Pemanggil Bidadari

Kenangan itu seperti kotak-kotak kardus yang berserak. Seperti saat ini ketika kumasuki desa tempat Simbah Ibu tinggal.
Batu-batu jalan setapak seperti memuntahkan kembali rindu yang tiba-tiba mencuat seperti kancing yang lepas begitu saja dari baju seragam anak sekolah. Ketika kumasuki desa itu, malam mulai merapat pada warna jingga di cakrawala. Malam yang selalu menakutkan bagi anak-anak ketika ibu mereka memberi warna hitam pada sebuah hari di mana matahari sedang penat menampakkan cahayanya. Malam pada akhirnya selalu menjadi kutukan. Tak ada satu pun yang menyukai malam di desa itu, hanya Simbah Ibulah yang selalu menyukai waktu di mana semua pekat menjadi penguasa sebuah hari dan sunyi.
Aku tidak tahu sejak kapan aku panggil perempuan itu Simbah Ibu. Perempuan dengan guratan waktu yang penuh pada wajah berhamburan seribu damai di tiap kedip matanya yang bercahaya. Mata yang sebening cinta. Mata yang memberiku keberanian memberi makna kesetiaan utuh pada Semesta. Mata itu benar-benar mengajariku menjadi utuh, menjadi perempuan. Karena hanya menjadi utuh, seorang perempuan akan melahirkan anak-anak yang bahagia. Mata itu memberiku nama Ratri.
”Mbah, mengapa namaku Ratri?”
”Karena kamu lahir pada sebuah malam yang penuh dengan pekat. Kepekatan yang mengerikan. Kepekatan yang begitu banyak melahirkan kesedihan. Malam yang membuat cinta berubah menjadi peluh birahi pada hati yang kosong.”
Perempuan renta itulah yang selalu mengajariku mencintai malam. Setiap malam dikecupnya pelan-pelan lelapku dan dengan lembut diajaknya aku keluar melihat bintang. ”Mari Nduk, kita berburu Bidadari”. Entah kenapa kata-kata itu selalu manjur membuat mataku langsung terbelalak gembira. Diajaknya aku ke halaman rumah tanpa alas kaki dan diajarkannya ritual ”memanggil Bidadari” itu padaku.
Pada awalnya tangan kami terkatup di depan dada. Mata kami perlahan terpejam dan mulai merasakan desir angin bergerisik di antara daun-daun kering. Suara gemerisik itu kadang seperti bisikan kesedihan yang entah dari mana datangnya. Entah kekuatan dari mana tangan kaki kami berdentam ke tanah dan seperti sebuah orkestra raksasa hati kami berdegup tak kuasa untuk menolak musik yang begitu saja menyeruak dari dada. Simbah Ibu dengan gemulai mulai meliukkan tubuhnya dan dengan perlahan penuh harap Bidadari akan segera turun. Aku ikuti gerakan itu. Gerakan pemanggil Bidadari, begitu Simbah Ibu menyebutnya.
”Mengapa kita memanggil Bidadari?”
”Karena jika Bidadari-Bidadari turun, maka desa kita menjadi damai. Para Bidadari itu akan masuk ke rumah-rumah dan menyebarkan bubuk bahagia pada mimpi orang-orang yang terlelap. Jadi ketika orang-orang itu bangun, tanpa mereka sadari mereka sudah membawa bubuk bahagia itu di dalam darahnya. Jika mereka bahagia mereka akan kuat. Hanya merasa bahagia yang akan melahirkan kekuatan. Sehingga mereka akan berusaha sekuat tenaga mengejar mimpi mereka dalam hari-harinya dengan kekuatan itu.”
Benar saja, seperempat jam kami meliukkan tubuh dengan diiringi musik dari hati kami serta mantra syahdu yang begitu lembut keluar dari tubuh rapuhnya. Tak lama kemudian dari angkasa turun beribu-ribu cahaya. Seulas senyum ada disudut wajahnya yang penuh dengan guratan-guratan waktu.
”Mungkin salah satu Bidadari itu ibumu, Nduk. ”
Seperti sihir, kata itu mampu selalu memberi terang sebenderangnya dalam hatiku. Terang yang mampu melahirkan gambar perempuan dengan panggilan Ibu. Sejak aku lahir perempuan itu tidak pernah aku sentuh. Konon, satu-satunya anak perempuan Simbah Ibu itu meninggal ketika aku lahir dan bapakku menjadi gila terus menghilang entah di mana. Mungkin itu sebabnya perempuan tua itu kupanggil Simbah Ibu, Karena hanya dia perempuan yang bisa kupanggil ibu.
Ketika mantra selesai, Simbah Ibu menengadahkan tangannya ke atas dan berserulah dia dengan penuh cinta ke angkasa. Dalam sekejap cahaya-cahaya yang bergemuruh datang seperti hujan meteor menembus pekatnya malam. Cahaya- cahaya itu berhamburan masuk ke rumah-rumah penduduk. Setiap rumah yang dimasuki cahaya itu selalu memancarkan sinar benderang luar biasa. Kami percaya itulah cahaya jelmaan bidadari. Saat Bidadari-Bidadari turun di mataku adalah waktu di mana lukisan terindah sedang dilukis oleh Maha Cinta. Karena angkasa menjadi begitu banyak berwarna. Warna dari mimpi yang melahirkan cinta.
Sekitar jam 3 pagi cahaya-cahaya itu kembali ke angkasa dan menghilang dalam pekat. Dengan kelegaan luar biasa Simbah Ibu selalu mengajakku bersujud mencium bumi sebagai tanda rasa syukur luar biasa karena para Bidadari telah sudi turun membagi cahaya dari Maha Cahaya kepada penduduk desa kami. Bumi seperti mengerti, setiap kami selesai bersujud maka beribu kunang-kunang berhamburan entah dari mana datangnya mengerumuni kami dan aku percaya kunang-kunang itu dihadiahkan para Bidadari untuk memberi senyuman pada wajahku karena konon pada roh-roh suci selalu menjelma menjadi kunang-kunang. Aku begitu yakin kunang-kunang adalah cara roh suci ibuku berbicara padaku. Ya, harum tubuh ibuku di antara kunang-kunang yang menari di antara malam dengan pekat yang hebat…
Setiap pagi penduduk desaku bangun dengan wajah gemerlap penuh cahaya yang menyemburat dari dalam dada mereka. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam Bidadari-Bidadari penghuni sorga turun menebarkan serbuk cahaya pada mimpi mereka. Demikianlah di desa kami yang sangat sederhana itu setiap malam kami memanggil Bidadari-Bidadari itu karena Simbah Ibu yakin jika rahim-rahim merah muda penduduk desa kami bahagia maka bayi-bayi yang akan lelap di dalamnya akan menjadi bayi yang penuh dengan cinta di dadanya. Jadi ketika mereka nanti lahir maka dunia akan penuh dengan cinta karena bayi-bayi itu akan terus memancarkan detak jantung yang memompa cinta ke seluruh jaringan nadinya.
Setiap malam meskipun desa kami tak punya listrik, desa kami selalu benderang dengan cahaya Bidadari-Bidadari yang turun. Malam-malam yang sangat membahagiakan. Kemana pun kami pergi, para penduduk selalu memberi senyum tulus tak terhingga kepada kami, Pemanggil Bidadari, begitu mereka menyebut kami. Betul, ilmu memanggil Bidadari itu memang telah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyangku. Hanya keluargaku yang memiliki ilmu itu.
Hingga satu hari entah karena terlalu renta atau karena memang sudah saatnya, Simbah Ibu pergi menemui Maha Cahaya. Sejak itu duniaku benar-benar gulita. Meskipun sebelum pergi Simbah Ibu sangat mewanti-wanti untuk tetap meneruskan memanggil Bidadari di setiap malam, pesan itu tak pernah kujalankan. Aku begitu marah luar biasa, tidak tahu kepada siapa. Setiap malam aku memilih tidur untuk melupa kerinduanku pada Simbah Ibu dari pada memanggil Bidadari untuk desaku. Demikianlah sejak Simbah Ibu pergi, tak ada lagi yang memanggil Bidadari. Tentu saja akibatnya malam semakin membuat kelam desaku. Tak ada satu pun cahaya yang memancar di atap-atap rumah penduduk. Tak ada serbuk cahaya yang menaburkan cinta pada mimpi-mimpi mereka. Akibatnya setiap pagi orang-orang menjadi kekeringan oleh cinta karena pada darahnya tak lagi mengalir bahagia. Hidup menjadi penuh kekhawatiran karena orang-orang tak lagi mau bermimpi. Mereka takut untuk bermimpi. Mereka menjadi lemah. Tak ada lagi kekuatan untuk mengejar mimpi. Banyak penduduk desaku yang akhirnya meninggal karena mereka memilih itu dari pada hidup tanpa mimpi. Aku tak tahan dengan pemandangan itu. Hingga pada satu pagi yang masih menyisakan pekat yang sepekat-pekatnya kutinggalkan desaku. Demikianlah keturunan terakhir pemanggil Bidadari tak lagi berada di desa itu.
Bertahun-tahun kutinggalkan desaku, tanpa kenangan sedikit pun. Setiap kali ingatan tentang Simbah Ibu dan desaku yang penuh cahaya Bidadari itu muncul, buru-buru aku bunuh dengan minuman atau obat yang membuatku terlelap sedalam-dalamnya dalam mimpi tanpa matahari. Hatiku tak lagi mampu merasakan apa pun. Meskipun kata orang-orang kecantikanku mampu membuat tulang di leher para lelaki bergerak tetapi tak sedikit pun aku mampu merasakan detak dalam hatiku, orkestra itu telah mati. Senyum tak ada lagi ada dalam mataku. Orkestra itu telah pergi bersama kepergian Simbah Ibu. Kesedihan yang tak bisa dieja oleh huruf paling purba sekalipun. Aku pilih pekerjaan yang membuatku selalu harus berjalan ke segala pelosok dunia untuk melupa. Tapi ingatan adalah sebuah luka yang sangat menyakitkan. Hingga suatu hari aku menyerah pada kesedihanku. Rindu yang tak tertahan luar biasa membuatku melolong berhari-hari tanpa henti. Kupanggil berkali-kali perempuan bermata sorga itu. Aku benar-benar rindu memanggil Bidadari. Aku rindu kunang-kunang yang keluar dari bumi. Aku rindu ibuku. Aku rindu malam. Aku rindu bersujud pada bumi. Aku rindu melihat wajah-wajah bahagia di desaku. Aku rindu Hidup. Pada tahun ke 9 tepat setelah kematian Simbah Ibu aku putuskan kembali ke desaku.
***
Rumah Simbah Ibu tetap sama dengan waktu aku tinggalkan dulu. Wasino tukang kebun kami yang sekarang sudah begitu renta masih tetap setia merawat rumah itu. Foto-foto yang mulai pudar warnanya tetap melekat pada dinding kamar. Ingatan memang sangat kurang ajar, karena hanya ingatan yang mampu mengubah waktu dalam sekejap. Seperti kembali di mana bau rokok klembak Simbah Ibu bercampur melati yang keluar dari sanggulnya menjadi bau yang selalu aku rindukan setiap kali pulang sekolah. Aku begitu rindu luar biasa pada perempuan itu. Penduduk desaku silih berganti datang mengucapkan selamat datang. Wajah-wajah mereka begitu penuh dengan rasa lelah luar biasa. Entah kapan terakhir mereka merasa bahagia. Wajah-wajah itu begitu berharap aku kembali memanggil Bidadari untuk mereka. Tetap mulut mereka membisu. Mereka takut berharap karena hanya harapan yang melahirkan luka. Untuk pertama kalinya sejak 9 tahun ini aku sangat merasa bersalah pada Simbah Ibu karena berhenti memanggil Bidadari. Aku melolong sejadi-jadinya karena rasa sesal itu begitu tak tertahankan. Aku putuskan malam ini aku kupanggil Bidadari kembali.
Benar saja, tepat jam 12 malam kulakukan kembali ritual yang dulu selalu kulakukan bersama Simbah Ibu. Mungkin karena memang darahku adalah darah pemanggil Bidadari tak lama kemudian langit seperti benderang siang, Cahaya-cahaya yang selalu kurindukan itu turun seperti hujan yang meruah dari angkasa. Dadaku kembali berdentam dan orkestra di dalamnya mulai berbunyi. Para Bidadari kembali menaburkan cahaya pada mimpi-mimpi. Orang tanpa mimpi lebih dahulu mati daripada kematian itu sendiri. Airmataku tak henti-henti keluar, tapi aku tahu ini bukan airmata kesedihan tapi airmata dengan cahaya yang keluar dari dadaku. Serbuk bahagia dari para Bidadari itu mengalir juga ternyata dalam mimpiku. Kunang-kunang kembali berhamburan bahkan sebelum aku bersujud ke bumi. Kunang-kunang yang pasti di antaranya juga ada roh suci Simbah Ibu itu seperti mengerti bahwa aku mulai mengisi darahku kembali dengan mimpi karena hanya mimpi yang mampu meneruskan hidup. Karena mimpi adalah kekuatan.
Ubud, September 2011
Untuk Simbah Ibu semoga selalu menari disana…

Sekiranya di desaku ada Pemanggil Bidadari…
Ipung Arraffa
19 Februari 2012 pada 10:20
Terakhir cerpen Noviana Kusumawardhania dimuat di kompas pada tanggal 27 Februari 2011 “Pemburu air mata”, dan hari ini, 19 Februari 2012 (Satu tahun), kembali dihibur dalam cerita “Pemanggil Bidadari”
Terim kasih Mbak Noviana Kusumawardhania
Ramajani Sinaga
19 Februari 2012 pada 10:39
meski sebetulnya agak gak nyaman bacanya, tapi ya sudahlah,
no comment
ray
19 Februari 2012 pada 10:43
Hmmm…dunia imajinasi Noviana Kusumawardhania? Masih serupa dengan “Pemburu Air Mata”. Namun suka gaya bahasanya
Beda Saja
19 Februari 2012 pada 12:02
g mudeng ma makna yang tersirat tu sebenarnya apa?ada yang bisa jelasin..tolong..
kalyana tantri
19 Februari 2012 pada 16:23
i like this story
i want be like the writer it.
Thie
19 Februari 2012 pada 16:53
i like…..
Fhathimha Shythy
19 Februari 2012 pada 16:55
cerpen ini hanya memberi kesan di awal doang, semakin kebawah semakin membosankan, endingnya juga terlalu biasa, tidak ada kejutan dan melempem…
Adryan Yahya
19 Februari 2012 pada 17:06
Agak kesulitan membayangkan perumpamaan yang digunakan dalam sekujur cerita. Menurut saya, mereka kurang universal digunakan dalam cerita ini–jujur saja, saya membayangkan apa jadinya bila ada kardus berserakan di jalanan dan membayangkan apa persamaannya dengan masa lalu saya–atau orang-orang lainnya?
Kemudian, saya cukup kecewa dengan karakterisasi yang tidak mendalam terhadap Simbah dan tokoh-tokoh di desa yang menjadi gila dan bahkan bunuh diri. Kedalaman pengalaman macam apa yang membuat tokoh utama sangat merasa kehilangan atas neneknya itu dan memutuskan menghentikan tarian bidadari padahal itu semacam suatu kewajiban bila si gadis mencoba memahami?
Repetisi acap kali dilakukan dalam naskah yang cukup pendek ini. Saya paham betul bahwa plot utamanya adalah: mereka menari memanggil bidadari, bidadari turun dengan cahaya yang bagai kunang-kunang, orang-orang bahagia–dan kebalikannya terjadi bila mereka tidak memanggil bidadari. Tapi dengan poin yang sama ditaruh di sekujur cerita (awal, tengah, akhir) membuat saya mengernyitkan dahi. What’s for the points being repeated through the whole story?
Agak heran juga dengan beberapa typo (empat-enam penulisan yang tidak sesuai) yang tidak dibenahi oleh redaktur Kompas sebelum cerpen ini naik cetak.
Selebihnya, saya suka dua bagian di cerita ini: “Karena hanya menjadi utuh, seorang perempuan akan melahirkan anak-anak yang bahagia.” dan “[...] karena hanya mimpi yang mampu meneruskan hidup. Karena mimpi adalah kekuatan.”
dewikharismamichellia
19 Februari 2012 pada 21:48
menjadikan kita berimajinasi.., dan bertanya ritual pemanggil bidadari itu sebenarnya apa jika dikorelasikan dalam kehidupan nyata… hmmm??
ellapoenja
19 Februari 2012 pada 22:13
intinya cuma satu…orang ga hidup tanpa mimpi…setiap mimpi akan mewarnai kehidupan..sepenangkapan saya…intinya bukan tentang bidadari yang turun ke bumi atau orang pemanggil bidadari tapi tentang bagaimana mimpi mengisi kehidupan seseorang…seolah2 manusia menjadi kering dan kaku saat tak punya mimpi untuk diraih…namun sebaliknya kehidupan akan berwarna saat kita mempunyai mimpi…nah kalau dikaitkan dengan realita kita tau sendirilah kadang orang takut untuk meraih apa yang memang diinginkannya yaitu mimpinya…dan akhirnya membunuh mimpinya itu..dan seakan menjadi robot…pagi bangun…bekerja sampai rumah larut..begitu seterusnya…bagaimana pendapat saudara – saudara?mari kita melihat cerpen ini dari berbagai sudut
adi suyanto
19 Februari 2012 pada 22:36
kemasan dongeng berwujud cerpen yang memesona. Kata kunci yang dilontarkannya: “Karena mimpi adalah kekuatan” memberikan amanat yang tak siasia untuk dibaca. Salut dan salam kreatif!
Slamet Samsoerizal
20 Februari 2012 pada 07:57
cerita ini kehilangan satu aspek penceritaannya, yang akan memberi efek pada pembaca: kedalaman.
segala sesuatu seperti dilewatkan saja, tanpa di kupas biar puas… desa itu, mengapa begitu bergantungnya dengan bidadari dan si mbah ibu? coba kalau ada alasan yang memerikan.
surealis, yang biasa saja. kupikir, penulis sedang memanjakan imajinasinya dengan cerita yang semaunya. tidak menikmati cerpen ini.
berrybudiman
20 Februari 2012 pada 09:14
Hidup berwala dari mimpi…mimpi yang terekam Ruang dimensi
indra
20 Februari 2012 pada 11:08
cerpen nya bagus banget.. ^^
nic angel
20 Februari 2012 pada 14:33
idem @ mas/mb(?) dewi
ridwan
20 Februari 2012 pada 21:14
Diserang kebosanan saat membacanya. Lagi-lagi nggak sampai selesai. Kompas belum memberi saya cerpen yang bagus untuk dibaca tahun 2012. Dari 6 cerpen yang sudah dimuat Kompas sampai minggu ini, hanya cerpen SGA dan Eep S Fatah yang saya baca sampai selesai. Agus Noor juga nggak bisa memikat saya, sudah bosan sekali dengan ceritanya yang nggak jauh-jauh dari kunang-kunang. Kehabisan ide mungkin dia?
Pohon Hayat yang paling menyiksa saya, membuat saya teringat dengan misa pagi paling suram yang saya lewati.di gereja. Batu Asah Pak Martin pula, bikin boring. Sekarang ditambah Pemanggil Bidadari. Hari Minggu saya menjadi ikut-ikutan membosankan karena.cerpen-cerpen suram di Kompas.
Ayolah, redaktur Kompas, keluarkan cerpen yang hebat. Nggak usah pula tergoda nama besar pengarang atau yang senior-senior. Banyak pula penulis Kompas yang muda-muda, yang tahun 2011 kemarin itu menyuguhkan cerpen-cerpen hebat. Saya ingin baca cerpen yang luar biasa. Karena yang biasa sudah banyak.
welli
21 Februari 2012 pada 08:23
menurut saya,salah satu hal terindah dalam menikmati cerpen adalah,saat sisi penceritaan melebur dengan karakter sang penulis.
selalu unik setiap kita membahas mengenai karakter.
Satu hal yg tak bisa di tiru,kecuali itu akan tampak lebai,yaitu karakter..
Cerpen kita hari ini memiliki karakter yg menonjol,dengan bahasa yg juga indah,meski memang di beberapa bait kita menemukan kata kata yg tak mudah di pahami.
abi asa
21 Februari 2012 pada 09:06
Menyimak…
bowo
21 Februari 2012 pada 14:03
nice blog…jgn lupa mampir ke blog ku ya
thnks
Silteng
21 Februari 2012 pada 15:37
Ada 7 kali pengulangan kata ‘luar biasa’, seperti komentator bola saja. Hehehe
Sumpah, sebagai pembaca amatir cerpen Kompas, sepakat sangat dengan saudara Welli.
Saya yakin, Kompas setiap pekan menerima ribuan naskah cerpen dari berbagai latar belakang penulis. Tak mesti beliau-beliau yang sudah kesohor kepenulisannya kan? Yang ‘hijau-hijau’ juga tak kalah kreatif dan kritis lho Om
Atau jangan-jangan karena terlalu banyak, redakturnya jadi capek + galau + malas memilih cerpen the best pekan itu. Tapi mudah-mudahan tidak ya. Ini hanya kegalaun saya. Terima kasih. Ditunggu lho cerpen lainnya yg lebih galau lagi, hehe
dedees
21 Februari 2012 pada 17:13
Pemanggil Bidadari, khayal dan hanya menggoda angan melalui diksi!
Midun Aliassyah
22 Februari 2012 pada 08:36
kompas coba nyari penulis baru nape? Dengan karakteristik yang beda jauh dari yang sudah mapan
rafsya
22 Februari 2012 pada 09:22
Selamat
Omo
22 Februari 2012 pada 11:44
puisinya penuh dengan penghayatan….keren… seakan-akan kita mersakan indahnya bait yang tersirat dalam cerpen itu,,,,
alanraencid
22 Februari 2012 pada 18:33
memangnya kecenderungan narasi Noviana K. seperti ini, ya??
Miftah Fadhli
23 Februari 2012 pada 00:02
maaf dulu gech sebelumnya tapi alangkah baiknya jika dalam setiap paragraf itu selalu mengundang rasa penasaran pembaca untuk trus menelusuri paragraf2 selanjutnya, naaahhh itu yang gk ada di cerpen ini. OK
adawiyah
23 Februari 2012 pada 09:35
.hembb lhayalannya tinggi banget , n ceritanya juga datar – datar saja
.andai saja ada pemanggil bidadari di daerahku . hehe
erycha_ovhy
23 Februari 2012 pada 10:39
aku suka sama bidadarinya. ke marilah bidadariku. pasti, kau cantiknya luar biasa…
son
23 Februari 2012 pada 11:43
Kayaknya saya kurang suka. Seharusnya cerpen Kompas bisa lebih bagus dari ini. Cerpen ini seperti dibuat dengan mesin cerpen. Naik gunung, turun gunung, naik lagi, lewat jalan yang sama. Nggak dinamis. Cuma bahasanya yang saya suka.
Saya memang cuma penikmat. Saya belum bisa menulis yang seperti ini. Tapi saya menikmati cerpen Kompas sudah sejak tahun 2009. Waktu itu saya masih 18 tahun, masih unyu banget. Seunyu cerpen Kompas saat itu. Sekarang saya juga masih agak unyu sih. Tapi kok cerpen Kompas sudah tak seunyu dulu, walaupun kadang-kadang ada yang unyu sih…
Argha Premana
24 Februari 2012 pada 07:44
Ikut setuju sama teman2 yang kecewa pada pemuatan cerpen di Kompas akhir2 ini.. Banyak cerpen yang dimuat gak greget lg, tema dan plot standar dan basi. Ayo Kompas, lebih jeli lagi dalam memuat cerpen2 bermutu!
sanggarlitera
25 Februari 2012 pada 06:13
“Bidadari” di ibaratkan sebagai Rahmat dan Hidayah yang karuniakan oleh sang Pencipta kepada mahluk yang selalu memuja memuji Nya.
so…. jangan khawatir, menghadirkan “Bidadari” bukan keahlian yang diwariskan turun-temurun, semua bisa menghadirkan “bidadari” asal kita mau bertaqwa pada Nya, cahaya terang, hati tenang, bahagia tentram seperti yang digambarkan dalam cerpen ini akan benar-benar dapat kita rasakan sendiri….
thanks…
ditunggu cerpen lain…lain…lain dech…!!!! hehehe…..
altkhem
25 Februari 2012 pada 14:48
like this
F. Ahmad
26 Februari 2012 pada 08:20
bidadari.//////////////////////////////////////
ow ow
bracuk
26 Februari 2012 pada 08:44
hmmm
HeruLS
27 Februari 2012 pada 13:15
5/10 *
kesadaran yg terlambat. bahasa mudah dipahami. lumayan kreatif ^^
D. Enggar N
28 Februari 2012 pada 07:24
5/10 *
penyesalan yg datang terlambat, bahasanya mudah dimengerti, lumayan kreatif ^^
D. Enggar N
28 Februari 2012 pada 07:26
5/10*
Bagus, lumayan kreatif ^^
devi enggar
28 Februari 2012 pada 07:26
Cerpen ya bgs isix bs memberikn pelajrn,bnr kalau mimpi adalah kekuatan krna dgn adax mimpi dpt membuat qt kuat dlm menjalni apapun yg diharapkn tp jika mimpi tu mati kekuatan jg akan mati tnpa ada yg ingn diraih
Berta setyowati
28 Februari 2012 pada 07:43
Cukup memukau diawalnya, tapi melelahkan diakhirnya.
Bahasa yang sulit diartikan,karena pendalaman makna yang kurang.
banyak bahian yang gak jelas.
dan endingnya kurang mengagetkan.
kurang asyik baca yang ini/.
Nofiska Vriskova
2 Maret 2012 pada 17:17
kurang ngena message nya
Rufi
6 Maret 2012 pada 22:24
…Tidak terlalu istimewa pesan yang dititipkan. Terlalu personal, untuk media seperti kompas. Hanya, gaya puitiknya saja yang membuat naskah ini jadi pilihan, untuk dibaca. Selebihnya…., dah sama dengan pendapat di atas ! Tapi, selamat berkreatifitas buat penulisnya ! Thanx.
yeyen kiram
10 Maret 2012 pada 12:27
Bagus ceritanya …
Aldo
15 Maret 2012 pada 22:42
kresatif bos saya suka sekali kembangkan bakat anda sukses yach
pulsa
18 Maret 2012 pada 11:25
Terlalu imajinatif! Penulis tidak tahu harus mengarahkan ceritanya kemana sehingga berputar-putar pada ruang imajinasi yang tak tentu ujungnya. Bahasanya terlalu berbelit-belit.
Belfin Ps
18 Maret 2012 pada 20:42
membaca ini seraya terus bertanya apa yang sebenarnya ingin disampaikan sampai di akhir, seperti cerpen imajinasi fiksi, begitu?
mridwanpurnomo
1 April 2012 pada 10:28
mimpi adalah sebuah awal kehidupan
Alfa
4 Mei 2012 pada 15:58