Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Perpisahan

with 19 comments


HANS, tiap kali kita berdiri di tepi sungai itu, kamu selalu mengatakan hal yang sama, seraya menunjuk permukaan sungai yang kehijauan dan memantulkan bayangan kita: mereka menemukan tubuh Rosa*) di sini. Alirannya membelah kotamu, mengalir sampai ke Berlin, kota terakhir yang kamu bayangkan sebagai tempat memulai kehidupan baru setelah letih mengelana dan menjauhinya berulang kali.

Tiga hari setelah ibumu meninggal, kamu, kembaranmu Fabian dan ayahmu pergi ke Sungai Spree dan mengenang masa silam yang kini bagai mimpi. Sejak itu kamu ingin lebih dekat dengan mereka. Kamu akan mengunjungi ayahmu sebulan sekali setidaknya jika menetap dan bekerja di Berlin.

Kita sekarang berdiri dan menatap sungai yang sama, di bagian tubuhnya yang lain.

”Hampir tiga belas tahun saya meninggalkan rumah orangtua saya. Setelah Ibu tidak ada, keinginan saya untuk menengok rumah jadi lebih kuat. Kamar saya juga masih ada,” katamu memandang ke seberang sungai.

Sudah dua kali kita bertemu di kota ini. Setelah seminar tentang negara-negara berkembang dan masalah-masalah yang tidak pernah selesai, kita bergegas mencari tempat untuk minum kopi dan menghirup udara luar. Bedanya, ibumu sudah tidak ada.

Namun, ibumu tidak pergi seperti Rosa. Ia meninggal dalam kamar yang tenang ketika kamu tengah mengemudi dengan kecepatan tinggi untuk menemuinya terakhir kali.

Empat hari sebelum itu, ia minta dipindahkan ke sebuah rumah tempat orang-orang menunggu kematian. Ia ingin menyongsong mautnya sendiri.

Seperti apa ibumu waktu hidup, aku ingin tahu, menyesal tidak sempat bertemu dan mulai hanyut dalam kenangan kematian itu.

”Ibu saya seorang guru, kepala sekolah yang baik dan serius bekerja, sangat memperhatikan anak-anaknya, sedikit tidak sabar, dan kadang-kadang khawatir,” katamu.

Kamu menatapku, tapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh. Kamu melihat seseorang yang tidak ada.

”Ibu saya meninggal dengan berani.” Kali ini kamu berseru sambil mengamati permukaan sungai yang mulai bergetar. Bayangan hijau kita masih di situ.

Tidak ada yang ganjil dan keliru dalam pilihan ibumu. Sebagian tubuh yang sekarat sama seperti dia. Mereka sengaja menjauh dari siapa pun yang mengenalnya, yang pernah mesra. Mereka sengaja mencipta jarak yang kelak akan terus memanjang ketika perpisahan itu benar-benar datang.

Ibumu ingin kalian terbiasa dengan ketidakhadirannya atau ia memang ingin melepas semua ikatan dengan kehidupan lebih dini, seperti menuang ikan-ikan kecil di akuarium ke dalam sungai ini dengan kesadaran untuk tidak mencari mereka lagi dan memang mustahil. Ia bahkan berkata pada ayahmu untuk mencari seseorang yang lain sebagai penggantinya. Ia juga sudah melepas ikatan mereka yang membuat kamu dan Fabian ada.

Kamu masih ingat suatu hari bersama ibumu. Musim panas terakhir. Fabian belum kembali dari Frankfurt karena ia harus menunggu pembukaan pameran lukisannya. Ayahmu di lantai bawah. Dari jendela apartemen, puncak-puncak gedung dan langit bersih terlihat jelas dan seolah lebih nyata dari hari-hari sebelumnya karena baru sekarang perhatianmu benar-benar tercurah pada pemandangan di luar sana, ketika tidak banyak yang menyita pikiran kecuali sosok kurus yang terbaring sakit di ranjang.

Ibumu tiba-tiba berkata, lirih, ”Hidup saya begitu indah.”

Kamu tertegun. Tidak percaya Ibumu mengucap kalimat itu, kata-kata yang sangat dalam maknanya dan menghapus seketika sedih yang muncul dari rasa tidak berdaya sekaligus kegagalan untuk berbuat lebih baik dan lebih sering terhadapnya sejak dulu.

Setelah itu, ia tidak berkata sepatah kata pun selama hampir tiga jam. Kamu memijat lembut kaki-kakinya. Kamu belum siap berpisah.

Ketika suara ibumu benar-benar hilang karena sakit yang makin parah, percakapan kalian bertukar dengan sentuhan, sama seperti saat kamu lahir dulu, saat terdorong keluar dari rahimnya yang hangat. Kamu mencari-cari tubuhnya dan sentuhan ibumu adalah rasa aman dan tenang. Kamu ibarat ulat mungil dalam sebuah kepompong, sebelum menjadi kupu-kupu dan terbang.

”Saya sudah pergi ke mana-mana, kadang meninggalkan negara ini dan sekarang saatnya tinggal. Tapi sebenarnya negara yang mana ya? Negara saya sudah tidak ada,” tuturmu seraya tertawa.

Usiamu 10 tahun saat tembok itu hancur. Orang-orang di timur bebas pergi ke barat, lalu kata ”timur” dan ”barat” itu benar-benar lenyap.

Kesenyapan dalam kamar ibumu masih terasa dalam hati, di satu bagian yang selalu kosong setelah ia pergi. Kesenyapan itu pernah menjelma luka yang dalam dan kini bekasnya tetap ada.

”Selalu di sana.” Kamu meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Barangkali orang-orang yang lewat menyangka kita pasangan kekasih.

Di kamar ibumu, benakmu dipenuhi kenangan dari masa kanak-kanak, masa yang sudah lama berlalu serta paling berarti dari semua kenangan, dan inilah yang ganjil dari bagian yang seharusnya sayup itu: semua kesedihan dan kebahagiaan berasal dari sana, ada di masa kini dan terbawa ke masa depan. Suatu hari kamu, Fabian, dan orangtuamu tamasya ke pantai. Angin bertiup dari Laut Baltik. Kamu berlari-lari di pasir. Ibumu berdiri di pinggir pantai, memandang kejauhan. Kamu merasakan butir-butir pasir yang hangat, melihat ombak putih bergulung-gulung. Tiba-tiba ibumu menoleh ke arahmu, melambai seraya tersenyum.

”Musim panas seharusnya lebih panjang.” Suaramu terdengar jauh dan kelam.

Kutatap matamu yang coklat dan ingin mengatakan sesuatu, lalu menganggapnya tidak lagi perlu. Mungkin nanti saja, saat kita punya waktu lebih panjang atau saat kamu sudah siap. Tapi kelihatannya waktu kita pendek, tidak pernah terulang. Apa ya nama perasaan semacam ini? Rasanya seperti sesak dan aku memang mengidap asma. Kamu tersenyum, lalu menatapku sungguh-sungguh, ”Mungkin itu namanya kesedihan.” Setelah itu, kamu melihat ke sungai dan berkata lagi, datar dan pelan, ”Saya tidak tahu. Mungkin juga bukan kesedihan. Hanya kamu yang tahu.” Kita sama-sama menghela napas.

Ayahmu juga terlambat sampai di rumah itu. Perawat mengabarkan bahwa kematian datang lima menit yang lalu dan Ibumu telah pergi bersamanya. Suntikan morfin membuat rasa sakit sama sekali tidak mengganggu prosesi itu, perawat meyakinkan ayahmu yang pucat dan sedih. Ayahmu lantas menghibur diri lebih keras bahwa inilah cara pergi yang diinginkan istrinya.

”Ayah sudah punya seseorang sekarang, yang dia sedikit cinta. Saya senang dia kembali hidup”. Kamu terdengar merestui hubungan mereka.

Udara dingin. Apakah kita akan makan siang di restoran yang sama? Seperti tahun lalu?

”Kita makan di restoran yang sama saja, ya. Pelayannya mungkin masih ingat kita.”

Aku benar-benar letih. Kita melangkah bersisian, meninggalkan tepi sungai. Pohon-pohon menaungi kita. Daun-daun berguguran di trotoar. Kamu sudah memiliki seseorang.

Semalam kamu mimpi aneh.

”Dalam mimpi itu saya berbaring dan ketika saya membuka mata saya, saya melihat Ibu saya berbaring di arah yang berlawanan. Saya lalu bertanya kepadanya, bukankah Ibu sudah meninggal. Ibu saya bilang, dia belum meninggal, tapi hanya koma. Waktu itu saya panik sekali, waduh, bagaimana ini Ibu saya kok hidup lagi padahal Ayah saya sudah dengan seseorang.” Kamu menghela napas.

”Mungkin saya belum sepenuhnya bisa menerima orang lain yang menggantikan Ibu saya dalam hidup Ayah.”

Tiba-tiba kamu berhenti melangkah, ”Tolong kamu pikirkan ini baik-baik. Jangan hidup sendirian. Siapa pacarmu sekarang?”

Aku merengkuh pundakmu, mengajakmu terus melangkah, tiada berkata-kata. Kamu tertawa. Rasanya enak berjalan seperti ini.

”Sudah lama, ya, kita tidak berjalan seperti ini.” Kamu memelukku.

Atau kukatakan saja sekarang?

Tapi aku malah bercerita tentang kematian Ayahku. Setelah dia meninggal, aku pulang ke rumah sebentar untuk menengok ibuku.

Di kamar orangtuaku, ada satu lemari besar khusus untuk menyimpan barang-barang ayah agar tidak berdesakan dengan milik ibu di lemari yang lain. Aku membukanya, melihat pakaianpakaian Ayah tergantung dan terlipat rapi. Waktu kubuka salah satu laci, kutemukan baju baletku waktu berusia tujuh tahun, sepatu baletku yang tali-talinya telah kumal, kacamata-kacamataku waktu di sekolah dasar, jepit-jepit rambut dengan hiasan beruang kecil.

”Barangkali Ayahmu merindukan kamu yang tidak pernah pulang dan benda-benda itu menghiburnya,” katamu pelan.

Udara benar-benar dingin. Patung beruang di muka satu galeri itu tampak begitu tua.

Hans, kita tidak akan bertemu lagi tahun depan atau bahkan sebelum tahun itu tiba. Setelah meninggalkan Berlin, aku akan menulis surat terakhir untukmu: tentang sel-sel penyakit yang berkembang dan menjalar dalam kesenyapan, dan hari-hari yang tidak akan kita miliki lagi di mana pun.***

*) Rosa Luxemburg, seorang tokoh sosialis Jerman. Dia meninggal ditembak pada 1919, mayatnya dibuang ke sungai.

About these ads

Written by tukang kliping

24 Juli 2011 at 08:37

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

19 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Membaca cerpen ini membuat saya mengernyitkan dahi….

    Fikri Pandela

    25 Juli 2011 at 11:39

  2. Mungkin karena keterbatasanku memahami sastra, aku belum bisa menangkap makna cerpen ini…

    mataairmenulis

    25 Juli 2011 at 15:25

  3. (,^^)d ‘akhirnya selesai kubaca….. hehe

    Thole Sui

    25 Juli 2011 at 16:57

  4. :mumet:
    berlatar belakang seorang tokoh yg ga saya kenal kehidupanya,bkin tambah mumet bacanya.
    Yg paham mungkin cuma pembaca2 yg tau kisah tokoh Rosa Luxemburg.

    adikobonks

    25 Juli 2011 at 16:58

  5. Memang sangat sulit untuk mengabarkan kenyataan pahit pada seseorang yang pernah mengalaminya, takut membuka Traumanya kembali.. Terlebih seseorang itu adalah yang kita sukai…. Tapi lebih sulit bila diakhir hidup kita, banyak orang mengelilingi hanya berdasarkan Rasa Kasihan….. Pastikan surat-suratnya sampai yaaah………….!!

    laninoorhasibuan

    26 Juli 2011 at 01:11

  6. Sebagai orang awam terhadap cerpen. Saya berfikir saat pertama kali membaca cerpen ini akan banyak membahas tentang kematian seorang aktivis sosial, atau hampir2 mirip dengan Pohon Jejawi-nya Budi Darma. Namun kecewa munculsaat sampai selesai belum menemukan bagaian mana yang menguatkan makna dibawanya Jerman, Berlin, tembok berlin, bahkan sebuah nama besar Rosa Luxemburg.
    kenapa kalau hanya membahas akan berpisahnya seseorang dengan kekasihnya, tidak di Sungai CIliwung atau dimana gitu? Agar ekspektasi pembaca tidak dikecewakan….

    Tapi mungkin ini adalah strategi penulis dalam membawa imaginasi pembaca lebih dalam.
    Cuma mau ngutip perkataan Gus Mus, kalau kita sudah selesai menulis karya, maka karya itu sudah bukan lagi milik kita. Sepenuhnya milik pembaca

    Teguh Afandi

    26 Juli 2011 at 10:16

  7. Pertama-tama baca saya terasa bosan, lama kelamaan saya merasa hanyut dan tersihir.

    Irena Utama

    27 Juli 2011 at 00:59

    • mungkin saya sedang ngantuk saja, atau mungkin saya dibuat ngantuk… yach, penyakitq klo dah g nyaman ngebaca…lelah diawal buat seamkin letih mnuju akhir (mungkin)

      dzifaminqoa

      28 Juli 2011 at 23:17

  8. daripada cerpen-cerpen Linda Christanty yang lainnya, yang ini agak mengecewakan sebenarnya…

    btw, gara-gara hars log in jadi sedikit nih komentatornya, mana nih yang ‘berbadan besar’??

    Miftah Fadhli

    1 Agustus 2011 at 10:38

    • hehe.. iya.. mana tuh yg suka kasih kripik :p

      sydfitrah

      12 Agustus 2011 at 00:41

  9. Inilah gaya nulis Linda Christanty. Selalu jatuh cinta pada tulisan-tulisan Linda, cerpen dan esai. tapi cerpen-cerpen sebelumnya jauh lebih bagus. Tapi yang ini juga keren kok. bagi yang mengernyitkan dahi, coba deh searching cerpen2 Linda yang lain. Salam sastra!

    Anies Zenevieva

    18 Agustus 2011 at 21:05

  10. Ceritanya bikin nyesek. Pemilihan cara bercerita yang dahsyat. Sukaaa…

    iniDanoe

    19 Agustus 2011 at 06:10

  11. I like it. . .
    Mski agk blum mengerti mksud crtax. .

    Dila

    29 Agustus 2011 at 09:21

  12. Tidak mengerti, tidak dapat poin apa pun.
    Apakah harus tahu tentang tokoh sosialis Jerman itu dulu baru bisa mengerti cerpen itu? Seharusnya tidak.
    Kisah yang terlalu abstrak bagi saya.

    @HeruLS

    5 September 2011 at 14:28

  13. Acak2an niieehh Ceritanya…

    AnDre BhunZz Blank

    10 September 2011 at 23:00

  14. sepertinya sang penulis ingin menikahi agus noor,seperti djenar.

    abi asa

    8 Oktober 2011 at 02:08

  15. qw suka dgn crita ini sangat menerik

    APRILIA

    20 November 2011 at 15:09

  16. Siapakah Linda Christanty?

    Sangat sulit buatku untuk memahami cerpen ini, apalagi menemukan makna darinya. Mungkin permasalahan muncul dari pembaca cerpen pemula :)

    Sepertinya cerpen ini ditulis Linda Christanty dalam bahasa ingris atau jerman, ini hanya terjemahan saja. Saya melihat dari kalimat dan bahasa baku yang digunakan. Dan sayangnya tak semua ekspresi bisa diterjemahkan utuh, sehingga menjadikan cerpen ini terasa kosong.

    Beda Saja

    25 Desember 2011 at 16:25

  17. saya harus cari cerita si tokoh dlu sepertinya untuk mengerti… tapi keren…^^

    Jung Yunra

    11 Maret 2012 at 16:06


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.501 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: