Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Dua Wajah Ibu

with 82 comments


Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.

Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.

Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.

Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.

Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba manis, serba tak bisa ia bayangkan.

”Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan mirip almarhum Ebak,” itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara anak lanangnya yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya.

”Dengan siapa Mak ke situ?” lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.

”Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah. Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak ke sini,” itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara kemerosok seperti radio tua itu terputus.

Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya.

***

Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium melati.

Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.

Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu.

Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu. Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya.

”Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,” lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya. Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.

”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.

”Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak Rifah,” terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap.

Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.

Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis.

Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang.

***

Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang sebentar lagi mengumandangkan adzan.

Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya.

Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja. Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci rapat.

Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember plastik. Ia membasuh muka tuanya dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah keriput, mengkerut, dan carut-marut.

About these ads

Written by tukang kliping

5 Agustus 2012 at 14:08

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

82 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Baru tahu, kalau popok bisa dicuci kemudian dipakai lagi… hehe.

    berrybudiman

    13 Agustus 2012 at 18:26

  2. Cerpen yang manis dan menggigit. Menurutku sebagai perempuan dan ibu rumah tangga, popok yang penulis maksud popok kain yang biasanya digunakan untuk bayi yang baru lahir. Bukan popok untuk balita yang sekali pakai itu. Kalau sudah punya anak pasti ngerti. Ohya, apa penulis ini sudah punya anak? Sepertinya paham sekali mencuci popok kain bayi. Jangan-jangan pengalaman pribadi. Overall, I really liked this story. Pinch in a way that the reader does not hurt but it makes the reader feel the pinch.

    welli

    13 Agustus 2012 at 21:10

  3. @berry

    yang dimaksud bukan popok sekali pakai, tapi popok kain.

    Dedi Wahyudi

    14 Agustus 2012 at 16:01

  4. Memang sebuah realistis yang masih dikemas utuh

    puisi kompas

    15 Agustus 2012 at 10:52

    • @puisi kompas:
      Anda ini ngomong apa sih? Apa maksud Anda dengan “realita (Anda tulis realistis) yang masih dikemas utuh”. Maaf, koq seperti asal ngomong tanpa mengetahui apa artinya. Seperti orang mau nampang atau berkeren-keren pakai dasi, tapi tetap tidak bisa lepas dari sandal jepit, gitu lho? Maaf, ya.

      tunjung

      19 Mei 2013 at 23:08

    • Emang dua arti itu saling membedakan?

      puisi kompas

      21 Mei 2013 at 14:19

    • @puisi_kompas:
      are you stupid?
      mbok ya kalo bodoh, jangan dipamer-pamerin…

      disty5

      29 Agustus 2013 at 18:31

    • jangan merasa diri paling benarlah.

      puisi kompas

      30 Agustus 2013 at 01:47

  5. Cerpen yang realitis, mengena dgn sumpeknya jakarta, mak inang pasti kangen kmpung halaman yg tenang, asri dan damai, dan terutama lbh bersih dri pada pinggiran jakarta.
    Ditggu slalu cerpen2 slanjtnya.

    Nar

    15 Agustus 2012 at 11:48

  6. Selamat

    Omo

    15 Agustus 2012 at 12:19

  7. realita Jakarta yang digambarkan dengan apik..
    bukan seperti iklan-iklan di tv, tapi seperti latar berita-berita kebakaran di tv..
    nice story!

    Ryzkiesomnia

    17 Agustus 2012 at 10:03

  8. jakarta yang sebenarnya….
    nice story :)

    nanabrownies

    20 Agustus 2012 at 22:29

  9. sngguh sgt mengena,jd ingt ibu yg srg cuci bjuq.. ap ibuq jg mrasa spt babu?ya rabb,mafin q ibu!

    namaku tya aja

    22 Agustus 2012 at 17:52

  10. Cara pandang dari satu sudut saja, Jakarta masih menjadi magnet buat para pencari kerja fresh graduate kok.
    Overall, cerpennya bagus…

    Winarko

    23 Agustus 2012 at 20:06

  11. mantap

    yantoajaoaja

    24 Agustus 2012 at 21:56

  12. realita kehidupan sebagian orang di kota jakarta

    Azka Hariz

    25 Agustus 2012 at 17:31

  13. Kurang menarik,…

    rantinghijau

    25 Agustus 2012 at 23:09

  14. hampir sama sebagai warga pendatang

    yopi

    26 Agustus 2012 at 23:44

  15. Cerpen kompas, entah mutu tulisan, entah selera editor. Tapi selalu bergaya mirip picasso, terkesan “kotak” tapi tidak berarti statis

    pena usang

    29 Agustus 2012 at 14:22

  16. Jadi ringkasanya apa dong??
    tolong dong yg udah tau bales ^_^

    remko

    29 Agustus 2012 at 19:47

  17. ah,
    sedih

    ingat tetangga yg juga demikian

    arif sirunk abdurrachman

    31 Agustus 2012 at 19:01

  18. ke Jakarta aku kan kembali……..itulah fenomena Ibu kota seakan mempunyai magnet yg mampu menyedot keinginanorang desa untuk datang kesana…..cerpen realita..mantap

    Boin Silalahi

    2 September 2012 at 19:26

  19. Sedikit sekali cerpen Kompas yang bisa saya nikmati. Ini salah satunya. Mantap!

    UmmuHaya

    6 September 2012 at 10:11

  20. Oooh, pesona ibu kota rupanya hanya untuk anak muda

    HeruLS

    6 September 2012 at 14:19

  21. Siapa suruh datang jakarta?

    Abill

    15 September 2012 at 12:21

  22. like this..

    khaerul

    17 September 2012 at 12:26

  23. jawabanya apa dong? orang-orang kampung yang akan merantau ke Jakarta perlu baca cerpen ini, agar bisa berpikir 1000kali untuk merantau di kotak sampah

    hida

    21 September 2012 at 23:03

  24. This is lame i thought cerpen is suppose to be short well i guess us guys just suck

    kevin liu

    24 September 2012 at 07:27

  25. What i meant was F#4$% indonesia hate this hatee hate it !!!!!!!!!!!1

    kevin liu

    24 September 2012 at 09:28

  26. bagus cerpen nya

    kebaya_putrasemeru

    24 September 2012 at 15:35

  27. alamak aq juga lebih milih tinggal di kampung

    miftah

    29 September 2012 at 10:20

  28. Ikut merasa sesak membacanya. Penggambaran dengan pancaindra yang rinci.

    YColeman

    11 Oktober 2012 at 10:52

  29. cerpennya bagus, latarnya sangat kelihatan, cm endingnya kurang menggigit, coba endingnya di buat si anak lanang gajiannya di tunda atw hilang di jambret orang, pasti lebih seru deh.

    jaenuri ari

    17 Oktober 2012 at 21:08

    • PAS. AKU SUKA KOMENMU.

      sumantra

      17 Juni 2013 at 20:26

  30. ceritanya bagus, sangat menyentuh dan membangun, cm endingnya kurang menggigit, coba endingnya di biat gaji anak lanang hilang, di jambret, atw apa yang bs membiat mak inang tdak bs pulang. Pasti seru

    jaenuri ari

    17 Oktober 2012 at 21:19

  31. mengalir panas seakan ikut menghantarkan kita di pelosok rimba ibu yang ganas , menerkam siapa saja yg tdk bisa mengikutinya, kepada sosok ibu manis yg siap diterkam oleh ibu kota

    aditais

    23 Oktober 2012 at 09:00

  32. Naudzubillah.. jangan sampe saya bersikap seperti itu kepada ibu saya.. amiiin ..

    Fikri

    24 Oktober 2012 at 14:44

  33. keren

    diokta

    27 Oktober 2012 at 13:18

  34. Saya salut saja kepada penulis yang mampu mengoyak nurani pembaca dengan naskah ini..Saya belum mampu.Salut!

    wahyudi

    1 November 2012 at 09:08

  35. Opening nya guwa suka
    tapi ending nya kurang menarik

    Demas

    30 November 2012 at 05:46

  36. Realita jakarta, tantangan pendtang yg hidup di pinggiran kemsknan dan sampah-sampah harapan yg membintang di ibukota. Endingnya hrusya bsa lebih ngangkat gan.

    Febri001

    2 Desember 2012 at 13:07

  37. realita jakarta yang seperti itulah adanya
    bahasa elok, tapi ada juga yang sulit saya pahami (sedikit)

    Meki Polanda

    7 Desember 2012 at 22:42

  38. latar cerpen ini sangat meninjol, medominasi, GREAT!

  39. Kerennn..

    ali

    14 Januari 2013 at 13:06

  40. ceritanya bagus gan..
    maf ya, ane brbagi link..

    http://cerpen- cintasedih.blogspot.com/2013/01/­ gadajgajj.html

    iwanzz

    14 Januari 2013 at 15:32

  41. bagus ceritanya gan..
    ane mau brbgi link nih,, maf ya gan..

    http://cerpen- cintasedih.blogspot.com/2013/01/­ gadajgajj.html

    iwanzz

    14 Januari 2013 at 15:34

  42. pertanyaan yang sama dari saya : ngapain mereka semua di Jakarta?

    Anara Prima Diamona

    17 Januari 2013 at 10:10

  43. Kemasan ceritanya membuat saya berhenti fokus menatap pada layar monitor..Terima kasih banyak untuk yang memposting ulang.

    Speri Anti Air Termurah

    26 Januari 2013 at 05:34

  44. Kemasan ceritanya membuat saya berhenti fokus menatap pada layar monitor..Terima kasih banyak untuk yang memposting ulang, kalau melihat koran yang lain ada di arsip mana yah?

    Enic Sprei Anti Air

    26 Januari 2013 at 05:36

  45. Reblogged this on Suwadi Kediri.

    suwadi ap

    8 Februari 2013 at 09:15

  46. jkarta emg gtu,gk betahin klo gkda duit..tp klo ada duit,sik asik..

    farah ajah

    8 Februari 2013 at 21:39

  47. Jkrta emg sprti itu..tp salut dg org2 jkrta,mski tinggal diemperan tp gayenye tetep modis2 euy..

    farah ajah

    8 Februari 2013 at 21:44

  48. ini kenapa banyak yang bicarain popok sih. topik terpenting dari cerita sepertinya bukan itu -_-‘!!

    Misha khamisha

    25 Februari 2013 at 15:56

    • kebetulan yang bersangkutan mungkin ibu2 yang lagi punya baby….

      sahaja

      14 Juli 2013 at 14:31

  49. Selamat ya untuk penulisnya. Penggambaran tentang kehidupan sosok dua ibu yang menurut saya sebuah paradoks.

    A.S Aizen

    9 April 2013 at 09:03

  50. ibu yang luar biasa kesabarannya apakah ada sedemikian…

    irham al ayyubi

    9 April 2013 at 14:12

  51. Saya salut saja kepada penulis yang mampu mengoyak nurani pembaca dengan naskah ini..Saya belum mampu.Salut!

    BAJU DISTRO MURAH

    23 April 2013 at 21:02

  52. ceritanya sungguh menggetarkan perasaan, jadi serasa ikut mengalaminya jugaa

    el

    12 Mei 2013 at 12:16

  53. Miris perasaan saya membaca tiap kalimat dalam cerpen ini.

    yusrizal

    24 Juni 2013 at 11:25

  54. haha popok daur ulang kayanya.

    vertical blind

    24 Juli 2013 at 14:30

  55. jadi ingat pernah tinggal dan merantau di jakarta kuningan, tinggal di barak bangunan di menara imperium,tidur dekat mesin genset berdesak-desakan dengan 4 teman, trenyuh……..

    bejono777

    28 Juli 2013 at 13:00

  56. Djakarta emang magnetnya pencari kerja fresh graduate…
    jakarta emang tempat asyik buat cari duit meski sekedar jadi buruh pabrik…
    jakarta juga gudang ilmu,tempat mengasah bakat dan berbagai skill….
    Jakarta pusat perbelanjaan termurah,gak salah kalau orang sini pada modis…
    Kulinernya dari yang murah meriah sampe yang high class ada…..
    Jakarta juga surganya Mall…
    gak salah kalo banyak orang apalagi yang muda-muda berbondong kesini….

    Saranku….Kalau kalian udah ngumpulin banyak duit,ngasah bakat dan udah ngecap banyak pengalaman.Mending balik ke daerah aja dekh….Buka usaha di kampung halaman atau daerah2 transmigran yang lagi giatnya membangun, trus Buat rumah disana….Punya rumah di jakarta,kalo ga punya modal gede palingan cuma dapat petakan di tempat pengap pula.Dengan modal yang sama….Di daerah kalian,bisa bangun rumah yang layak,berlaman pula.
    ex ;…kalau kalian bisa nyalon,bengkel,jahit,dagang,buat kuliner unik…dan skill lainnya di kabupaten2 propinsi jambi,pekanbaru,lampung dst…Lumayan ngedapet juga meski disana sepi.

    PUnYA RuMAh Di JakartA….
    Gak….BanGeeet…

    mesya

    4 November 2013 at 19:31

  57. Rumah petak dan got berbau bacin saja sudah bisa menggelitik perasaan pembaca. Belum lagi macet dan teror banjir di musim hujan. Hahaha. Memang kota dengan penuh drama.

    Seno

    10 November 2013 at 21:26

  58. terima kasih banyak cerpennya :p

    AMZMA

    29 November 2013 at 12:16

  59. wajah jakarta ada dalam wjh mak inang…
    sama2 kriput…sama2 sudah merasa sumpek dengan segala warna yg mewarnainya…jakarta rindu kedamain alam asri yang tenang layaknya mak inang yg sudah rindu kmpung hlmnya.
    kriput wajah ibu kota seperti keriput wajah mak inang…
    cerpen yg bgus

    aldenalib

    21 Februari 2014 at 02:12

  60. menarik. ada dua wajah ibu. Antara kenyataan dan imajinasinya yang bertarung.

    Mkd Aan's

    21 Februari 2014 at 11:08

  61. Wajah Jakarta yg ditemui oleh kebanyakan manusia yang ada di Jakarta. Itu yg ditemui oleh Mak Inang pada lingkungan anak mak Inang dan kerabatnya. Adakah anak dan kerabatnya mengatakan dusta? Menceritakan mimpi. Adakah mimpi itu? Sebenarnya mimpi itu ada, ada pada orang yang berbekal cukup ketika datang ke Jakarta. Mimpi itulah yang ingin dikejar oleh anak kerabat mak Inang, namun ada yang tidak dimiliki yaitu bekal yang cukup.

    M. Danil Daud

    24 Februari 2014 at 07:01

  62. menarik, mengangkat cerita tentang perasaan seorang ibu lewat perspektif personal yang indah :)

    arief agoomilar

    1 Juni 2014 at 03:06

  63. Jadi kembali ke jaman masih kecil, pakai popok kain

    Saya punya cerpen amatirann, kalau berminat bisa dibaca

    http://catatanseorangamatiran.blogspot.com/search/label/Luki%20Luck

    kukuh niam ansori

    11 Juni 2014 at 12:11

  64. baca juga cerpen saya ya http://lukiluck11.blogspot.com/
    terus semangat untuk menulis dan berkarya

    kukuh niam

    21 Juni 2014 at 19:48

  65. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 01:55

  66. Sangat mewakili kesan saya terhadap perumahan kumuh di Jakarta yang biasa saya lihat di televisi

    Dyah Oktavia

    7 Agustus 2014 at 18:54

  67. keren cerpen nya.. *cool*

    Mel

    19 Agustus 2014 at 19:12

  68. Hello, FYI guys proton lagi adain writing competition nih.. Buat kamu yang hobi nulis yuk tuangkan ide kreatifmu tentang proton di blog. Hadiahnyaaaa……. Rp 3.000.000,- buat pemenang utama dan ada merchandisenya lho… Hey, gak cuma itu aja, buat tulisan terbaik dan foto terbaik di blog dapat pulsa Rp 100.000,- buat 10 orang pemenang. Yuk, gabung disini http://www.protonwritingcompetition.com/

    Elsa Liana

    27 Agustus 2014 at 10:41

  69. Thanks. Saya sangat suka cerpen diatas

    Exnim

    3 September 2014 at 19:27

  70. cerpen ini karya siapa?

    aisya28

    28 September 2014 at 10:06


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.568 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: