Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Mudik

with 59 comments


Ayah adalah ayah dan kita tahu orang tua tidak berubah. Ia bangun untuk melakukan shalat subuh. Selesai mandi, ayah akan duduk di beranda. Di atas meja rotan dekat vas berisi kembang plastik, sudah tersedia segelas kopi. Setelah minum seteguk, ayah akan mengeluarkan skuternya dari garasi dan menghidupkannya.

Demikian ritual yang dijalankan ayah tiap pagi sejak dua puluh-tiga puluh tahun lalu sampai saat kita mudik kali ini. Kacamata ayah adalah yang ia pakai ketika meminang ibu. Setiap tahun kita membelikannya sarung tetapi ia menyimpannya di lemari. Ayah memakai sandal yang ia pakai tahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu, bahkan kita tidak pernah ingat melihatnya berganti sandal baru. Tatkala kita memberinya sepasang Crocs warna ungu Lebaran lalu, ia seperti tersinggung alih-alih tersanjung, apalagi terharu.

Ibu rajin bin tabah. Bangun pagi-pagi, mendidihkan air, menyeduh kopi, mencuci pakaian, menyiapkan sarapan, dan kita tidak ingat kapan ibu pernah tidak begitu, termasuk hari minggu, hari libur, atau Lebaran seperti sekarang. Ibu pula yang menyapu, mengepel, menanak nasi, memasak, menjahit, memberi makan kucing, dan menyiram tanaman. Ibu tidak mengomel soal uang belanja layaknya istri kita merecoki kita. Ibu tidak pernah meminta ayah keluar malam-malam seperti istri kita menyuruh kita membelikannya martabak pada pukul sebelas malam. Ibulah yang melarang kita mengajak anak gadis orang nonton bioskop sebelum yakin hendak menikahinya. Ibu mengajari kita agar membawa jeruk bila mengunjungi orang sakit. Dari ibu kita tahu riwayat sanak saudara dan tetangga-tetangga.

Kakak ada kalanya bersikap manis tetapi lebih sering sinis. Ia hanya menjajani kita bila hendak meminta tolong kita membantunya mengerjakan sesuatu atau membujuk kita merahasiakan kesalahannya. Bila datang bulan, ia menjadikan kita bulan-bulanannya. Kakak malas, sejak dulu sampai sekarang, tetapi ia dapat disebut berhasil dalam sekolah serta kariernya dan kita tahu pasti itu berkat doa ayah-ibu selain bahwa ia memang tidak bodoh. Pulang mudik bersama suaminya, mereka masih tidur meskipun matahari sudah tinggi dan baru bangun menjelang siang.

Adik selalu merongrong. Minta uang. Tahun ini ia akan lulus SMA dan uang yang ia minta semakin banyak. Sama seperti semua remaja yang mulai berjerawat, adik berpacaran. Cinta monyet. Kita cemas ia tidak mau meneruskan sekolah dan memilih menikah muda. Soalnya ia sudah memperkenalkan pacarnya, seorang entah gadis entah tidak lagi, yang menindik hidung, puser, dan lidahnya. Saat bertemu, kita juga melihat anak itu menyemir rambutnya, mengenakan sepatu bot, dan memakai maskara hijau. Kita pikir adik sudah gila atau kena guna-guna. Namun, pacar adik itu cukup sopan, bahkan untuk ukuran ayah dan ibu. Hanya penampilannya menjengahkan dan bisa membuat orang salah menilainya. Mungkin itu disebut sensasi mengekspresikan diri.

***

Dahlan sekarang sudah menjadi orang. Tahun ini ia pulang mudik membawa Honda CRV edisi terbaru. Ke mana-mana ia membagikan kartu nama. Ia sudah menjabat direktur sebuah BUMN dan suka main golf. Di Aliyah dulu, Dahlan siswa yang jorok. Setelah menjadi pejabat pun ia tidak pandai berpakaian. Bila mengenakan kemeja batik, kancing pada bagian perutnya sering lepas mempertontonkan pusernya karena ia tidak juga mengenakan singlet. Tak jarang ia lupa menaikkan retsleting celananya pula, persis saat masih sekolah. Untuk itu kini ia memiliki asisten yang senantiasa mengingatkannya. Padahal, ia cukup menyiasati kemungkinan keteledorannya dengan mengenakan baju yang lebih longgar dan panjang. Nasib orang tidak ada yang tahu. Orangtua Dahlan sangat bahagia dan suka bercerita mengenai anak mereka.

Sumarni menjadi perancang program komputer. Ia mampu memecahkan semua masalah teknis pelik. Dulu ia menolak dikawinkan setelah lulus kuliah dan bersikeras melanjutkan pendidikan ke Jepang. Pulang dari Jepang ia pergi menuntut ilmu ke Swiss. Kembali dari Swiss ia berangkat lagi mencari pengalaman ke Massachusetts. Ia tidak jelek, hanya tidak terlalu suka bergaul. Ia tidak pernah punya inisiatif memulai pertemanan sehingga orang menganggapnya tertutup dan menjaga jarak dengannya, baik pria maupun wanita. Bila orang mulai bicara soal cowok, gaya berdandan, dan seks, Sumarni biasanya langsung menyingkir. Kini Sumarni pulang membawa sejumlah gelar, termasuk S-4. Rambutnya sudah beruban dan kacamatanya menebal. Tahun ini orangtuanya berancang-ancang menjodohkannya dengan seorang peternak sapi.

Joko, di zamannya siswa paling ganteng di kelas, sekarang menjadi koruptor. Ia mudik untuk meminta maaf kepada ayah-bundanya dan memohon didoakan agar diberkahi rezeki. Ternyata koruptor selama ini menganggap kesempatan yang diperolehnya merupakan limpahan rezeki berkat doa-doanya dan doa orangtuanya. ”Itu sudah rezeki gue, kenapa sirik?” cetus Joko membela diri. Arlojinya kini Rolex Perpetual berantai emas 22 karat. Ia siap membantu warga kampung. Pak RT menerima Rp 10 juta untuk membangun rumah Mak Icih yang hampir roboh. Pak Lurah mendapat Rp 25 juta untuk membantu petani membeli pupuk. Pak Camat konon memperoleh sampai Rp 40 juta entah untuk apa. Semua orang, kecuali KPK, melihat Joko tokoh yang sukses dan murah hati. ”Joko tidak korupsi. Ia mendapat semuanya karena rajin berdoa,” kata Ustaz Jamil.

Kita tidak bisa melupakan Santi. Alisnya, matanya, bibirnya, lehernya, jemarinya, dadanya, pinggangnya, pinggulnya, betisnya, pernah membuat jiwa dan raga kita meradang menerjang. Dulu, melihat atap rumahnya saja kita sudah senang bukan alang kepalang. Sampai mudik ke berapa pun, Santi terlihat cantik dan bersih. Santi telah menikah tiga tahun lalu dengan juragan tahu asal Sukabumi. Kita merasa jengkel dan menyesal, padahal punya banyak peluang menyatakan cinta kepada Santi. Kita malu menjadi pengecut. Setiap kali mudik kita mencari tahu kabar Santi. Tahun ini kita tahu Santi telah diboyong suaminya ke Ciamis. Sepertinya usaha suaminya berhasil dan kita hanya bisa berharap Santi menikmati hidupnya sebagai istri juragan. Cinta memang kadang-kadang tidak mudah. Perlu keberanian untuk membawa cinta keluar dari sekolah. Namun, banyak cinta kehilangan sihir dan sarinya setelah meninggalkan halaman Aliyah.

***

Sekolah merupakan monumen masa lampau. Kita pasti mampir ke sana. Halaman rumputnya terlihat sudah mengering dan menciut skalanya. Sebagian lahan telah dibangun kelas-kelas baru di atasnya. Tak tersisa cukup tempat untuk bermain alip-alipan lagi. Maka, anak-anak sekarang bermain bola melalui PlayStation. Pohon beringin di tengah pekarangan sekolah sudah ditebang dan bekasnya dipasangi paving block. Lonceng yang dipukul sudah diganti dengan bel listrik yang diatur otomatis berbunyi pada waktu tertentu. Pak Maman sudah dipecat sebab tidak dibutuhkan lagi orang untuk memukul lonceng dan memotong rumput. Pak Silitonga, guru fisika, sudah wafat akibat TBC. Ibu Jumilah yang mengajar geografi telah pensiun dan kini sakit-sakitan. Kehidupan guru, entah mengapa, selalu tragis. Setiap kali mudik dan mampir ke sekolah, kita tidak dapat menahan air mata yang tahu-tahu sudah berlinang.

Toko kitab Pak Wongso masih buka. Masih menjual buku mewarnai, komik terbitan lokal, beberapa jilid buku memasak dan menjahit, serta novel-novel lama seperti Cintaku di Kampus Biru dan Hamlet, Pangeran Denmark. Semuanya buku lama atau buku yang asalnya baru tetapi jadi lusuh lantaran lama tak laku-laku. Tak ada buku pelajaran dijual di sini sebab sudah diatur penyalurannya melalui sekolah yang bekerja sama dengan penerbit buku. Kalau Pak Wongso tidak keras kepala, anaknya sudah menutup toko buku ini dan membuka kafe di sini. Pak Wongso tidak mengenal kita lagi tetapi kita mengenalinya. Ia sudah uzur sekali dan kini tidak memiliki gigi. Ajaibnya, ia masih terlihat memakai kacamata kulit kura-kura yang sama yang mungkin akan dikenakannya hingga akhir hayatnya.

Pasar Lama masih bertahan. Kotornya dan baunya juga. Becak-becak yang menutupi sebagian jalur jalan di depan pasar pun ikut bertahan. Tukang-tukang becaknya mengingatkan kita kepada waktu yang berlalu bergegas. Mbok Umi masih berjualan gado-gado dan harganya masih tiga ribu. Bila harga sayur-mayur, tahu, dan kacang naik, Mbok Umi mengurangi porsinya sehingga harga jualnya tetap. Pembeli bertambah sejak Mbok Umi berjualan didampingi putrinya yang saban hari mengenakan tank-top dan jins low-waist. Jika sedang berdampingan, kita dapat mempelajari perubahan zaman dari sosok Mbok Umi dan putrinya. Wak Alang, penjual ikan asin yang suka berkata jorok menggoda ibu-ibu, masih berjualan. Sekarang dia tidak banyak ngomong lagi sejak sering sesak napas belakangan ini. Barangkali sebentar lagi Wak Alang akan mati.

Kantor pos, PLN, PDAM, dan Telkom masih melayani dari gedung yang sama, bahkan pegawainya masih yang dulu-dulu juga. Kiranya suasananya tidak sesibuk dulu. Orang sekarang bisa memilih membayar rekening listrik dan tagihan PAM atau telepon melalui ATM dan tidak perlu mengunjungi fasilitas pelayanan di gedung-gedung tua yang menyeramkan. Ke kantor pos? Untuk apa? Bukankah sejak sepuluh tahun terakhir ini kita tidak pernah berkirim-kirim surat lagi? Waktu seperti berhenti di sini. Mudik seperti kembali ke masa lampau. Bersyukurlah bahwa kita masih sempat mudik untuk menikmati dan menghormati masa silam.

Bandung, 5 Agustus 2011

About these ads

Written by tukang kliping

13 November 2011 at 07:01

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

59 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. semangat!

    nurul

    15 November 2011 at 07:39

  2. fighting!!!!!!!!!!
    to ayahh

    mariachtz ev-roun

    15 November 2011 at 08:08

  3. masa lalu memang yang paling indah ketimbang masa depan.
    banyak orang tersenyum ketika memgingat masa lalu yang gagal dan masa lalu yang pahit karenanya.
    karena masa lalu yang membangkitkan kita ke masa depa,.
    I LOVE MASA LALU….

    mandangin bersatu

    15 November 2011 at 10:47

    • Masa lalu adalah guru yang paling berharga di dunia ini. karena tanpa masa lalu, tiada masa sekarang. cerita indah kita dimasa yang lalu, menjadi sebuah memori indah bagi kita di masa sekarang. so…… jangan pernah terus menoleh kedepan, sesekali lihatlah kebelakang, sebab di masa yang lalu itu, ada kisah kita tertulis dengan indahnya.

      aroel sandika

      8 Januari 2013 at 20:42

  4. Masa lalu…
    Sesal yang ngilu
    Masa lalu…
    Rindu yang merdu

    Tukang Galau Amatir

    15 November 2011 at 12:18

  5. Sederhana … sekaligus menyentuh

    HeruLS

    15 November 2011 at 12:39

    • bner banget….
      like it

      al bkt

      15 November 2011 at 15:09

  6. Hmmmm….
    Aku suka dengan cerpen-cerpen kompas. Karena apa? Hanya cerpen yang unik yang lolos kompas.
    Dan cerpen yang “biasa” ini yang menjadikannya berbeda. Selamat!!

    Beda Saja

    15 November 2011 at 12:41

  7. membuat merenung

    aji ace

    16 November 2011 at 10:03

  8. sesungguhnya yang sederhana itu menawan.seperti kisah pendek ini.yah..hanya sastrawan yang bisa melihat sampai relung terdalam kehidupan.Satu pesan yang saya dapat, bahwa setiap kita adalah unik.Seunik masa depan masing2 yang terbungkus misteri.ada yg sewaktu kecil nakaltak ketulung, eh ketika besar jadi ustadz yang selalu tampil di tipi. Ada yang sewaktu kecil cantik bak ratu, eh ketika besar dipinang peternak sapi. Ada yang sewaktu SMA alim membawa perangai nabi, eh ketika tua jadi koruptor kelas kakap.Hingga kumenyadari bahwa semua kawan adalah istimewa.

    Boehar Berkelana

    16 November 2011 at 11:28

  9. sebuah cerita yg bisa membuat kita dapat merenung sejenak, introspeksi diri dan berharap hari esok akan lebih baik dari hari kemarin… dimulai dari diri kita sendiri dan akan berdampak pada perubahan negara tercinta yg sedang sakit…

    berlian

    16 November 2011 at 11:49

  10. Keren…. banyak kandungan makna tersirat yang melukiskan kondisi real saat ini, tapi dikemas dengan begitu sederhana dan mudah dicerna….

    Widia Sari

    16 November 2011 at 12:13

  11. pengguna bahasa indonesia saat ini sepertinya hendak melupakan kata ganti “Kami” ,, sehingga adi lebih sering menggunakan “kita”… cerita di sini mengajak pembaca ikut masuk? tapi kami kan bukan tokoh yg ada di sana… kenapa dibawa? adi agak aneh bacanya…

    pelangi bahagia

    16 November 2011 at 15:28

  12. Indah

    Kuya Batok

    16 November 2011 at 15:33

  13. mengalir dengan tenang. menghanyutkan.

    pak shodiq

    16 November 2011 at 16:28

  14. jadi ingin reuni….alumni SMAN 1 Bekasi lulusan tahun 88.

    Agus Ariadi

    16 November 2011 at 16:58

  15. Kita tak pernah merasakan indahnya masa lalu jika kita tak ada dimasa ini, masa depan emang benar2 misteri

    nina siswati

    16 November 2011 at 19:35

  16. Karya seni sastra bisa membantu untuk menghaluskan budi, di dalamnya banyak hal yang tidak kita duga dan bisa dipakai sebagai referensi untuk berhidup kita.

    kriwulan

    16 November 2011 at 21:11

  17. cerpen yang mengajak kita rekreasi ke masa lalu, apa pun warnanya

    mas sono

    17 November 2011 at 11:42

  18. sarat makna dan kita ingin berkaca sekarang kita siapa?

    yuli dian

    17 November 2011 at 14:42

  19. Tema dan gaya penulisan sederhana… tapi menghanyutkan :)

    istisubandini90

    17 November 2011 at 14:54

  20. entah kenapa, ada hal-hal yang merasuk hati saya. :)
    syabas…..

    Afsya Kemilau

    17 November 2011 at 15:55

  21. mataku,pikiranku..melekat erat pada huruf huruf yg taut menaut,menuturkan pembayangan,tentang banyak kenangan, dan pandangan tulus yg di biaskan oleh sang-pencerita cerpen ini..hal hal biasa,lumrah terjadi,namun di kisahkan dengan teliti,seolah di tulis tanpa rencana.

    Abi asa

    17 November 2011 at 16:46

  22. meski terlahir dikota maju (Tangerang) tp saya benar-benar terhanyut ketika membaca cerpen ini,seakan-akan saya menemukan apa yang saya cari,saya ikut terbuai dengan kehidupan yang ceritakan sipenulis ^^ *brasa pnya kampung*

    rosondang

    18 November 2011 at 13:46

  23. waduh,

    kurang lebihnya sedikit mirip dengan cerita masa lalu yang pernah ku jalani..

    yesikayesika

    18 November 2011 at 13:56

  24. Masa kini akan menjadi jadul juga pada waktunya, karena itu buatlah masa kini menjadi cerita yang indah untuk masa datang..

    etty tjokro

    19 November 2011 at 07:10

  25. entah mengapa kehidupan guru selalu tragis,guru sekolah dasarku pak kasmudi sekarang ini tampak renta,rumahnya masih yg dulu,tembok bata merah dan beberapa kembang hampir mati di emper depan,anak 2 nya tidak menjadi apa apa..anak pertama menikah dengan pedagang kain,anak kedua menjadi tukang ojek pasar wetan kali,,anak ketiga yg dulu aku sering di beri tugas untuk mengantarnya jajan di serambi sekolah,anak itu di bakar masa pada th 2006 karena melakukan curanmor,anak itu bukan berandalan aku tahu persis,tapi munkin karena pengaruh pertemanan,di tambah uang jajan yg tak pernah bisa ia dapatkan dari ayah yg hanya seorang guru SD..

    Abi asa

    20 November 2011 at 07:24

    • y ampun tragisnya, smoga allah mmblz hal-hal yg baik yg ada dlm khidupannya…

      indah

      23 November 2011 at 15:33

  26. Mantaps…jauh jauh lebih bagus drpada cermin minggu kmrn…ibarat langiit dan bumi dgn cerpen minggu kmrn…simple…mudah dimengerti..ringan…renyah…dan sangat nikmat dibaca dengan secangkir kopi….harusnya kompas slalu memuat cerpen spt ini drpd memuat cerpen yg berbau sara…

    robay

    20 November 2011 at 07:28

  27. Senang sekali membaca penuturan dalam cerpen ini. Sederhana dalam alur dan dalam dari segi sudut pandang. Ini alasan saya mengapa menyukai cerpen di kompas.
    Sukses untuk penulis

    Yunaidi Joepoet

    20 November 2011 at 11:26

  28. menggugah jiwa, membawa kita kemasa lalu yang indah namun getir untuk diingat di kala telah senja…

    tika adwel

    20 November 2011 at 18:50

  29. perubahan, saya seperti diajak melihat globalisasi dengan cara yang lain, mantap!! :D

    Ian Bood

    20 November 2011 at 20:39

  30. Manis sekali. Rasanya seperti brownis dan begitu menggelitik. Saya tidak pernah bosan membacanya.

    Septian Dwi Cahyo

    21 November 2011 at 20:52

  31. Seperti lagu zaman dulu, membangkitkan kenangan.

    ahmad surkati ar

    23 November 2011 at 10:10

  32. membuatku tertegun

    Nevimaizar Maasin

    23 November 2011 at 21:36

  33. ceritanya gak seruu…………

    thycha imuth

    25 November 2011 at 10:37

  34. ceritanya bodoh, apalagi tokoh joko dan ustadz jamil bodoh, pengarangnya bodoh, yang membaca dan menganggapnya tulisan indah bodoh

    penyuka cerpen

    25 November 2011 at 11:19

  35. Heran. Kok banyak yang memojokkan guru. Jadi gentar jadinya. Tapi tidak benar semuanya kok. Saya akan buktikan guru tidak selalu berakhir menyedihkan.

    Hudi

    26 November 2011 at 20:50

  36. Hm.. Nuansa masa lalu memang menyenangkan untuk diingat-ingat dan dideskripsikan. Gaya bahasanya juga bisa membawa kita untuk ikut masuk ke dalam masa lalu itu.

    Tapi, menurut saya, cerpen ini datar, dan rasanya tak ada “cerita” di dalamnya, hanya mengenang-ngenang saja.

    cheers :)

    ariosasongko

    27 November 2011 at 21:19

    • Sebetulnya saya suka pada cara bagaimana penulis mengurai tiap karakter yang beda-beda. Mungkin karena saya punya ayah yang sifatnya sedikit sama dengan penulis, saya mencoba mengikutinya. Kalau kritik yang kata tidak suka atau salut itu memang siap diterima penulis. Termasuk saya yang selalu karya saya masuk tong sampah daripada dimuat.. Bagaimana cara mendetail obyek pengamatan itu, pakai majas dan seterusnya. Saya memang perlu belajar. Jadi ya salut deh…

      andreas Jacob

      28 November 2011 at 14:48

  37. Cukup sugestif, mampu menghadirkan suasana nostalgia dengan kental dan dekat.

    Budi Susetyo

    2 Desember 2011 at 12:35

  38. masa lalu tak mungkin berubah dan takkan bisa dihindarkan, dia adalah memori, dia adalah goresan, dia adalah untaian, dan merupakan anak tangga serta lorong menuju saat ini, maju terus nikmati hari ini dan tak usah berharap hari esok, esok pasti datang walau mungkin tanpa kita

    putu suninta

    11 Desember 2011 at 10:42

  39. Jd pengen mudik biapun g pnya siapa2 lg d sna.. Pngen ktmu ma ank2 smp dlu… Miss u msa lalu

    clanesta

    16 Desember 2011 at 13:46

  40. Seperti membaca laporan mudik.

    Puska Tanjung

    22 Desember 2011 at 18:13

    • tidak ada kebahagiaan hidup yang dapat menghilangkan keharuan masa lalu, dia akan selalu memikat hati.

      asria ali

      31 Desember 2011 at 21:15

  41. semua rasa bisa saya rasakan, sukses untuk kita semua

    Nining andriani

    1 Januari 2012 at 22:59

  42. hanya bisa merindu – masa lalu

    eka

    2 Januari 2012 at 13:06

  43. mudik dan masa lalu..
    menggali kisah yang sempat bersenandung merdu.
    masa lalu-masa depan adalah masa-masa yang sudah dan tetap berjalan.

    semangat:)

    anisa

    19 Januari 2012 at 07:06

  44. Bagus sekali cerpennya, kalau bisa ajarin aku dong tips membuat cerpen yang bagus !!!

    nisrina

    26 Januari 2012 at 12:35

  45. Good short story

    Bank ijaL

    29 Januari 2012 at 14:58

  46. Saya terharu membacanya

    vita

    3 Februari 2012 at 21:03

  47. simple is not always easy,
    sederhana tidak selalu mudah, seperti cerpen ini :)

    Arini

    16 Februari 2012 at 22:01

  48. Salut bt masa lalu… Doa ku untukmu ayahku tercinta

    Lestari

    21 Februari 2012 at 21:39

  49. Saya tidak langsung paham konteksnya, tapi pelan-pelan…

    HeruLS

    11 Maret 2012 at 15:33

  50. Penceritaannya bagus, bahasa yg dgunakan jg gak njelimet..
    tapi koq sampe d akhir cerpen sya gak ketemu “cerita” dari cerpen ini ya..tdk ada konflik, tidak ada inti crita, hanya seperti deskripsi seseorang yang lagi pulang mudik..

    Tapi bagaimanapun salut. Bisa mmbuat saya mneruskan mmbaca sampai akhir tanpa melangkah2 kalimat. ini semua karena kekuatan gaya bahasanya.

    ___ pendapat personal____

    tetehsisi

    31 Maret 2012 at 11:38

  51. kadang masa lalu sering membuat kita jadi ngilu (baca;melankolis)

    uswatun khasanah

    18 Januari 2013 at 19:38

  52. ini nama pengarangnya siapa ya???????????

    rabiah al adawiyah

    1 Februari 2014 at 04:36

  53. tak ada yang abadi……

    yeti wulandari

    18 Februari 2014 at 21:14

  54. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:08


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.546 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: