Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Posts Tagged ‘Azhari

Air Raya

leave a comment »

Setiap air raya tiba perahu ini akan tumbuh, pikirnya. Memanjang beberapa depa. Sungguh, buritan itu akan gemuk nantinya. Palka melebar. Tiang yang baru saja ditancap akan menjulur menusuk langit menumbuhkan tangga serupa dahan tempat di mana kelak dia akan naik dan meneriakkan hoooi. Dia akan menyusul perahu Nuh.

Perahunya tak akan memuat banyak orang. Karena yakin perahunya tak bisa tumbuh secepat itu. Kapal ini akan tumbuh perlahan-lahan. Sementara dia harus bergegas menyusul perahu Nuh. Seperti gegas air yang mengalir deras di saluran belakang rumah: tempat di mana dia akan memulai pelayaran mengejar perahu Nuh. Karena itu dia tak akan mengajak ibu dan segala binatang untuk naik serta berlayar bersamanya. Ibu harus menjaga rumah, menunggunya pulang berlayar. Sementara dia tak sanggup mengumpulkan berpasang-pasang binatang untuk ikut serta. Perihal bahwa dia akan pergi sendiri mengejar perahu Nuh, dia sudah meyakinkan ibu. Ibu memaklumi saja sekaligus mengatakan bahwa Nuh dulu juga demikian, meninggalkan seorang perempuan dalam pelayarannya. Maka kenapa kelak para pelaut selalu meninggalkan perempuan mereka tiap kali berlayar. Kenapa Nuh tersesat karena tak niat mengingat, apalagi pulang menjemput, perempuannya. Sementara para pelayar sesudah Nuh kembali ke peluk perempuan mereka.

Baca entri selengkapnya »

Written by tukang kliping

11 Juli 2004 at 10:01

Ditulis dalam Cerpen

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.407 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: