Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Ketapang Kencana

with 40 comments


Aku menanam pohon ketapang kencana (Terminalia mantaly) di halaman. Pohon ini kurasa sangat cocok di halaman rumah Mami yang telah dibangun sangat bagus oleh Teh Rani. Wujud bangunan benar-benar seperti Teh Rani. Sederhana, ringkas, mencerminkan wawasan, pengalaman, dan cara hidupnya yang sangat modern di berbagai negara. Bangunan ini paling modis di situ.

Tak ada pernak-pernik di fasat bagian luar. Ia seperti kotak-kotak beton, mengikuti kontur tanah yang agak berundak. Bagian yang menghadap gunung dan bukit terekspos melalui kaca besar. Alam menjadi lukisan terbaik ciptaan Tuhan. Aluminium hitam yang menjadi bingkai kaca itulah piguranya. Penyiasatan ruang yang cerdas.

Dinding bagian dalam seluruhnya berwarna abu-abu, sama dengan warna keramik lantai. Hanya ada dua kamar. Kamar Mami dan kamar yang disiapkan untuk tamu, masing-masing dengan kamar mandi menggunakan shower. Di dekat dapur ada kamar pembantu, dan satu kamar mandi lagi untuk dipakai beramai-ramai.

Ketapang kencana yang aku datangkan secara khusus dari pembibit yang sangat berpengalaman ini tak akan mengganggu estetika bangunan. Kalau besar nanti, dahan-dahannya yang teduh tak akan menutupi fasat bangunan karena bentuknya renggang. Pohon ini kuanggap paling tepat untuk bangunan yang dirancang Teh Rani itu.

Mami sendiri suka. Ia langsung mengomentari dahannya. Berundak-undak, seperti tangga ke surga, katanya. Itulah yang menyenangkan pada Mami. Ia selalu memiliki komentar otentik.

***

Aku memanggilnya Mami, ikut-ikutan anak-anaknya. Dia kakak ibu. Seharusnya aku memanggilnya Uwak. Ketika G30S meletus, keluargaku berantakan. Dari Jawa Tengah, aku dikirim ke kota kecil di Jawa Barat ini, ikut Uwak yang selanjutnya kupanggil Mami.

Kini praktis Mami tinggal sendiri. Anak-anaknya—kecuali Teh Rani—tersebar di beberapa kota di Jawa Barat dan Jakarta. Teh Rani, anak nomor dua yang paling sukses dan makmur, tinggal di luar negeri. Paris, Roma, New York. Sesekali di rumahnya di Bali. Teh Rani pula yang mengatur kehidupan Mami. Di rumah, Mami ditemani dua pembantu setia, Asep dan Kokom.

Semenjak Mami sering terganggu kesehatan belakangan, aku sangat sering mengunjungi Mami. Keadaannya turun naik. Kadang tampak sangat sehat. Pada kondisi seperti itu Mami seperti kami kenal dulu: ceplas-ceplos suka melucu. Pada kali lain bisa tampak sangat drop.

Teh Rani—entah di mana pun—sering meneleponku, menanyakan keadaan Mami. Sebenarnya aku juga tidak melihat keadaan Mami sehari-hari. Kami tinggal di kota berjauhan. Aku sendiri bahkan tergolong sering bepergian, tidak di Indonesia. Hanya saja semua tahu, dibanding dengan saudara-saudaranya sendiri termasuk yang sekota dengan Mami, Teh Rani paling percaya padaku. Keluarga juga tahu, selain Teh Rani, aku punya tempat khusus di hati Mami. Mami sering bilang: rumah lengkap kalau ada Rani dan aku.

***

Bisa kupahami keresahan Teh Rani. Mami makin tua. Dulu mungkin tak terpikir akan muncul keresahan akan Mami. Di rumah banyak orang. Rumah selalu ramai. Apa-apa akan beres dengan sendirinya. Tak pernah kami sadari arti ”banyak orang dan tidak ada orang bagi orang tua”.

Pada perkembangannya, jumlah orang di rumah menyusut dan menyusut. Terakhir-terakhir seingatku masih ada Anti, Risma, dan Deden. Kemudian Anti menikah. Suaminya pegawai Pertamina, bertugas di Cirebon. Ia diboyong ke Cirebon. Menyusul Deden. Deden mendapatkan pekerjaan, setelah beberapa tahun menganggur seusai kuliah di akademi perbankan. Deden diterima bekerja di sebuah bank yang punya kantor cabang di kota-kota kecil. Ia ditempatkan di Tasikmalaya.

Tinggal sendiri dengan Risma, mulai kami sadari bagaimana kalau Risma nanti juga harus meninggalkan rumah. Siapa akan menemani Mami? Lalu, tahu-tahu Risma hamil. Mau tidak mau, menikahlah dia. Aku kurang tahu suaminya kerja apa. Mereka pindah ke Malangbong.

***

Apa yang bisa kami berikan kepada Mami? Teh Rani kutahu berbuat sebisa-bisanya. Rumah dia rombak untuk membuat kenyamanan pada Mami yang tinggal sendiri. Diharapkan itu menghibur Mami. Apa pun kebutuhan Mami diharapkan Mami segera memberi kabar. Cuma sepengetahuanku, Mami jarang sekali menelepon anak untuk menyatakan meminta sesuatu. Hal yang bahkan tak mungkin dilakukannya.

Kegembiraan Mami sejatinya cuma kalau anak-anak dan cucu di rumah. Rumah ramai. Apalagi dengan kehadiran Teh Rani.

Teh Rani—meski tak terucap—bukannya tak paham hal itu. Hanya saja—semua dalam posisi seperti kami—juga tahu, apa yang bisa kami lakukan? Kami punya kehidupan sendiri-sendiri. Menelepon setiap saat pasti. Meski, kami sadari itu juga kurang cukup. Bahkan kadang meresahkan diri sendiri, kalau menangkap Mami tampaknya kurang sehat. Setiap resah akan keadaan Mami, Teh Rani akan terus-terusan meneleponku. Bertanya ini-itu, kapan terakhir menengok Mami, dan seterusnya.

Sekarang ini baru saja Teh Rani meninggalkan Mami setelah berlibur di situ sekitar satu minggu. Seusai itu Teh Rani ke Jakarta, sempat ketemu aku sebentar, sebelum pulang ke Bali dan kemudian balik ke Paris.

Teh Rani meneleponku agar menengok Mami. Ia sempat pula bilang rencananya akhir tahun. Ia akan bertahun baru di New York, bersama Marita, anak perempuan semata wayangnya.

Aku tak jadi ke Bangkok. Aku akan segera menengok Mami, janjiku pada Teh Rani.

***

Rumah sepi. Mami di kamar, tiduran ditemani Kokom yang ikut tidur di kasur sembari memijat-mijat Mami. Asep berbisik, Mami begitu sejak Teh Rani pergi.

Bisa kurasakan perasaan sepi Mami. Kuperhatikan sekeliling kamar. Dinding dan lantai abu-abu yang dalam keadaan biasa bercita-rasa berkelas, pada saat seperti ini rasanya malah menambah rasa dingin. Apalagi, belakangan hujan terus-terusan turun. Daerah ini tambah sering berkabut.

Di dinding kamar terpajang foto Teh Rani dan Marita. Marita sudah besar. Sudah hendak masuk sekolah fotografi di Paris. Kuamati cantiknya ibu anak ini. Dalam foto itu mereka berpelukan mesra, tersenyum, mengenakan pakaian dingin. Tak tahu aku, foto itu diambil di Paris, Roma, atau New York.

Aku merasakan dua dunia terpisah jauh. Kuingat beberapa kali saat aku mengunjungi Teh Rani di Paris. Terbayang St Germain-des-Pres. Di sekitar kawasan gemerlap itu letak apartemen Teh Rani.

Kuingat kebiasaannya ketika berniat jalan-jalan. Selalu saja baru berjalan beberapa saat dia mengajak berhenti dulu di kafe. Ini mah duduk-duduk, bukan jalan-jalan, komentarku. Dia cuma tertawa. Rasanya, semua bangku kafe terkemuka di kawasan Quartier Latin pernah kami duduki. Kami mencari-cari alasan, untuk makan apa saja atau minum apa saja. Di setiap tempat, kami membenarkan diri untuk minum wine. Atau espresso.

Aku perhatikan meja kecil di samping ranjang. Ada gelas teh. Makanan terbungkus daun yang sudah dimakan sebagian. Dulu, semasa kami semua masih tinggal di rumah, makanan berlimpah. Mau makan apa saja dan kapan saja, selalu tersedia. Selintas teringat, di Paris Teh Rani sering mengajakku ke restoran favoritnya, restoran Afrika dengan daging-daging terbaik yang disajikan dengan serba bakar. Kami tak bisa mengekang hedonisme dalam soal makan.

”Kami tidak masak, soalnya tanggung masak hanya untuk Mami,” Kokom menerangkan mengenai makanan yang tersisa di meja.

***

Duduk di pinggir ranjang, aku ikut-ikutan memijit-mijit kaki Mami yang dibalut selimut tebal. Aku tahu Mami tidak tidur, dan pasti juga tahu kehadiranku.

”Mami sakit…,” aku bertanya. ”Mami yang sehat. Nanti kita bikin pesta, bikin bakar-bakaran di halaman,” aku melanjutkan begitu saja.

Dia diam saja. Mata tetap terpejam. Bersama Kokom aku terus memijit-mijit atau mengusap-usapnya. Di matanya yang terpejam, beberapa kali keluar air mata. Kokom dan aku bergantian mengelap dengan tisu.

”Sejak Teh Rani pergi…,” Kokom berbisik padaku. ”Sering nangis sendiri….”

Aku mengangguk.

Lama-lama Mami bergerak.

”Punggung Mami sakit…,” katanya pelan. Tetap dengan mata terpejam.

Aku mengusap-usap punggungnya. Asep dan Kokom senyum-senyum. Kami semua tahu, Mami cuma mencari-cari.

”Sakit sekali ya Mi…,” tanyaku. ”Sampai menangis….”

”Tadi Mami bermimpi…,” ucapnya.

”Mimpi apa, Mi,” tanyaku.

Mami diam saja. Baru beberapa saat kemudian dia bicara.

”Ketapang kencana berubah jadi pohon emas…,” katanya pelan.

”Mami bermimpi ketapang kencana berubah jadi emas?”

Dalam posisi tiduran miring ia menganggukkan kepala.

”Kencana artinya memang emas, Mi…,” ucapku. ”Kencanawungu, emas ungu….”

”Pohon itu tumbuh tinggi sekali, sampai di balik awan…,” ia meneruskan ucapan seperti pada diri sendiri. ”Mami naik memanjatnya. Dahan demi dahan. Tiba-tiba Mami sudah di balik awan dan tak bisa lagi kembali,” lanjutnya, dengan air mata kembali keluar.

”Kembang tidur, Mami…,” kataku.

Mami diam saja.

”Kapan Rani pulang lagi…,” tanyanya pelan.

”Tahun depan. Katanya mau tahun baru di New York.”

Ia kembali diam.

”Tahun depan…,” Mami seperti bicara pada diri sendiri.

”Tahun depan artinya hanya bulan depan, Mi. Ini sudah Desember.”

Dia tak menjawab. Malah berucap sendiri, ”Ketapang kencana….”

Kutatap lagi foto di dinding kamar. Teh Rani dan Marita dengan senyumnya yang manis. Tak ada yang mengalahkan manisnya perempuan Sunda, tetapi foto ini tak mungkin bisa menemani Mami.

***

Kuputuskan menelepon Teh Rani. Dengan antusias dia bertanya, bagaimana keadaan Mami. Rumah bagaimana? Baik-baik saja? Dia bilang, katanya bermimpi tentang rumah. Apa yang diimpikan Teteh, aku bertanya. Ketapang kencanamu bertumbuh bagus sekali. Tinggi menjulang, dahan-dahannya menjadi emas.

Aku terkesiap.

”Halo…,” suara Teh Rani, mendapati suaraku menghilang.

”Oh, halo…,” kataku.

”Kamu mendengar?”

”Ya, ya, aku mendengar,” ucapku.

”Kenapa kamu diam saja?”

Sejenak aku berpikir. ”Tahun baru sebaiknya kita semua di rumah Mami saja…,” ucapku.

Dia yang kemudian balik terdiam.

”Halo,” kataku.

”Ya, aku mendengar…,” kata Teh Rani pelan. ”Aku pikir juga begitu,” tambahnya tetap dengan nada pelan.

”Jadi Teteh akan pulang? Tak jadi ke New York?” aku bicara antusias.

”Tidak jadi. Aku akan pulang. Tahun baru di rumah Mami. Kamu juga. Awas, jangan ada acara lain.”

Aduh, serentak kubayangkan betapa bakal membahagiakannya tahun baru kali ini. Teh Rani adalah pusat keluarga. Rumah akan langsung ramai begitu dia pulang. Kureka-reka sendiri kami akan mengadakan barbeque atau pesta bakar-bakaran di halaman. Cari daging terbaik. Minum wine bersama Teh Rani—sembari mengajari yang lain-lainnya. Mami akan kembali melucu. Mungkin malah merokok. Biar saja.

Kami akan berpesta di bawah ketapang kencana. Cucu-cucu akan lari kesana kemari. Tak kumengerti, bagaimana pohon ini bisa mempertautkan ibu dan anak perempuan kecintaannya dalam mimpi.

Aku berdoa, pohon ini akan tumbuh subur, selalu hijau di segala musim seperti sifat-sifatnya yang kupelajari dari buku. Tak perlu menjadi pohon emas, dan Mami selalu sehat….

Banjarsari, November 2010

About these ads

Written by tukang kliping

21 November 2010 pada 07:48

Ditulis dalam Cerpen

Dikaitkatakan dengan

40 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Datar banget,,, aneh koq bsa nembus redaksi kompas,,,, duh duh duh

    sendu_kelabu

    21 November 2010 at 10:10

  2. sendu_kelabu: Nama cerpenis Bre Redana kan menjadi jaminan redaksi Kompas. Seperti halnya cerpenis senior tehnik penuturannya kadang memang sederhana, tapi menghunjam dan isi cerpen ini memang dalam maknanya, jadi ya di Kompaslah.

    R Arumbinang

    21 November 2010 at 12:06

  3. Scr keseluruhan tidak menarik.mungkin *cling (inspiring moment) yang tidak *nampol ini yg over-rated.bacaan sekali duduk, mengingatkan arti penting keluarga + ending yg menghilir ke satu pohon.

    dudulz

    21 November 2010 at 12:52

  4. datar datar saja walau ada satu pesan yang menarik …setinggi tinggi kita terbang kebelahan dunia …rumah dan keluarga adalah yang terbaik…hanya kesan meninggikan amerika dan eropah jelas terasa … mental inlander yang seharusnya dikikis …

    purwoko burhanudin

    21 November 2010 at 14:13

    • Anda yang punya perasaan inlander, itu hanya penggambaran saja..
      tak mengganggu!

      donaLd

      8 Maret 2011 at 01:15

  5. kurang menarik tidak ada gregetnya.

    juharna nusa buang

    21 November 2010 at 18:46

  6. Salam pena!

    Lewat internet, jika mengecek cerpen yg dimuat di Kompas, Jawa Pos dan Suara Pembaruan sekarang harus login dulu. Apakah itu dibayar?
    Jika sudah login, apakah bisa dicek/ditanya arsip cerpen beberapa bulan lalu?
    Contohnya cerpen yg dimuat di Suara Pembaruan, kalo tidak salah, sudah tidak bisa dicek sejak tanggal 10 Oktober 2010 sampai sekarang. Jadi,apakah bisa dicek cerpen tanggal 10,17,24,31 Oktober juga 7,14,21 November 2010 dan seterusnya.

    Di beberapa daerah di Indonesia, koran seperti Suara Pembaruan sulit didapat/memang tak terdistribusi sampai ke daerah tersebut.
    Jadi penulis yg berasal dari daerah2 itu tidak bisa disalahkan jika cerpennya kembar, sebab ia tdk tahu karena diantara tanggal di atas ternyata cerpennya dimuat dan tdk bisa di cek di internet, lantas mengirimnya ke media lain karena setelah berbulan-bulan ditunggu tak ada konfirmasi.

    Smoga sastrawan kita memperhatikan hal-hal seperti ini…

    Trima kasih..

    Norka T

    21 November 2010 at 19:07

    • memang bisa juga seperti yang anda katakan, namun kita kembalikan kepada penulis itu sendiri, sya rasa jika penulis memang produktif akan selalu mencipta tulisan yang baru.

      hernowo bayuaji

      21 November 2010 at 20:53

    • saya rasa dalam situs ini tak ada login, jika anda mw cek bisa dilihat di arsip.untuk media yang lain bisa anda lihat di lingkarhidup.wordpress..(tentunya anda harus luangkan waktu sejenak untuk mencari cerpen yang anda inginkan)

      Terima kasih…

      (pemerhati sastra Indonesia yg berdomisili di Banyumas)

      hernowo bayuaji

      21 November 2010 at 20:58

    • login ? nggak tuch… bebas aja, tinggal ketik CERPEN KOMPAS MINGGU di kotak mbah google..

      adeindra

      27 Januari 2012 at 16:20

  7. menurutku cerpen ini memiliki makna filosofis di balik makna sebuah pohon.dari segi pencitraan, segi pendeskripsian suasana memang masih terlalu datar. letak filosofis terletak dalam ending cerita yg masih mengakar pada awal cerita..konsisten

    hernowo bayuaji

    21 November 2010 at 20:51

  8. telak mengena dan aku suka

    pwnp98

    21 November 2010 at 20:54

    • pwnp98 : bre redana salah satu cerpenis yang tulisan2nya ku suka…5 jempol utk pwnp98 !

      adeindra

      27 Januari 2012 at 16:24

  9. salam sastra..salam budaya

    Akan lebih baiknya sastra cyber seperti ini dijadikan forum diskusi dan kritik sastra mengingat di Indonesia minimnya kritik sastra dan tidak berimbang dengan karya sastra yang diciptakan.mengkritik boleh saja, kritikan seperti petasan juga sah-sah sja namun mengkritik karyanya saja, bukan kekerasan ideologi.

    hernowo bayuaji

    21 November 2010 at 21:03

  10. sederhana dan berkesan,

    btw: apa Cerpen Tribun Jabar, Nova, Koran Tempo, Riau Pos dan Kartini minggu ini?

    Miku

    22 November 2010 at 00:34

  11. Lembut namun menohok. Di bagian akhir mengingatkan saya pada sebuah film berjudul Everybody’s Fine.

    Abi

    22 November 2010 at 06:51

  12. hebat bisa tembus.aku kapan ya?hahahaaaa

    lubab

    22 November 2010 at 06:56

  13. Biasa aja. Rafi. Namun seringkali menciptakan kerafihan itu sangat sulit. Mungkin hal semacam inilah diantaranya yg bisa nembus Kompas. Salam kenal dari Ciamis Selatan. – Otang K. – .

    Otang K.

    22 November 2010 at 12:52

  14. Sederhana.

    Dan menurut saya, kesederhanaan di dalam cerpen ini hanya memaparkan hal yang umum-umum saja, jadi semacam cerpen yang cukup dibaca satu kali..

    Ario Sasongko

    22 November 2010 at 19:07

  15. banyak nilai filosofi didalamnya.Tetapi kurang greget..

    Rizak Wongso

    23 November 2010 at 07:14

  16. ga ngerti maksud ceritanya. cm sekedar dibaca aja.
    dan kecewa sekali dengan kompas yang salah dalam penulisan kata ilmiah.. sok-sok-an pake kata ilmiah, malu-maluin dah… ga perlu nulis kata ilmiahnya juga ga ngaruh sama ni cerpen. maksa lah, sok intelek!!!

    kunto

    23 November 2010 at 11:02

  17. Wah, lumayan juga ada cerpen disini. Permisi nyimak…

    njobs

    23 November 2010 at 15:05

  18. kok g’ dapet greget seperti yg biasanya yah….
    menghiburpun tidak, buat tersenyum,,,,? apa lagi,
    maap, , ,

    mbarik

    23 November 2010 at 21:43

  19. ceritanya sampai keliling duia,,, akan lebih mewah bila kota besar dunia yg ada di cerpen di ganti dgn kota2 yg ada di indonesia.

    aminudin

    24 November 2010 at 00:07

  20. cerpennya memang biasa-biasa saja, tapi makna yang ingin disampaikan penulis amat jelas. bagus. memang jika si ibu telah tua, ia menginginkan kehadiran anak-anaknya saat ia ingin menghembuiskan nafas terakhirnya. “dahannya melewati awan dan mami memanjatnya (lebihkurang)dan tak bisa turun lagi.

    ya, cerpen yang bagus, pikir saya.

    salam kenal Azmi Labohaji

    azmi Labohaji

    24 November 2010 at 18:16

  21. Saya menyesal tdk membeli kompas cetak minggu lalu…

    Geger

    25 November 2010 at 05:42

  22. sederhana dan cukup… saya suka.

    gide buono

    25 November 2010 at 13:52

  23. @ Norka: untuk koran Jawa Pos, Republika, Koran Tempo, Suara Merdeka, bisa dibaca secara gratis di link ini:

    http://lakonhidup.wordpress.com/

    Bamby Cahyadi

    27 November 2010 at 20:54

  24. Gaya ceritanya lembut,
    Lumayan bagus menurut saya, tp agak membuat penasaran…

    dhea

    29 November 2010 at 08:53

  25. Aku kurang gitu dapet y, mengenai apa maksud di balik cerpen ini. Emang sih ada nilai filosofisnya. Tapi ada beberapa bagian dari ceritanya yang kurang pas gitu, terutama di akhir cerita, sangat biasa jadi agak sedikit kecewa aku (emosinya ga dapet / kurang dramatis).

    TQ……

    Agoes_soegy

    29 November 2010 at 16:21

  26. simplistis tapi tetap atraktif

    marjono

    3 Desember 2010 at 08:51

  27. bagus…menghibur…jadi inget rumah… T.T

    opi

    3 Desember 2010 at 12:47

  28. jadi ingat rumah…kangen sangat

    vita

    4 Desember 2010 at 16:57

  29. Buat aku sih oke oke aja. Sebab apapun, bagaimanapun yg namanya cerpen ya cerpen. Sbuah karya hati. Bukan tuntutan skenario. Itu menurut aku

    Jito choux

    15 Desember 2010 at 20:39

  30. menghibur, keluarga penting!

    donaLd

    8 Maret 2011 at 01:16

  31. Bre pegawai lama di kompas. wajar meski cerpennya jelek, tetep dimuat (dulu sblm di kompas gak pernah bisa tembus).
    http://id.shvoong.com/social-sciences/1687045-bre-redana/

    farid

    29 Juni 2011 at 12:05

  32. iya nih, biasa aja cerpennya, penggambaran seorang ibu yang kesepian gak ngana sama sekali

    ray

    28 Februari 2012 at 11:03

  33. nyata, menyentuh. Apalagi kalau punya pengalaman sama, wah, repot nih, menangis sembunyi2, soalnya di kantor.

  34. Sederhana dan orisinil. Mengena dengan jujur bagi yg kisah hidupnya serupa, seperti saya..:)

    YColeman

    4 Oktober 2012 at 12:38

  35. alur ap yang dipakai inicerpen

    rima

    7 September 2013 at 13:30


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.403 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: