Gerimis Senja di Praha

Senja Agustus memerah di kaki bukit Petrin, Mala Strana. Langit mengencingi Praha tak habis-habis. Gerimis turun sejak siang dan tak juga membesar. Sungai Vltava baru saja mulai tenang setelah marah meletup-letup selama setengah pekan lalu. Dua hari lalu, airnya naik hingga sembilan meter. Jembatan Charles nyaris terendam. Kemarahan Vltava nyaris saja menenggelamkan Praha.
Kau ada di situ. Begitu saja. Berpayung jingga. Berdiri mematung. Matamu terlihat menerawang. Bajumu putih, sedikit berenda. Kalau saja matahari sedang berbaik hati pada Praha, rok tipismu tentu menerawang pula. Kau seperti berjejer dengan patung-patung monumen itu. Menjadi bagiannya yang paling menarik.
Monumen karya Olbram Zoubek itu sederhana belaka. Terdiri dari tujuh anak tangga dengan tujuh sosok di atasnya. Ketujuhnya terlihat sedang melangkah naik. Sosok yang berdiri di anak tangga terbawah adalah seorang lelaki dengan tubuh yang lengkap. Tapi semakin tinggi anak tangga, semakin tak lengkap bagian tubuhnya. Akhirnya, di anak tangga teratas, berdiri sosok yang sudah kehilangan begitu banyak anggota tubuhnya sehingga nyaris tak lagi berbentuk manusia.
Monumen ini adalah salah satu dari sekian banyak monumen yang dibangun di Republik Ceko setelah komunisme mati. Bagiku, pesan yang disampaikannya tegas-terang-benderang. Komunisme menawarkan kebohongan berongkos mahal. Seolah menyediakan anak tangga untuk naik menggapai kejayaan, tapi sejatinya adalah parade prosesi kematian kemanusiaan.
Sepekan menyusuri Praha cukup untuk menemukan betapa masa lalu, termasuk yang baru saja lewat, beroleh tempat penting. Monumen, mural, artefak museum, teater mutakhir, seni rupa beramai-ramai mengabadikannya dengan saksama. Sepertinya, ada kerja kolektif untuk menjaga ingatan. Semacam saling mengajak waspada.
Jakarta adalah lain cerita. Uang dihamburkan untuk lampu-lampu hias, air mancur, patung-patung pahlawan palsu dan monumen-monumen nirmakna. Ketika Praha dikepung ingatan, Jakarta terkubur kepalsuan dan lupa.
Kau tetap mematung menerawang di sana. Di pelataran monumen yang sempit ini, jarak kita, mau tak mau, dekat belaka.
”Kau pasti dari Asia. Filipina?” Suara empukmu menyengatku tiba-tiba.
”Eh…. Ya. Asia. Indonesia.”
”Mengherankan juga. Ada turis yang suka monumen jelek ini.” Batas antara seringai dan senyummu menyembul dari balik payung jingga. Gigimu putih berkilau.
”Memang jelek secara artistik dan arsitektural. Tapi aku suka pesan yang dibawanya. Ajakan waspada pada kembalinya kebrutalan masa lalu. Menjaga ingatan. Melawan lupa.”
”Hmmm….”
”Kenapa kau bilang ini monumen jelek?”
”Lihatlah tujuh sosok itu. Semua laki-laki. Padahal, lebih banyak perempuan yang jadi korban komunisme. Bahkan, perempuan adalah korban berlapis-lapis. Korban partai, negara, dan laki-laki. Dan si pematung tetap saja seperti laki-laki umumnya. Memandang perempuan hanya sebagai pelengkap. Statistik. Bukan manusia.”
”Wow! Kau punya sinisme para feminis!”
”No. No. No. Tanpa menjadi feminis, perempuan mana pun, bahkan laki-laki, dengan gampang bisa menangkap kejanggalan itu.”
”Sekarang giliranku yang mesti heran kalau begitu. Kenapa kau tampak menikmati monumen yang kau bilang jelek ini?” Aku menyergah, mengubah posisi.
”Sederhana. Di musim panas seperti ini, Praha diserbu turis. Mereka ada di mana-mana, kecuali di sedikit tempat yang tak populer dan dilirik sebelah mata seperti monumen ini. Jadi, jangan keliru. Aku tak sedang menikmati monumen jelek ini. Aku butuh senyap.”
Senyap menyergap senja Praha. Gerimis mulai mereda. Langit merah di balik Bukit Petrin memanggil-manggil malam.
***
Perjumpaan kedua kita adalah pada senja bergerimis berikutnya. Angin tak mau mengajak berkawan. Udara musim panas Praha pun sedikit mendingin.
”Boleh aku merapat ke tubuhmu?”
Permintaanmu tiba-tiba. Dan mustahil kutolak. Kios-kios souvenir terserak di Stare Mesto. Berderet-deret sepanjang Smetanovo Nabi hingga ke kaki jembatan Charles. Berdempetan. Kita berjalan saling merengkuh. Mengusir dingin. Seperti sepasang kekasih. Gerimis yang tak juga reda menyemai rambut panjang kita menjadi masai.
”Aku ingin bunuh diri.” Kau pecah sunyi dengan cara yang sama sekali tak kuduga.
”Hah!? Maksudmu?”
”Kurang jelaskah itu? Atau bahasa Inggrisku kurang bagus di telingamu?
”No. No. Inggrismu sempurna. Aku mendengar. Tapi….”
”Ya. Aku sedang berpikir untuk bunuh diri….”
”Bagiku tak masuk akal.”
”Maksudmu?”
”Kau begitu muda. Ranum. Cantik. Cerdas. Dunia membentang luas di depanmu. Di sekelilingmu, perubahan berdentum-dentum. Ceko-mu begitu bergairah. Kau hidup persis di tengah contoh sukses Eropa Timur dan Tengah. Masa depan menunggumu. Tinggal kau jemput. Kau dikepung musim semi daya hidup. Bagaimana mungkin kau justru ingin melangkah ke arah sebaliknya.”
”Oh… Begitukah kami dari kejauhan? Kau terlalu romantis. Kau pikir kematian komunisme adalah berita baik seluruhnya? Setelah komunisme mati, perubahan menghasilkan para penikmat sekaligus korban. Celakanya, aku menjadi yang kedua.”
”OK. Sorry untuk kenaifanku. Aku siap menjadi pendengar.”
”Ceritaku akan panjang. Ayo kita ke hotelmu saja. Seperti tadi kau bilang, malam ini kamu mesti packing kan? Keberatan kutemani dengan cerita panjangku?”
”No. Sama sekali tak keberatan.” Tentu aku menggeleng. Begitu baikkah Tuhan padaku senja ini?
***
Di luar, para pelancong hiruk-pikuk lalu lalang. Suara-suara beragam bahasa dunia menerobos masuk melalui jendela kamar hotel yang kita biarkan lebar terbuka. Seperti suara ribuan lebah yang pandai berganti dendang.
Ceritamu panjang. Lirih. Dan kelabu.
”Aku anak kesembilan. Bungsu. Di bawah kekuasaan komunis, hidup menjadi begitu rutin. Ayah dan Ibuku menjadikan kegiatan membuat anak sebagai selingan menantang. Anak demi anak lahir begitu saja. Setiap tahun satu. Berderet-deret seperti pagar.
Komunisme memang memanjakan. Negara menyediakan apa saja, mulai sabun mandi hingga roti, dengan tak ada lebih pada seseorang dibanding yang lain. Di bawah komunisme, orangtuaku dan siapa pun tak dibiasakan apalagi didesak untuk berkompetisi. Segalanya tersedia tanpa perlu upaya berlebih. Tapi itulah, hidup kami menjadi manja. Tidak menjadi kaya, tapi dalam kesehajaan yang terpelihara.
Hidup terasa mudah belaka sampai kemudian Komunisme dijatuhkan oleh Revolusi Beludru dan keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Demokrasi memaksa kami untuk berkompetisi. Negara tak lagi jadi penyantun, tapi membiarkan kami saling sikut untuk bertahan dan saling berebut hidup yang lebih baik.”
Suara-suara bising beragam bahasa dunia yang menyelinap dari balik jendela terbuka mulai perlahan menyenyap. Malam makin sepuh. Kubayangkan, para turis yang mulai letih telah memenjarakan dirinya di kamar-kamar hotel atau menyerbu panti-panti pijat dan klub-klub malam untuk menukarkan penat dengan keletihan yang lebih menyenangkan.
Suaramu masih benderang, ceritamu seolah tak berujung, sementara ujung malam beringsut mendekat.
”Ibuku yang terlampau tua di hadapan kapitalisme, tersingkir dan tak lagi terpakai sebagai pramuniaga di sebuah kios di Kota Tua. Ayahku terkena rasionalisasi, dipecat dari sebuah lembaga birokrasi yang kelebihan pegawai, tanpa dipensiunkan. Kakak-kakakku sibuk dengan urusan masing-masing. Hidup yang keras membikin mereka tak lagi saling peduli satu sama lain.
Aku terjepit dalam ketiadaan pilihan sampai sebuah tawaran yang begitu manis datang begitu saja dua tahun lalu. Sebuah biro penyalur tenaga kerja menawariku menjadi pramusaji pada sebuah restoran besar di Berlin. Kusambut tawaran itu dengan tangan terbuka sambil bersyukur betapa Tuhan telah begitu baik padaku.”
Kau terdiam. Menunduk. Matamu segera menjadi telaga. Dua sudut bendungan di sisi luar pangkal hidungmu makin tak mampu menahan air telagamu yang membanjir. Air matamu berjatuhan tanpa tercegah. Aku merapat begitu saja. Kau menjatuhkan bahumu ke dadaku. Lalu suaramu menyendat pada pangkal cerita yang rupanya segera tiba.
”Aku ditipu. Aku dijual ke sebuah tempat prostitusi di timur Berlin. Garis nasib yang kelam mesti kuterima tanpa daya. Badanku remuk dihantam kerja jahanam itu. Kemanusiaanku terbunuh oleh rutinitas itu. Membuka pintu kamar, membiarkan diperlakukan sebagai binatang, memunguti uang yang dilempar begitu saja ke atas tempat tidur sambil mendengar pintu ditutup dan suara sepatu lelaki di lantai menjauh hingga hilang ditelan lobi berkarpet.
Badanku hancur, tapi hatiku lebih hancur. Kemanusiaanku makin hari makin tak bersisa. Benar-benar binasa.”
Air matamu membasahi bahuku. Dingin. Kita diterkam senyap yang tiba-tiba menjadi asing.
”Untunglah aku akhirnya bisa melepaskan diri dari enam bulan terpanjang dalam hidupku itu. Kabur dari Berlin, kembali pulang. Tapi hidup tetap tak bersahabat. Akhirnya kuulang pekerjaan yang sama di sini. Kali ini atas kemauanku. Persisnya, karena aku tak punya pilihan lain. Hingga sampailah aku di titik ini. Ketika sungai Vltava mengamuk tempo hari, keinginanku untuk mengakhiri hidup menderas begitu saja seperti air sungai yang sedang murka.
Ya… aku ingin bunuh diri. Rasanya aku sanggup menghadapi hidup yang berat dan keras, tapi tidak hidup yang terasa hambar seperti ini….”
Sesenggukanmu mengeras. Sebuah cara pilu mengakhiri cerita panjangmu. Dalam pelukanku yang merapat, semua bagian badanmu terasa bergetar. Seperti mesin pengeras jalan yang dengan lembut menekan-nekan dadaku. Lembut sekali. Melahirkan rasa yang asing dan nyaris tak kukenali.
Malam makin larut dalam sunyi. Lalu semua terjadi begitu saja. Kau tak lagi kupeluk, tapi kita saling memeluk. Dan pada dini hari pengujung musim panas itu, kita tergeletak kelelahan begitu saja seusai perjalanan saling bertaut penuh gelegak yang menguras keringat.
***
Senja bergerimis. Langit di atas Bandara Internasional Praha tersapu terlalu banyak kelabu. Birunya seperti malu-malu. Enggan memperlihatkan diri.
Kau mematung menopang dua matamu yang nanar. Lagi-lagi bertelaga. Baru saja kita menunaikan pelukan selamat tinggal. Aku nyaris kaku ketika kau bisikkan kata-kata itu….
”Terima kasih banyak Lusi. Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat panjang, aku sanggup berbagi dan menangis. Kupikir air mataku sudah habis di Berlin. Kembalilah, Lusi. Aku akan menunggu. Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta padamu.”
Suaramu parau. Aku hanya bisa mengeratkan pelukan dan mengusap-usap lembut punggungmu. ”Aku akan segera menghubungimu, Elena. Sesampai di Jakarta.”
Berjalan menuju ruang tunggu pesawat yang akan membawaku ke Jakarta seperti memasuki lorong panjang yang asing. Kita menjauh, tapi suaramu seperti makin keras memanggil-manggil.
Diam-diam, kupastikan untuk segera kembali. Diam-diam, aku terganggu perasaan serupa Elena. Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta.
Sosokmu hilang tertelan kelokan menuju ruang tunggu pesawat. Dan telepon genggamku bergetar.
”Mama, kami tak bisa tidur. Tak sabar menunggumu pulang. Aku dan anak-anak akan menjemputmu di Cengkareng.” Suara sengau milik suamiku terdengar dari tengah malam Jakarta. Keriangannya tak bisa disembunyikan.
Ruang tunggu yang ramai tiba-tiba terasa begitu senyap. Di belakangku, terhalang berlapis-lapis dinding, di bawah gerimis senja Praha seorang perempuan Ceko sedang menangisi kepergianku. Nun di depanku, dipeluk malam Jakarta, seorang lelaki mendekap rindunya yang meluap untukku.
Bintaro, 2011

Luar biasa kang
Ipung Arraffa
15 Januari 2012 pada 09:59
eh, ternyata oh ternyata.
kucing senja
15 Januari 2012 pada 10:37
Luar biasa cerita ini, Berani mengungkapkan hal yang sangat sangat tertutup, atas nama ketidak sengajaan.
Yusriono Garjito
15 Januari 2012 pada 11:13
Endingnya gak ketebak, xixixixi
matairmenulis
15 Januari 2012 pada 11:15
luar biasa,
pembelokan gambaran yang di sajikan sungguh luar biasa, aku merinding saat membaca bagian bagian terakhir dari cerpen ini…
*** kapan aku bisa buat yang seperti ini….
mridwanpurnomo
15 Januari 2012 pada 11:36
Bahasa yang liris untuk sebuah kisah cinta yang ironis, itu saja sudah luar biasa. Bagian yang sublimnya — keruntuhan sosial Praha karena badai demokrasi — yang digambarkan secara satiris, sungguh sangat menyentuh: Elena yang ingin bunuh diri. Tapi yang paling saya suka adalah ketika cerpen ini membandingkan Praha yang tak sudi melawan lupa pasca-komunisme, dan Jakarta yang menimbun diri dengan dusta pasca-otoritarianisme.
Terima kasih telah menyuguhkan cerita yang menarik ini, bro ..
AE Priyono
AE Priyono
15 Januari 2012 pada 12:40
wow…wow..dahsyaat….sebuah karya sastra kontektual, Senang sekali membacanya sampai tuntas, Kang Asep.
Eh mas AE ikut komentar tuh…Salam kangen mas AE Priyono……
R achmat Budi M
15 Januari 2012 pada 13:16
keren!
Qiqi
15 Januari 2012 pada 13:54
Cerpen dgn penyampaian yg khas, ada hal2 baru yg saya samasekali belum tau, terima kasih
danial
15 Januari 2012 pada 14:03
bagus, cerita yang begitu mengharuhkan sebuah perjuangan hidup yang penuh liku bisa buat tambahan pelajaran tentang kehidupan
Berta Setyowati
15 Januari 2012 pada 14:49
kereeeeenn.. unpredictable..
Sayuda Patria
15 Januari 2012 pada 14:57
endingnya gurih sekali, diantara tumpukan kritik sosial Ceko-Jakarta ada desert yang menggiurkan dan merinding
jadiafandi
15 Januari 2012 pada 15:22
Dasyat………, menggetarkan sekaligus mengingatkan, thx bro
Noverius Laoli
15 Januari 2012 pada 16:09
keharuan yang berakhir kejutan.. dua jempol !!
etty tjokro
15 Januari 2012 pada 16:14
bagus.
sumardi
15 Januari 2012 pada 17:52
hmmm….:))
yettiaka
15 Januari 2012 pada 18:33
Ah, sempat tertipu.
Awalnya saya berharap ini kisah romantis antara pasangan berbeda jenis.
Overall, bagus sekali. Cerpen romansa yang intelek.
izut
15 Januari 2012 pada 19:37
dari awal sudah membosankan.. jd tdk di teruskn membacanya..
ch1ck
15 Januari 2012 pada 19:40
Wah..wah..tadinya aku mengira…? tapi ya sudahlah, sungguh..aku keliru…bagus, ada pesan terselip.. perlu dikaji..bravo
Fardhon
15 Januari 2012 pada 20:49
Endingnya kalau sekilas membacanya sangat membingungkan, tapi ternyata setelah dibaca kembali, hahaha. aku cuma bisa geleng-geleng kepala.
kamil
15 Januari 2012 pada 22:01
P4!
Patung-Patung Pahlawan Palsu..
Sebuah ungkapan yg tak pernah terpikirkan..
Outbound
15 Januari 2012 pada 22:03
bagus sekali, cuma sayang,…….bukan aku penulisnya!
asria ali
15 Januari 2012 pada 22:09
Selalu mengikuti cerpen Kompas di blog ini dan baru sekali ini sangat tertarik untuk komen karena… cerpen ini bagus sekali! Awalnya seperti kisah romansa biasa yg ‘menjual’ tempat-tempat di luar negeri sbg daya tarik belaka, spt trend saat ini. Tapi ini lebih dari itu. Salut buat Pak Eep!
Yunita Handayani (@nita_2406)
15 Januari 2012 pada 23:25
hihi
miftah fadhli
16 Januari 2012 pada 00:29
mantap
pardan
16 Januari 2012 pada 02:35
isi bagus tp endingnya mengecewakan….masa cinta sesama jenis c??edan…..
9ian
16 Januari 2012 pada 07:52
Bahkan seorang Kuntowijoyo dan Umar Kayam pun tak akan berani menulis tema seperti ini….
A. Husna
16 Januari 2012 pada 08:41
Ah, berlebihan tuh. Umar kayam dan kuntowijoyo sudah tidak hidup di zaman ini, bung, lagian tema begini, menurut ingatan saya sudah biasa, cuma caranya saja yang kesannya agak luar biasa. Hmm, gus tf sakai dengan Lak uk Kam dan Tukang Cukur, kalau tidak salah menceritakan hal yang sama, deh.
miftah fadhli
17 Januari 2012 pada 15:48
Kok membandingkan sama Maestro sih..! Baca dulu karya-karya terbaik Pak Kunto dan pak Umar. Baru belajar membandingkan.
razi
20 Januari 2012 pada 07:37
nilai lebih cerpen ini hanya ada pada ending yg tdk terduga dan tema yg berani(berani malu).
untuk susunan kata?…cerpen ini adalah “sampah bahasa”…saya yg orang biasa ini,harus membacanya beberapa kali sebelum akhirnya benar benar bisa mengerti.
Abi asa
16 Januari 2012 pada 09:09
Penuh kejutan….
A.M. Mufid
16 Januari 2012 pada 09:20
wow..keren…
kalyana tantri
16 Januari 2012 pada 09:48
hahahaha dari awal dh q tebak,
“jangan bilang siapa-siapa sssssst. .+.+. Hahaha
Kejujuran dlm cerpenmu prlu di jempol.
diana
16 Januari 2012 pada 11:07
Selamat
Omo
16 Januari 2012 pada 12:31
aku juga suka menulis cerpen tapi dibuat versi audio dan disiarkan di radio. kira2 cerita khususnya endingnya yang kayak begini, layak nggak yah di siarkan di radio…? (segmen pendengar radio ku 15 sampai 35 tahun)
Emmydaku
16 Januari 2012 pada 12:43
Lumayan
PAREWA
16 Januari 2012 pada 14:03
mantap….:)
triyanto mekel
16 Januari 2012 pada 17:30
Cinta datang memang tiba2…
robay
16 Januari 2012 pada 19:40
biasa aja tuh …..
lily
16 Januari 2012 pada 19:56
mantap sih… tapi sayang ternyata endingnya +.+= homo. emang benar endingnya tidak bisa ditebak, tapi dengan ending “homo”. ending itu telah mengotori keindahan kalimat-kalimat indah sebelumnya. atau memang si penulis mengejar ending tak tertebak belaka?
ah…. tapi, baguss og
ngali mahfud
16 Januari 2012 pada 21:30
sebuah rahasia
Su12in
17 Januari 2012 pada 08:51
Oh… I love gay story
Floo
17 Januari 2012 pada 10:47
bikin kaget endingnya
itaita
17 Januari 2012 pada 10:48
Politis sekaligus erotis. Tapi pada siapa pengarang ini bercerita? Pada Elena atau pada kita? Dari awal sudah terbaca “aku” bercerita atau ber-soliloqui pada “kau” . Tapi di akhir “kau” menjadi “Elena,seorang perempuan Ceko” bukan “kau”, artinya “aku” hendak bercerita pada kita. Soal ending? itu tipuan biasa yang muncul sebab kita mengetahui, pengarangnya adalah seorang laki-laki. Lalu kita berpikir bahwa tokoh “aku”-nya pasti laki-laki.
Bahloel Magroma
17 Januari 2012 pada 13:29
Ceritanya Khas Eep Saefulloh Fatah..
Baca Juga Karya Beliau yang Kalo Tidak Salah Judulnya ‘Cinta Di Pagi Hari’., Topiknya Sama ‘Cinta yang Katanya Terlarang’…
ULLYonelmessi
17 Januari 2012 pada 13:43
2 jempol bwt cerpen ini..;)
jeremy
17 Januari 2012 pada 14:21
praha, jakarta dan cerita yang biasa saja, (mungkin) jadi tak biasa karena penulisnya orang ternama,
yudi
17 Januari 2012 pada 14:41
.sipp .. bahasanya bikin ngebaca berulang – ulang.hehe
erycha_ovhy
18 Januari 2012 pada 08:10
ceritanya bagus, gak ketebak, luar biasa!
sari
18 Januari 2012 pada 14:12
Kereeennn
Lynglyng Linglung
19 Januari 2012 pada 04:18
hmmm..kang eep memang jagonya….selalu ada sentuhan ‘erotis’ nan indah..ehmmm
dani
19 Januari 2012 pada 11:19
aku suka yg bagian
“Komunisme menawarkan kebohongan berongkos mahal. Seolah menyediakan anak tangga untuk naik menggapai kejayaan, tapi sejatinya adalah parade prosesi kematian kemanusiaan.”
kereen…..
INE
19 Januari 2012 pada 14:01
Dari awal sudah datar, klise, dan membosankan. Jika memang sebuah cerpen dianggap baik karena ending-nya mengejutkan, apakah ia istimewa? Apakah ia masih enak dibaca berulang? Jawaban saya: tidak. Cerpen ini terlalu biasa-biasa saja.
pradewi
20 Januari 2012 pada 08:17
sungguh menarik… menyimpan seseuatu dalam bahasa yang tersembunyi…
Rizam Zyafiq Amangku Bhumi
20 Januari 2012 pada 11:09
Luar biasa, lugas, era komonisme dan era demokrasi terbandingkan
Faried
20 Januari 2012 pada 13:45
Info yang menarik :
http://www.pantonanews.com/beranda
Aa Hidayat
20 Januari 2012 pada 15:26
bagus banget
sukague.com
20 Januari 2012 pada 18:27
sebagai pembaca dan mencoba sbgai penulis di waktu senjangku di SMA ini,sangat2 menarik dan membuat tingkatan hobby membacaku lebih menjulang
kamelia indri yanie
21 Januari 2012 pada 10:59
Memukau! Kritis, unpredictable, dan cara bertutur penulis yang khas dan menghanyutkan.
H.S
21 Januari 2012 pada 19:42
Luar biasa! Aku suka sekali
Cindy
22 Januari 2012 pada 13:38
Bahasanya terlalu sastra banget, terlalu ditonjolkan, sehingga bagi kaum awam terlalu berat..
vincentiashop
22 Januari 2012 pada 15:18
Nice story \^^/
intinya say no to komunis *eaaa….
rosondank.nainggolan
28 Januari 2012 pada 00:44
cool…..
chie
2 Februari 2012 pada 12:57
ga nyangka endingnya kayak gitu. Cool..
ivy
5 Februari 2012 pada 17:53
hhhmmm…. aku perlu belajar lagi,,, good,,,
ningsih
6 Februari 2012 pada 14:28
sebuah akhir yg apik..
arinchui
10 Februari 2012 pada 20:01
wah, sebuah ahir yang mengejutkan!!! hebat, singkat, padat dan mengena! boleh belajar dunk….
ray
12 Februari 2012 pada 16:19
Bagus sekali.
Sehingga saya tertarik membacanya berulang-ulang, dan karena itu, saya menemukan keluhan yang saya cari, hehe…
Tokoh wanita (maaf) pelacur dari Praha itu. Alangkah lebih baik (menurut saya) dikesankan sebagai wanita yang biasa-biasa saja, tidak seperti kesan yang diberikan tokoh utama.
”Kau begitu muda. Ranum. Cantik. Cerdas. Dunia membentang luas di depanmu. Di sekelilingmu, perubahan berdentum-dentum. Ceko-mu begitu bergairah. Kau hidup persis di tengah contoh sukses Eropa Timur dan Tengah. Masa depan menunggumu. Tinggal kau jemput. Kau dikepung musim semi daya hidup. Bagaimana mungkin kau justru ingin melangkah ke arah sebaliknya.”
penilaian tokoh utama terhadapnya menjadi semacam antiklimaks buat saya. Saya gereget dengan LUSI yang demikian hebatnya, dan akhirnya kecewa karena ia ingin bunuh diri hanya karena “miskin”.
Lalu Eep mengisahkan kalau saat itu musim kemarau (atau penghujung kemarau), lalu mengapa bisa terjadi banjir (sungai meluap) beberapa hari sebelumnya. Dan hujan gerimis sepanjang hari… Apakah musim kemarau di Praha sudah begitu ‘basah’.
berrybudiman
14 Februari 2012 pada 08:30
memukau… gak nyangka, kaget waktu baca endingnya.. sip dah!
ellapoenja
16 Februari 2012 pada 16:02
“…menyerbu panti-panti pijat dan klub-klub malam untuk menukarkan penat dengan keletihan yang lebih menyenangkan”
Keren, sukak
HeruLS
18 Februari 2012 pada 22:40