Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

TUNGGU!

with 90 comments


Waktu menunjuk pukul tujuh. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.

Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan.

Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di atas tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya saya akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

”Hah?!”

Saya bukan orang yang mengerti bahasa isyarat. Apalagi kalau itu mengandung makna filosofis berat. Saya cuma tahu karena saya merasa. Bukan karena teori-teori yang tercantum dalam buku-buku yang pemikir sepertinya biasa baca. Saya hanya mau mencinta. Apakah lewat buku-buku bermartabat itu baru cinta bisa dicerna?

Ia selalu menyebutkan nama-nama terkenal yang saya tidak kenal. Ia selalu menyebutkan nama-nama yang bahkan di dalam kepala saya pun tak akan lama mengental. Badiout? Platoy? Badut yang letoi, begitu yang selalu ada di dalam kepala saya tercantol. Bukan karena pemikiran mereka tentang kebenaran yang tidak saya pahami. Tapi lebih karena setiap kali melihat badut yang letoi, saya merasa tak sampai hati.

Saya tidak pernah habis pikir mengapa ada karakter semacam badut di sirkus. Rata-rata mereka sebenarnya berbadan kurus. Bermuka tirus. Hanya kosmetik di mukanya memberangus. Dan buntalan di perutnya yang besar membungkus. Sehingga ia kelihatan lucu dan mungkin bagus. Bagi mata orang-orang tua yang membawa anak-anaknya hanya untuk sejenak melupakan haus. Haus hiburan. Haus kebersamaan. Haus tertawa bersama dalam suasana kekeluargaan. Padahal mata anak-anak itu mungkin bisa melihat apa yang ada di balik mata badut-badut. Mata yang bersungut. Dan mulut yang merengut di balik riasan begitu lebar dan memerah di mulut.

Salah satu mata anak-anak itu, adalah mata saya. Mungkin di antara banyaknya anak-anak itu, hanya saya satu-satunya. Melihat badut yang itu-itu saja di setiap pertunjukan sirkus apa pun dan di mana pun juga. Badut yang letoi. Letoi yang adalah seperti tak bersendi dalam bahasa asli Jakarta. Dan selalu ada garis merah di bawah mata mereka seperti air mata. Jadi saya tidak pernah mengerti mengapa mereka menertawakannya. Bahkan sampai sekarang, ketika usia saya menginjak dewasa.

Menertawakan kesedihan. Menertawakan kebersamaan. Menertawakan keadaan merekakah yang terpaksa datang bersama sanak keluarga hanya atas nama kekeluargaan? Menertawakan diri mereka sendiri. Dan untuk itu ada harga yang harus mereka beli?

”Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahaha.”

Akhirnya saya tertawa lepas sebelum ia menjawab reaksi saya. Sangat lepas melebihi tawa saya melihat badut-badut letoi di sirkus. Berikut binatang-binatang yang tidak seharusnya diberangus. Sangat sangat lepas melebihi tawa-tawa dengannya yang sudah hangus.

”Kenapa kamu ketawa, Sayang? Saya kan udah bilang, kalau kamu mau jadikan anak kita, sekarang saatnya. Saya tidak akan bisa kasih anak ke kamu lagi mengingat umur saya sudah lima puluh tahun sekarang. Tapi, saya tidak bisa jamin apakah saya bisa tanggung jawab secara material.”

Kupu-kupu melebarkan sayapnya tepat di depan bebungaan di mana kami duduk. Ia pun melebarkan jangkauan tangannya di mana tangan saya sedang diam merunduk. Mencoba meredam tawa saya yang sudah terdengar seperti orang mabuk. Tenang gerakannya sangat saya tahu sebenarnya memendam rasa amuk. Karena itu segera saya kibaskan tangan itu berpura-pura menghalau nyamuk.

”Kamu…”

”Hah?!”

Saya memotong kalimatnya. Persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika berada di atas arena. Berteriak ketika ada yang mengolok-oloknya. Terjatuh. Mengaduh. Berlari. Tanpa berani memaki. Menghilang ke balik panggung. Disertai dengan sorak-sorai dan tawa menggunung.

Sorak-sorai itu yang mengingatkan saya atas kutipan-kutipan yang disebutkan ia dari nama-nama pemikir. Membuat saya mencibir. Karena ada letupan kembang api di kepalanya. Dan warna-warni serpihan kembang api itu jatuh ke bahunya. Ia tidak pernah mengetahuinya. Maka, ia tak merasakannya. Ketika serpihan kembang api itu melumatnya. Bahkan ketika ia berkata,

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

Tapi di manakah sekarang ia?

”Hah?!”

Terkejut saya ketika bahu ditepuk seseorang.

”Boleh saya ambil bangku yang tak terpakai?”

”Hah?!”

Saya tidak bisa menentukan. Saya sudah menunggu dua jam dengan perut kram akibat pengguguran. Namun ia tak juga datang. Tapi apakah saya harus menyerahkan bangku kosong di sebelah saya ke seseorang? Seseorang yang membutuhkan bangku tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman tak terkecuali perempuan?

”Boleh saya pakai bangkunya, Mbak?”

Saya menatapnya.

”Maaf, ada yang saya tunggu.”

”Waktu?”

Waktu menunjuk pukul tujuh.

Jakarta, 19 Agustus 2011 10:14 AM

About these ads

Written by tukang kliping

25 September 2011 at 10:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

90 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. lamunan seorang djenar… hmmm, mungkin saya pembaca bodoh, tapi sumpah ini datar

    Adhi

    25 September 2011 at 11:45

    • Cerpen yang sangat buruk. Kenapa cerpen seperti ini bisa dimuat Kompas???

      addiiaddoo

      7 Desember 2011 at 19:32

    • cobalah hargai karya orang
      sastra itu sendiri berarti keindahan
      dan sastra itu tidak selalu bsa mnghibur orang yang kurang mnghargainya.
      djenar hebat, cobalah anda menulis, dan rasakan bedanya.

      Eka

      14 Januari 2012 at 08:38

    • @Eka :
      Benar kata addiiaddoo, bukan menghina tapi cerpen ini nggak ada menariknya sama sekali

      W_Master

      14 Desember 2012 at 16:48

  2. Masih bermain rima, tapi tak setangguh “Waktu Nayla”.
    Sungguh bikin bosan, karna terasa dipaksakan.
    Benar, kali ini cerpen Djenar cuma datar.
    Betapapun selamat, sebab Kompas sudi memuat…

    Summer Snow

    25 September 2011 at 12:01

    • saya setuju .. meski hanya sebagai penikmat cerpen… sangat memaksakan rima… kurang sedap dibaca…

      pelangi bahagia

      10 November 2011 at 12:55

  3. Rimanya tidak enak.

    panah hujan

    25 September 2011 at 12:26

  4. wagu…

    martinus subagyo

    25 September 2011 at 12:35

  5. Kecewa berat aku mamen! Ginilah orang kalau sudah nama besar, style cerpebn kompas sudah hilang. Huft.

    Muhadzier Maop

    25 September 2011 at 15:45

  6. Buruk sekali, bertamasyalah sekali-kali sebelum menulis!

    Pang Tuah

    25 September 2011 at 16:10

  7. Hahahahaha… Kompas memang pintar cara menjatuhkan nama besar. Kerja redaktur adalah memuat karya secara lancar. Kalau orang pemilik nama besar masih menulis seperti sampah kesasar, risiko salah benar silakan nikmati secara sabar, tegar, dan tentu saja secara Djenar. xixixixi…

    lidahtinta

    25 September 2011 at 19:39

    • wuahahahaa….. I like your rhyming comment in djenarrr style, but you did more powerful than the ‘kompas’ writerl!!!

      sikucai

      25 September 2011 at 19:54

    • @sikucai: ente kalau mau lihat cerpen si Lidah tinta (Herman RN) ini cak kamu lihat, dan cerpen ini masuk dalam salah satu cerpen pilihan kompas 2010.

      http://cerpenkompas.wordpress.com/2010/08/08/tukang-obat-itu-mencuri-hikayatku/

      Muhadzier Maop

      29 September 2011 at 23:21

    • Wahaha, komentar lidahtinta lebih keren daripada cerpennya. suka deh.
      Bagiku, peduli amat dengan karya-karyanya terdahulu. Kunilai buruk untuk yg sekarang.
      Setuju sama komentarnya, Kompas pintar menjatuhkan nama besar, wahihi.

      HeruLS

      17 Oktober 2011 at 00:43

    • Komentar sadis…. Tulisan Djenar nggak jelek amat. Ada pesan yang ingin disampaikan, dengan cara dia tentu saja…

      Ronggo Warsito

      30 Oktober 2011 at 22:09

  8. Seperti biasa. Suka “ngutak-atik” persenggamaan.

    sastrakelabu

    25 September 2011 at 21:10

  9. Baru kali ini baca cerpen Djenar cukup sekali……. Biasanya dua atau tiga kali….
    Namun kali ini benar2 jelek untuk kualitas Djenar…… Setelah Kunang2 dalam botol Bir bersama Agus Noor…
    Nggak asyik , bagianbadut yg menurutku akan sgt filosofi e… Malah jadi jelek menurutku. Meski aku ngak bisamasuk Kompas
    Sebagai penikmat cerpen koming,kecewa berat

    afanditeguh

    25 September 2011 at 21:26

  10. Ceritanya rancu, dan sepertinya biasa saja. Susunan rimanya keren, cuma ceritanya itu lo. Baru kali ini si liat tulisan mbak Djenar.

    Noke

    25 September 2011 at 22:16

  11. Nggak ngerti. Ceritanya apa ya? Apa saya terlalu bodoh buat paham sastra?

    welli

    25 September 2011 at 22:37

  12. saya blum melahap habis isi cerpen ini.namun saya dpt menyimpulkan cerpen ini terlalu datar,tdk ada gregetnya sama sekali.

    orank.awam

    26 September 2011 at 00:04

  13. “datar”
    tolong kirim karya Anda yang sedatar ini ke kompas
    kira2 tembus g’ ya??
    hihihiii,,,,

    faiqahnalini

    26 September 2011 at 02:28

  14. selalu sibuk dengan kafe…. kafe yg berulang2 dari laman satu ke laman lain…

    rifandalimunthe

    26 September 2011 at 08:24

  15. Mungkin otak kita sdh bertulskan: “Djenar…Djenar….Djenar….!!!”. Jadi seperti bengong, kemudian protes, ketika kita membaca karya dia yg dianggap jelek. Toh dari dulu karya Djenar itu biasa-biasa saja, sama dengan cerpenis lainnya. kadang karyanya bagus, kadang juga jelek, lumrah. Hanya saja Kompas kok teganya menyajikan kpd kita cerpen spt ini. Kan masih ada yang lebih lumayan to ….hehehe……

    R Arumbinang

    26 September 2011 at 09:12

  16. Apa karena Djenar, jadi masuk Kompas?

    fajar

    26 September 2011 at 21:32

  17. Sy pikir, inilah djenar. Setelah 1 kali mengulang, anggapan sy, ini kritik buat “sang badut”. Badut yg mana? Hanya djenar yg tahu. Memang, sy juga sedikit terganggu oleh penggayaan kalimatnya. Tapi paling tidak plotnya cukup menarik.

    Ya, sedikitnya kompas mungkin terpengaruh oleh nama beken. Tp, apa iya lantarun utk menjatuhkan nama besar? Sepertinya itu kesimpulan terburu-buru.

    O'nol

    27 September 2011 at 00:31

  18. gag asik..

    Cerpennya Benny Arnas yang ‘Bujang Jauh’ jauh lebih dahsyat dari ini..

    Sorry to say, this is awful

    Herly

    27 September 2011 at 05:39

  19. Wowww, ini cerpen keren beneeer! Benar-benar bener deh!

    Komen dari asep DOWN, hehehe. Kalau asep UP ya gak tau deeegh.

    Asep Down

    27 September 2011 at 09:46

  20. Tuh kan, ternyata bukan cuma saya aja yang nganggep cerpen ini datar. Rimanya terkesan dipaksakan dan aneh. Beberapa kata jadi gak nyambung dan terkesan membingungkan saat mencernanya—saya lupa di bagian mana, soalnya saya sudah malas membaca ulang.

    Jumali Ariadinata

    27 September 2011 at 10:05

    • yang duduk, merunduk, mabuk, amuk dan nyamuk itu loh, Mas.

      ini cerpen yang baik. tapi sebagai pembaca yang baru saja menemukan blog ini, saya hanya merasa kasihan dengan cerpenis-cerpenis kampung yang masih menunggu antrian untuk dimuat di KOMPAS. saya yakin ada yang lebih bagus dari sekedar beginian. betul sekali jika ada yang sampai berkomentar KOMPAS pintar sekali menjatuhkan nama penulis. dengan tulisan ini, nama Djenar seperti cuma isapan jempol belaka. pembaca mengharapkan karya yang konsisten. makes me wonder: jangan-jangan dari 10 cerpen yang Djenar kirim, inilah yang terbaik dan terpaksa dimuat. kebayang kan kualitas 9 yang lain?

      Nini Randa

      10 Oktober 2011 at 17:36

  21. meskipun hanya sekedar penikmat cerpen n karyaku lum ada yang dimuat, tapi cerpen ini emang datar seh, endingnyaaa :-(……

    gumaisha yahya

    27 September 2011 at 12:02

  22. Saya suka dgn cerpen2 Djenar yg di buku kumcernya: MBSM dan CPTCC. Untuk cerpen ini, ya well said lah komen2 sblmnya. tak ada ledakan apa2 stlh baca cerpen ini. datar. djenar.

    Andante

    27 September 2011 at 16:32

  23. TOP deh… masuk kompas lagi hehe

    Bamby Cahyadi

    27 September 2011 at 20:32

  24. kenapa ga ada nama penulis atau yang buat nyaa?

    Akbar Budiman

    27 September 2011 at 20:45

    • Ada, coba lirik sekali lagi.

      Rhara

      2 Oktober 2011 at 17:16

  25. bingung saya baca ceritanya

    Dimas

    28 September 2011 at 17:53

  26. Nice (y)

    playermusiclvs

    29 September 2011 at 08:22

    • Saya juga heran Kompas memuat karya yang nggak jelas punya Jenar. Kasih kesempatan kek karya orang yang bukan ngetop tapi ceritanya jelas.. Nggak usah kasih honor gede juga tuh orang seneng!

      Jesica Luman

      29 September 2011 at 13:09

  27. andai di novelkan

    Haidar Hafeez

    30 September 2011 at 09:11

  28. pemaksaan rima. jd berebut antra rima dan alur cerita…

    lalu entah yang mana yg akan dicerna…

    sule subaweh

    1 Oktober 2011 at 12:30

  29. setujuuuu,, datar sangat -_-

    Bintang Bumoe

    2 Oktober 2011 at 09:17

  30. satu kata buat djenar, ”sabar”

    satu kata buat djenar, ''sabar''

    2 Oktober 2011 at 10:04

  31. Djenar, kali ini kurang bergairah!

    Midun Aliassyah

    2 Oktober 2011 at 14:22

  32. Lamunan ngelantur. Sayang sekali bakat seninya tdk digunakan untuk menaikkan taraf kemanusiaan yg beradab, keadilan sosial, atau politik yg beretika. Melainkan soal remeh temeh tak bermutu. Maaf ya jika terlalu keras tapi tak tertahankan untuk mengatakannya padamu.

    Sutomo

    2 Oktober 2011 at 16:58

  33. Saya sangat sadar bahwa Minggu ini saya telah dikecewakan KOMPAS atas pemuatan cerpen yang sangat datar ini. Tapi, di lain sisi, saya sangat sadar pula, betapa saya rasanya sangat rindu membaca ceroeb-cerpen Djenar, setelah terakhir kali, cerpen duetnya bersama Agus Noor. Akhirnya, Djenar menulis lagi untuk khalayak pembacanya..

    Dodi Prananda

    4 Oktober 2011 at 15:04

  34. Maaf, seperti nadaku pun sumbang atas cerpen ini.

    Fadly Shally Pratama

    5 Oktober 2011 at 19:26

  35. terlalu terburu2 kyknya ni… 700-an kata, mungkin kl lbh dieksplor bisa lbh baik. tp gw ttp suka cerpen djenar yg khas.. :)

    kunto

    6 Oktober 2011 at 10:59

  36. Wuih enakan baca koment2nya drpd cerpennya…. :P

    Genade

    7 Oktober 2011 at 23:00

    • sama bro,, seru uy hixixiixix :D

      rosiana

      20 Mei 2012 at 01:55

  37. Baru aja baca dua paragraf udah enggak banget.

    Prabu Satya

    9 Oktober 2011 at 02:55

  38. Sungguh, saya rindu sekali menikmati cerpen Djenar..
    dan hanya satu kata untuk cerpen ini: ”Hah?!”

    AfsyaKemilau

    10 Oktober 2011 at 18:29

  39. Betul…. aku sampai melongo baca cerpen ini. Kok bisa ya….? Emang Kompas kehabisan stok cerpen yang lebih bagus? Kecewaaaaa poll

    Faradina Izdhihary

    10 Oktober 2011 at 21:48

  40. membosan kan??

    wedhatama

    13 Oktober 2011 at 18:46

  41. selalu tentang cafe, menunggu, dan cinta yang tak pernah terlepas dari ‘persetubuhan’
    mungkin bisa jadi ciri khas Djenar sebagaimana demikian rupanya, tapi jadi jemu saya nya.

    akayuro

    14 Oktober 2011 at 04:57

  42. ini nih, cerpen berhaluan bebas tanpa norma yang bisa menghancurkan generasi muda. yg jadi pertanyaan; KOK KOMPAS MEMUTANYA? Di mana idealismenya KOMPAS?????

    andre

    14 Oktober 2011 at 14:35

  43. sebagai seorang pembaca, saya merasa tulisan ini terlalu ‘mengambang’ dengan rimanya yang kreatif namun,mbak Djenar terlalu cepat berbangga diri(mungkin). kritikan yang begini banyak semoga jadi sarapan yang akan menghasilkan tenaga buat mbak (kisah selanjutnya ‘mungkin’)

    READERS

    14 Oktober 2011 at 21:28

  44. ceritanya bagus, tp bahasanya ada yang agak jorog

    moh mohsin

    15 Oktober 2011 at 23:13

  45. biasa, djenar. Salah satu penulis yang miskin cerita: selalu tentang ranjang, ah ih ah ih, kelamin. Barangkali pengaruh masa lalu.

    Akhh, kesel jadinya!

    miftah fadhli

    16 Oktober 2011 at 01:25

    • Mohon tidak mudah men-subyekkan tokoh dalam isi tulisan dengan penulisnya. Nilai karyanya, jangan menilai penulisnya. Ibarat bunga, nilai wangi dan indahnya, bukan borok di kaki penanamnya!

      Ronggo Warsito

      30 Oktober 2011 at 21:57

  46. melatih kesabaran…

  47. seperti biasa..cerpen2 djenar bukan lahir dari keliaran imajinasi tapi dr miskinnya imajinasi…

    Videl

    19 Oktober 2011 at 17:13

  48. Biasanya suka dengan cerpen Djenar. Tapi ini koq beda ya? Datar. Harusnya kompas tak hanya melihat nama besar saja.

    S. Nayogo

    24 Oktober 2011 at 06:01

  49. yah, yang paling menonjol memang rimanya.

    kucing ngak ngerti inti ceritanya. apa ini tentang perempuan psycho yang menunggu seseorang yang tak (akan) datang?

    terus berkarya mbak djen!

    kucing senja

    24 Oktober 2011 at 18:40

  50. gag tau mesti komen apa’an…………. xixixixixixixiiiiiiiiii

    irfan dimas

    27 Oktober 2011 at 17:16

  51. Waduh, ada yang baca belum selesai kok sudah berani komentar, ya? Beberapa rimanya memang seperti dipaksakan, nggak jernih mengalir, tapi masih bagus juga, alternatif berbeda dari karya penulis lain. Kompas layak memuatnya juga. Gregetnya ternyata pada si tokoh yang habis melakukan pengguguran kandungan, dan laki-lakinya entah kemana. Tapi sang cewek ternyata juga biasa-biasa saja menjalani kehidupannya. Gambaran cewek sekarang yang cuek dan tangguh?

    Ronggo Warsito

    30 Oktober 2011 at 20:02

  52. CERPEN KOMPAS MEMANG BUKAN SATU2NYA ALAT UKUR DAN MEMANG TAK BISA DIPAKAI SEBAGAI ACUAN YANG TERBAIK DIBANDING MEDIA LAIN… Penilaian bisa sangat bergam, tapi saya yakin para pembaca tahu mana yang benar2 ‘keren’ dan mana yang hanya sekedar karena sudah punya nama besar…

    dd

    31 Oktober 2011 at 14:37

  53. lumayan untuk dibaca sekilas, lumayan untuk dijadikan pembelajaran, selamat untuk semua nama besar yang udah jadi jaminan KOMPAS, wish i could be the one… CONGRATS to all esp Djenar, bukankah selalu ada pembelajaran dari setiap cerpen yang kita nikmati????

  54. cerpennya saru:(

    beibs hunny^^

    15 November 2011 at 06:57

  55. Saya sudah membaca semua cerpen Kompas. Beberapa memang ada yg jelek, bukan hanya cerpen Djenar. Tapi menurut saya, cerpen Djenar kali ini sangat datar, tidak menarik dan seharusnya memang tidak layak masuk KOMPAS. Sepertinya KOMPAS harus evaluasi nih…

    A.M. Mufid

    16 November 2011 at 09:11

  56. ora mutu tenan. buang2 waktu!!

    habibihidayats

    26 November 2011 at 16:03

  57. Djenar ya…

    Ga jauh-jauh dari selangkangan. Mungkin maksudnya biar tampil beda, tapi cara dia berbahasa kenapa cabul ya? Kalo soal terang2an sih saya rasa semua orang bisa.

    Padahal bukan cuma dia yang menulis tentang kelamin…

    csr

    8 Desember 2011 at 14:28

  58. datar memang..,tapi mungkin teknik bercerita dan tema cerita yang digunakan, memang khas Jenar.

    Affan Alfian

    15 Desember 2011 at 10:41

  59. beuuuuu….. arti pilosofinya apaan tuh? Menunggu sesuatu yg tak perlu ditunggu… karena tidak ada tunggu menunggu, kalau mau menunggu awalnya saja. Embuhlah, ane kagak paham…..

    Puska Tanjung

    21 Desember 2011 at 23:11

  60. :)

    likalikuria

    29 Desember 2011 at 01:42

  61. mungkin ku kali ya yg bodoh
    g ngerti bgt jlan ceritay

    INE

    12 Januari 2012 at 14:23

  62. Seperti bukan tulisan Djenar yang saya baca biasanya. Rancu, datar, rima bagian awal cerpen terasa memaksa. Dan bagian badut-badutan yang membosankan. Seharusnya bisa dibuat lebih menarik lagi.

    H.S

    21 Januari 2012 at 19:52

  63. Ragam komentar tentang karya Djenar membuktikan betapa banyak orang yang peduli kepada Djenar. Dan, saya pikir, itulah dahsyatnya Djenar sehingga Kompas memberi ruang untuk memuat cerpennya meski datar, terlepas dari ragam interpretasi tentang karya Djenar itu.

    Sutan Zainuddin

    30 Januari 2012 at 08:32

  64. Saya tak sampai habis membaca cerpen ini. Bosan juga disuguhi kata ‘melenguh’ hampir di setiap cerpen karya Mbak Djenar yg saya baca. Tapi tetap, dia merupakan penulis yang hebat.

    rantinghijau

    12 Februari 2012 at 20:39

  65. walaupun cerpennya ambigu seperti ini..tapi saya menyukai style penulisan anda mbak djenar..mungkin, lain kali anda perlu refreshing dulu untuk beberapa pekan untuk mencairkan ide anda, supaya tulisan anda tidak terkesan kaku seperti ini, dan tentunya lebih bermakna seperti Nayla..:)

    latifa

    23 April 2012 at 15:28

  66. TUNGGU! Menulis adalah mencatat, menulis adalah menyampaikan.
    Maka ketahuilah, Djenar tidak selamanya bisa benar!

    “Datar”
    “Datar”
    “Datar”
    Saya rasa, itu biasa!

    Altruis Jojo

    21 Juni 2012 at 01:54

  67. sungguh..cerpennya jelek banget…gimana Kompas, mbok sekali2 liat cerpen saya Perempuan Yang rindukan Matahari…meski ditolak Kompas berkali–kali, tapi sekarang udah terbit……bagaimana penulis pemula ada jln buat masuk, wong cerpen kayak gini bisa masuk…..

    khadijah Amroe

    23 Juni 2012 at 22:37

  68. pembaca sangat menentukan laku tidaknya suatu karya akan tetapi mengenai kualitas isi cerpen diatas dibutuhkan jam terbang membaca karya sastra yang tinggi…saya yakin semua pegawai kompas berkualitas ……akan tetapi unsur “hayo dah kenal lgsung masuk” semoga tidak ada…dan yang komen negatif di atas “jangan kementhus po’o rek”……….. baca “jangan main-main dengan kelaminmu”..

    cmiww

    5 Juli 2012 at 07:03

  69. Djenar agak memaksakan rima-nya sehingga tercipta kalimat2 yang terlalu panjang dan terbaca tidak enak. Seolah2 orang main musik gak pake ketukan. Di kumcer T(w)itit-nya kesalahan yang sama juga terjadi. Padahal cerpen2 Djenar pra-T(w)itit sangat sangat luar biasa.

    Leopold

    18 Juli 2012 at 17:14

  70. perfectly….

    afief

    27 September 2012 at 14:58

  71. Sangat jauh bila dibanding Pengantar Tidur Panjangnya eka kurniwan

    W_Master

    14 Desember 2012 at 17:07

  72. bosen bca karya djenar (?)…sll soal freesex,rokok n alkohol..dasar seniman sex

    arien

    28 Desember 2012 at 10:47

  73. Untuk yg kontra terhadap mbak Djenar : Sastra itu bebas, belum ada batasan-batasan mengenai sastra. Jadi penulis atau siapapun berhak menulis apapun juga yng ada dalam benak mereka. Apa yang ditulis dalam karya Djenar menggunakan Teori dekonstruksi. Teori yang berusaha untuk menyingkirkan kejadian-kejadian yang sudah ada sebelumnya dengan membuat kejadian baru pralogis.contohnya menyusu ayah. Sastra yang baik adalah sastra yang menggunakan makna konotasi.

    Kam

    12 Maret 2013 at 10:31

  74. nikmati aja, broo,, yg udh pintar nulis juga jgn komen doang,,,

    sachi

    22 Mei 2013 at 04:23

  75. Saya ketiduran baca cerpen ini. Rimanya terlalu dipaksakan, dan ritmenya terlalu patah-patah, jadi terkesan kaku dan membosankan. Selain itu, ceritanya apa ya? Mungkin memang saya yang masih payah, jadi harus belajar lebih banyak.

    Daniel Budiarto

    22 Mei 2013 at 21:09

  76. justru comennya yg menarik…. cerpennya biasa saja, datar, tidak menggairahkan dan sedikit membosankan….

    yeti wulandari

    1 Maret 2014 at 15:15


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.568 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: