Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Romansa Merah Jambu

with 49 comments


Bagi Gadis, menyendiri di tepi danau, menunggu seseorang yang pernah berjanji padanya tidak cuma bingung dan termenung.

Dia pergi ke tepi danau di tengah hutan setelah usai memanen padi ladang bersama Bapak dan Emak. Bila akan pergi ke tepi danau berair biru jernih itu, dia tak lupa membawa beberapa lembar kain belacu putih dan peralatan menyulam. Di keheningan tepi danau tercium olehnya harum bunga mawar hutan. Dia dengar nyanyian burung dan hiruk pikuk kawanan kera. Dia melihat gelepar ekor ikan di permukaan danau. Air beriak bagaikan tersibak. Di atas tebing, daun pepohonan sangat rimbun—bercermin di air danau yang bening.

Sekian tahun silam, menjelang petang, seorang pelukis tua berjanggut lebat, dan putranya datang dari kota ke ladang di tepi hutan itu. Pemuda tampan itu menyetir mobil jip tua dan membantu sang ayah membawa peralatan melukis. Bapak dan Emak Si Gadis mengizinkan Si Pelukis dan putranya memasang tenda di tepi ladang. Perupa itu berniat melukis fauna dan flora di hutan sekitar itu. Dia juga mau melukis peladang, pengail ikan di sekitar danau, mawar hutan, dan pemandangan alam.

Semula, Bapak dan Emak agak ragu untuk mengizinkan Si Pelukis dan putranya mendirikan tenda di tepi ladang mereka. Berkat perilaku santun kedua tamu, hati orangtua Gadis luluh. Keramahtamahan Si Pelukis dan putranya menjadikan mereka cepat akrab. Usia putra Si Pelukis dan Gadis hampir sebaya.

Setelah mendirikan tenda, Si Pelukis minta tolong kepada Emak untuk memasak makanan buat sarapan, makan siang, dan malam—selama mereka bermukin di tepi ladang yang lengang itu. Bapak mengizinkan Emak memasak untuk mereka. Si Pelukis menyerahkan sejumlah uang untuk belanja kepada Emak. Uang itu ditolak Emak. Tetapi, setelah dibujuk berulang-ulang oleh Si Pelukis dengan sabar dan manis, akhirnya uang yang cukup banyak itu diterima Emak. Giliran Gadis menolak uang itu. Katanya, tidak pantas tamu membayar makan kepada tuan dan nyonya rumah. Si Pelukis mengatakan kepada si perawan cantik itu, ”Aku dan putraku bukanlah tamu keluarga di ladang ini. Kami tidak mau membebani keluarga ini. Uang itu tak seberapa. Ya, itu hanya sekadar tanda terima kasih. Kalau pemberian kami itu ditolak, sama dengan keluarga ini tidak ikhlas menerima kami,” lanjut Si Pelukis, lirih.

Setelah Si Pelukis dan putranya masuk tenda, Gadis menggerutu kepada Emak.

”Uang pemberian Si Pelukis itu akan membuat Bapak, Emak, dan aku berutang budi kepada Si Pelukis. Keluarga kecil kita ini bisa disangka mata duitan,” sambungnya. Bapak mengatakan, uang itu sebagai tanda terima kasih. Tidak elok menolak ucapan terima kasih dari seseorang, lanjut Bapak. Sejak saat itu, Gadis diam. Dia pergi ke tepi danau dan menyulam.

Selesai sarapan pagi, esoknya, Si Pelukis mengatakan kepada Bapak, beberapa hari ini, ingin melukis bunga anggrek. Dia mengetahui ada sekitar 30.000 jenis bunga anggrek di seluruh dunia. Tetapi, dari sekian banyak jenis anggrek itu, dia hanya akan melukis beberapa jenis saja. Kemudian, dia menunjukkan kepada Bapak daftar nama puluhan macam bunga anggrek, yakni Anggrek Bambu, Anggrek Bulan, Anggrek Buntut Bajing, Anggrek Congkok Kuning, Anggrek Gebeng, Anggrek Hitam, Anggrek Jambrut, Anggrek Janur, Anggrek Kalajengking, Anggrek Kancil, Anggrek Kasut Belang, Anggrek Kasut Berbulu, Anggrek Kasut Pita, Anggrek KembangGoyang, Anggrek Kepang, Anggrek Lau-Batu, Anggrek Lilin, Anggrek Loreng, Anggrek Mawar, Anggrek Merpati, Anggrek Mutiara, Anggrek Pandan, Anggrek Tanah Kuning, Anggrek Tebu, Anggrek Uncal, dan Anggrek Nan Tongga. Sebagian besar nama anggrek itu masih sangat asing bagi Bapak.

Bapak mengaku sejujurnya, sedikit sekali pengetahuannya mengenai bunga anggrek. Bapak tak menjamin, di hutan sekitar ini terdapat anggrek yang diinginkan Si Pelukis. Sambil tersenyum, Si Pelukis berkata, ”Seberapa adanya sajalah, Pak.”

Selama Si Pelukis dan Bapak mencari bunga anggrek di dalam hutan, Emak memasak di dangau. Gadis dan putra Si Pelukis duduk di tepi danau. Mereka ngobrol dengan seorang pemancing tua, sahabat Gadis. Si Pemancing telah berhasil mengail ikan gabus, lele, gurame, betok, dan mujair. Setelah itu, putra Si Pelukis mengajak Gadis duduk di bawah naungan batang rengas *) besar dan tinggi. Kedua orang muda itu saling menanyakan nama lengkap dan bertukar cerita.

”Namaku Kiagus Muhammad Gindo,” putra Si Pelukis menyebutkan nama lengkapnya. ”Panggil saja aku Gindo,” lanjutnya.

”Namaku Masayu Nurul Indahwati,” kata Gadis malu-malu. ”Biasanya, aku dipanggil Gadis,” ucapnya sambil melipat selembar kain belacu putih yang sedang disulamnya.

”Berapa banyak sarung bantal yang sudah Gadis sulam?” tanya Gindo.

”Lumayan,” jawab Gadis, ”Sulit aku menghitungnya. Sejak kecil aku sudah belajar menjahit dan menyulam pada Emak. Selain menyulam sarung bantal, aku menyulam hiasan dinding untuk pajangan, taplak meja, saputangan, tas kain, dan macam-macam lagi,” cerita Gadis.

”Kau hebat sekali,” puji Gindo.

”Ah, biasa saja,” ujar Gadis.

Gindo terkejut setelah mendengar cerita Gadis tentang kemampuannya membudidayakan ikan patin dan nila. Gadis akan meneliti ikan belida, dalam waktu dekat. Ternyata, Gadis bukanlah perawan dusun yang berpikir kuno dan tradisional. Gindo memberondong Gadis dengan berbagai pertanyaan tentang masa kecil dan masa kininya, tapi tidak berhasil mendapat jawaban sesuai kehendak hatinya. Gadis yang berwajah cantik dan tenang, pemilik mata sebening air danau, tak tak membuka pintu rahasia hatinya. Gindo menyimpulkan, selain pintar, rendah hati, Gadis berkarakter luhur. Gindo secara diam-diam mengagumi kecantikan dan kepribadian Gadis.

Waktu terus berlalu. Si Pelukis telah menyelesaikan lukisan bunga anggrek, satwa liar, danau, peladang, pemancing tua, dan mawar hutan. Terakhir, sebelum pamitan, dia minta izin kepada Bapak dan Emak untuk melukis Gadis dengan latar belakang danau dan kebun tembakau. Kata Bapak dan Emak, terserah pada Gadis. Mengejutkan sekali, Gadis menolak jadi model. Dia merasa tidak berminat dan tak berbakat. Dia juga malu, bila wajah dan tubuhnya diabadikan di kain kanvas, kemudian akan dipamerkan di hadapan para kolektor dan penggemar seni lukis di kota-kota besar. Si Pelukis tak putus asa. Dia membujuk Gadis dengan menawarkan sejumlah uang sebagai honorarium. Iming-iming itu tak mengubah pendirian Gadis.

”Maafkan aku, Pak Pelukis,” kata Gadis sopan. ”Bagaimana mungkin Gadis melakukan pekerjaan yang berbeda dengan kata hati? Bila gadis memaksakan diri menjadi model lukisan Bapak, aku yakin lukisan itu tidak akan berjiwa,” lanjutnya tegas, tapi sopan. Kata-kata Gadis, itu menambah kagum Gindo kepadanya. Di dalam hati, Gindo kurang setuju, Gadis menjadi model lukisan ayahnya. Tumbuh benih cemburu di hati pemuda kritis itu.

”Tak apa-apa kalau Gadis keberatan,” kata Si Pelukis. ”Aku tak hendak memaksa,” lanjutnya, berupaya menyembunyikan rasa kecewanya.

Gadis usul kepada Si Pelukis agar melukis sosok dirinya di dalam imajinasi, tetap berlatar belakang danau, atau ketika dirinya sedang memandang sekuntum mawar hutan. Lukisan berdasarkan imajinasi, kata Gadis mungkin akan lebih indah dan berjiwa dibanding yang natural. Si Pelukis tersentak. Dia tersindir. Dia sadar, dirinya bukanlah tukang gambar. Ali adalah seniman lukis, atau perupa berpengalaman, kata hatinya. Saran Gadis diterimanya dengan jiwa besar. Si Pelukis mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap wajah Gadis yang ayu, lembut keibuan, dan selalu tampil alami. Bersahaja saja dia. Saat itu pula, Si Pelukis terkenang pada 0lga, istrinya yang sudah lama tiada.

***

Kehadiran Si Pelukis dan putranya beberapa tahun silam dikenang Gadis sambil menyulam di tepi danau. Senja kali ini bergerimis. Pelangi melengkung di seberang sana danau. Gadis membayangkan tujuh bidadari turun meniti pelangi. Para putri kayangan itu mandi berkecipung di air danau—yang kemerahan disinari matahari senja—semerah isi semangka. Pelangi dan bidadari pun menjadi inspirasi bagi Gadis untuk menyulam. Senja itu, Gadis menyulam sekuntum mawar hutan di selembar kain belacu putih. Dia sangat cemas apabila seluruh hutan dan ladang Bapak kelak menjadi lahan kebun kelapa sawit, tak akan ditemukan lagi mawar hutan. Itulah sebabnya Gadis mengabadikan mawar hutan di dalam beberapa sulaman untuk hiasan dinding. Salah satu sulaman bunga mawar hutan, khusus disediakannya untuk Gindo.

Ketika pamitan, dulu, Gindo mengatakan, awal tahun depan akan menemui Gadis di tepi danau. Sekian lama, Gadis setia menunggu, tapi Gindo tak kunjung datang. Penanggalan di dinding dangau telah diganti Bapak dengan kalender baru, Gindo belum juga datang. Gadis segera kembali ke kota, sehabis cuti tahunan, melanjutkan penelitian ikan belida untuk gelar S2-nya. Si pemancing tua, berjenggot putih, sahabat Gadis di tepi danau merasa sepi setelah Gadis pergi.

Gindo tak berniat melanggar janji kepada Gadis. Musibah telah menimpa Si Pelukis gaek, ayahnya. Jip yang dikendarainya masuk jurang, ketika meneruskan pengembaraan sendirian untuk melukis Bukit Barisan. Lelaki tua pemberani itu tewas di tempat kejadian. Gindo berhalangan menemani ayahnya karena sedang mengikuti ujian S2—jurusan ilmu komunikasi di ibu kota provinsi. Mengenai musibah itu, Gindo telah mengirim e-mail kepada Gadis. Pada bagian akhir e-mail itu, Gindo menulis:

”Gadis yang baik. Kini, aku sudah yatim piatu. 0lga, ibuku, yang asal Rusia meninggal 27 tahun lalu, setelah aku lahir. Ayah tidak pernah menikah lagi karena setia, dan sangat cinta pada Ibu. Bila rindu pada Ibu, Ayah ziarah ke makamnya berlama-lama. Aku janji, 40 hari setelah Ayah wafat, aku segera menemuimu di danau. Banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Gadis, Ketahuilah, di dalam diriku sedang menguntum romansa merah jambu. Sampai di sini dulu, ya? Salam. Gindo selalu merindukanmu.” Pesan itu tak sampai karena laptop milik Gadis sedang mengalami error.

Di ujung tahun, Gindo menyetir jip tua peninggalan ayahnya menuju danau. Dia tercengang di depan pagar besi tinggi berkawat duri. Dirasakannya pagar yang menghadang itu sangat angkuh. Ladang dan hutan tak tampak lagi. Tanaman kelapa sawit muda setinggi lutut—terbentang di depannya seluas mata memandang. Danau makin sunyi. Pemancing tua entah berada di mana? Tak ada lagi pepohonan tinggi yang berdaun rimbun di sekitar danau itu. Gindo tidak diizinkan masuk lokasi perkebunan sawit oleh petugas keamanan berseragam hijau-loreng. Para petugas keamanan itu tidak dapat menjawab pertanyaan Gindo, ”Di mana Emak, Bapak, dan Gadis, setelah hutan, dan ladang mereka digusur?

(Mengenang Tanjung Serian, dusun Bapak, Kepur, dusun Emak, dan Tanjung Raman, dusun Taufik Kiemas—di tepi Sungai Lematang).

Villa Kalisari, Depok, 04 Juni 2010

*) Pohon yang kayunya merah, getahnya sangat tajam, dan gatal bila tersentuh, dapat menyebabkan kulit melepuh. Getahnya dapat dijadikan cat pernis atau minyak kayu. Buahnya mirip jeruk purut, warna cokelat, tak dapat dimakan.

About these ads

Written by tukang kliping

19 September 2010 at 06:29

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

49 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ?????
    selamat sudah diterbitkan kompas

    faver

    19 September 2010 at 07:12

  2. ampuun……!

    pwnp98

    19 September 2010 at 07:49

  3. Tanpa bermaksud tidak menghargai momen dan kenangan yang melatari cerpen ini, maaf, bagi saya -sebagai cerpen- cerpen ini terlalu lurus, terlalu lugu, hingga saya kurang mampu menikmatinya. Emosinya tidak bisa saya rasakan, cinta mereka terlalu literer, jika tidak mau dikatakan terlalu teknis mekanis. Saya tidak mendapatkan gambaran indah lokasi tempat tinggal Gadis dari cerpen namun justru membatangkan dari tulisan terakhir mengenang Tanjung Serian dan Tanjung Raman. Maaf, bagi saya, cerpen ini tidak berhasil..

    gide buono

    19 September 2010 at 08:26

  4. keterkesanan saya mgkn krna saya tidaklah terkesan..:)
    semnagt sastra.

    diana

    19 September 2010 at 09:29

  5. terkesan sedikit tergesa…

    nur ratri

    19 September 2010 at 11:03

  6. ha?
    kompas kok….

    eniwei, -meniru komen faver di atas.
    slamat atas keberuntungannya :)

    titis arti

    19 September 2010 at 11:12

  7. Sptnya ada pergeseran ‘mode’ cerpen dari yg ‘berat’ & berkias macam cerpen mas agus noor, mjd yg lugu spt ini.. Keren..

    Konfirm

    19 September 2010 at 12:59

  8. Saya sependapat dengan Gide Buono dan Nur Ratri

    Heri Apriadi

    19 September 2010 at 14:09

  9. oh…

    Yessi

    19 September 2010 at 14:42

  10. utk saya cerpen ini bukan “lurus”
    tapi menimbulkan pertanyaan2. mungkin ada yg bisa menjelaskan
    terutama soal waktu
    brp lama gindo dan bapaknya bermukim di desa Gadis?
    pertemuan mrk
    bbrpa tahun silam atau hanya kisaran setahun yang lalu?
    Gindo berjanji menemui Gadis di awal tahun depan. bukan kesengajaan utk tdk menepati, tp (krn) bapaknya tewas. berjanji setelah 40 hr wafat bapaknya akan menemui gadis dan itu jatuhnya diujung tahun?…

    hare gene.. di era email
    lappy error bukan masalah bg mhsw/sarjana S2 mengakses email…

    Gadis itu menunggu (berharap) kedatangan Gindo.
    bercerita kegiatannya mbudidaya ikan belida
    tp tak berkabar perubahan desanya?

    pertanyaan terakhir
    KOmpas ?

    faver

    19 September 2010 at 18:28

  11. mengapa cerpen ini sepi komentar?

    faver

    19 September 2010 at 18:30

  12. Berbahagia menemukan kembali cerpen Pak K.Usman, setelah lama jeda. Ternyata, satu daerah. Sama-sama besar di aliran Sungai Lematang. Jeme Serasan Sekundang. Salam hangat, Pak –bila Anda membaca koment ini…

    Guntur Alam

    19 September 2010 at 19:12

  13. paragraf pembuka cukup bagus,mampu menimbulkan suasana tersendiri. Paragraf selanjutnya? Mm..cukup mengecewakan.

    adam

    19 September 2010 at 21:14

  14. Setelah sebelum lebaran cerpennya Pak Danarto, maka setelah lebaran cerpennya Pak K. Usman (maka selamat buat cerpenis sesepuh kita yang masih produktif). Salut!!!

    Bamby Cahyadi

    19 September 2010 at 21:33

  15. saya seperti mendengar cerita kakek saya

    Rozzi narayan

    20 September 2010 at 01:12

  16. marilah belajar dari tidak keterkesanan dan atau ketidaksempurnaan kita sendiri dulu. bukankah kita juga (mungin) tidak mampu memberi kesan dan kesempurnaan kala berkarya.

    marjono

    20 September 2010 at 08:01

  17. Salam hangat selalu
    Saya menemukan cerpen yang aneh lagi dari Kompas. Setelah membaca ‘Macan Lapar’ kini saya disuguhkan ‘Romansa Merah Jambu’ dengan diksi dan esensi yang dangkal. Mungkin perlu pendalaman diksi agar bisa mengaduk-aduk sensorik pembaca saat mengecap cerpen diatas. Konflik cerita mengalami ‘ambigu absurd’ padahal cerpen diatas bukan genre cerita imajis seperti cerpen Rongga. Bahasa koran, baku dan lugu, di tambah lagi ide cerita yang berputar ke berbagai arah yang tak jelas. Saya tak mengerti esensi pesan moral yang ingin di usung bung K. Usman. Terlalu tumpang tindih hingga menutup poros yang akan berputar. Dari judul tampak romantis serta methaporis, tapi dari ide dan alur cerita terkikis. Saya menunggu karya Anda berikutnya. Sukses berkarya selalu

    Tova Zen

    20 September 2010 at 10:49

    • Setuju dengan Tova Zen. Pak Usman, saya pernah membaca karya Pak Usman yang lebih asyik dari ini.

      Budi P. Hatees

      26 September 2010 at 22:04

  18. nice cerpenya om makasih gara2 ini cerpen tugas saya jadi dapet nilai tambahan makasih ya om

    farid setyawan

    20 September 2010 at 14:01

  19. Apakah memang sebuah cerpen–jika ingin dimuat di Kompas–harus informatif dan–seperti menyebut macam-macam bunga Anggrek itu–lebih mementingkan kemeriahan ketimbang kesunyian? Bukankah ribuan pegiat sastra dipaksa untuk menggambarkan objek dan bukan menunjukkan? Dengan menunjukkan memang banyak yang dapat kita sebutkan, namun jika penulis wajib untuk menggugah imajinasi pembaca, bukankah unsur mimesisnya mesti lebih diutamakan? Substansi atau ekspresi realitas bukan terletak dari apa namanya, lalu mengapa menulisnya dengan buru2? Bagaimana dengan metafora dan aforisme? Cerpen ini lebih seperti penuturan seo pasien kepada dokter–ia kehilangan banyak dari kekayaan sastra.

    Oge Bual

    20 September 2010 at 19:30

  20. membaca kisah ini begitu terenyuh…

    bisyri

    20 September 2010 at 21:23

  21. hmmm.., standart..!!

    Iwansteep

    22 September 2010 at 10:41

  22. Aduh, saya jadi ingat kembali majalah Ceria Remaja dan Anita Cemerlang di masa remaja dulu. ROMANSA MERAH JAMBU, ingatan yang memperindah ingatan.

    Ramdoni

    22 September 2010 at 22:44

  23. Kayaknya Masih ada komentator yg blm ngasih komentar, nih… ;)

    sony

    23 September 2010 at 23:45

  24. Salam pena,

    Cerita yang mengalir tanpa kesan terburu-buru. Warna lokalnya bisa menunjukkan kalau ini cerpen Indonesia. Pesan tersirat di bagian-bagian akhir cerita membuat kita tersentuh.

    Unkam

    24 September 2010 at 09:16

  25. sayang skali. pdhal kl mnurut sy crita ini bisa lebih dkembangkn lg. lbh berkesan, tdk sekedar cerita.
    sy jg bingung sm alasan emailnya g keterima, g mungkin hanya karena masalah laptop gadis rusak. aneh.. emangnya sms.. tp sy masih suka dengan cerpen ini.

    kunto

    24 September 2010 at 11:00

  26. Sesuai dengan temanya, maka cerpen ini menghadirkan prinsip seorang gadis yang tidak mau tubuhnya dijadikan objek pelukis jika tak sesuai kehendak hatinya.Juga ketegaran si pemuda yang tak mendapat info yang jelas akannya. Adapun realitas tambahan yang terjadi di luar itu menjadi bumbu cerita yang semakin menyedapkan rasa bacaan.

    Email yang tak kesampaian memang masih bisa dicek di tempat lain, namun diceritakan sebelumnya karena tenggat waktu yang dijanjikan si pemuda tak kunjung datang bisa jadi si gadis tak mengeceknya lagi entah sampai kapan, sebelum meninggalkan ladang lengang lanjutkan S-2.
    Apakah mereka akan bertemu di tempat lain? Hal ini menjadi ruang hilang yang wajar dalam sebuah cerpen untuk tafsir dan imajinasi pembacanya.

    Seperti jika kita mengirim cerpen ke media tapi tidak dikonfirmasi berbulan-bulan, lantas kita mengirim cerpen itu ke media lain.

    Ran Pasnim

    24 September 2010 at 12:11

  27. menurut saya cerpen ini tidak kelihatan apa2nya.gak menyentuh sama sekali, dangkal tidak ada maknanya seharusnya kompas bisa lebih selektif lagi dalam memilih,terus terang saya kecewaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    nimas

    24 September 2010 at 13:28

  28. terlalu dangkal untuk kompas yang biasanya TOP cerpennya. Tak ada hikmah yang bisa di petik dari cerpen ini. Mohon maaf bila menyinggung.

    spears

    24 September 2010 at 16:58

  29. Banyak mereka (penikmat & pereka sastra) bilang (yg intinya): “Ini cerpen tak mutu!”

    “Tapi, kenapa mereka tak mereka cerpen yg bermutu?” batin salah seorang.

    “Sudahlah.. Kau ini baru berkecambah, jangan banyak cakaplah. Lantas, jika ingin kutanyai, apa ketika Kau telah jadi sekuntum anggrek yg telah berkali-kali mekar dan hampir ranggas karena dijejali banyaknya tunas, masih bisa mekar dg indah macam Ki Anggrek Cerpen ini?” batin lainnya lagi, ngedumel pada diri sendiri. :-)

    Eko Wahyudi S

    24 September 2010 at 23:29

  30. karya penulis yang patut kita hargai
    cerpen ini bagus, bagus untuk dikritik dan di puji

    dan saya nilai, cerpen i ni masih sederhana

    lubab al-nur

    25 September 2010 at 21:22

  31. waaaaaaahhhh……
    janGn peRNh menyerah kumpLin trus cerpennyyyyyyaaaaaa2

    ganis

    27 September 2010 at 17:51

  32. saya setuju dengan gide buono dan faver.
    banyak yang kurang jelas apalagi tentang sebuah motivasi yang digambarkan pengarang… kurang logis//eheheh

    ya seperti Email dan leptop yang erorr… apa itu masalah dalam hal ini/./…??

    sule subaweh

    29 September 2010 at 13:29

  33. Cerpen ini bagus dan menurut saya cerpen memiliki bahasa yang indah. Kritik dari pembca adalah motivasi untuk penulis.

    Niken Retno Ningsih

    30 September 2010 at 18:04

  34. bagus, enteng, dingin dan misterius,cinta selalu misteri

    angin perermpuan

    1 Oktober 2010 at 07:24

  35. Lepas dari pro-kontra, saya pribadi sangat menghormati Pak H. Kurnia Usman. Mengapa? Karena beliau salah satu (selain Mas Arswendo)yang ikut mendorong untuk terus berkarya sejak beliau menjadi pemimpin majalah anak-anak Kucica. Seperti beliau, yang kini sudah hampir berusia 70 tahun terus berkarya. Salam buat Pak Haji jika beliau kebetulan menengok blog yang oke ini…

    Aba Mardjani

    1 Oktober 2010 at 16:51

  36. Itu cerpen ya..??

    G.E.

    2 Oktober 2010 at 00:37

  37. Saya sangat menikmati cerpen ini, sekaligus juga komentar-komentarnya. Persepsi dan penilaian yang berbeda wajar dan sah-sah saja..

    Bayu Airlangga

    6 Oktober 2010 at 22:36

  38. lha iki persis gayaku nulis cerpen nih…lugu…hihihi

    imut

    10 Oktober 2010 at 04:56

  39. Kompas?????
    Jujur, ini cerpen dari Kompas paling buruk yang pernah saya baca.

    Irfan

    10 Oktober 2010 at 16:54

  40. makasih buat cerpennya….
    kereeennn…
    tp endingnya gak jelas..

    makasih ya..
    xiexie….

    dessy

    11 Oktober 2010 at 17:50

  41. sebetulnya paragraf awal cerpen ini bagus dan saya menyukai latar belakang cerpen ini karena berlatar belakang dgn alam di suatu pedesaan…

    penulisan novel ini menurut saya bagus dan mudah dimengerti…

    astarie

    14 Oktober 2010 at 23:19

  42. speechless…

    aku

    16 Oktober 2010 at 02:57

    • setelah membaca cerpen ini saya begitu terbawa kesuatu daerah yg begitu indah dan menyenangkan terlepas dari isi cinta dan karakter dari orang-orang yang menyertai cerita ini….penulis seakan mengajak kita untuk menyelusuri suatu daerah yang apik dg panorama yang masih asli akhirnya tersentuh juga dengan ambisi orang-orang berduit untuk membuat perkebunan sawit, begitu halus…sip..

      mariyamah ayub

      28 Oktober 2010 at 15:25

  43. bisa kirim email kok ga bisa kirim sms? aneh banget deh

    silla

    27 Januari 2011 at 00:09

  44. Satu lagi kisah kasih tak sampai…

    Adri

    23 Februari 2011 at 08:32

  45. N0 c0ment.

    MARKES0

    11 Februari 2012 at 16:49

  46. Reblogged this on sthartinaanwar.

    sthartinaanwar

    4 Desember 2013 at 08:32


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.513 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: