setengah memaksa, betul-betul memaksa, minta agar kau mengatakan alasan sebenarnya menolakku dan menolak banyak lelaki yang menyatakan cinta padamu, kau hanya menjawab ringkas: “Kau harus berusaha menyelami laut!” Sejak itulah aku selalu mencoba belajar keras mengamati laut, menyelami, menghayatinya setiap tamasya, setiap mengamati lengkung alismu, bulu matamu, tulang di sekitar matamu, dan bola matamu yang laut itu. Aku memang berhasil mengamati laut, memetakan bagian-bagiannya, tetapi selalu gagal menafsir dan menghayati. Jujur kukatakan bahwa memang sampai hari ini pun aku tak pernah bisa bersungguh-sungguh mencintai laut. Dapatkah itu dikatakan bahwa aku tak pernah sungguh-sungguh mencintaimu?

Baiklah, baiklah aku akan berdoa khusus untukmu, meski sebetulnya selama ini di setiap waktu, di jeda napas dan detak bintang, aku tak pernah berhenti mendoakanmu. Tetapi kalau boleh tahu, mengapa pula sore-sore begini datang ke rumahku, setelah sekian lama menghilang, hanya untuk meminta doa? Mengapa hanya doa yang kau pinta padahal setelah mengamati kusut rambutmu, kisut parasmu, kecut senyummu, aku merasa sudah mulai bisa menerjemahkan laut di matamu?

“Kau tidak akan pernah bisa memahami laut, apalagi laut di mataku.”

Kau sakit?

“Aku sehat walafiat.”

Apa kau punya masalah?

“Setiap orang punya masalah.”

Masalah besar maksudku?

“Ah andai kau bisa memahami laut…”

Laut katamu? Aku akan coba menafsirkannya sekarang.

“Sudah terlambat.”

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?

“Mengapa kata-katamu sering klise?”

Tapi mengapa kaubilang terlambat?

“Maaf, aku harus segera pulang.”

Tidakkah kau mau dengar tafsirku tentang laut, juga laut di matamu?

“Laut telah berubah, pasir mungkin akan segera gelap.”

Sejenak saja!

“Laut telah memanggilku.”

Kapan kita bisa bertemu lagi?

“Tidak tahu.”

Minggu depan!

“Ya, kalau aku belum dijemput peri- peri dari laut.”

Peri dari laut? Apa maksudmu? Jangan kau buat aku selalu dungu di hadapanmu! Tapi kau keburu ngeloyor pergi meninggalkanku yang ternganga seperti rahang laut dalam sajak yang pernah kau berikan padaku. Aku memang tak pernah bisa memahamimu, tetapi jangan sekali-kali kau tuduh aku tak pernah mencintaimu.

Aku sadar bahwa aku tak pernah bisa memahamimu. Juga laut, laut di matamu. Sebaliknya, aku semakin sadar bahwa kau memang telah bersungguh-sungguh mencintai laut. Tiga hari setelah kau dan aku bercakap terakhir kali di beranda, setelah kau memintaku berdoa, setelah tiap malam meluangkan waktu khusus berdoa penuh untukmu, di koran kubaca berita: “Wanita Cantik Tewas di Laut”. Kubaca lebih rinci berita itu, juga sambungannya di halaman 6 kolom 4, maka yakinlah maut telah menjemputmu di laut. Dua orang saksi, seorang ibu penunggu warung dan seorang penjala ikan, mengaku pada suatu sore melihatmu-seorang perempuan cantik-mengenakan switer biru, berjalan tegap dengan pandangan mantap lurus ke laut. Menurut ibu penunggu warung, ia sempat curiga karena rambutmu kusut, parasmu kisut, senyummu kecut. Ia keluar dari warungnya dan melihatmu telah memasuki laut. Ia berteriak tetapi hanya penjala ikan yang mendengar teriakannya. Dan ketika mereka sampai di tepi laut, tubuhmu telah menjauh dan kemudian lenyap ditelan laut. Setelah dilaporkan ke pengelola laut dan setelah tiga penyelam diturunkan, baru tengah malam jasadmu ditemukan.

Pada bagian tengah berita itu dituliskan desas-desus yang beredar tentangmu. Menurut sebuah sumber, sudah lebih dari sebulan kau selalu merasa dikejar- kejar sesuatu. Setiap menjelang magrib, lanjut sumber itu, selalu ada yang berbisik di telingamu dan bisikan itu datangnya dari arah laut. Tidak begitu jelas apa bunyi bisikan itu. Selain sumber tadi, sumber lain mengatakan belakangan ini kau sering mendatangi seseorang yang bisa melihat laut dalam matamu. Menurut sumber itu, tindak-tandukmu agak aneh, paras sering tampak pias, gerak mata lebih banyak terlihat cemas. Tapi ketika ditanya, kau selalu bilang tak ada apa-apa, selain bisik menjelang magrib. Entah sumber mana yang paling benar, yang jelas kedua sumber mengatakan bahwa dalam banyak kesempatan, kau juga sering menggumamkan sebaris kata: mata laut…mata maut…

Koran jatuh dari genggaman, ludah basa di lidah, keluh jadi gemuruh, pandangan hampa membentur kaca, uap teh hangat di cangkir mengepul ke celah jendela, beranda menyisakan sepenggal bayangan: sepasang mata yang mendeburkan laut, mengkelebatkan maut. Sepasang mata itu tiba-tiba memancarkan sorot cahaya ke mataku, dan aku tersedot gemuruhnya. Pelan-pelan sekali sepasang mata itu bangkit, mengedipkan kelopaknya untukku, membisikkan kata-kata ajakan ke telingaku, membetotku meninggalkan beranda, melintasi jalan di kompleks perumahan, turun ke jalan raya, ke arah laut, hari demi hari, minggu demi minggu, menyisir deret pohon kelapa, menginjak rumputan di tepi laut, membawaku memasuki gemuruh laut, dan sepasang mata itu tiba-tiba berubah menjadi sepasang maut.

Serang – Raha, 2004

Written by tukang kliping

26 September 2004 pada 09:36

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. cerpen koq panjang…….?

    Alif Khoirul Umam

    21 November 2011 at 16:43

  2. kalo panjang nya satu buah buku dalam satu cerita itu gak wajar nah bisa disebut bukan cerpen , tapi sih itu masih wajar wajar aja . salut Buat Moh wan Anwar

    Dedi Sahara (@gelagatkata)

    30 Agustus 2013 at 05:20


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: