Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Vampir

with 2 comments


Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku.

Kami datang dari tempat yang sama, sempit, gelap, basah, merah. Tapi ia tak menginginkanku karena ia kira aku menyusu ibu serigala.

Sebenarnya dulu aku tak pernah bercita-cita menjadi sekretaris. Jika ditanya apa cita-citaku semasa kecil, aku selalu mengatakan ingin jadi dokter, seperti juga ribuan anak kecil lainnya. Tapi saat aku tumbuh dewasa, ibuku mengamati sifatku yang rajin dan serba teratur. Aku suka membuat daftar pelajaran, anggaran uang jajan, atau daftar belanja. Aku tergila-gila pada pengelompokan. Di kamarku ada kotak-kotak khusus untuk kaset dengan aliran musik berbeda. Aku bahkan tahu baju apa yang akan kupakai hari Jumat dua minggu mendatang. Kata Ibu, “Kau lebih cocok jadi sekretaris ketimbang dokter.”

Selepas sekolah menengah aku pun masuk Akademi Sekretaris. Separuh alasanku adalah ingin memaksimalkan potensiku, separuhnya lagi adalah karena untuk menjadi dokter aku harus menyukai biologi, sedangkan satu-satunya yang kusukai dari pelajaran itu adalah klasifikasi tumbuhan dan binatang. Lagi-lagi pengelompokan dan keteraturan. Pada akhirnya kusadari pilihanku belajar di Akademi Sekretaris tidak salah karena aku lulus dengan nilai-nilai gemilang.

Aku hidup di gua-gua pekat malam, terselimuti kabut abu-abu, tak kenal pagi dan embun. Aku tak berani menantang cahaya karena aku tak seperti kalian semua. Aku terobsesi merah. Merah yang tergenang menganak sungai beraroma ikan segar.

Aku haus darah.

Aku kupu-kupu hitam bersayap beludru, terbang ke dalam lorong-lorong dan terseret dengan pusaran malam. Ia tak tahu penderitaanku, eranganku, gairahku. Ia menutup semua jendela untuk mengusirku yang terseok kehausan.

Kini aku bekerja di sebuah perusahaan jasa konsultan. Aku selalu menyetrika jas kerja dan rokku licin-licin agar terlihat serasi dengan sejuknya lantai mahogani kantorku dan dindingnya yang bernuansa cokelat susu. Cokelat adalah warna klasik yang selalu terlihat elegan. Ingin terlihat lebih profesional? Pakailah cokelat atau hitam. Lucu, dulu kupikir warna gelap hanya untuk kekuatan jahat dan warna terang untuk kebaikan.

Kadang aku mencari tikus atau anjing atau apa saja. Aku terlalu lemah untuk membuka mata. Tak bisa bertahan, aku begitu haus. Ah, andai aku bisa menukar jiwaku dengan

Darah!

Jabatanku di sini adalah sekretaris manajer pemasaran. Meja kerjaku tertata rapi tepat di luar ruangan bosku. Namanya Irwan. Ia muda, tampan, kaya, cerdas. Tentu saja ada satu kelemahannya: beristri. Baginya ini kelemahan karena ia harus mati-matian menutupi hubungannya dengan beberapa perempuan (setidaknya begitu yang kudengar di hari pertamaku bekerja). Bagiku ini juga kelemahan karena aku harus berusaha menjaga jarak mengingat intensitas interaksiku setiap hari dengannya yang mungkin bisa menjerumuskan. Aku pernah mendengar tentang perilaku seks di dunia kerja, tapi aku tidak pernah berselera melanggar kode etik dan norma-norma.

Irwan terlahir dari keluarga kaya dan ini membuatku memaklumi sikapnya yang senang bermain-main dengan kekuasaan. Ia sering memberiku tugas di luar yang seharusnya, seperti memintaku membuat surat-surat permohonan untuk proyek sampingannya di luar kantor. Pernah pula aku keluar kantor hanya untuk membayar tagihan-tagihan kartu kreditnya. Aku tahu aku berhak protes, tapi untuk sementara ini aku memilih diam sambil mengevaluasi sejauh mana ia bersikap tidak profesional.

“Ada acara sesudah jam kantor?”

Aku mengangkat kepalaku. Hari itu Irwan memakai dasi merah yang menyembul dari balik jas hitam konservatifnya. Ada yang sangat salah dengan dasi itu. Mungkin warnanya yang kelewat terang, sungguh tidak cocok dengan atmosfer kerja yang penuh warna-warna dingin.

Merah berhawa panas. Merah kadang menggumpal lengket dan tersangkut seperti permen karet. Merah menuntut pengakuan, peng-aku-an, tak bisa menunda, tak bisa luruh di saluran pembuangan.

“Saras?”

Aku menggeleng.

“Kalau begitu temani saya minum kopi.”

Jika bekerja untuk seseorang, kita akan terbiasa dengan kalimat imperatif.

Aku pun berusaha menerka makna lain di balik minum kopi. Yang ia maksud tentunya berada di ruangan ber-AC sambil menikmati kopi tak berampas dalam cangkir, bukan minum segelas kopi tubruk di warung. Yang ia maksud tentunya berada di kelas tertentu, dengan tujuan tertentu, menjalin relasi atau networking mungkin. Menarik sekali untuk perkembangan karierku, tapi mari kutegaskan lagi kalau aku tidak tertarik memperdalam relasi dengan laki-laki beristri.

Munafik.

Apakah ada konsekuensi logis jika aku menolak?

Ia menginginkan lelaki itu, tapi tak mau jadi orang pertama yang disalahkan.

“Dirut minta laporan khusus yang harus selesai besok,” katanya. “Ini pekerjaan ekstra buat saya, jadi saya harap kamu bisa membantu.”

Irwan seperti membaca keraguanku dan mencoba menekankan bahwa ajakannya bersifat rasional dan profesional, bukan sensual ataupun seksual. Setelah menimbang-nimbang, kuputuskan untuk pergi bersamanya.

Ah! Ah! Aku saudara yang berbagi hangat denganmu di tempat merah sempit itu. Aku tahu di sekolah menengah kau membaca buku porno murahan tentang sekretaris yang masuk ke ruangan bosnya tanpa celana dalam. Kau perempuan murah rekah

Ayo marah! Tidakkah kau impikan semua kebinatangan di balik rokmu yang beradab?

Maka, pergilah kami ke sebuah kafe yang memutar musik jazz tahun 50-an. Bernaung cahaya redup, kami duduk di sofa beludru merah yang begitu besar sehingga aku merasa bisa tenggelam di dalamnya. Jika tak ada kopi, mungkin aku akan mengantuk. Mengapa Irwan memilih tempat seperti ini untuk membicarakan proyek kantor?

Rumah bordil—

Kupu-kupu seperti aku memang senang remang-remang, bayang-bayang, halusinasi. Rumah meriah di dalam hutan segala serigala. Kau tak akan tahu apa pun sebelum masuk ke dalam.

Kami berbincang selama dua jam, espresso berganti capuccino. Setengah jam ia membahas laporan khususnya. Ella Fitzgerald masih merayu dengan suara emasnya, tapi aku menyimak dan mencatat seperti layaknya sekretaris profesional. Lantas kudengar ia bertanya,

“Kamu masih tinggal dengan orangtuamu?”

Aku tertegun, lalu kukatakan aku tinggal sendirian. Orangtuaku berada di luar kota dan aku anak tunggal. Ia bercerita bahwa ia juga begitu.

Kemudian dimulailah ritual yang berbahaya itu: cerita klise tentang perkawinan yang tidak bahagia. Bahwa istrinya sibuk mengejar ambisinya sendiri, bahwa tak ada anak yang mengikat kedekatan mereka.

Aku harus mengakhiri semua ini. Ia tengah mencari mangsa.

Aku juga. Adakah yang rela menyerahkan jiwa?

“Aku harus kembali ke rumah,” aku memutuskan.

Hari belum terlalu malam, tapi Irwan ingin mengantarku pulang. Kukatakan tidak perlu, tapi ia memaksa.

Oke, sampai di luar pagar.

Laki-laki itu tahu kau tinggal sendirian.

Kau dan aku memang makhluk-makhluk kesepian. Aku si pengisap penyedot kehidupan yang sekarat karena merah sudah nyaris habis punah berhenti titik.

Ia bertanya padaku apakah ia bisa ke kamar mandi. Jadi, aku biarkan ia masuk.

Masuklah, masuklah ke dalam pagar wahai para pencuri. Mari berlompat-lompatan, jangan mengendap-endap. Lihat apa yang bisa kau cicipi di kebun buah. Aku ikut karena aku juga pencuri, pencuri hidup dan mati, dan ’kan kujadikan kau

hantu.

Lalu ia duduk di kursi rotan konvensionalku, minum segelas air putih. Dibukanya satu kancing kemejanya dan dilonggarkannya dasinya — dasi yang benar-benar salah.

Lihatlah leher laki-laki itu. Sukakah kau pada es krim vanila? Kecap kebekuannya dengan lidahmu dan ia akan lumer dalam mulut.

Aku mendengarnya memanggil namaku. Ia seperti bergumam, tapi aku menangkap kata-kata terakhirnya,

“Sebetulnya kita sudah saling tahu apa yang terjadi.”

Aku gemetar. Tiba-tiba kusadari ketakutan terbesarku terjadi. Aku pernah membayangkannya dan karena aku sangat profesional aku tahu aku harus mendorongnya dengan tegas, mengusirnya bila perlu.

Tapi aku merasa ia semakin mendekatkan tubuhnya padaku. Aku bisa mencium minyak wangi bercampur aroma rokok yang menempel di rambutnya yang tercukur rapi. Aku seperti—

Tersedot?

Di pucuk es krim ada ceri bulat mengilat. Buah menggoda, menantang bahaya. Akankah aku jatuh? Tapi aku begitu menginginkannya. Aku si pengisap penyedot kehidupan.

Lehernya begitu indah. Dan aku begitu haus

Darah.

Jam 6.30 pagi. Ponsel berbunyi.

“Halo, Saras?” suara wanita di ujung sana. “Jangan lupa nanti ingatkan bosmu untuk rapat dengan klien jam 11. Ini berarti semua materi presentasi harus sudah siap. Dia sudah memintamu menyiapkannya, ’kan?”

“Ia tidak pergi kerja hari ini.”

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku.

Jakarta, Juni 2004

Written by tukang kliping

18 Juli 2004 pada 10:00

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. bagus, tapi kurang menggigit, ga spt cerita2 horor ala poe atau edogawa.

    aryan

    21 Januari 2009 at 06:56

  2. dua cerpen di blog ini karangan intan paramaditha sama2 suramnya.. saya suka..
    Hebat!!!

    kunto

    4 April 2010 at 19:14


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: