Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kemarau

with 51 comments


Barangkali karena hawa panas yang tak mau menguap dari kamar-kamar sempit yang dimuati tujuh anak. Barangkali lantaran mertua makin cerewet karena gerah. Barangkali karena musim kemarau terlanjur berkepanjangan, kampung kami menjadi sangat tidak enak setelah bulan Maret sampai September.

Tak ada yang betah di rumah, dan makin menyusahkan karena tak ada hiburan di luar. Adakalanya biduanita organ tunggal meliuk-liuk seperti belut sawah di atas panggung berhias pelepah kelapa di pinggir-pinggir pantai, lebih menyanyikan maksiat daripada lagu. Tapi itu hanya lama-lama sekali, pun kalau harga timah sedang bagus—yang amat jarang bagus.

Tak ada galeri seni, gedung bioskop, kafe-kafe, atau pusat perbelanjaan untuk dikunjungi. Yang sedikit menarik perhatian hanya sebuah jam besar di tengah kota dan jam itu sudah rusak selama 46 tahun. Jarum pendeknya ngerem mendadak di angka lima. Jarum panjangnya mengembuskan napas terakhir di pelukan angka dua belas. Jarum detik telah minggat dengan perempuan lain, tak tahu ke mana. Melihat jam itu sejak kecil, aku punya firasat, bahwa nanti jika dunia kiamat, kejadiannya akan tepat pukul lima.

Penarik perhatian lainnya adalah dua buah patung, juga di tengah kota. Patung pertama berupa seekor buaya yang sedang melilit sebilah parang. Besar, tingginya mungkin enam meter. Sejak kecil pula aku telah berusaha mencerna makna filosofis patung itu, tapi selalu gagal. Aku hanya menduga-duga, buaya adalah perlambang lelaki hidung belang, maka, semua lelaki pembuat parang patutlah dicurigai.

Patung satunya lagi juga besar dan tinggi, adalah patung para pejuang kemerdekaan tahun 45. Lengkap dengan senapan dan bambu runcing. Mereka mengacungkan tinju dengan geram, siap menyikat Belanda. Juga sejak kecil aku bertanya-tanya, mengapa pematung membuat kepala patung-patung itu secara anatomis sangat besar? Baru belakangan ini kutahu jawabannya, yaitu di depan patung itu kini dipasang papan reklame dan di situ para politisi sering berbusa-busa membanggakan program-program mereka. Maka tampaklah kini para pejuang 45 itu seperti ingin menonjok mereka. Jika ingin tahu definisi dari visi seorang seniman, patung itu memberi contoh yang sangat pas. Jam besar, patung pejuang 45 dan papan reklame itu adakalanya bagiku tampak bak panggung parodi, adakalanya bak wangsit, dan adakalanya bak segitiga Bermuda, yang menyimpan misteri politik republik ini.

Namun, tak pernah kami risaukan semua itu sebab kami punya sebuah museum, dan museum kami adalah museum yang paling hebat di dunia ini. Tak ada yang bisa menandinginya sebab ia museum sekaligus kebun binatang.

Baiklah, mari bicara soal museum. Di sana ada sebuah ruangan yang jika dimasuki harus membuka sandal dan mengucapkan assalamualaikum demi menghormati tombak-tombak karatan, peninggalan para hulu balang antah berantah. Uang kecil diselipkan ke dalam kotak di samping tombak-tombak itu dapat menyebabkan pendermanya awet muda dan enteng jodoh. Anak-anak yang tak sengaja menunjuk tombak itu harus mengisap telunjuknya agar tidak kualat.

Dari jendela museum, istimewa sekali, tampak hewan-hewan berkeliaran. Itulah kebun binatang kami. Setiap minggu tempat itu dipenuhi orang-orang yang ingin melihat kijang yang saking buduknya sudah tampak serupa kambing. Ada pula unta gaek yang menderita sakit batuk kering stadium 4. Setiap kali dia batuk, nyawanya seperti mau copot. Ada zebra jompo yang hanya memandang ke satu jurusan saja. Tak paham aku apa yang tengah berkecamuk di dalam kalbunya. Ada orangutan uzur yang sudah ompong dan tampak terang-terangan menafsui bebek-bebek gendut di kolam butek sebelah sana. Tak ada malu sama sekali. Lalu ada singa tua kurapan bermata sendu macam penyanyi dangdut. Singa itu sepertinya sangat benci pada hidupnya sendiri. Mereka muak melihat orang-orang udik yang menontong mereka di dalam kandang. Konon, mereka dihibahkan ke kampung kami karena telah afkir dari sebuah kebun binatang di Jawa, di mana mereka dianggap tidak sexy lagi. Namun, seperti segala sesuatu yang selalu kami terima apa adanya, seperti segala sesuatu yang tak pernah berubah di kampung kami, makhluk-makhluk hidup segan mati tak mau itu selalu punya tempat di dalam kebun binatang kami, di dalam hati kami. Hewan-hewan itu menguap sepanjang hari, mereka hanya seekor saja dari jenisnya masing-masing, jadi mereka adalah pejantan bujang lapuk seumur-umur. Sungguh mengerikan hidup ini kadang-kadang.

“Mau kemana kau, Bujang?” sapa penjual tebu yang bertedu di bawah patung pejuang 45 itu. Malas aku menjawabnya. Karena ia selalu menanyakan hal yang sama padaku, setiap kali aku melintas di situ, dan karena aku terpana menatap propaganda yang dikoarkan politisi di papan reklame itu, megah bertalu-talu tentang perubahan-perubahan yang akan mereka buat. Tanpa mereka sadari, mata nanar mereka yang penuh optimisme tengah menatap jam besar yang telah rusak selama 46 tahun itu. Tanpa mereka sadari, para pejuang 45 mengacungkan tinjunya pada mereka.

“Mau ke pinggir sungai,” jawabku dalam hati. Jika kemarau makin menggelak, aku menyingkir dan duduk melamun dibelai angin di sebuah kapal keruk yang termangu-mangu di sana. Kapal itu tinggal segunung besi rongsokan. Mesin besar dan digdaya, dulu selalu dikagumi anak-anak Melayu. Ketika meskapai Timah masih berjaya, jumlahnya puluhan. Mereka mengepung kampung, menderu siang dan malam, mengorek isi bumi untuk meraup timah. Kini, satu-satunya yang tertinggal, tempatku melamunkan nasib ini, teronggok seperti fosil dinosaurus.

Kapal keruk pernah menjadi pendendangirama hidup kami, bagian penting dalam budaya kami. Karena semua lelaki angkatan kerja bekerja bergantian selama 24 jam. Tak kan pernah kulupa, setiap pukul dua pagi, truk pengangkut buruh kapal keruk menjemput ayahku. Kudengar suara klakson. Ayah keluar rumah di pagi buta itu sambil menenteng rantang bekal makanan dari ibu.

Jika melihatku terbangun, ayah kembali untuk mengusap rambutku dan tersenyum. Dari dalam rumah kudengar ayah mengucapkan salam pada kawan-kawan kerjanya yang telah berdesakan di dalam bak truk. Kawan-kawan kerjanya itu adalah ayah-ayah dari kawan-kawanku. Lalu kudengar gemerincing besi beradu, kemudian truk menggerung meninggalkan rumah.

Sering aku minta dibangunkan jika ayah berangkat kerja pukul dua pagi itu. Karena aku ingin melihat ayah dengan seragam mekaniknya yang penuh wibawa, yang ada test pen di sakunya, yang berbau sangat lelaki. Ayah melangkah tangkas sambil menyandang ransel berisi tang, ragum, dan sekeluarga kunci Inggris. Kunci-kunci baja putih itu bila dibariskan akan membentuk segitiga yang sangat hebat. Kubayangkan, tugas-tugas yang berat diemban oleh bapak kunci paling besar, dan tugas-tugas sepele adalah bagian anak-anaknya. Aku senang melihat ayah melompat ke dalam bak truk. Dia, pria yang gagah itu, penguasa sembilan kunci Inggris anak-beranak itu, adalah ayahku, begitu kata hatiku. Lalu aku tidur lagi, sambil tersenyum.

Sepuluh tahun telah hangus sejak terakhir aku melamun di rongsokan kapal keruk itu. Jam besar di tengah kota tepat menunjukkan pukul 5 saat kutinggalkan kampungku dulu. Musim kemarau waktu itu. Sekarang, ketika aku kembali pulang, jam besar itu masih saja menunjukkan waktu pukul 5, dan musim masih kemarau.

“Mau ke mana kau, Bujang?” sapa penjual tebu waktu aku melintas dekat patung pejuang 45. Sepuluh tahun telah lewat, apa dia tak punya pertanyaan lain? Malas aku menjawabnya. Lagi pula aku tengah terpana menatap propaganda para politisi di papan reklame itu. Silih berganti mereka telah merajai papan itu. Periode demi periode mereka telah berkuasa. Silih berganti mereka telah berkoar soal perubahan-perubahan yang akan mereka buat, namun jam besar yang berada di depan hidung mereka telah rusak selama 56 tahun, tetap rusak selama 56 tahun, dan para pejuang 45, tetap mengacungkan tinjunya pada mereka.

“Mau ke pinggir sungai,” jawabku dalam hati. Aku melenggang pergi. Tapi sungguh merana. Sampai di sana, yang kutemui hanya semilir angin dan riak-riak halus gelombang. Bangkai kapal keruk itu telah lenyap, macam telah disulap seorang illusionist. Aku kembali. Pada penjual tebu aku bertanya.

“Pak Cik, ke mana perginya kapal keruk itu?”

“Sudah dipotong-potong menjadi besi kiloan,” jawabnya tak acuh sambil mengunyah tebunya yang tak laku. Aku terhenyak. Sirna sudah kenangan manis itu, lenyap sudah kebanggaan masa kecil itu, hapus sudah kebudayaan itu. Di kampung kami, arkeologi industri telah dilanda tsunami. Saat itu, rasanya ingin aku memanjat patung itu dan bergabung dengan pejuang 45. Namun tak kulakukan, karena aku sudah terlambat untuk pulang, sudah sore. Kulihat jam besar itu, sudah pukul 5.

Musim masih kemarau saat aku kembali ke Jakarta dan hidup berlangsung seperti biasa. Suatu malam aku terjaga. Pukul dua pagi waktu itu. Lalu seakan terdengar suara klakson mobil truk, dan menguar suara orang-orang mengucap salam. Kemudian kudengar suara gemerincing besi saling beradu. Kulihat ke luar jendela, seorang lelaki berkelebat dengan seragam mekaniknya yang hebat, lalu truk menggerung, pelan-pelan meninggalkan rumah. Aku termangu. Kerinduanku pada ayah semakin tak tertanggungkan.

Vancouver, Mei 2010

Diadaptasi dari salah satu bab dalam novel Padang Bulan dan Kisah-Kisah dari Negeri Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata

About these ads

Written by tukang kliping

25 Juli 2010 at 11:44

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

51 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sejujurnya ( benar – benar jujur ), saya sangat jenuh membaca cerpen ini. Saya nyaris tidak mau melanjutkan membaca ketika sampai pada ” baiklah mari bicara soal museum”. Saya bukan seorang hebat seperti pembaca lainnya. Tetapi saya percaya bahwa cerpen adalah produk rasa yang jika tampil di media iyu berarti menjadi konsumsi rasa pembaca. Dan apa yang saya konsumsi di kompas minggu ini ( mudah – mudahan hanya saya ) bukan sebyah santapan yang memuaskan.Jelas ada yg berpendapat kalau cerpen ini bagus cerpen ini dan tidak perlu membahas kenapa anda merasa ini bagus dan itu tidak? Biarkan rasa yang bicara. Saya hanya mengatakan bahwa cerpen ini agak, cukup, lumayan membosankan. Maaf, tapi yakinlah! cerpenku akan lebih membosankan lagi! hehehe….

    Sang Pedang

    25 Juli 2010 at 12:04

  2. ya, setiap karya memang patut dikritik. agar suatu saat kita bisa membuat karya yang lebih baik lagi. Semangat literasi…!!!
    kapan saya bisa masuk kompas…?

    Aray Pujangga

    25 Juli 2010 at 15:14

    • mbak jenar kelihatanya saya mau belajar banyak untuk menulis denga mbak gimana canya ya?????itu kalau mbak mau saya generasi penerus nya,,haha

      andi aja

      2 November 2010 at 15:24

  3. saya agak kurang setuju dengan pendapat pertama, sang pedang.
    untuk sebuah cerpen, karya ini sangat sederhana (yang mungkinm membuat anda menjadi bosan untuk membacanya) namun sebenarnya di balik itu cerpen ini memiliki pesan pesan yang yang sulit untuk dipahami secara datar. “complicated” kata orang.
    ada keresahan hati dan kekecewaan bagi orang orang penambang timah nan tak bisa diungkapkan, yang bagi masyarakat kelas bawah merupakan ungkapan perasaan, ungkapan kekecewaan terhadap negeri yang walaupun sudah merdeka berpuluh puluh tahun yang lalu, namun para penguasa tetap dengan janji janji belaka, tanpa ada sebuah perubahan yang mendasar yang dilakukan untuk negeri ini.segalanya masih terasa sama.
    indahnya cerpen ini, sang penulis tidak secara langsung dan frontal mengatakannya sebagai sebuah kritikan, melainkan dengan bahasa yang sangat santun dan bijak.
    terimaksih ruangnya.

    surey

    25 Juli 2010 at 16:23

    • setuju dengan anda, cerpen ini asyik, menyenangkan jika membaca sebuah karya dapat menambah wawasan, bukan sekedar merasa dekat dengan peristiwa di dalamnya.

      Kiki Sulistyo

      25 Juli 2010 at 19:14

    • saya setuju dengan pendapat anda, erpen ini cukup memperluas wawasan.hanya memang perlu diketahui bahwa gaya bahasa sang penulis sendiri memang cukup rumit, seperti yang tertuang dalam novelnya. jadi perlu pemahaman lebih sekadar asal baca saja.

      Krisma Budianto Irawan

      11 Agustus 2010 at 15:38

  4. Saat mengetahui Andrea Hirata menulis cerpen untuk Kompas, saya cukup terkejut. Dan, tentu saja senang. Saya membaca secara lengkap cerpen ini, setelah banyak sekali komen-komen yang berseliweran di FB pagi ini.

    Bahkan, seorang penyair (saya tak perlu sebut namanya di sini), mengatakan bahwa kalimat pembuka dalam cerpen ini membuat ia ILFEEL, dan menghentikan membaca.

    Lalu, seseorang yang lain, mengatakan bahwa cerpen Bung Andrea, sangat bagus. Dan, ia bisa nikmati dengan asyik.

    Saya, mungkin “kecewa” karena saya berharap Andrea menulis cerpen bukan mengembangkan bagian dari Bab Novelnya. Karena dengan demikian, cerpen ini kehilangan ruh-nya. Menjadi membosankan, karena kita sudah tahu sebagian dari novelnya yang terbaru dan di Laskar Pelangi. Apakah tidak ada tema lain yang bisa digarap oleh Bung Andrea? Ya, mungkin saja.

    Saya menduga, cerpen ini dibuat dan dimuat dalam rangka, promosi novel terbaru Bung Andrea (hehehe… ini penilaian subjektif saya).

    Bamby Cahyadi

    25 Juli 2010 at 21:32

  5. ahaha…, jadi seneng karena punya teman yang ternyata juga merasakan kejenuhan ketika membaca cerpen andrea hirata ini….

    saya kira “kecurigaan” bamby tidak berlebihan, karena pada kenyataannya saya juga beranggapan demikian. aneh rasanya, kok ada yang bilang cerpen ini bagus… uhkg…

    hehehe…, saya curiga, jangan-jangan yang bilang cerpen ini bagus adalah bagian dari tim promosi novel andrea…?? hehehe….

    apan

    25 Juli 2010 at 22:23

  6. Gaya penulisannya khas sekali, semacam trademark andrea hirata, love it or hate it.

    kakilangit

    25 Juli 2010 at 22:27

    • saya termasuk yang membencinya, disamping beberapa isu berat yang coba diangkat dengan gaya ringan, Andrea masih over deskriptif dan tak menghibur (Ahmad Tohari masih jauh lebih baik), penceritaannya ngalor-ngidul cenderung membosankan, temanya masih itu-itu saja; seperti terjebak di belitong.

      paijo

      27 Juli 2010 at 16:35

  7. Anak-anak yang tak sengaja menunjuk tombak itu harus mengisap telunjuknya agar tidak kualat….wah kok mirip mitos daerah saya ya…
    mm…sepertinya…hanya menurut saya: konfliknya kurang tergali…hanya menurut saya

    ma'rufah

    26 Juli 2010 at 11:15

  8. ealah…ternyata temen2 jenuh baca ya….wah cukup beralasan karena saya juga merasakannya..kalo ada yang bilang cerpennya bagus trus dikira tim promosi…kalo menurut saya sih husnudzon (berprasangka baik) kompas tetap profesional…daripada hati jadi penuh prasangka mending yuk bikin karya…@ aray pujangga ayo jangan patah arang…@ A “saya menunggu koment” lalu @ Bamby..maaf ya jika salah berkata

    ma'rufah

    26 Juli 2010 at 11:21

    • Terima kasih, sudah saya terima. Saya baca dulu ya.

      A

      26 Juli 2010 at 13:05

    • @Ma’rufah:Insyaallah saya tetap semangat bergelut dengan kata… saya harus banyak baca dulu biar karya saya layak untuk nongol di kompas… saya hanya penulis amatiran… he

      aray pujangga

      26 Juli 2010 at 17:50

  9. KEMARAU YANG PANJANG BERI AKU SETETES

    Makanan Organik

    26 Juli 2010 at 12:58

  10. @sang pedang
    Aq udah klik di linknya, wow ternyata cerpennya keren2 lho. Udah masuk media lum om? kasian klo cuma di blog aja. Kayaknya lbh layak msk Kompas deh. Mt kenal yah.

    Vita

    26 Juli 2010 at 21:32

    • inilah ini sang pengarang yang dilumuri hoki itu…nama andrea sudah terlebel menjual…tapi, seperti novel-novelnya, emang punya ciri khas, meleak-leak yg bisa dibilang lenjeh, bro.

      hoebartz

      27 Juli 2010 at 16:04

  11. ada yang suka cerpen karna gaya bahasa, cerita yang dibawanya, pesan didlamnya…ah msih bnyak lagi trnyata..

    lani

    27 Juli 2010 at 16:55

  12. Mas Bamby, promosi novel dengan mempublikasikan satu atau sebagian chapter di koran besar itu sudah biasa di USA.

    Novel baru Nicole Krauss, The Great House, satu chapternya dipublikasikan di The New Yorker Magz dengan judul The Painter *kalo gak salah lho Mas*

    Hehehe, tapi jujur saja sih, kalau dibandingkan Nicole-Andrea, Nicole memberikan bagian yang menarik di Koran.. Andrea bener kata Mas, kehilangan ke”cerpen”annya. Hehe

    NEP

    28 Juli 2010 at 11:00

  13. memang sedikit membosankan sih, tapi ya, karena udah bisa tembus koran nasional sebesar kompas, aku jadi penasaran juga buat baca sampai habis.
    tapi ya gitu, kalo menurutku sedikit membosankan. mungkin memang pesan yang disampaikan dalam cerpen ini sangat “dalam” dan sarat makna. tapi tetap aja,kita sedang menulis cerpen bukan makalah. semulia apapu cerpen yang ditulis, kalo kita bacanya aja ga enjoy, trus apa bedanya makalah dengan cerpen?

    merdeka

    28 Juli 2010 at 19:50

  14. style novelnya masih terasa.tapi ini soal gaya…soal selera…soal makna…aku tak bisa menyalahkanmu bung Andrea…sukses untuk novel-novelnya..

    fakhira akasia

    28 Juli 2010 at 21:10

  15. artikelnya panjanga banget mas,,,,,,tks infonya

    purno

    29 Juli 2010 at 01:46

  16. saya tdk membaca satu pun novel Andrea Hirata. klo baca cerpennya ini, saya suka dgn cara bertutur ceritanya… mengalir sampai jauuuh…hehehe… mampir donk ke blog baru sayaaa… :)ada cerita dari cer-Penis…

    BlackWhiteGray

    29 Juli 2010 at 05:23

  17. wah, klo sudah bicara bang andrea, jd minder ngomennya…hehe
    tapi, kok ya kober2e ya bang andrea nulis cerpen?
    ntar para cerpenis malah jadi males nulis lho klo lahan mereka (termasuk eko)diisi anda…
    buat para kawan cerpenis (terutama bang bamby yg aktif diskusi di sini) gantian alih profesi jadi novelis yuk…hehe

    Eko Wahyudi Sutardjo

    29 Juli 2010 at 12:29

  18. hebat gayanya. tak apa2 saduran. Sekali dua kali dlm setahun Kompas memuat. Aplagi jika itu brasal dr karya sendiri.
    saya juga tidak prnah baca novel Andrea Hirata,lebih suka nonton langsung Laskar Pelangi.Lebih gampang ditangkap ceritanya jika lewat media audio visual

    Ran Pasnim

    29 Juli 2010 at 20:17

  19. sepi, setelah membaca cerpen ini, entah kenapa itu yang pertama kali terasa… sepinya kurasakan, tapi peristiwanya entah.
    ah … sedang menunggu lagi cerpen yang punya peristiwa dan tidak hanya bertutur tentang rentetan kata indah dalam bangunan suasana. semoga minggu depan!

    gide buono

    31 Juli 2010 at 14:13

  20. kabarnya novel padang bulan udah ada bajakannya sblum terbit.
    menyedihkan bgt

    titis arti

    1 Agustus 2010 at 09:13

  21. Terlalu deskriptif…jadi kayak baca buku sejarah T_T, tapi gpp juga sih,jd dapet ilmu juga dari situ^^

    Aiwa

    1 Agustus 2010 at 13:44

  22. menurut rasa saya, cerpen ini sangat menjemukan. ini bukan cerpen.

    M. Khozin

    2 Agustus 2010 at 12:54

  23. maaf, semoga saya yang kurang bisa mencerna cerpen ini, atau mungkin karena saya kurang bisa menyerapi kisahnya. Setiap kritikkan adalah dalam rangka mambangun kualitas. Terus terang, saya baru membaca separoh sudah males melanjutkan,,, cerpen ini sangat menjenuhkan sekali,,,, alangkah baiknya jika memakai bahasa sederhana selama tidak menghilangkan nilai sastra dan kekuatan cerita. Karena dibaca orang banyak,,,,

    Muhajirin

    2 Agustus 2010 at 15:14

  24. yak, benar, agak membosankan. bs jd kompas sebenarny enggan ngemuat, tp krn si hirata ini udh cukup pny nama, ya dimuatlah ini cerpen, hehehe. tp bagaimanapun, sebuah tulisan apapun patut kt apresiasi. mau jelek, bagus, setengah2, semua patut dihargai.

    Gombal's

    3 Agustus 2010 at 13:39

  25. terlepas dari seorang Andrea Hirata lengkap dg nama besarnya, aku seneng ma cerpen ini … seneng dg rasa sepi dan kangennya….

    ina

    6 Agustus 2010 at 12:06

  26. numpang nanya ya mas,.. bagaimana ya cara kita mengirim cerpen ke redaksi kompas ? thanx before

    xpanzer

    8 Agustus 2010 at 17:31

    • Ya.., saya juga mau tanya tuch..
      mau saingi kepoluleran mas andrea Hirata..

      Soal Cerpennya.., saya rasa mas andrea tak bisa lepas dari Novelnya Laspel/ selalu mengexslpor sesuatu yang sudah d kenal orang lain. Bosan.., mgkn..
      kompas hanya melihat nama besar sepertinya.
      tapi tak apa dengan begitu kita bisa tau kualitas seorang penulis.

      Iwansteep

      8 September 2010 at 13:50

  27. seluruh novelnya telah saya nikmati karena saya sangat suka dengan gaya dan tuturan bahasanya sangat menyenangkan untuk dibaca. membaca awal cerpen ini lngsung membawa saya kembali ke suasana dan alam novel terakhirnya. saya bukan termasuk tim marketingnya loh. hehehe……
    dari semua pendapat teman2 diatas, jika gaya bahasa, model cerita, deskripsinya bahkan kalimat pembukanya yang dipersoalkan itu semata-mata hanya masalah kesenangan kita yang membacanya. tetapi kalo saya sendiri, saya sangat suka dengan cerpen ini karena latar/setting ceritanya sama persis dengan keadaan dan suasana kampung saya. tentunya bukan pulau jawa…

    ronald

    10 Agustus 2010 at 23:02

  28. kirain tentang negeri aceh….

    ceritanya mantap….

    bisyri

    16 Agustus 2010 at 19:00

  29. memang butuh usaha keras untuk dapat membuat cerpen yang baik. gagasannya oke, tetapi cerpen toh bukan cuma soal gagasan saja, kan? narasinya memang menjemukan,sok menggurui sekali, cocoknya si Hirata ini memang jadi guru SD di Belitong sana, daripada jadi novelis!
    aku tak pernah berminat baca novelnya atau nonton film adaptasinya, sebab membaca penggal kalimat pertama cerpen ini saja sudah membuatku mual!!! lebih baik, koran Kompas minggu edisi ini jadikan bungkus kacang sajalah!

    Aureliano

    29 Agustus 2010 at 17:02

  30. pliezz!!!
    gag da eank lbh singkat n odat tha cerpe,na???
    gy btuh bgt ney cerpen yg singkat n pdet!!!

    rima

    30 Agustus 2010 at 16:10

  31. [...] KEMARAU Di Copy Dari Blog CerpenKompas. [...]

    KEMARAU « Indrapoe88's Blog

    17 September 2010 at 10:02

  32. Bagi orang-orang yang mengenal arti sebuah cerpen Ia pasti akan terhanyut oleh pesan dan kesan yang telah disampaikan pengarang.

    Aku hanya memberikan sedikit masukan.Sebelumnya Aku mohon maaf atas komentar yang nanti aku sampaikan. Aku harap jika Anda menulis sebuah cerpen didalamnya harus ada unsur Human Interest agar para pembaca tidak jenuh jika membacanya. Menurutku cerpen ini terlalu monoton, sangat membosankan dan terlalu panjang serta amanat yang disampaikan tidak terlalu jelas.

    Kuswanto

    19 September 2010 at 20:10

  33. skrang bkan musim kemarau tp musing menghujan,,,,

    MELILEA

    27 September 2010 at 09:37

  34. Menurut saya cerpen ini sungguh sederhana dan menarik.

    NAMUN,

    Saat berhubungan dengan seorang Andrea Hirata, saya pasti jenuh membaca pembahasannya yang menurut saya hanya itu-itu saja

    Ario Sasongko

    21 November 2010 at 02:57

  35. penuturan yang segar. menukik dalam namun santai.

    abdi

    2 Januari 2011 at 22:47

  36. cerpen ini bagus. salah satu kekurangannya mungkin, seperti komentar bang bamby, ide nya bukan ide baru. Mengenai gaya bercerita saya suka. Tapi saya lebih suka novelnya, lebih seru.

    arizafa

    6 Januari 2011 at 19:33

  37. cerpen yang lucu dan menarik.. :)

    Tiara

    28 Januari 2011 at 17:14

    • itu bukan lucu tapi miris. untungnya dia nulis bukan keadaan bonbin jaman sekarang. lebih tragis

      silla

      29 Januari 2011 at 06:34

  38. geya penuturannya membosankan

    silla

    29 Januari 2011 at 06:32

  39. cerpen yg membuat saya lupa dgn keadaan sekitar,saya begitu terhanyut…

    al_BKT

    27 April 2011 at 15:20

  40. Biarpun menjemukam atau gimana pun, tapi KALIAN BISA GAK BIKIN KAYAK BEGINI? BISA GAK TEMBUS KE CERPEN KOMPAS?????

    Belom bisa apa-apa jangan suka komentar bos, yang udah pada kawakan dan jago aja pada gak komentar kalo gak disuruh.

    Penikmatsastra

    1 Oktober 2011 at 19:33

    • Menurutku cerpen ini bagus, sangat berkelas, bagi yg berkomentar cerpen ini tak bagus juga monggo2 aja. ibarat makanan, selera masing2 orang berbeda-beda. Salam.

      Hajar Dewe

      11 Oktober 2011 at 22:28

  41. I was wondering if you ever considered changing the page layout of your blog?

    Its very well written; I love what youve got to say.
    But maybe you could a little more in the way of content so people could
    connect with it better. Youve got an awful lot of text for only having one or
    two pictures. Maybe you could space it out better?


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.568 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: