Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Mengenang Kota Hilang

with 35 comments


Maka lumpur pun datang membasuh wajah kota itu.
(Hasan Aspahani, 2006)

Itulah bait pertama yang kau tulis dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari penanya, ketika perlahan-lahan kotaku terendam lumpur. Begitupun aku menyambut gembira, atas suratmu yang kau kirim melalui denyut hati, karena kau tahu arti penderitaan kami.

Aku mengerti perasaanmu. Begitu bernafsukah kau ingin datang ke kotaku? Begitulah yang aku rasakan dalam setiap detak nadimu. Tetapi aku tahu, kau hanya ingin mengembara lepas dalam batin kami yang menderita.

Aku pun tak berharap kau datang ke kotaku. Cukuplah kau saksikan dengan mata hatimu, aku sudah gembira. Aku gembira membaca bait-bait resahmu, yang kau tuliskan dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari penanya.

Tetapi tak apalah. Kau salah satu yang aku kagumi. Penderitaan memang tak perlu dibaitkan dalam kata-kata terang. Karena kata-kata terang sering menjadi pelipur lara belaka. Dan kau tahu, kotaku perlahan-lahan tenggelam tidak hanya dalam lumpur tetapi dalam timbunan retorika.

Ketahuilah, kami yang kini tinggal di kota lumpur, telah banyak mereka-reka dan mengais-ngais kata-kata terang tetapi gelap maknanya. Aku tahu, kau menuliskan dengan bahasa bersayap, tetapi aku merasakan irisan-irisan makna yang kau hujamkan ke ulu hati.

Karena itu, aku tak ingin kau datang ke kotaku. Mata hatimu mungkin akan lebih tajam melihat derita kami, daripada kau ingin bermetamorfosis menjadi guru bahasa, guru pengocok moral atau menjadi pengabar yang sok pintar.

”Tidak! Aku cukup lega membaca isi hatimu!”

Bertapalah di gunung batinmu. Jangan datang ke kotaku. Kotaku, kini hilang. Kini yang tertinggal hanya kenangan dan harapan-harapan. Tak ada yang tersisa, selain kata sesal. Dan sepucuk atap rumah yang gentingnya menyumbul di antara hamparan lumpur kering dan pucuk-pucuk pohon yang meranggas. Tak ada yang tersisa.

”Kini semuanya telah ditelan waktu. Kotaku hilang tak terkenang!”

Tapi kalau kau ingin datang ke kotaku, gantilah hatimu dengan batu. Kantongilah sekarung nyawa. Ke kotaku kini hanya ada satu jalan, jalan maut!

Di jalan itu akan kau jumpai monster-monster kecil penghisap darah. Di jalan kau akan jumpai pohon-pohon hidup, yang bisa menjerat lehermu hingga putus. Jebakan demi jebakan harus kau waspadai. Orang-orang yang berniat baik bisa berbalik menjadi perampok yang ganas. Di setiap tikungan, kau harus waspada, karena di situ banyak pengemis bersenjata tajam akan menghunuskan arit ke lehermu bila kau tidak memberi uang barang satu perak pun.

Bila kau lolos di jalan maut, kau tak perlu bergembira. Karena setelah itu kau akan menemukan jalan yang bercabang-cabang, mirip labirin. Kau harus pandai memilih jalan yang tepat. Bila salah pilih, jangan harap kau bisa kembali menjadi manusia. Kau pasti akan menjadi lintah, atau semacam belut yang hidup di rawa-rawa, yang kini dikuasai oleh monster-monster berwarna-warni.

”Kau tahu, jalan yang bercabang-cabang itu sebenarnya tak akan sampai ke kotaku!”

Karena itu, ketika kau memutuskan untuk datang ke kotaku, siapkan dirimu menjadi pahlawan kesiangan atau kalau mau hidup jadilah monster. Kotaku, seperti yang kau tulis, ”Maka lumpur pun datang, dan penduduk kota hilang,” tidaklah salah.

Untuk mencari rumahku, kau harus menjadi superhero yang gagah berani. Kau harus menjadi manusia tak terkalahkan. Kau harus menjadi seperti Gatutkaca atau Antareja yang mampu terbang dan menembus perut bumi. Tetapi kau bisa juga menjadi Sangkuni yang pandai bersilat lidah dan tipu muslihat.

Atau kau bisa menjadi badut. Kau akan mudah masuk dengan gaya leluconmu. Kau akan dikerumuni anak-anak kecil yang haus hiburan. Mereka anak-anak yang tak lagi mengenal masa depannya. Hanya dengan leluconlah kau bakal hidup panjang.

Meski begitu, kau jangan berharap telah sampai ke kotaku. Mungkin kau masih menempuh separuh jalan. Atau barangkali kau masih jalan di tempat. Tak ada yang tahu berapa jauh jalan yang harus ditempuh hingga sampai ke kotaku.

Tak ada yang tahu. Kotaku telah hilang dalam peta. Barangkali, kotaku telah berada dalam perut paus atau terkubur dalam perut bumi, atau masih dalam genggaman monster warna-warni, juga tak ada yang tahu.

Bagi kami, jalan kota kami telah tertutup rapat dari dunia. Tak ada jalan lain, selain jalan ke langit. Tak ada kata-kata, selain doa. Tak ada harapan, selain harapan untuk mati.

”Apakah kau siap, kawan?!”

Memasuki kota kami, melalui jalan labirin itu, tajamkan mata dan hati. Bersiaplah kau menerima jebakan-jebakan yang lebih maut dari jalan maut. Jangan asal melangkah, karena di setiap jengkal, arti langkahmu sangat menentukan nasibmu. Dan kau tahu, orang-orang di kotaku telah banyak yang menjadi lintah, belut, dan bahkan ubur-ubur, karena salah melangkah. Atau memang mereka ingin menjadi monster jalan labirin daripada hidup dalam kubangan lumpur.

”Aku menyesal sebenarnya, tak bisa menuliskan kabar ini secara benar!”

Tak ada kebenaran di kota kami. Kebenaran telah dirampok. Kebenaran menjadi bahasa yang berbelit-belit dan sulit dipahami maknanya. Kebenaran dan kepalsuan menjadi tipis jaraknya. Dan kau tahu, banyak di antara kami yang silau oleh kepalsuan yang berlapis kebenaran.

Kami tidak salah. Kami dijebak oleh monster-monster penguasa jalan-jalan labirin. Meski demikian, banyak yang memilih menjadi dan hidup dalam lumpur daripada menjadi lintah atau menjadi budak para monster.

Dan kau tahu, dalam bait suratmu yang kau suarakan melalui hatimu, kau tulis dengan gamblang: ”Semula ada yang mengira mereka memilih jadi ikan, memasang semacam insang di leher dan sejak itu menjadi bisu….”

Pada mulanya memang itulah yang kami tempuh. Kami diam dan pasrah ketika air bercampur lumpur perlahan-lahan menggenangi kota. Ketika air meninggi dan lumpur semakin mengendap, kami harus mengambil pilihan. Bertahan hidup menjadi ikan atau menjadi monster di daratan?

Kamu tahu, kami banyak yang memilih menjadi ikan meski air begitu keruh. Tapi setidaknya aku dan orang-orang di kota masih bisa bernapas sambil mengikuti arus, ke mana mengalir. Tetapi tidak tahulah, lama-lama arus air dan lumpur begitu deras dan pekat. Kami yang dulunya bisa bernapas, tiba-tiba terasa sesak. Dan tiba-tiba kami seperti hidup dalam pekat gelap.

Dalam gelap pekat itu muncul sekelompok ikan dengan gigi dan sisik tajam, yang dipimpin ikan berkepala besar berbelalai banyak. Ikan yang kami sebut sebagai gurita itu, belalainya begitu terampil menangkapi ikan-ikan kecil untuk dijadikan makanannya.

Kau harus tahu, gurita itu begitu cengeng. Setiap kali ia ingin menghisap darah kami, ia merajuk pada ibunya. Dan ibunya selalu muncul dalam bayang-bayang masa lalunya yang kelam, berkata, ”Hisaplah nak, demi hidupmu?”

Kamu tahu, kau tulis dalam degup jantungmu yang paling keras, ”Lalu sejak itu muncullah sekelompok ubur-ubur sebesar kepingan uang recehan yang berbiak dan nyaris memenuhi genangan.”

Apakah kau masih ingin ke kotaku? Lewat suara hatiku ini, kusarankan, lebih baik urungkan saja niatmu. Meski kotaku kini telah berdiri papan nama bertuliskan: ”Wisata Kota Lumpur”, lebih baik kau jangan percaya dengan bahasa terang itu. Itu bahasa jebakan untuk mengais simpati. Bila kau tak tahu, kau akan jadi ikan-ikan dalam kekuasaan ikan berkepala besar berbelalai banyak.

Kalaupun kini banyak orang melihat dan mencari-cari sisa kota kami, mereka tidak tahu, kota kami telah digondol ikan berkepala besar berbelalai banyak, menghilang dalam lautan lepas.

Kau tahu, mereka yang mencari sisa-sisa kota kami berdiri di atas bukit yang membentang sampai cakrawala, seperti benteng, yang membentengi lautan lumpur. Orang-orang itu mencoba mencari kegembiraan kecil, atau mencoba menyelami penderitaan kami. Tak ada yang tahu. Kami benar-benar jauh dalam genggaman ikan berkepala besar berbelalai banyak.

Dan kau sangat tahu, dalam teriakan bahasa hatimu yang aku tangkap samar-samar, kau menulis: ”Ada kapal-kapal tanker besar menanti. Para nakhodanya bertubuh besar dan bertangan banyak sekali. Sebagian dari tangan-tangan itu memegang senapan. Sebagian lagi terus-menerus menekan angka-angka di mesin hitung dan pencatat waktu. Para kelasinya tak pernah menginjak bumi dan tak pernah berdiam, kerja siang malam….”

Kini apakah pantas kotaku, rumahku, namaku, kau cari-cari dalam timbunan lumpur yang semakin menggunung itu? Apalah arti kotaku, apalah arti rumahku, apalah arti namaku, sedangkan Marsinah saja telah menjadi purba! Tugu kuning tempat Marsinah diculik juga telah musnah. Sia-sia!

”Amnesia! Udara pengap kota kami menjadi virus lupa ingatan!”

Tak perlulah kau ingat. Tak perlulah kau kenang. Tunggulah, pada suatu saat nanti kotaku akan kau temukan dalam pesta pora para monster menyambut kemenangan dewa ikan berkepala besar berbelalai banyak.

Dalam mesin hitung, kami telah dipurbakan. Kami diendapkan dalam waktu dan pada suatu saatnya nanti, kota kami digali dari kuburnya. Nama-nama kami dicatat, bendera-bendera berkibaran dalam pesta dewa ikan berkepala besar berbelalai banyak. Kota baruku akan ditemukan dengan nama yang ditulis dengan huruf Palawa: Kahuripan.

”Apakah kau tahu arti Kahuripan?”

Sebenarnya kotaku tak bisa dimatikan, karena sikap teguh kami untuk tidak kompromi. Kotaku tak bisa dihilangkan begitu saja. Ia akan lahir kembali dalam kenangan yang mengekal dan banal.

Pesanku, kalaupun pada suatu saat nanti kotaku tak ditemukan, maka kenanglah kotaku seperti dalam suara keras hatimu di bait terakhir: ”Dulu di sana, para petinggi agama berkhotbah tak henti-hentinya”.

Itulah semulia-mulianya kenangan.

Sidoarjo, 2011

Catatan:
1. Cerita ini terinspirasi dari puisi: Kisah Kota Lumpur, Hasan Aspahani, 2006.
2. Semua kutipan berasal dari bait puisi: Kisah Kota Lumpur, Hasan Aspahani, 2006.

About these ads

Written by tukang kliping

13 Mei 2012 at 17:32

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

35 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. lumpur lapindo…

    menanti gerimis

    14 Mei 2012 at 18:33

  2. Satire

    winaprayoga

    14 Mei 2012 at 19:55

  3. Reblogged this on Violet Silhouette of ….

  4. keren… bahasanya juga puitis deh.. hehe

    ande wacana

    14 Mei 2012 at 20:53

  5. informasi terakhir, Lapindo Brantas sudah akan kembali melakukan pengeboran dan telah mendapatkan izin dari pemda setempat…wow

    ari

    14 Mei 2012 at 23:15

  6. bagus….
    i like it :)

    bojonegoro punya

    15 Mei 2012 at 07:29

  7. kahuripan = kehidupan
    Tapi ketika kahuripan di bicarakan lalu di kaitkan dengan lumpur lapindo..bukankah itu menyesakan sekali kan?..pasti tangisanmu pujangga..akan semakin panjang.
    Aah itu hanya lipatan lipatan kenangan yg akan mendistorsi hari ini jika terus di kais apa yg berharga pernah terwujud di sana…
    Lebih baik mari kita merangkai impian..bayangkan saja di atas kotamu yg tenggelam itu kelak akan terwujud taman luas tanpa batas yg di sana hanyalah perwujudan kedamaian dan kebahagiaan…
    Bukankah mengenai impian, segala sesuatu mungkin untuk terjadi..
    Itu hanya permasalahan, adakah orang yg berani dan sanggup bermimpi..

    Abi asa

    15 Mei 2012 at 14:45

  8. mantap, bagus bang

    elkamis

    15 Mei 2012 at 16:41

  9. Merinding. idenya cemerlang.

    rangkaian diksi

    17 Mei 2012 at 07:53

  10. keren

    Fhathimha Shythy

    17 Mei 2012 at 19:46

  11. Kota Lumpur: bukti nyata kegersangan keadilan………. :(

    bintangbumoe

    18 Mei 2012 at 15:40

  12. kompas seperti monster juga : menjual penderitaan manusia, seperti realiti tv yang picisan…
    aku mengerti apa yang diinginkan kompas sekarang…salut dah…tema yang murahan….
    ckckck
    kompas menerbitkan cerpen…seperti seorang nepotis ulung tapi berbaju ulama…..pilih-pilih orang (jalan karir sebagai penulis bukan apa yang ditulisnya)….sekalipun tulisannya bagus sebagai sebuah cerita…kalau dia orang tak di kenal jangan harap tulisanya bakal di muat….
    kalaupun ada…pastilah temanya penderitaan rakyat dan kebobrokan penguasa….tak lebih…
    “kasihan sekali mereka bapa…mereka tidak mengerti apa2″…hhahahah….
    kalau ada penulis baru dari kampung yang kirim cerpen pada kompas…kompas nanya dulu sama kawannya kompas dari kampung penulis yang bersangkutan “lu kenal kagak sama yang ini”…kalua kagak kenal…kagak bakal di muat….
    ya kan kompas…kwkwkwk…
    kompas nepo lu ah…
    viiviiiviii

    inisial B (bukan nama sebenarnya)

    20 Mei 2012 at 02:13

  13. Helow bos,wah lumpur membaur menggilas^^,slm knal bos.

    sinyobain

    20 Mei 2012 at 20:54

  14. Mau kirim cerpen ke Kompas. Gmn caranya yah?

    wanspeak

    21 Mei 2012 at 15:37

  15. Halus, sekaligus tajam.
    Tapi aku percaya, selama belum kiamat, masih ada harapan.
    Salam.

    JogjaKampus

    21 Mei 2012 at 17:22

    • Terlalu halus, puitis tidak tajam atau mengena! Kebanyakan dalam bualan penulisnya! Harusnya sodok aja Boss Lapindo sebagai tokoh yang serakah, culas dan maniak jabatan itu! Baru ke tokoh kecil yang kena dilibas sama gas lapindo… Jangan permainan kata doang dong!

      Jovian

      25 Mei 2012 at 09:00

    • Bahasa yang langsung sodok hanya punya satu arti. Bahasa yang halus bisa mempunyai banyak arti dan melewati jaman… Aah, Lapindo ini nggak akan sepanjang ini masalahnya kalau sejak awal Pemerintah langsung mencanangkan sebagai bencana nasional. Minimal yang jadi korban akan dapat bantuan dari luar negeri juga. Kalau begini?

      Mas Bei

      30 Mei 2012 at 23:55

  16. Selamat

    Omo

    25 Mei 2012 at 12:06

  17. Sedih…

    reno

    26 Mei 2012 at 10:55

  18. ni teh cerita sindiran yaa ^_^

    vivi

    2 Juni 2012 at 01:23

  19. puitis , sadis, agak nicis tapi kurang menusuk untuk membuat kita nangis…mungkin udah terkena kota lumpur juga ya

    fatonah

    25 Juni 2012 at 09:08

  20. sipp lah, pedas gap2 yg pntg nikmat wat d nikmati,

    aa awie

    2 Juli 2012 at 07:15

  21. semoga ada hikmah d balik semua itu.Bagus Mas…

    Olyq El Khaliqy

    4 Juli 2012 at 12:29

  22. bagus

    yuri

    19 Juli 2012 at 15:13

  23. berhati-hatilah, karna ikan berbelalai banyak itu masih berkeliaran bebas di antereo bumi, suatu saat kota mu yang kau cintai bisa menjadi sasaran ikan laknat tersebut

    ibnu R

    13 Agustus 2012 at 13:05

  24. cerpennya kurang komunikatif, terkesan kayak puisi, nggak asik, ga kaya yg lain.

  25. cerpen yang indah kata-katanya

    galih

    4 April 2013 at 16:38

  26. kompas seperti monster juga : menjual penderitaan manusia, seperti realiti tv yang picisan…
    aku mengerti apa yang diinginkan kompas sekarang…salut dah…tema yang murahan….
    ckckck
    kompas menerbitkan cerpen…seperti seorang nepotis ulung tapi berbaju ulama…..pilih-pilih orang (jalan karir sebagai penulis bukan apa yang ditulisnya)….sekalipun tulisannya bagus sebagai sebuah cerita…kalau dia orang tak di kenal jangan harap tulisanya bakal di muat….
    kalaupun ada…pastilah temanya penderitaan rakyat dan kebobrokan penguasa….tak lebih…
    “kasihan sekali mereka bapa…mereka tidak mengerti apa2″…hhahahah….
    kalau ada penulis baru dari kampung yang kirim cerpen pada kompas…kompas nanya dulu sama kawannya kompas dari kampung penulis yang bersangkutan “lu kenal kagak sama yang ini”…kalua kagak kenal…kagak bakal di muat….
    ya kan kompas…kwkwkwk…
    kompas nepo lu ah…
    viiviiiviii

    KOREA STYLE

    23 April 2013 at 21:00

  27. cerpennya keren

    ocitamala

    10 Mei 2013 at 12:07

  28. Ironis…

    Rene

    4 September 2013 at 13:13

  29. […] dengan 30 komentar […]

  30. Jeritan hati korban lumpur lapindo

  31. Merinding. Semakin ditelusuri semakin membuat bulu kuduk berdiri.. Great!

    Nayla

    3 April 2014 at 22:48

  32. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 02:07

  33. Wah! Seperti ungkapan hati korban lumpur lapindo. Labirin, Monster penghisap darah, Monster warna warni, dan banyak lagi kata-kata kreatif yang membuat imajinasi kemana-mana.

    Yustika CP

    3 Agustus 2014 at 11:28


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.534 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: