Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata

with 89 comments


(Buat GM)

Aku menunggu setengah jam sampai toko bunga itu buka. Tapi satu jam kemudian aku belum berhasil memilih. Tak ada yang mantap. Penjaga toko itu sampai bosan menyapa dan memujikan dagangannya.

Ketika hampir aku putuskan untuk mencari ke tempat lain, suara seorang perempuan menyapa.

”Mencari bunga untuk apa Pak?”

Aku menoleh dan menemukan seorang gadis cantik usianya di bawah 25 tahun. Atau mungkin kurang dari itu.

”Bunga untuk ulang tahun.”

”Yang harganya sekitar berapa Pak?”

”Harga tak jadi soal.”

”Bagaimana kalau ini?”

Ia memberi isyarat supaya aku mengikuti.

”Itu?”

Ia menunjuk ke sebuah rangkain bunga tulip dan mawar berwarna pastel. Bunga yang sudah beberapa kali aku lewati dan sama sekali tak menarik perhatianku.

”Itu saya sendiri yang merangkainya.”

Mendadak bunga yang semula tak aku lihat sebelah mata itu berubah. Tolol kalau aku tidak menyambarnya. Langsung aku mengangguk.

”Ya, ini yang aku cari.’

Dia mengangguk senang.

”Mau diantar atau dibawa sendiri?”

”Bawa sendiri saja. Tapi berapa duit?”

Ia kelihatan bimbang.

”Berapa duit.”

”Maaf sebenarnya ini tak dijual. Tapi kalau Bapak mau nanti saya bikinkan lagi.”

”Tidak, aku mau ini.”

”Bagaimana kalau itu?”

Ia menunjuk ke bunga lain.

”Tidak. Ini!”

”Tapi itu tak dijual.”

”Kenapa?”

”Karena dibuat bukan untuk dijual.”

Aku ketawa.

”Sudah, katakan saja berapa duit? Satu juta?” kataku bercanda.

”Dua.”

”Dua apa?”

”Dua juta.”

Aku melongo. Mana mungkin ada bunga berharga dua juta. Dan bunga itu jadi semakin indah. Aku mulai penasaran.

”Jadi, benar-benar tidak dijual?”

”Tidak.”

Aku pandangi dia. Dan dia tersenyum seperti menang. Lalu menunjuk lagi bunga yang lain.

”Bagaimana kalau itu?”

Aku sama sekali tak menoleh. Aku keluarkan dompetku, lalu memeriksa isinya. Kukeluarkan semua. Hanya 900 ratus ribu. Jauh dari harga. Tapi aku taruh di atas meja berikut uang receh logam.

Dia tercengang.

”Bapak mau beli?”

”Ya. Tapi aku hanya punya 900 ribu. Itu juga berarti aku harus jalan kaki pulang. Aku tidak mengerti bunga. Tapi aku menghargai perasaanmu yang merangkainya. Aku merasakan kelembutannya, tapi juga ketegasan dan kegairahan dalam karyamu itu. Aku mau beli bunga kamu yang tak dijual ini.”

Dia berpikir. Setelah itu menyerah.

”Ya, sudah, Bapak ambil saja. Bapak perlu duit berapa untuk pulang?”

Aku terpesona tak percaya.

”Bapak perlu berapa duit untuk ongkos pulang?”

”Duapuluh ribu cukup.”

”Rumah Bapak di mana?”

”Cirendeu.”

”Cirendeu kan jauh?”

”Memang, tapi dilewati angkot.”

”Bapak mau naik angkot bawa bunga yang aku rangkai?”

”Habis, naik apa lagi?”

”Tapi angkot?”

”Apa salahnya. Bunga yang sebagus itu tidak akan berubah meskipun naik gerobak.”

”Bukan begitu.”

”O, kamu tersinggung bunga kamu dibawa angkot? Kalau begitu aku jalan kaki saja.”

”Bapak mau jalan kaki bawa bunga?”

”Ya, hitung-hitung olahraga.”

Dia menatap tajam.

”Bapak bisa ditabrak motor. Bapak ambil saja uang Bapak 150 untuk ongkos taksi.”

Aku tercengang.

”Kurang?”

“Tidak. Itu bukan hanya cukup untuk naik Blue Bird, tapi juga cukup untuk makan double BB di BK PIM.”

Dia tersenyum. Cantik sekali.

”Silakan. Bapak perlu kartu ucapan selamat di bunga?”

”Tidak.”

Dia berpikir.

”Jadi, bukan untuk diberikan kepada seseorang? Bunga ini saya rangkai untuk diberikan pada seseorang.”

”Memang. Untuk diberikan pada seseorang.”

”Yang dicintai mestinya.”

”Ya. Jelas!”

”Sebaiknya, Bapak tambahkan ucapannya. Bunga ini saya rangkai untuk diantar dengan ucapan. Diambil dari puisi siapa begitu yang terkenal. Misalnya Kahlil Gibran.”

Aku terpesona lalu mengangguk.

”Setuju. Tapi tolong dicarikan puisinya dan sekaligus dituliskan.”

Ia cepat ke belakang mejanya mengambil kartu.

”Sebaiknya Bapak saja yang menulis.”

”Tidak. Kamu.”

Ia tersenyum lagi mungkin merasa lucu. Lalu menyodorkan sebuah buku kumpulan sajak. Aku menolak.

”Kamu saja yang memilih.”

”Tapi, saya tidak tahu yang mana untuk siapa dulu.”

”Pokoknya yang bagus. Yang positip.”

”Cinta, persahabatan, atau sayang?”

”Semuanya.”

Ia tertawa. Lalu menulis. Tampaknya ia sudah hapal di luar kepala isi buku itu. Ketika ia menunjukkan tulisannya, aku terhenyak. Itu bukan sajak Gibran, tapi kalimat yang ditarik dari sajak Di Beranda Itu Angin Tak Berembus Lagi karya Goenawan Mohamad:

”Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.”

Aku terharu. Pantas Nelson Mandela mengaku mendapat inspirasi untuk bertahan selama 26 tahun di penjara Robben karena puisi.

”Bagus?”

Aku tiba-tiba tak sanggup menahan haru. Air mataku menetes dengan sangat memalukan. Cepat-cepat kuhapus.

”Saya juga sering menangis membacanya, Pak.”

”Ya?”

”Ya. Tapi sebaiknya Bapak tandatangani sekarang, nanti lupa.”

Aku menggeleng. Aku kembalikan kartu itu kepadanya.

”Kamu saja yang tanda tangan.”

”Kenapa saya?”

”Kan kamu yang tadi menulis.”

”Tapi itu untuk Bapak.”

”Ya memang.”

Ia bingung.

”Kamu tidak mau menandatangani apa yang sudah kamu tulis?”

”Tapi, saya menulis itu untuk Bapak.”

”Makanya!”

Ia kembali bingung.

”Kamu tak mau mengucapkan selamat ulang tahun buat aku?”

Dia bengong.

”Aku memang tak pantas diberi ucapan selamat.”

”Jadi, bunga ini untuk Bapak?”

”Ya.”

”Bapak membelinya untuk Bapak sendiri?”

”Ya. Apa salahnya?”

”Bapak yang ulang tahun?”

”Ya.”

Dia menatapku tak percaya.

”Kenapa?”

”Mestinya mereka yang yang mengirimkan bunga untuk Bapak.”

”Mereka siapa?”

”Ya, keluarga Bapak. Teman-teman Bapak. Anak Bapak, istri Bapak, atau pacar Bapak…”

”Mereka terlalu sibuk.”

”Mengucapkan selamat tidak pernah mengganggu kesibukan.”

”Tapi itu kenyataannya. Jadi aku beli bunga untuk diriku sendiri dan ucapkan selamat untuk diriku sendiri karena kau juga tidak mau!”

Aku ambil uangku dan letakkan lebih dekat ke jangkauannya. Lalu aku ambil bunga itu.

”Terima kasih. Baru sekali ini aku ketemu bunga yang harganya 900 ribu.”

Aku tersenyum untuk meyakinkan dia bahwa aku tak marah. Percakapan kami tadi terlalu indah. Bunga itu hanya bonusnya. Aku sudah mendapat hadiah ulang tahun yang lain dari yang lain.

Tapi sebelum aku keluar pintu toko, dia menyusul.

”Ini uang Bapak,” katanya memasukkan uang ke kantung bajuku sambil meraih bunga dari tanganku, ”Bapak simpan saja.”

”Kenapa? Kan sudah aku beli?”

Aku raih bunga itu lagi, tapi dia mengelak.

”Tidak perlu dibeli. Ini hadiah dariku untuk Bapak. Dan aku mau ngantar Bapak pulang. Tunjukkan saja jalannya. Itu mobilku.”

Dia menunjuk ke sebuah Ferrari merah yang seperti nyengir di depan toko.

”Aku pemilik toko ini.”

Aku terkejut. Sejak itulah hidupku berubah.

Jakarta, 30 Juni 2011

About these ads

Written by tukang kliping

17 Juli 2011 at 09:20

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

89 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. menimati cerpen ini. sepertinya sederhana, tapi berkesan …..

    secercahkata

    18 Juli 2011 at 09:46

  2. Awal baca cerpen ini biasa saja tetapi di ujungnya tiba-tiba saya menitikkan air mata…

    wandy indriawan

    18 Juli 2011 at 10:22

  3. karena diluar sana masih ada cinta

    luthfi

    18 Juli 2011 at 10:32

  4. Baru kali ini, berkesempatan membaca cerpen sederhana berisi percakapan saja namun tidak pernah membuat bosan setiap kata yang dituturkan. Kesan yang ditangkap mendalam dan asyik membacanya…..

    afandi

    18 Juli 2011 at 11:22

  5. sedikit tapi Pasti…

    aray

    18 Juli 2011 at 11:45

  6. cerpen apa ini??

    baca dua kalimat di awal ini saja sudah rancu:
    “Penjaga toko itu sampai bosan menyapa dan memujikan dagangannya.” ==> harusnya “memuji” saja lebih baik
    “Aku menoleh dan menemukan seorang gadis cantik usianya di bawah 25 tahun.” ==> harusnya ditambahi kata “yang” menjadi “gadis cantik yang usianya…” lebih menarik kedengarannya*

    koreksi lain? silakan pembaca yg lain, kalau berkenan, menambahkan dengan jujur…

    *catatan:
    lain cerita kalau kalimat yang di-quote di atas merupakan kesalahan ketik dari admin (kalau benar itu yg terjadi saya minta maaf dengan sungguh-sungguh)

    Adhi

    18 Juli 2011 at 12:09

    • coba kirimkan saya cerpen karangan anda

      saya ingin melihat gimana bagusnya?

      atau anda hanya pintar berkomentar saja?

      indonesia ini sudah banyak pengkomentar, jangan ditambah2 in

      daniel

      18 September 2011 at 23:09

    • Setuju dengan balasan Mas Dabiek di atas. Sebenarnya sah sah saja untuk berkomentar, semua orang silahkan berkomentar. Tapi melihat komentar mas Adhi yang menurut saya sangat menghakimi dan subjektif sekali, saya juga jadi ingin lihat cerpen anda.. klik nama saya saja mas, disana bisa mas tahu bagaimana menghubungi saya via internet. :)

      ariosasongko

      18 Desember 2011 at 00:54

    • Mohon maaf mas, kayaknya mas sebelum mengkritik harap belajar sastra & bahasa Indonesia dulu deh. Putu Wijaya disini pake kata “memujikan” karena = berarti memberi pujian atas dagangannya kepada orang lain,,, kalo cerpennya kayak kata mas tadi, “penjaga toko itu sampai bosan menyapa dan memuji dagangannya.” justru jadi aneh mas, menyapa itu kan berarti ada orang lain yang disapa,, kalo memuji berarti ngomong sendiri (berarti abis menyapa pembeli terus ngomong-ngomong sendiri)… beda kalo memujikan,, memujikan itu maksudnya ditujukan kepada orang lain,,, makanya kalo baca cerpen itu luar dalam mas, dari atas sampai bawah, jangan cuma baca sebaris dua baris udah kayak Hakim Agung. Silahkan mengomentari karya orang lain kapan-kapan, tapi kalo mas udah belajar sastra & bahasa Indonesia dengan BAIK dan BENAR.

      Agus Ghulam Ahmad Mashum

      29 November 2013 at 22:20

  7. suka, gak kbnyakan omong kayak bbrapa yg trakhir, spt hny ingin bcrita sj…. thx, mengapa harus putu wijaya… but thx for bring this to me. kmrn mbc d koming, puas!

    gide buono

    18 Juli 2011 at 12:50

  8. simpel…tp mengena!!!

    nani

    18 Juli 2011 at 13:21

  9. Putu Wijaya – Prok Prok Prok

    Amin

    18 Juli 2011 at 13:27

  10. Terharu membaca ini.. sederhana, tajam dan sangat menyentuh hati

    Deasy

    18 Juli 2011 at 13:55

  11. Ini baru cerpen keren!

    Darmawasih Manullang

    18 Juli 2011 at 14:07

  12. bagus-bagus kesederhanaan kata-kata yg mengagumkan…:)

    mataairmenulis

    18 Juli 2011 at 15:12

  13. cerpen ini saya banget! kemarin sabtu saya ulang tahun tapi ga ada yg ngucapin, heuheuheu..
    udah saya duga cerpen ini minggu ini bakalan bagus, soalnya saya baca twitnya goenawan muhammad kemarin. saya sampe nungguin kemarin seharian, ternyata baru dipost disini hari ini. heuheu.
    (jadi terpicu bikin cerpen yg bagus dan dimuat kompas supaya menghilangkan dahaga penikmat sastra akan cerpen bermutu kompas). salam

    rigan

    18 Juli 2011 at 16:18

  14. Cerpen-cerpen di sini adalah karya sastra (walau hanya sastra koran yang terbatas) jadi tidak pada tempatnya kalau dikoreksi secara tata bahasa…l’art pour l’art, seni untuk seni dia bebas sebebas bebasnya.

    disco

    18 Juli 2011 at 17:35

  15. selalu saja ada cinta yang luar biasa- maka akan menjadi luar biasa ketika membaca cerpen ini!

    Slamet Samsoerizal

    18 Juli 2011 at 18:01

  16. Semoga “Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata” menjadi judul buku cerpen Kompas pilihan tahun depan. Saya benar-benar menyukainya. Berkesan dalam kesederhanaan, kaya dalam kebersahajaan =).

    “Aku terharu. Pantas Nelson Mandela mengaku mendapat inspirasi untuk bertahan selama 26 tahun di penjara Robben karena puisi.”

    “Mengucapkan selamat tidak pernah mengganggu kesibukan.”

    … dan saya mengamininya =).

    Rafael Yanuar

    18 Juli 2011 at 18:12

  17. unik ceritanya.. Meski sempet bosen di awal..

    tapi keseluruhan keren lah

    Nyla Baker

    18 Juli 2011 at 18:15

  18. Cerpen ini indah banget…. Saya baca berulang-ulang kemarin.

    vera

    18 Juli 2011 at 18:22

  19. Mantap :D

    bintangbumoe

    18 Juli 2011 at 19:07

  20. Mantap. Suka bgt…

    erich

    18 Juli 2011 at 19:29

  21. Salam Pak Putu…
    Cerpen ini benar-benar memberi efek ‘teror mental’ kepada saya…

    Ikal Hidayat

    18 Juli 2011 at 20:39

  22. keren banget. . .sangat natural dan sederhana, sesederhana air yang tenang.

    gubey

    18 Juli 2011 at 21:00

  23. sederhana.. namun penuh makna

    Pembaca

    18 Juli 2011 at 22:52

  24. top buangettt. 2 jempol tegak berdiri untuk pengarangnya. saya copi buat di blog saya boleh ndak?

    maulana

    18 Juli 2011 at 23:05

  25. Bisa digambarkan tidak, apa djadinja seboeah karya tjerpen jika diboeat tidak dilandaskan hati? Apa akibatnya jika terpatok money oriented, ditulis dengan terburu-buru dan ceroboh? Jelas tidak ada yang bisa disalahkan jika hasilnya jelek, payah, tak bermutu, hambar dan menjengkelkan. Karya cerpen apa ini? Disebut cerpen tidak pantas, dikatakan stensilan, terlalu bagus. Disamakan banyolan juga kurang menarik. Apa tujuanya ini? Kategori apa ini? Sedih apanya? Terharu apanya? Bagus apanya? Menarik mananya? Di mana letak keindahannya? Herannya, kalaupun dikatakan anak baru belajar menulis tidak tepat, karena lolos dipublikasikan di kompas. Jangan katakan redaktur yang salah! Tapi sebutlah pemalas. Boleh saja jika ada yang ngoceh, “hei, bung! Begini-begini sudah tembus kompas, lho!”
    Alasan yang tidak masuk akal kalau berani-berani nekat beralibi macam begitu. Njenengan pikir tembus di kompas ibarat pohon tak tergoyangkan? Sempurna sekali, begitu? Tunggu dulu! Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan!
    Ketika baru satu kalimat membaca, sebenarnya saya sudah tahu bahwa akhirnya akan mengecewakan, akhirnya akan bikin jengkel. Jadi percuma saya rincikan penjelasanya juga. Lebih-lebih saat dihubungkan dengan Nelson Mandela. Jan, bener-bener, ngawur tenan! Jadi kesimpulanya, lain kali kau harus kreatif lagi, Putu! Tidak baik menghidangkan karya semacam itu. Walau demikian, tetap semangat! Saya percaya kau tak sakit hati, jadikanlah ini hanya omong kosong. Untuk selanjutnya, Putu. Silahkan lebih inovatif lagi. Terima Kasih.

    Prof. Dr. Dasuki Ruslam

    19 Juli 2011 at 05:26

    • Maaf Prof. Dr. Dasuki Ruslan…..
      selera orang memang berbeda2….. namun coba dilihat dari segi penceritaan, cerpen ini unik. Kesederhaannya membawa kesan tersendiri saat membaca (menurut saya)…..
      mungkin penerbitan cepen Pak Putu Wijaya ini juga bekaitan dengan penampilan teater pak Putu yang juga diberitakan di kompas. Mungkin ada relasinya……
      namun dari segi kualitas cerpen ini tidak sembarangan menurut saya, kualitas tembus kompas pastinya sudah diperhitungkan.
      Karena pendapat Prof. Dasuki menurut saya asumsi pribadi, maka saya pun memakai asumsi pribadi…..

      Maaf, saya searching di Mbah Google Prof. Dr, Dasuki Ruslam kok belum nemu identitas… ya??? Mungkin dengan nama samaran……… :)
      Atau mungkin baru associate Profesor mungkin………. :)

      sinai pagi

      19 Juli 2011 at 07:50

    • @dasukiruslan, @sinaipagi:

      Saya tidak tahu apakah pak Dasuki Ruslan dan paman adalah orang yang sama meskipun sistem wordpress ini menunjukkan demikian.

      Menurut opini saya sebaiknya hindari argumen ad hominem dalam berkomentar, mengkritisi cerpennya bukan orangnya.

      Selanjutnya diperlukan login ke sistem wordpress atau twitter atau facebook untuk memberikan komentar.

      Terimakasih.

      tukang kliping

      19 Juli 2011 at 08:07

    • mungkin lu termasuk salah seorang yang gak ngerti seni! kalau gak ngerti seni jangan banyak bacot bapak PROF!

      andyka

      27 Desember 2011 at 13:44

    • Mohon maaf pak, mungkin gelar Prof. telah membuat jenengan layaknya Tuhan. Yang bapak tulis itu bukan kritik pak, itu namanya penghinaan. Dan saya kok gak pernah dengar nama jenengan ya? ini saya yang kurang wawasan, apa bapak yang tidak terkenal?
      (jelasnya: saya sangat tidak setuju dengan cara bapak menyampaikan pendapat)

      Agus Ghulam Ahmad Mashum

      29 November 2013 at 22:27

    • JANCUK!

      Agus Ghulam Ahmad Mashum

      29 November 2013 at 22:29

    • Saya berani bertaruh kalo orang yang menghina macam kayak gini gak pernah baca puisinya Goenawan Muhammad “Di Beranda Itu Angin Tak Berhembus Lagi”…

      Agus Ghulam Ahmad Mashum

      29 November 2013 at 22:31

  26. indah sekali cerpen ini, terimakasih pak putu, pak goen

    kakilangit

    19 Juli 2011 at 07:53

  27. meramu hal sederhana menjadi mahadaya, Putu Wijaya memang ahlinya…. saya terbengong bengong usai membaca cerpen ini. Selama tahun 2011 inilah cerpen kompas yg paling memesona saya…

    Mashdar Zainal

    19 Juli 2011 at 12:44

  28. bagus..sederhana tapi ga membosankan

    Rienrienzz MickeyLovers

    19 Juli 2011 at 16:36

  29. [...] Saya akan membocorkan isi cerpennya setelah ini. Jika ingin terlebih dahulu membaca versi lengkapnya, silakan berkunjung ke sini. [...]

    (Buat Saya) | "Fairuz"

    19 Juli 2011 at 17:47

  30. mantap. mengena, jossss lahhhh

    cahandalas

    20 Juli 2011 at 22:39

  31. simpel, menarik, ga repot bacanya. tapi kayaknya kurang dalem. dalam kesederhanaan, kedalaman memang cukup terlihat tapi tingkat kedalamannya masih di permukaan untuk sebuah karya sastra.

    Peppi Kwee

    22 Juli 2011 at 15:45

  32. *baru sempat membaca*
    saya suka! suka sekali :)

    virtri

    24 Juli 2011 at 11:23

  33. walaupun mudah di tebak yang kan di ceritakan,,,saya sangat menikmati kesedrhanaanya ,,,indah hari ini setelah membaca cerpen ini,,,,,,

    Propa Nanda

    25 Juli 2011 at 08:01

  34. Cerpen yang begitu sederhana, tapi begitu meyentuh, mengena, dan kaya makna. Salut buat Pak Putu atas cerpen-nya yang bermutu. Dan terima kasih untuk kompas yang mempublikasikan cerpen yang begitu memikat ini.

    Fikri Pandela

    25 Juli 2011 at 11:22

  35. mampu menciptakan suasana romantis padahal belum ada cinta..
    Nice post.
    :mewek:

    adikobonks

    25 Juli 2011 at 16:39

  36. @Prof. Dr. Dasuki Ruslam,
    udah tau bakal jengkel di awal,kenapa sempet2nya komen? anda sendiri yg mendorong anda untuk jengkel,nyatanya…lebih banyak yg suka drpd yg jengkel,kejengkelan anda malah terlihat SEPERTI keangkuhan untuk memuji karya orang lain,atau MUNGKIN caper?

    adikobonks

    25 Juli 2011 at 17:09

  37. @Prof. Dr. Dasuki Ruslam (lagi)
    kalo tidak mau saya anggap sebagai satu2nya orang yg jengkel dngn cerpen ini,silahkan login worldpress dngn akun lain,dan dukunglah komentar anda tadi,tp jangan copas,biar ga pada curiga. :lol:

    adikobonks

    25 Juli 2011 at 17:12

  38. Judul cerpen ini–yang merupakan petikan puisi GM–kok mirip dengan petikan dramanya Ionesco yang “Kereta Kencana” ya? Apa ada yang tahu mengapa? :D

    Prima Sulistya

    29 Juli 2011 at 17:51

  39. sumpah ini bagus banget,.. aku juga mau ketemu sama pemilik toko bunganya,.

    Dimas Michael

    30 Juli 2011 at 17:58

  40. sedih,,,,, hikz hikz…:'(

    faiqahnalini

    1 Agustus 2011 at 02:15

  41. mantep banget ni cerpen :DD

    Andreas Dwi Mei Setiawan

    13 Agustus 2011 at 17:46

  42. aku sukak macam omong profesor (gadungan?) dasuki ruslan, ada hal yang unik di komentar komentar diantara banyak, analisa prof menarik untuk belajar.

    Muhadzier Maop

    18 Agustus 2011 at 16:49

  43. wawww… +satu kata ajah+ ^_^ b

    kapan aku bisa nulis kayak gini? kapan2… ihihi…

    Juwita Itaita Purnamasari

    19 Agustus 2011 at 10:51

  44. inspirasi untukku

    Eeng Emang 'Gini

    22 Agustus 2011 at 20:54

  45. buagus buanget!!! ga nyangka sm akhirnya!!! bisa buat tugas B.I. nih! hehehe :)

    monica devi

    24 Agustus 2011 at 19:34

  46. Cerpen sehat, tak mencoba membuat rumit dengan diksi yang aneh2 (maunya indah)…. sederhana pesannya dan kuat dalam membangun struktur percakapan diantara tokoh2nya…. bagian akhir bagus, klimaks tak terduga!

    salah satu cerpen keren dan unik dari mas Putu!

    donaLd

    29 Agustus 2011 at 17:21

  47. asikk bgt cerpennya.. mudah dimengerti, ga bikin bosen
    ^^,)

    imalisma

    4 September 2011 at 21:56

  48. Aih, dialog yg mengalir cergas, sederhana, dan indah.
    Saya cuma kurang suka ending yg menampilkan ferrari, karena berlebihan, seperti sinetron indonesia yg suka menampilkan ekstrim kaya & ekstrim miskin. Kesannya, inilah keindahan borjuis.
    Tetap berharap paman cerpenis bisa beri ending yg bisa dinikmati kalangan lebih kebanyakan.
    Tabik

    @HeruLS

    5 September 2011 at 14:51

  49. berksan bgtz

    Rara Puje

    6 September 2011 at 15:43

  50. bagus ,sederhana tapi bener-bener menarik

    tiwwnand

    8 September 2011 at 15:39

  51. Keren…..^_^

    meyafa

    13 September 2011 at 13:36

  52. Jempol. Cerpen ini saya baca berulang-ulang

    Ramdoni

    15 September 2011 at 21:31

  53. ijin share y,,,,
    pesanx bgus bgt,,,,,

    Uphie Efterphie

    16 September 2011 at 08:15

  54. Kok masuk kehatii iiaa..???
    ieghhh Baguss nee crita

    hafsah

    16 September 2011 at 08:35

  55. ceritanya bagus :D

    shella

    16 September 2011 at 15:17

  56. Selama ini aku nulis cuma karena iseng atau hobby doank,….
    tapi setelah baca ini jadi pengen bisa nulis kayak gini juga. Sederhana, tapi tetap enak untuk di nikmati (???).
    keren…………!!!!!….

    Riana

    17 September 2011 at 14:51

  57. :)

    Somad

    18 September 2011 at 16:03

  58. demi apapun saya sangat tidak paham alur cerpen ini :(

    lalaaaaa

    5 Oktober 2011 at 21:07

  59. pengen banget koleksi karyanya putu wijaya…

    Miftach Elmoenif

    9 Desember 2011 at 14:36

  60. saya penggemar berat PUTU WIJAYA. Two thumbs for Mr. PUTU!

    Mardiana Kappara

    15 Desember 2011 at 17:22

  61. saya sudah baca semua kumpulan cerpen I Gusti Ngurah Putu Wijaya dalam buku Yel
    tapi pengen baca lagi
    ada yang tau di mana bisa dapetin buku Yel????

    Muhammad Anwari

    17 Desember 2011 at 20:34

  62. Bagi yang sudah baca puisi “Di Beranda Itu Angin Tak Berembus Lagi”nya Goenawan Mohamad, pasti suasana cerpen ini jadi bikin merinding. :D saya suka dengan cerita ini yang sederhana, tapi diselipkan pula twist-twist yang membuatnya tidak terasa monoton.

    Tapi ending cerpen ini menurut saya terlalu berbunga-bunga, atau mungkin itu memang karena setting cerpen ini di toko bunga? hehe

    ariosasongko

    18 Desember 2011 at 01:03

  63. terharu

    Adi Sudibyo

    25 Desember 2011 at 13:31

  64. wow, sederhana tapi menyentuh!

    andyka

    27 Desember 2011 at 13:40

    • bagus, cerpen yg kreatif….

      asriA ALI

      31 Desember 2011 at 18:49

  65. Kerennn …^^ gak nyangka kalo yang ulang tahun itu justeru orang yang beli bunga itu..
    hm, sederhana tapi awesom….. :))

    sukses terus ya …wat Putu Wijaya :))

    djayanti_only

    2 Januari 2012 at 22:49

  66. sederhana namun indah.

    alvino

    3 Januari 2012 at 23:15

  67. like this (y)

    gratia

    2 Februari 2012 at 19:04

  68. Awalnya saya tidak ada rencana membaca cerpen ini,tapi karena terbaca,e…saya jadi terseret terus utk membacanya sampai selesai…bagi saya org awam,cerpen ini sangat menarik…dialog-dialognya memancing emosi kita.

    Bennykrisna

    29 Februari 2012 at 01:31

  69. kenapa , agkho merasa kehilangan dia tuhan . . . .
    berikan jln yg terbaek untuk ku . . . . .

    kacux

    8 Maret 2012 at 10:40

  70. enak…

    cumasuka

    26 April 2012 at 16:29

  71. kejutan benar benar kejutan,…

    aron syarif

    2 Mei 2012 at 19:48

  72. sederhana dengan ending tak diduga….. :)

    Meyliska Padondan

    20 Oktober 2012 at 12:04

  73. Blehkah aku memiliki bunga ntu. Atau blehkah aku menjadi tangan ketiga bunga ntu?

    Alvin

    28 Maret 2013 at 07:33

  74. Cerpen ini sederhana sekali. Setting waktu juga sangat singkat. Tapi pesan yang tersirat begidu dalam dan begitu menyindir. Bagi orang yang terbiasa membaca karya-karya sastra seperti ini, pasti bisa menikmati pesannya.

    Gio Sugiyono

    21 Agustus 2013 at 14:50

  75. Dialognya berhasil menteror mental saya, membolak balikan keyakinan saya mengikuti opini para tokohnya. Ciri khas mas Putu. Brovo..

    Waris

    30 Desember 2013 at 10:11

  76. kesederhaan yang indah…..

    yeti wulandari

    2 Maret 2014 at 19:55

  77. gaya penulisannya sederhana dan ceritanya juga sederhana.. tapi entah kenapa ada kesan sendiri di cerpen ini.. pesannya bener-bener nyampe ke pembaca :)

    Emilia Dwi Conchitta

    16 April 2014 at 07:14

  78. ini cerpen tahun berapa ?????/

    yulianaindah784@yahoo.com

    20 April 2014 at 14:50

  79. Sudah 3taun terposting. Br baca hari ini. U’re the best

    munichtoberlin

    31 Mei 2014 at 10:38


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.559 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: