Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Tikus dan Manusia

with 41 comments


Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami tetap sebuah misteri. Tikus berpikir secara tikus dan manusia berpikir secara manusia, hanya manusia-tikus yang mampu membongkar misteri ini. Semua lubang di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus kebun. Tubuhnya cukup besar dan bulunya hitam legam.

Pertama kali kami menyadari kehadiran penghuni rumah yang tak diundang, dan tak kami ingini itu, ketika saya tengah menonton film-video The End of the Affair yang dibintangi Ralph Fiennes dan Julianne Moore, seorang diri, sementara istri telah mendengkur kecapaian di kamar. Waktu tiba pada adegan panas pasangan selingkuh Fiennes dan Julianne, tengah bugil di ranjang, yang membuat saya menahan napas dan pupil mata melebar, tiba-tiba kaki saya diterjang benda dingin yang meluncur ke arah televisi, dan saya lihat tikus hitam besar itu berlari kencang bersembunyi di balik rak buku. Jantung saya nyaris copot, darah naik ke kepala akibat terkejut, dan otomatis kedua kaki saya angkat ke atas.

Baru kemudian muncul kemarahan dan dendam saya. Saya mencari semacam tongkat di dapur, dan hanya saya temukan sapu ijuk. Sapu itu saya balik memegangnya dan menuju ke arah balik rak buku. Tangan saya amat kebelet memukul habis itu tikus. Namun, tak saya lihat wujud benda apa pun di sana. Mungkin begejil item telah masuk rak bagian bawah di mana terdapat lubang untuk memasukkan kabel-kabel pada televisi. Untuk memeriksanya, saya harus mematikan televisi dulu yang ternyata masih menayangkan adegan panas pasangan intelektual Inggris itu. Saya takut kalau tikus keparat itu menyerang saya tiba-tiba. Imigran gelap rumah itu saya biarkan selamat dahulu.

Saya tidak pernah menceritakan keberadaan tikus itu kepada istri saya yang pembenci tikus, sampai pada suatu hari istri saya yang justru memberitahukan kepada saya adanya tikus tersebut. Berita itu begitu pentingnya melebihi kegawatan masuknya teroris di kampung kami.

”Pak, rumah kita kemasukan tikus lagi! Besar sekali! Item!”

”Di mana mamah lihat?”

”Di dapur, lari dari rak piring menuju belakang kulkas!” Istri saya cemas luar biasa, menahan napas, sambil mengacung-acungkan pisau dapur ke arah kulkas di dapur.

”Sudah satu tahun enggak ada tikus. Rumah sudah bersih. Mengapa tikus masuk rumah kita? Tetangga jauh. Dari mana tikus itu?”

”Itu tikus kebun, Mah,” jawab saya santai sambil mengembalikan buku Nietsche ke rak buku.

”Jangan santai-santai saja Pah, cepat lihat kolong kulkas!”

Wah, situasi semakin gawat. Saya memenuhi perintah istri saya dengan menyalakan senter ke bagian kolong kulkas. Tidak ada apa pun. Tikus keparat! Ke mana dia menghilang?

Sejak itu istri saya amat ketat menjaga kebersihan. Semua piring di rak dibungkus kain, juga tempat sendok. Tudung saji diberati dengan ulekan agar tikus tidak bisa menerobos masuk untuk menggasak makanan sisa. Gelas bekas saya minum nescafe-cream malam hari harus ditutup rapat. Tempat sampah ditutupi pengki penadah sampah sambil diberati batu. Strategi kami adalah semua tempat makanan ditutup rapat-rapat sehingga tikus tak akan bisa menerobos.

Istri saya memesan dibelikan lem tikus paling andal, yakni merek Fox. Selembar kertas minyak tebal dilumuri lem tikus oleh istri saya dan di tengah-tengah lumeran lem itu ditaruh ampela ayam bagian makan malam saya. Jebakan lem tikus ditaruh di kaki kulkas. Pada malam itu, ketika istri saya tengah asyik menonton sinetron ”Cinta Kamila”, yang setiap malam setengah sembilan selalu menangis itu, istri saya tiba-tiba berteriak memanggil saya yang sedang mengulangi membaca Filsafat Nietsche di kamar kerja, bahwa si tikus terperangkap. Saya segera menutup buku dan lari ke dapur menyusul istri. Benar, seekor tikus hitam sedang meronta-ronta melepaskan diri dari kertas yang berlem itu.

”Mana pukul besi?!” saya panik mencari pukul besi yang entah disimpan di mana di dapur itu.

”Jangan dipukul Pah!”

”Lalu bagaimana?” Saya menjawab mendongkol.

”Selimuti dengan kertas koran. Bungkus rapat-rapat. Digulung supaya seluruh lem lengket ke badannya.”

”Lalu diapakan?” Saya semakin dongkol.

”Buang di tempat sampah!”

”Aah, mana pukul besi?” Kedongkolan memuncak.

”Nanti darahnya ke mana-mana! Bungkus saja rapat-rapat!”

Saya mengalah. Ketika tikus itu akan saya tutupi kertas koran, matanya kuyu penuh ketakutan memandang saya. Ah persetan! Saya menekan rasa belas kasihan saya. Tikus saya bungkus rapat-rapat, lalu saya buang di tong sampah di depan rumah, sambil tak lupa memenuhi perintah istri saya agar penutupnya diberati batu.

Siang harinya sepulang dari mengajar, istri saya terbata-bata memberi tahu saya bahwa tikus itu lepas ketika Mang Maman tukang sampah mau menuangkan sampah ke gerobaknya. Cerita Mang Maman, ada tikus meloncat dari gerobak sampahnya dan lari ke kebun sebelah dengan terbungkus kertas coklat. Cerita lepasnya tikus ini beberapa hari kemudian diperkuat oleh Bi Nyai, pembantu kami, bahwa dia melihat tikus hitam yang belang-belang kulitnya.

Geram juga saya, dan diam-diam saya membeli dua jebakan tikus. Ketika mau saya pasang malam harinya, istri saya keberatan.

”Darahnya ke mana-mana,” katanya.

”Ah, gampang, urusan saya. Kalau kena lantai, saya akan pel pakai karbol,” jawabku.

Istri saya mengalah, dan rupanya merasa punya andil bersalah juga. Coba kalau tikus itu dulu kupukul kepalanya, tentu beres.

Pada waktu subuh istri membangunkan saya.

”Tikusnya kena Pah!”

Memang benar, seekor tikus hitam terjepit jebakan persis pada lehernya. Darah tak banyak keluar. Ketika saya amati dari dekat, ternyata bukan tikus yang kulitnya sudah belang-gundul.

”Ini bukan tikus yang lepas itu Mah!”

”Masa?” Ia mendekat mengamati.

”Kalau begitu ada tikus lain.”

”Mungkin ini istrinya,” celetekku.

Ketika mau saya lepas dari jebakan, istri saya melarangnya.

”Buang saja ke tempat sampah dengan jebakannya.”

Rasa tidak aman masih menggantung di rumah kami. Tikus belang itu masih hidup. Dendam kami belum terbalas. Berhari-hari kemudian kami memasang lagi lem tikus dengan berganti-ganti umpan, seperti sate ayam, sate kambing, ikan jambal kegemaran saya, sosis, namun tak pernah berhasil menangkap si belang. Bibi mengusulkan agar dikasih umpan ayam bakar. Saya membeli sepotong ayam bakar di restoran padang yang paling ramai dikunjungi orang. Sepotong kecil paha ayan itu dipasang istri saya di tengah lumeran lem Fox, sisanya saya pakai lauk makan malam.

Gagasan Bi Nyai ternyata ampuh. Seekor tikus menggeliat-geliat melepaskan diri dari karton tebal yang dilumuri lem. Tikus itu benar-benar musuh istri saya, di beberapa bagian badannya sudah tidak berbulu. Kasihan juga melihat sorot matanya yang memelas seolah minta ampun.

”Mah, cepat ambil pukul besinya.”

Istri saya mengambil pukul besi di dapur dan diberikan kepada saya. Ketika mau saya hantam kepalanya, istri saya melarang sambil berteriak.

”Tunggu dulu! Pukul besinya dibungkus koran dulu. Kepala tikus juga dibungkus koran. Darahnya bisa enggak ke mana-mana!”

Begitu jengkelnya saya kepada istri yang tidak pernah belajar bahwa tikus yang meronta-ronta itu bisa lepas lagi.

”Cepat sana cari koran!” bentakku jengkel.

”Kenapa sih marah-marah saja?” sahut istri saya dongkol juga. Saya diam saja, tetapi cukup tegang mengawasi tikus yang meronta-ronta semakin hebat itu. Kalau dulu berpengalaman lepas, tentu dia bisa lepas juga sekarang.

Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga kali pada kepalanya. Bangkainya dibuang bibi di tempat sampah.

Beberapa hari setelah itu istri saya mulai kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup kopi nescafe, biasanya dia marah-marah kalau bekas kopi susu itu dijilati tikus, tetapi sekarang tidak mendengar lagi sewotnya. Begitulah kedamaian rumah kami mulai nampak, sampai pada suatu pagi istri saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit bayi tikus! Inilah gejala perang baratayuda akan dimulai lagi di rumah kami.

”Harus kita temukan sarangnya! Bayi-bayi tikus itu kelaparan ditinggal kedua orangtuanya. Kalau mati bagaimana? Kalau mereka hidup, rumah kita menjadi rumah tikus!” kata istri.

Lalu kami melakukan pencarian besar-besaran. Bagian-bagian tersembunyi di rumah kami obrak-abrik, namun bayi-bayi tikus tidak ketemu. Bayi-bayi itu juga tidak kedengaran tangisnya lagi. ”Mungkin ada di para-para. Tapi bagaimana naiknya?” kata saya.

”Nunggu Mang Maman kalau ambil sampah siang,” kata istri.

Ketika Mang Maman mau mengambil sampah di depan rumah, bibi minta kepadanya untuk naik ke para-para mencari bayi-bayi tikus.

”Di sebelah mana Bu?” tanya Mang Maman.

”Tadi hanya terdengar di dapur saja. Mungkin di atas dapur ini atau dekat-dekat sekitar situ,” sahut istri saya.

Sekitar setengah jam kemudian Mang Mamang berteriak dari para-para bahwa bayi-bayi tikus itu ditemukan. Mang Maman membawa bayi-bayi itu di kedua genggaman tangannya sambil menuruni tangga.

”Ini Bu ada lima. Satu bayi telah mati, yang lain sudah lemas. Lihat, napas mereka sudah tersengal-sengal.”

Istri saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus merah itu.

”Bunuh dan buang ke tempat sampah Mang” kata istri saya.

”Ah, jangan Bu, mau saya bawa pulang.”

”Mau memelihara tikus?” tanya istri saya heran.

”Ah ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,” jawab Mang Maman sambil meringis.

”Obat kuat? Bagaimana memakannya?”

”Ya ditelan begitu saja. Bisa juga dicelupkan ke kecap lebih dulu.”

Setelah memberi upah sepuluh ribu rupiah, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan Mang Maman memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan yang seekor dijinjing dengan jari dan dilemparkan ke gerobak sampahnya.

Tikus-tikus tak terpisahkan dari hidup manusia. Tikus selalu mengikuti manusia dan memakan makanan manusia juga. Meskipun bagi sementara orang, terutama perempuan, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini tidak akan pernah berakhir.

Saya masih menunggu, pada suatu hari istri saya akan terdengar teriakannya lagi oleh penampakan tikus-tikus yang baru.

Lebaran 2010

About these ads

Written by tukang kliping

28 November 2010 at 15:42

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

41 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. apa ini?

    mm

    28 November 2010 at 15:58

  2. Saya mengerti betul perasaan ketika beradu strategi melawan tikus-tikus itu. haha

    Memang rasanya kegiatan menangkap tikus juga sudah menjadi kebiasaan masyarakat kota.

    Ah, namun sayang di bagian-bagian akhir, tema tersebut tersampaikan dengan terlalu gamblang.

    Ario Sasongko

    28 November 2010 at 16:21

  3. ga suka

    faver

    28 November 2010 at 20:43

  4. Ceritanya lancar dan bagus.Enak menikmatinya. Mungkin karena pengarangnya sudah berpengalaman dalam dunia tikus-menikus.He..he…

    Rizak Wongso

    29 November 2010 at 12:41

  5. ringan, menghibur
    namun kurang puas pada bag akhirnya

    marjan

    29 November 2010 at 12:49

  6. kecewa

    spt crpn anak skolah menengah saja

    mgkn saya yg trll tggi mgharap ‘cerpen kompas’

    maaf

    btw, selamat udh masuk kompas

    llk

    29 November 2010 at 16:58

  7. EASY

    RIDWAN

    29 November 2010 at 20:57

  8. lebih mirip cerita di kolom2

    Rozzi narayan

    29 November 2010 at 22:25

  9. menghibur…..
    suka.
    namun setuju, endingnya terlalu…

    cahnda

    29 November 2010 at 22:32

  10. Cerpen Pak Jacob ini dibangun dengan kesabaran bercerita, dan pembaca terperangkap pada alur cerita yang begitu bikin penasaran. Namun, memang Pak Jacob tidak ingin mengakhiri cerpen ini seperti cerpen-cerpen Pak Putu Wijaya. Maka, saya rasa Pak Jacob berhasil menuntun saya menuntaskan membaca cerpen ini, lalu saya berkata, “Sialan!”

    Bamby Cahyadi

    30 November 2010 at 22:10

  11. tikus, berkelebat lewat (dari,di) layar tv,kabel-kabel elektro, informasi,visual. lalu sembunyi dibalik rakbuku- bahasa -verbal- yang -intelektuilis…. puitis.

    rdwn

    30 November 2010 at 22:36

  12. idem dengan yang di atas…
    apa ini?!!

    lampor

    1 Desember 2010 at 12:58

  13. wakakaka….
    seruuuu…
    gw jg salah satu yg di endingnya bilang “sialan”! haha

    ipung

    1 Desember 2010 at 14:28

  14. cerita yang bagus.
    sya suka.
    hebat sekali ya tikus-tikus di sana, ga mau makan ikan asin, tetapi AYAM BAKAR, beda dengan tikus yang ada di rumah kontrakan saya yang memakan apa saja, dan mudah untuk dimusnahkan. hehehe, tikus yang cerdik.

    salam pak Jakob

    Azmi Labohaji

    1 Desember 2010 at 15:44

  15. pak….!
    kalo’ boleh, pesan tikusnya satu…
    he…

    fandrik ahmad

    1 Desember 2010 at 15:59

  16. Kenapa ya, tikus tak habis-habisnya menjadi ide cerita dalam beberapa cerpen. Kebetulan kemarin saya baca TIKUS, karya ISBEDY STIAWAN ZS.

    Hampir sama juga dengan cerpen ini. SOAL TIKUS….

    Dodi Prananda

    2 Desember 2010 at 09:18

  17. tikus kadang bikin keder manusia. hehe3 i like this story

    adHe gusti

    2 Desember 2010 at 19:58

  18. top markotop.cerpen yang inspiratif.dari ide sederhana berujung ide yangluarbiasa……..

    ide untuk utlisan,tulian untuk ide….dan aku mendapatkan itu pada cerpen ini…

    lubab

    2 Desember 2010 at 20:17

  19. baguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.inspiratif

    lubab

    2 Desember 2010 at 20:22

  20. berawal dari hal-hal sederhana yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari ternyata bisa jadi sebuah karya yang menghibur…

    opi

    3 Desember 2010 at 12:33

  21. postingan yang bagus,teman2x mampir ke
    Yg hp symbiannya sering tampilin huruf kotak-kotak السلام‎ klik link blogku ini ya:) untuk mengatasinya

    Semoga pemilik blog juga berkenan berkunjung ke blogku. Terimakasih, maaf..

    C@KS

    3 Desember 2010 at 14:21

  22. masih menanti cerpen yg membuatku ingin membaca terus…

    gide buono

    3 Desember 2010 at 23:07

  23. capek membacanya.

    nevatuhela

    5 Desember 2010 at 18:01

  24. wehhhhhhhhhhhhhhhh…sipppppppppp

    Ika Su_Kar

    6 Desember 2010 at 09:08

  25. Bgus juga untuk berpetualng dalam cerpen, kreasi cerita lumayan

    PRIYO SANTOSO

    6 Desember 2010 at 13:45

  26. minggu2 itu juga, baca artikel Jakob d kompas.

    titis arti

    7 Desember 2010 at 17:49

  27. beritahu saya makna dibalik cerpen ini ? Tentunya bukan realis belaka

    marsya

    9 Desember 2010 at 11:49

    • tentu cerpen ini memiliki makna dan tak hanya realis..memang terlihat sngt sederhana dan terlihat biasa saja namun jika anda sudah baca filsafat nietzche mungkin anda paham..

      hernowo_bayuaji

      4 Januari 2011 at 18:01

  28. mungkin ada unsur eufemisme di dalamnya hanya sepertinya terlalu mencolok untuk memaksa pembaca bahwa tikus itu bisa disamakan koruptor. Tikus kantor gitu lho…penjahat berdasi kalee…

    Dian KOL

    12 Desember 2010 at 01:50

  29. Tikus tikus tikus. Cocok bung. Bedanya tikus ga bsa kya manusia

    Jito choux

    15 Desember 2010 at 20:49

  30. sederhana sekali ceritanya….

    niesarie

    17 Desember 2010 at 21:45

  31. tikus dan manusia punya pikiran yang berbeda,

    atau tikus manusia, atau manusia tikus yang suka “mencuri”

    puput

    24 Desember 2010 at 13:55

  32. kurang membuat saya berpikir lagi, rasanya terlalu sederhana

    ike

    26 Desember 2010 at 06:27

  33. Masih kurang mengerti, kayanya ga sesederhana ini ceritanya! Kayaknya tulisan ini bermakna.

    Olin

    26 Desember 2010 at 12:34

  34. Tikus dan manusia .yang lebih mengerikan manusia yang bersifat seperti tikus. Dasar tikus!!

    Suparjana

    3 Februari 2011 at 01:36

  35. tdnya berharap sebuah ending yg gimanaaa gt…eeeh ternyata…^_^

    Adri

    22 Februari 2011 at 10:57

  36. bacaan ringan yg mnghibur….jdi ingat wkt kostku ke banjiran tikus….eeeakkk…jijik….

    rea

    5 Maret 2011 at 14:53

  37. pitutur luhur….

    C@kyus

    12 April 2011 at 10:01

  38. tikus itu pencuri, serakah memakan yg bukan haknya, sama seperti penjahat berdasi….

    Kesukaannya ayam bakar bukan ikan asin…. Haha..

    chayo

    17 September 2011 at 07:47

  39. Sejak awal penulis sudah berusaha menjelaskan apa yg akan dipaparkan. Bukankah Film The End of the Affair dimulai dengan kalimat : “This is a diary of hate.” Sedangkan filosofi Nitschze merujuk pada siapa yang kuat dan yang lemah.
    Apa yg diceritakannya bukan hal yang muluk-muluk, tapi sebagian besar pernah mengalaminya.
    Saya sangat terkesan pada gaya penuturan pak Jacob yg sederhana tapi membuat jadi senyum-senyum sendiri selama membacanya.

    Panca

    5 Mei 2012 at 12:41

  40. Reblogged this on Anakkemarinsore's Blog and commented:
    Jakob Sumardjo dari blog Tukang Kliping.

    nol.persen

    29 Maret 2013 at 17:48


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.565 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: