Posts Tagged ‘Arie MP Tamba’
Yulius
Sudah tiga tahun Yulius hidup menjadi bagian dari rumah kos yang posisinya berhadapan dengan sebuah terminal kecil.
Pukul empat pagi terminal kecil itu mulai hidup dengan deru-deru mesin berbagai angkutan kota dan derap kaki para penumpang yang naik dan turun, berganti kendaraan sesuai jurusan yang dikehendaki, atau datang dan pergi ke tempat yang dijadikan tujuan. Masih di dalam kota, atau bahkan ke luar kota. Ke sekolah, ke tempat-tempat kerja, atau ke pasar.
Dan bersamaan dengan itu, rumah kos Yulius pun ikut menggeliat dan hidup dengan keluarnya para penghuni kos, satu demi satu dari kamar yang berpenghuni satu orang atau dua orang, pria maupun wanita, lalu antre di enam kamar mandi yang ada di lantai satu. Sepuluh kamar lantai satu dan empat belas kamar lantai dua, masing-masing penghuninya sudah saling mengetahui jam penggunaan kamar mandi masing-masing.
Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung)
Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.
”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.
Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.
