Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita

with 77 comments


Ketika kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda.

Lelaki itu kamu panggil Ayah John karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan farmasi. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Menyewakan sebuah rumah buatmu dengan seorang pembantu dan seorang sopir, tapi dia selalu menjemputmu dari rumah ke kantor dan mengantarmu dari kantor ke rumah. Sopir hanya bekerja kalau Ayah John sedang ada tugas keluar daerah, sehingga dengan waktu yang demikian panjang, sopir menyambi kerja sebagai tukang ojek.

Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogya, Lombok dan beberapa daerah lainnya di dalam negeri. Keluar, kalian hanya mengunjungi Singapura, Malaysia dan Thailand karena waktu yang sempit. Namun Ayah berjanji akan membawamu ke sebuah negara di Eropa nanti. “Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia,” kata Ayah John kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.

Kamu pun bahagia, setidaknya sampai saat itu. Ayah John memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Ayah John akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Ayah John.”

Di luar rumah dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah ia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Ayah John sempat menikahimu. Untuk menenangkanmu dia hanya berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor selesai. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat peluruh kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Ayah John berdalih mobilnya dipakai teman dan obat itu milik temannya. Kamu tidak percaya dan kalian bertengkar hebat. Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tapi dilakukan beberapa kali. DIa tak berhenti menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.

“Aku tidak tahu apakah itu pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan suami terhadap istrinya. Tapi aku tidak percaya Ayah John melakukan itu.”

Ketika memeriksakan diri ke dokter kandungan, kamu baru menyadari kandunganmu sudah hancur. Ternyata kamu sudah meminum banyak obat peluruh kandungan yang dilarutkan Ayah John dalam minuman kamu, jauh sebelum kamu menemukan sisa obat itu dalam mobilnya. Dokter mengatakan kamu harus dikuret dan dia bertanya apakah kamu sudah menikah.

Kamu mengangguk di tengah kegalauan yang melanda.

“Saya akan memberi rekomendasi untuk dikuret,” kata dokter itu.

Kamu pulang bukan saja dengan kandungan yang hancur, tetapi juga hati yang lebur. Pupus sudah impianmu untuk memiliki anak dari Ayah John. Isi rahimmu dikosongkan sekosong hatimu. Lalu Ayah John pun pergi darimu tanpa pernah mengatakan apa pun. Rumah kontrakan tidak dibayar lagi, pembantu pulang kampung dan supir sepenuhnya bekerja sebagai tukang ojek karena mobil ditarik Ayah John. Bahkan kemudian kamu pun dikeluarkan dari tempatmu berkerja dengan alasan yang tidak kamu pahami dan tanpa pesangon. Ayah John tidak pernah menjawab panggilan teleponmu. Pesan-pesanmu tak pernah ditanggapinya. Semua kemanisan hidup bersama Ayah John berubah menjadi pahit, lebih pahit dari obat yang diam-diam dilarutkan Ayah John dalam minumanmu.

Dalam keputusasaan itu, kamu kembali ingat masih memiliki keluarga. Kamu kembali kepada keluarga hanya untuk membuat hatimu semakin hancur. Bapak dan ibu menerimamu kembali tetapi tidak mau turut campur dalam persoalanmu karena sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Mereka bahkan tidak pernah mau mendengarkan penderitaanmu akibat perlakuan Ayah John karena menganggapmu sudah cukup dewasa menanggungnya sendiri.

Itu kata-kata yang pernah kamu ucapkan ketika kamu pergi dari rumah untuk hidup bersama Ayah John. “Ayah John bukan saja telah membunuh bayiku, tetapi juga membunuh jiwaku.”

Kamu mengucapkan itu dengan air mata yang mengalir di pipi sambil menatap air hujan mengalir di permukaan kaca. Aku memelukmu dari belakang dan mencium pipimu penuh perasaan. Air mata kita menyatu seperti tubuh kita. Ketika pernyatuan itu terjadi, bahkan diriku dan dirimu tak bisa membedakan mana air mataku dan mana air matamu. Keduanya mengalir di pipiku dan di pipimu menjadi air mata kita.

***

Ketika kamu bercerita tentang apa yang kamu lakukan terhadap lelaki itu, aku menangis sendiri di dalam kamar yang minim cahaya. Tidak ada hujan di luar sana, tidak ada kemacetan dan tidak ada kamu di sini. Hanya ada aku, hati yang patah dan air mata.

Dua tahun kalian menjalin hubungan, jauh lebih lama dibandingkan denganku yang baru dua bulan. Dua tahun bukanlah perjalanan cinta terlama yang pernah kamu lewati. Masa tujuh tahun penuh cinta, tapi dua tahun itulah yang paling berkesan sepanjang hidupmu.

Di kamar sama, kita memulai percakapan soal masa lalumu, masa laluku serta masa depan kita. Kamu tidak bisa datang malam ini karena “ingin mengujungi saudara yang sakit”. Aku menelpon sabelum kamu berangkat. Kita berecerita tentang aroma dan lagu, dua hal yang bisa membangkitkan memori ke masa lalu. Aroma dan lagu mengundang kenangan, kita bersepakat soal itu.

Aku pun menyemprotkan aroma lemon yang lembut ke seluruh tubuh agar bisa mengingatkanmu sampai di dalam tidur. Aku ingat aroma tubuhmu saat kita menangis bersama dan kuyakin itulah kenikmatan terbesar dalam hidupku. Kejadian itu lebih kuat terpatri bahkan bila dibandingkan dengan desahan kita di kamar mandi.

Setelah mengucapkan janji untuk tetap mencintaiku, suaramu lenyap dari telinga tetapi tetap melekat di hatiku. Aku tidak pernah menyangka itulah kata cinta terakhir yang kudengar darimu. Malam itu aku membawa kerinduanku ke keramaian, berharap lelah datang dan pulang dengan kantuk yang mengundangmu lebih cepat dalam impianku.

Sampai hari berganti dan kamu tak hadir dalam mimpiku, kabar darimu belum juga datang. Aku harus menghubungimu karena didorong rasa rindu yang tak tertahankan. Panggilan pertama sampai panggilan yang tidak dapat kuingat tak juga mendapat tanggapan dari kamu. Aku mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban. Haruskah kudatangi rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi?

Kamu pernah mengundangku ke rumah dan memperkenalkanku kepada orang tuamu dan ketiga adik lelakimu. Kamu anak perempuan satu-satunya dan sebagai anak sulung orangtuamu mengharapkan kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik. Kamu diharapkan menjadi tulang punggung keluarga bukan tumpuan tulang selangka Ayah John. Itulah kedatanganku yang pertama sekaligus yang terakhir. Kamu melarangku datang lagi karena kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita. “Bagaimana mereka bisa tahu hubungan kita? Kamu menceritakannya? Bukankan kita sudah sepakat akan merahasiakan sampai mereka dan dunia tahu dengan sendirinya?”

“Aku masih ingat dengan kesepakatan itu. Tapi aku tak ingin mereka tahu lebih cepat.”

“Mereka takkan tahu kalau kamu tidak menceritakannya. Keluargamu mengira kita hanya sahabat. Dunia juga mengira kita sepasang sahabat.”

“Aku bisa membohongi perasaanku dengan kata-kata, tapi tidak dengan mataku.”

Aku menyukai kekhawatiranmu itu dan percaya memang karena itulah kamu melarangku ke rumah lagi. Kalau sekarang aku nekat ke rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi, apakah kamu akan marah?

Panggilan kamu datang ketika aku berada dalam kebimbangan. Aku menyambut suaramu dengan gembira, tetapi kemudian kamu membawa kabar duka. Ayah John kena stroke. Ketika aku mendengar itu pertama kali aku malah menduga itulah kabar gembira sesungguhnya. Kemudian kamu mengatakan dengan jujur selama ini kamu berada di rumah sakit untuk merawat Ayah John.

“Mengapa harus kamu? Bukankah sudah ada keluarganya?”

“Ayah John yang mengharapkan aku datang. Kami merawatnya bersama.”

“Kami?

“Aku, istri Ayah John, dan ke empat anaknya.”

Aku masih belum dapat memahami. Bahkan setelah kamu menjelaskan panjang lebar kalian (kamu, Ayah John, istrinya dan anak-anaknya) sudah berdamai dan sepakat melangsungkan pernikahanmu dengan Ayah John. Itu janji yang akan dipenuhi setelah Ayah John benar benar sembuh.

“Ayah John pernah mengucapkan janji yang sama dulu. Tapi dia mengingkarinya…”

“Beda, sekarang janji di depan keluarganya sendiri dan semuanya menerima. Kami sekarang seperti sebuah keluarga.”

Kamu percaya dengan janji dan perubahan yang cepat sehingga suaramu terdengar sangat bahagia ketika mengucapkan itu. Kamu tidak peduli dengan hariku yang terluka sehingga dengan enteng mengatakan hal itu seperti mengabarkan sebuah berita ada film bagus yang main malam ini.

“Kenapa?” aku mulai tidak mampu mengendalikan emosi setelah sekian lama terdiam, “mengapa kamu lakukan ini kepadaku?

“Maaf, sayang. Aku tahu ini membuatmu sakit. Tapi aku harus mengatakannya. Aku menginginkan seorang anak dari rahimku sendiri.”

Kita pernah sepakat mengadopsi bebrapa anak saat kita hidup bersama. Masihkan kamu ingat dengan semua itu?

Suaramu lalu lenyap dari telingaku dan luka hatiku semakin menganga. Aku tidak percaya kamu melakukan semua ini kepadaku, apa pun alasannya. Kamu membunuh jiwaku dengan membuka kembali cinta lama yang ingin kamu kubur di dasar hatimu paling dalam. Jiwaku baru saja mati tetapi jiwamu baru hidup kembali.

Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil terus menangis. Aku ingin kamu berada di sini dan kita menangis bersama sampai air mata kita menyatu seperti dulu.

About these ads

Written by tukang kliping

29 Mei 2011 at 23:23

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

77 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Apa? Siapa? Di mana? Kenapa? Bagaimana?

    Demikian lurusnya tulisan ini mengisahkan cerita. Sampai2 paman tidak diijinkan berfikir ketika menangkap teks demi teks dalam cerpen ini.
    Tidak ada yang perlu dicermati. Memang, seperti yang sering paman sampaikan, bahwa menyuguhkan hal yang sederhana itu bukan pencabulan sastra. Tapi bukan berarti mengulur2nya dengan arah yang simpang siur. Ada waktunya di mana sastra membutuhkan penggalan tersebut, dg catatan harus jeli menilik lagi kualitas, bukan kuantitas narasinya.
    Kenapa ya? Apa karna bini muda kesayangan paman yang sekali lagi cantiknya luar biasa penambah daya nikmat orgasme paman lagi haid, sehingga pikiran paman keruh waktu membaca ini cerpen, atau karena makna tulisan cerpen kali ini benar2 baku sehingga paman bolak balik mengusap2 dada? Entahlah, yang jelas terasa daya minat baca paman berkurang ketika melahap untaian teks pagi tadi.
    Kalau mengungkapkan perasaan dan pikiran ke dalam media teks tidak harus telanjang, bung! Semisal di sini paman temukan kata menangis, tersedu sedan, dan sejenisnya yang terlalu gamblang! Andai diperindah dg tidak dituangkan secara kasar, apabila mau memaksa pembaca terisak-isak.

    Salah satu penulis yang baik adalah penulis yang bisa membuat pembaca menyalahkan diri, menertawai diri, menangisi diri, mencemooh diri, mengkritik diri, memuaskan diri, membahagiakan diri, menduga diri.

    Membaca ini, paman seperti membaca note anak SMA di facebook saja. Dmikian kering, demikian gersang, demikian hambar, demikian rancu, demikian lemah, demikian demikian lurus, demikian lah apa yang bisa paman rasakan dan sampaikan. Tks

    Pertamax kah paman?

    Paman

    30 Mei 2011 at 01:55

  2. Paman mau curhat, tanpa menyangkut topik cerpen ini, boleh bung kliping?

    Jujur paman berduka lara, nestapa ditikam pilu, diombang-ambing resah, ditampar ombak gelisah. Di sini, di Bumi pertiwi.

    Ketika paman menonton televisi yang tersaji sinetron menjengkelkan, itulah salah satu takdir sebagai orang melarat seperti paman yang hanya bisa menangkap gambar bergerak melalui gelombang UHF, VHF.

    Menilik toko buku, bukan main banyaknya stempel “best seller” berada di rak novel dan sastra. Begitu diamati, ternyata judul teenlit yang penulisnya seolah2 menunjukan ketololannya sendiri, tapi laris manis? Memilukan, ada judul manusia makan kakus, pulang-pulang2 bawa kutang tetangga, binatang ngesot, dan berderet2 lagi buku yang isinya serupa. Berlomba2 melugukan dan menololkan diri untuk menulis, dan anehnya tembus jadi best seller. Padahal isinya humor2 kering tidak jelas arah dan maknanya. Saking tidak lucunya paman dibikin tertawa. Sementara, di rak sebelahnya, terdapat buku lesu penuh debu tanpa jamahan tangan. Adalah karya abangku tersayang yaitu Mas Pram.
    Aku pura2 bertanya pada mereka (mayoritas anak muda) “Kenapa kalian tidak baca buku mas pram?”
    Mereka mengerutkan jidat dan menjawab sambil tertawa “Siapa ya? Pengarangnya gak kenal. Kata-katanya gak nyambung, isinya gak berbobot, kolot!”
    Dari jawaban mereka paman merasa prihatin dengan selera anak muda ini jaman.
    Band2 penjual tampang laris meskipun nilih skill, sinetron yang jelas2 pembodohan publik mendapat rating dan sponsor yang tinggi, memilukan!
    1:9 acara TV Bagus, itu pun media berita yang selalu menampilkan kebobrokan sosial, politi juga ekonomi kita.
    Jadi adik-adiku yang muda2, hayo mulai dari diri sendiri apalkan dan terapkan makna falsafah Pancasila untuk bersama2 membikin negara tempat kita berteduh, bernaung menjadi jauh lebih maju lagi. Merdeka!!

    Omong-omong belum ada yang komen lagi, bikin klonengan dulu ah agar ramai :p :ngacir:

    Paman

    30 Mei 2011 at 03:55

    • Setuju Paman! Mungkin terinpirasi dari judul buku “menulis itu mudah” tetapi sayangnya menulis yang berKWALITAS teramat susah apalagi memasarkannya karena penerbit (tidak bisa disalahkan) selalu bertanya tentang PASAR.

      mardan

      30 Mei 2011 at 04:20

    • Setuju Paman…..
      Selama ini kalau saya membeli buku terutama sastra baik cerpen atau novel adalah penulis. Misal saat saya ada buku best seller dengan penulis si R misalkan dan ada novel atau kumpulan cerpen karya Radhar Panca maka saya akan memilih Radhar. Menurutku sastra yang baik adlah sastra yang bukan hanya membawa kegembiraan dan kesenangan namun juga menambah kesadaran bagi penikmatnya. Mungkin membaca novel Ahmad Tohari memanag jemu, tapi setiap kejemuan itu akan berkahir pada kta…. “Ya i get it”
      #menurutku yang hanya penikmat sastra

      Teguh Afandi

      30 Mei 2011 at 06:42

    • He he he, mudah2an paman nanti mau beli buku Kumcer saya…. Dipastikan bukan teenlit…

      Aba Mardjani

      30 Mei 2011 at 07:59

    • Setuju, Paman. Dunia kreatif kita sudah kehilangan kreativitasnya. Saya lebih muak lagi membaca buku-buku yang sudah diterbitkan di koran, masih juga diterbitkan dalam buku. Kentara sekali para penulisnya tidak percaya diri atau memang kekurangan dana. he..he…

      Budi P. Hatees

      30 Mei 2011 at 15:59

    • Sepakat.
      Saya juga perhatikan hal itu jika ke toko buku atau Gramedia. Biasanya yang saya lihat jadi best seller penulisnya tidak terkenal atau kualitas ceritanya di bawahlah.Atau penulisnya sebenarnya masih belum bisa disebut punya nama besar,hanya dia sudah merasa punya nama karena bukunya sering laku,padahal soal kulaitas masih jauh untuk bisa disebut nama besar.

      Mungkin pake uang sogokan ke toko buku agar diletakkan di bagian best seller. Padahal di rak yang lain,penulis yg bukunya best seller tidak diletakkan di bagian best seller.

      Penulis ini ibarat artis yang paman uraikan,kualitas asal jadi, yang penting laku,kegemaran banyak ABG,kualitas kebanyakan sinetron masa kini.

      Namun ketika hal ini disampaikan ke penulisnya,kadang dibalas bahwa tidak perlu ada pembagian novel/cerita pop atau novel/cerita sastra.

      Penulis seperti ini tidak jauh beda dengan artis yang sudah merasa filmnya bagus jika dinonton banyak orang. Yang lebih memprihatinkan jika mereka mengatakan tidak memerlukan penghargaan( Piala Citra atau Oscar misalnya,minimal masuk nominasi) atau jika dlm dunia tulis menulis,tidak butuh Pena Kencana atau ikut Ubud WRF atau dapat nobel sastra padahal di dalam hati diam-diam menginginkan.

      Hanya penulis yang mau menerima krtik yg membangun yg bisa menjadi penulis besar.

      Maju Terus Seni Indonesia !!
      Salam…

      fian

      3 Juni 2011 at 12:58

  3. Setuju Paman! Ceritanya berusaha mengundang kita ke ruang kesedihannya “AKU” tetapi “AKU” nya menutup diri untuk menceritakan perasaannya dan lebih menghidupkan hubungan “KAMU” dan “AYAH” sebagai butir air matanya “AKU”. Spertinya cerita kita kali ini ditulis orang yang selalu menutup diri.

    mardan

    30 Mei 2011 at 04:14

  4. well, lumayanlah dr pd cerpen yg kmnrn..yang ngehibur..

    @paman: owhh, maksud’a rad*ty* d*ka ya?? hehee..iya iya, sy tau..hahha, mungkin selera kebanyakan orang begitu..sy sendiri sih gk gitu suka (malah curhat)

    Kez

    30 Mei 2011 at 05:49

  5. ceritanya bagus.. makasih ya :)

    @paman : hmmm.. jujur saya skrg masih belajar.. bisa kasih referensi contoh cerpen yang menurut paman baik, indah, dsb dsb?

    fitrah

    30 Mei 2011 at 07:06

    • kritis benar paman kita! mantrap.
      paman, percayalah bahwa semua itu sangat sangat tergantung dari ‘permintaan’ pasar. orang yang menulis cuman ingin nama mereka dikenal, bukan karena karya mereka. penulis kok sudah macam artis segala ya, mereka berharap dengan menulis jadi banyak laku buku lalu kaya raya sepanjang masa.

      oke, saya masih menunggu jawaban paman, rekomendasi cerpen dan cerpenis yang menurut paman siapa dan apa? trism paman

      Bang Maop

      30 Mei 2011 at 13:43

  6. @ paman: i agree with u for this ss. apa ya, i think this ss is tooo safe, tooo straight. it’s ok but why it cant bring me to another place, anothet level, just read the word without imagine. it’s ok, but, i think my ibuk can make sayur asem better than her…

    gide buono

    30 Mei 2011 at 08:38

  7. @fitrah; cerpen bagus? Buanyaaak. Tapi ane plg suka AA Navis, umar kayam, seno gumira, ugoran prasad, trus siapa lg y… Guy de maupasant..

    sibangke

    30 Mei 2011 at 08:41

    • kalau yang ini memang sang maestro dan nikmat sekali karyanya..:)

      Bang Maop

      30 Mei 2011 at 13:44

  8. i find the word: cerpen ini trivial n trivialize people in that environment!

    gide buono

    30 Mei 2011 at 08:42

  9. Artinya apa tuh gide?

    Darmawasih Manullang

    30 Mei 2011 at 09:41

  10. Sebagai sesama cerpenis, saya tahu cerpen di atas adalah termasuk cerpen dengan teknik yang sulit. Bahkan sangat sulit untuk mampu menjaga lingkaran aku, kamu, dia dari asimilasi homofictusnya.

    Saya sepakat kalau cerpen ini cerpen yang “aman”. Hanya saja, berbeda pendapat dengan “Paman”, “keamanan” cerpen ini disebabkan pemosisian diri terhadap tiga unsur itu (filsafat, psikologi, dan antropologi).

    Ayi Jufridar tampaknya lebih fasih menulis novel, sehingga ketika ia menulis cerpen, tanpa sadar ia melakukan fragmentasi, dengan mengedepankan satu unsur semata (bathin-psikologi).

    Dan sebenarnya, kalau mau ditelaah lebih lanjut, mengenai kegundahan “Paman”, entah sadar atau tidak, jawabannya ada di pemilihan nama. John.

    Pringadi Abdi

    30 Mei 2011 at 09:54

  11. tmpaknya cerpen ini brpretensi membawa org pada kedalaman pengalaman, tp entah mengapa dgn gaya penyajian dmikian smuanya jd terasa sepele, remeh, tak berasa. byk yg dikorbankan hanya demi -seolah- keutuhan crta, yg malah klise saja akhirnya.

    gide buono

    30 Mei 2011 at 09:56

  12. @ P Abdi, aku menyadarinya tapi John sama sekali tak membantuku, sekalipun ni dmaksudkan sbgai cerpen nasionalis, misalnya. John bs mjadi pjelasan tp tdk cukup, kayak nobton angelina jolie di alexander, ttp aja filmny jelek. tp cerpen ini ok, ok karena aman saja…

    gide buono

    30 Mei 2011 at 10:04

    • iya sepakat. memang belum cukup kuat. tapi saya tetap menghargai usaha beliau.

      apalagi mengingat, di Indonesia, hanya beberapa penulis yang bisa menjaga lingkaran sudut pandang dg baik (mungkin yang paling keren Avianti Armand).

      Jadi, meskipun Ayi kurang berhasil, tetap keren usahanya. Hehe

      Pringadi Abdi

      30 Mei 2011 at 10:14

  13. cepen yang bagus…semoga bermanfaat

    Cerita Cinta

    30 Mei 2011 at 10:20

  14. cerita yang bagus dan sangat mendalam dan terus berkarya.

    juharna nb

    30 Mei 2011 at 11:08

  15. Kepada adek Fitrah :
    semangat buat terus belajar, ya! Kalau dek Fitrah menayakan jenis sastra yang bagus, paman tidak punya alat ukurnya, dan paman tidak bisa mengucapkan “karya si A, si B” karena penilaian terhadap suatu hasil karya seni itu sangat subjektif dan variatif. Menilai dari segi keseimbangan, makna, luapan kombinasi emosi, keindahan atau estetika, dll. Nah, sbagian penilaian tersebut antara orang satu dg yang lain tidak sama. Semisal, Fitrah bertemu paman nanti malam di Grand Hyatt, dalam kesan pertama fitrah akan menilai paman baik, ganteng, perhatian, romantis, dan memuaskan. Tentu pendapat fitrah akan berbeda dg penilaian Desi Ratnasari kepada paman. Desi Ratnasari mungkin akan menilai paman sebagai pria gagah, dewasa, tampan, macho, dan tahan lama.
    Nah, hal ini pun berlaku pada penilaian karya seni.
    Orang satu dengan orang lainya tidak mungkin menilai laksana menjawab pertanyaan 1+1=…
    Mungkin dek Fitrah akan bertanya, tapi kan yang saya tanyakan bgaimana paman menilai bagus tidaknya suatu hasil karya seni khususnya cerpen tadi?

    Jawaban paman, teliti lagi komen paman di atas, itu adalah gauge paman, yang kurang lebih ada kata2, “…..menertawakan diri, mencemooh diri…”

    kalau dek Fitrah tetap memaksa mau melihat referensi karya sastra yang paman suka? Boleh, dg senang hati, by Email saja.
    Terima Kasih.

    Paman

    30 Mei 2011 at 11:48

  16. Cerpen yang cukup bagus yang tidak boleh dengan gampang dipadankan dengan karya teenlet dan checklet karya remaja puber atau sinetron. Jika tak keberatan, saya ingin membaca cerpen buatan Paman. Di mana saya bisa dapatkan? Jika ada blog-nya, saya ucapkan terima kasih.

    dede

    30 Mei 2011 at 16:22

  17. cerpen ini lumayan bagus tapi andai saja bacaan cerpen saya tidak terbatas hanya pada cerpen yang dimuat tukang kliping saja…mungkin penilaian saya akan berbeda… saya berharap ada cerpen yang sangat bagus diluarsana, menunggu saya untuk membacanya…

    auki

    30 Mei 2011 at 17:36

  18. Persoalan yang ditampilkan dalam cerpen ini mmg biasa2 saja. Cara penceritaaannya juga biasa. Tapi hiren kok bisa masuk kompas ya? Padal katanya, kompas selalu ingin hal2 yang baru. Kata-katanya juga banyak yang terasa klise. Kalau ingin terlihat gagah dengan menampilkan aku, kamu dan kita, kenapa mesti ada Abah Jhon yang punya nama sangat jelas? Mungkin Jhon bisa diganti dia, lebih sreg jadinya. Ini agaknya membuktikan, penulisnya belum percaya diri. Ragu-ragu huuu uuuu……………

    meysan

    30 Mei 2011 at 18:59

  19. saya suka kalimat dan untaian kata-kata cerpen ini, indah, sederhana, dan gak terlampau puitis, lebih dari itu saya bertanya-tanya: siapa “aku” ini?

    kalau saya menulis cerpen di atas, mungkin saya akan membuat tokoh “aku” ini sebagai seorang lesbian… biar cerita jadi ada efek kejut di ending nya :D

    Adhi

    30 Mei 2011 at 19:05

    • justru kalo lesbi mah udah klise.

      tukangtidur

      31 Mei 2011 at 12:40

  20. Dear paman…
    Sebagai anak muda, aku merasa ‘tersindir’ dgn komentar paman.. Aku tidak berani menyanggah pendapat paman, tentang mayoritas anak muda yg tak kenal dgn mas pram.. Karena memang aku sendiri mengalaminya- dicap sbg anak ‘aneh’, ketika teman2ku melihat ada buku bumi manusia di dlm ransel ku-.
    Tapi paman..aku kurang sepaham dgn paman yg seolah-olah ‘menyepelekan’ tulisan2 raditya dika.
    Aku sangat sangat kagum dengan AA Navis dan karya karya tulisnya. Aku terpesona dgn gaya menulis anantatoer, benar2 membuat saya tak cukup sekali membaca untuk memahami maksud tulisannya.
    Tapi aku juga terpesöna dgn tulisan2 novelis dewi lestari dan raditya dika. (Khusus tulisan2 raditya dika, mungkin kalian para sastrawan bilang tulisan beliau tak layak disebut sbg karya sastra. Entah apapun namanya tulisan beliau itu, buatku karyanya layak diacungkan jempol juga, bahasa nya ‘membumi’, simpel, menghibur dan orisinil).

    Sastra itu berbicara ttg keindahan. Keindahan pastilah membuat manusia terhibur. Jika ‘sesuatu’ tdk membuat manusia terhibur, maka tak layak lah ‘sesuatu’ itu disebut keindahan.

    Harikuhariini

    30 Mei 2011 at 19:50

  21. Selamat ya untuk Ayi…
    Akhirnya setelah 3 cerpen sebelumnya, saya akhirnya menemukan sesuatu yang seru di cerpen minggu ini.
    Bagaimana penderitaan itu dikesankan dan bagaimana tentang kesetiaan ‘sejati’ sang wanita. Bravo!
    Tapi entah tabakan saya benar atau tidak, tapi sepertinya di bab-bab terakhir, di bagian tentang adopsi anak, sepertinya sang penulis memotong sebagian besar tulisan karyanya di bagian itu. Seperti ada lubang disana. Apakah karena editan atau pembatasan jumlah karakter hurufnya kah?

    Untuk Paman, saya tantang minggu depan! Siapa yang duluan komentar! He he…

    Iyud

    30 Mei 2011 at 19:52

  22. cerpen yang bagus! salam kenal dan salam cerpen buat Paman dan teman-teman semua…

    mataairmenulis

    30 Mei 2011 at 23:04

  23. ha,ha. . .
    Lebih asyk baca komenya paman.
    Sxan + ilmu gtu.
    Hem. .
    Kalo bisa ntk mggu dpan komenya sxan cntoh ya paman. . .

    nanang

    30 Mei 2011 at 23:27

  24. @paman apakah ada situs komunitas yang membahas/review buku-buku yang paman maksud? Saya masih muda:) tentu akan senang jika memanfaatkan waktu untuk menyelami dunia sastra yang sebenaenya:)

    Namun, sebagai pemula, saya tidak tahu buku apa yang bernutrisi? Siapa saja yang menulis karya sastra yang sebenarnya?…;)

    Ayo paman, bangun komunitas tersebut… atau kalaupun sudah ada, boleh diberitahukan? Biar semua (terutama saya) bisa ikut bergabung:)

    Allan AS

    31 Mei 2011 at 06:16

  25. Kepada Allan As :
    Terima kasih, Allan. Salam kreatif.
    Sebenarnya jika anda mau berusaha sedikit, ada banyak jalan untuk melihat-lihat review hasil penilaian daripada pengamat sastra kepada suatu hasil karya. Anda bisa mendapatkan banyak informasi dari situs-situs, blog, millis terkait hal tersebut dengan memanfaatkan Google.
    Blog Bung Kliping adalah salah satunya yang tanpa pamrih mau membantu para penikmat sastra untuk berdiskusi, menilai karya orang lain dg jalur pikir yang berbeda-beda.
    Ada banyak situs dan blog yang meriview suatu karya sastra, baik yang diungkapkan oleh budayawan, esais, sastrawan maupun oleh penikmat sastra itu sendiri. Majunya perkembangan teknologi informasi sekarang menjadi jaminan setiap orang untuk mengeluarkan pendapat penilaiannya terhadap hasil karya sastra tanpa harus repot-repot mengirimkannya ke media massa.

    Meskipun demikian, ternyata freedom of speak atau kebebasan berbicara oleh banyak orang masih disalahgunakan, banyak komentar yang tidak dilandaskan akal budi (termasuk paman sendiri) kata-kata kotor terlontar tanpa takaran, makian, cercaan juga hinaan. Meskipun akhirnya UU ITE dikeluarkan, namun tetap saja tidak menjadikan batas sedikitpun kepada orang-orang seperti paman.

    Paman, beserta teman-teman lain, sebenarnya dari dulu ingin membuat situs semacam asosiasi sastra, untuk lebih menstrukturkan kembali informasi2 perihal sastra yang ada di internet. Jauh sebelumnya paman sudah merencanakan itu. Dan syukur, dari segi teknis, bulan kemarin paman sudah mendapatkan developer webmaster yang mau melancarkan niatan tersebut. Web Hosting, domain, perancangan html, desain grafis, php, sql yang sama sekali asing buat paman akan dibantu olehnya. Paman juga bersama teman-teman penulis, esais, budayawan lainya yang sekarang sudah sepuh akan mengadakan briving lagi. Nanti paman akan lebih menekankan konten isi bukan tampilan page nya, dan memfilter orang2 yang mau berpartisipasi, harus meng-aploud scan KTP agar bisa dipertanggung jawabkan saat registrasi. Paman beserta kawan juga akan mengontak para penulis dan kritikus sastra Indonesia yang sudah tak terekspos lagi, termasuk penulis jawa tengah yang sudah paman kasih tahu terlebih dahulu yaitu Mas Ahmad Tohari, untuk memberikan kontribusinya di situs yang sedang paman dan kawan-kawan rencanakan. Mohon doanya, Allan. Makasih, tunggu kelanjutannya. Semoga bermanfaat.

    Paman

    31 Mei 2011 at 08:08

    • Paman kenal akrab dengan Mas Ahmad Tohari? Beliau benar2 sastrawan dunia. Terakhir saya membaca karya novel yang cukup bagus setelah Tetralogi ronggeng dukuh paruk adalah novel dari Lintang Sugiarto. Matahari di Atas Gili. Luarbiasa. Boleh saya bergabung dikomunitas yang paman mau buat? Ingin Ngangsu Kawruh dengan penulis2 Indonesia yang syarat dengan pengalaman.

      Pradana

      5 April 2013 at 16:43

  26. mantap lah buat paman, biar lisannya suka mesum (hehehe), kelihatannya ikhtiar paman untuk kelestarian sastra nusantara, tak bisa adib tolak untuk mendukung, dimulakan dengan doa mungkin..
    goodluck Om Paman..!

    adib

    31 Mei 2011 at 09:11

  27. ada apa dengan air mata????

    deny arisandi

    31 Mei 2011 at 09:46

  28. @Paman.
    Tolong share juga tentang karya yang paman anggap bermutu ke saya via email, dy_saputra@yahoo.com

    thanks.

    edi

    31 Mei 2011 at 10:40

  29. salam…
    cerpen ini menurut saya ‘layak baca’ namun entahlah, setelah membaca saya tak mendapatkan bekas apa apa.. dan coba simak bagian narasi:
    “Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tapi dilakukan beberapa kali. DIa tak berhenti menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.”
    Ada sedikit janggal, perpindahan dari sudut pandang orang ke dua menjadi orang ke tiga, dari ‘kamu’ menjadi ‘dia’, atau barangkali sya kurang paham ya? whatever saya ucapkan selamat kepada penulisnya krna sdh tembus kompas…

    mashdar

    31 Mei 2011 at 11:05

  30. Buat Paman. Nah ini ok. Lebih “mirip” kritik sastra drpd makian preman kyk di ikan kaleng kemarin hahah. Off komen, cerpen ini kurang bagus. Selesai. Masalah teenlit, mereka, penulis itu, bisnis, paman. Siapa tau bgitu. Tau tinlit laku, ya bikin lah, masalah sastra kyky jdi no 18. Bisa saja kan, whatever lah. Terus masalah bikin situs, nah, ini baru ok. Maju terus paman, kita dorong rame2. Demi kebaikan dan kemajuan sastra, siapapun pasti dukung. Maju terus http://www.pamanmemaki.com hahah.

    Juno

    31 Mei 2011 at 14:56

  31. wew.. paman boleh yah saya daftar di situsnya,,,

    auki

    31 Mei 2011 at 15:22

  32. paman aku ikut gidehb@gmail.com

    gide buono

    31 Mei 2011 at 16:32

  33. paman ajak teman2 di teater garasi juga, di sana ada mas ugo dan mas cindhil, ada mas yudhi juga beserta tmn2 lain, mereka sgt concern pada sastra juga… saya mdukung sedukung-dukungnya!

    gide buono

    31 Mei 2011 at 16:36

  34. Saya juga sedang belajar menulis cerpen. Kira-kira, bisa minta tolong dikirimkan contoh2 cerpen yg baik mnurut paman ke ceritagopek@gmail.com. ma kasih sebelumnya. ^_^

    Mardiana Kappara

    31 Mei 2011 at 19:50

  35. Wah, Paman, boleh dong kenalan. Hehehe. Saya cuma pengomentar awam. Cuma mau mencoba menanggapi permasalahan teenlit, atau kultur pop, yang sudah diangkat oleh Paman, tentunya sesuai pemahaman saya yang masih awam.

    Saya sendiri masih agak bingung dengan wilayah “teenlit” ini sendiri. Salah satu teman saya menerjemahkan teenlit ini sebagai singkatan dari “teen literature” (literatur remaja / bacaan remaja). Teritorinya pun saya masih belum terlalu paham, apakah sekedar buku-buku fiksi yang dikhususkan untuk pembaca remaja, atau semua buku-buku fiksi tentang kehidupan remaja (baik sasarannya remaja atau non-remaja).

    Kalau mengambil terjemahan secara gampangnya saja, “teen literature,” saya rasa gak semua produk “teenlit” itu sampah kok, Paman. Di balik “Babi Ngepet” dan “Kerbau Jantan” yang merajalela itu, masih ada “The Count of Monte Cristo,” “Alice’s Adventures in Wonderland,” “Great Expectations” (saya suka sekali yang ini), “Tom Brown’s Schooldays,” “The Adventures of Oliver Twist,” “Adventures of Huckleberry Finn,” dan masih banyak lagi. Sekali lagi, tentu, dala hal ini saya mengategorikan karya-karya klasik itu sebagai “teenlit” berdasarkan terjemahan sekilas semata. Saya masih tak terlalu paham batasan-batasan teritori “teenlit” ini.

    Kalau untuk tayangan bioskop (film), banyak juga kok, Paman, “teenlit” yang gak murahan, misalnya saja “Tree of Knowledge” dari Denmark atau “La Vie devant soi” dari Perancis. Sayangnya, memang, judul seperti itu tertutupi oleh “American Pie” dan sejenisnya.

    Rijon

    31 Mei 2011 at 21:29

    • Itulah perbedaaan teenlit Indonesia dengan luar negeri seperti yg anda sebutkan,Lebih berkualitas.
      Smoga suatu saat ada teenlit yg berkualitas dari Indonesia.

      Salam

      fian

      3 Juni 2011 at 13:10

  36. #1 mengenai cerpen ini, terus terang saya berhenti membacanya di tengah-tengah dan langsung melompat ke bagian komentar, entahlah:)

    #2 wah semoga dalam waktu dekat, terbentuk komunitas seperti yang Paman rencanakan (bukan nyuruh lho Paman…:) Terus terang, bagian komentar di sini dapat dijadikan sarana ulasan, pendapat, bahkan diskusi kecil… Akan tetapi, namanya juga wrong place for the right things, memunculkan pertanyaan atau permintaan yang berulang-ulang. Bahkan, akan membuat bosan di kemudian hari:) Oleh karena itu, saya yakin dengan adanya komunitas yang mewadahi, semisal BookForum luar, selain dapat menjadi sumber pembelajaran untuk semua juga dapat meminimalkan hal-hal yang _redundant_.
    Saya hanya bisa mendukung lewat semangat saja saat ini, Paman:) Mungkin teman-teman Paman di sana lebih pro-aktif:) Kami nantikan terbentuknya komunitas sastra Indonesia (di dunia maya ini;) ~(bukan maksud menyuruh Paman lho…:)

    allanaes

    31 Mei 2011 at 22:41

  37. gaya tulisan anda mengalir..

    Ronnie

    1 Juni 2011 at 09:26

  38. bagus, tapi ada yang lebih bagus di koran Tempo. :)

    Miftah Fadhli

    1 Juni 2011 at 13:51

    • sepakat bro fadhli, cerpen tempo lebih seru dari cerpen kompas kali ini

      adib

      1 Juni 2011 at 16:08

    • Mas Raudal ma emang wokeE… :D

      Somad

      2 Juni 2011 at 11:46

  39. tema yang sudah pernah ada dan sering digarap penulis remaja.selamat sajalah ada lagi penulis dari aceh

    anak rantau

    1 Juni 2011 at 20:41

  40. wah sekarang ada “paman” ya? apakah paman sama dengan A. Tapi lebih GILA A daripada paman. Saya sangat merindukan A. Klo Paman orang yang berbeda dengan A, berarti Paman hanyalah pengekor kelas teri ketika A tidak hadir dalam forum komentar ini. BTW semua karya sastra tidak ada yang jelek, yana ada hanyalah perbedaan sudut pandang. Itulah yang selalu diajarkan oleh A dalam komentar2 nya.Bravo semua penulis INDONESIA

    robay

    2 Juni 2011 at 11:55

  41. kdang aq pikir, bagaimana ya kalau karya-karya dewi lestari dan raditya dika muncul lebih dulu di banding Navis, Pramudya, Moktar lubis, dkk??
    trus, kelompok Navis, munculx skrang??
    lalu bagimna ya? seandainya dosen sya ngomong, “karya2 Fredy S, itu sastra fenomenal!!”

    buat sya? novel, cerpen, pisi, itu sastra klw ada menfaatnya setelah dibaca (menghibur, bermakna, menarik, mendalam…..)
    ini cuma masalah selera. sastra= penilaian= kesepakatan= kesukaan= selera= subjektif.
    jadi, saya sepakat kalw UUD 1945 dan Pancasila adalah Karya Sastra. hehehehehe….

    iqi

    3 Juni 2011 at 23:32

  42. Ehmmmmmmmm
    Banyak orang pinter (mengenai sastra) disini, ATAU PURA_PURA PINTER *kadang susah membedakannya. Karena hanya pemula. Mengambil yang positif saja untuk pengembangan diri.

    S. Nayogo

    4 Juni 2011 at 13:39

  43. [...] Ketika kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kit … Read More [...]

  44. bagus

    puput juni prayitno

    5 Juni 2011 at 22:02

  45. menarik. gue suka cerpen ini :D

    FGH

    8 Juni 2011 at 22:13

  46. pasti yg menjadi tokoh aku di sini adalah wanita…

    cinta terlarang, selalu berakhir dengan duka…

    baik untuk yang baik apalagi untuk yg bajingan

    joy

    11 Juni 2011 at 21:04

  47. salam kenal, pemula gan. kalau projek situs udah selesai kasih tahu ya paman.

    cerpen yang bagus itu seperti apa? cerpen yang bagus itu yang seperti ini. berarti cerpen yang bagus itu seperti sesuatu yang telah ditentukan.

    menurut saya, cerpen yang bagus itu cerpen yang unik yang berbeda dari cerpen yang lain. bukan cerpen yang aneh.

    paman atau teman-teman yang lain, bisa minta tolong kirimkan cerpen yang menurut paman bagus baik objektif atau subjektif tito_lua_cheia@yahoo.com judul-judul novel dan penulis juga boleh, terima kasih ^^

    Tito Purnama

    21 Juni 2011 at 14:30

  48. jadi aku disini cewek ya?

    Risah Azzahra

    25 Juni 2011 at 12:56

  49. saya membaca kabut perang milik bang Ayi Jufriidar, terasa lebih ‘nendang’ di banding ini dari sisi penggambaran tokoh. ide ini sederhana dan sudah banyak di tulis. sewaktu pertama membacanya terasa seperti membaca surat. di akhir cerita, kalo boleh menebak, ‘aku’ adalah seorang wanita bukan? karena tokoh ‘kamu’ yang ingin punya anak dan hal itu tak mungkin terjadi jika terus bersama ‘aku’.

    tapi tetap suka, sebagai pemula, saya belajar dr cerpen ini.

    salam pena.

    yazmin

    25 Juni 2011 at 19:03

  50. bagussss

    abcd

    27 Juni 2011 at 10:55

  51. bagus gan…

    serba serbi

    27 Juni 2011 at 22:36

  52. Bang Ayi selalu di hati…. keren bang ^^

    putri

    7 Juli 2011 at 21:48

  53. [...] Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita [...]

  54. bagus… saya suka cerpen ini..teruslah berkarya

    Ugen'k Æpöñ

    21 Juli 2011 at 20:03

  55. Ini cerpen kedua yg saya baca di blog ini. Yg saya baca pertama adalah “Perihal Sebatang Kayu di Belakang Limas Kami yang Ada dalam Hikayat Emak” karya Guntur Alam.

    Saya baca yg pertama karena itulah yg berada pada halaman depan blog saat saya kunjungi. Saya baca yg kedua krn tahu dari seorang kawan di FB yg pasang link ke laman ini di wall-nya. Saya tahu alamat blog ini krn link tsb.

    Ini cerpen kedua yg saya baca di blog ini. Yg saya baca pertama adalah “Perihal Sebatang Kayu di Belakang Limas Kami yang Ada dalam Hikayat Emak” karya Guntur Alam.

    Saya baca yg pertama karena itulah yg berada pada halaman depan blog saat saya kunjungi. Saya baca yg kedua krn tahu dari seorang kawan di FB yg pasang link ke laman ini di wall-nya. Saya tahu alamat blog ini krn link tsb.

    Menyenangkan tahu pemilik blog ini menyediakan ruang komentar.
    Saya bisa belajar banyak tentang bagaimana cerpen sebaiknya, justru dari komentar-komentar tersebut. Ada banyak sudut pandang dari setiap komentar yang memperkaya saya.

    Semoga, satu saat saya pun bisa buat karya yang dapat dianggap bagus oleh setidaknya satu sudut pandang komentator tersebut.

    Ada “paman” yang tampaknya rajin komentar. Ada juga yang berbantah-bantahan. Sepatutnya saya berterima kasih, dapat banyak ilmu dari komentar gratis dan membangun demikian.

    Lanjutgan!
    #eh

    SAYA PRIHATIN!!! (@HeruLS)

    7 Agustus 2011 at 15:13

  56. crtanya bgus n mnrik

    Rara Puje

    8 September 2011 at 09:29

  57. bagus… i like it :)

    lily

    25 Oktober 2011 at 08:48

  58. bagus

    pardan

    31 Desember 2011 at 16:21

  59. setuju dgn kritik paman . . Ini cerpen bener2 bertajuk pembodohan . . Kacangan . . Saya sebagai penikmat cerpen (meskipun belum bisa membuahkan karya) merasa sangat prihatin membaca cerpen garing edisi ini .

    andreasmara

    21 April 2012 at 13:08

  60. seng ngerti ake..

    yudha

    10 Oktober 2012 at 00:06

  61. Menurut saya, ini bagus. Ada kejutan di cerpen ini, ketika ‘kamu’ bilang “Aku menginginkan anak dari rahimku sendiri.”

    Ada dua dugaan yang saya dapat.
    1. Tokoh aku seorang lelaki yang tidak dapat memiliki anak (mandul dsb). Atau..
    2. Tokoh ‘aku’ adalah seorang perempuan.

    Saya lebih berat ke yang no. 2. Alasannya:

    1) Tokoh ‘aku’ dan ‘kamu’ merahasiakan hubungan ‘kita’ dari dunia.

    2) Kedua orang tua tokoh ‘kamu’ tidak menyetujui hubungan ‘kita’.

    3) Tapi, ketika ‘kamu’ mengungkapkan itu, ‘aku’ tidak bertanya kenapa (alasan mereka tidak setuju), ‘aku’ malah bertanya, “Bagaimana mereka bisa tahu?”
    Ini, menurutku menjurus sekali.

    5) Kalimat ini juga menjurus “Mereka takkan tahu kalau kamu
    tidak menceritakannya.
    Keluargamu mengira kita hanya
    sahabat. Dunia juga mengira kita
    sepasang sahabat.”

    6) Ini yang paling kuat: “Maaf sayang. Aku tahu ini
    membuatmu sakit. Tapi aku
    harus mengatakannya. Aku
    menginginkan seorang anak dari
    rahimku sendiri.”

    7) No. 4 nya mana? #duak

    8) Dan kita pernah sepakat mengadopsi
    beberapa anak saat kita hidup
    bersama.

    ___
    Begitu yang saya dapat. Jadi, ada kejutan di cerpen ini. Selain itu, saya merasa sakit mendengar (eh, membaca XD) apa yang ‘kamu’ ceritakan. Dan saya juga merasa sakit waktu ‘kamu’ meninggalkan ‘aku’ hanya untuk seorang lelaki yang begitu kotor.
    Yap. Begitulah yang saya rasakan. XD

    arumnaruto

    23 Juli 2013 at 15:05

  62. thank you.. cerpen nya bagus bgt… inspirasi buat gw nih buat bikin cerpen kayak gni..^^

    Mels

    19 Agustus 2014 at 19:06


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.546 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: