Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Perempuan Tua dalam Rashomon

with 51 comments


Pemberitahuan

Setelah melakukan pengkajian dan menimbang berbagai masukan, cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon tulisan Dadang Ari Murtono, yang dimuat Kompas Minggu (30/1), dinyatakan dicabut dan tidak pernah termuat dengan berbagai alasan.

Redaksi

Perempuan itu berjongkok di antara mayat-mayat yang hampir membusuk dalam menara Rashomon. Perempuan yang tua, berbaju kecoklatan, bertubuh pendek dan kurus, berambut putih dan mirip seekor monyet. Dengan oncor dari potongan kayu cemara di tangan kanannya, perempuan itu memandangi wajah sesosok mayat. Mayat seorang perempuan dengan rambut panjang. 

Bagaimana bisa ada tumpukan mayat dalam menara Rashomon, baiknya kuceritakan dulu. Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak poranda.

Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun—kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.

Perempuan itu sebatang kara, tak mempunyai keluarga. Perempuan itu tak menikah sebab tak ada lelaki yang ingin menikah dengan perempuan berwajah buruk seperti monyet. Apalagi ia bukan seorang kaya atau turunan bangsawan. Dulu, ia bekerja sebagai pelayan di rumah bangsawan Kyoto. Bertahun-tahun ia bekerja dengan baik dan tak pernah mengeluhkan gaji yang terlalu sedikit. Majikannya menyayanginya. Ia merasa bahagia. Dan sepertinya tak bakal ada alasan bagi majikannya untuk memberhentikannya. Ia sudah seperti keluarga saja dengan keluarga majikannya. Karena perlakuan seperti itulah ia tak terlalu bersedih sewaktu bapak ibunya meninggal terkena wabah penyakit.

Namun ia keliru. Kondisi Kyoto pada waktu seperti ini mengalami kemunduran yang teramat cepat. Dan majikannya yang baik itu juga merasakan dampak kemunduran itu. Majikannya memecatnya. Majikannya bilang tak mampu lagi membayar gajinya yang tak banyak dan memberinya makan. Majikannya tak sekaya dan sebaik yang ia sangka ternyata. Kemudian ia pergi dari rumah majikannya. Dan karena ia tak mempunyai sanak famili untuk menumpang tinggal, juga rumah orangtuanya yang sempit telah lama dijual untuk biaya pengobatan mereka, maka ia melantung, tidur di emper rumah penduduk atau meringkuk di relung-relung reruntuhan bangunan yang banyak terdapat di seantero Kyoto bersama pencoleng dan orang-orang buangan.

Awalnya ia kebingungan bagaimana bekerja dan mendapat uang untuk menopang kehidupannya. Ia tak punya keahlian apa-apa selain menyiapkan teh dan membikin sushi, menyapu rumah dan mencuci pakaian. Ia tahu, tak bakal ada yang mau menerimanya sebagai pelayan. Semenjak krisis berkepanjangan ini, orang-orang kaya tak lagi mencari pelayan baru, sebagian besar malah memecat pelayan mereka. Dan para istri saudagar atau bangsawan mesti belajar menanak nasi, membersihkan rumah dan merawat kebun. Krisis berlangsung terlalu panjang dan menimbulkan akibat yang teramat hebat. Pemecatan perempuan tua itu dan pelayan-pelayan lainnya barangkali hanya sekadar riak kecil saja dari kemunduran itu.

Dalam kebingungan seperti itu, perempuan tua itu berpikir untuk menjadi pencuri. Ia kelaparan. Daripada mati kelaparan lebih baik ia mencuri. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menopang hidupnya selain dengan mencuri. Namun belum sempat menjalankan pikiran itu, kesadarannya timbul. Tubuhnya sudah lemah dimakan usia, ia tak bakal bisa berlari cepat menyelamatkan diri bila terpergok pemilik rumah. Ia akan mudah tertangkap dan menjadi bulan-bulanan penduduk Kyoto. Itu akan sangat memalukan. Memang, seringkali rasa malu lebih penting dari perut yang kelaparan.

Hingga pada suatu ketika, ia sampai di Rashomon. Dengan menaiki beberapa anak tangga, ia menuju menara yang teduh untuk beristirahat. Alangkah terkejut ia dan hampir saja semaput demi dilihatnya dalam menara itu bertumpuk mayat-mayat. Sebagian mayat-mayat itu berpakaian, sebagian lagi telanjang. Sebagian mayat laki-laki dan sebagian lagi perempuan. Mayat-mayat itu berserakan dan bertumpuk di lantai, serupa boneka-boneka dari tanah. Ada yang mulutnya menganga dan tangan terentang. Sulit baginya membayangkan bahwa mayat-mayat mengerikan itu pernah hidup sebelumnya.

Perempuan tua itu nyaris berlari balik ke arah darimana ia datang, ke jalan yang tadi ia tempuh. Namun secepat ia berbalik badan, secepat itu pula terbersit pikiran untuk mendapatkan uang dari mayat-mayat itu. Barangkali di saku baju mayat-mayat yang masih berpakaian ada barang berharga yang tertinggal, barang berharga yang bisa dijual. Tapi mayat-mayat itu adalah mayat buangan. Bagaimana bisa ada barang berharga dari mayat-mayat semacam itu. Tentu orang yang membuang mayat-mayat itu telah lebih dulu mengambilnya.

Namun ia menemukan ide yang lebih cemerlang. Dulu, sewaktu masih kanak-kanak, bapaknya pernah mengajarinya membuat cemara palsu dari bahan rambut. Itu bisa dijual. Dan kini di hadapannya, tersedia banyak sekali rambut untuk membuat cemara. Rambut mayat-mayat itu. Ia tinggal mencabutinya. Kemudian ia putuskan untuk tinggal dalam menara itu, tidur bersama tumpukan mayat-mayat itu.

Senja ini, hujan mengguyur Kyoto. Perempuan tua itu tak peduli. Ia merasa nyaman dan terlindung dalam menara itu. Tadi siang seseorang melempar mayat baru ke dalam menara itu. Mayat perempuan dengan rambut panjang yang lembut, perempuan yang seperti ia kenal, atau paling tidak pernah ia jumpai, hanya saja ia tak tahu persisnya di mana dan kapan. Ia tak tahu kenapa wanita itu mati dan dibuang ke dalam menara. Tak ada bekas luka di tubuh mayat itu, karena itulah ia menyimpulkan perempuan itu meninggal karena wabah penyakit. Tapi itu tak menjadi pikiran yang penting dan perlu berlama-lama direnungkan. Ia juga tak peduli siapa yang membuang mayat perempuan itu. Yang penting baginya adalah sesegera mungkin mencabuti rambut di kepala wanita itu untuk membuat cemara.

”Alangkah bagus rambut ini. Tentu bakal jadi cemara yang bagus dan berharga mahal nantinya,” bisiknya pada diri sendiri.

Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya. Pada waktu itulah, ia teringat siapa perempuan yang kini menjadi mayat dan tengah ia cabuti rambutnya itu.

Ia terlalu bersemangat mencabuti rambut mayat itu sampai tak tahu bahwa sedari tadi seseorang tengah mengamatinya. Seorang Genin, samurai kelas rendah. Genin itu tiba-tiba saja melompat dari tangga. Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.

Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel. ”Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri. Ia masih meronta-ronta dengan hebat. Namun sehebat apa pun rontaan dari tubuhnya yang lemah, tetap saja tak mampu membuatnya lolos dari cengkeraman Genin itu.

”Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku…”

Genin itu melepaksan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya. Genin mengerti perempuan tua itu tengah ketakutan.

”Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

”Aku mencabuti rambut. Aku mencabuti rambut untuk membuat cemara.”

Genin itu merasa kecewa dan kaget dengan jawaban sederhana dan di luar dugaannya itu.

Perempuan tua itu melanjutkan, ”Ya, memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan hering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”

Genin menyarungkan pedangnya kembali. Ia mendengar ocehan perempuan tua itu dengan dingin. ”Kau yakin begitu?” tanyanya dengan nada mengejek ketika perempuan itu telah selesai bicara. Lalu sambil mencengkeram leher baju perempuan itu, ia berkata geram.

”Kalau begitu, jangan salahkan aku bila aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tak melakukannya.”

Dengan kasar, lelaki itu merenggut pakaian si perempuan tua, menarik tangan dan menyepak tubuh ringkih itu hingga jatuh menerpa tumpukan mayat-mayat. Dengan mengempit pakaian hasil rampasan, Genin itu menuruni tangga dan hilang di ujung jalan.

Beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh takbernyawa itu sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang sakit karena ditendang dan jatuh tadi. Ia memandang jasad-jasad itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia bergumam, ”Alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar, dengan perkara duniawi.”

Pada waktu itu, ia ingin menjadi mayat. Terlentang di tempat itu. Tak lagi berpikir apa-apa. Tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya.

About these ads

Written by tukang kliping

30 Januari 2011 pada 00:03

Ditulis dalam Cerpen, Kontroversi

Dikaitkatakan dengan ,

51 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. cerpen terkontroversi… kita tunggu reaksi teman2x cerpenis lain

    Budi Setiyarso

    31 Januari 2011 at 05:21

  2. Kenapa harus plagiat?

    Mikail

    31 Januari 2011 at 07:40

  3. REDAKTUR YANG PEMALAS,
    REDAKTUR YANG NGGAK JELAS,
    KOMPAS OH KOMPAS

    bima

    31 Januari 2011 at 08:24

  4. jelas jelas plagiat kok masih diterima
    apakah redaksi tidak tahu atau kesengajaan?
    mana klarifikasi dari kompas

    rntxd

    31 Januari 2011 at 09:03

  5. Plagiat, oh, plagiat

    rif

    31 Januari 2011 at 10:17

  6. plagiaaaaaat (plagi art)

    rif

    31 Januari 2011 at 10:18

  7. Terlepas dari soal plagiat atau tidak, karya penulis yg sama baru dimuat bulan November kemarin.

    Ayolah Redaktur Kompas, bulan2 sebelumnya sdh cukup baik, kok kali ini jadi seperti kembali ke titik nol?

    Tidak perlu mengulang romantisme “standar layak muat” ala Kompas yg dulu2.
    Sudah saatnya Kompas jadi “galeri cerpen bagus versi Indonesia”, bukan lagi jadi “galeri cerpen bagus versi redaktur”.
    Masih banyak sekali naskah dan penulis lain di luar sana.
    Jangan takut dibilang mutu Kompas turun jika coba menampilkan penulis baru atau tema2 dan gaya penulisan baru.

    A

    31 Januari 2011 at 13:23

    • Sungguh sangat sepakat.

      Trudonahu Abdurrahman Raffles

      31 Januari 2011 at 19:02

    • SETUJU !!!

      dhanar aditya nugraha

      19 Februari 2011 at 10:58

    • pak redaktur perlu menguasai sistem tanda. jgn sampai penulis cerpennya memberikan catatan kaki: cerita bersifat fiktif belaka. apabila ada kemiripan nama, alur dan peristiwa, maka mohon dimaklumi.

      Mr. Saksak

      12 Maret 2011 at 22:45

  8. Tidak terbayangkan jika kasus ini meluap sampai ke luar negeri, apalagi ke Jepang, Dadang Ari Murtono harus bertindak di garda paling depan dan mengakui kebodohannya.

    miftah fadhli

    31 Januari 2011 at 15:07

  9. Akutagawa Ryunosuke?

    tukang kliping

    31 Januari 2011 at 16:22

  10. betul bung kliping..cerpen ini menulis ulang cerpen rashomon karya akutagawa.cerpen ini udah diperdebatkan krn pernah terbit di lampungpost desember 2010.cek kemiripan search d google buku..bnyak paragraf yg ceritanya bahkan kalimatnya sama

    Budi Setiyarso

    31 Januari 2011 at 16:52

  11. pertma saya membaca cerpen ini saya tidak tahu kalau seperti ini kisah diluar cerpen ini. komentar saya “mengenaskan” untuk cerpen kompas bisa ‘kebobolan’ seperti ini.

    hudi

    31 Januari 2011 at 18:40

    • Perdebatan seru di akun facebook Bamby Cahyadi dan Sungging Raga… Lihat analisis mereka bung

      Budi Setiyarso

      31 Januari 2011 at 20:23

  12. Waduh..gimana nih..rasanya abah pernah baca cerpen ini..
    Buat Kompas: kuberi nilai seratus tapi angka satunya buang!

    Abah Ogo

    31 Januari 2011 at 22:53

  13. Kepada Tukang Kliping. Saya membaca kabar dari Twitternya Mas Putu Fajar Arcana (Kompas Minggu), bahwa cerpen Dadang Ari Murtono ini, dinyatakan tidak pernah dimuat.

    Saya berharap sih, cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon di blog Kumpulan Cerpen Kompas ini, dihapus saja, dan tak pernah ada.

    Tapi semuanya terserah Mas Tukang Kliping. Terima kasih.

    Bamby Cahyadi

    31 Januari 2011 at 23:01

  14. ini jadi pelajaran kita semua.

    Redaktur sastra perlu menambah asisten…sekalian mengurangi jumlah pengangguran…

    Mulai sekarang setiap cerpen yang masuk harus dikonfirmasi maximal sebulan setelah pengiriman agar tdk terjadi pemuatan ganda…

    Saya sependapat, ini cerpen plagiat, bagaimanapun dalih penulis dan para pendukungnya…Semoga saudara Dadang Ari Murtono segera minta maaf dan tdk mengulangi kesalahannya…
    Jangan tunggu reaksi dari Jepang…lebih memalukan lagi.

    Apakah Undang-Undang tentang plagiat yg berlaku di negeri ini sudah sesuai? perlu direvisi atau bagaimana?

    Selamat berkarya semua…
    Terima kasih.
    Salam

    Unkam

    1 Februari 2011 at 20:35

  15. Salam hangat selalu.
    Saya suka ide cerpen Akutagawa ini. Sangat lurus, secara tiba-tiba meliuk dan diakhiri pada titik hakekat hidup: -semua yang hidup akan mati-semua yang hidup inginkan makanan agar tak mati-
    Konsep penceritaan yang berakar pada endemi miris yang dialami seorang wanita tua buruk rupa yang tak dihargai secara sosial-kemanusiaan. Kerobohan aspek psikologis,mental,dan nurani yang mendera hati si wanita tua. Buat apa hidup kalau tak diakui keberadaannya? Pertayaan yang menggelitik nurani saya tentang kesimpulan cerita diatas. Jawabnya: kelaparan yang membuatnya ingin hidup. Jadi kembali kepada insting mempertahankan hidup dengan makan, tapi tak hidup dalam pergulatan kehidupan(sosial kemasyarakatan). Masih banyak saya kira manusia zaman sekarang yang terkucil seperti itu, kemiskinan yang menjadi momok tajam yang membuat individu sulit di terima secara kultur sosial modernis,egoistis,materialistis. Mungkin banyak saudara-saudara kita yang hidup dan makan di tempat sampah, dari sisa-sisa makanan, bersama gelandangan. Oh, miriskah kita?! : tanyakan hati nurani Anda.

    Aspek antagonis keterasingan diri juga bisa dialami oleh orang-orang kaya yang menutup dirinya dari sosio-kultur(kemasyarakatan). Mereka hidup dengan harta melimpah ruah, tapi terkucil dari masyarakat, tertutup dan pemilih saat bergaul. Mereka lebih memikirkan bagaimana mendapatkan harta melimpah ruah, mengekplor semberdaya alam/manusia untuk bekerja sistematis-teroganisir untuknya. Sulit didekati orang kaya macam ini, karena tertutup serta dilindungi security berlapis. Dan pada akhirnya egositaslah yang membuatnya hidup dalam kesendirian. Kesimpulannya adalah KESENJANGAN SOSIAL.

    Menyikapi plagiat saya punya bahasa menarik : Cerpenis itu pencuri yang mengambil ide dari dunia ini, lalu ia imajinasikan dalam dunia fiksinya.

    Dunia ini adalah lakon kehidupan dan cerita adalah cerminan dari dunia yang sifatnya BAYANGAN/.

    Kadang cerita tak jauh-jauh idenya dari diri kita sendiri, bahkan lebih dari itu. Fiksi idenya dari fakta, yang ditranform dalam dunia imajinitas. Berisi petuah,nasehat,kemurungan hidup,emosi batin,bahkan absurdtisme akut yang bermuatan kritik sosial.

    Saya suka membaca fiksi, karena fiksi jauh lebih menarik daripada membaca fakta dunia ini. Kalaupun saya tahu, idenya tak jauh-jauh dari fakta sejarah kehidupan ini. Saya bisa tersenyum,sedih,gembira,menjadi apa saja dalam cerita, dan saya bisa melayang ke dunia nan jauh di sana yang saya dapatkan dari membaca fiksi.

    Hanya saja saya tak bisa tolerir pencurian ide yang berasal dari imaji orang lain, persis dan sama. Jangan mengubah ide serta fiksi orang lain, karena akan mengganggu kenikmatan baca saya.

    Saudara Dadang pun saya rasa cukup cerdas dalam menuangkan imaji sebuah cerita, tapi menduplikat ulang akan membuat Anda tampak dungu di hadapan pembaca Anda sendiri.

    Sukses selalu untuk rekan yang mampir di blog ini.

    Tova Zen

    1 Februari 2011 at 23:21

  16. Ini jadi pelajaran untuk redaktur rubrik seni Kompas,khususnya bagian cerpen. Mungkin teman2 dah pd tau kalo redakturnya baru&dulunya beliau megang rubrik politik yg agak jauh dr ‘dunia’ sastra. Menurutq,redakturnya nich msh pake patokan ‘selera’ nya untuk memuat suatu cerpen. Seharusnya kalo mo merombak formasi redaksi, lihat dl kemampuan si redaktur yg mo megang rubrik trtentu,kalo g berkompeten bs2 cm berbuah kekecewaan bt para pembacanya. Yach,semoga kritik&saran dr tmn2 bs menyadarkan sang redaktur cerpen kompas untuk lbh baik lg.

    Puteri

    2 Februari 2011 at 08:02

  17. Pengarang pukimak!

    Hikmat

    2 Februari 2011 at 13:02

  18. Sangat disayangkan yah, tapi saya setuju dengan Bung A. Kompas seharusnya jadi Galeri Cerpen Paling Bagus,

    dari lukisan-lukisannya sudah paling menonjol dan bagus, ditambah pemilihan cerita

    saya suka ceritanya, dan Lukisannya, loh kog Plagiat.saya juga tahu yah dari membaca koment-koment ini.

    kesalahan ini semoga tidak terulang lagi.

    Nikotopia

    2 Februari 2011 at 19:33

  19. Tentang Perempuan Tua dalam Rashomon (Oleh: AS. Laksana)

    31 JANUARY 2011

    LABELS: SURAT SENIN PAGI

    Nama “Surat Senin Pagi” saya pilih karena terdengar enak. Meski surat pertama ini baru muncul pada Senin sore, untuk kesempatan berikutnya, saya akan berusaha ia muncul tiap Senin pagi. Dan ini surat pertama.

    Teman-teman,

    Untuk melatih diri bermental baja, anda mungkin bisa mencontoh Dadang Ari Murtono. Pada 5 Desember 2010, cerpennya yang berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon dimuat oleh Lampung Post. Sejumlah orang menyatakan bahwa cerpen tersebut melulu jiplakan dari cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke. Perdebatan sengit berlangsung di jejaring sosial facebook dan twitter. Sungging Raga berusaha membuktikan plagiarisme Dadang dengan menjajarkan paragraf-paragraf yang identik dalam dua cerpen Rashomon tersebut.

    Mengaku mendapatkan desakan dari kawan-kawannya untuk menanggapi suara-suara sengit itu, Dadang menulis pembelaan terhadap Rashomon versinya–meski sebenarnya ia “ingin membiarkannya saja sebenarnya”. Dalam pembelaannya ia menulis antara lain sebagai berikut:

    “Inti dari cerpen saya sendiri adalah upaya mengalihkan – bila istilah perlawanan terlalu berlebihan – cerpen Akutagawa ke konteks pemaknaan dunia sekarang ini yang saya yakini kebenarannya. Seperti inilah idenya: merubah sudut pandang yang dipakai Akutagawa tentang kehidupan itu sendiri, tanpa merubah dunia yang telah dibangunnya.”

    (Kesalahan penulisan “merubah” yang seharusnya “mengubah” dalam kutipan di atas adalah dari Dadang sendiri. Namun, karena ia orang Jepang, saya agak maklum jika ia tidak tahu bahwa kata itu dibentuk dari kata dasar ubah dan bukan rubah atau cerpelai.)

    Saya tidak ingin menjajarkan lagi paragraf-paragraf dalam kedua Rashomon itu, yang memang hampir sepenuhnya identik. Pekerjaan itu sudah dilakukan oleh Sungging Raga. Karena itu, saya pikir kita bisa membicarakan hal lain, dan saya akan berangkat dari pembelaan di atas.

    Apa yang dimaksudkan oleh Dadang dengan “merubah sudut pandang” adalah mengganti siapa yang diceritakan masuk ke gerbang Rashomon pada awal cerita. Dalam cerpen Akutagawa, ia adalah seorang lelaki, pelayan samurai yang baru dipecat majikannya dan menjumpai di ruangan atas gerbang tersebut seorang perempuan tua sedang mencabuti rambut mayat seorang perempuan. Dalam versi Dadang, ia adalah seorang perempuan tua, juga pelayan samurai yang baru dipecat majikannya. Menjumpai tumpukan mayat di sana, perempuan itu memutuskan mencabuti rambut orang-orang mati itu untuk dijadikan cemara. Jadi, yang dilakukan Dadang adalah menggabungkan karakter Genin atau pelayan samurai dengan si perempuan tua, seperti seorang pawang mengawinkan tapir dengan musang.

    Hasilnya, selain satu paragraf penutup, semuanya sama persis, baik plot, setting, maupun nada tuturan cerita tersebut dengan cerita Akutagawa. Saya kira ini sebuah ikhtiar yang agak imbisil untuk melahirkan sebuah cerita yang bersandar dari karya orang lain untuk kemudian dinyatakan sebagai karya sendiri.

    Alasan pengubahan sudut pandang saya kira menjadi terlampau lemah dalam kasus ini. Kita bisa memaafkan bahwa Dadang tidak bisa membedakan ubah dengan rubah atau burung onta. Banyak orang lain mengidap gejala seperti itu. Dalam hal ini kekeliruan Dadang bukan kasus unik. Namun yang tidak termaafkan adalah kegagalannya memahami bahwa setiap individu adalah unik. Tiap-tiap orang akan melihat kenyataan dari pandangan dunianya masing-masing. Karena itu, di tangan seribu penulis kita akan mendapatkan seribu cerita, seribu cara pandang, seribu suara tuturan, pada saat mereka diminta menggarap satu tema. Dari sudut pandang satu karakter kita bisa mendapati satu cerita dan realitas yang hanya milik karakter tersebut. Sementara dari sudut pandang karakter lain, kita akan mendapati cerita dan realitas lain, kendati peristiwanya sama. Itu karena isi kepala masing-masing dari mereka berbeda, dan realitas adalah representasi pandangan dunia masing-masing orang.

    Dadang memang memiliki kalimat yang patriotik untuk menjelaskan dirinya. Simaklah kalimat berikut:

    “Dan kenapa ada beberapa kalimat yang sama persis dalam Perempuan Tua dalam Rashomon dengan kalimat-kalimat dalam Rashomon adalah karena saya ingin menjaga ingatan pembaca kepada Rashomon, agar dunia yang dibangun dalamPerempuan Tua dalam Rashomon tidak merusak apa-apa yang telah terbangun dalam Rashomon. Sebab ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Sebab ini perkara perlawanan dan keberpihakan.”

    Ia benar bahwa ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Dan ia boleh sepatriotik mungkin menjelaskan dirinya. Namun, saya akan lebih sepele melihatnya, ini adalah perkara bagaimana seorang penulis memahami sudut pandang. Setiap orang memiliki kesaksiannya sendiri atas realitas, setiap orang memiliki versi yang berbeda meski mereka ditempatkan dalam setting dan situasi yang sama.

    Akutagawa memahami hal tersebut. Karena itulah dalam cerpennya yang lain, “Di sebuah Hutan kecil”, ia membuat empat “realitas” berbeda atas satu peristiwa pembunuhan. Realitas pertama dari sudut pandang orang-orang yang mendapati mayat tersebut, mereka memberikan kesaksian di kantor polisi, termasuk kesaksian polisi yang menangkap pembunuhnya. Realitas kedua dari sudut pandang Tajomaru, si pembunuh, yang mengakui bahwa memang dialah yang membunuh korban. Realitas ketiga dari istri korban, yang mengakui bahwa dialah yang membunuh suaminya, bukan penyamun Tajomaru yang telah memerkosanya. Realitas keempat dari korban pembunuhan itu, melalui seorang cenayang.

    Dadang tidak memiliki pemahaman sebaik Akutagawa dalam hal memaknai realitas. Maka, kendati ia mengakui membuat perubahan sudut pandang, kita masih mendapati segalanya sama saja. Ia mencoba menyodori kita sebuah versi lain, namun ada yang fatal dalam versinya: tak ada perbedaan realitas yang diwakili oleh perubahan sudut pandang. Maka, kita menjumpai bahwa isi kepala seorang lelaki pelayan samurai sama belaka dengan isi kepala perempuan tua pemulung rambut mayat, kecuali pada ending yang menurut saya justru terasa lebih klise dan mandek: perempuan tua itu memandangi tumpukan mayat dan berpikir alangkah enaknya menjadi mayat, tidak ada lagi persoalan. Selesai.

    Dalam versi Akutagawa, ketika cerita berakhir, kita masih diajak melihat kegelapan. Dan kita masih diberi kesempatan “menulis” sendiri kelanjutan cerita tersebut, apakah perempuan tua itu akan terus mencabuti rambut si mayat untuk dijadikan cemara setelah si pelayan samurai merampok dirinya, atau kemungkinan apa pun. Sementara pada diri lelaki pelayan samurai, kita disodori kegelisahan apakah orang harus menjadi penjahat untuk bertahan hidup–dan kemudian sebuah ironi. Itu bagian sangat kuat pada cerita Rashomon yang justru hilang oleh ikhtiar Dadang.

    Kehadiran perempuan tua yang mencabuti rambut mayat demi bertahan hidup membuat si pelayan samurai muak pada kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mempertahankan nyawa. Ia, yang beberapa waktu sebelumnya berpikir untuk menjadi pencuri demi bertahan hidup, kemudian mendapatkan kesadaran berikut bahwa baginya lebih baik kehilangan nyawa ketimbang melakukan kebejatan sebagaimana yang dilakukan perempuan itu. Namun, sesaat kemudian, perempuan tua itu jugalah yang memberinya alasan, dalam percakapan singkat, bahwa dengan cara apa pun nyawa harus dipertahankan. Lagipula, menurut perempuan itu, “Mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu.”

    Pada saat itulah, Akugawa menyodori kita ironi. Ketika perempuan tua itu menjelaskan “apa yang pantas didapat oleh mayat-mayat itu”, ia sesungguhnya sedang menjelaskan juga apa yang pantas didapat olehnya. Maka, pelayan samurai itu menjadikan si perempuan tua korban pertamanya. Atas persetujuan si tua itu sendiri.

    Apa boleh buat, secara patriotik demi “perlawanan dan keberpihakan”, Dadang telah membantai bagian yang paling memikat dari cerpen Akutagawa.

    Itu masalah pertama dengan cerpen Rashomon versi Dadang. Masalah berikutnya, cerpen yang sama dimuat lagi tujuh pekan kemudian di Kompasminggu kemarin (30/1/2011). Raudal Tanjung Banua mengirimkan sms kepada saya pada sore harinya. Bunyinya: “Mas, baca cerpen Kompas hari ini, karya Dadang Ari Murtono? Lha, itu kan jiplakan bulat-bulat dari cerpen Ryunosuke Akutagawa berjudul Rashomon yang pernah diterbitkan akubaca. Kok redakturKompas tidak ingat cerpen terkenal itu ya? Demikian sekadar info. Salam.”

    Sebelumnya, siang hari, di Milis Bengkel Penulisan Novel DKJ 2009, Apendi, salah seorang anggota milis, menulis surat yang mempertanyakan cerpen itu juga. Seperti membuat kuis, ia mengajukan pertanyaan: Kompas sengaja atau kecolongan?

    Cerpenis Bamby Cahyadi menulis surat untuk Kompas, yang dimuat di situshttp://indonesiabuku.com pada hari yang sama dengan pemuatan cerpen tersebut. Ia menulis antara lain:

    “Saya kecewa kepada KOMPAS, karena selain cerpen tersebut (Perempuan Tua dalam Rashomon) sudah pernah dimuat di Lampung Post, pada 5 Desember 2010, kenapa pula cerpen PLAGIAT itu bisa lolos dan dimuat di Kompas Minggu, 30 Januari 2011. Padahal cerpen Dadang ini, sempat membuat polemik masalah plagiat mencuat dan didiskusikan secara terbuka di media Facebook oleh beberapa cerpenis termasuk saya.”

    Akhirnya, setelah cukup berpanjang lebar, saran saya untuk kasus ini tetap saja: Untuk melatih diri bermental baja, tirulah Dadang Ari Murtono. Saya mendapatkan komentar juga bahwa cerpennya yang berjudul Lelaki Sepi, yang juga dimuat di Kompas, mengingatkan kita pada cerita Perempuan Berwajah Penyok karya Ratih Komala.

    Salam saya,

    A.S. Laksana

    N.B. Menurut saya akan lebih baik jika Dadang Ari Murtono membiarkan sajaRashomon seperti aslinya, jika upayanya untuk mengubah sudut pandang tidak bisa meyakinkan, dan caranya mengakhiri cerita justru menjadikan cerita itu berakhir klise. Dengan membiarkan Rashomon apa adanya, Dadang juga bisa mencantumkan namanya sebagai pengarang–kalau ia mau.

    Artikel terkait:

    Plagiat Rashomon, oleh Sungging Raga

    Surat untuk Cerita Plagiat Dadang Ari Murtono di Kompas, oleh Bamby Cahyadi

    Tanggapan atas Polemik Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon, oleh Dadang Ari Murtono

    Bamby Cahyadi

    2 Februari 2011 at 21:03

  20. Saya punya banyak cerpen di http://warsa.wordpress.com asli tulisan saya, kira-kira dimuat KOMPAS ga ya, kalau diusulkan.. huhuy

    warsa

    3 Februari 2011 at 22:00

  21. Ada cerpen Dadang Ari Murtono di Majalah Horison, judulnya Pengisah Akutagama, kok hampir mirip dan kalimat-kalimtanya banyak yang sama ya dengan cerpen Kappa, akutagama Ryunossuke, terjemahaan Bambang Wibawarta. Kalau yang di Kompas dan Lampung Post, kan udah lama dipermasalahkan dan Kompas juga udah mencabut cerpen itu dan dianggap tidak ada. Tapi ini yang di Majalah Horison yang orang jarang baca, aku beli awal Januari tapi baru sempat baca awal februari, monggo di baca sendiri. atau mungkin akutagama menjelma menjadi dadang. Kalau di Kappa dan Pengisah Akutagawa ada tokohnya yang bunuh diri dengan menembak kepalanya, apa mungkin Dadang juga sedang merencanakan bunuh diri. Entahlah.

    Salah satunya yang sama adalah surat/sajak setelah tokoh Tock bunuh diri kalimatnya sama persis:

    Ayo bangkit dan pergi

    Melintasi dunia ini menuju jurang dalam

    Jurang terjal penuh batu karang

    Tempat air pegunungan mengalir jernih

    Dan tercium wangi bunga rerumputan

    Bahkan dalam sub judul yang sama persis dengan cerpen Kappa, yakni Laporan Tentang Arwah Penyair Tock, kurang lebih ada 21 pertanyaan dan jawaban, antara tokoh kami dan Nyonya Hop yang dirasuki arwah Tock, yang sama persis tanpa diedit, kata-kata/kalimat-kalimatnya.

    s yoga

    3 Februari 2011 at 23:13

    • wah wah wah, penulis itu makin keranjingan plagiarisme kayaknya.. horison susah banget dicari di sini, wah wah,

      miftah fadhli

      4 Februari 2011 at 18:21

    • Semar Yoga, saya setuju koment usul Anda…

      Mr. Saksak

      12 Maret 2011 at 23:00

  22. terlepas dari plagiarisme dadang ari murtono terhadap dua cerpennya (semoga tidak pada cerpen-cerpennya yang lain), semoga minggu besok, ada cerita yang lebih orisinil dan berkualitas di Kompas, dan media cetak lain… amiin

    miftah fadhli

    5 Februari 2011 at 15:24

  23. engga musik engga cerpen
    indonesia emang negara plagiat ya??
    please jangan sampai terulang..

    meniru boleh tapi harus orisinil..

    jacob julian

    7 Februari 2011 at 15:13

  24. pelajaran brharga buat SEMUA MEDIA. KONTAK dulu Penulisnya sebelum memuatnya! Contoh Majalah STORY, atau FEMINA, selalu menghubungi dulu penulisnya. Tanyakan sudah dimuat belum, karya asli apa bajakan. Masa KOMPAS kalah PROFESIONAL sama mereka. Ugh!

    cerpenis

    10 Februari 2011 at 17:12

  25. rabu, tanggal 16 februari 2011. pukul 16.00. di auditorium gd.9 FIB UI akan diadakan pementasan “RASHOMON” persembahan dari teater PAGUPON.

    mawar

    11 Februari 2011 at 23:51

  26. Apakah masuk KOMPAS harus mesti punya nama besar dulu ya ?

    dhanar aditya nugraha

    19 Februari 2011 at 11:10

  27. KOMPAS. Gak habis pikir.

    santoni

    19 Februari 2011 at 18:49

  28. iya kali, cerpen sebagus apapun kalo nggak terkenal gak bakalan dimuat.

    gogi

    22 Februari 2011 at 11:37

  29. dan sebaliknya, cerpen jeleeeeeknya minta ampun kalo sudah punya nama bakalan dimuat, disembah2 dipujapuja…

    gogi

    22 Februari 2011 at 11:38

  30. emang ini nyontek cerpennya siapa???
    oh yah…yang mau baca cerpen aku,silahkan buka account facebook yang bernama kaira adila,dan baca catatannya…plizzzz aku butuh kritik atau apalah yang bisa membangkitkan rasa ingin menuuuliskuu

    iissiteblog

    22 Februari 2011 at 13:17

  31. Sungguh dsayangkan plagiarisme bisa terjadi di sebuah media bonafide seperti KOMPAS. Smga u/ k dpan tdk kecolongan lg

    tunas penulis

    24 Februari 2011 at 12:25

  32. Ya ampun, ternyata EDITOR SASTRA KOMPAS bukan orang yg berkompeten? “Bekas” rubrik politik, kali saja sibuk berpolitik, yg artinya mencari untung untuk dirinya sendiri.
    Bisa mati KOMPAS jika di isi orang2 macam begitu. BAH!

    Pernyataan mereka ttg CERPEN INI TAK PERNAH DIMUAT DI KOMPAS adalah lelucon besar. Editor2 itu mencoba lepas tangan.

    Lalu siapa yg meloloskan cerpen itu? Setelah kebobolan, lalu seenaknya bikin pengumuman.

    PENULIS BOBROK digabungkan EDITOR BOBROK. BAH!

    rashomon

    24 Februari 2011 at 15:32

  33. duch.. saya orang yang telat baca..
    tapi juga merasa tidak enak setelah tahu sejarahnya begini..

    kafiyatun hasya

    28 Februari 2011 at 09:56

  34. “kecelakaan sebuah karya sastra!” yg bagus karena penulis telah menulis. Yg tdk bgus, soalnya ngaca org lain, bukn diri sndiri. Smg barkah.

    Aufal el-Rumi

    3 Maret 2011 at 11:33

  35. Takutlah kalian kepada ALLAH SWT.
    Semoga ALLAH mengampuni kita semua dan membimbing kita kepada jalan yang lurus. Amiiin..

    Syaikh A rozz

    6 Maret 2011 at 00:07

  36. [...] Artikel terkait: Plagiat Rashomon, oleh Sungging Raga Surat untuk Cerita Plagiat Dadang Ari Murtono di Kompas, oleh Bamby Cahyadi Tanggapan atas Polemik Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon, oleh Dadang Ari Murtono http://cerpenkompas.wordpress.com/2011/01/30/perempuan-tua-dalam-rashomon/ [...]

  37. lebih baik karya sendiri….

    rizky atika

    11 Maret 2011 at 19:59

  38. aku pengen bgt cerpen ku di terbitkan kompas. bisa nggak redaktur kompas terima cerpen dari penulis yang belum punya nama besar seperti aku???? walaupin ya tergantung cerpen tu juga layak pa nggak.. balas ya

    rizky atika

    11 Maret 2011 at 20:04

  39. Ada emas, ada suasa.
    Ada perak ada tembaga.
    Ada emas bersepuh suasa.
    Siapa emas siapa suasa,
    Tak lama akan kentara.

    Anton Moebakir

    17 Maret 2011 at 14:44

  40. Salam !

    Coba perhatikan cerpen yg dimuat hari ini di Suara Karya, linknya:
    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=274886

    dan bandingkan dengan kedua cerpen ini,linknya:
    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=117512
    dan
    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=253661

    Plagiat?

    Sioeo

    19 Maret 2011 at 15:04

  41. ”SEPANDAI2 TUPAI MELOMPAT SEKALI2 KAN JATUH JUGA”…. jgn ”GARA2 NILA SETITIK RUSAK SUSU SEBELANGA”
    dari 100 kali memuat cerpen sangat manusiawi jika redaksi melakukan 1 kali kesalahan…ingat juga kerja keras redaksi yg menghadirkan kepuasan setiap kali kita membaca cerpen2 KOMPAS..

    al_BKT

    26 April 2011 at 11:55

  42. Bacalah……… kalau bercermin pasti sama walau pakai topeng
    membaca yang sekedar membaca pasti hanya tersenyum
    yang peka membaca pasti pingin membaca lagi….
    hidup Indonesia………

    bana39bana_39

    15 Juni 2011 at 15:15

  43. kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…kompas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…copas…

    eh kok mirip2

    langit biru

    3 September 2011 at 02:30


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.408 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: