Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Laki-laki Pemanggul Goni

with 74 comments


Setiap kali akan sembahyang, sebelum sempat menggelar sajadah untuk sembahyang, Karmain selalu ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk mendekati jendela, membuka sedikit kordennya, dan mengintip ke bawah, ke jalan besar, dari apartemennya di lantai sembilan, untuk menyaksikan laki-laki pemanggul goni menembakkan matanya ke arah matanya.

Tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, ataupun selepas tengah malam, mata laki-laki pemanggul goni selalu menyala-nyala bagaikan mata kucing di malam hari, dan selalu memancarkan hasrat besar untuk menghancurkan.

Tubuh laki-laki pemanggul goni tidak besar, tidak juga kecil, dan tidak tinggi namun juga tidak pendek, sementara goni yang dipanggulnya selamanya tampak berat, entah apa isinya. Pada waktu sepi, laki-laki pemanggul goni pasti berdiri di tengah jalan, dan pada waktu jalan ramai, pasti laki-laki pemanggul goni berdiri di trotoir, tidak jauh dari semak-semak, yang kalau sepi dan angin sedang kencang selalu mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat menyayat hati.

Beberapa kali terjadi, ketika jalan sedang ramai dan laki-laki pemanggul goni menembakkan mata kepadanya, Karmain dengan tergesa-gesa turun, lalu mendekati semak-semak dekat trotoir, tetapi laki-laki pemanggul goni pasti sudah tidak ada lagi. Dan ketika Karmain bertanya kepada beberapa orang apakah mereka tadi melihat ada seorang laki-laki pemanggul goni, mereka menggeleng.

Apabila hari masih terang, beberapa kali laki-laki pemanggul goni membaur dengan orang-orang yang sedang menunggu bus, sambil menembakkan matanya ke arah Karmain. Tapi, ketika Karmain tiba di tempat orang-orang yang menunggu bus, laki-laki pemanggul goni sudah tidak ada, dan orang-orang pasti menggelengkan kepala apabila mereka ditanya apakah tadi mereka menyaksikan ada laki-laki pemanggul goni.

Pada suatu hari, ketika hari sudah melewati tengah malam dan Karmain sudah bangun lalu membersihkan tubuh untuk sembahyang, korden jendela seolah-olah terkena angin dan menyingkap dengan sendirinya. Maka Karmain pun bergegas mendekati jendela, dan menyaksikan di bawah sana, di tengah-tengah jalan besar, laki-laki pemanggul goni berdiri membungkuk mungkin karena goninya terlalu berat, sambil menembakkan matanya ke arah dirinya. Kendati lampu jalan tidak begitu terang, tampak dengan jelas wajah laki-laki pemanggul goni menyiratkan rasa amarah, dan menantang Karmain untuk turun ke bawah.

Karena sudah terbiasa menyaksikan laki-laki pemanggul goni bertingkah, dengan lembut Karmain berkata: ”Wahai, laki-laki pemanggul goni, mengapakah kau tidak naik saja, dan ikut bersembahyang bersama saya.” Kendati jarak antara jendela di lantai sembilan dan jalan besar di bawah sana cukup jauh, tampak laki-laki pemanggul goni mendengar ajakan lembut Karmain. Wajah laki-laki pemanggul goni tampak berkerut-kerut marah, dan matanya makin tajam, makin menyala, dan makin mengancam.

”Baiklah, laki-laki pemanggul goni, kalau kau tak sudi naik dan sembahyang bersama saya, tunggulah saya di bawah. Saya akan sembahyang dulu. Sejak saya masih kecil sampai dengan saatnya ibu saya akan meninggal, ibu saya selalu mengingatkan saya untuk sembahyang dengan teratur lima kali sehari. Fajar sembahyang satu kali. Itulah sembahyang subuh. Tengah hari sembahyang satu kali. Itulah sembahyang lohor. Sore satu kali, itulah sembahyang ashar. Senja satu kali. Itulah sembahyang maghrib. Malam satu kali. Itulah sembahyang isya. Lima kali sehari. Dan kalau perlu, enam kali sehari, tambahan sekali setelah saya bangun lewat tengah malam dan akan tidur lagi. Itulah sembahyang tahajud. Dan kamu selalu mengawasi saya, seolah-olah kamu tidak tahu apa yang patut aku lakukan dan apa yang tidak patut aku lakukan.”

Dengan tenang Karmain menutup korden, namun karena sekonyong-konyong angin bertiup keras, korden menyingkap kembali. Laki-laki pemanggul goni tetap berdiri di tengah jalan, tetap menampakkan wajah penuh kerut menandakan kemarahan besar, dan tetap menembakkan matanya dengan nyala mengancam. Di sebelah sana, dekat trotoir di sebelah sana, semak-semak bergoyang-goyang keras tertimpa angin, dan mengirimkan bunyi-bunyi yang benar-benar menyayat hati.

Karmain melayangkan pandangannya ke depan, ke gugusan apartemen-apartemen besar, dan tampaklah semua lampu di apartemen sudah padam, sejak beberapa jam yang lalu. Lampu yang masih menyala hanyalah lampu-lampu di gang-gang yang menghubungkan apartemen-apartemen itu, sementara lampu merah di tiang tinggi di sebelah sana itu, berkedip-kedip seperti biasa, seperti biasa menjelang hari menjadi gelap, atau mendung, atau hujan lebat.

Seperti biasa pula, lampu di tempat pemberhentian bus menyala, sebetulnya terang, tetapi tampak redup. Selebihnya sepi, kecuali angin yang tetap menderu-deru. Karmain pindah ke kamar lain, yang korden jendelanya ternyata juga terbuka, kemudian melihat jauh ke sana. Di sana itu, ada laut, dan meskipun gelap, terasa benar bahwa laut benar-benar sedang gelisah.

Sembahyang selesailah, lalu Karmain mendekati jendela, dan laki-laki pemanggul goni masih di sana, masih menunjukkan wajah marah, masih menembakkan pandangan mengancam. Maka Karmain turunlah. Dan ketika Karmain tiba di tepi jalan, laki-laki pemanggul goni tidak ada. Angin masih bertiup keras. Seekor anjing hitam, besar dan tinggi tubuhnya, mengawasi Karmain sekejap, kemudian menyeberang jalan, dan di tengah jalan berhenti lagi sebentar, mengawasi Karmain lagi, lalu lari ke arah kegelapan. Lalu terdengar lolongan-lolongan anjing, lolongan kesakitan, lolongan pada saat-saat meregang nyawa.

Dulu, ketika masih kecil, Karmain bersahabat karib dengan Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani, semuanya dari kampung Burikan. Dan di kampung Burikan tidak ada satu orang pun yang memelihara anjing, dan anjing dari kampung-kampung lain pun tidak pernah berkeliaran di kampung Burikan. Terceritalah, ketika mereka sedang berjalan-jalan di kampung Barongan, mereka tertarik untuk mencuri buah mangga di pekarangan rumah seseorang yang terkenal karena anjingnya sangat galak. Belum sempat mereka memanjat pohon mangga, dengan sangat mendadak ada seekor anjing hitam, tinggi dan besar tubuhnya, menyalak-nyalak ganas, kemudian mengejar mereka.

Sebulan kemudian, anjing hitam bertubuh tinggi dan besar mati, setelah terperangkap oleh racun hasil ramuan Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani.

Karmain menunggu beberapa saat, sambil berkata lembut dan perlahan-lahan: ”Wahai, laki-laki pemanggul goni, di manakah kau sekarang. Marilah kita bertemu, dan berbicara.”

Karena tidak ada kejadian apa-apa lagi, Karmain berjalan menuju semak-semak, dan, meskipun tiupan angin sudah meredup, semak-semak masih bergerak-gerak, menciptakan bunyi-bunyi yang menyayat hati.

Karmain kembali ke lantai sembilan, masuk ke dalam apartemen, kemudian mencari berkas-berkas lama yang sudah lama tidak ditengoknya. Setelah membuka-buka sana dan sini, Karmain menemukan album lama. Ada foto ibunya ketika masih muda, seorang janda yang ditinggal oleh suaminya karena pada hari raya Idul Adha, suaminya tertembak ketika sedang berburu babi hutan bersama teman-temannya di hutan Medaeng. Ada lima pemburu, termasuk dia, ayah Karmain. Mereka berlima masuk hutan bersama-sama, kemudian melihat seekor babi hutan berlari kencang, menabrak beberapa semak-semak. Untuk mengejar babi hutan itu, mereka berpisah, masing-masing lari ke berbagai arah. Siapa di antara empat temannya yang dengan tidak sengaja menembak ayah Karmain, atau justru dengan sengaja menembaknya, tidak ada yang tahu.

Karmain terpaku pada foto ibunya sampai lama, kemudian, tanpa sadar, dia terisak-isak. Dulu ibunya pernah bercerita, bahwa pada waktu-waktu tertentu akan ada laki-laki pemanggul goni, mengunjungi orang-orang berdosa. Pekerjaan laki-laki pemanggul goni adalah mencabut nyawa, kemudian memasukkan nyawa korbannya ke dalam goni. Ibunya juga bercerita, beberapa hari sebelum suaminya tertembak, pada tengah malam laki-laki pemanggul goni datang, mengetuk-ngetuk pintu, kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak.

”Pada hari Idul Adha,” kata ibu Karmain dahulu, sebelum ayahnya pergi berburu. ”Tuhan menguji kesetiaan Nabi Ibrahim. Anaknya, Ismail, harus disembelih oleh ayahnya, oleh Nabi Ibrahim sendiri.”

Karmain tertidur, dan ketika terbangun, waktu sembahyang fajar sudah tiba. Dan setelah Karmain membersihkan tubuh, siap untuk sembahyang, korden jendela menyingkap lagi. Laki-laki pemanggul goni berdiri di tengah jalan lagi, wajahnya menunjukkan kemarahan lagi, dan matanya menyala-nyala, menantang lagi.

”Baiklah, laki-laki pemanggul goni, harap kamu jangan lari lagi.”

Dengan sangat tergesa-gesa Karmain turun, langsung ke pinggir jalan, dan laki-laki pemanggul goni sudah tidak ada.

Ketika Karmain tiba kembali di apartemennya, ternyata laki-laki pemanggul goni sudah ada di dalam, duduk di atas sajadah, melantunkan ayat-ayat suci, sementara goninya terletak di sampingnya.

Setelah selesai berdoa, tanpa memandang Karmain, laki-laki pemanggul goni berkata lembut: ”Karmain, kamu sekarang sudah menjadi orang penting. Kamu sudah menjelajahi dunia, dan akhirnya kamu di sini, di negara yang terkenal makmur. Bahwa kamu tidak mau kembali ke tanah airmu, bukan masalah penting. Tapi mengapa kamu tidak pernah lagi berpikir tentang makam ayahmu? Tidak pernah berpikir lagi tentang makam ibumu. Makam orangtuamu sudah lama rusak, tidak terawat, tanahnya tenggelam tergerus oleh banjir setiap kali hujan datang, dan kamu tidak pernah peduli.”

Laki-laki pemanggul goni berhenti sebentar, kemudian bertanya:

”Apakah kamu beserta sahabat-sahabatmu, Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani, pernah tersesat di hutan Gunung Muria?”

”Ya.”

”Tahukah kamu ke mana sahabat-sahabatmu itu pergi?”

”Tidak.”

”Mereka saya ambil. Saya tahu, kalau mereka tidak saya ambil, pada suatu saat kelak dunia akan gaduh. Gaduh karena, kalau tetap hidup, mereka akan mengacau, membunuh, dan menyebarkan nafsu besar untuk berbuat dosa. Saya tidak mengambil kamu karena kasihan. Kamu habis kehilangan ayah. Ayah bejat. Pada saat seharusnya dia di masjid, bersembahyang, dan kemudian membantu orang-orang menyembelih kambing, ayahmu berkeliaran di hutan. Bukan untuk menyembelih kambing, tapi mengejar-ngejar babi hutan untuk dibunuh. Ingatlah, pada hari Idul Adha, ketika Nabi Ibrahim sedang menyembelih anaknya sendiri, Ismail, datang keajaiban. Bukan Ismail yang disembelih, tapi kambing.”

Berhenti sebentar, kemudian laki-laki pemanggul goni bertanya dengan nada menuduh:

”Apakah benar, ketika kamu masih remaja, kamu menjadi penabuh beduk masjid kampung Burikan? Setiap saat sembahyang tiba, lima kali sehari, kamu menabuh beduk mengingatkan semua orang untuk sembahyang?”

Karmain ingat, ketika masih umurnya memasuki masa remaja, dia bercita-cita, kelak kalau sudah dewasa, dia akan memiliki gedung bioskop. Maka, dengan caranya sendiri, dia menciptakan bioskop-bioskopan. Kertas tipis dia gunting, dia bentuk menjadi orang-orangan. Lalu dengan tekun dia membuat roda kecil dari kayu. Orang-orangan dari kertas tipis dia ikat pada benang, benang ditempelkan pada roda kayu. Lalu dia memasang kertas minyak, menutup semua jendela supaya gelap, menyalakan lilin, menggerak-gerakkan orang-orangan. Dari balik kertas minyak terpantulah bayangan orang-orangan. Mereka bisa berlari-lari, berkejar-kejaran, dan saling membunuh, seperti yang terjadi pada tontonan wayang kulit.

Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba. Maka berlarilah dia ke masjid, meninggalkan kertas-kertas tipis berserakan di lantai. Seorang anak kampung Burikan pula, Amin namanya, telah datang terlebih dahulu, dan telah menabuh beduk. Setelah selesai sembahyang, Karmain dan beberapa orang pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit. Udara pun menjadi luar biasa panas.

Hampir seperempat rumah di kampung Burikan terbakar, dan dua laki-laki lumpuh meninggal, terjebak oleh kobaran-kobaran api.

”Karmain,” kata laki-laki pemanggul goni sambil menunduk, ”Janganlah kamu pura-pura tidak tahu, kamu lari ke masjid, sementara lilin masih menyala.”

Sunyi senyap, dan laki-laki pemanggul goni tetap tertunduk.

”Wahai, laki-laki pemanggul goni,” kata Karmain setelah terdiam agak lama. ”Ibu saya dulu pernah berkata, ada laki-laki pemanggul goni yang sebenarnya, ada pula pemanggul goni yang sebetulnya setan, dan menyamar sebagai laki-laki pemanggul goni.”

Laki-laki pemanggul goni tersengat, kemudian memandang tajam ke arah Karmain. Wajahnya penuh kerut-kerut menandakan rasa amarah yang sangat besar, dan matanya benar-benar merah, benar-benar ganas, dan benar-benar menantang.

Setelah membisikkan doa singkat, Karmain berkata lagi: ”Bagaimana kamu bisa tahu, wahai laki-laki pemanggul goni, bahwa kelak Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani akan menyebarkan dosa yang membuat orang-orang tersesat?”

Laki-laki pemanggul goni, dengan kerut-kerut wajahnya dan nyala matanya, dengan nada ganas berkata: ”Hanya sayalah yang tahu apa yang akan terjadi seandainya mereka saya biarkan hidup.”

”Wahai, laki-laki pemanggul goni, hanya Nabi Kidirlah yang tahu apakah seorang anak kelak akan menciptakan dosa-dosa besar atau tidak. Apakah kamu tidak ingat, Nabi Kidir menenggelamkan perahu seorang anak muda yang tampan? Nabi Kidir tahu, kelak anak tampan ini akan menjadi pengacau dunia. Dan Nabi Kidir pun mempunyai hak untuk menghancurleburkan sebuah rumah mewah. Sebuah rumah mewah yang dihuni oleh seorang bayi yang kelak akan membahayakan dunia.”

Dan Karmain ingat benar, dulu, menjelang kebakaran hebat melanda kampung Burikan, kata beberapa orang saksi, laki-laki pemanggul goni datang. Lalu, kata beberapa saksi pula, laki-laki pemanggul goni masuk ke rumah Karmain, kemudian bergegas-gegas ke luar, dan melemparkan bola-bola api ke rumah Karmain. Dan setelah api berkobar-kobar ganas menjilati sebagian rumah di kampung Burikan, beberapa orang dari kampung Burikan dan kampung Barongan sempat melihat, laki-laki pemanggul goni melarikan diri di antara lidah-lidah api yang makin membesar.

About these ads

Written by tukang kliping

26 Februari 2012 at 10:53

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

74 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. I get it… Barusan vote 4 bintang. Suka! :D

    Argha Premana

    27 Februari 2012 at 11:36

    • Pembaca harus benar2 jeli menikmati cerpen ini. Keren abis buat penulisnya. :-D

      Roni Yusron

      29 Februari 2012 at 23:56

  2. bagus, audzubillahiminassyaitonirraziim

    joy

    27 Februari 2012 at 12:04

  3. Wow, kompleks sangat hal-hal yang diutarakan penulis. Kaya akan makna dan perenungan tentang amalan, dosa, khianat, dan cemburu. Relevan dengan kondisi Tanah Air saat ini yang semakin awut-awutan justru karena orang-orang mudanya. Salut buat Pak Budi Darma.

    Hmm, nggak kecewa jika kelak menjadi the best cerpen Kompas 2012 :D

    Sangat terobati dengan yang pekan lalu, hehe
    Salut dan terima kasih Kompas.

    dedees

    27 Februari 2012 at 12:30

  4. Yeah, kita harus hati-hati menilai orang. Sederhana saja, penampilan bisa menipu, itu pelajaran moralnya.

    HeruLS

    27 Februari 2012 at 13:00

  5. agak bingung ceritanya, cuma gaya penuturannya menarik sekali, mungkin mesti baca sekali lagi,

    yunus

    27 Februari 2012 at 13:28

    • wah………….. saya kurang sependapat mas.
      alurnya jelas lho……….

      wana

      1 April 2012 at 18:30

  6. hati manusia, siapa yg tahu .. dan hanya sang Maha Tahu-lah yg berhak memberikan penilaian :D

    nathalia

    27 Februari 2012 at 15:10

  7. cerpenya di awal sangat membingungkan, namun baru terasa indahnya cerpen ini di tengah hingga akhir…
    Kisah nabi Khidzir disinggung dengan menarik

    Teguh Afandi (@AfandiTeguh)

    27 Februari 2012 at 15:55

  8. cerita yang bagus dan menyeramkan/misterius. Namun saya tidak tahu pesan apa yang ingin disampaikan oleh cerita yang bagus di atas.

    bintangrina

    27 Februari 2012 at 20:51

  9. Guru ngaji saya bilang, dalam sehari, malaikat sakratul maut mengontrol setiap manusia hidup 17 kali dalam sehari. Mungkin itu yang ingin diingatkan Pak Budi.

    Aba Mardjani

    27 Februari 2012 at 21:49

  10. enak

    pardan

    28 Februari 2012 at 01:23

  11. yg perlu pak budhi ketahui,kebakaran yg terjadi di kampung karmain adalah akibat keteledoran karmain sendiri yg bermain dengan media api,dan ibu karmain sengaja menghembus kan kabar bahwa bahwa lelaki pemanggul goni telah ikut berperan atas terjadi nya kebakaran di kampung.untuk menyelamatkan karmain agar supaya karmain selamat dari efek buruk selanjutnya
    Itulah mungkin yg menyebabkan lelaki pemanggul goni menyimpan dendam pada karmain.hingga tatapan sangarnya terus menghantui karmain hingga karmain dewasa dan tua..
    Heh heh heh…
    anda tampak lucu,saat mengaitkan hikayat ibrahim,khidir hingga akal licik setan pada kisah ini…
    Namun pak budhi,susunan bahasa yg anda rangkai indah sekali di awal hingga pertengahan kisah,saya kecewa ketika menyaksikan anda malah terpeleset pada ide dan mengaitkan semuanya,tanpa-seperti nya anda tdk mengena kan sisi pandang pada setiap hikayat yg anda ikut serta kan….
    Begini pak budhi,anda seperti nya ingin mengubah dunia dengan cerpen anda…namun anda tidak mengubah apapun saya rasa..karena dunia mereka tertawa membaca cerpen anda.dan berkata seolah olah mengagumi cerpen anda.

    abi asa

    28 Februari 2012 at 03:17

    • Cara Anda ngoceh tampak seperti guru yang mewejangi muridnya, lucu sekali…

      wawan

      28 Februari 2012 at 06:25

    • Wah, ad hominem, tandanya kalo bukan karena si komentator yang gak ngerti masalah, mungkin tanda2 penyakit hati: dengki.

      miftah fadhli

      28 Februari 2012 at 15:18

    • Dalam batas-batas kemampuan saya, saya masih sependapat dengan mas Dicky ditambah komentar saya sendiri bisa dibaca di atas ini. Saya kira hanya sebegitu saja komentar saya. Pokoknya saya senang bertambah kenalan dengan generasi baru.
      Salam dari oldman Bintang Rina

      bintangrina

      28 Februari 2012 at 18:44

    • paragraf terakhir anda mencerminkan diri anda sendiri. orang cerdas tak akan berkomentar dengan cara buruk bahkan untuk sebuah keburukan.

      rey

      28 Februari 2012 at 16:57

    • wah……………
      tidak menghargai tuh namanya….. penilaian orang itu berbeda-beda kawan. cara berpikir orang kan tidak sama.

      wana

      1 April 2012 at 18:36

    • Faktanya cerpen ini terpilih sbg cerpen terbaik KOMPAS 2012.
      “Cerpen ini dikisahkan begitu dingin, tetapi toh kita tetap merasakan hadirnya atmosfer suasana cerita yang menegangkan dengan segala teka-tekinya. Keberhasilan cerpen ini bukan hanya terletak pada kepiawaian pengarang menyembunyikan identitas tokoh-tokohnya. Dalam cerpen ini, diperlihatkan betapa penting semua unsur intrinsik tampil kompak, berjalin berkelindan membangun cerita. Di antara ke-20 cerpen kali ini, “Laki-laki Pemanggul Goni” tampil sebagai cerpen yang kaya tafsir dan kaya makna.” (editor).

      Goen

      19 Juli 2013 at 10:46

  12. Saya banyak melihat para Laki pemanggul goni di gedung-gedung DPR.

    Chintia

    28 Februari 2012 at 09:25

  13. wawan emuah…fiuuuuuh…kau baik sekali..

    abi asa

    28 Februari 2012 at 09:33

  14. bahasanya lembut, dan lugas…namun gaya bahasa saja tidak cukup untuk menentukan sebuah cerpen yang baik. hubungan sebab akibat antar perisitiwalah yang menjadi penting…sayangnya itu baru terjadi di akhir-akhir cerita…paragraph di awal cerita jadi terkesan tidak memiliki arti yang banyak. mungkin, akan lebih baik jika cerita di potong ke bagaian konflik langsung, dan tidak bertele-tele….tapi tiap penulis memiliki gaya bercerita berde-beda…jadi kita tetap harus mengacungi jempol,

    dicky

    28 Februari 2012 at 11:57

    • saya sependapat dengan Dicky.. Itu terjadi karena fokus ceritanya tidak jelas akhirnya hambar. Padahal bahan untuk bercerita itu cukup bagus. Tinggal memilih horor atau religi.

      bintangrina

      28 Februari 2012 at 14:22

    • NJUK NGOPO???

      nekro

      4 Maret 2012 at 22:37

  15. Setuju bung wawan, telak menampar muka tuh
    2 jempol untk anda..

    Adam cordoba

    28 Februari 2012 at 12:23

  16. bagus kok, tapi endingnya agak membingungkan. Apa Karmain mau diambil nyawanya? Atau cuma mengingatkan kesalah masa lalunya?

    rafsya

    28 Februari 2012 at 14:08

  17. Endingnya ga jelas..bingung,ga dapet inti sari nya…

    trilin lilin

    28 Februari 2012 at 16:13

  18. senang sekali dgn kehadiran sosok pemanggul goni… uniq. lumayan asyik lah…

    Adryan Yahya

    28 Februari 2012 at 18:00

  19. Sastra mencoba mengangkat sebuah kondisi sosial dan mental dengan caranya sendiri.
    Kekayaan makna dari sastra, memberikan kebebasan penuh kepada pembaca dalam menafsirkannya.
    Anda boleh menafsirkannya sesuai dengan pemahaman Anda.
    Tapi, janganlah meremehkan moral sastra itu. Menganggapnya tidak bermanfaat, apalagi menyangka ada niat terselubung dari penulis.
    Apa indahnya sastra jika hanya dipandang sebagai barang yang bermanfaat, atau alat penyampai pesan semata. Sastra lebih luas daripada itu, sehingga semua kalangan mampu menerimanya (lalu mengartikannya), bahkan, menjadikannya sebagai inspirasi hidup.

    Hanya penulis yang tahu persis pesan yang ingin disampaikan.

    Terlepas dari itu … cerita ini luar biasa inspiratif. Terima kasih Pak Budi.

    berrybudiman

    28 Februari 2012 at 18:35

  20. ini ceritanya masih ada lanjutannya ta…? :)

    gilang

    28 Februari 2012 at 20:43

  21. Oke, bagus! Menurutku laki-laki pemanggul goni sekedar memberi peringatan yang berupa amarah dan ancaman yang membara. Sebenarnya intinya Karmain disambangi Untk mengingat sesuatu yg telah ditinggalkan di desanya, yaitu mengenai makam ayahnya yang rusak dan sudah diterjang air. Seoalah-olah Karmain disurh merawat dan memperbaiki makam ayahnya.

    Hidup Karmain yang sudah jadi orang penting dan makmur menjelajahi dunia membuat dirinya lalai akan segala hal, yaitu pada orang tua, sehingga dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail serta Nabi Kidhir sebagai simbol untuk keterpaduan cerita.

    Ini menurutku……………… maaf klw ada yg salah.

    Edy S.C

    28 Februari 2012 at 22:14

  22. wah, menarik sekali
    bolehkah saya analisis dg berbagai pendekatan??

    chowma bie

    29 Februari 2012 at 23:40

    • kalau mau menganalisa saya sarankan tanya dulu kepada penulisnya dan bapak Budi Dharma.Dengan menganalisa berarti anda mencincang naskah di atas. Kalau saya pribadi oke-oke saja karena bagaimanpun juga buruknya ada hasil yang akan muncul yaitu kepekaan kita atas suatu tulisan pasti meningkat. Semoga saja tukang klipingnya mengijinkan dan tidak sakit perut. Nah slamat bekerja chowma bie, saya mendukung niat anda
      salam dan selamat bekerja dari oldman Bintang Rina

      bintangrina

      1 Maret 2012 at 06:18

  23. subhanallah saya menikmati ceritanya, tp kurang mengerti diakhir cerita. Mohon klo ada yg mengerti bisa dijelaskan,, trims

    maminya amanatillah

    1 Maret 2012 at 02:03

  24. laki-laki pemanggul goni, kedatangannya tidak bisa diprediksi apalagi dikompromi. dia datang mengeksekusi hidup seseorang yang dikehendakinya sesuai dengan cara dan waktu sudah yang ditentukannya. so, jangan terlelap dengan kenikmatan dunia, laki-laki pemanggul goni setiap saat mematai Anda. Hiduplah yang benar! karena dia masih punya belas kasihan.

    9ian

    1 Maret 2012 at 09:05

  25. Mau dibilang endingnya ngatung kayaknya juga belum. Atau lebih tepatnya akan bersambung kali ya :)
    Cukup menikmati cerpen ini. Dan selamat buat penulisnya.

    Beda aja

    1 Maret 2012 at 11:22

  26. hmmmmm,,gaje pusing gua ne

    endi

    1 Maret 2012 at 16:41

    • Haloo endi, kalau pusing ya kedokter (Hehehehe…..sorry humor dikit) Menurut pendapat saya semakin banyak komentar semakin menunjukkan betapa tidak jelasnya pesan dari si penulis, terlepas apa ceritanya menarik atau tidak

      bintangrina

      1 Maret 2012 at 17:34

  27. ngeri

    joel basten Tarigan

    1 Maret 2012 at 23:06

  28. Butuh kemampuan tingkat dewa untuk paham ceritanya. Saya tidak paham.

    welli

    2 Maret 2012 at 11:09

    • mohon perhatian, harap bubar, tukang panggul goninya sudah ditahan sama satpol PP. lebih baik kalian pulang cuci kaki lalu tidur. (hehehehe………..bosan bro !)

      bintangrina

      2 Maret 2012 at 13:45

  29. saya kesulitan untuk menganalisis unsur intrinsknya bisa mohon di bantuu..???

    wulan

    2 Maret 2012 at 12:11

  30. sya pikir dari awal si pemanggul goni adalah orang gila, tp berhubung dia hobi bgt menghilang sya jd tertarik utk menelisiknya kmbali. di tengah cerita sya pikir si pemanggul goni adalah malaikat yg mengingatkan Karmain akan tugasnya sbg anak thd org tua yg sdh meninggal. makin ke tengah, sya berubah pikiran bhwa si pemanggul goni ini adalah malaikat pencabut nyawa yg hobi mengambil nyawa org2 yg tidak dlm jalan yg benar atau berpotensi tersesat bila tetap dibiarkan hidup. menjelang akhir, sya dikejutkan dg fakta bila Karmain seolah mjd tertuduh atas terbakarnya sebagian kampung. keterkejutan saya belum berakhir ketika sampai di ending bhwa ada saksi mata yg melihat pemanggul goni di tkp kebakaran. namun setelah membaca komentar dari abi asa, waw…
    intinya, saya mengakhiri petualangan cerpen ini dengan penuh keterkejutan… tapi salut buat penulisnya, jempol teracung ^^

    Eve

    2 Maret 2012 at 13:48

  31. Reblogged this on Mine and Yours and commented:
    Anjir ini keren banget sumpah

    ikhsanrr

    2 Maret 2012 at 20:06

  32. Reblogged this on ucap semilir.

    semilir

    3 Maret 2012 at 14:25

  33. kematian spt rezeki yg datangnya tqak terduga, bahkan dari sebatang lilin pun bisa almarhum. trimaksih dah mengingatkan!.

    raihana

    4 Maret 2012 at 09:05

  34. Subohonalloh……

    Tepank

    6 Maret 2012 at 14:11

  35. cerpen yang bagus…
    bikin orang penasaran di awal cerita, tapi serasa kurang di endingnya, serasa dipaksakan…

    arda

    6 Maret 2012 at 16:04

  36. awalnya saya justru berpikir penulisnya terjebak dalam pebuatan ending. misalnya; diawal tokoh utama digambarkan sebagai orang yang taat beribadah mengikuti nasehat ibunya, berarti tokoh cukup berbakti sama ibunya, tapi tiba2 diakhir ternyata tokoh melupakan makam ibunya sndiri.
    tp penulis keliatannya cukup jeli (ibaratnya kl kasih bom, penulis udh siap kasih balik bomnya x y), penulis menyiapkan pertanyaan besar yaitu pemanggul goni ini malaikat ato setan? pertanyaan ini membuat pembaca yg menerka2 kebenaran atau isi dalam cerita ini jd susah. hal2 yg bertolak belakang dalam cerita jadi semakin tidak jelas, karena ada 2 tokoh tapi yang satunya g jelas malaikat atau setan (kebaikan atau keburukan, kebenaran atau kebohongon). dua kesaksian yg berbeda tdk bisa dijadiakan kesaksian dipersidangan. butuh konfrontir ni biar tau tokoh utama yg bersalah ato bukan. hahaha
    jenius penulisnya. hahaha cerpen yang keren. sy sendiri masih mengerutkan dahi, ko bisa y kepikiran bikin yg bgni.

    event kampus

    7 Maret 2012 at 23:49

    • terima kasih! komentar anda membuat saya jadi tahu inti cerita ini.

      lautan kata

      6 Mei 2012 at 21:33

  37. bintangrina, membaca komentar anda yang (saya rasa) sangat tidak menunjukkan kemampuan seorang sastrawan tetapi malah bertingkah seolah-olah sastrawan berpengalaman, membuat saya tersedot untuk memasuki dunia kata anda. setelah saya baca blog anda, saya tersedak. ternyata racun yang anda sampaikan atas cerpen ini saya dapatkan dari kata-kata anda sendiri. bahasa sederhananya, anda seolah-olah mengklaim sisi negatif suatu cerita, tetapi maaf, cerita anda sendiri menunjukkan anda bukan seorang penulis yang berkarakter.

    cuma

    8 Maret 2012 at 00:35

  38. Jangan terlalu meributkan masalah ending dr cerpen ini…liat pesan2 moral yg terkandung didalamnya yg begitu banyak bisa kita ambil…spt:sholat 5 waktu, harus berbakti pd ortu selama masih hidup atau sudah wafat,kewajiban2 suami,istri dan sbg ortu thdp anaknya,dan masih banyak lagi…so keep + thinking ya teman2 penikmat cerpen…

    robay

    10 Maret 2012 at 14:23

  39. Saya suka cerpen ini. Tetapi lebih suka komentar Abi Asa. Trims u/ keduanya.

    Zidan

    11 Maret 2012 at 02:53

  40. Selamat

    Omo

    12 Maret 2012 at 17:34

  41. Pemanggul Goni sering mondar mandir di daerah JABODETABEK hati-hati…..!
    ha-ha

    zhafrel

    13 Maret 2012 at 17:51

  42. Dahsyat,,, keren euy…

    Pesan moralnya disajikan dg begitu apik…

    marini az

    16 Maret 2012 at 10:21

  43. Budi Darma suka bertele-tele pada sesuatu yang klise. Untuk apa menjelaskan kembali soal waktu shalat yang semua orang sudah tahu. Tak ada yang baru/istimewa dalam cerpen Budi Darma, kecuali alur/plotnya yang berkelinden, tapi Budi Darma gagal menjadi Gabriel Garcia Marquez yang memang piawai membangun peristiwa/cerita. Cerpen-cerpen Budi, Putu Wijaya, Agus Noor, cenderung melayang-layang, tak berpijak di bumi…

    juniardi

    25 Maret 2012 at 11:43

  44. Mengingatkan saya pada masa-masa kecil saya.dimana tentang cara membuat bioskop-bioskopan,maling kecil bersama teman-teman.
    Cerita yg penuh makna akan apa yg kita lakukan pada masa lalu…thank ceritanya aku tunggu cerita lainnya.

    Zulkarnaen

    30 Maret 2012 at 20:48

  45. cerita yang mengalir indah, mudah di mengerti, penuh dengan penggambaran penggambaran yang mengena. salut. suka sekali cerpen ini, sepeti saya suka cerpen yang berseting praha beberapa waktu lalu di situs ini…

    mridwanpurnomo

    1 April 2012 at 11:08

  46. ini mungkin sindiran bagi org2 penting yg memiliki masa lalu yg karena keteledorannya telah membawa bencana bg org lain.

    Aprianavina

    9 April 2012 at 08:01

  47. Ini kaya ceritanya Nietzsche tentang Zarathustra

    Morque Vanguard

    23 April 2012 at 01:47

  48. Reblogged this on .::Poerwa's Note(s)::. and commented:
    Cerpen yang layak dibagi dengan teman teman yang lain

    menantihujan

    23 April 2012 at 15:30

  49. Saya sependapat dgn Abi Asa, kok ceritanya awalnya menarik tapi akhirnya krg simpatik…

    Sitti Astini K

    28 April 2012 at 10:31

  50. asik.tp saya gk ngerti yg diingnkn penulisny

    aron syarif

    1 Mei 2012 at 20:49

  51. unik, membingungkan, ada pesan moral, dan kegelisahan seorang tokoh yang sudah berhasil, gelisah dengan sejarahnya sendiri, pemanggul goni mungkin sifat negatif dari dirinya sendiri

    asajad (@asajad)

    5 Mei 2012 at 17:19

  52. kata-kata yang mengharukan dan indah

    galih

    4 April 2013 at 16:41

  53. Profociat atas terpilihnya Cerpen ini sbg cerpen terbaik KOMPAS 2012. “Laki-laki Pemanggul Goni” (Budi Darma) dikisahkan begitu dingin, tetapi toh kita tetap merasakan hadirnya atmosfer suasana cerita yang menegangkan dengan segala teka-tekinya. Keberhasilan cerpen ini bukan terletak pada kepiawaian pengarang menyembunyikan identitas tokoh-tokohnya. Dalam cerpen ini, diperlihatkan betapa penting semua unsur intrinsik tampil kompak, berjalin berkelindan membangun cerita. Di antara ke-20 cerpen kali ini, “Laki-laki Pemanggul Goni” tampil sebagai cerpen yang kaya tafsir dan kaya makna.” (Editor)

    Goen

    19 Juli 2013 at 10:49

  54. Tokoh “Pemanggul Goni” mirip dgn tokoh fiktif yg diciptakan Johny Depp dlm film “The Secret Window”.

    Goen

    19 Juli 2013 at 10:58

  55. kita sendirilah yang akan menilai tergantung pada masing2 pribadi, dua jempol untuk pak Budi…. mencengangkan !

    yeti wulandari

    6 Februari 2014 at 20:46

  56. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:00


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.581 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: