Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kabut Ibu

with 76 comments


Dari kamar ibu yang tertutup melata kabut. Kabut itu berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan.

Awalnya, orang-orang mengira bahwa rumah kami tengah sesak dilalap api. Tapi kian waktu mereka kian bosan membicarakannya, karena mereka tak pernah melihat api sepercik pun menjilati rumah kami. Yang mereka lihat hanya asap tebal yang bergulung-gulung. Kabut. Pada akhirnya, mereka hanya akan saling berbisik, ”Begitulah rumah pengikut setan, rumah tanpa Tuhan, rumah itu pasti sudah dikutuk.”

***

Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan sembunyi-sembunyi. Ketika itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan aku untuk tetap tenang di kamar belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu. Sayup-sayup, di ruang depan ayah tengah berbincang dengan beberapa orang. Entah apa yang mereka perbincangkan, tetapi sepertinya mereka serius sekali. Desing golok yang disarungkan pun terdengar tajam. Bahkan beberapa kali mereka meneriakkan nama Tuhan.

Beberapa saat kemudian ayah mendatangi kami yang tengah gemetaran di kamar belakang. Ayah meminta kami untuk segera pergi lewat pintu belakang. Ayah meminta kami untuk pergi ke rumah abah (bapak dari ayah) yang terletak di kota kecamatan, yang jaraknya tidak terlampau jauh.

Masih lekat dalam kepalaku, malam itu ibu menuntunku terburu-buru melewati jalan pematang yang licin. Cahaya bulan yang redup malam itu cukup menjadi lentera kami dari laknatnya malam. Beberapa kali aku terpeleset, kakiku menancap dalam kubang lumpur sawah yang becek dan dingin, hingga ibu terpaksa menggendongku. Sesampainya di rumah abah, ibu mengetuk pintu terburu-buru dan melemparkan diri di tikar rami. Napasnya tersengal-sengal, keringatnya bercucuran. Abah mengambilkan segelas air putih untuk ibu, sebelum mengajakku tidur di kamarnya.

Malam itu, abah menutup pintu rapat-rapat dan berbaring di sebelahku. Sementara, di luar riuh oleh teriakan-teriakan, suara kentungan, juga desing senjata api sesekali. Abah menyuruhku untuk segera memejamkan mata.

Subuh paginya, ketika suara azan terdengar bergetar, abah memanggil-manggil nama ibu sambil menelanjangi seluruh bilik. Abah panik karena ibu sudah tidak ada lagi di kamarnya.

Selepas duha, abah mengantarku pulang dengan kereta untanya. Ibumu pasti sudah pulang duluan, begitu kata abah.

Sesampainya di depan rumah, tiba-tiba abah menutup kedua mataku dengan telapak tangannya yang bau tembakau. Dari sela-sela jari abah aku bisa menilik kaca jendela dan pintu yang hancur berantakan, terdapat bercak merah di antara dinding dan teras. Warna merah yang teramat pekat, seperti darah yang mengering. Buru-buru abah memutar haluan, membawaku pulang kembali ke rumahnya. Dari kejauhan aku melihat lalu lalang orang di depan rumah kami yang kian mengecil dalam pandanganku. Orang-orang itu tampak terlunta-lunta mengangkat karung keranda.

”Mengapa kita tak jadi pulang, Bah?” tanyaku.

”Rumahmu masih kotor, biar dibersihkan dulu.” Abah tersengal-sengal mengayuh kereta untanya.

”Kotor kenapa, Bah?”

Abah terdiam beberapa jenak, ”Ya kotor, mungkin semalam banjir.”

”Banjir? Kan semalam tidak hujan, Bah. Banjir apa?”

”Ya banjir.”

”Banjir darah ya, Bah, kok warnanya merah.”

”Hus!”

***

Berselang jam, pada hari yang sama, abah memintaku untuk tinggal sebentar di rumah. Aku tak boleh membuka pintu ataupun keluar rumah sebelum abah datang.

”Jangan ke mana-mana, abah mau bantu-bantu membersihkan rumahmu dulu, sekalian jemput ibumu.”

Aku tak tahu apa yang tengah terjadi di luar sana, tapi hawa mencekam itu sampai kini masih membekas. Selagi abah pergi, aku hanya bisa mengintip keadaan di luar dari celah-celah dinding papan. Di luar sepi sekali. Sangat sepi. Kampung ini seperti kampung mati. Lama sekali abah tak kunjung datang. Jauh selepas ashar, baru kudengar decit rem kereta untanya di depan rumah. Aku mengempaskan napas lega. Menyongsong abah.

Abah tertatih merangkul ibu. Ibu hanya terdiam lunglai seperti boneka. Matanya kosong tanpa kedipan. Rambutnya acak-acakan, tak karuan. Guritan matanya lebam menghitam.

Ketika kutanya abah ada apa dengan ibu, abah hanya menjawab singkat, bahwa ibu sedang sakit. Lalu aku bertanya lagi kepada abah, ayah mana? Dan abah tidak menjawab. Namun, beberapa waktu kemudian, dengan sangat perlahan, abah mulai menjelaskan bahwa hidup dan mati adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya akan didatangi kematian—lantaran mereka pernah hidup. Maka serta-merta aku paham dengan warna merah yang menggenang di teras rumah tadi pagi. Saat itu aku tak bisa menangis. Namun, dadaku sesak menahan ngeri.

***

Semenjak hari yang merah itulah ibu tak pernah sudi keluar kamar, apalagi keluar rumah. Ketika ibu kami paksa untuk menghirup udara luar, ia akan menjerit dan meronta tak karuan. Pada akhirnya, aku dan abah hanya bisa pasrah. Tampaknya ada sesuatu yang rusak dalam kepala ibu. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ibu seperti sudah tak peduli lagi pada dunia. Sepanjang hari pekerjaannya hanya diam, sesekali menggedor-gedor meja dan lemari, menghantam-hantamkan bantal ke dinding dan terdiam lagi.

Ibu memang benar-benar sakit. Makan dan minum harus kami yang mengantarkan ke kamarnya. Mandi pun harus kami yang menuntunnya. Berganti pakaian, menyisir rambut, melipat selimut, semua aku dan abah yang melakukannya. Hanya satu hal yang kami tidak mengerti: kamar ibu selalu berkabut.

Lelah sudah kami mengusir kabut-kabut itu dari sana. Kabut yang selalu muncul tiba-tiba. Kabut yang selalu mengepul, setelah kami menutup kembali pintu dan jendela, mengepul lagi dan lagi. Setelah kami tilik dengan saksama, baru kami menyadari sesuatu, bahwa kabut itu bersumber dari mata ibu. Sejauh ingatanku, ibu tak pernah menitiskan air mata. Namun dari matanya selalu mengepul kabut tebal yang tak pernah kami pahami muasalnya. Mungkinkah kabut itu berasal dari air mata yang menguap lantaran tertahan bertahun-tahun lamanya. Entahlah.

***

Pada akhirnya, bagi kami, kabut ibu menjadi hal yang biasa. Kami hanya butuh membuka pintu dan jendela lebar-lebar untuk memecah kabut itu. Namun begitulah, semenjak kami menyadari keberadaan kabut itu, ibu tak lagi sudi membukakan pintu kamarnya untuk kami. Makanan dan minuman kami selipkan melewati jendela kaca luar. Namun sepertinya ia tak lagi peduli dengan makanan. Beberapa kali kami menemukan makanan yang kami selipkan membusuk di tempat yang sama. Tak tersentuh sama sekali. Ketika kami memanggil-manggil nama ibu, tak ada sahutan sama sekali dari dalam, kecuali kepulan kabut yang memudar dan pecah di depan mata kami.

Sementara, kian waktu, kamar itu kian buram oleh kabut yang terus mengental. Kami tak bisa melihat jelas ke dalamnya. Hingga suatu ketika, aku dan abah berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar ibu. Kami benar-benar berniat melakukan itu. Kami benar-benar khawatir dengan keadaan ibu. Linggis dan congkel kami siapkan. Beberapa kali kami melemparkan hantaman. Pintu itu bergeming. Kami terus menghantamnya, mencongkelnya, mendobraknya, hingga pintu itu benar-benar rebah berdebam di tanah.

Aku dan abah mengibaskan kabut itu pelan-pelan. Membuka jendela lebar-lebar. Perlahan kami mendapati kabut itu memudar dan pecah. Beberapa saat kemudian kabut itu benar-benar lenyap. Namun kamar ibu menjadi sangat senyap. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada ranjang yang membatu, juga bantal selimut yang tertata rapi. Kami tidak melihat ibu di sana. Aneh, kami juga tidak melihat ibu berkelebat atau berlari keluar kamar. Yang kami saksikan dalam bilik itu hanya kabut yang kian menipis dan hilang.

Kami masih belum yakin ibu hilang. Berhari-hari kami mencari ibu sampai ke kantor kecamatan. Kami juga menyebarkan berita kehilangan sampai kantor polisi. Waktu melaju, berbilang pekan dan bulan, tapi ibu tak juga kami temukan. Hingga keganjilan itu muncul dari kamar ibu. Kabut itu. Kabut itu masih terus mengepul dari kamar ibu, entah dari mana muasalnya. Lambat laun kami berani menyimpulkan bahwa ibu tidak benar-benar hilang. Ibu masih ada di rumah ini, di kamarnya. Kabut itu, kabut itu buktinya. Kabut itu adalah kabut ibu. Kabut yang tak pernah ada kikisnya.

***

Akhirnya, aku dan abah memutuskan untuk mengunci rapat-rapat kamar ibu. Membiarkan kabut itu terus melata. Berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan. Kami tak perlu lagi memedulikan ocehan orang-orang yang mengatakan bahwa rumah kami adalah rumah setan, rumah tak bertuhan, rumah yang menanggung kutukan. Karena, kami yakin, tak lama lagi, kabut itu pun akan menelan rumah kami, sebagaimana ia menelan ibu.

Ketika Kabut
Malang, 11-11-11

About these ads

Written by tukang kliping

8 Juli 2012 pada 14:02

Ditulis dalam Cerpen

Dikaitkatakan dengan

76 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Yang ingin saya ucapkan adalah, selamat buat bung Mashdar yang makin berkibar….

    Aba Mardjani

    9 Juli 2012 at 15:09

  2. terimakasih tukang kliping cepat sekali postingnya.

    iisfatma

    9 Juli 2012 at 15:36

  3. Ida malah bingung ngan intin ceritanya :D

    Ida Raihan

    9 Juli 2012 at 17:45

  4. flash back yg bagus. i like it. pas dengan nama pena akhirku.

    ulum alam kabut

    9 Juli 2012 at 21:44

  5. muantap….ckp menegangkn syaraf sesaat,
    menghilangkan sejenak kecemasan……

    9ian

    10 Juli 2012 at 08:39

  6. kelam…

    kiki

    10 Juli 2012 at 13:52

  7. Tetapi cerpen ini muncul juga di Tribun Jabar Minggu, lho!

    M. Joenoes Joesoef

    10 Juli 2012 at 21:06

    • Wah, sepertinya terlalu lama mengendap di inbox.

      kucing senja

      12 Juli 2012 at 12:16

  8. bagus yg ini ketimbang cerpen pak masdar yg pohon mayat, yg ini tidak menggurui

    Adryan Yahya

    11 Juli 2012 at 12:11

  9. mantap

    ●○ qwerty ○●

    11 Juli 2012 at 14:06

  10. Sayang akhr cerita hanya seperti kabut..hehe

    heru kelana

    12 Juli 2012 at 09:31

  11. kabut membuat pandangan terlihat samar, seperti sejarah 1965.

    event kampus

    12 Juli 2012 at 12:59

  12. sesak, miris, sedih.. mantap mas Mashdar. ini cerpen yang baik.

    adib

    12 Juli 2012 at 13:20

  13. keren banget bang…..excellent,,,,,selamatt…hhe

    Yaya Athiya Arsyad

    12 Juli 2012 at 16:46

  14. cerpen ini mungkin lebih pas di muat di bulan september. juga gak dobel dg di Tibun jabar (kata masJoenoes Joesoef.

    mas sono

    14 Juli 2012 at 12:59

  15. agak mistis gimana gitu ya .__. tapi juga kayak cerita rakyat .__.
    penggambarannya pas :)

    Ryzkiesomnia

    15 Juli 2012 at 10:35

  16. Saya hanya mengerti sekitar 80 %.

    rantinghijau

    15 Juli 2012 at 12:31

  17. Seperti tragedi yg pernah terjadi 47-an tahun silam itu pun hingga kini masih berkabut dan terus berkabut..

    arumbinang

    15 Juli 2012 at 14:08

  18. Makanya, kalau mau menangis, jangan ditahan, keluarkan saja.

    HeruLS

    15 Juli 2012 at 17:47

  19. Mas Mashdar langganan kompas ouy~

    Nikotopia

    16 Juli 2012 at 11:08

  20. suka diksinya, tapi gak nangkep maksudnya :D

  21. keren bangeeet…. kesedihan yg sangat mendalam, sampai tdk bs diungkapkan lg dg kata dan air mata.

    elis

    18 Juli 2012 at 20:07

  22. ceritanya bagus, tapi kurang menantang, ringan

    faiqahnalini

    19 Juli 2012 at 01:22

  23. Cerita yang bagus dan sangat menarik,,lanjutkan :)

    Indonesia

    19 Juli 2012 at 16:53

  24. cerita lama,makna tdk berfotensi

    darko

    20 Juli 2012 at 11:44

  25. inspiratif banget, aku sampe remake ceritanya dari sudut pandang yang lain :)

    megaw

    21 Juli 2012 at 10:09

  26. kereeeeeennn mistis bgt nih… tp sy penasaran, ayahnya
    kena kutukan ato punya ilmu hitam?

    Endri

    22 Juli 2012 at 10:36

  27. enjoy bacanya . . .

    Yosua Ardi Sidokare

    22 Juli 2012 at 16:28

  28. Antara realis dan surrealis.. Mantap, sejarah 65 masih seperti kabut sampai sekarang..!

    Rimba

    24 Juli 2012 at 01:32

  29. Keanehan yang kurasa setelah membaca cerpen ini. Kurang adanya greget dan ketertarikan, hanya satu di paragraf nomor 4 mulai adanya ketertarikan. bukan keseluruhan. Tapi Siplah,,,,

    EdySC

    25 Juli 2012 at 06:55

  30. Wow! Seperti membaca kisah thriller ya? Cukup mencekam. :-)

    Meina

    25 Juli 2012 at 17:47

  31. kabut berasal dari mana ko masih tetap ada

    rezkyramdhany

    29 Juli 2012 at 05:13

  32. aku suka misteri dan ceritanya.

    artsute17

    1 Agustus 2012 at 16:14

  33. kabut. Sama berkabutnya sejarah negeri ini. Sejarah telah mencatatkan hal-hal yang berkabut. Jadi generasi berikutnya adalah generasi kabut.

    Hudi

    1 Agustus 2012 at 16:19

  34. menarik bung. saya pikir konsepnya disini bagaimana menghadirkan ihlas biyar tidak hanya dibuku dan ceramahan, biyar tidak berkabut ketika yang dicintainya hilang. Cahyooo lah bung

    ef suma

    2 Agustus 2012 at 14:52

    • apa menariknya

      muh imran

      2 Agustus 2012 at 14:58

    • aku suka ceritanyya

      anrdrea

      13 Agustus 2012 at 09:44

  35. hrusnya si penulis ini menyimpulkan pesan-pesan / amanah dari cerita tersebut!

    muh imran

    2 Agustus 2012 at 14:57

    • Ah, tak perlulah disimpulkan… biar pembaca sendiri yang menilai.

      berrybudiman

      7 Agustus 2012 at 14:53

    • benar sekali

      ian

      6 September 2012 at 17:54

  36. aku malah sama sekali kagak ngerti

    miftah

    5 Agustus 2012 at 10:14

    • setuju :)

      gery

      15 Januari 2013 at 21:29

  37. cerpen apa ini?

    ridho irawan

    6 Agustus 2012 at 20:51

  38. Selamat

    Omo

    8 Agustus 2012 at 12:28

  39. Bagus

    welli

    13 Agustus 2012 at 21:18

  40. ini yg ada dikorann.. :O

    heidi

    28 Agustus 2012 at 12:11

  41. waduh…………… baugus ngettt

    Salmaz Saingan Namiraz

    31 Agustus 2012 at 12:14

  42. Cerpen yang bagus tapi merinding bacanya….

    Lite Christy Cullen

    1 September 2012 at 21:05

  43. aq tak mengerti.

    caca

    4 September 2012 at 08:56

  44. kalau boleh saran seharusnya ceritanya kurang jelas tapi bolehlah

    ian

    6 September 2012 at 17:57

  45. barang siapa yang gak ngerti suruh bobok dulu

    hapex

    13 September 2012 at 14:04

    • maksud nya gimana kak

      toink

      4 April 2014 at 19:31

  46. keren like it (y)

    sukmawaty

    25 September 2012 at 18:08

  47. ceritanya menegangkan

    chales

    29 September 2012 at 17:13

  48. ceritanya menyentuh…. kereeen.

    indikatze

    22 Oktober 2012 at 17:15

  49. aku suka ceritanya, luar biasa :) sayang, akhirnya masih berupa tanda tanya, hemm . Selamat bang :)

    Nanda Najih Habibil Afif

    25 Desember 2012 at 12:07

  50. boleh di analisis gak om………..he he

    putra

    29 Desember 2012 at 20:22

  51. nggak jelas….banyak yang begitu….biarlah.

    Anara Prima Diamona

    17 Januari 2013 at 14:55

  52. Gk bisa nangkep intinya. . .tpi ceritanya bagus,,

    adzieeinstein

    25 Januari 2013 at 11:24

    • sama…..dong

      shafira

      1 Februari 2013 at 08:39

  53. bagus….banget………………………………

    galih

    4 April 2013 at 16:35

  54. cerpen itu tak harus jelas… pembaca ntar yg menerka2, membikin ceritanya sendiri dr terkaannya, kayak komen2 diatas, ada yg menghubungkannya ama peristiwa di taun 65, ada yg nanya ayahnya diguna2 dll…

    mungkin kalo menurut gw, itu ayahnya didatengin sekelompok alien, ayahnya ternyata adalah raja alien dari planet namec, mereka bikin seolah2 kalo si “ayah” mati terbunuh, padahal mereka pergi ke planet namec, dimana planet namec sedang terancam huru-hara, nah ibunya jelas adalah alien juga, dimana di asal planet ibunya semua makhluk dapat berubah menjadi kabut, huehuehuehuehue……..

    penghuni bumi

    22 April 2013 at 16:34

  55. keren bangeeet…. kesedihan yg sangat mendalam, sampai tdk bs diungkapkan lg dg kata dan air mata.

    DUNIA FHASION PRIA

    23 April 2013 at 21:24

  56. si ibu bikin panik ketika tidak ada.

    vertical blind

    24 Juli 2013 at 15:09

  57. hanya satu kata:mantap

    freilosung

    15 Agustus 2013 at 12:52

  58. keren bro

    anjarmukti

    2 September 2013 at 19:34

  59. yah, tulisan itu emang ga harus jelas!
    biar si pembaca yang menangkap sendiri maknanya..

    fauziah

    8 September 2013 at 19:02

  60. temanya apa ya?

    jordy

    15 Oktober 2013 at 19:23

  61. mohon ijin copas, tapi saya cantumkan sumbernya kok .. :D

    widyamif

    28 Oktober 2013 at 14:57

  62. […] dengan 71 komentar […]

  63. Korban konflik tahun 65. Kabut itu aib dan masalah yang tidak pernah selesai. yang memakan hidup-hidup ibunya dan kelak mereka juga..

    • judulx sudah OK,,,,
      ceritax luar biasa membius

      Krisna Agusti

      5 Maret 2014 at 09:47

  64. kak trus gimana ke lanjutantannya kak

    toink

    4 April 2014 at 19:28


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.407 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: