Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Karangan Bunga dari Menteri

with 63 comments


Belum pernah Siti begitu empet seperti hari ini.

”Pokoknya gue empet ngerti nggak? Empeeeeeeet banget!”

”Kenape emang?” Tanya Ira, sohibnya.

”Empeeeeeeeeeetttt banget!!”

Ah elu! Empat-empet-empat-empet aje dari tadi! Empet kenape Sit?”

Di tengah pesta nikah putrinya, di gedung pertemuan termewah di Jakarta, Siti merasa perutnya mual. Tadi pun belum-belum ia sudah tampak seperti mau muntah di wastafel.

”Emang elu bunting Sit?” Ira main ceplos aje ketika melihatnya.

”Bunting pale lu botak! Gue ude limapulu, tau?”

”Yeeeeeee! Mane tau elu termasuk keajaiban dunie!”

Usia 50, hmm, 25 tahun perkawinan, seperti baru sekarang ia mengenal sisi yang membuatnya bikin muntah dari suaminya.

”Bikin muntah?”

”Yo-i! Bikin muntah….

Hueeeeeekkk!”

Perutnya mual, begitu mual, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih mual. Meski sebegitu jauh tiada sesuatu pun yang bisa dimuntahkannya.

”Bagaimana tidak bikin muntah coba!”

”Nah! Pegimane?”

***

Waktu masih SMU, Siti pernah diajari caranya menulis naskah sandiwara dalam eks-kul, jadi sedikit-sedikit ia bisa menggambarkan adegan di kantor seorang menteri seperti berikut.

Seorang sekretaris tua, seorang perempuan dengan seragam pegawai negeri yang seperti sudah waktunya pensiun, membawa tumpukan surat yang sudah dipilahnya ke ruangan menteri.

Ia belum lagi membuka mulut, ketika menteri yang rambutnya tak boleh tertiup angin itu sudah berujar dengan kesal melihat tumpukan surat tersebut.

”Hmmmhh! Lagi-lagi undangan kawin?”

”Kan musim kawin Pak,” sahut sekretaris tua itu dengan cuek. Sudah lima menteri silih berganti memanfaatkan pengalamannya, sehingga ada kalanya ia memang seperti ngelunjak.

”Musim kawin? Jaing kali’!”

Namanya juga menteri reformasi, doi sudah empet dengan basa-basi. Ia terus saja mengomel sambil menengok tumpukan kartu undangan yang diserahkan itu. Satu per satu dilemparkannya dengan kesal.

”Heran, bukan sanak bukan saudara, bukan sahabat apalagi kerabat, cuma kenal gitu-gitu aja, kite-kite disuru dateng setiap kali ada yang anaknya kawin. Ngepet bener. Mereka pikir gue kagak punya kerjaan apa ya? Memang acaranya selalu malam, tapi justru waktu malam itulah sebenarnya gue bisa ngelembur dengan agak kurang gangguan. Negeri kayak gini, kalau menteri-menterinya nggak kerja lembur, kapan bisa mengejar Jepang?”

Perempuan tua itu tersenyum dingin sembari memungut kartu-kartu undangan pernikahan yang berserakan di mana-mana.

”Ah, Bapak itu seperti pura-pura tidak tahu saja….”

Belum habis tumpukan kartu undangan itu ditengok, sang menteri menaruhnya seperti setengah melempar ke mejanya yang besar dan penuh tumpukan berkas proyek, yang tentu saja tidak bisa berjalan jika tidak ditandatanganinya.

”Tidak tahu apa?”

Menteri itu memang seperti bertanya, tapi wajahnya tak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.

”Masa’ Bapak tidak tahu?”

”Coba Ibu saja yang bilang!”

Perempuan berseragam pegawai negeri itu hanya tersenyum bijak dan menggeleng. Pengalaman melayani lima menteri sejak zaman Orde Baru, membuatnya cukup paham perilaku manusia di sekitar para menteri. Baginya, menteri reformasi ini pun tentunya tahu belaka, mengapa sebuah acara keluarga seperti pernikahan itu begitu perlunya dihadiri seorang menteri, bahkan kalau perlu bukan hanya seorang, melainkan beberapa menteri!

Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi menteri itu sudah bergegas lari ke toilet pribadinya. Dari luar perempuan berseragam pegawai negeri itu seperti mendengar suara orang muntah.

”Hueeeeeeekkkk!!!”

Perempuan itu masih tetap berada di sana ketika menteri tersebut muncul kembali dengan mata berair.

”Bapak muntah?”

Menteri yang kini rambutnya seperti baru tertiup angin kencang, meski hanya ada angin dari pendingin udara di ruangan itu, membasuh air di matanya dengan tissue.

”Sayang sekali tidak,” jawabnya, ”kok masih di sini Bu?”

”Kan Bapak belum bilang mau menghadiri undangan yang mana.”

”Hadir? Untuk apa? Cuma foto bersama terus pergi lagi begitu,” kata menteri itu seperti ngedumel lagi.

“Jadi, seperti biasanya? Kirim karangan bunga saja?”

”Iyalah.”

”Bapak tidak ingin tahu siapa-siapa saja yang mengundang?”

”Huh!”

Sekretaris tua itu segera menghilang ke balik pintu. Menteri itu menggeleng-gelengkan kepala tak habis mengerti. Kadang-kadang orang yang mengawinkan anak ini tak cukup hanya mengirim undangan, melainkan datang sendiri melalui segala saluran dan berbagai cara, demi perjuangan untuk mengundang dengan terbungkuk-bungkuk, agar bapak menteri yang terhormat sudi datang ke acara pernikahan anak mereka.

Apakah pengantin itu yang telah memohon kepada orangtuanya, agar pokoknya ada seorang menteri menghadiri pernikahan mereka?

”Jelas tidak!”

Menteri itu terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia merasa bersyukur karena sekretaris tua yang tiba-tiba muncul lagi itu tidak mendengarnya.

”Apa lagi Bu?”

”Karangan-karangan bunga untuk semua undangan tadi….”

”Ya kenapa?”

Menteri itu melihat sekilas senyum merendahkan dari perempuan berseragam pegawai negeri tersebut.

”Mau menggunakan dana apa?”

Menteri itu menggertakkan gerahamnya.

”Pake nanya’ lagi!”

***

Seperti penulis skenario film, Siti bisa membayangkan adegan-adegan selanjutnya.

Pertama tentu pesanan kepada pembuat karangan bunga. Karangan bunga? Hmm. Maksudnya tentu bukan ikebana yang artistik karena sentuhan rasa, yang sepintas lalu sederhana, tetapi mengarahkan pembayangan secara luar biasa. Bukan. Ini karangan bunga tanpa karangan. Tetap sahih meskipun buruk rupa, karena yang penting adalah tulisan dengan aksara besar sebagai ucapan selamat dari siapa, dan dari siapa lagi jika bukan dari Menteri Negara Urusan Kemajuan Negara Bapak Sarjana Pa.B (Pokoknya Asal Bergelar), yang berbunyi SELAMAT & SUCCESS ATAS PERNIKAHAN PAIMO & TULKIYEM, putra-putri Bapak Pengoloran Sa.L (Sarjana Asal Lulus) Direktur PT Sogok bin Komisi & Co.

Lantas karangan bunga empat persegi panjang yang besar, memble, hanya mengotor-ngotori dan memakan tempat, boros sekaligus mubazir, dalam jumlah yang banyak dari segala arah, berbarengan, beriringan, maupun berurutan, akan berdatangan dengan derap langkah maju tak gentar diiringi genderang penjilatan, genderang ketakutan untuk disalahkan, dan genderang basa-basi seperti karangan bunga yang datang dari para menteri, memasuki halaman gedung pernikahan yang telah menjadi saksi segala kepalsuan, kebohongan, dan kesemuan dunia dari hari ke hari sejak berfungsi secara resmi.

Satu per satu karangan bunga itu akan diurutkan di depan atau di samping kiri dan kanan pintu masuk sesuai urutan kedatangan, agar para tamu resepsi bisa ikut mengetahui siapa sajakah kiranya yang berada dalam jaringan pergaulan sang pengundang.

”Bukan ikut mengetahui,” pikir Siti, ”tapi diarahkan untuk mengetahui. Tepatnya dipameri. Ya, pamer. Karangan bunga untuk pamer.”

Siti jadi mengerti, tak jadi soal benar jika tidak dihadiri menteri, asal para tamu melihat sendiri, bahwa memang ada karangan bunga dari menteri. Ini juga berarti para pengundang seperti berjudi, tanpa risiko kalah sama sekali, karena meski yang diundang adalah sang menteri, yang datang karangan bunganya pun jadi!

Begitulah, saat karangan-karangan bunga itu datang, Siti telah mengaturnya sesuai urutan kedatangan. Ia mencatat dari siapa saja karangan bunga itu datang, karena ia merasa sepantasnyalah kelak membalasnya dengan ucapan terima kasih, atau mengusahakan datang jika diundang pihak yang mengirim karangan bunga, atau setidaknya mengirimkan karangan bunga yang sama-sama buruk dan sama-sama mengotori seperti itu.

”Ah, dari Sinta!”

Ternyata ada juga yang tulus. Mengirim karangan bunga karena merasa dekat dan betul-betul tidak bisa datang. Sinta, sahabat Siti semasa SMU, mengirim karangan bunga seperti itu. Dengan terharu, Siti menaruh karangan bunga dari Sinta di dekat pintu, antara lain juga karena tiba paling awal. Di sana memang hanya tertulis: dari Sinta; bukan nama-nama dengan embel-embel jabatan, nama perusahaan atau kementerian dan gelar berderet.

Tiga karangan bunga dari menteri, karena datangnya cukup siang, berada jauh di urutan belakang, nyaris di dekat pintu masuk ke tempat parkir di lantai dasar. Siti tentu saja tahu suaminya telah mengundang tiga orang menteri, yang proyek-proyek kementeriannya sedang ditangani perusahaan suaminya itu. Suaminya hanya kenal baik dengan para pembantu menteri tersebut, meski hanya tanda tangan menteri dapat membuat proyeknya menggelinding. Tentu pernah juga mereka berdua berada dalam suatu rapat bersama orang-orang lain, tetapi sudah jelas bahwa menteri yang mana pun bukanlah kawan apalagi sahabat dari suaminya itu. Sama sekali bukan.

Maka, dalam pesta pernikahan putri mereka, bagi Siti pun karangan bunga dari menteri itu tidak harus lebih istimewa dari karangan bunga lainnya.

Namun ketika suaminya datang memeriksa, Siti terpana melihat perilakunya.

Itulah, setelah 25 tahun pernikahan, masih ada yang ternyata belum dikenalnya.

Suaminya, yang agak gusar melihat tiga karangan bunga dari tiga menteri saling terpencar dan berada jauh dari pintu masuk, memerintahkan sejumlah pekerja untuk mengambilnya. Ia mengawasi sendiri, agar terjamin bahwa ketika melewati pintu masuk, setiap tamu yang datang akan menyaksikan betapa terdapat kiriman karangan bunga dari tiga menteri.

”Yang ini ditaruh di mana Pak?”

Siti melihat seorang pekerja bertanya tentang karangan bunga dari Sinta, sahabatnya yang sederhana, cukup sederhana untuk mengira karangan bunga empat persegi panjang seperti itu indah, dan pasti telah menyisihkan uang belanja agar dapat mengirimkan karangan bunga itu kepadanya.

”Terserahlah di mana! Pokoknya jangan di sini!”

Siti melihat suaminya dari jauh. Suaminya juga minta dipotret di depan ketiga karangan bunga itu!

Ia merasa mau muntah.

”Hueeeeeeeeeekkkk!!!”

***

Itulah yang terjadi saat Ira bertanya.

”Emang elu bunting, Sit?”

Kampung Utan, Sabtu 3 September 2011. 08:30.

About these ads

Written by tukang kliping

9 Oktober 2011 at 18:31

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

63 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. salah satu cerpen yg saya sukai. Satire tapi riil. seperti PELAJARAN MENGARANG belasan tahun lalu ..bintang 5

    secercahkata

    9 Oktober 2011 at 18:46

  2. hem..mantep padet….sangat sederhana tapi inilah yg namanya: cerpen!!

    R Arumbinang

    9 Oktober 2011 at 19:29

  3. cerpen yang baik, tapi bikin saya bertanya: kalau penulisnya bukan SGA, apakah bisa dimuat di KOMPAS?

    Nini Randa

    9 Oktober 2011 at 19:54

  4. haha, pak seno lucuuuu… bagaikan tiada lagi yang mampu lebih lucu… :D

    argha

    9 Oktober 2011 at 20:59

  5. hmm… pak menteri ko ucapanya gitu ya?
    cerpen nya … maaf …
    saya mau ke toilet dulu … hueeek …

    Langit Kedoya

    9 Oktober 2011 at 21:25

  6. Kurang suka.

    panah hujan

    9 Oktober 2011 at 21:36

  7. ini seperti berjudi tanpa resiko kalah sama sekali,,saya suka kata itu,..
    Sangat riil..

    abi asa

    9 Oktober 2011 at 21:50

  8. Saya suka cerpen2 SGA…….
    pagi tadi saat lihat koran…SGA langsung sarapan aku tinggal, dan menikmati alur2 SGA….
    Love SGA…
    sederhana, namun syarat makna…dan aku suka ilustrasi cerpennya lucu…
    semoga ini bisa menjadi cerpen terbaik kompas 2011 bersama Putu Wijaya

    Kresna

    9 Oktober 2011 at 22:54

  9. Bahasanya unik. Berani memakai bahasa tak populer. Kira-kira boleh ditiru nggak ya? =’P

    sastrakelabu

    10 Oktober 2011 at 00:52

  10. eeemmmmmm

    rara

    10 Oktober 2011 at 10:45

  11. SGA sekarang lebih sering seperti bermain-main dalam karyanya. Tapi, justru di situ letak keseriusannya. Suatu hal yang keren. Salut.

    welli

    10 Oktober 2011 at 12:46

    • Saya selalu ingat nama Anda, akan selalu ingat. Nama besar memang menjadi idaman. Hanya dengan nama besar yang bisa memasukkan cerpen macam ini. Ya, hanya nama besar saja nona… Sukses selalu.

      Tova Zen

      11 Oktober 2011 at 22:19

  12. Sekarang adalah zamannya dimana kita harus mencoba serius untuk tidak serius…
    Love love love it… mantapzzz…
    salam Kemilau…

    AfsyaKemilau

    10 Oktober 2011 at 13:34

  13. simpel tp enak untuk dinikmati….

    kunto

    10 Oktober 2011 at 14:17

  14. Bang karyanya aneh siapa pasangannya Siti! Agak kasar dan membingungkan. Coba anda lebih berani soal laki-laki yang mau jadi penganten bersama laki-laki. Ada karangan bunga dari mentri kan lebih riil tuh!
    Saya memang pengarang nggak pernah dapet kesempatan dari Kompas yang kayaknya mementingkan karya karyawannya aja yang dimuat. Jadi dah nasib saya.. nggak bisa ngetop seperti anda!

    andreas Jacob

    10 Oktober 2011 at 14:29

  15. bagus…3x salam buat SGA :)

    mataairmenulis

    10 Oktober 2011 at 21:25

  16. Membaca cerpen ini, rasanya saya diingatkan dengan budaya ‘pamer’ masyarakat yang berada di daerah saya, yang dengan sikap demikian merasa menunjukkan rasa kebanggan tersendiri yang diekspresikan, ketika mereka secara nyata merasa dekat dengan pejabat (dalam hal ini menteri). Inilah gambaran sosial bila pangkat atau kekuasan dijadikan alat ukur status dan derajat seseorang. Tapi, cerpen ini top deh, kemasannya bagai kemasan cerpen komedi tapi isinya satiran. Rindu pada cerpen SGA setidaknya terbalaskan. Sesudah ini (setelah kembalinya tulisan Djenar, Yanusa Nugroho), SGA, setelah ini semoga Budi Darma, Avianti Armand dan Dewi Ria Utari. Amin.

    Dodi Prananda

    10 Oktober 2011 at 22:41

    • Selain Budi Darma, ane juga rindu Nukila Amal dan Benny Arnas di Kompas

      Kresna

      11 Oktober 2011 at 00:12

    • selain yang nama diatas –saya juga rindu Puthut ea, Mas Veven sp, Farizal Sikumbang, Bli Wayan yang beda, dan yaa… tentu saja Sobat yang juga kuanggap Abang sesama laskar Sumsel Benny Arnas… :)
      Tapi, berharap juga akan muncul nama baru yang karyanya memukau… ;)
      sukses selalu untuk semua sobat peminat dan penikmat sastra.
      Salam Kemilau.

      AfsyaKemilau

      11 Oktober 2011 at 21:12

  17. Mmhh.. Pamer banget. Gak penting d.. Btw, trims atas cerpennya

    Noke

    11 Oktober 2011 at 16:19

  18. sempurna……

    Aa_Kaslan

    11 Oktober 2011 at 22:45

  19. kayak main-main,,,,,
    tak terlalu suka….

    biasa wae lah

    11 Oktober 2011 at 23:18

  20. biasaaaa banget emang bikin empeeet bin sepet! realita negri ini…..baah

    lila minangkani

    12 Oktober 2011 at 00:11

  21. Horeee, akhirnya cerpen Kompas enggak dipoles-poles dengan bahasa yang indah-indah dan rumit… Lebih riil dan seperti begitu nyatanya.

    Saya malah dengar ada walikota yg bahasanya lebih preman dari preman. Pakai makian anjing dan goblok segala.

    ria

    12 Oktober 2011 at 08:02

  22. saya hampir tak percaya cerpen model ini masuk kompas, hingga saya baca nama penulisnya.

    Johanes Koen

    13 Oktober 2011 at 12:26

  23. Sip Mantabs …. enak dibaca dan sangat inspiratif. Sukses ya …

    Pesan karangan bunga

    13 Oktober 2011 at 12:26

  24. Seperti membaca naskah radio bernuansa dagelan. Iya, ndak?

    Paman

    13 Oktober 2011 at 13:21

  25. Saya empet sama cerpen ini…. emmmppppeeeetttt….!

    Bamby Cahyadi

    13 Oktober 2011 at 19:43

  26. beginiliah kalo kompas terlalu mendewakan nama besar, cerpen alay lebay bisa tembus, hmmmmmmmmmmmmm….

    andre

    14 Oktober 2011 at 14:33

    • bagus ah menurut gue ini. sederhana dan berisi -,-

      izza

      28 Oktober 2011 at 09:14

  27. Akun bernama Paman nongol lagi. Jangan bikin ribut di sini dong.

    welli

    15 Oktober 2011 at 18:46

  28. kalau di bawah cerpen ini ada nama miftah fadhli, pasti gak dimuat. Tapi kalau miftah fadhli menyamar jadi seno gumira ajidharma, pasti dimuat. Empeeet deh sama kompas.

    miftah fadhli

    16 Oktober 2011 at 01:17

  29. gitu aja cerpenny? huft….

    rahma

    18 Oktober 2011 at 09:25

  30. membaca seno gumira ajidarma (SGA) dari dulu hingga sekarang, saya menemukan beberapa kecenderungan. pertama, ketika menulis cerita satire, SGA selalu terkesan main-main. simak “Direktur PT Sogok bin Komisi & Co” lalu bandingkan dengan istilah “Pil Budheg dan LUHIL-X”-nya dalam cerpen “Kisah Seorang Penyadap Telepon” sekitar sepuluh tahun silam. SGA seperti hendak memasukkan “dosa” apa pun dari tokoh-tokoh antagonisnya demi untuk mempertegas kritiknya meski kemudian itu terkesan main-main oleh pembaca. kedua, dalam hampir semua cerita satirenya, SGA menulis layaknya Putu Wijaya yang main sikat saja atas imajinasinya. semua yang nempel di batok kepalanya seperti hendak dituangkan begitu saja. tidak ada diksi yang coba-coba dipermanis, misalnya, dengan kalimat2 yang ngelangut. bandingkan cerpen “Karangan Bunga dari Menteri” atau “Guru Sufi Lewat” beberapa tahun lewat dengan “Tujuan: Negeri Senja” atau “Patung” (sila baca kumcer “Iblis Tidak Pernah Mati”).
    demikianlah, saya pikir, SGA memang masih setia dengan “jalan hidup cerita”-nya sendiri. dia tahu, kapan harus ngelangut, kapan harus “asal tulis saja”. bagi sebagian orang yang setiap minggu mengharapkan cerita luarbiasa dari Kompas, apa yang disajikan SGA kali ini memang mengecewakan. tapi bagaimanapun, SGA dan Kompas telah mengajari saya dan juga anda satu hal: hal-hal benar, hal-hal bijak, butir-butir adab harus selalu ditulis, disampaikan, dibacakan pada orang-orang agar kita tidak mudah lupa pada tujuan hidup ini. terima kasih, bung. ini jauh lebih baik daripada cerpen yang semata-mata mengumbar masalah kelamin dan seks meski itu ditulis dengan bahasa yang amboi manisnya…

    sepatukuda

    20 Oktober 2011 at 19:39

  31. menyenangkan, lucu dan gimanaaa gitu

    HeruLS

    22 Oktober 2011 at 19:01

  32. Saya suka dengan bagaimana Om Seno membuka cerpen ini, dan bagaimana pembaca dibawa untuk mencari tahu tentang alasan mengapa Siti merasa empet, dan melalui konstruksi penceritaan itu, Om Seno membawa kita ke sebuah pembahasan yang berbeda sama sekali.

    Saya empet! :)

    ario sasongko

    22 Oktober 2011 at 21:03

  33. Kritik sosial yg nyeni. Rentang waktu hanya jeda antara pertanyaan dan jawaban. Luar biasa. Master.

    Sutomo

    23 Oktober 2011 at 12:19

  34. Menarik sekali membaca cerita ini… menariknya, om SGA… bukan pribadi anda lho ya yang saya maksud, namun posisi anda dalam dunia sastra cerita itu bagaikan seorang mentri yg ada dalam cerita ini, penggemar sastra pada umumnya yang telah mengakrabi karya2 anda dan ingin menjulang besar namanya bagaikan para pengusaha pencari tanda tangan dan lainnya yang ada didalam cerita ini.

    Sementara para pengagum om SGA, yang tidak menyangka akan mendapati, bahwa cerita kali ini tidaklah seperti yang diharapkan, bagaikan istri yang kecewa namun mencoba untuk menerima kenyataan layaknya siti didalam cerita ini.

    Lalu, apa yang mewakili karangan bunga didalam cerita? ‘karangan bunga’ yang hanya unutk pamer2an aja atau yang selayaknya dihargai mengingat ketulusan pemberiannya? Kalo saya sih lebih condong kearah komentar2 yang ada disini. iya ga sih?

    Hihi…benar-benar sebuah cerita yang berwujud kenyataan dalam dunia yang pararel.

    bilski

    24 Oktober 2011 at 02:50

  35. Hmmm sederhana, lucu dan menarik. Sindiran yang mengena.

    S. Nayogo

    24 Oktober 2011 at 05:28

  36. baguuuus jg cerpen’y tpy kurng seruuuuuuuuuuu??????????

    yahaya

    31 Oktober 2011 at 11:39

  37. Khas SGA. Like banget deh pokonya

    Asep Sofyan

    1 November 2011 at 14:30

  38. PENULISNYA KOK GA DI CANTUMMIN…. lumayan bagus dan membantu nih cerpen….
    tolong pencerahannya donkk….

    herry

    3 November 2011 at 16:57

  39. lumayan untuk iseng-iseng nambah kosa kata, emang gitulah budaya kita……………. yang ga patut kita lihatkan ke anak dan cucu

    paiman

    9 November 2011 at 18:27

  40. Like this..

    Derwan

    11 November 2011 at 15:57

  41. Di cerpen ini nama PT, nama gelar, nggak muluk-muluk. Dibuat komedi. Cara ini bikin ane sebagai pembaca ngerti, pernak-pernik tersebut nggak boleh menghalangi maksud cerita.

    Agus

    22 November 2011 at 11:33

  42. menarik…dari gaya dan cerita yg disodorkan.sungguh suatu budaya yg barangkali perlu digeser bahkan ditutup dengan budaya yang lebih mengutamakan kearifan

    farah

    19 Desember 2011 at 12:19

  43. Sederhana banget…………….

    Lani Noor Hasibuan

    19 Desember 2011 at 12:25

  44. MUNaAFIKkkk

    kristina

    30 Desember 2011 at 23:41

  45. sae

    pardan

    2 Januari 2012 at 13:34

  46. paling senang dgn cerpen kyk gini, sindiran yg halus tp jenaka….Kompas patut memuatnya.

    asria ali

    6 Januari 2012 at 21:02

  47. karya yang jujur …

    shiraaldila

    8 Januari 2012 at 14:34

  48. Hahaha, marvelous!

    Jarang-jarang dapat karangan satire yang seperti ini!

    yui211095

    9 Januari 2012 at 11:33

  49. Suka sekali dengan cerita ini.Beneran ndagel yang serius!!!
    Jempol 5 buat Pak SGA….

    innova

    6 Maret 2012 at 15:44

  50. This website was… how do I say it? Relevant!! Finally I have
    found something which helped me. Kudos!

    buy online cigarettes

    1 November 2012 at 12:02

  51. hee………….h” kgk ada seknya

    Erwin

    12 Desember 2013 at 14:39

  52. Huek liat tingkah suami bu siti dan bnyk sekali org2 spt suami bu siti,huekkkkkkk…

    july abas

    2 Februari 2014 at 10:30

  53. PROMO BESAR-BESARAN OLIVIACLUB 100%….!!!!
    promo oliviaclub kali ini adalah promo deposit akan mendapatkan bonus chip sebesar nilai deposit yang disetorkan
    jadi untuk para pecinta poker oliviaclub yang sudah lama mendaftar ataupun yang baru melakukan register.. akan bisa mengikuti promo ini…

    SYARAT DAN KETENTUAN
    1.pemain dapat mengklaim bonus promo melalui live chat kami
    2.pemain yang mengikuti promo tidak akan bisa melakukan WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30 x lipat dari angka deposit.
    3.minimal deposit untuk promo ini adalah Rp.50.000
    maximal deposit adalah Rp.200.000
    apabila ada pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah..
    hanya 200rb yang akan di hitung untuk mendapatkan bonus
    promo ini
    4. apabila pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan
    mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan
    deposit 50rb lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih
    dahulu sebelum dapat mengklaim bonus 100% dari
    angkadeposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. klaim bonus promo berlaku 1×12 jam..
    para pemain diharuskan mengklaim bonus sebelum bermain..jika
    ada pemain yang melakukan deposit dan bermain..
    baru setelah bermain mengklaim bonus..maka tidak akan dilayani
    6.PROMO OLIVIACLUB ini dapat berakhir sewaktu waktu tanpa
    pemberitahuan terlebih dahulu
    7.keputusan pihak OLIVIACLUB tidak dapat diganggu gugat dan
    mutlak

    CARA MENGKLAIM BONUS PROMO :
    1.setelah melakukan register dan deposit maka pemain harus melakukan login dan masuk ke menu memo,tulis subjek klaim voucher promo
    2.admin OLIVIACLUB akan segera membalas memo anda dan
    memberikan kode voucher.
    3.setelah menerima kode voucher silakan menuju menu deposit
    isi kan formulir deposit sebagaimana anda biasa melakukan deposit.
    setelah itu pada kolom keterangan di menu deposit silakan anda tuliskan kode voucher yang telah diberikan
    4.silakan gunakan jasa live chat kami untuk membantu anda dalam mengklaim bonus PROMO OLIVIACLUB

    WARNING….!!!!!
    apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    transfer chip tidak di perbolehkan dan akan di tindak tegas

    regallia soh

    11 Juli 2014 at 03:15

  54. suka gaya alur ceritanya :D

    Nara D. Luffy

    5 Agustus 2014 at 12:27


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.565 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: