Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Bendera

with 67 comments


Meski sedang liburan di rumah neneknya di Desa Bangunjiwa, Amir tetap bangun pagi. Sudah menjadi kebiasaan setiap hari. Kalau sedang tidak libur, Amir bangun pagi untuk bersiap ke sekolah. Amir selalu ingat nasehat Nenek, ”Orang yang rajin bangun pagi akan lebih mudah mendapat rezeki.”

Di mata Amir, Nenek adalah sosok perempuan tua yang bijak dan pintar. Amir tak tahu apa makna nasehat Nenek itu, tapi ia merasa ada benarnya. Bangun pagi membuatnya tidak terlambat tiba di sekolah dan tidak ketinggalan pelajaran. Selain itu, bangun pagi sungguh menyenangkan. Hanya pada waktu pagi kita bisa menikmati suasana alam yang paling nyaman. Cahaya matahari masih hangat, udara masih bersih, tumbuhan pun tampak segar, seolah semua lebih bugar setelah bangun tidur.

Pagi itu Amir mendapati Nenek duduk sendirian di beranda depan. Rupanya, Nenek sedang menyulam bendera. Amir menyapa dan bertanya, ”Selamat pagi, Nek. Benderanya kenapa?”

”Oh, cucuku yang ganteng sudah bangun!” sahut Nenek pura-pura kaget. ”Bendera ini sedikit robek karena sudah tua.”

”Kenapa tidak beli yang baru saja?”

Nenek tersenyum. ”Belum perlu,” katanya. ”Ini masih bisa diperbaiki. Tidak baik memboroskan uang. Lebih untung ditabung, siapa tahu akan ada kebutuhan yang lebih penting.”

”Bendera tidak penting ya, Nek?”

”O, penting sekali. Justru karena sangat penting, Nenek tidak akan membuangnya.” Nenek berhenti sejenak dan menatap cucunya. ”Kelak, ketika kamu dewasa, Nenek harap kamu juga menjadi penting seperti bendera ini.”

Amir mengamati bendera itu. Selembar sambungan kain merah dan putih. Tidak ada yang istimewa. ”Apa pentingnya, Nek? Apa bedanya dengan kain yang lain?”

Pertanyaan Amir membuat Nenek berhenti menyulam. Nenek diam. Pintar sekali anak ini, kata Nenek dalam hati. Nenek merasa perlu memberi jawaban terbaik untuk setiap pertanyaannya. Untunglah, Nenek teringat Eyang Coelho, seorang lelaki gaek yang cengeng dan sedikit manja, yang membayangkan dirinya bersimpuh dan tersedu di tepi Sungai Paedra. Eyang Coelho pernah menulis sebuah cerita tentang pensil. Nah, Nenek akan meniru cara tokoh perempuan tua dalam cerita itu ketika memberikan penjelasan kepada sang cucu.

”Penting atau tidak, tergantung bagaimana kita menilainya,” akhirnya Nenek berkata. Bendera ini, lanjutnya, bukan kain biasa. Ia punya beberapa keistimewaan yang membedakannya dengan kain-kain lain. Keistimewaan itu yang patut kita tiru.

Pertama: semula ini memang kain biasa. Tapi, setelah dipadukan dengan urutan dan ukuran seperti ini, ia berubah jadi bendera, menjadi lambang negara. Merah-putih ini lambang negara kita, Indonesia. Setiap negara punya bendera yang berbeda. Dan semua warga negara menghormati bendera negaranya. Tapi, jangan lupa, kain ini menjadi bendera bukan karena dirinya sendiri, melainkan ada manusia yang membuatnya. Begitu pula kita bisa menjadi apa saja, tapi jangan lupa ada kehendak Sang Mahapencipta.

Kedua: Pada waktu kain ini dijahit, tentu ia merasa sakit. Tapi sesudahnya, ia punya wujud baru yang indah dan bermakna. Kita, manusia, hendaknya begitu juga. Sabar dan tabah menghadapi sakit dan derita, karena daya tahan itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah.

Ketiga: Bendera akan tampak perkasa jika ada tiang yang membuatnya menjulang, ada angin yang membuatnya berkibar. Artinya, seseorang bisa mencapai sukses dan berguna karena ada dukungan dari pihak-pihak lain. Kita tak boleh melupakan jasa mereka.

Keempat: Makna bendera ini tidak ditentukan oleh tempat di mana ia dibeli, berapa harganya, atau siapa yang mengibarkannya. Ia bermakna karena di balik bentuk dan susunan warnanya ada gagasan dan pandangan yang diwakili. Begitulah, kita pun harus memperhatikan diri dan menjaganya agar tetap selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup kita.

Kelima: Seutas benang menjadi kain, lalu kain menjadi bendera, dan bendera punya makna; karena diperjuangkan dan akhirnya dihormati. Kita juga seperti itu. Harus selalu berusaha agar apa yang kita lakukan bisa bermakna. Jadikan dirimu bermakna bagi orang lain, jika dirimu ingin dihormati.

”Begitulah, cucuku yang ganteng, sekarang kau mengerti?” ujar Nenek mengakhiri penjelasannya.

Amir mengangguk. Meski belum bisa memahami semua, ia menangkap inti dan garis besarnya: betapa penting arti sebuah bendera.

”Sudah, sana mandi dulu. Nenek akan menyiapkan gudeg manggar lengkap dengan telor dan daging ayam kampung empuk kesukaanmu.”

Amir menuruti saran Nenek. Ia masuk ke rumah sambil membayangkan kesegaran air sumur pedesaan.

***

Pada kesempatan lain, Amir mendapat tugas sebagai pengibar bendera pada upacara di sekolahnya. Seiring dengan lagu ”Indonesia Raya” yang dinyanyikan serentak oleh para guru dan teman-temannya, ia menarik tali pengikat bendera agar Sang Saka Merah-Putih berkibar di angkasa.

Ketika bendera mencapai puncak tiang, semua peserta upacara khusyuk memberikan penghormatan. Saat itu Amir berpikir bahwa setiap orang di lapangan itu tak ubahnya sehelai benang. Sekolah tempat mereka belajar ibarat alat pemintal, tempat benang-benang itu menganyam dan meluaskan diri agar menjadi lembaran kain.

Kelak setiap lembar kain akan berguna. Ada yang menjadi baju, celana, selimut, atau taplak meja. Menjadi lap piring juga berjasa, meski tidak pernah dibanggakan dan murah harganya. Sebaliknya, jika menjadi pakaian, sering dipamerkan dalam acara-acara gemerlapan dan harganya bisa mencapai ratusan juta.

Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambang, seperti bendera.

About these ads

Written by tukang kliping

8 Mei 2011 at 23:35

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

67 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cerpen nasionalis dg metaphor yg amat sederhana. Paman brani bilang baik karena menurut paman cerita ini sangat relevan dg situasi skrg. Trkhusus kpada ekslusif, yudikatif beserta antek2nya. Walaupun, seperti tadi paman sampaikan, kata2nya membuat paman terpenjara pada kedataran suasana. Di mana letak koherensinya? lihat, kutipan ini misalnya,

    Nenek tersenyum. ”Belum perlu,” katanya. ”Ini masih bisa diperbaiki. Tidak baik memboroskan uang. Lebih untung ditabung, siapa tahu akan ada kebutuhan yang lebih penting.”

    dari sudut pandang paman, ini ada unsur kritik kpd anggota dewan, yg pernah mengajukan tempat kerjanya dibangun. Masih ada kbthan yg lebih penting dari itu, apalagi menimbang rakyat kita yg mayoritas brada pada garis kmiskinan.
    Dan, tentu juga di cerpen ini ada bnyak pesan moral sosial. Walaupun penyampaianya terkesan maksa!
    Tapi, sekali lagi, cerpen ini pesanya sangat jelas. Itu yg paman mengurungkan niat untuk bilang, cerpen kacangan hasil buah tangan anak SD yang dungu.

    Ngomong2, PERTAMAX ITU INDAH, PERTAMAX ITU MENGAGUMKAN!!
    Yg komen di bawah paman, kasihan deh kamu!

    Paman

    10 Mei 2011 at 01:00

    • kapan2 tk kejar biar adib PERTAMAX juga, hehehe

      adib

      11 Mei 2011 at 09:37

    • setuju dengan Paman

      miftah fadhli

      12 Mei 2011 at 14:41

  2. walwpn kt2 kurg tmpk indh.
    mkna n psn nya ckp jls.
    mngkn sbgian mnanggp biasa.
    pi apkh smw sdh sdr akn pesn yg dismpaikan.

    andi nepot

    10 Mei 2011 at 03:10

  3. Waduh paman, walo pertama indah…selanjutnya kan terserah anda, paman… Hehehee… :)

    Tp paman bener, cerpen ini sederhana, penuh makna, dan sangat memikat hati.

    Salam kreatif…

    alya salaisha - sinta

    10 Mei 2011 at 03:14

    • ok (y) :)

      Ardiansyah F.

      8 Maret 2012 at 15:53

  4. cerpen yang berbau nasionalis…hebatlah…aku suka rakya anda…terimakasih

    Mutiara Pembelajar

    10 Mei 2011 at 07:54

  5. cerpen pertama sitok srengenge?

    gibb

    10 Mei 2011 at 08:40

  6. @ paman_ Ah paman, bisa aj deh paman. :)

    Cerpen ini, pesan’y malah kelewat jelas. Seperti bukan cerpen jebolan kompas.

    sila

    10 Mei 2011 at 08:58

  7. memang seperti bukan kompas…

    cahndablek

    10 Mei 2011 at 09:16

  8. kompas emang pas banget milih cerpen.. cerpen yang tepat saat nilai-nilai pancasila – nasionalisme, yang mulai hilang dan dipertanyakan…. salut. slamat…

    kunto

    10 Mei 2011 at 10:02

  9. Tanpa mengurangi hormat buat Mas Sitok (sebagai penyair), tanpa mengurangi makna yang tersirat di dalamnya, aku merasa ini layaknya cerpen anak-anak…..

    Aba Mardjani

    10 Mei 2011 at 11:54

  10. pesannya jelas dan disampaikan dengan cara memberi wejangan pada cucu yg lugu sehingga saya merasa, maaf sekali, saya harus jujur, seperti sedang membaca cerita bobo…

    Adhi

    10 Mei 2011 at 12:09

  11. Belakangan cerpen kompas lebih sederhana. Bukan seperti kompas yang biasa. Pesannya bagus tapi seperti kehilangan nilai sastra. :) –>> komentar awam.

    Ovi

    10 Mei 2011 at 12:38

  12. sederhana2. eyang coelho itu , yang nama lgkapnya paulo coelho ya?

    naggal

    10 Mei 2011 at 13:29

  13. brengsek, ini mah jelas2 jelek abis! ururan nasionalisme yang kacangan gitu juga anak SD juga tau!tolong lidahnya dijaga donk,g usah banyak ngejilat pantat orang deh… g urusan siapa kalo cerpen kaya gini mah parah.kompas gimana ini?

    lampor

    10 Mei 2011 at 13:42

  14. Ini mungkin ya… Mas Sitok bermaksud mengirimkan cerpennya untuk Kompas Anak, tapi nyelonong ke rubrik Seni…

    Aba Mardjani

    10 Mei 2011 at 14:31

    • Sebagai seorang penulis cerpen yg karyanya sering dimuat Kompas, bagaimana pendapat pak Aba Mardjani terkait “sastra” dari cerpen di atas? Serta pesan-pesan moral yg terkandung di dalamnya.

      Kurnia Indasah

      11 Maret 2013 at 15:27

  15. @Aba Mardjani: sastra nggak harus pakai bahasa langit bung.. saya yakin banget, sitok srengenge tentu sudah paham apa itu sastra, demikian juga dengan fajar arcana…

    sibangke

    10 Mei 2011 at 14:54

    • terima kasih untuk penjelasannya. Saya awam masalah sastra, apalagi bahasa langit. Mohon dimaafkan jika komen ‘mungkin’ saya membuat ada yang kurang berkenan… Sekali lagi maaf.

      Aba Mardjani

      10 Mei 2011 at 16:02

  16. Cerpen ini hanya sangat baik di 4 paragrap terakhir (setelah tanda ***)

    Selebihnya Pak Sitok harus benar-benar mempelajari psikologi anak-anak, terutama–bagian paling tidak terkonstruksi–adalah cara nenek memberikan nasehat.

    MarC Levy pernah bilang, kurang-lebih:
    Anda bisa disebut benar-benar mengerti sebuah konsep manakala bisa menjelaskannya ke anak umur 6 tahun.

    Menebak-nebak umur anak ini, sekitar kelas 4/5 SD (karena tugas pertama mengibarkan bendera biasanya umur segitu), maka tetap saja rasanya janggal.. hehe

    Pringadi Abdi

    10 Mei 2011 at 16:41

  17. abah mardjani : napa minta maaf, mas.
    sante aja kali. koq aku merasa sependapat dgn anda.. :)

    lebih seru nih baca kolom komentar ketimbang ‘cerpen’ yg dikomentari…
    salam…

    flash fiction

    10 Mei 2011 at 17:21

  18. Sepertinya KOMPAS terjebak pada nama besar penulis ya, padahal cerita di atas sama sekali jauh dari karakter Kompas yang nyastra abis. Bagaimana kalau ke depannya Kompas memandang karya saja, jangan terpaku pada peng-karya-nya..Setuju..?

    Fadhli

    10 Mei 2011 at 18:30

  19. Salam hangat selalu,
    Selamat untuk bung Sitok Serngenge(Mungkin nama pena/asli ini berarti Sitok: Siji Tok/Satu saja dan Srengenge : Matahari,jadi dalam bahasa Jawa ngoko punya arti satu saja matahari) ini hanya pandangan secara harfiah kata Jawa itu hehe.
    Baik! Saya kira cerpen ini selain pendek juga lugas dan sangat jelas sekali bahasanya, bukan tipikal Kompas itu benar, dan rasanya saya seperti membaca cerita anak. Sangat biasa. Penuh petuah yang biasa, tak pelik, tak ada greget dan saya sangat cepat membaca cerita ini, tanpa perlu perasaan saya menjadi teraduk, pokoknya datar sekali. Saya yakin memang seperti itu dan barangkali muatan pesan yang sederhana yang ingin diungkapkan, tapi tetap saja lugu dan bukan bacaan pembaca budiman sebagai:penyuka misteri, penyuka konflik, penyuka ketegangan, penyuka dieorema teka-teki. Pokoknya datar, dan yang jelas ini bukan bacaan saya(meskipun saya membacanya kwkwkw…) maksud saya(maaf) bukan tipikal cerita yang bisa membuat saya berfikir, dan betul sekali bahwa anak SD yang kiranya baru mengenal wawasan kehidupan paling sederhana serta petuah pun mengerti ini cerita karena sudah sangat jelas apa yang ingin disampaikan. Kejelasan cerita itu lah yang membuat saya merasakan kurang tertarik setelah membacanya. Semuanya sangat fiktif terutama nama desa Bangunjiwa yang saya kira tak ada dan akan menjadi setting cerita fiktif tentang fabel anak yang berisikan nasehat 1-4 dst. Para pembaca budiman punya persepsi sendiri dan begitulah persepsi saya dan saya sangat setuju dengan komentar bung Aba Mardjani. Selalu sukses untuk bung Sitok. Saya menunggu cerita Anda yang jauh lebih menarik dari cerita datar dan lugas ini.

    Tova Zen

    10 Mei 2011 at 19:51

    • lalu, bagaimana dengan beberapa cerpen Anton Chekov di Kumcer “Pengakuan”, Mas Tova. Itu karya sastra (kata orang-orang)

      miftah fadhli

      12 Mei 2011 at 14:46

    • Salam hangat Miftah Fadhli. Anda pertannyakan bahwa sastra Chekov dalam kumcer pengakuan memiliki kesederhanaan tersendiri dan dalam karyanya itu lebih kentara bercerita tentang bagaimana memanfaatkan suasana hati, hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi (berdiam diri) untuk menyoroti psikologi batin para tokohnya. Sastra itu lebih diniliai dari keindahan sitematika kepenulisan seorang pengarang dalam menangkap fakta realita kehidupan maupun fiksi imajinasi, Miftah. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Dari asal katanya sastra itu berasal dari bahasa Sansekerta, Miftah dan memiliki arti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra. Nah, sastra saya fikir hanya sebuah generalisasi yang merujuk bacaan tek bisa novel, cerpen, syair/pantun dsb. Dan ada cerpen atau pun novel dengan bahasa biasa(tanpa perumpamaan diksi) dan itu dikatakan sebagian orang bukan karya sastra dan hanya tek biasa bercerita tentang kehidupan/fiksi. Coba Anda tengok DRACULA debutan Abraham Stroker, apakah cerita horor dengan bahasa bisa itu sastra? tapi banyak lo yang suka. Contoh lagi Harry Potter, Laskar Pelangi dsb apakah masuk katagori sastra dan gal ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan hangat, ada orang yang berpendapat semua buku yang bercerita tentang kehidupan manusia(fakta maupun fiksi) termasuk karya sastra dan ada pula yang tidak menyetujuinnya. Dan pendapat saya, Miftah. Karya Checov ada yang berbasis sastra dan ada yang bukan, dan karya Edgar Allan Poe yang rumit juga bukan, karena jelas dalam ceritanya hanya berkutat di penceritaan sisi psikologis yang kuat ketimbang memainkan diksioner kebahasaan. Itu hanya pendapat saya. Coba tanyakan orang yang mengaku sastrawan saja ya hehe… Sukses untuk Anda.

      Tova Zen

      16 Mei 2011 at 20:53

  20. Everybody sing..
    Garudaaa didadakuuu..
    Garudaaa kebanggaanku..

    Naif.

    Juno

    10 Mei 2011 at 19:55

  21. Salam. Tanpa mengurangi rasa hormat Pak Sitok Serengenge.

    Saya setuju dengan komentar Pak Aba Mardjani dan Pak Tova Zen. Menurut saya, jelas ada perbedaan antara Cerpen Kompas dan Cerpen Bobo: termasuk pula untuk urusan cerita tentang anak-anak. Saya rasa tak masalah sastra yang bercerita tentang sudut pandang anak-anak, dengan bahasa polos anak-anak (yang tak mungkin nyastra dan selangit). “To Kill a Mockingbird” karangan Harper Lee saja bisa menang Pulitzer. “The Lion, the Witch and the Wardrobe,” yang jelas-jelas diciptakan C.S. Lewis untuk anak-anak, saja bisa masuk daftar 100 novel berbahasa Inggris terbaik versi majalh Times, bersanding dengan “The Great Gatsby,” “Mrs. Dalloway,” dan judul-judul lainnya (CMIIW). Saya rasa “Rahasia Selma” nya Linda Christanty bisa juga jadi contoh gampangnya. Tapi, menurut saya, jelas saja ada perbedaan antara cerpen tentang anak-anak untuk rubrik sastra Kompas dan cerpen tentang anak-anak untuk Bobo. Bahkan cerpen-cerpen Bobo pun, sejauh yang saya ingat waktu kecil dahulu, masih sempat menyisipkan konflik, dilema, teka-teki, misteri, dan semacammnya.

    Saya membayangkan, andaisaja, cerpen ini dilanjutkan lebih jauh lagi (agar tidak sekedar terkesan seperti petuah datar semata). Misal, seusai dipetuahi si nenek, diceritakan suatu dilema/konflik Amir dalam menanamkan nilai-nilai “bendera” tersebut di lingkungan kehidupannya, atau semacamnya–yah saya bukan pengarannya.

    Cuma sekedar komentar iseng dari orang awam. Salam.

    Rio Johan

    10 Mei 2011 at 21:06

  22. Mohon maaf kalo saya tes
    organoleptiskan cerpen yg
    berjudul kenangan perkawinan
    karya antony ck dapat nilai 5 (nilai
    tertinggi) dan novel di atas dapat
    nilai 1 (nilai terendah ).

    salam,

    Takim

    Takim

    10 Mei 2011 at 21:57

    • Kenapa pembandingnya Antony CK? Padahal masih banyak yang lebih keren dari cerpen “KENANGAN PERKAWINAN”. Penilaian ini sangat mengadu domba bung.
      Dan satu lagi, artikel diatas bukan Novel tapi cerpen.

      Tova Zen

      12 Mei 2011 at 18:11

  23. salam tanya
    segtelah kompas versi cetak tak lagiu gratis, alias harus berlangganan, bagaimaana dengan nasib blog ini?
    trims

    rachmawan

    10 Mei 2011 at 22:06

  24. cerpen yang cuma punya satu masalah: datarrrrrrrrr.

    adib

    11 Mei 2011 at 09:50

  25. Pesannya terlalu perbal, cerpen ini sangat baik untuk kalangan pembaca cerpen anak-anak, tapi untuk penikmat prosa saya rasa cerpen ini belum dapet… btw, metafornya bang Sitok seperti menguap entah kemana..

    mashdar

    11 Mei 2011 at 13:16

  26. terlalu sederhana… cocok sekali dimuat di majalah anak2.. eh.. sekarang anak2 sudah mulai baca cerpen kompas ya?

    auki

    11 Mei 2011 at 18:37

  27. paling karena sitok kawannya redaktur kompas!

    Newandi

    11 Mei 2011 at 19:49

  28. Entahlah. Akhir-akhir ini Kompas seperti terus didemo atas ulahnya dalam menyajikan sebuah cerpen yang dirasa oleh pembaca tak sesuai dimuat di Kompas. Tapi bagiku yang awam sastra tak bisa apa-apa slain melongo. Buat para komentator, lam kenal..

    Otang K.

    11 Mei 2011 at 21:32

  29. Kecewa…

    eniek

    12 Mei 2011 at 08:17

  30. kalau pendapat saya pribadi, terlalu pragmatis mengatakan bahwa cerpen ini adalah cerpen anak-anak (apalagi cerpen majalah Bobo). apakah karena kesederhanaan, ke-frontal-an cerita sehingga cerpen ini langsung di-judge sebagai cerpen anak? lantas apakah cerpen yang bukan cerpen anak harus selalu mengusung tema-tema sosial berbahasa (katakanlah) “mutakhir”, “beralur gunung”, atau konsep-konsep cerita ‘yang bukan cerita anak’ lain yang terlalu positivis itu?
    justru kesederhanaan yang dianggap anak-anak itulah yang membuat ceritanya menjadi tidak sesederhana yang dipikirkan, gali pemikirannya, gali kedalamannya; cerpen anak tidak memiliki intensitas pemikiran cerpen “Bendera” meskipun beberapa cerpen (yang pernah saya baca) sarat nilai, tapi ayolah, bedakan ‘karakter’ pemikiran yang mereka usung.

    miftah fadhli

    12 Mei 2011 at 14:40

  31. saya curiga, cerpen ini dipesan oleh kompas

    gibb

    12 Mei 2011 at 17:01

  32. hhmm, :’(

    “Jangan meludah ke arah langit,”

    dwiputri

    12 Mei 2011 at 20:36

    • ‘janganlah engkau meludah melawan angin,” kata zarathustra. haha

      nirmala teja

      19 Mei 2011 at 21:06

  33. ya, betul sekali, cerpen ini sangat bagus, tapi salah sasaran, mestinya ini untuk rubrik Yunior (kompas anak). mungkin redakturnya udah ngantuk jadi asal ambil saja. sumpah! tak ada diksi dan konflik sebagaimana lzimnya karya sastra. ini cerpen ter”parah” ke @\dua yang dimuat kompas setelah PTDRnya DADANG!

    herawan

    13 Mei 2011 at 09:49

  34. halaaaaaaaah! KOMPAS benar2 buat kecewa, males jadi beli korannya!

    herawan

    13 Mei 2011 at 09:50

    • alah…. Nt cuma baca di blog ya. Jangan BL.(BLAGU),
      Sekarang coba apa nt bisa bikin yang lebih baik dari sitok gak? bisa masuk kompas gak??
      Kalo aku liat mukamu, dah aku ludahi. ciiiih

      iqi

      16 Mei 2011 at 15:13

  35. beberapa bulan terakhir saya tak pernah lagi baca kompas (cetak), apalagi kompas minggu. Minggu pagi kemarin secara tak sengaja menemukan penjual berbagai koran, termasuk kompas minggu. Saya baca halaman per halaman dari belakang. tiba di halaman yang saya nanti-nanti. cerpen. setelah membaca awal – akhir, hanya bingung. kenapa cerpen di kompas Minggu beberapa bulan lalu begitu jauh berbeda dengan yg saya baca sekarang?? mengecewakan.. barangkali saja ada ulasan yg jelas dari redaktur halaman ini. salam pembaca awam.

    tutihandriani

    13 Mei 2011 at 14:44

  36. saya jadi curiga, jangan2 redaktur kompas salah nulis nama penulisnya. jangan2 ini bukan cerpen Sitok, tapi si bolang.. tlong dicek lagi, pak redaktur!!!

    ha-rijadie

    14 Mei 2011 at 11:37

  37. Bahasanya sangat sederhana :D
    Jadi nggak perlu “menguras otak” buat baca cerpen yang satu ini.
    Menurut saya, sesederhana apapun cerpen ini tetap sebagai penikmat sastra kita harus bisa menghargai dong. Kalaupun memberi kritik, juga harus bisa memberi saran.
    Hehehe karena saya cuma orang awam yang nggak begitu ngerti sastra, jadi mohon maaf kalau ada pendapat saya yang salah :)

    Fernanda Veronica

    15 Mei 2011 at 18:42

  38. Cerpen Kompas (edisi minggu 15 mei 2011) : Ikan Kaleng

    silahkan mampir dan dibaca..ato mau co-pas buat taroh di blog’a jg boleh (jangan lupa link back) ^_^

    Nyla Baker

    15 Mei 2011 at 19:44

  39. saya setuju cerpen ini cocok untuk majalah anak2.catatan untuk cerpen ini bermasalah pada ending yang cepat dan tidak menarik.

    seulawahl

    15 Mei 2011 at 20:33

  40. kok banyak orang awam di sini y…:D

    pwnp98

    16 Mei 2011 at 08:34

    • awam, awam tapi mampu menghargai karya orang.. gak kaya yang diatas2…

      iqi

      16 Mei 2011 at 15:16

    • Ya, bersyukurlah kepada pembaca awam yang selalu siap menjadi penikmat. Pembaca tak awam, para kritikus, mungkin takkan menuliskan kritiknya di blog ini, tapi di majalah sastra atau di rubrik-rubrik esay koran.

      Aba Mardjani

      17 Mei 2011 at 06:01

  41. saya sangat menghargai mas sitok dan cerpennya, jg pengalaman beliau berkesenian.
    saya ingat mbak ayu utami pernah bilang waktu dia ngerjain bilangan fu kalo org indonesia skrg smkn bnyk berbicara dan itu semua (tampaknya) hebat-hebat, karena itu bilangan fu dimaksudkan sbg karya sderhana saja.
    saya tentu gak ngerti motif mas sitok di sini, apakah ada pretensi serupa mbak ayu, itu hak penulis. tapi akhirnya sebagai pembaca karya ini tak istimewa, saya coba membandingkan dengan to kill a mockingbird yg bercerita dari sisi anak-anak, atau setidaknya jackdraw summer yang memang pangsanya anak-anak.
    atau mungkin di masa posmodern sekarang memang membedakan karya yang luar biasa dan main asal memang tak berbatas lagi. dan karena itu harus nama besar yang bermain, karena mereka sudah bermassa, saya juga tidak tahu.
    saya hanya membayangkan kalau yang menulis cerpen ini bukan mas witok, tapi saya, pasti perlu 1000 kali redaktur kompas berpikir menampilkannya, dan cercaan atasnya 1000 kali lebih pedas.

    gide buono

    17 Mei 2011 at 06:20

  42. Sedari dulu saya lebih suka baca puisi Mas Sitok dibanding cerpennya. Tapi tetap salut pada beliau yang low profile..
    Bravo Mas Sitok

    haris

    25 Mei 2011 at 08:04

  43. maknanya sangat dapat. salut deh ,

    dildut

    28 Mei 2011 at 10:20

  44. salam untuk cerpenisnya.

    simple, sangat simple !
    tidak ada yang terselip.

    Kucing Senja

    29 Mei 2011 at 11:09

  45. Salam..
    ini untuk kali pertama Ana kirim koment di kumcer kompas,

    cerpennya “bagus”, :)

    Ana sampaikan terimakasih buat pengarangnya karena cerpen Bendera ini memberikan semangat buat Ana, semangat hidup lebih untuk kedepannya juga semangat untuk ‘mulai’ menulis kembali,

    THANK, :)

    Ana

    31 Mei 2011 at 17:54

  46. tapi ada pesan terselubung di cerpen nan elok ini. ada #iklansesat tentang produk susu bendera :)

    @ifdalsukri

    2 Juni 2011 at 03:55

  47. iya bener. ini sih buat rubrik anak-anak. salah muat kali -_-’

    FGH

    5 Juni 2011 at 00:59

  48. Cerpen sederhana, pesannya pun sederhana… Selebihnya, terserah!
    Oke kok!

    donaLd

    8 Juni 2011 at 23:54

  49. hahaha saya orang baru di sini.
    saya membaca Bendera karya Sitok Srengenge dengan seksama karena merupakan bagian akhir dari tugas kuliah Apresiasi Prosa.
    Saya kurang sependapat dengan yang mengatakan bahwa cerpen itu tak layak untuk di-Kompas-kan. Memang cerpen itu lugas tapi bukan berarti membawa muatan. Tentunya orang-orang di atas sudah tahu tentang dulce et utile, saya sebatas tahu terjemahannya tanpa tahu makna. Dengan demikian saya sangat menghargai cerpen tersebut.
    Apa salahnya sebuah kelugasan? apakah setiap keindahan harus “njelimet”? yang penting kan muatan dalam cerpen tersebut. Kenapa sitok memilih anak SD, Amir, menurut saya itu mudah saja. Anak kecil menggambarkan keluguan dan kebersihan.
    Jika kita benar-benar membaca cerpen tersebut dengan kacamata sastra mungkin kita tidak akan mengolok-oloknya (dan saya rasa Sitok Srengenge sendiri tidak akan risih meski diolok-olok). Karena muatan dalam cerpen itu sangat dalam yang digambarkan dengan kesederhanaan.

    muntijo

    30 Juni 2011 at 13:00

  50. Saya sependapat dengan pendapat sebagian besar pembaca cerpen ini bahwa cerita yang diangkat terlalu datar dan sederhana, kurang cocok dengan nama besar Sitok Srengenge dan Kompas sebagai koran yang dipandang sebagai ‘sastra abis’ dengan menerbitkan buku kumpulan cerpennya setiap tahun. Namun, mungkin juga Kompas memilih cerpen ini karena makna yang terkandung di dalamnya yang sesuai dengan kondisi bangsa saat ini. Justru dengan kesederhanaannya itulah pesan dalam cerpen ini dapat lebih mudah disampaikan.

    Salam.

    bacafiksi

    2 Juli 2011 at 21:24

    • kesederhanaan membawa kebermaknaan.

      muntijo

      5 Juli 2011 at 11:33

  51. saya sepakat dengan suara teman2. saya baca cerpen ini karena penulisnya pak sitok, tapi setelah baca, saya terkejut. kupikir ini cerpen anak2 dan setelah saya memberikan cerpen ini untuk teman di samping saya yang juga awam sastra, dia juga sependapat dengan saya: ini cerpen anak2. saya pikir pak sitok lebih hebat menulis puisi ketimbang cerpen karena dia sudah lama menulis puisi. saya hanya pembaca saja, jadi saya menilai ini subjektif dari pengalaman saya selama ini membaca. terima kasih.

    royyan julian

    14 Juli 2011 at 11:18

  52. Kecewa.

    Beda Saja

    25 Desember 2011 at 17:54

  53. Cerpen ni karya sapa ya??

    Natha

    18 Januari 2012 at 04:48

  54. memang iya, cerpen ini berasa kayak cerpen anak-anak. sangat datar, sangat datar, dan sangat datar. umpama kalau saya (atau orang lain yang tidak terkenal) mengirimkan cerpen seperti itu ke KOMPAS, saya tidak yakin akan dimuat.

    natiq

    16 Januari 2014 at 18:17


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.499 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: