Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Gerimis Senja di Praha

with 105 comments


Senja Agustus memerah di kaki bukit Petrin, Mala Strana. Langit mengencingi Praha tak habis-habis. Gerimis turun sejak siang dan tak juga membesar. Sungai Vltava baru saja mulai tenang setelah marah meletup-letup selama setengah pekan lalu. Dua hari lalu, airnya naik hingga sembilan meter. Jembatan Charles nyaris terendam. Kemarahan Vltava nyaris saja menenggelamkan Praha.

Kau ada di situ. Begitu saja. Berpayung jingga. Berdiri mematung. Matamu terlihat menerawang. Bajumu putih, sedikit berenda. Kalau saja matahari sedang berbaik hati pada Praha, rok tipismu tentu menerawang pula. Kau seperti berjejer dengan patung-patung monumen itu. Menjadi bagiannya yang paling menarik.

Monumen karya Olbram Zoubek itu sederhana belaka. Terdiri dari tujuh anak tangga dengan tujuh sosok di atasnya. Ketujuhnya terlihat sedang melangkah naik. Sosok yang berdiri di anak tangga terbawah adalah seorang lelaki dengan tubuh yang lengkap. Tapi semakin tinggi anak tangga, semakin tak lengkap bagian tubuhnya. Akhirnya, di anak tangga teratas, berdiri sosok yang sudah kehilangan begitu banyak anggota tubuhnya sehingga nyaris tak lagi berbentuk manusia.

Monumen ini adalah salah satu dari sekian banyak monumen yang dibangun di Republik Ceko setelah komunisme mati. Bagiku, pesan yang disampaikannya tegas-terang-benderang. Komunisme menawarkan kebohongan berongkos mahal. Seolah menyediakan anak tangga untuk naik menggapai kejayaan, tapi sejatinya adalah parade prosesi kematian kemanusiaan.

Sepekan menyusuri Praha cukup untuk menemukan betapa masa lalu, termasuk yang baru saja lewat, beroleh tempat penting. Monumen, mural, artefak museum, teater mutakhir, seni rupa beramai-ramai mengabadikannya dengan saksama. Sepertinya, ada kerja kolektif untuk menjaga ingatan. Semacam saling mengajak waspada.

Jakarta adalah lain cerita. Uang dihamburkan untuk lampu-lampu hias, air mancur, patung-patung pahlawan palsu dan monumen-monumen nirmakna. Ketika Praha dikepung ingatan, Jakarta terkubur kepalsuan dan lupa.

Kau tetap mematung menerawang di sana. Di pelataran monumen yang sempit ini, jarak kita, mau tak mau, dekat belaka.

”Kau pasti dari Asia. Filipina?” Suara empukmu menyengatku tiba-tiba.

”Eh…. Ya. Asia. Indonesia.”

”Mengherankan juga. Ada turis yang suka monumen jelek ini.” Batas antara seringai dan senyummu menyembul dari balik payung jingga. Gigimu putih berkilau.

”Memang jelek secara artistik dan arsitektural. Tapi aku suka pesan yang dibawanya. Ajakan waspada pada kembalinya kebrutalan masa lalu. Menjaga ingatan. Melawan lupa.”

”Hmmm….”

”Kenapa kau bilang ini monumen jelek?”

”Lihatlah tujuh sosok itu. Semua laki-laki. Padahal, lebih banyak perempuan yang jadi korban komunisme. Bahkan, perempuan adalah korban berlapis-lapis. Korban partai, negara, dan laki-laki. Dan si pematung tetap saja seperti laki-laki umumnya. Memandang perempuan hanya sebagai pelengkap. Statistik. Bukan manusia.”

”Wow! Kau punya sinisme para feminis!”

”No. No. No. Tanpa menjadi feminis, perempuan mana pun, bahkan laki-laki, dengan gampang bisa menangkap kejanggalan itu.”

”Sekarang giliranku yang mesti heran kalau begitu. Kenapa kau tampak menikmati monumen yang kau bilang jelek ini?” Aku menyergah, mengubah posisi.

”Sederhana. Di musim panas seperti ini, Praha diserbu turis. Mereka ada di mana-mana, kecuali di sedikit tempat yang tak populer dan dilirik sebelah mata seperti monumen ini. Jadi, jangan keliru. Aku tak sedang menikmati monumen jelek ini. Aku butuh senyap.”

Senyap menyergap senja Praha. Gerimis mulai mereda. Langit merah di balik Bukit Petrin memanggil-manggil malam.

***

Perjumpaan kedua kita adalah pada senja bergerimis berikutnya. Angin tak mau mengajak berkawan. Udara musim panas Praha pun sedikit mendingin.

”Boleh aku merapat ke tubuhmu?”

Permintaanmu tiba-tiba. Dan mustahil kutolak. Kios-kios souvenir terserak di Stare Mesto. Berderet-deret sepanjang Smetanovo Nabi hingga ke kaki jembatan Charles. Berdempetan. Kita berjalan saling merengkuh. Mengusir dingin. Seperti sepasang kekasih. Gerimis yang tak juga reda menyemai rambut panjang kita menjadi masai.

”Aku ingin bunuh diri.” Kau pecah sunyi dengan cara yang sama sekali tak kuduga.

”Hah!? Maksudmu?”

”Kurang jelaskah itu? Atau bahasa Inggrisku kurang bagus di telingamu?

”No. No. Inggrismu sempurna. Aku mendengar. Tapi….”

”Ya. Aku sedang berpikir untuk bunuh diri….”

”Bagiku tak masuk akal.”

”Maksudmu?”

”Kau begitu muda. Ranum. Cantik. Cerdas. Dunia membentang luas di depanmu. Di sekelilingmu, perubahan berdentum-dentum. Ceko-mu begitu bergairah. Kau hidup persis di tengah contoh sukses Eropa Timur dan Tengah. Masa depan menunggumu. Tinggal kau jemput. Kau dikepung musim semi daya hidup. Bagaimana mungkin kau justru ingin melangkah ke arah sebaliknya.”

”Oh… Begitukah kami dari kejauhan? Kau terlalu romantis. Kau pikir kematian komunisme adalah berita baik seluruhnya? Setelah komunisme mati, perubahan menghasilkan para penikmat sekaligus korban. Celakanya, aku menjadi yang kedua.”

”OK. Sorry untuk kenaifanku. Aku siap menjadi pendengar.”

”Ceritaku akan panjang. Ayo kita ke hotelmu saja. Seperti tadi kau bilang, malam ini kamu mesti packing kan? Keberatan kutemani dengan cerita panjangku?”

”No. Sama sekali tak keberatan.” Tentu aku menggeleng. Begitu baikkah Tuhan padaku senja ini?

***

Di luar, para pelancong hiruk-pikuk lalu lalang. Suara-suara beragam bahasa dunia menerobos masuk melalui jendela kamar hotel yang kita biarkan lebar terbuka. Seperti suara ribuan lebah yang pandai berganti dendang.

Ceritamu panjang. Lirih. Dan kelabu.

”Aku anak kesembilan. Bungsu. Di bawah kekuasaan komunis, hidup menjadi begitu rutin. Ayah dan Ibuku menjadikan kegiatan membuat anak sebagai selingan menantang. Anak demi anak lahir begitu saja. Setiap tahun satu. Berderet-deret seperti pagar.

Komunisme memang memanjakan. Negara menyediakan apa saja, mulai sabun mandi hingga roti, dengan tak ada lebih pada seseorang dibanding yang lain. Di bawah komunisme, orangtuaku dan siapa pun tak dibiasakan apalagi didesak untuk berkompetisi. Segalanya tersedia tanpa perlu upaya berlebih. Tapi itulah, hidup kami menjadi manja. Tidak menjadi kaya, tapi dalam kesehajaan yang terpelihara.

Hidup terasa mudah belaka sampai kemudian Komunisme dijatuhkan oleh Revolusi Beludru dan keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Demokrasi memaksa kami untuk berkompetisi. Negara tak lagi jadi penyantun, tapi membiarkan kami saling sikut untuk bertahan dan saling berebut hidup yang lebih baik.”

Suara-suara bising beragam bahasa dunia yang menyelinap dari balik jendela terbuka mulai perlahan menyenyap. Malam makin sepuh. Kubayangkan, para turis yang mulai letih telah memenjarakan dirinya di kamar-kamar hotel atau menyerbu panti-panti pijat dan klub-klub malam untuk menukarkan penat dengan keletihan yang lebih menyenangkan.

Suaramu masih benderang, ceritamu seolah tak berujung, sementara ujung malam beringsut mendekat.

”Ibuku yang terlampau tua di hadapan kapitalisme, tersingkir dan tak lagi terpakai sebagai pramuniaga di sebuah kios di Kota Tua. Ayahku terkena rasionalisasi, dipecat dari sebuah lembaga birokrasi yang kelebihan pegawai, tanpa dipensiunkan. Kakak-kakakku sibuk dengan urusan masing-masing. Hidup yang keras membikin mereka tak lagi saling peduli satu sama lain.

Aku terjepit dalam ketiadaan pilihan sampai sebuah tawaran yang begitu manis datang begitu saja dua tahun lalu. Sebuah biro penyalur tenaga kerja menawariku menjadi pramusaji pada sebuah restoran besar di Berlin. Kusambut tawaran itu dengan tangan terbuka sambil bersyukur betapa Tuhan telah begitu baik padaku.”

Kau terdiam. Menunduk. Matamu segera menjadi telaga. Dua sudut bendungan di sisi luar pangkal hidungmu makin tak mampu menahan air telagamu yang membanjir. Air matamu berjatuhan tanpa tercegah. Aku merapat begitu saja. Kau menjatuhkan bahumu ke dadaku. Lalu suaramu menyendat pada pangkal cerita yang rupanya segera tiba.

”Aku ditipu. Aku dijual ke sebuah tempat prostitusi di timur Berlin. Garis nasib yang kelam mesti kuterima tanpa daya. Badanku remuk dihantam kerja jahanam itu. Kemanusiaanku terbunuh oleh rutinitas itu. Membuka pintu kamar, membiarkan diperlakukan sebagai binatang, memunguti uang yang dilempar begitu saja ke atas tempat tidur sambil mendengar pintu ditutup dan suara sepatu lelaki di lantai menjauh hingga hilang ditelan lobi berkarpet.

Badanku hancur, tapi hatiku lebih hancur. Kemanusiaanku makin hari makin tak bersisa. Benar-benar binasa.”

Air matamu membasahi bahuku. Dingin. Kita diterkam senyap yang tiba-tiba menjadi asing.

”Untunglah aku akhirnya bisa melepaskan diri dari enam bulan terpanjang dalam hidupku itu. Kabur dari Berlin, kembali pulang. Tapi hidup tetap tak bersahabat. Akhirnya kuulang pekerjaan yang sama di sini. Kali ini atas kemauanku. Persisnya, karena aku tak punya pilihan lain. Hingga sampailah aku di titik ini. Ketika sungai Vltava mengamuk tempo hari, keinginanku untuk mengakhiri hidup menderas begitu saja seperti air sungai yang sedang murka.

Ya… aku ingin bunuh diri. Rasanya aku sanggup menghadapi hidup yang berat dan keras, tapi tidak hidup yang terasa hambar seperti ini….”

Sesenggukanmu mengeras. Sebuah cara pilu mengakhiri cerita panjangmu. Dalam pelukanku yang merapat, semua bagian badanmu terasa bergetar. Seperti mesin pengeras jalan yang dengan lembut menekan-nekan dadaku. Lembut sekali. Melahirkan rasa yang asing dan nyaris tak kukenali.

Malam makin larut dalam sunyi. Lalu semua terjadi begitu saja. Kau tak lagi kupeluk, tapi kita saling memeluk. Dan pada dini hari pengujung musim panas itu, kita tergeletak kelelahan begitu saja seusai perjalanan saling bertaut penuh gelegak yang menguras keringat.

***

Senja bergerimis. Langit di atas Bandara Internasional Praha tersapu terlalu banyak kelabu. Birunya seperti malu-malu. Enggan memperlihatkan diri.

Kau mematung menopang dua matamu yang nanar. Lagi-lagi bertelaga. Baru saja kita menunaikan pelukan selamat tinggal. Aku nyaris kaku ketika kau bisikkan kata-kata itu….

”Terima kasih banyak Lusi. Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat panjang, aku sanggup berbagi dan menangis. Kupikir air mataku sudah habis di Berlin. Kembalilah, Lusi. Aku akan menunggu. Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta padamu.”

Suaramu parau. Aku hanya bisa mengeratkan pelukan dan mengusap-usap lembut punggungmu. ”Aku akan segera menghubungimu, Elena. Sesampai di Jakarta.”

Berjalan menuju ruang tunggu pesawat yang akan membawaku ke Jakarta seperti memasuki lorong panjang yang asing. Kita menjauh, tapi suaramu seperti makin keras memanggil-manggil.

Diam-diam, kupastikan untuk segera kembali. Diam-diam, aku terganggu perasaan serupa Elena. Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta.

Sosokmu hilang tertelan kelokan menuju ruang tunggu pesawat. Dan telepon genggamku bergetar.

”Mama, kami tak bisa tidur. Tak sabar menunggumu pulang. Aku dan anak-anak akan menjemputmu di Cengkareng.” Suara sengau milik suamiku terdengar dari tengah malam Jakarta. Keriangannya tak bisa disembunyikan.

Ruang tunggu yang ramai tiba-tiba terasa begitu senyap. Di belakangku, terhalang berlapis-lapis dinding, di bawah gerimis senja Praha seorang perempuan Ceko sedang menangisi kepergianku. Nun di depanku, dipeluk malam Jakarta, seorang lelaki mendekap rindunya yang meluap untukku.

Bintaro, 2011

About these ads

Written by tukang kliping

15 Januari 2012 at 09:10

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

105 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Luar biasa kang

    Ipung Arraffa

    15 Januari 2012 at 09:59

  2. eh, ternyata oh ternyata.

    kucing senja

    15 Januari 2012 at 10:37

    • Luar biasa cerita ini, Berani mengungkapkan hal yang sangat sangat tertutup, atas nama ketidak sengajaan.

      Yusriono Garjito

      15 Januari 2012 at 11:13

  3. Endingnya gak ketebak, xixixixi :)

    matairmenulis

    15 Januari 2012 at 11:15

  4. luar biasa,
    pembelokan gambaran yang di sajikan sungguh luar biasa, aku merinding saat membaca bagian bagian terakhir dari cerpen ini…

    *** kapan aku bisa buat yang seperti ini…. :)

    mridwanpurnomo

    15 Januari 2012 at 11:36

  5. Bahasa yang liris untuk sebuah kisah cinta yang ironis, itu saja sudah luar biasa. Bagian yang sublimnya — keruntuhan sosial Praha karena badai demokrasi — yang digambarkan secara satiris, sungguh sangat menyentuh: Elena yang ingin bunuh diri. Tapi yang paling saya suka adalah ketika cerpen ini membandingkan Praha yang tak sudi melawan lupa pasca-komunisme, dan Jakarta yang menimbun diri dengan dusta pasca-otoritarianisme.
    Terima kasih telah menyuguhkan cerita yang menarik ini, bro ..

    AE Priyono

    AE Priyono

    15 Januari 2012 at 12:40

  6. wow…wow..dahsyaat….sebuah karya sastra kontektual, Senang sekali membacanya sampai tuntas, Kang Asep.

    Eh mas AE ikut komentar tuh…Salam kangen mas AE Priyono……

    R achmat Budi M

    15 Januari 2012 at 13:16

  7. keren!

    Qiqi

    15 Januari 2012 at 13:54

  8. Cerpen dgn penyampaian yg khas, ada hal2 baru yg saya samasekali belum tau, terima kasih

    danial

    15 Januari 2012 at 14:03

  9. bagus, cerita yang begitu mengharuhkan sebuah perjuangan hidup yang penuh liku bisa buat tambahan pelajaran tentang kehidupan

    Berta Setyowati

    15 Januari 2012 at 14:49

  10. kereeeeenn.. unpredictable..

    Sayuda Patria

    15 Januari 2012 at 14:57

  11. endingnya gurih sekali, diantara tumpukan kritik sosial Ceko-Jakarta ada desert yang menggiurkan dan merinding

    jadiafandi

    15 Januari 2012 at 15:22

  12. Dasyat………, menggetarkan sekaligus mengingatkan, thx bro

    Noverius Laoli

    15 Januari 2012 at 16:09

  13. keharuan yang berakhir kejutan.. dua jempol !!

    etty tjokro

    15 Januari 2012 at 16:14

  14. bagus.

    sumardi

    15 Januari 2012 at 17:52

  15. hmmm….:))

    yettiaka

    15 Januari 2012 at 18:33

  16. Ah, sempat tertipu.
    Awalnya saya berharap ini kisah romantis antara pasangan berbeda jenis.
    Overall, bagus sekali. Cerpen romansa yang intelek.

    izut

    15 Januari 2012 at 19:37

  17. dari awal sudah membosankan.. jd tdk di teruskn membacanya..

    ch1ck

    15 Januari 2012 at 19:40

  18. Wah..wah..tadinya aku mengira…? tapi ya sudahlah, sungguh..aku keliru…bagus, ada pesan terselip.. perlu dikaji..bravo

    Fardhon

    15 Januari 2012 at 20:49

  19. Endingnya kalau sekilas membacanya sangat membingungkan, tapi ternyata setelah dibaca kembali, hahaha. aku cuma bisa geleng-geleng kepala.

    kamil

    15 Januari 2012 at 22:01

  20. P4!
    Patung-Patung Pahlawan Palsu..
    Sebuah ungkapan yg tak pernah terpikirkan..

    Outbound

    15 Januari 2012 at 22:03

  21. bagus sekali, cuma sayang,…….bukan aku penulisnya!

    asria ali

    15 Januari 2012 at 22:09

  22. Selalu mengikuti cerpen Kompas di blog ini dan baru sekali ini sangat tertarik untuk komen karena… cerpen ini bagus sekali! Awalnya seperti kisah romansa biasa yg ‘menjual’ tempat-tempat di luar negeri sbg daya tarik belaka, spt trend saat ini. Tapi ini lebih dari itu. Salut buat Pak Eep!

  23. hihi :D

    miftah fadhli

    16 Januari 2012 at 00:29

  24. mantap

    pardan

    16 Januari 2012 at 02:35

  25. isi bagus tp endingnya mengecewakan….masa cinta sesama jenis c??edan…..

    9ian

    16 Januari 2012 at 07:52

  26. Bahkan seorang Kuntowijoyo dan Umar Kayam pun tak akan berani menulis tema seperti ini….

    A. Husna

    16 Januari 2012 at 08:41

    • Ah, berlebihan tuh. Umar kayam dan kuntowijoyo sudah tidak hidup di zaman ini, bung, lagian tema begini, menurut ingatan saya sudah biasa, cuma caranya saja yang kesannya agak luar biasa. Hmm, gus tf sakai dengan Lak uk Kam dan Tukang Cukur, kalau tidak salah menceritakan hal yang sama, deh.

      miftah fadhli

      17 Januari 2012 at 15:48

    • Kok membandingkan sama Maestro sih..! Baca dulu karya-karya terbaik Pak Kunto dan pak Umar. Baru belajar membandingkan.

      razi

      20 Januari 2012 at 07:37

  27. nilai lebih cerpen ini hanya ada pada ending yg tdk terduga dan tema yg berani(berani malu).
    untuk susunan kata?…cerpen ini adalah “sampah bahasa”…saya yg orang biasa ini,harus membacanya beberapa kali sebelum akhirnya benar benar bisa mengerti.

    Abi asa

    16 Januari 2012 at 09:09

    • kasian sekali kamu… saya yg orang biasa juga ngerti sekali baca wkwkwk

      penghuni bumi

      13 April 2013 at 20:29

  28. Penuh kejutan….

    A.M. Mufid

    16 Januari 2012 at 09:20

  29. wow..keren…

    kalyana tantri

    16 Januari 2012 at 09:48

  30. hahahaha dari awal dh q tebak,
    “jangan bilang siapa-siapa sssssst. .+.+. Hahaha
    Kejujuran dlm cerpenmu prlu di jempol.

    diana

    16 Januari 2012 at 11:07

  31. Selamat

    Omo

    16 Januari 2012 at 12:31

  32. aku juga suka menulis cerpen tapi dibuat versi audio dan disiarkan di radio. kira2 cerita khususnya endingnya yang kayak begini, layak nggak yah di siarkan di radio…? (segmen pendengar radio ku 15 sampai 35 tahun)

    Emmydaku

    16 Januari 2012 at 12:43

  33. Lumayan

    PAREWA

    16 Januari 2012 at 14:03

  34. mantap….:)

    triyanto mekel

    16 Januari 2012 at 17:30

  35. Cinta datang memang tiba2…

    robay

    16 Januari 2012 at 19:40

  36. biasa aja tuh …..

    lily

    16 Januari 2012 at 19:56

  37. mantap sih… tapi sayang ternyata endingnya +.+= homo. emang benar endingnya tidak bisa ditebak, tapi dengan ending “homo”. ending itu telah mengotori keindahan kalimat-kalimat indah sebelumnya. atau memang si penulis mengejar ending tak tertebak belaka?

    ah…. tapi, baguss og :D

    ngali mahfud

    16 Januari 2012 at 21:30

  38. sebuah rahasia :)

    Su12in

    17 Januari 2012 at 08:51

  39. Oh… I love gay story

    Floo

    17 Januari 2012 at 10:47

  40. bikin kaget endingnya :D

    itaita

    17 Januari 2012 at 10:48

  41. Politis sekaligus erotis. Tapi pada siapa pengarang ini bercerita? Pada Elena atau pada kita? Dari awal sudah terbaca “aku” bercerita atau ber-soliloqui pada “kau” . Tapi di akhir “kau” menjadi “Elena,seorang perempuan Ceko” bukan “kau”, artinya “aku” hendak bercerita pada kita. Soal ending? itu tipuan biasa yang muncul sebab kita mengetahui, pengarangnya adalah seorang laki-laki. Lalu kita berpikir bahwa tokoh “aku”-nya pasti laki-laki.

    Bahloel Magroma

    17 Januari 2012 at 13:29

  42. Ceritanya Khas Eep Saefulloh Fatah..
    Baca Juga Karya Beliau yang Kalo Tidak Salah Judulnya ‘Cinta Di Pagi Hari’., Topiknya Sama ‘Cinta yang Katanya Terlarang’…

    ULLYonelmessi

    17 Januari 2012 at 13:43

  43. 2 jempol bwt cerpen ini..;)

    jeremy

    17 Januari 2012 at 14:21

  44. praha, jakarta dan cerita yang biasa saja, (mungkin) jadi tak biasa karena penulisnya orang ternama,

    yudi

    17 Januari 2012 at 14:41

  45. .sipp .. bahasanya bikin ngebaca berulang – ulang.hehe

    erycha_ovhy

    18 Januari 2012 at 08:10

  46. ceritanya bagus, gak ketebak, luar biasa!

    sari

    18 Januari 2012 at 14:12

  47. Kereeennn :)

    Lynglyng Linglung

    19 Januari 2012 at 04:18

  48. hmmm..kang eep memang jagonya….selalu ada sentuhan ‘erotis’ nan indah..ehmmm

    dani

    19 Januari 2012 at 11:19

  49. aku suka yg bagian
    “Komunisme menawarkan kebohongan berongkos mahal. Seolah menyediakan anak tangga untuk naik menggapai kejayaan, tapi sejatinya adalah parade prosesi kematian kemanusiaan.”

    kereen…..

    INE

    19 Januari 2012 at 14:01

  50. Dari awal sudah datar, klise, dan membosankan. Jika memang sebuah cerpen dianggap baik karena ending-nya mengejutkan, apakah ia istimewa? Apakah ia masih enak dibaca berulang? Jawaban saya: tidak. Cerpen ini terlalu biasa-biasa saja.

    pradewi

    20 Januari 2012 at 08:17

  51. sungguh menarik… menyimpan seseuatu dalam bahasa yang tersembunyi…

    Rizam Zyafiq Amangku Bhumi

    20 Januari 2012 at 11:09

  52. Luar biasa, lugas, era komonisme dan era demokrasi terbandingkan

    Faried

    20 Januari 2012 at 13:45

  53. Aa Hidayat

    20 Januari 2012 at 15:26

  54. bagus banget :)

    sukague.com

    20 Januari 2012 at 18:27

  55. sebagai pembaca dan mencoba sbgai penulis di waktu senjangku di SMA ini,sangat2 menarik dan membuat tingkatan hobby membacaku lebih menjulang :)

    kamelia indri yanie

    21 Januari 2012 at 10:59

  56. Memukau! Kritis, unpredictable, dan cara bertutur penulis yang khas dan menghanyutkan.

    H.S

    21 Januari 2012 at 19:42

  57. Luar biasa! Aku suka sekali :)

    Cindy

    22 Januari 2012 at 13:38

  58. Bahasanya terlalu sastra banget, terlalu ditonjolkan, sehingga bagi kaum awam terlalu berat..

    vincentiashop

    22 Januari 2012 at 15:18

  59. Nice story \^^/
    intinya say no to komunis *eaaa….

    rosondank.nainggolan

    28 Januari 2012 at 00:44

  60. cool…..

    chie

    2 Februari 2012 at 12:57

  61. ga nyangka endingnya kayak gitu. Cool..

    ivy

    5 Februari 2012 at 17:53

  62. hhhmmm…. aku perlu belajar lagi,,, good,,, :D

    ningsih

    6 Februari 2012 at 14:28

  63. sebuah akhir yg apik..

    arinchui

    10 Februari 2012 at 20:01

  64. wah, sebuah ahir yang mengejutkan!!! hebat, singkat, padat dan mengena! boleh belajar dunk….

    ray

    12 Februari 2012 at 16:19

  65. Bagus sekali.
    Sehingga saya tertarik membacanya berulang-ulang, dan karena itu, saya menemukan keluhan yang saya cari, hehe…
    Tokoh wanita (maaf) pelacur dari Praha itu. Alangkah lebih baik (menurut saya) dikesankan sebagai wanita yang biasa-biasa saja, tidak seperti kesan yang diberikan tokoh utama.
    ”Kau begitu muda. Ranum. Cantik. Cerdas. Dunia membentang luas di depanmu. Di sekelilingmu, perubahan berdentum-dentum. Ceko-mu begitu bergairah. Kau hidup persis di tengah contoh sukses Eropa Timur dan Tengah. Masa depan menunggumu. Tinggal kau jemput. Kau dikepung musim semi daya hidup. Bagaimana mungkin kau justru ingin melangkah ke arah sebaliknya.”
    penilaian tokoh utama terhadapnya menjadi semacam antiklimaks buat saya. Saya gereget dengan LUSI yang demikian hebatnya, dan akhirnya kecewa karena ia ingin bunuh diri hanya karena “miskin”.
    Lalu Eep mengisahkan kalau saat itu musim kemarau (atau penghujung kemarau), lalu mengapa bisa terjadi banjir (sungai meluap) beberapa hari sebelumnya. Dan hujan gerimis sepanjang hari… Apakah musim kemarau di Praha sudah begitu ‘basah’.

    berrybudiman

    14 Februari 2012 at 08:30

  66. memukau… gak nyangka, kaget waktu baca endingnya.. sip dah!

    ellapoenja

    16 Februari 2012 at 16:02

  67. “…menyerbu panti-panti pijat dan klub-klub malam untuk menukarkan penat dengan keletihan yang lebih menyenangkan”
    Keren, sukak

    HeruLS

    18 Februari 2012 at 22:40

  68. Aku sih udah nebak kalo si “aku” adalah perempuan waktu si “aku” mengatakan “Gerimis yang tak juga reda menyemai rambut panjang kita menjadi masai”. Aku langsung menyimpulkan bahwa si “aku” adalah perempuan. Karena itulah aku udah mulai bisa menebak kalo ini adalah cerita cinta sesama jenis bahkan sebelum disebutkan nama karakter tapi sejak bagian “Malam makin larut dalam sunyi. Lalu semua terjadi begitu saja. Kau tak lagi kupeluk, tapi kita saling memeluk. Dan pada dini hari pengujung musim panas itu, kita tergeletak kelelahan begitu saja seusai perjalanan saling bertaut penuh gelegak yang menguras keringat.”
    Hmm, mungkin karena aku penggemar film dan cerita detektif dan misteri kali ya jadi endingnya tidak begitu mengejutkan buatku ^^

    keikochan

    25 Februari 2012 at 20:10

  69. suka banget… ending yang tak terduga sama sekali…

    liest

    25 Februari 2012 at 20:17

  70. hebat!!!
    pengen py tulisan seperti ini juga..

    Kha Wirna

    28 Februari 2012 at 11:30

  71. Ending yang memikat, empat jempol buat penulisnya.

    N. Upik

    8 Maret 2012 at 00:06

  72. waw.. :)
    pengen bisa buat cerpen sebagus ini..
    gimana caranya??

    arofa defaki serdayani

    15 Maret 2012 at 19:28

  73. bagus, apik!

    anak baru

    23 Maret 2012 at 12:23

  74. Tragis, lugas, memukau !

    Maya Melivyanti

    25 Maret 2012 at 22:57

  75. keren bang

    samba

    29 Maret 2012 at 10:12

  76. Sebenarnya agak malas juga untuk mulai membaca cerpen ini karena penulisnya adalah Eep Syaifulloh Fatah yang selama ini kukenal sebagai ilmuwan politik bukan politikus, seorang dosen yang masih muda dan sangat terkenal, karena tulisan dan anlisisnya dibidang ilmu politik, sehingga menurut anggapan saya kalau toh bisa menulis cerpen ya paling hasilnya sekedar pekerjaan sampingan saja, dan kalau sampai bisa dimuat di Kompas, menurut saya karena nama besarnya sebagai intelektual, bukan karena kualitas cerpenya. Hal ini yang menyebabkan agak enggan, untuk mulai membaca kalau saja tidak dimuat di Kompas saat ini, bahkan beberapa cerpenya yang pernah saya temukan juga belum termasuk yang saya prioritaskan untuk kubaca.
    Sungguh mengejutkan membaca cerpen ini, karena jauh dari yang kuduga semula, membaca cerpen ini rasanya ada didua dunia sekaligus, yaitu dunia ilmu politik dan dunia sastra (cerpen). Pertama rasanya seperti membaca artikel/opini dibidang politik yang memang dunia nya penulis bahasanya begitu jelas, mudah dimengerti bagaima proses terjadinya transisi politik di Praha, dari komunisme ke kapitalisme, yang seakan akan memeberi harapan atau sama-sama tidak memberi harapan. Paragraf-paragraf berikut yang membuatku seperti membaca artikelnya seorang intelektual:
    – “Monumen karya Olbram Zoubek itu sederhana belaka. Terdiri dari tujuh anak tangga dengan tujuh sosok di atasnya. Ketujuhnya terlihat sedang melangkah naik. Sosok yang berdiri di anak tangga terbawah adalah seorang lelaki dengan tubuh yang lengkap. Tapi semakin tinggi anak tangga, semakin tak lengkap bagian tubuhnya. Akhirnya, di anak tangga teratas, berdiri sosok yang sudah kehilangan begitu banyak anggota tubuhnya sehingga nyaris tak lagi berbentuk manusia.”

    – “Monumen ini adalah salah satu dari sekian banyak monumen yang dibangun di Republik Ceko setelah komunisme mati. Bagiku, pesan yang disampaikannya tegas-terang-benderang. Komunisme menawarkan kebohongan berongkos mahal. Seolah menyediakan anak tangga untuk naik menggapai kejayaan, tapi sejatinya adalah parade prosesi kematian kemanusiaan.”

    – ”Lihatlah tujuh sosok itu. Semua laki-laki. Padahal, lebih banyak perempuan yang jadi korban komunisme. Bahkan, perempuan adalah korban berlapis-lapis. Korban partai, negara, dan laki-laki. Dan si pematung tetap saja seperti laki-laki umumnya. Memandang perempuan hanya sebagai pelengkap. Statistik. Bukan manusia

    – Komunisme memang memanjakan. Negara menyediakan apa saja, mulai sabun mandi hingga roti, dengan tak ada lebih pada seseorang dibanding yang lain. Di bawah komunisme, orangtuaku dan siapa pun tak dibiasakan apalagi didesak untuk berkompetisi. Segalanya tersedia tanpa perlu upaya berlebih. Tapi itulah, hidup kami menjadi manja. Tidak menjadi kaya, tapi dalam kesehajaan yang terpelihara.

    – Hidup terasa mudah belaka sampai kemudian Komunisme dijatuhkan oleh Revolusi Beludru dan keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Demokrasi memaksa kami untuk berkompetisi. Negara tak lagi jadi penyantun, tapi membiarkan kami saling sikut untuk bertahan dan saling berebut hidup yang lebih baik.”

    – ”Ibuku yang terlampau tua di hadapan kapitalisme, tersingkir dan tak lagi terpakai sebagai pramuniaga di sebuah kios di Kota Tua. Ayahku terkena rasionalisasi, dipecat dari sebuah lembaga birokrasi yang kelebihan pegawai, tanpa dipensiunkan. Kakak-kakakku sibuk dengan urusan masing-masing. Hidup yang keras membikin mereka tak lagi saling peduli satu sama lain.

    Dari beberapa potongan paragraph tersebut dengan sangat mudah untuk dipahami bahwa tumbangnya komunisme yang kemudian digantikan dengan kapitalisme ternyata sama saja, rakyat kebanyakan yang tetap menjadi korban.

    Begitu sampai bagian terakhir, segera terasa kembali yang saya baca ini adalah cerpen bukan artikel atau opini, “aku” yang sejak awal sepertinya digambarkan sebagai lelaki yang sedang menikmati liburan di Praha kemudian bertemu dengan “kau” gadis asli sana yang merupakan korban politik komunisme ke kapitalisme, ternyata “aku” tersebut seorang perempuan dan ditandai dengan nama “Lusi” yang juga seorang Ibu, kemudian “kau” ditandai dengan nama “Elena”, jadi yang berdialog sejak awal cerita ternyata dua orang perempuan, tapi kok …….?
    “Malam makin larut dalam sunyi. Lalu semua terjadi begitu saja. Kau tak lagi kupeluk, tapi kita saling memeluk. Dan pada dini hari pengujung musim panas itu, kita tergeletak kelelahan begitu saja seusai perjalanan saling bertaut penuh gelegak yang menguras keringat.”
    Begitu membaca selesai saya hanya sempat tercengang, mendapatkan ending yang luar biasa, bahkan ketika sholat maghrib selesai ingin sekali mengulangi membaca cerpen ini, tapi saya pikir bagian mana yang penting untuk kuulangi, sekali membaca saja sudah dapat menikmatinya bahkan terasa luar biasa. Saya berani menjagokan cerpen ini akan menjadi Cerpen Terbaik Kompas Tahun 2012. Dugaanku salah ternyata Eep Safulloh Fatah yang seorang ilmuwan dibidang politik ini ternyata mampu menulis cerpen yang luar biasa, maka cerpen-cerpen yang pernah dipublikasikan sebulumnya akan aku baca. Termasuk perasaan yang sama terhadap M Dawam Raharjo yang saya kenal sebagai ilmuwan yang mumpuni di bidang ekonomi, dimana artikel-nya banyak yang sudah kubaca dan kukoleksi ternyata juga banyak menulis cerpen, maka inipun juga akan saya prioritaskan untuk kubaca.

    Eko Wahyu

    15 April 2012 at 22:13

  77. The ending was shock me, and
    Two thumbs up for this !! (Y) (Y)

    reno

    26 April 2012 at 16:10

  78. mngkin sy kurang banyak mbaca cerpen yg ‘bagus’. tp menurutku cerpen ini sangat menarik!. alurnya mngalir dan menghentak pd bag ttt, khususnya pd endingnya. kritikny jg mantap!! bravo!

    andisumarkarman

    8 Juni 2012 at 20:14

  79. mngkin sy kurang banyak mbaca cerpen yg ‘bagus’. tp menurutku cerpen ini sangat menarik!. alurnya mngalir dan menghentak pd bag ttt, khususnya pd endingnya. kritikny jg mantap!! bravo!!

    andisumarkarman

    8 Juni 2012 at 20:14

  80. [...] Tulisan berupa cerpen yang ber-setting di suatu tempat, boleh di luar negeri atau di dalam negeri. Temanya bebas, mau tentang cinta, persahabatan, apa pun boleh. Yang harus diingat, cerpen yang baik mempunyai setting yang kuat. Dan setting yang kuat hanya dapat tercipta apabila sang penulis melakukan riset sebelumnya. Jika belum dapat gambaran bagaimana bentuk cerpen dengan latar yang kuat, sahabat bisa membaca di tulisan yang ini atau yang ini. [...]

  81. sy terkecoh dgn tokohx. kisah menarik. sy kira cerpen ini layak jd cerpen terbaik ! selamat berkarya !

    amir

    29 Juni 2012 at 12:48

  82. suka banget,, dan endingnya luar biasa, tak terfikir dari awal ..

    mantap .. :)

    fitr4y

    5 Juli 2012 at 19:30

  83. Ending Ɣªήğ tak terduga…

    betri

    11 Juli 2012 at 15:10

  84. Kerennnn,,,dahsyat,,,,,cerpen terkeren yg prnh sy baca, berbobot pula…mdh2n bisa bnyk blajar dr Anda :)

    Miss. Dean

    16 Juli 2012 at 16:08

  85. manis! bahasanya cerdas, endingnya cadas. kelihatan ‘mutu’nya kang eef

    df. norris

    18 September 2012 at 08:55

  86. Benar-benar cerpen yang cerdas, berani mengangkat tema yang masih (sering) dianggap ‘tabu’ dengan bahasa yg begitu unik.. Juga menyiratkan berbagai pesan moral yg begitu bermanfaat.. Saya adalah pecinta cerpen2 karya Agus Noor dan Djenar, dan skrg rasanya saya tlah jatuh hati dengan mas Eef! Four Thumbs Up! :D

    Maharani

    8 Oktober 2012 at 14:15

  87. keren banget.
    kalo aja anak muda indonesia seneng baca sama nulis.
    pasti ini cerpen bisa lewat. ☺
    makasih banget cerpennya.sangat-sangat terhibur.

    danang

    12 Januari 2013 at 04:27

  88. Kekhawatiran tentang tokoh yg seorang perempuan sudah muncul sejak membaca kutipan :
    -”No. No. No. Tanpa menjadi feminis, perempuan mana pun, bahkan laki-laki, dengan gampang bisa menangkap kejanggalan itu.”
    Lalu, muncul lagi pada kalimat :
    -Gerimis yang tak juga reda menyemai rambut panjang kita menjadi masai.
    Awalnya sempat menolak dan tetap berharap bahwa tokoh “aku” adalah laki-laki.
    Tapi kemudian berakhir dg disebutkan nama “Lisa” dan “Elena”…….

    bagus, tapi jadi merinding baca ‘kebenaran kekhawatiran saya’ di endingnya..
    haduh, saya selalu bergidik baca artikel apapun ttg hubungan sejenis.. maaf..

    Mega Ardhita

    17 Januari 2013 at 11:22

    • eh, maaf salah ketik nama “Lusi”,,bukan “Lisa”.. :P

      Mega Ardhita

      17 Januari 2013 at 11:27

  89. saat pertama kali baca, kirain yang jatuh cinta sama elena itu laki-laki, eh ternyata pas baca endingnya… elena jatuh cinta dengan lusi yang seorang perempuan juga…
    Bagus BANGET !! cerpennya.. menggugah pemikiran, dan dengan sudut pandang orang kedua, membuat saya seolah-olah menjadi pemeran utama dalam cerpen… TOP BGT !!

    SINTA

    9 Maret 2013 at 16:24

  90. Saya bukan apa-apa..m

    Tapi penilaian saya:
    Endingnya gak bagus… Dari awal saya sudah bisa mengira-ngira bahwa endingnya akan beakhir demikian.
    Karena hingga menjelang akhir cerita, saya masih blum menemukan hal-hal yang mengejutkan atau wah…
    So, ini hanya cerpen kebanyakan…

    *benar menurut saya belum berarti benar menurut anda.
    So, santai…

    maud

    20 Maret 2013 at 08:21

  91. bahasanya guruh, cuman aku nggak sepakat kalau cinta sesama jenis..

    arieparopo@gmail.com

    9 Juni 2013 at 00:38

  92. Wow that was odd. I just wrote an very long comment but after I clicked submit my comment didn’t show up. Grrrr… well I’m
    not writing all that over again. Anyways, just wanted to say wonderful blog!

    Cadence Sound

    29 Juni 2013 at 20:38

  93. saya tidak terjebak untuk kedua kalinya..

    *waspada karma

    misbmanise

    22 Agustus 2013 at 07:46

  94. wow dua jempol

    whand ady

    21 November 2013 at 21:29

  95. Benar² cerpen yg menyayat hati,,
    saya adalah siswi SMP di SMP Negeri 1 Katingan Tengah -Kalimantan tengah
    .
    Saya benar² tak menduga bahwa endingnya seperti ini,saat pertama membaca, saya masih berpikiran bahwa “aku” adalah seorang laki² yg berlibur ke praha,tapi saya masih penasaran karena saat membaca pertama ,saya belum mendapatkan kemistri dan feeling di cerpen ini,tapi saat saya membacanya yg kedua kalinya, saya terperangah, cerpen ini benar² WOW :o saya adalah gadis berumur 14 tahun yg mencintai bacaan,,namun kadang saya juga belajar untuk menulis sebuah cerita tapi saya tak berani untuk mempublikasikan’nya.
    Setelah membaca cerpen ini,saya banyak menemukan nilai² intelektual , dan selama saya membaca cerpen di internet, ini cerpen terbaik yg pernah saya baca.

    Sefira Gustina Pusvita Putri

    13 Januari 2014 at 18:15

  96. Benar benar dasyat. Sambil bercerita yg takbisa ditebak akhirnya, disuguhkan pula komparasi ideologi yang sama jeleknya, dipadu gambaran detail seting cerita. Tidak semua cerita bisa begini. Lugas, cerdas, padat dan singkat, berisi, unik

    wmyartawan

    13 April 2014 at 13:27

  97. Saya siswi sma yang bukan penikmat sastra. Saya hanya diberikan tugas untuk menganalisis cerpen ini. Ternyata cerpen ini sangat bagus. Berani mengangkat isu yang dianggap tabu dan dibenci. Saya juga gangerti deh gimana jelasinnya pokoknya bagus, keep rockin

    bukanpenikmatsastra

    9 Mei 2014 at 11:30

  98. One of the greatest story i’ve ever read… temanya gak mainstream dan sangat menggambarkan isu-isu sekarang ini… kata-katanya juga bagus walaupun rada rumit tapi sejatinya mengambarkan pengetahuan penulisnya… 2 thumbs, keep writing!!!

    Elena Schenk

    9 Mei 2014 at 11:40

  99. Manteup euyyy kang

    syifnezgundre

    27 Agustus 2014 at 11:34


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.570 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: