Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara

with 35 comments


Dewa Made Dinaya sudah menduga di mana ia akan berakhir. Di tempat ini dengan posisi seperti ini.

Inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapapun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala dunia, ia tahu semua itu akan sia-sia belaka. Ketika kedua orangtuanya memintanya untuk meneruskan kuliahnya, Dinaya menolak mentah-mentah anjuran itu.

Dinaya merasa tidak penting baginya untuk melanjutkan kuliah. Perkuliahan akan membuka pikirannya dan membuatnya mengembara ke tempat-tempat yang jauh. Buat apa? Toh pada akhirnya ia akan kembali ke tempat di mana ia berasal. Di sini, dengan posisi seperti ini.

Dinaya menyeka peluh yang membasahi pipinya. Tubuhnya sudah terasa begitu lengket. Kedua kakinya pegal luar biasa. Mukanya tentu saja terlihat sangat berantakan. Dinaya tidak ingat lagi berapa banyak pekerjaan yang sudah dikerjakannya sejak subuh tadi. Begitu satu pekerjaan selesai, pekerjaan lainnya menunggu. Begitu seterusnya seolah tidak ada habisnya.

Dinaya belum sempat mendudukkan pantatnya barang sejenak pun sejak tadi pagi. Pekerjaan dapur dan tetek bengek rumah tangga ini seolah memutarnya seperti gasing yang tidak tahu kapan akan berhenti.

Suaminya, Gusti Nyoman Ghana, tampaknya baru bangun. Dinaya mendengar suara gayung menciduk air di kamar mandi. Ghana pasti sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sebentar lagi, ia akan mengenakan seragam coklatnya dan berangkat ke Denpasar.

Gusti Nyoman seorang pegawai negeri. Pekerjaan yang selalu membuat suaminya itu bisa membusungkan dada dan menegakkan bahu. Sebaliknya bagi Dinaya, pekerjaan tidak lebih hanya kulit. Yang penting adalah bagaimana orang itu menjalankan pekerjaannya.

Satu hal yang tidak dimengerti Dinaya adalah suaminya tidak pernah betul-betul mengajaknya bicara. Ghana memang sering berkata-kata, namun kata-kata itu hanya membutuhkan pendengar, bukan lawan bicara. Ghana lebih sering terlihat seperti bermonolog, berbicara dan kemudian memberikan komentar sendiri atas pembicaraannya. Di manakah posisi Dinaya pada saat itu, mungkin ia hanya menjadi cermin yang memantulkan bayangan suaminya.

Ghana juga sering terlihat terlalu sibuk dengan kegemarannya sendiri. Ghana betah seharian dengan permainan play station-nya dan tidak memedulikan apa pun. Secangkir kopi dan sepiring pisang goreng selalu menemaninya mengerjakan kegemarannya itu. Apakah laki-laki ini betul-betul membutuhkan seorang istri?

Dinaya tidak ingat kapan terakhir ia betul-betul bicara dengan suaminya. Apakah Ghana mewakili kemiripan sifat yang dimiliki oleh sebagian besar orang di kampung mereka? Lebih suka menutup mulutnya rapat-rapat dan pelit mengucapkan kata-kata. Bukankah bicara bisa memekarkan pikiranmu?

Ah sudahlah, tidak ada gunanya ia mengeluh tentang laki-laki yang sudah dipilihnya itu. Laki-laki yang dipilihkan Biyang untuknya dan Dinaya menerimanya ketika ia merasa putus asa untuk menemukan seorang kekasih pada saat batang usianya semakin tinggi. Pernikahan ini mungkin hanya menjadi tempat berlindung baginya karena ia takut disebut perawan tua. Dulu, Dinaya tidak pernah mencintai Ghana. Ternyata makin hari ia makin membenci laki-laki itu. Masih layakkah apa yang sedang dijalaninya ini disebut sebagai sebuah pernikahan?

Dinaya menyesal tidak pernah memberi ruang pada perasaannya sendiri. Seharusnya ia biarkan perasaan itu memilih laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya. Perasaan cinta ternyata hanya tumbuh sekali dalam hidupnya. Cinta itu untuk teman kuliahnya di Malang. Seorang laki-laki Jawa. Cinta itu terpaksa ia telan bulat-bulat ke dalam kerongkongan dan membiarkannya tersekap di ruang sempit di dalam ususnya.

Biyang dan Aji tidak pernah bisa menerima laki-laki Jawa menjadi suami Dinaya. Mereka tidak dapat menerima segala kerumitan yang mungkin terjadi bila ia menikahi orang yang begitu berbeda latar belakangnya. Ratusan pertanyaan pun bermunculan di benak mereka dan jawaban dari ratusan pertanyaan itu adalah tidak mungkin, tidak mungkin, dan tidak mungkin sebanyak seratus kali. Dinaya seolah dibenturkan dengan dinding yang mahatebal.

Namun, di balik itu, bagi Dinaya, kedua orangtuanya selalu memiliki sikap yang mendua. Mereka begitu terobsesi menambahkan huruf SH di belakang namanya seperti anak kecil yang begitu menginginkan mainan kegemarannya. Biyang dan Aji terus mendorongnya rajin belajar dan meraih gelar sarjana hukum. Waktu itu, Dinaya mengira kedua orangtuanya memang sungguh-sungguh berharap ia akan menjadi perempuan yang intelek. Kini ia tahu, apa yang Biyang dan Aji lakukan tidak semata-mata demi gengsi bahwa anak-anak mereka adalah orang yang berpendidikan. Mereka sendiri tidak siap menerima anak-anaknya yang berubah karena pendidikan yang telah mereka pelajari.

Biyang dan Aji sangat menginginkan gelar itu di belakang nama Dinaya, namun mereka tidak ingin ia lebih pintar dari yang mereka kenal dahulu. Dinaya yang masih bocah dan mengenakan seragam sekolah dasarnya. Pada saat itu Biyang dan Aji sering memarahinya karena belum bisa menulis dan membaca. Mereka selalu mengenang Dinaya sebagai anak mereka yang itu. Tidakkah mereka tahu bahwa pengetahuannya sudah jauh melesat ke angkasa? Apakah gelar dapat dipisahkan dengan ilmu yang dimilikinya?

Tepat seperti dugaannya. Dinaya hanya bisa pasrah ketika keluarganya menuntut ia membuang semua ilmu yang dimilikinya ke tempat sampah. Kesarjanaan itu kata mereka hanya membuat Dinaya menjadi perempuan yang tinggi hati. Ia direnggut dari tempat yang dicintainya dan dipaksa menempati ruang sempit yang ia rasakan bagaikan penjara. Di sinilah segala kekuatannya dilucuti sehingga segala bentuk pikiran yang pernah dimilikinya dipaksa hanya bisa meringkuk di sudut.

Dinaya tahu bahwa suatu saat pikiran itu akan sekarat dan tewas. Dan semua orang di sekelilingnya malah bersorak dengan segala derita yang dialaminya. Seolah-olah Dinaya bukan seorang anak manusia. Dinaya selalu ingin bertanya-tanya dalam hati mengapa laki-laki selalu mendapat pembelaan yang berlebih-lebih?

”Suamimu memintamu untuk berhenti bekerja, Dinaya. Dia bilang begitu pada Biyang.”

”Kenapa dia tidak bicara langsung pada tiang? Bukankah dia masih punya mulut.”

”Dia takut kamu menjadi marah karena ia tahu kamu perempuan yang keras.”

”Apakah dia memang seorang laki-laki?”

”Kenapa kamu mengatai-ngatai suamimu sendiri?”

”Suami pilihan Biyang tepatnya.”

”Kenapa kamu masih saja suka membangkang seperti dulu. Apa umur belum juga mendewasakanmu?”

”Menurut tiang Biyang-lah yang belum dewasa di umur Biyang yang sekarang. Tiang amat mencintai pekerjaan tiang sebagai dosen. Mengapa tiang harus berhenti? Bukankah tiang bisa membantunya secara ekonomi?”

”Suamimu merasa kau lebih mencintai pekerjaanmu daripada dirinya. Dia cemburu pada pekerjaanmu.”

”Laki-laki kurang kerjaan.”

”Belajarlah menghargai suamimu!”

”Bli Gusti yang tidak pernah menghargaiku sebagai perempuan. Mengapa aku tidak boleh mengembarakan pikiranku? Apa yang dia inginkan dari aku?”

”Dia ingin kamu lebih banyak di rumah untuk menemaninya, bukannya sibuk dengan urusanmu di kampus. Lagi pula pekerjaan rumah jadi terbengkalai. Urusan mebanten saja harus minta tolong orang lain. Bukankah seorang istri yang seharusnya mengerjakan semua itu?”

Dinaya hanya mendesah panjang. Ia sama sekali tidak setuju dengan kalimat terakhir Biyang. Sebuah keluarga yang harus mengerjakan semuanya. Sebuah keluarga terdiri dari istri dan suami. Mengapa semua orang tidak pernah berubah? Apakah ketika seorang perempuan dilahirkan ke dunia ia telah terlahir sebagai manusia atau hanya sebuah barang yang kebetulan bernyawa?

”Bagaimana kalau tiang menolak?”

”Biyang dan seluruh keluarga tidak akan menjadi keluargamu lagi. Biyang tidak mau anak Biyang menjadi tinggi hati karena pendidikannya.”

”Bukankah Biyang adalah keluarga tiang. Mengapa Biyang malah membela Bli Gusti?”

”Karena kamu sudah menyimpang dari kewajibanmu sebagai istri.”

Dinaya meradang. Namun ditekannya kuat-kuat segala amarah jauh di dasar hatinya. Bahkan untuk marah saja Dinaya tahu ia tidak memiliki tempat. Biyang yang dikenalnya sejak bocah tidak pernah berubah. Seorang ibu yang terus-menerus mengkritik anak perempuannya. Dinaya selalu merasa menjadi anak yang penuh kesalahan di hadapan Biyang.

Sejak kecil Biyang selalu mengata-ngatai Dinaya dengan kata-kata yang menghancurkan harga dirinya. Perempuan kok bangun siang. Makan kok belepotan seperti babi. Itu badan apa gentong air. Mana ada sih laki-laki yang mau melihat tampangmu. Sekali-kali ke salon dong biar tidak dikira babu. Di hadapan Biyang, Dinaya merasa menjadi manusia yang paling gagal.

Dinaya tahu ini bukan kesalahan Biyang semata-mata. Barangkali seluruh cakrawala pikiran Biyang dipenuhi oleh kepercayaan bahwa sumber kebahagiaan perempuan adalah apabila ia memuaskan kebutuhan laki-laki. Biyang tidak ingin putrinya gagal memenuhi kewajiban itu. Mungkin itulah satu-satunya yang dimengerti Biyang mengenai peranan perempuan. Karena Biyang juga pernah merasakan semua yang Dinaya rasakan.

Bukankah Biyang lahir dan dibesarkan dengan luka batin yang sama di lubuk hatinya? Sebagai perempuan ia selalu dipandang sebagai barang, sebagai obyek. Yang menjadi berharga sejauh mana ia bisa memuaskan laki-laki. Hanya saja Biyang tidak pernah menyadarinya. Ia terus saja menuntut Dinaya untuk mengamini nilai-nilai yang dipercaya oleh Biyang. Hanya saja bagi Dinaya, ia tidak sudi mengamini nilai-nilai itu. Sebagai manusia ia merasa berhak diperlakukan sama dengan laki-laki.

”Baiklah tiang menuruti Biyang sekarang, tapi bukan karena tiang merasa Biyang benar. Tiang akan berhenti bekerja, tapi jangan harap tiang akan menghormati Bli Gusti. Pernikahan ini memang masih ada, tapi bagi tiang ini bukan pernikahan tiang. Tiang sudah mati dalam pernikahan ini. Yang tinggal hanya raga tiang.”

Wajah Biyang terlihat memerah. Dengusan napasnya terdengar sangat keras. Dinaya hanya memandangnya dengan mata tenang. Dinaya tahu hanya ketenangannya yang membuat ia menjadi pemenang.

Hari-hari berikutnya Dinaya memusatkan perhatiannya pada setumpuk pekerjaan rumah tangga yang harus dikerjakannya. Dinaya bangun subuh dan mulai menyiapkan masakan di dapur dan menyapu halaman rumah yang penuh dengan dedaunan layu. Tepat jam tujuh pagi ia menyiapkan kopi untuk suaminya. Ghana terlihat menyeruput kopinya dengan begitu nikmat. Tidak pernah ada senyum atau sapa yang diperlihatkan Dinaya untuk suaminya, namun Ghana kelihatannya tenang-tenang saja. Dia sibuk mengoceh mengenai pekerjaannya sendiri. Dinaya semakin sadar, bagi suaminya ia bukanlah seorang istri, namun tak lebih dari perhiasan rumahnya saja. Perempuan yang akan mengabulkan seluruh mimpi-mimpinya akan kesempurnaan dan kekuasaan sebagai laki-laki.

Dinaya selalu mengingat dirinya dengan posisi yang sama. Ia dengan mata kosong memandang ke luar dari jendela dapur. Ia merasa terkurung dalam penjara yang disediakan untuk perempuan. Seolah dapur menjadi satu-satunya takdir bagi perempuan sekalipun memasak bukan kegemarannya. Bukankah di luar sana ada begitu banyak macam warna-warni dunia yang bisa dicoba oleh perempuan.

Namun ia dipaksa berada di tempat yang tidak diinginkannya. Dan ia pun harus menyediakan waktunya dari subuh hingga malam hari untuk mengosongkan seluruh energi yang dimilikinya. Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan menghampakan dia sehingga tidak akan pernah ada ruang untuk berpikir. Mungkinkah dunia begitu takut pada pikiran perempuan? Betulkah pikiran perempuan akan menjelma bom waktu yang akan meledakkan dunia?

Catatan:
biyang: ibu
aji: ayah
tiang: saya
bli: kakak/mas

About these ads

Written by tukang kliping

30 Mei 2010 at 11:22

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

35 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. bagus sekali

    cerpenmisfah

    30 Mei 2010 at 11:33

  2. cerpen yang perempuan banget.

    hoebartz

    30 Mei 2010 at 11:39

  3. tema cerpennya kok selalu tentang keterpaksaan perempuan? kan sekarang perempuan sudah mempunyai kebebasan untuk memilih jalan kehidupan mana yang akan dijalani. perempuan jangan selalu terkurung dengan cerita cerita yang selalu terpaksa dengan gender. saya agak tidak suka dengan ceritanya, walau cara penceritaannya bagus dan mengalir.

    surey

    30 Mei 2010 at 12:57

  4. saya kurang suka dengan temanya. kurang seksi aja, jaman sekarang masih ada perempuan terpaksa? apakah siti nurbaya masih hidup?

    surey

    30 Mei 2010 at 13:05

  5. Ini adalah sebuah cerpen feminisme.

    Anef

    30 Mei 2010 at 14:52

  6. Ini cerpen dengan tema klise dan juga dengan ending yang sangat biasa-biasa saja. Maaf, ini bukan cerpen feminisme. Memang dalam cerpen ini Ni Komang Ariani bercerita tentang perempuan yang secara politis hanya menjadi ibu rumah tangga yang terkungkung dalam sebuah ikatan yang namanya perkawinan dan keluarga. Tetapi, apakah cerpen ini hanya cukup menjadi fakta, bahwa masih ada perempuan yang berpikir seperti sang tokoh? Harusnya, Ni Komang bisa membuat ending cerpen ini menjadi lebih dahsyat dari sekadar “Terpenjara.”

    Bamby Cahyadi

    30 Mei 2010 at 16:03

  7. klise nggak klise, cerpen yg nembus kompas – pada akhirnya faktor hoki juga. Ibarat kesebelasan bola, teknik bagus, pemain handal-handal, tapi tak satu gol pun bisa ditetaskan. Bola bisa melenceng sekian senti saja dari mistar. Ini kan faktor keberuntungan, kikikikkkk….

    hoebartz

    30 Mei 2010 at 18:25

  8. Cerpen yang menarik. Sebagai anak, memang kita harus menghargai orang tua.tapi kan tidak selamanya orang tua benar. Contoh: orang tua menyuruh anak korupsi karena orang tua terlilit utang, bagaimana?

    Inilah susahnya jika orang tua merasa benar terus. Anak disekolahkan tinggi-tinggi tapi buntutnya si anak harus mengikuti terus pola pikir yang kolot. Gelar sarjana hanya untuk kebanggaan atau gengsi. Dalam memilih pekerjaan/profesi ditentukan, jodoh dipilihkan orang tua atau keluarga lain.

    Tapi pola pikir kolot bisa juga terjadi karena pengaruh orang lain, yang kelihatannya bagus,tapi si orang tua tidak sadar kalau itu hanya kelihatannya bagus namun ada rencana busuk di dalamnya (misalnya agar si anak tidak bisa bahagia,biar orang itu yg menikmati warisan harta orang tua si anak) tapi si anak menyadari hal ini, sayang, orang tua sudah teracuni oleh orang itu.

    Namun mudah-mudahan tak semua orang tua seperti itu. Memberi kebebasan kepada anaknya, terserah mau jadi apa, asal positif. Mau jadi pelawak kek, mau jadi hansip kek, mau jadi tukang ojek kek,mau jadi cerpenis kek, kalau itu cita-citanya, wajib didukung, kecuali kalau anak mau jadi pelacur, teroris atau hal negatif lainnya wajar orang tua tak mendukung wajib mencegah dan memberi solusi.

    Btw: mau nanya: jika cerpen dimuat di Kompas,apakah dikonfirmasi dulu baru dimuat atau dimuat dulu baru dikonfirmasi? Brapa sih honornya? Kapan dikirim ke rekening? siapa tau bisa kujadikan satu-satunya profesi tak usah cari kerja lain.
    Salam tuk semua.

    Dian KOL

    30 Mei 2010 at 19:05

  9. faktor kesalahannya ada pada dinaya sendiri.
    bukan pada orang2 sekelilingnya..
    coba perhatikan ia selalu menyalahkan orang lain, tanpa berani bertindak.
    talk only no action.
    ia juga putus asa dan menerima calon suami yg ditawarkan ortunya.
    saya hanya kurang setuju dengan pemaparan yang seakan orang2 sekeliling dinaya yang salah..
    tapi cerpen ini menurut saya hebat, karena bisa masuk ke kompas.
    saya memberi komen kan berarti saya terpicu emosinya oleh cerita ini :D

    joink

    30 Mei 2010 at 21:16

  10. perempuan memang seharusnya berdiri didapur, menemani suaminya, sekalipun dia harus bekerja diluar. judulnya
    “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” kenapa kok g “Dinaya yang Terpenjara”.

    sulesubaweh

    31 Mei 2010 at 12:34

  11. rasanya aneh baca ni cerpen trus baca artikel kompas hal.1 tentang istri pa Habibie…

    kunto

    31 Mei 2010 at 13:31

  12. Ceritanya klise. Lebih parah lagi, menurut saya, cerita2 seperti ini seperti alat gerakan feminisme barat untuk mengompori perempuan Indonesia agar melepaskan fitrahnya di dalam keluarga. Belakangan ini, justru fakta berbicara bahwa perempuan sekelas Ny. Dr. Ainun Habibie pun mengerti bahwa perempuan diperlukan laki-laki untuk membantunya mengatasi kesulitan-kesulitan. Kalau cerpen ini dipandang sekadar potret saja, saya kira tidak masalah. Tetapi kalau realitas buatan yang disusun dalam cerpen ini mengusung ide feminisme barat, saya kira hal tersebut terlalu maksa (kisah Ny. Dr. Ainun Habibie lebih mengesankan pembaca).

    Agus

    31 Mei 2010 at 17:15

  13. Maksud saya: tetapi kalau realitas buatan yang disusun dalam cerpen ini digunakan untuk mengusung ide bahwa perempuan yang support di dalam keluarga adalah suatu kesalahan (seperti yang dikemukakan feminisme barat), saya kira hal tersebut terlalu maksa (kisah Ny. Dr. Ainun Habibie lebih mengesankan pembaca).

    Agus

    31 Mei 2010 at 17:18

  14. @Agus
    ‘Perempuan mendukung keluarga’ itu tidak pernah dan belum pernah menjadi sebuah kesalahan.
    Kesalahannya terletak dlm ‘penyalahgunaan’ peran perempuan dlm mendukung keluarga.

    Yg menyalahgunakan peran itu bisa pria, bisa jg wanitanya sendiri.
    Yg harus dihentikan itu penyalahgunaannya. Bukan prianya, atau wanitanya.
    Jadi saya pikir arti dari feminisme itu sendiri tidak hanya sekedar salah-menyalahkan saja.
    Terima kasih.

    A

    1 Juni 2010 at 08:35

  15. Apa yang dianggap penjara oleh perempuan terkadang adalah apa yang diciptakan perempuan dalam fikirannya.Beberapa perempuan merasa terpenjara oleh peran yang diwarisinya secara turun-temurun. Kenapa? Karena perempuan menganggap peran itu hanya sebagai warisan. Tak lebih. Tapi bila perempuan menganggap peran itu adalah kekuatannya untuk mengembangkan diri dan generasi yang dilahirkannya, niscaya takkan pernah ada Dinaya yang ‘merasa’ terpenjara. Kecuali bila penjara itu menyangkut tindak kekerasan dan pengamputasian terhadap hidupnya..Salam..

    renny

    1 Juni 2010 at 11:24

  16. tak ada yang istimewa dari cerpen ini, biasa aja saya kira.

    A

    1 Juni 2010 at 12:32

  17. Lagi2 cerita feminisme. Apa sih sebenarnya yang diinginkan kaum feminis itu…?

    Indonesia people

    1 Juni 2010 at 16:11

  18. @ A: sepanjang pemahaman saya akan kalimat Sdr, saya kira saya sependapat dengan Anda. Makanya saya bilang, kalau “udang” di balik cerita ini adalah taktik mengompori perempuan, agak memaksa. Tetapi kalau sekadar potret, yakni potret penyalahgunaan peran (dalam bahasa Anda), tak masalah– di luar sana, masih banyak ragam potret lain yang bisa kita jumpai.

    Agus

    1 Juni 2010 at 16:27

  19. @Agus
    Setuju sekali bung Agus. Menarik mmg membahas dialog antara pria-wanita.
    Dlm kaitan dgn cerpen ini, saya setuju bahwa tema cerita semacam ini sudah (terlalu) banyak diceritakan.
    Saya jg sependapat dgn pemikiran bbrp rekan lain, apakah betul perempuan jaman sekrg masih perlu ‘dikompori’? meminjam istilah anda.

    Namun dr pengamatan pribadi saya, ‘anehnya’ banyak wanita yg hingga hari ini masih saja mengeluhkan ‘penyalahgunaan’ tadi. Atau dgn kata lain mereka masih ‘merasa tertindas’
    Dlm hal ini tentunya kaum pria yg dituding :)
    Dan pria tentu saja tdk terima dan balas menuding kaum wanita :D
    Suasana ‘salah-menyalahkan’ spt ini bahkan dpt kita baca langsung di kolom komentar ini, seperti dlm komen rekan Indonesia people misalnya: ‘ada apa dgn kaum feminis?’ :)
    Dan seingat saya, komen2 senada jg pernah muncul dlm cerpen2 lain yg juga mengangkat tema ‘wanita tertindas’

    Jadi, saya rasa, meminjam istilah rekan hoebartz, klise tidak klise, apa boleh buat, cerita seperti ini mmg masih sering dirasakan oleh kaum wanita jaman sekarang. Suasana ‘saling menyalahkan’ masih tetap kental hingga detik ini, dan oleh karena itu masih juga terus diceritakan, bukan saja oleh penulis wanita, penulis pria jg sering mengungkap hal ini, walau mungkin kita sdh bosan membacanya.

    Bagaimana menurut anda?
    Senang sekali bisa berdiskusi dgn anda. Terima kasih.

    A

    1 Juni 2010 at 17:12

  20. Konfirmasi biasanya cuma jika Cerpen lolos seleksi tapi kepanjangan dan pengarang harus memotong hingga maksimal 9-10 ribu karakter. Tak ada konfirmasi lain sebelum dan sesudah pemuatan. Konfirmasi lain cuma jika cerpen masuk dalam kumpulan cerpen Kompas. Itu sependek pengalaman saya.

    Aba Mardjani

    1 Juni 2010 at 23:38

    • trims jwbannya mas Aba. maaf,br bisa online lg.

      Dian KOL

      24 Agustus 2010 at 20:06

  21. Memang mengherankan tema basi seperti ini kok masih dianggap layak, bahkan oleh Kompas. Perempuan sebagai obyek….. Siti Nurbaya, Siti Nurbaya…..

    bhoernomo

    2 Juni 2010 at 09:06

  22. @ A: penjelasan Anda melebarkan pandangan saya. Terima kasih, saya senang membaca persepsi Anda, yang justru memberi posisi buat cerpen ini jadi tidak basi dan tidak klise apabila ditinjau dari suasana saling menyalahkan itu. Bravo Kompas!

    Agus

    2 Juni 2010 at 12:35

  23. Ah, wanita zaman sekarang…..sibuk memperjuangkan status….namun banyak juga kebablasan sehingga kurang bisa menjaga diri….misalkan dgn cara berpakaian. berpakaian dengan seronok dan berlindung di balik kebebasan berekpresi..ah…pusing…

    C

    2 Juni 2010 at 13:02

  24. kita di dunia haruslah mendapat perlakuan sama….
    sama-sama mempunyai kebebasan untuk mendapatkan apa yang seharusnya kita butuhkan….mereka saja yang buta akan kebebasan, yang mereka tau hanyalah adat turun-temurun yang sangat menghancurkan harga diri sebuah perempuan…..

    Q

    4 Juni 2010 at 19:13

  25. Kalau menurutku keterpaksaan perempuan itu bisa didekati dengan pendekatan Poskolonial.
    tapi yang menariknya lagi kalau feminisme dalam cerpen ini disimbolkan oleh konflik dua perempuan; ibunya dan dinaya. hal inilah yang menjadikan cerpen ini lolos dari pandangan redaktur (mungkin). jarang perempuan penulis yang menulis persoalan perempuan dalam cerpen dengan membenturkan sesama perempuan sebagai puncak konfliknya

    DadanNR
    Ketua Laboratorium Prosa.

    Dadan N Ramdan

    5 Juni 2010 at 20:40

  26. “Di manakah posisi Dinaya pada saat itu, mungkin ia hanya menjadi cermin yang memantulkan bayangan suaminya.”
    Posisix penggembira saja,yg penting hadir,toh dia menikah bukan karena ikut-ikutan,misalnya karena teman seangkatannya sudah pada kawin dan punya anak. Malu dibilang perawan tua. Padahal bisa saja sudah tidak perawan hanya belum menikah.
    Adakah yang mau ditiduri asal tidak hamil,yg penting menikmati masa muda yg indah. Dan melakukannya atas dasar suka sama suka.

    Tak digambarkan apakah selama pernikahan Dinaya dan suamix pernah bercumbu atau bersetubuh. Cerpen ini ini pun tak melukiskan bahwa mereka punya anak. Bisa ya bisa tidak.HILANG. Seperti teori menulis cerpen yang pernah saya baca, pembentukan karakter dan endingnya sudah tepat. Maksudx,karakter tak berubah,meski dalam kehidupan nyata bisa berubah atau jika ditulis dlm bntuk novel. Sedang endingnya pnuh pngharapan,muacch……HILANG. bukankah sampai sekarang tidak ada teori menulis cerpen yg mengatakan harus diakhiri dengn jelas. MENGAMBANG , HILANG atau JELAS boleh saja. Misalnya dlm crpn ini,suami dan ibu mnjadi berubah cara brpikirx setelah Dinaya meninggal saat mlakukan kegiatan yg tak disukainya. Coba perhatikan kalimat “Seolah dapur menjadi satu-satunya takdir bagi perempuan sekalipun memasak bukan kegemarannya.” Walaupun sebenarnya Dinaya bisa memasak. HILANG

    Bagian yang hilang atau mengambang itu mungkin memang tak perlu ditambahkan sebab bisa membuat cerpennya terkesan sengaja dipanjang-panjangkan. Sbg penulis cerpen senior dan sudah bberapa kali nembus Kompas bahkan cerpenx pernah masuk antologi terbaik Kompas saya rasa Ni Komang Ariani sudah tahu hal ini. Dan bagian-bagian yg hilang atau mengambang itulah yg membuka ruang tafsir bagi pembacanya. Tapi tentunya kita tak boleh asal tafsir.

    Ran Pasnim

    8 Juni 2010 at 15:45

  27. Maaf, untuk supaya tdk menimbulkan kerancuan,
    saya tdk pernah beropini bhw cerpen ini tidak istimewa.
    Walau sepertinya biasa2 saja, ada sesuatu yg bisa dipetik dr permasalahan yg diungkapkan.
    Semoga tidak menimbulkan persepsi yg keliru bg rekan2 yg kebetulan menyimak diskusi di sini. Terima kasih.

    A

    11 Juni 2010 at 23:17

  28. Salam hangat selalu,
    Cerpen yang klise jika di telisik dari segi tema yang ingin saudari Ni Komang Ariani usung.Emansipasi wanita yang ingin menuntut pendidikan tinggi sebagai gaya hidup, tapi malah terkurung oleh kewajiban istri yang melulu melayani suami.Sangat fatal saya lihat dari wacana diatas tentang alur yang saya kira rancu. Tertera kalimat yang menjelaskan bahwa si tokoh utama(Dinaya) menolak mentah-mentah untuk melanjutkan sekolahnya(kuliah), kok tiba tiba bisa jadi dosen, lalu pekerjaannya sebagai pendidik inilah yang di jadikan konflik cerita yang membuatnya terkurung.La, jelas Dinaya menolak mentah-mentah untuk melanjutkan sekolah, kenapa bisa jadi dosen? Mohon di jelaskan sedikit kerancuan ini saudari Ni Komang Ariani.
    Pendidikan saya kira terkait erat dengan humaniora, hingga dalam sistem pendidikan perlu adanya sistem pendidikan berbasis humaniora. Saya menemukan tema lama yang masih terulang, belum ada penyegaran ide. Humaniora berasal dari kata humanus yang merupakan kata sifat dari homo(manusia). Pendidikan humaniora punya arti tentang keseluruhan dari unsur dalam pendidkan yang merefleksikan keutuhan manusia dan membantu manusia menjadi lebih manusiawi. Pendidikan humaniora menekankan pada pengembangan kepribadian peserta didik secara untuh untuk menyambar rona-rona kehidupan dan di jadikan bahan pekerjaan. Cerita diatas mengaitkan emansipasi humaniora, yang menuntut seorang istri agar tetap melayani dalam porsi dapur dan kasur. Tapi jelas si tokoh utama memiliki cita-cita untuk melepaskan diri dari keterpenjaraan menuju konsep emansipasi humaniora. Alur yang meloncat-loncat, kisah yang masih dangkal, dan perlu kiranya di perdalam dari segi diksi maupun intrik cerita.Saya tunggu cerita Anda yang lebih menarik dengan tema yang orisinil dan segar bugar.
    Sukses berkarya selalu.

    Tova Zen

    20 Juni 2010 at 12:05

  29. Tema yg biasa saja

    R Arumbinang

    30 Juni 2010 at 02:28

  30. Setelah baca cerpen ini, jujur aja saya sebagai perempuan agak kecewa dengan isi dan pesan cerpen ini. kesannya memang Dinaya menghitamkan dan menyalahkan semua orang di sekelilingnya.

    Contohnya pd kalimat ini
    “Sejak kecil Biyang selalu mengata-ngatai Dinaya dengan kata-kata yang menghancurkan harga dirinya. Perempuan kok bangun siang. Makan kok belepotan seperti babi. Itu badan apa gentong air. Mana ada sih laki-laki yang mau melihat tampangmu. Sekali-kali ke salon dong biar tidak dikira babu”…

    Dari kalimat itu, justru saya malah menangkap bahwa tindakan Biyang, selaku orangtua Dinaya justru peduli terhadap kebaikan anaknya, tapi knapa Dinaya malah menganggap itu sbg hal yang sangat mengganggu dan menghancurkan harga dirinya?Saya rasa Dinaya ini tokoh yang sangat egois dan selalu menganggap dirinya benar..

    lalu apa dengan bekerja di dapur,serta merta seorang perempuan lantas menjadi terpenjara? Yang membuat Dinaya semakin merasa terpenjara justru karena sikapnya sendiri, mungkin bisa tercermin dalam kalimat “Tiang akan berhenti bekerja, tapi jangan harap tiang akan menghormati Bli Gusti.”…yah mungkin juga wajar bila kemudian Bli gusti juga jd cuek dg Dinaya, karena Dinaya sendiri “YANG MEMULAI” untuk tidak peduli dan hormat pd suaminya..

    Maaf,apa ini kisah pribadi ya? cerpen ini kok terkesan emosional ya…

    Aiwa

    1 Agustus 2010 at 14:39

  31. tak ada perspektif baru yang ditawarkan, masih berkutat pada masalah usang.

    Aureliano

    30 Agustus 2010 at 17:39

  32. saya sependapat dengan Aiwa, dan benang merah dari cerpen ini adalah tidak adanya komunikasi. mengapa maslah gendre yg dibesar2kan

    ade aminudin

    11 November 2010 at 23:01

  33. aneh, jaman sekarang kok takut dikatai perawan tua. hidup tuh yang penting bahagia, ga penting dibilang perawan tua lantas maksakan diri buat kawin. asal ingat usia saja. tetangga saya ada yang perawan tua, umur 44 tahun, bahagia sehingga awet muda, banyak teman, dikagumi dan banyak cowok yang ngecengin karena dia penampilannya menarik.

    kalau saya bandingkan dengan teman kuliah saya yang punya anak dua dan jadi stres karena suaminya selingkuh penampilannya kayak langit dan bumi. biar umurnya baru 27 tahun tapi penampilannya sama sekali nggak menarik (padahal sebelum nikah cantik).jadi males nikah kalau lihat dia.

    silla

    15 Februari 2011 at 22:26

  34. Perlu kita pahami cerpen ini secara seksama..
    bahwa jelas sekali Dinaya mengeluhkan sikap ayah, ibu, dan suaminya. ada kekecewaan yg mendalam pada diri dinaya. keluarga (ayah, ibu, dan suami) dinaya cenderung otoriter, tidak menghargai perasaan dinaya dan SELALU MEMUTUSKAN kehendak mereka (ayah,ibu dan suami) secara sepihak. nyaris tidak memberikan pilihan atau minimal mengahargai dinaya sebagai sesosok manusia biasa yg tentunya mempunyai impian. bukankan setiap manusia berhak hidup bahagia dengan jalannya masing2 tanpa merasa dikekang oleh pihak manapun selama itu tidak merugikan org lain?….

    maulana

    1 Juli 2011 at 01:28


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.572 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: