Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Perjalanan

with 38 comments


1.

Selalu, kuingat tentang kisah picisan kita, Sonya. Setiap menelusur kota pada malam hari. Bahkan dari gigil udara malam, dendang solilokui tentangmu dapat memancing kehangatan.

Bila, kata orang sebijak-bijaknya, jodoh merupakan salah satu tulang rusuk yang tercerabut. Tidak bagiku. Kau adalah sebelah mataku. Yang kugunakan untuk mengenal dunia.

2.

Sepanjang malam, gelap menyadurkan melankolia. Jalanan kota hari ini sepi. Malam semakin larut. Bebunyian yang tersisa hanya deru kendaraan malam. Yang terlambat bangun. Yang melintasi malam bersama kerahasiaan tentang tujuan. Perjalananku sendiri lamat saja. Decit roda motor menggilas aspal terdengar jelas. Belum pernah kurasa kota menjadi amat sepi. Malam ini, kota seakan lelah. Dan jatuh terlelap.

Bagi seorang buta sebelah sepertiku, pelan adalah keselamatan. Menekuri ketelitian. Menghindari bakhil yang celaka. Hanya mata kiriku yang berfungsi. Tersisa dunia hanya bagi belahan pandang sebelah kiri. Semenjak beberapa tahun lampau. Ketika mata kananku kudonorkan. Lebih tepatnya, hadiah sebuah ulang tahun. Tak mengenal aku coklat, parfum mahal, pakaian, atau lingkar cincin di pergelangan jari manis—tak mampu pula isi dompetku menebus hal tersebut—sebagai hadiah. Maka kuberikan mataku sebelah kanan. Yang terjernih. Begitu membanggakan.

Bulan mendengkur. Aku mendengarnya. Aku selalu dapat mendengar dengkurnya yang keras menggaung di antara awan dan gedung tinggi. Bulan selalu tertidur selepas tengah malam. Bosan barangkali. Lelah juga mungkin. Tapi kau selalu mengatakan, ”bulan bukan bosan. Ketika kota hening, ketenangan akan membiusnya.” Tak setuju benar aku perihal itu. Tapi memang keheningan selalu dapat membius. Keheningan adalah jenis racun dengan wujud yang lain.

”Kau ingin hadiah apa untuk ulang tahun?” tanyaku pada pertengahan bulan September. Tahun lalu. Ketika kemarau membakar kulit. Kau tampak asyik melumat sebongkah pecahan es batu dalam mulut. Mengusir gerah.

”Mobil!” Jawabmu sembari melempar senyum nakal. Kau selalu menggoda. Ah, alangkah hal ini membuat jantung berdegup. Dapat kuterjemahkan godaan tersebut dari matamu yang bulat, melirik dengan mengerdip.

”Ayolah, aku ingin memberimu sesuatu kali ini.”

Kau tertawa. Siang begitu jernih. Dapat kulihat bibirmu yang penuh bongkah es terbuka. Terkekeh. Kau tak percaya? Aku tersinggung.

”Tak percayakah kau? Baiklah, Sonya, aku hanya seorang penulis lepas. Pengangguran di mata orang normal seperti kau. Yang tak selalu memiliki peser-peser uang. Bahkan selama ini, selalu pundi-pundi dan kiriman orang tuamu yang selalu kau bagikan. Maka, atas segala jasamu izinkan aku membalasnya. Dengan materi.” Meledaklah rasa payahku.

”Oho, marah rupanya. Aku ikhlas melakukannya selama ini. Tak dapatkah kau mengartikan ketulusan, wahai penulis?” kembali kau terkekeh. Sebuah lesung pipit tersemat di hulu pipimu, kiri.

Aku terpengkur. Nanar kesabaranku. ”Sonya, aku harus tahu apa yang sedang kau inginkan.”

”Simpan saja uangmu.”

”Mengertilah arti dari balas budi ini. Bukan hanya tentang berbagi. Harga diri. Aku ingin menggelontorkan materi untukmu.”

”Budi, mengertilah. Sudah banyak bantuanmu.”

”Tapi, bukan materi.”

Sebuah kereta melintas di sisi kiri jalan. Derap rodanya bagai guntur. Memecah hening. Kota sekejap terbangun. Terdengar kembali klakson dan teriak orang. Rupanya perjalanan membawaku pada sebuah pasar. Aku keterusan. Tujuanku terlewat. Segera kucari jalur untuk memutar arah.

3.

Bahkan bertahun-tahun diriku masih berkantung kempis. Tak dapat kuberikan hadiah pada tepat ulang tahunmu. Sebagai cendera mata dari kedalaman kesungguhan. Tetap saja aku tak ber-uang. Bahkan, ketika dulu kujanjikan banyak hal, tak ada satu pun berwujud nyata. Kecuali racun yang bernama ketenteraman. Kecuali juga, seorang bayi manis—yang kerap menangis malam hari mengganggu persanggamaan kita. Dan tentu kecuali, sebutir mata sebelah kanan.

Sudah luluh benar rasanya kejantananku. Kodrat sebagai seorang lelaki. Simbol kesuksesan. Ketika dulu aku melamarmu, kukatakan impian yang dapat membius wanita mana pun. Dan mimpi itu kini lapuk dimakan rayap. Waktu. Dan bumi yang berputar menyelipkan kusam. Seperti sesusun batu di balkon rumah susun kita—kita sebut sebagai tugu. Tugu yang kini tua dimakan cuaca. Renta melahapnya. Walau banyak tersemat nostalgia.

”Maaf, Sonya, nasib baik enggan menghampiriku,” kataku ketika melahap makan malam. Perayaan dua tahun pernikahan; kau menggodaku pada sebuah jamuan; makanan lezat restoran mahal.

”Apalah nasib baik itu, Budi? Perjalanan kitalah yang satu-satunya kunikmati.” Kau melumat sepotong daging dan lumatan halus kentang. Sambil menatapku dalam. Tak kau rasa ketika setitik saus hinggap di ujung bibir. Dengan kepala ibu jari kuusap. Kau tersenyum.

”Tak dapat kuberikan hal menyenangkan. Tak dapat kuberikan sebuah mobil seperti impian kita sebelum menikah. Tak dapat.”

Kau melintangkan telunjuk kurusmu di depan bibirku.

Dan memang sepertinya hidupku harus berjauhan dengan materi. Seperti sebuah musuh. Sebuah pembantaian akan harapan. Gestapo kehidupanku, barangkali.

Ketika ibu meninggal. Kuingat. Kau pun merelakan separuh gajimu untuk pembiayaan ibu. Uang yang kau cari setiap gelap dengan menjadi seorang pelayan klub malam.

”Akan kuganti uang ini,” ujarku ketika dalam perjalanan pulang selepas menjemputmu. Malam telah pudar. Fajar menguncup di balik mega-mega.

”Sudahlah,” tercium bau alkohol menyelinap keluar dari dalam mulutmu.

Dan hingga kini tak dapat kuganti uang tersebut. Bahkan untuk kepul harum di atas meja makan, harus kurela menjadi seorang pengecat rumah serabutan. Ketika cerita-cerita picisanku hanya menjadi penghuni laci meja tulis.

4.

Malam semakin dingin. Waktu semakin bergeser. Dan pagi menunggu di ujung jalan. Terdengar kicau beberapa burung yang terjaga. Cukup untuk memberi kabar bahwa sudah waktunya kau pulang. Kutambah kecepatan. Bersalipan dengan waktu. Meskipun aku harus waspada juga. Aku hanya punya mata sebelah kiri, dan tak ingin tergelincir karenanya. Cukup sekali kusaksikan sebuah kecelakaan. Musibah. Sebuah peristiwa yang memerihkan.

Musibah tersebut menghilangkan pandanganmu. Yang membutakanmu. Merenggut segala parawarna yang diciptakan untuk dikagumi. Menghancurkan asa.

Kuingat, Sonya, hari naas tersebut. Sebagai lara yang tak tersembuhkan. Yang kelak kutahu bahwa hal tersebut sebagai penyiksa. Seperti kuingat tetumpuk batu yang kita bangun—kita sebut tugu. Di balkon tempat kita menghitungi lampu kota pada malam, tugu tersebut selalu mengingatkan pada masa-masa penuh kelaparan.

”Aku lapar,” katamu. Kontan berhenti jari-jariku yang sedari pagi menari di atas tuts komputer. Mendadak diriku melemah. Serasa ada denyut nadi terpotong. Seminggu penuh, hanya dedaunan yang disebut kangkung—kukira lambung kita turut merayakan kemiskinan—yang dapat dikunyah. Kala itu, bulan sedang menutup umurnya. Tanggal tua.

”Sedang nasi hanya tinggal satu gelas.”

”Lapar.”

Pekerjaan menulis memang sedang tak banyak. Sedangkan, upah mengecat belum juga dibayar. Ingin kupotong saja kemaluanku. Oh, kaum pria. Kaum pekerja.

”Ayo duduk di balkon, mungkin ada yang dapat mengalihkan pikiran,” ajakku.

Siang itu tak terlalu terik. Agaknya gerumbul awan berdesakan di cakrawalalah musababnya. Di dinding balkon, terpajanglah dengan cantik beberapa kaktus. Buah tangan ibu. Hadiah pernikahan kami. Pada dasar pot kaktus tersebut bertimbunlah bebatuan aneka warna.

”Kaktus—tanaman tahan susah. Ibu seperti hendak menyindir,” kataku sembari memunguti beberapa batu dari kaki-kaki kaktus.

”Hush.”

Kutata bebatuan tersebut di lantai balkon. Membentuk sebuah limas. Kau tersenyum, bagimu menggelikan memang terus-menerus mendirikan bebatuan yang bandel. Bebatuan tak kenal disiplin. Permukaan batu yang berpori kecil membuat licin. Absurd.

Setelah bergelut dengan ketekunan sekian lama, sempurnalah! ”Akan kuruntuhkan ketika kelaparan adalah makhluk asing bagi kita.”

”Runtuhkan saja ketika kita punya mobil.”

”Terserahlah.”

Dan kemiskinan kian mesra. Berbulan kemudian kulihat tubuhmu tambah ceking. Bahkan setahun kemudian, ketika kau melahirkan Kaktus—anak kita. Kau tampak kekurangan gizi. Celakalah bagiku. Tak dapat merawat istri.

”Pakai kata Kaktus untuk nama depannya. Agar tahan susah,” katamu di meja persalinan. Dan seperti kau duga, memang hidup bersama seorang anak tak menambah rezeki kita. Bahkan, dengan kepala tertunduk, aku (dan kau, Sonya) harus menitipkan Kaktus ke rumah ibumu. Dan kau meminta izin kepadaku untuk bekerja pada malam hari. Untuk pertama kali aku sesenggukan. Dan untuk kedua kalinya, aku merasa lemah. Hanya pikiran yang kupunya, dan perut buncit. Dan kemaluan—yang sangat ingin kutanggalkan.

Dan untuk yang kedua kali sesenggukanku menjadi raungan, ketika pada sebuah pagi, klub malam tempatmu bekerja diserang gerombol pria bersurban dan berjubah putih. Mereka membakar tempat kau mengais nafkah. Meneriakkan nama Tuhan. Dan membabi buta. Menghancurkan apa saja. Memukuli siapa saja. Termasuk membawamu dalam lubang hitam bernama koma.

5.

Segala usaha pekerjaan kulakukan. Hingga sales kosmetik yang akrab dengan cibiran. Kesialan menguntitku. Bahkan aku selalu merasa ketika tertidur, kesialan memerkosaku. Aku seorang sarjana. Sarjana kebudayaan. Namun, dunia semakin praktis. Kebudayaan bukanlah barang sekali kedip, tak praktis, cenderung rumit, harganya tak lebih penting ketimbang sebungkus mi instan. Seribu lima ratus.

Suatu waktu temanku yang bekerja pada sebuah koran menghubungi. Jawatannya membutuhkan seorang penulis. Bidang kebudayaan. Sebuah kolom. Di antara berita tentang mayat dan pelecehan manusia. Aku menerima dengan perasaan yang berbunga. Kelebatan pikiran yang muncul pertama adalah bayanganmu, Sonya—dan Kaktus, tanggung jawab kita. Sebuah ledakan meledak di dada. Seperti kembang api berharga jutaan. Dengan kaya warnanya mendebarkan getar semangatku. Sonya, akan kukabarkan hal baik ini padamu, segera. Bahkan aku ingin mendahului waktu. Sebuah pekerjaan tetap dan hadiah akan bertumpuk terbayang kemudian. Kita rayakan apa pun; ulang tahunmu, ulang tahun Kaktus, ulang tahun perkawinan, bahkan bila perlu kematian ibu—mengingat jasa beliau.

Maka, kupacu sepeda motor menembus padat kota malam hari. Tak sabar rasanya mengabarkan sukacita. Harapan. Namun malam itu, tak dapat kutemui dirimu. Hanya gedung dan gerombol riuh manusia yang kutemui..

***

Kuingat, dua hari kemudian dokter menunjukkan hasil pemeriksaan. Visum menunjukkan kepalamu terantuk benda keras puluhan kali. Gegar otak. Bahkan bibit amnesia merupakan risikonya. Kaktus menangis semalaman. Ibumu juga. Dan aku meraung. Ketika dokter berkabar bahwa kau menjadi buta, aku kalap. Hampir kujotos dokter. Bila ia tak mengatakan, ”Mata kanannya masih punya harapan. Sedangkan mata kirinya rusak berat akibat hantaman. Kiranya mata kanan itu dapat sembuh apabila ada pendonor mata.”

Dua hari kemudian kubagikan mataku. Dokter mengundangku ke ruang inapmu. Kulihat kau masih terpejam. Malam itu kau begitu cantik. Kulitmu begitu bersinar. Amat putih. Dan bibirmu yang menjadi biru, menyisir darahku dengan kekaguman. Sonya. Sayangku.

6.

Inilah tikungan terakhir, Sonya. Mari kita pulang. Esok kita jemput Kaktus dari rumah ibumu. Dan untuk menyambut pagi kita habiskan waktu dengan bercinta. Sonya, esok hari ulang tahunmu.

Mintalah apa pun.

Bahkan, bulan yang mendengkur sekali pun.

Setelah sebuah tikungan ke arah kiri, terbayanglah senyummu. Kuhentikan sepeda motor di depan bangunan dengan tanaman rambat yang merimbun dan gosong yang kelam.

Kutatap bangunan tersebut seperti menatap bulan yang jatuh ke atas ubun-ubunku, Sonya.

Surabaya, 11 April 2010

About these ads

Written by tukang kliping

1 Agustus 2010 at 09:57

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

38 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bagus..bingung mo komen apa lagi..yg pasti like this lah!

    sangpenghibur

    1 Agustus 2010 at 11:55

  2. Salah satu kandidat kuat Cerpen( is ) Pilihan Kompas 2010.
    Solilokui yang sangat memesona namun tetap kentara unsur Cerpennya !!

    Somad...

    1 Agustus 2010 at 14:54

  3. ah, sejak membaca paragraf pembuka, ini cerpen GAGAL!

    A. Junior

    1 Agustus 2010 at 16:09

  4. teduh tenang banget isinya. like dehh. solilokui apa si?

    ezri

    1 Agustus 2010 at 18:28

  5. Wah..salutttda..
    All my tumb up for the writter.

    harikuhariini

    1 Agustus 2010 at 22:02

  6. @ezri- Maaf, menurut guru bahasa indonesia aku waktu SD, Solilokui itu merupakan ungkapan pikiran seorang tokoh yang diungkapkan dalam bentuk percakapan kepada diri sendiri. Dan kata guruku juga, Solilokui itu di sebut juga dengan Monolog atau Senandika.
    Salam. Maaf, bukan aku bermaksud menggurui, itu kata guru SD-ku.
    ^_^

    Somad...

    2 Agustus 2010 at 00:48

  7. sy ikut merasakan cinta yang dalam, perjalanan cinta yang tak bertepi, perjuangan menempuh hidup yang sulit – dalam cerita ini. cerita pendek seperti ini sepertinya banyak menyeruak akhir-akhir ini,monolog, solilokui-apapun namanya.Entahlah, apakah akibat pengaruh dunia luar yang kita enggan mengusiknya karena begitu riuh dan mengerikan, maka cerita2 yang personal dari dalam diri menjadi pilihan? entahlah

    ewing

    2 Agustus 2010 at 08:18

  8. Bagaimanapun, saya senang semakin banyak penulis baru di Kompas….

    @Bamby: kok komentarnya belum muncul? Saya mau tanya nih Mas. Sudah di 2 edisi STORY ini Gus Tf Sakai tak ada. Kenapa ya? Apakah dia tak lagi di STORY?

    bhoernomo

    2 Agustus 2010 at 08:24

  9. 52 minggu, 52 penulis. Mudah2an akan terwujud. Maju terus Kompas.

    A

    2 Agustus 2010 at 09:12

  10. Kok saya gak ngerti ceritanya ya..baru alineas pertama dah malas aja..(maaf ya, tapi ini jujur kok)

    K

    2 Agustus 2010 at 12:58

  11. Lumayanlah. Tapi kenapa gak bikin penyebab laen, kebutaanya gara2 ormas bersorban. Ada keritik pada ormas bersorban ‘ugal2an’ – diselipkan oleh pengarang. Tapi bagi saya itu malah menodai rangkaian cerpen ini..

    Indonesia people

    2 Agustus 2010 at 22:51

  12. cocok untuk yang sedang terserang melankoli dan mengasihani diri sendiri, seperti tokoh Budi ini. Tetap saja, ” penulis lepas ” seperti sebuah pilihan hidup yang penuh keluh kesah, tapi anehnya tetap dijalani. Kasian…..

    Kiki Sulistyo

    3 Agustus 2010 at 09:52

  13. ada beberapa nama serupa aku temui hari ini; sonya, soraya dan soya. soraya dan soya, saya temukan dalam novel the kite run dan sonya, saya temui dalam cerpen kompas minggu ini juga satu oma di gereja tadi pagi.
    nama2 yang manis dan melankolis…hehehehe.

    lia

    3 Agustus 2010 at 14:52

  14. bingung… g ngerti ceritanya..
    selamat ajalah..

    kunto

    3 Agustus 2010 at 15:26

  15. Cerpen ini, terkesan banyak bagian-bagian yang dipanjang-panjangkan. Tapi, alur ceritanya cukup menarik.

    @ Bhoernomo : Kalau keberadaan Mas Gus TF di Story, mungkin redaktur majalah story yang lebih tahu hehehe

    Bamby Cahyadi

    3 Agustus 2010 at 17:40

  16. Cerpen ini menurutku, terlalu mementingkan style, tetapi mengabaikan banyak unsur.Bagi yang terkena romanthyc sindrome,mungkin akan merasa tertarik, tetapi tetap saja mereka itu terjebak dalam perangkap gaya bahasa dan gaya bercerita penulis. But, it’s Ok.

    Yohanes Jehabut

    4 Agustus 2010 at 14:02

  17. tiap karya yg masuk kompas patut diacungi jempol, karena berhasil menyisihkan 200an cerpen tiap bulan yg diterima redaksi.

    BlackWhiteGray

    6 Agustus 2010 at 01:05

  18. Dalam sehari kompas menerima sekitar 35 cerpen kalikan seminggu bisa 250an cerpen dan yang dipilih cuma satu!!!

    efra

    6 Agustus 2010 at 11:49

  19. saya dengar itu dari bre

    efra

    6 Agustus 2010 at 11:50

  20. ku sangat terinspirasi dengan kummpulan yg menyapaku di pagi saat aku terbangun

    nasya adev

    6 Agustus 2010 at 12:09

  21. @efra: Bre Redana maksud anda?

    firwe

    6 Agustus 2010 at 14:16

  22. @ Yohanes Lehabut
    Seblmnya salam kenal mas. Boleh gak aku copy Cerpen “Balada Cinta Rambut Gimbal” di blognya mas? Tx.

    Anif

    6 Agustus 2010 at 19:09

  23. @Anif
    Trmaksih sdh mengunjungi blogku. Nama saya bukan Lehabut tapi Jehabut. Klo soal cerpen itu, boleh dicopy, asalkan untuk koleksi dan tetap mencntumkan sumbernya. ( dipasang linknya juga ). Dan kepentingannya bukan untuk komersil atau publikasi yang lebih luas.

    Yohanes Jehabut

    7 Agustus 2010 at 13:13

  24. Melankolia sebelah mata yang terhisap lubang hitam karena efek rumah kaca? Tanggapannya Mas Finsa…

    Gider

    8 Agustus 2010 at 11:31

  25. narasi yang mengalun seindah kunang-kunang di tanah ini… i like…!!!

    fakhira akasia

    8 Agustus 2010 at 16:07

  26. Kok cerpen kompas kian menurun ya???

    k

    9 Agustus 2010 at 08:57

  27. bung k: itu karena cerpen bung k belum pernah dimuat kompas. hayo, benar kan, hehehehhehe. pasti deh. sakit ya…. cemburu ya…. merasa marah ya, wkwkwkwkw.
    lagi2 selera bung, tapi kompas selalu punya visi yg baik, meloloskan nama2 baru di pentas sastra akhir2 ini, itu yg patut diacungi jempol. bung k belum masuk tho, sabar ya…

    efrataus

    10 Agustus 2010 at 15:40

  28. suka cerpennya karena penulisnya teman saya.
    two thumbs up buat finsa yang pantang menyerah menjadi penulis muda..

    d.i.a.n.a

    12 Agustus 2010 at 02:18

  29. opini saya: luar biasa usaha yg sudah dikerjakan oleh penulis ini,dari cerita melankolis sampai dapat dihubungkan dengan kritiknya terhadap ormas tersebut adalah pekerjaan yg tidak mudah, walaupun ada kekurangan “bahasa” khasnya cerpen untuk membungkus inti ceritanya sudah cukuplah untuk dinikmati dihari minggu…..semoga

    ronald

    13 Agustus 2010 at 01:45

  30. salam kenal kraeng yohanes, kali cama2 one mai dan ternyata pecinta cerpen juga….

    ronald

    13 Agustus 2010 at 01:54

  31. Hebat,cerita begitu mengalir dan membius.

    wulan

    13 Agustus 2010 at 21:04

  32. duhhh,,,,mengena sekali cerpen ini…sungguh perjalanan kehidupan yang berliku…

    bisyri

    16 Agustus 2010 at 20:07

  33. numpang tanya.. jadi ini happy ending ato gimana?

    manis sekali cinta budi ke sonya.. :)

    verticalskyline

    17 Agustus 2010 at 07:48

  34. terkadang setelah membaca cerpen kompas melalui web ini, saya di serang rasa senang. pulang dengan seikat ilmu dari komentar2 yang dituliskan. namun, terkadang pula saya diserang MUAK lantaran komentar yang ditudingkan seperti sampah yang tergeletak. hanya mengeluarkan aroma kotor, tanpa disaring baik-buruknya.

    jika banyak yang mengeluh kalau cerpen kompas kian waktu kian menurun kualitasnya, saya lebih berpendapat bahwa KOMENTAR disini yang kian waktu kian menurun kualitasnya.

    sebagai peminat sastra, sudah seharusnya kita bersikap bijak dalam mengkritisi. bukan hanya mengeluarkan sesak di dada tanpa.

    saya selalu rindu komentar2 yang membangun.

    lareh

    17 Agustus 2010 at 13:51

  35. Maju terus, Mas! Jangan mundur oleh gertakan, apalagi komentar-komentar kerdil.

    Ramdoni

    26 Agustus 2010 at 00:28

  36. Tiada yg bebas nilai. Penulis punya hak untuk menuliskan opininya. Sayangnya, makhluk bersurban yang diberi label anarkis tidak diberi ruang untuk membela diri. Berkaryalah tanpa menistakan pihak lain.

    anonymanifesto

    26 Agustus 2010 at 11:23

  37. saya masih bingung. sebenarnya apa tema dr cerpen ini?

    K

    30 Desember 2010 at 14:23

  38. bukannya mata hanya boleh didonorkan setelah si empunya mata meninggal? apa ilegal? sebab hanya ginjal hati dan sumsum tulang belakang yg boleh disumbangkan oleh honor hidup.

    ato aturan baru?

    silla

    28 Januari 2011 at 06:09


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.582 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: