Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Requiem Kunang-Kunang

with 55 comments


Barangkali aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan.

Bila suatu kali kau berkunjung ke kota yang terletak di lekuk teluk yang bagai mata yang mengantuk ini, kau sesekali hanya akan bertemu dengan satu dua orang tua yang berjalan malas atau pemabuk yang meringkuk mendengkur di bangku-bangku taman. Bila kau perhatikan dengan cermat, setiap perempuan yang kau temui di kota ini selalu berjubah dan kerudung hitam, seolah-olah mereka terus berkabung sepanjang hidupnya, seolah-olah mereka semua adalah rahib kesedihan. Dan bila kau memperhatikan lebih cermat lagi, lebih teliti, maka kau akan segera tahu: hampir dari mereka semua, buta!

Ada banyak kisah–setidaknya yang pernah aku dengar–kenapa semua penduduk di kota ini buta. Jagat raya semula hanyalah gugusan cahaya. Cahaya yang kuning keemasan. Lalu ruh sepasang manusia pertama tercipta dari cahaya itu. Berbentuk percik cahaya. Kekuningan. Serupa kunang-kunang. Sepasang ruh yang serupa kunang-kunang itu kemudian turun ke dunia, begitu kisah leluhur, lalu berdiam di tubuh manusia, yang semula, hanyalah serupa batang-batang pohon. Tinggi menjulang, diam bagai pertapa. Ruh yang serupa kunang-kunang itu hinggap di tubuh manusia, sebagai sepasang mata, hingga manusia hidup dan bisa melihat dunia. Ketika manusia mati, ruh itu kembali terbang, menjelma kunang-kunang. Dan manusia kembali buta.

Kisah lain datang dari muasal teluk yang terletak di Utara kota ini. Teluk Duka Cita, begitu orang-orang di kota ini menyebutnya. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, mereka sekandung anak Raja Pertama, saling jatuh cinta, dan waktu, juga maut dan mampu menghentikannya. Karena tak tahu lagi bagaimana cara menghentikan cinta terlarang dua saudara sekandung itu, Permaisuri, sembari terisak meminta syarat yang menurutnya muskil dipenuhi: dalam semalam mereka harus menyediakan kunang-kunang, yang bila dihamparkan dengan rapi, sanggup menutup seluruh permukaan teluk. Cinta yang buta memberi mereka akal, juga kekejaman. Dengan menggabungkan sihir yang dimilikinya, Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, memanggil semua kunang-kunang yang ada, bahkan mereka diam-diam menambahi kunang-kunang itu dengan mata para penduduk yang telah mereka congkel, dan mereka sihir menjadi kunang-kunang. Melihat itu, Raja segera menyuruh para prajurit menebah kunang-kunang yang telah berhasil dikumpulkan itu agar kembali terbang. Maka, meski telah ratusan mata dicongkel untuk menggenapi kunang-kunang agar bisa menutupi seluruh permukaan teluk, hingga pagi tiba, masih ada sebagian teluk yang tak tertutup kunang-kunang. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima mengeram marah, ketika mengetahui cara licik Raja menggagalkan cinta mereka. Di hadapan Raja dan Permaisuri, mereka langsung saling menusuk jantung masing-masing, sambil mengutuk: mereka akan mengambil semua mata seluruh penduduk dan keturunan yang hidup di kota ini, hingga siapa pun yang tak harus menanggung dosa menjadi buta. Kemudian mayat keduanya jatuh ke dalam teluk.

Tak ada muda-mudi kota ini yang berani berpacaran di teluk itu. Bila nekat, sepulang dari sana, mata mereka buta.

Kisah yang ini, barangkali, akan lebih kau percaya. Bermula dari kedatangan pasukan asing, dan perang saudara yang berlangsung bertahun-tahun setelahnya. Banyak warga yang kemudian dicap pemberontak. Mereka yang dituduh mata-mata pemberontak, langsung ditangkap dan dicongkel matanya. Andai saat itu kau ada di kota ini, jangan kaget, bila seseorang yang kau jumpai pada sore hari, telah menjadi buta pada pagi harinya. Ada gereja tua, yang dianggap menjadi sarang pemberontak, dan pasukan asing itu mengepungnya. Seluruh yang ada di dalamnya diseret keluar dan dikumpulkan di pekuburan yang berada di belakang gereja. Mereka langsung dihabisi dengan serentetan tembakan. Peristiwa itu selalu diperingati dengan misa paling murung di kota ini.

Seperti diriwayatkan leluhur, ruh mereka yang mati akan kembali menjadi kunang-kunang. Bila malam hari, kau bisa menyaksikan puluhan kunang-kunang terbang berkitaran dari arah pekuburan di belakang gereja itu. Atau berjalanlah menyusuri kesunyian lorong-lorong kota ini malam hari, maka kau akan selalu berpapasan dengan kunang-kunang, yang melintas sendirian, atau bergerombol, seakan-akan mereka adalah sebuah keluarga yang sedang jalan-jalan. Jangan kaget, bila tiba-tiba pundakmu seakan ada yang menepuk, dan kau mendapati seekor kunang-kunang telah hinggap di pundakmu. Tak terlalu banyak penerangan di kota ini. Satu-satunya pembangkit listrik yang tersisa hanyalah berasal dari kincir air yang letaknya jauh di luar kota dan sudah payah tenaganya. Para pasukan asing dan penguasa telah lama melupakan kota ini, bagai hendak melupakan dosa mereka dari ingatan mereka. Kota itu terasa murung dan kelabu di siang hari. Dan tanpa penerangan listrik yang cukup, di malam hari kota ini seperti dikuasai kegelapan yang ganjil. Kegelapan yang dipenuhi kunang-kunang yang bagai muncul dari lorong-lorongnya yang paling gelap.

Atau berjalanlah kau menyisir tepian teluk, maka kau akan menyaksikan ribuan kunang-kunang terbang nyaris menyentuh permukaan airnya yang bagai pulas tertidur. Ribuan kunang-kunang itu seolah ruh yang bangkit dan ingin membebaskan diri dari cengkeraman kutukan masa silam yang kelam. Kadang kau bisa mendengar suara mereka bernyanyi dengan kepedihan yang begitu memilihan. Seperti koor ruh yang purbawi.

Cahaya kunang-kunang akan membuat jalanan kota di malam hari menjadi tampak berpendaran kekuningan, seperti ada mata yang terus menyala dari balik kegelapan. Kau akan melihat kunang-kunang itu bergerombol memenuhi warung dan kafe-kafe, seakan tengah mengobrol. Kau akan menyaksikan kunang-kunang itu hinggap di tiang listrik yang mati, hingga tiang listrik itu terlihat seperti pohon yang menyala kekuningan. Ketika segerombolan kunang-kunang hinggap di serimbun perdu atau tumpukan batu, maka perdu dan batu itu seketika menyala berpendaran. Diding-dinding yang telihat kusam dan tua di siang hari, menjadi berkilauan di malam hari. Dan sebuah pohon meranggas, bisa saja seketika langsung menyala kekuning-kuningan, seakan hiasan lampu jalan atau pohon Natal.

Ada yang hidup di malam hari di kota ini, yang tak hidup di siang hari.

Sebenarnya pernah, suatu saat, kota ini mencoba hidup dan berbenah diri. Banyak pendatang yang mencari peruntungan. Tapi barangkali kota ini memang kota yang ingin dilupakan, atau dilenyapkan. Selalu saja ada hal-hal kecil yang sepertinya sengaja diciptakan untuk menjadi kerusuhan. Pembunuhan dan perkelahian. Rumah ibadah yang dibakar. Penembakan dan ledakan bom. Kota ini menjadi kota yang selalu dipenuhi permusuhan dan kerusuhan. Iman menjadi sesuatu yang menakutkan. Desas-desus tantang pasukan bertopeng yang suka menculik dan mencongkel mata siapa saja yang ditangkapnya, membuat bergidik para warga yang kemudian memilih meninggalkan kota ini. Hingga kota ini tinggal dihuni orang-orang yang sebagian besar telah buta, dan kunang-kunang.

Apalah yang layak diceritakan dari kota yang murung dan hanya didiami orang-orang buta dan kunang-kunang seperti aku ini? Aku, seperti ribuan kunang-kunang lain di kota ini, hidup dalam kesunyian cahaya. Kami seperti menanggung beban masa silam yang sampai kini tak pernah bisa kami pahami. Sebagai ruh, kunang-kunang seperti kami, hidup abadi. Tapi apalah arti keabadian bila kami hidup dalam kesunyian yang tak tertanggungkan seperti ini? Kami hidup untuk melupakan apa yang telah terjadi pada kami. Aku sendiri selalu ingin melupakan ingatan buruk itu. Ketika suatu malam, saat aku masih hidup sebagai manusia, berjalan pulang seusai pesta dansa. Di kelokan jalanan gelap, beberapa orang bertopeng menyergap dan meringkusnya. Aku tak sempat menjerit dan melawan ketika kurasakan belati tepat menikam jantungku. Pada detik terakhir aku hanya sempat merasakan kesakitan yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata, tepat, saat mereka mereka mencongkel mataku. Pada detik terakhir itulah, ruhku keluar dari tubuh, dan menjelma kunang-kunang.

Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum Natal. Setelah peristiwa itu, terjadi kerusuhan dan kebakaran, yang menghanguskan nyaris sepertiga kota. Bekas yang disisakannya, berupa onggokan arang kebakaran, bila dilihat dari ketinggian, seperti luka sayatan pedang, yang mengiris wajah kota. Kesakitan yang akan lama kekal dalam ingatan.

***

Dan inilah kali pertama aku akan merayakan Natal sebagai kunang-kunang. Mengenang dan memikirkan apa yang telah terjadi di kota ini, aku diluapi kesedihan, yang membuatku sepertinya akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Ah, aku merasa, aku hanya terlalu dikuasai kesedihan. Mereka yang sudah lama menjadi kunang-kunang, mungkin pernah mengalami perasaan sentimentil seperti ini, tetapi akhirnya menjadi terbiasa. Perasaan sentimentil itulah, yang barangkali, membuatku ingin menceritakan semua kisah ini, kepadamu.

Pada malam Natal di kota ini, kau akan menyaksikan kunang-kunang bermunculan dari penjuru kota, yang bergerak melayang menuju gereja tua, di mana dulu pernah terjadi pembantaian. Kunang-kunang itu memenuhi gereja. Hingga gereja menjadi terang benderang berkilauan kuning keemasan. Pada fresko di belakang altar, kacanya yang buram dan sudah pecah di beberapa bagian, cahaya kunang-kunang itu menampakkan diri bagaikan aura para santa, membuat salib Kristus yang menjulang seolah diselubungi cahaya kesucian yang lembut dan meneduhkan. Sementara para jemaat, yang nyaris sebagian besar renta dan buta, para perempuan yang murung sepanjang hidupnya, mengikuti misa dengan keheningan jiwa yang membuat segala suara di sekitarnya seperti terhisap lesap. Pada saat-saat seperti itu, suara pelan daun yang melayang jatuh menyentuh rerumputan, akan terdengar jelas di telingamu.

Ubi caritas et amor, Deus ibi est

Simul ergo cum in unum congregamur

Ne nos mente dividamur, caveamus

Cessent iurgia maligna, cessent lites

Et in medio nostri sit Christus Deus….

Nyanyian itu, nyanyian itu, membuat aku tak kuasa menahan sedu. Aku membayangkan kota yang terang, teluk yang lembut dan menguarkan kesegaran yang tak terjamah musim. Kotaku, kotaku, yang sesungguhnya elok ini, kenapa engkau ditinggalkan para penduduk yang mencintamu dengan seluruh nestapa dan duka cita?

Keheningan misa mendadak pecah oleh ledakan. Para jemaat yang buta berlarian dan tersandung hingga terjerembap. Aku melihat api berkobar dari arah samping gereja. Seperti ada yang melemparkan bom molotov. Seperti ada ledakan granat atau entah apa yang tak pernah aku tahu. Mungkin seseorang telah menyelusup ke dalam gereja dan meledakkan diri. Dan api makin berkobar. Sebentar lagi, mungkin gereja ini akan terlalap api dan memusnahkan semua kunang-kunang di dalamnya.

Sebelum api itu juga menghanguskanku, mungkin aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini yang masih sempat menceritakan semua ini kepadamu.

Ambon, 2011

About these ads

Written by tukang kliping

22 Januari 2012 at 12:04

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

55 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kenapa Kompas menerbitkan cerpen yg telah dipublish di blog oleh penulisnya? :(

    Vira (@veecla)

    22 Januari 2012 at 12:23

  2. Hmmm… Terima kasih kunang-kunang. Kau sudah mengisahkannya dengan apik.

    Ipung Arraffa

    22 Januari 2012 at 12:26

  3. wah iya, sudah dipost di blog penulis desember tahun lalu… hmm…

    eve

    22 Januari 2012 at 13:51

  4. @Vira
    Oh ya? Linknya please. *kecewa

    Ipung Arraffa

    22 Januari 2012 at 14:45

  5. Menjadi tidak terlalu suka dengan cerpen yang bagus ini., karena sudah dipublish terlebih dahulu

    Teguh Afandi

    22 Januari 2012 at 14:59

  6. Bagusss sekalii … seneng bisa masuk ksini

    salam
    Hifdzi UA

    http://hifdziua.wordpress.com/category/tulisanku-di-koran/

    Hifdzi Ulil Azmi

    22 Januari 2012 at 15:54

  7. Terlepas dari hal di atas, cerpennya menarik sampai akhir-akhir. Tapi perasaan yang paling akhir agak maksa.

    kucing senja

    22 Januari 2012 at 16:21

  8. Saya terkejut melihat isi baris teriakhir di luar cerpen ini: Ambon, 2011. Mengingatkan saya waktu nonton live acara K*ck *ndy, di mana saat itu tamu yg dihadirkan adalah (seorang anak dan ibu-ibu) yg melarikan diri ke hutan (bersama beberapa penduduk lainnya) saat terjadi konflik di sana. Bertahan hidup di hutan dengan serba keterbatasan, sangat mengharukan. Entah cerpen ini berhubungan atau tidak dengan cerita saat konflik tersebut, saya tidak tahu;) Karya yang bagus;)

    allanaes

    22 Januari 2012 at 20:58

  9. bagus

    pardan

    23 Januari 2012 at 04:18

  10. Barangkali aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan.

    Entahlah saya sedikit terganggu dengan beberapa kata dari paaragraph permulaan cerpen ini. sebut saja pengulangan kata ‘kota ini’ di dua kalimat secara berturut. kemudian penggunaan kata ‘yang’ di tiga kalimat berikutnya secara berturut-turut. Rangkaian kata-kata hingga paragraph ke dua sungguh membuat saya bertanya kenapa, penulis cerpen dengan jam terbang seperti Agus Noor lebih memilih rangkaian kaliamat yang miskin.

    Bagi saya penikmat cerpen, cerpen bukanlah perkara isi, tetapi juga diksi. Cerpen bukanlah perkara isu kehidupan, tetapi juga bagiamana ia hidup.
    :)

    sonyoruri

    23 Januari 2012 at 07:06

  11. walau saya sangat mengagumi karya agus noor,dan terlepas dari karya ini pernah di publikasikan di blog agusnoorfiles,namun karya ini sungguh adalah karya yg tidak bagus,di requiem kunang kunang ini agus noor memang lihai sekali merangkai kias hingga titian kata seolah adalah aliran air yg tak pernah mengering dan tak pernah menggenangi benak kita saat melahap makna demi makna…
    Di banyak cerpen,agus noor sepertinya sangat terobsesi dengan KATA KUNANG KUNANG,demikian sah sah saja sih,malahan bagus.tapi jika kemudian tidak mengenakan tema yg real,tetap saja cerpen tsb hanya seperti orang mengigau,apa lagi jika bait bait akhir menggunakan tema yg tdk nyambung dengan seluruh kerangka cerita…alih alih ingin membuat kejutan yg spektakuler,namun malah membuat perut mulas bin mual mual,..hhooaammm…mudah mudahan minggu depan ada kisah yg hebat…saudara agus noor,kami penikmat cerpenmu bukan anak kecil yg ingin kau nina bobo kan dengan dongengmu.

    Abi Asa

    23 Januari 2012 at 08:06

    • yuuuu. mareeee

      asajad (@asajad)

      5 Mei 2012 at 16:58

    • Betul juga ya.. saya sendiri seringkali lebih mencari realitas di dalam cerpen dibandingkan kiasan kata2nya. Kalau asyik berhias kata tapi gak sesuai sama denyut batin/kehidupan, jadinya malah kayak mengigau

      Bayu

      27 Agustus 2012 at 21:04

  12. bingung bcanya kebanyakan
    < < > >

    eko slankers

    23 Januari 2012 at 13:33

  13. udah banyak baca cerpen karya agus noor, entah kenapa baca yg satu ini jd jenuh. terlalu panjang dan rumit, tema karyanya jg terlalu monoton. tp slamat buat agus noor yg tiap tahun bisa masuk kompas. :D

    kunto

    23 Januari 2012 at 14:31

  14. agus noor dan kunang-kunang. tapi kali ini seperti tak berhasil. kegagalan kedua setelah duet kunang-kunang dalam bir dengan djenar. satu-satunya yang membuat cerpen ini hidup dan memberi sedikit, ya sedikit, arah, itu pun kalau memang benar ada kaitannya, adalah penanda Ambon, 2011.

    rey

    23 Januari 2012 at 17:14

  15. Seru! Tapi pegel bacanya..

    Outbound

    23 Januari 2012 at 21:32

  16. Kenapa selalu kunang-kunang?? :(

    Lia

    24 Januari 2012 at 10:07

  17. sudah menjadi kesukaan dengan kunang-kunang… di matamu.

    oke lah

    24 Januari 2012 at 15:54

  18. Cerpen ini tidak benar-benar dibaca oleh redaktur. Mungkin begitu melihat nama pengarangnya, langsung di acc. Setidaknya ada tiga salah ketik, yang mengindikasikan, cerpen ini tidak dibaca ulang:

    “Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, mereka sekandung anak Raja Pertama, saling jatuh cinta, dan waktu, juga maut dan mampu menghentikannya” Apa artinya kalimat ini? hahaha, mestinya kata “dan” itu diisi kata “tak”

    “Kadang kau bisa mendengar suara mereka bernyanyi dengan kepedihan yang begitu memilihan.” “memilihan?” bahasa mana ini?

    “Di kelokan jalanan gelap, beberapa orang bertopeng menyergap dan meringkusnya. Aku tak sempat menjerit dan melawan ketika kurasakan belati tepat menikam jantungku” “Meringkusnya?” Padahal keterangan selanjutnya menunjukkan yang diringkus itu “aku”.

    Selebihnya, cerpen ini langsung mengingatkan pada cerpen-cerpen SGA. Terutama “Misteri Kota Ningi”. dari zaman baheula, Agus Noor memang epigon-nya SGA. Hahahaha…

    Bahloel Maghroma

    24 Januari 2012 at 16:41

  19. Kurang suka. Sayang sekali, Agus Noor membuatku jenuh. Seperti mungkin, dulu, beliau jenuh dengan cerita2 Putu Wijaya.

    miftah fadhli

    25 Januari 2012 at 03:05

    • tapi barangkali bagus (menurut redaktur), jadi dimuat. Kurang suka, kan, bukan berarti kurang bagus, ya. Hehe.

      miftah fadhli

      25 Januari 2012 at 03:08

  20. .kunang – kunang yang malang :(

    erycha_ovhy

    25 Januari 2012 at 10:29

  21. Menonjolkan permainan kata, tanpa memperhatikan alur cerita.

    nadhief shidqi

    26 Januari 2012 at 12:16

  22. Nama penulisnya ya kelihatannya jadi pertimbangan kompas, atau ada yg lain????

    nekrofilia

    27 Januari 2012 at 02:23

  23. FORGET IT ALL COMMENT….yang utama menghibur hati ….

    adeindra

    27 Januari 2012 at 16:34

  24. Cerpen yang indah sekali…

    bunkeed

    28 Januari 2012 at 00:23

  25. ??,
    bingung bacanya…,

    s.g

    28 Januari 2012 at 16:55

  26. bosan aku mendengar kata kunang-kunang lagi dari agus noor

    Aray

    28 Januari 2012 at 17:08

  27. Takjub atas kata yang tercipta seakan membaca Robohnya Surau Kami “AA Nafis”.

    Haidar Hafeez

    29 Januari 2012 at 14:34

  28. Apa ini ya yang dinamakan sastra, kata kata penuh keindahan dan penuh makna, tp aq sebagai orang awam jd pusing bacanya, mgkn ini yg dinamakan bacaan kaum intelek

    vincentiashop

    29 Januari 2012 at 17:01

  29. Selamat

    Omo

    2 Februari 2012 at 12:12

  30. Ceritanya, mengharukan dan sangat kesepian.

    moetz

    2 Februari 2012 at 20:01

  31. Nggak setuju sama komentator2 di atas yang sinis, bilang ini nggak berbobot. Kalau kalian ingin cerita Robin Hood atau Puteri Cinderalla, ya jangan harap ditulis Agus Noor. Dia udah lama nggak nulis cerita anak-anak. Requiem Kunang-Kunang ini hebat!

    agusjay55

    4 Februari 2012 at 10:08

    • saya penggemar agus noor. sangat menyukai karya-karyanya. tapi bukan berarti harus menutup mata ketika apa yang dia tulis tak sesuai harapan pembaca yang memakai selera berbeda. lucu kalau anda berpikir pembaca-pembaca disini bodoh sampai anda mengira kami mengharap cerita cinderalla atau robinhood.

      rey

      7 Februari 2012 at 15:43

    • tahu tuh…sebel ama koment jangan begitu dong kita kan sportif dalam menyukai fans…sembarangan aja maunya cerita robin hood ama cinderella…

      yuknow

      31 Maret 2012 at 13:29

  32. hhhmmm? terlalu banyak kiasan,,, sehingga sulit dipahami. :(

    Ningsih Mlik'e Aiz

    6 Februari 2012 at 14:06

  33. memahami sastra yang penuh imajinasi dan bahasa yang tak biasa seperti ini, butuh konsentrasi dan pemahaman yang lebih. suka cerpennya, tapi kecewa waktu tau sudah pernah di publish di blognya ….

    mridwanpurnomo

    7 Februari 2012 at 17:21

  34. mungkin cukup susah makna pesan yg akan disampaikan. terutama pembaca sastra pemula.

    sukmono

    10 Februari 2012 at 21:04

  35. Saya pembaca sastra, pemula.
    Jujur saja, cerpen ini berat sekali. seolah-olah penulis ingin melesakkan semua tafsir ke dalamnya. Sayangnya, belum berhasil, justru membuat cerpen ini menjadi sangat membosankan.

    berrybudiman

    14 Februari 2012 at 08:34

  36. Sebagai penikmat pemula, narasi cerpen itu tidak istimewa bagi saya.

    HeruLS

    18 Februari 2012 at 22:11

  37. Bagi saya yang penikmat cerpen pemula, cerpen itu agak kurang istimewa

    HeruLS

    18 Februari 2012 at 22:42

  38. cerpennya tidak logis terlalu mengkhayal…….

    halaman terakhir

    21 Februari 2012 at 20:52

  39. Kunang-kunang tetap indah di mataku… walau banyak kontroversi…. terkadang kontradiksi hanyalah perbedaan interpretasi dari satu objek yang sama…. jangan ekstreem dengan interpretasi subjektif,,, bagi sebagian pembaca… kunang-kunang tetap indah begitu juga mungil ceritanya…. sastra bukan ruang dogmatisme interpreasi… teks akan tetap jujur sebagai teks….. selamat berintrospeksi interpretasi dan apresiasi……

    Aquarius Arum

    5 April 2012 at 23:11

  40. mungkin saya harus membaca cerpen ini sambil minum beer

    Gibb

    25 April 2012 at 02:22

  41. Terimakasih kunang-kunang indah

    asajad (@asajad)

    5 Mei 2012 at 16:57

  42. A Husna

    29 Mei 2012 at 13:23

  43. Imajinasi penulisnya tinggi [b̲̅ªηƍέ†] , jd ikut ngayal.

    betri

    11 Juli 2012 at 14:02

  44. saya tahu menciptakan “dunia kedua” dalam cerpen membutuhkan waktu kontemplasi yang panjang. Dunia ciptaan Agus hebat. tidak sembarang cerpenis bisa membuatnya!

    Ketut Serawan

    16 September 2012 at 19:18

  45. kaya maka teologisnya.. banyak karya agus noor yg selalu menukik ke peran sastra dan teologi..

    piersvd

    4 November 2012 at 20:49

  46. Reblogged this on rifchapachaliboe.

    rifcha

    15 Desember 2012 at 21:37

  47. kenapa agus noor begitu menyukai kunang-kunang~

    reireita

    10 Oktober 2013 at 08:15

  48. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:02


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.580 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: