Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Salawat Dedaunan

with 61 comments


Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material.

Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah.

Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.

Begitu besarnya pohon trembesi itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke segala arah, membentuk semacam payung, membuat kita pun akan berpikir, masjid ini memang dipayungi trembesi. Cantik sekali.

Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.

Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah, paling banyak 45 orang. Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan, tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya—sebagaimana dilakukan banyak orang. ”Seperti pengemis saja…,” gumamnya. Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak.

Daun-daun trembesi berguguran setiap hari, seperti taburan bunga para peziarah makam. Buah-buahnya yang tua berserakan di halaman. Satu-dua anak memungutnya, mengeluarkan biji-bijinya yang lebih kecil daripada kedelai itu, menjemurnya, menyangrai, dan menjadikannya camilan gurih di sore hari. Jelas tak ada orang yang secara khusus menyapu halaman setiap hari.

Terlalu luas untuk sebuah pekerjaan gratisan. Semua maklum, termasuk Haji Brahim.

***

Suatu siang, seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana, Haji Brahim dan dua pengurus lainnya masih duduk bersila di lantai masjid. Haji Brahim masih berzikir sementara dua orang itu tengah menghitung uang amal yang masuk hari itu.

”Tiga puluh ribu, Pak,” ucap salah seorang seperti protes pada entah apa.

”Alhamdulilah.”

”Dengan yang minggu lalu, jumlahnya 75.000. Belum cukup untuk beli cat tembok.”

”Ya, sudah… nanti kan cukup,” ujar Haji Brahim tenang.

Sesaat ketika kedua orang itu akan berdiri, di halaman dilihatnya ada seorang nenek tua tengah menyapu pandang. Haji Brahim pun menoleh dan dilihatnya nenek itu dengan badan bungkuk, tertatih mendekat.

”Alaikum salam… nek,” jawab salah seorang pengurus, sambil mengangsurkan uang 500-an.

Tapi si nenek diam saja. Memandangi si pemberi uang dengan pandangannya yang tua.

”Ada apa?” tanya Haji Brahim, seraya mendekat.

”Saya tidak perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”

Sesaat ketiga pengurus masjid itu terdiam. Angin bertiup merontokkan dedaunan trembesi. Satu dua buahnya gemelatak di atap.

”Silakan nenek ambil wudu dan shalat,” ujar Haji Brahim sambil tersenyum.

Nenek itu diam beberapa saat. Tanpa berkata apa pun, dia kemudian memungut daun yang tergeletak di halaman. Daun itu dipungutnya dengan kesungguhan, lalu dimasukkannya ke kantong plastik lusuh, yang tadi dilipat dan diselipkan di setagen yang melilit pinggangnya. Setelah memasukkan daun itu ke kantong plastik, tangannya kembali memungut daun berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya….

Ketiga orang itu ternganga. Sesaat kemudian, karena melihat betapa susah payahnya si nenek melakukan pekerjaan sederhana itu, salah seorang kemudian mendekat dan membujuk agar si nenek berhenti. Tapi si nenek tetap saja memunguti daun-daun yang berserakan, nyaris menimbun permukaan halaman itu.

Haji Brahim dan seorang pengurus kemudian ikut turun dan mengambil sapu lidi.

”Jangan… jangan pakai sapu lidi… dan biarkan saya sendiri melakukan ini.”

”Tapi nanti nenek lelah.”

”Adakah yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?” ujar si nenek seperti bergumam.

Haji Brahim tercekat. Ada sesuatu yang menyelinap di sanubarinya.

Dilihatnya si nenek kembali memungut dan memungut daun-daun itu helai demi helai. Dan, demi mendengar apa yang tergumam dari bibir tua itu, Haji Brahim menangis.

Dari bibirnya tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia menggumamkan ”Gusti, mugi paringa aksama. Paringa kanugrahan dateng Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastik.

Haji Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si nenek. Di matanya, si nenek seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan bahwa dirinya sedang mencari jalan pengampunan.

***

Hari bergulir ke Magrib. Dan si nenek masih saja di tempat semula, nyaris tak beranjak, memunguti dedaunan yang selalu saja berguguran di halaman. Tubuh tuanya yang kusut basah oleh keringat. Napasnya terengah-engah. Ketiga orang itu tak bisa berbuat lain, kecuali menjaganya. Ketika maghrib tiba, dan orang-orang melakukan sembahyang, si nenek masih saja memunguti dedaunan.

”Siapa dia?” bisik salah seorang jemaah kepada temannya, ketika mereka meninggalkan masjid. Tentu saja tak ada jawaban, selain ”entah”.

”Nek, istirahatlah… ini sudah malam.”

”Kalau bapak mau pulang, silakan saja… biarkan saya di sini dan melakukan ini semua.”

”Nek, mengapa nenek menyiksa diri seperti ini?”

”Tidak. Saya tidak menyiksa diri. Ini… mungkin bahkan belum cukup untuk sebuah ampunan,” ucapnya sambil menghapus air matanya.

Haji Brahim terdiam. Mencoba mereka-reka apa yang telah diperbuat si nenek di masa lalunya.

***

Malam itu, Haji Brahim pulang cukup larut karena merasa tak tega meninggalkan si nenek. Pengurus masjid yang semula akan menunggui, sepulang Haji Brahim, ternyata juga tak tahan. Bahkan, belum lagi lima menit Haji Brahim pergi, dia diam-diam pulang.

Tak ada yang tahu apakah si nenek tertidur atau terjaga malam itu. Begitu subuh tiba, Mijo yang akan azan Subuh mendapati si nenek masih saja melakukan gerakan yang sama. Udara begitu dingin. Beberapa kali si nenek terbatuk.

***

Peristiwa si nenek itu ternyata mengundang perhatian banyak orang. Mereka berdatangan ke masjid. Niat mereka mungkin ingin menyaksikan si nenek, tetapi begitu bertepatan waktu shalat masuk, mereka melakukan shalat berjemaah. Tanpa mereka sadari sepenuhnya, masjid itu jadi semarak. Orang datang berduyun-duyun, membawa makanan untuk si nenek, atau sekadar memberinya minum. Dan, semuanya selalu berjemaah di masjid.

Dua hari kemudian, tepat ketika kumandang waktu Ashar terdengar, si nenek tersungkur dan meninggal. Orang-orang terpekik, ada yang mencoba membawanya ke puskesmas, tetapi entah mengapa tak jadi.

Hari itu juga polisi datang. Karena semua orang tak tahu siapa keluarga si nenek, akhirnya diputuskan si nenek dimakamkan di halaman belakang masjid.

Ketika semua orang sibuk, Haji Brahim tercekat. Dia tiba-tiba merasa sunyi menyergapnya. Dia menyapu pandang, ada yang aneh di matanya. Dedaunan yang berserak itu lenyap. Halaman masjid bersih. Menghitam subur tanahnya, seperti disapu, dan daun yang gugur ditahan oleh jaring raksasa hingga tak mencapai tanah.

Sudut mata Haji Brahim membasah. ”Semoga kau temukan jalanmu, nek,” gumamnya.

Dan ketika semua orang, yang puluhan jumlahnya itu, secara bersamaan menemukan apa yang dipandang Haji Brahim, mereka ternganga. Bagaimana mungkin halaman masjid bisa sebersih seperti itu.

***

Lama setelah kisah itu sampai kepadaku, aku tercenung. Rupanya, menurut Haji Brahim kepadaku, nenek itu hadir mungkin sebagai contoh. ”Mungkin juga dia memang berdosa besar—sesuai pengakuannya kepada saya,” ucap Haji Brahim kepadaku beberapa waktu lalu. ”Dan… dia melakukan semacam istigfar dengan mengumpulkan sebanyak mungkin daun yang ada di halaman, mungkin begitu… saya tak yakin. Yang jelas, mata kami jadi terbuka. Sekarang masjid kami cukup ramai.”

”Pasti banyak yang mau menyapu halaman,” godaku.

”Iya… ha-ha-ha… benar.”

”Memangnya bisa begitu, Ji?”

”Maksudnya, ampunan Allah? Ya, saya yakin bisa saja. Allah maha-berkehendak, apa pun jika Dia berkenan, masak tidak dikabulkan?” ucap Haji Brahim tenang.

Aku terdiam. Kubayangkan dedaunan itu, yang jumlahnya mungkin ribuan helai itu, melayang ke hadirat Allah, membawa goresan permohonan ampun.

Pinang 982

About these ads

Written by tukang kliping

2 Oktober 2011 at 20:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

61 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kok terasa mirip sekali dengan kisah ini ya…
    kisah nenek pemetik daun…

    http://axe10.blogdrive.com/archive/105.html

    Andhi

    2 Oktober 2011 at 20:45

    • sangat mirip yah

      mas jawa

      2 Oktober 2011 at 22:08

    • Bener jg. Inti cerita mirip 100%. Detail uraian sj yg beda. Tp detail n dramatisasi cerpen ini lbh menarik.

      Sutomo

      23 Oktober 2011 at 12:25

  2. aku juga terdiam,kubayangkan daundaun tersebut mungkin akan kutemukan di depan sana,

    abi asa

    2 Oktober 2011 at 20:56

  3. endingnya kurang menyentuh

    mas jawa

    2 Oktober 2011 at 21:45

  4. kisah yang di kisahkan lagi…

    Propa Nanda

    3 Oktober 2011 at 07:12

  5. Cerpennya bagus, pesannya tersampaikan kpd pembc. Tp kok mirip ya dgn kisah yg di sebut Andhi. Hmm…

    Aiman Bagea

    3 Oktober 2011 at 07:18

  6. bagus cech cerpennya n pesan nya jga bgus

    rara

    3 Oktober 2011 at 08:06

  7. Sip akhi, senang ana baca tulisan akhi, singgah juga ke http://hermansuryantoadaapahariini.wordpress.com

    herman

    3 Oktober 2011 at 09:54

  8. nice, lebih menarik dari minggu lalu :)

    Adhi

    3 Oktober 2011 at 10:47

  9. so far bagus,,, tapi kurang menyentuh…. alurnya begitu datar…

    The Silent Language

    3 Oktober 2011 at 10:49

    • alurnya memang datar, tapi justru kedataran alurnya membuat cerpen ini smkn menarik karena sesuai dg tema dan pesan yg ingin disampaikannya…

      Laili Munashir

      10 Oktober 2011 at 18:45

  10. pesannya oke :) salam buat Yanusa Nugroho

    matairmenulis

    3 Oktober 2011 at 15:31

  11. ini sih kisah klasik yg sudah sring tampil, cma di critain lgi dngan gya bhasa penulisnya…

    dendron

    3 Oktober 2011 at 19:17

  12. Datar. Tanpa gejolak. Semoga bukan lantaran ada “Yanusa Nugroho” di situ.

    sastrakelabu

    3 Oktober 2011 at 21:37

  13. emm… ilustrasinya ‘ngganggu’.

    Desi

    4 Oktober 2011 at 07:24

  14. setuju bang andhi ini persis banget dengan cerpen nenek si pemetik daun

    eka

    4 Oktober 2011 at 10:41

    • persis itu hanya masalah sudut pandang, setiap kisah yang kita buat pasti terpengaruh,.. dari yang pernah kita baca, kita dengar dan kita lihat, for me this is touchful story,…..

      fikri

      4 Oktober 2011 at 13:53

  15. mungkin ini kisah memang sudah beredar luas,, tapi mungkin maksud penulis ingin mengulasnya agar lebih banyak lagi yang membaca,,, dengan begitu pesan dari cerita tersebut tersampaikan… Lebih baik copy cerita baik daripada buat cerita yang tidak mengandung makna serta pesan moral yang disampaikan…

    nice untuk ceritanya,, maju terus penulis ^_^

    aryani

    4 Oktober 2011 at 15:01

  16. Mrp sma crita nenek pemetik daun

    Voyager

    4 Oktober 2011 at 15:20

  17. Mrp atau gak nya tergantung sudut pandang kita msng-msng

    Voyager

    4 Oktober 2011 at 15:24

  18. aku kcwa untuk crpen ini, alurnya datar. konflik yg d bangun kurang greget…
    tapi pesan moral ckup dterima…

    aray rayza alisjahbana

    4 Oktober 2011 at 19:59

  19. aku kcwa untuk crpen ini, alurnya datar. konflik yg d bangun kurang greget

    aray rayza alisjahbana

    4 Oktober 2011 at 20:00

  20. kenapa kita sering lebih peduli pada gaya penulisan, bukan pada apa yang hendak disampaikan? meski cerita seperti ini sering kita dengar, datar, kurang menyentuh, sehingga katanya mengecewakan, tapi seperti iklan, ia harus selalu ditampilkan, sebagai pengingat tentang kebenaran, kebajikan, kebaikan. Kompas telah melaksanakan apa yang seharusnya mereka lakukan: menyuarakan kebenaran, kebajikan, kebaikan–tak peduli dari siapapun, penulis kawakan atau penulis muda. kenapa kita sering nyinyir dengan nama-nama besar? Yanusa Nugroho minggu ini, Sitok Srengenge (soal Bendera tempo hari) adalah contoh . Jangan2 kita yang nyinyir ini hanyalah gerombolan-penulis-malas-yang-sakit-hati karena cerpennya tidak dimuat-muat sama Kompas?!! cekidot!

    sepatukuda

    5 Oktober 2011 at 15:14

  21. bagaimana pun, tetap adalah karya itu dibuat untuk mengajak menjadi baik…
    dan karya itu dibuat adalah dengan susah payah, dengan keringat dan berdarah-darah. menulis atau berkarya itu sakit… jadi plis… jangan pernah menyalahkan atau menjelek-jelekkan karya..
    terima saja yang baik, dan jangan pernah mencela yang buruk.
    semoga kita menjadi tahu dan sadar dan baik…

    salam,
    seseorang…

    Mas Yanusa N, tetap berkarya…!

    oke punya.

    6 Oktober 2011 at 00:01

    • Honor sebuah cerpen nggak bisa buat beli komputer paling murahpun. Apalagi buat hidup sebulan? Tapi Para penikmat cerpen sadis-sadis. Saya terus terang iri dengan penulis lagu. Kalau penulisnya sudah ngetop satu lagu bisa dibayar ratusan juta, belum royaltinya… Penikmat lagu juga lebih menghargai. Mereka nikmati saja lagu yang mereka suka. Ikut bernyanyi, tanpa pernah punya pikiran: “Saya juga bisa menulis lagu seperti ini”… Mas Yanusa, saya suka cerpen-cerpen anda. Luar biasa. Ngomong-ngomong, sebagai penulis beken, sudah punya berapa mobil dari tulisan anda?

      Ronggo Warsito

      30 Oktober 2011 at 21:30

  22. kisah sufisme yang bagus.

    mashuri

    6 Oktober 2011 at 08:50

    • Kalau njiplak memang nggak baik Mas Yanusa. Tapi kalau pembaca awam sih memang salut sih tentang mesjid yang udah pudar lalu terangkat karena sosok nenek yang mati di situ,. Ada yang menolong anda dengan menyatakan menulis dengan keringat dan berdarah-darah jadi berkaryalah yang bagus dan membuka nuansa pembaca!

      Jovian A.J.

      6 Oktober 2011 at 14:07

  23. Tidak ada yang menarik dari cerpen ini selain gaya tutur khas Mas Yanusa Nugroho dalam bercerita, sebagaimana cerpen-cerpennya Mas YN kebanyakan. Cerita terasa begitu datar, terlebih dibagian akhir, terasa begitu ‘hambar’ dan tak tergetar. Tapi, persis kebahagian saya minggu lalu (karena lama tak bersua cerpen Mbak Djenar dan akhirnya dipersuakan), pun pada minggu ini, sudah lama pula rasanya tak membaca cerpen Mas Yanusa Nugroho, dan terbayarkan.

    Dodi Prananda

    6 Oktober 2011 at 14:29

    • Wah, dari komentar anda ini, anda pasti penulis hebat… “Tidak ada yang menarik dari cerpen ini…” hwaduh.

      Ronggo Warsito

      30 Oktober 2011 at 21:33

  24. Trims Yanusa Nugroho… anda tlah berbagi pesan kebaikan melalui cerita ini.. lanjutkan terus karya2 baik anda..

    Genade

    7 Oktober 2011 at 21:56

  25. cerpen nya bagus

    jopards12

    8 Oktober 2011 at 19:18

  26. good banget deh. :)

    Triana

    11 Oktober 2011 at 18:27

  27. Setuju sm sepatu kuda n oke punya

    Voyager

    12 Oktober 2011 at 20:28

  28. ini bagus, sholawat memang hebat

    moh mohsin

    15 Oktober 2011 at 22:46

  29. pingin jadi sosok nenek…

    Erna

    17 Oktober 2011 at 11:10

  30. kerennn

    lovato

    18 Oktober 2011 at 20:19

  31. Cerpen di atas buaguuus sekali. Sangat menyentuh. Endingnya cuakeeep sekali. Demikian komentar saya, semoga berkenan.

    mr.gendru

    21 Oktober 2011 at 14:49

  32. Bagus sangat. Aku suka cerpen sufi begini.

    Sutomo

    23 Oktober 2011 at 11:53

  33. Cerita pendek yang dapat menggetarkan hatiku. dan aku jadi ingin aktif untuk sholat berjamaah ke mesjid.

    Margono

    30 Oktober 2011 at 19:51

  34. Yang tak tergetak memang imannya harus dipertanyakan

    Margono

    30 Oktober 2011 at 19:52

  35. Kayanya udah lama cerita ini muncul..

    Derwan

    11 November 2011 at 16:44

  36. datar? ya, memang gaya Yanusa demikian. tetapi saya pikir kali ini Yanusa tidak terpeleset.

    pak shodiq

    16 November 2011 at 17:26

  37. ini pengarangnya siapa sih, boleh minta biodatanya tidak? soalnya cerpen ini saya buat analisis tugas dari kampus.

    qusy

    7 Desember 2011 at 14:20

  38. pelan dan sederhana

    HeruLS

    11 Maret 2012 at 15:49

  39. terlalu biasa sebagai cerpen terbaik..
    realisme-sufisme. endingnya tak membuat kejutan yang sastrawi. sebagai gagasan cerita ini terlalu sombong melewati garis syariat. menduga ampunan tuhan tanpa menjalani hukum syariat dengan sengaja. lainnya sholat kok munguti daun sampe mati.

    aji

    29 Juni 2012 at 10:50

  40. cerpen ini bagus, tapi terlalu biasa menjadi terbaik. cerpen bercorak realisme-sufisme. tak ada kejutan yang membuat getar. gagasannya pada renungan sufisme, pada akhirnya tampak melawan logika syariat agama. dlm logika syariat ampunan tuhan itu selain minta ampun yang menjalankan syariat agama, contohnya sholat..

    aji

    29 Juni 2012 at 11:08

  41. sebagai sebuah cerita terlalu biasa..tak mampu melalmpaui anjing2 menyerbu kuburan kuntowijoyo sbg cerpen realis. dalam gagasan juga tak memberikan pencerahan kebenaran..apa karena melawan logika syariatny itulah kemudian menjadi terbaik bagi kompas?

    aji

    29 Juni 2012 at 11:21

  42. ide cerita itu emang mahal tp penulis/redaktur dan juri tdk paham hakikat ibadah dan sufisme. sehingga yg ngawur dan asal beda dianggap bagus. krisis estetika. dan dakwah model kontradiktip begini sdh nggak relevan krn cuma pamer keindahan sensasional,bukan keindahan ritme makna yg mengacu pd kenyataan psikis masarakat dlm haus dahaga taukhid… sebuah karya asal beda yg beruntung…

    koclok

    29 Juni 2012 at 23:45

  43. :-)… So touch

    Lae

    6 Juli 2012 at 21:28

  44. Komentarnya pada resek ya. Hahaha, padahal cerita ini bagus, meski tak sebagus Kunang-Kunang di Langit Jakarta yg juga menang.

    Leopold

    18 Juli 2012 at 17:03

  45. [...] dengan 43 komentar [...]

  46. selamat sudahmenjadi cerpen terbaik 2012

    ramajanisinaga

    7 September 2012 at 08:09

  47. ada perbedaan besar antara plagiat dan saduran. PLAGIAT: pengambilan karangan (pendapat) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat) sendiri; jiplakan. sedangkan SADURAN: hasil menggubah dari cerita lain namun tidak merusak garis besar cerita.
    menurut saya dalam karya ini Yanusa Nugroho hanya menyadur dari cerita Nenek Pemetik Daun. Coba saja bandingkan memang ada kemiripan tema dan amanat. Tetapi Yanusa dengan segala kepiawaiannya merangkai kata berhasil mengembangkan cerita dan terbukti ceritanya lebih hidup (bila dibandingkan dengan Nenek Pemetik Daun).
    untuk lebih jelasnya coba tengok http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=11849:yanusa-dan-cerita-rakyat-nenek-pemetik-daun&catid=41:kultur&Itemid=193

    *SEMANGAT untuk Yanusa jangan pernah berhenti berkarya!!!

    L. Seruni

    14 November 2012 at 18:45

  48. tokoh pelaku utama dan sampingan dengan segala prilakunye ape

    irma triardhila kurniasari novita

    19 November 2012 at 18:01

  49. bagus… tapi kok ceritanya mirip kaya khutbah waktu shalat jum’at yaa….

    dimas sukma dianto

    31 Maret 2013 at 21:03

  50. Menarik… jangan tunda waktumu untuk bermohon pengampunan….

    faiz

    9 Agustus 2013 at 08:44

  51. bagiku, sebuah karya sejelek dan sebagus apapun tetap harus diberikan apresiasi., menulis bukan masalah sepele yang idenya hanya kita dapat dari menghayal tapi juga butuh penjiwaan yang besar. itupun kadang akan menimbulkan banyak perbedaan pendapat dari penikmat tentang kebagusan dan kejelekannya. siapapun dia, asal dia penulis, dia tetap hebat bagiku..
    semangat berkarya…

    Nha El Fauzi

    8 April 2014 at 19:24


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.580 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: