Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Mata Sayu Itu Bercerita

with 61 comments


Mata sayu itu banyak bercerita. Walau kami sekali pun belum pernah bertegur sapa, apalagi berbincang-bincang bak kawan lama.

Ia selalu duduk di sana, di meja paling pojok. Sering kali ia menyandarkan kepalanya di dinding kaca, membiarkan rambut panjangnya yang terurai menyentuh dinding itu, seakan mewakili dirinya untuk selalu mengawasi jalan di luar sana. Seperti itu. Selalu seperti itu.

Awalnya, kupikir ia seorang karyawati baru di salah satu kantor yang ada di seberang jalan. Ya, tentulah aku menduga serupa itu. Sebab baru kali itu kulihat ia di café ini. Telah berapa lamakah aku menghabiskan hari-hariku di sini? Tiga tahun, empat tahun, atau mungkin telah lima tahun? Aku sendiri hampir lupa, berapa lama aku mendedikasikan hidupku untuk sesuatu yang disebut pekerjaan dan pastinya, baru kali itu aku melihatnya di sini, di café langgananku.

Ia selalu duduk di bangku yang sama, menu yang sama: secangkir kopi dan sepotong kue—yang nyaris selalu tak ia sentuh. Mata sayunya selalu fokus menatap jalanan di luar sana, seolah-olah tengah menghitung berapa mobil yang lewat. Ah, tidak. Tentu dia menunggu seseorang.

Ya, mungkin saja ia tengah menunggu seseorang. Kekasihnyakah? Suami. Teman. Rekan bisnis. Ah, aku lebih yakin ia tengah menunggu kekasihnya. Mungkin mereka telah membuat janji untuk bertemu di café ini. Sayangnya, duga itu harus kubuang jauh-jauh. Berapa lama seseorang mau menunggu kekasihnya menempati janji kencan mereka? Satu hari, satu minggu, satu bulan, atau seperti perempuan itu yang telah tiga bulan setia menunggu di sini. Saban petang saat jam berada di angka empat sampai enam. Ah, tentu ia seorang kekasih yang demikian setia.

Namun, lama-lama aku menjadi iba dengan dirinya. Ah, tidak. Mungkin pula tertarik atas perilakunya. Oh, tidak-tidak. Aku, aku suka dengan matanya. Sepasang mata sayu yang setia mengawasi jalan di luar sana, mata sayu yang tiba-tiba begitu banyak melontarkan cerita. Mata sayu itu begitu mencuri perhatianku.

***

Mulanya, aku tak bisa memahami cerita dari mata sayu itu. Lalu, mataku menafsirkannya dengan begitu baik. Dan aku terhanyut, tersentuh hingga selalu rindu untuk mendengar cerita dari mata sayu itu.

Cerita pertama yang aku dengar dari mata sayu itu adalah tentang alasan mengapa perempuan itu duduk di sini, menatap jalanan, dan memilih jam di antara pukul empat sampai enam petang.

Rupanya, dugaku sedikit benar. Ia memang menunggu seseorang. Sayangnya, ketika kutanya mata itu: siapakah yang ia tunggu? Mata itu bungkam dan tak ingin bercerita. Mungkin, terlalu sukar baginya untuk menyebutkan nama seseorang yang ia tunggu itu.

Ketika aku tak memaksa untuk menyebutkan orang yang ia tunggu itu, mata sayu itu kembali mau bercerita. Katanya, ia selalu datang ke sini untuk menjumpai seseorang, seseorang yang telah mencuri perhatiannya. Seseorang yang telah menorehkan sesuatu yang begitu dalam di hatinya. Ah, tentu itu cinta, tebakku. Mata sayu itu terdiam, cukup lama dia diam, mungkin ia mengingat atau merenungkan ucapan yang baru saja aku lontarkan: apa mungkin memang cinta yang tertoreh di sana?

Bisa jadi. Bisa jadi memang cinta yang tertoreh di hati, ujar mata sayu itu. Aku tersenyum kecil mendengar itu. Ya, siapa yang sudi menunggu berhari-hari untuk seseorang yang tak begitu penting? Tentulah hanya karena cinta yang dapat menyebabkan seorang perempuan seperti pemilik mata sayu itu, rela menghabiskan tiap petangnya hanya untuk menunggu seseorang yang tak pasti kapan datangnya. Cinta. Hanya alasan itu sajalah yang bisa membuat orang berbuat serupa itu.

Tentu seseorang itu lelaki yang tampan. Oh, apakah ia laki-laki? Ah, mata sayu itu tiba-tiba merona, seperti ada binar-binar yang meletup dan begitu bergairah di dalam retinanya saat aku menebak seseorang itu lelaki yang tampan. Baru kali itu, ya baru kali itu, aku melihat mata sayu itu berbinar: cantik dan terasa sangat hidup, menyulut suatu gairah yang bersemayam dalam dadaku. Pipinya ikut-ikutan merona, mata itu mengangguk kecil. Ah, ia mengiyakan tebakanku. Aku tepat menebak seseorang yang ia tunggu itu: seorang laki-laki tampan yang telah mencuri hatinya. Oh, ini kisah cinta yang romantis.

Tapi, bukan ketampanan lelaki itu yang membuat mata sayu itu tertarik kepadanya. Aku jadi terdiam ketika mata sayu itu mengungkapkan hal itu. Lantas, apa penyebabnya? Apa wangi tubuh seseorang itu? Ya, ya, bisa juga. Bukankah perempuan suka dengan bau laki-laki? Bau yang menggelitik hidung dan menggelinjangkan jantungnya. Oh, rupanya bukan pula, mata sayu itu menggeleng. Kalau bukan wangi tubuhnya lantas apa? Aha, biar kutebak lagi, tentu postur tubuh seseorang itu. Apakah ia lelaki berbadan atletis? Dada bidang yang begitu kekar, banyak bulu di sekujur tubuhnya, rahang kuat yang menonjol. Oh, perempuan memang akan tergila-gila dengan lelaki serupa itu, berbadan bagus, wajah tampan, apalagi? Tentu ia lelaki yang sempurna.

Bukan pula! Lalu, apa penyebabnya? Mata sayu itu tersenyum malu-malu, ah manis sekali ketika ia tersipu seperti itu. Seperti gadis ABG yang kali pertama jatuh cinta dan seorang pemuda impiannya mengirimi sepucuk surat.

Oh, kau suka matanya. Ya, aku tahu. Mata memang sesuatu yang indah. Apakah mata lelaki itu indah? Mata sayu itu mengangguk, ia melukiskan betapa indah mata seseorang yang ia tunggu itu. Matanya coklat dengan bagian putih yang teramat bersih. Mata yang begitu mempesona, mata yang sangat pandai mengisahkan segala harapan yang ada, mata yang selalu membuatnya tak sabar menunggu hari esok untuk berjumpa, mata yang menyemangatinya untuk datang lebih awal, mata yang selalu mengajarinya untuk tak lelah, mata yang kerap melambungkan imajinasinya. Mata itu, mata sayu milik lelaki yang ia tunggu. Ah, mata sayu itu kembali berbinar ketika ia menyebut keindahan mata seseorang yang ia tunggu itu. Aku jadi membayangkan mata seseorang itu.

Apa matanya seperti mata sayumu? Mata yang begitu indah dengan kisah-kisah yang sangat menghanyutkan. Oh, tidak. Benarkah? Benarkah jauh lebih indah dari matamu yang sudah begitu mempesona? Ah, mata sayu itu mengangguk penuh keyakinan. Tak dapat aku bayangkan mata seseorang itu kalau matanya jauh lebih indah dari mata sayu perempuan ini. Alangkah sulit melukiskan mata yang jauh lebih indah dari matanya, sebab bagiku mata sayu itu sungguh mata yang luar biasa indahnya, kalau ada yang lebih indah. Oh, kanvas mana yang bisa menampungnya? Kuas mana yang bisa menggoreskannya? Pantaslah kalau mata sayu itu begitu menyukai seseorang yang ia tunggu itu. Pantaslah. Sangat pantas.

Kini, barulah kupaham, mengapa perempuan pemilik mata sayu itu rela berhari-hari menunggu seseorang itu. Ia seseorang yang sangat istimewa, seseorang yang telah menorehkan sesuatu dalam hatinya, mencuri perhatiannya. Seseorang yang memiliki mata yang begitu indah, mata yang telah membetot mata sayu perempuan itu. Mungkin, jika aku yang menjadi perempuan itu, aku pun akan melakukan hal serupa, menunggu dan akan selalu menunggu seseorang bermata indah dan penuh cerita itu kembali dan bercerita lagi.

Itulah mengapa aku semakin rajin datang ke café ini setelah pulang dari kantorku di seberang jalan sana. Aku ingin menemui mata sayu itu, mendengarkan kembali cerita-ceritanya dan menikmati betapa indah bola matanya. Selain itu, aku ingin menemaninya menunggu seseorang itu, tentu ia lelah dan kesepian jika menunggu seorang diri. Dan juga, aku penasaran dengan seseorang yang ia tunggu itu: apa benar seseorang itu memiliki mata sayu yang jauh lebih indah dari matanya? Aku ingin menyaksikan sendiri keindahan mata seseorang itu dan juga menyimak cerita-cerita dari mata itu, tak hanya sekedar cerita dari mata sayunya.

***

Sejak jarum jam tepat di angka empat sore, aku telah duduk di bangku ini. Sengaja aku memilih meja yang paling dekat dengan meja yang saban petang ditempati pemilik mata sayu itu. Niatku telah bulat, aku ingin sekali bercerita langsung kepadanya, bukan hanya lewat mata sayunya. Sayang, rupanya petang ini aku harus kembali kecewa. Lagi-lagi, ia tak datang. Seperti petang-petang sebelumnya. Satu minggu sudah mata sayu itu hilang dari pandanganku.

Oh, ke mana rupa mata sayu itu? Apakah ia mulai lelah bercerita? Mungkin pula ia telah letih menunggu seseorang yang tak kunjung menemuinya itu. Atau, ceritanya telah tamat, hingga ia merasa tak ada gunanya duduk di café ini lagi sebab tak ada cerita yang bisa ia uraikan kepadaku.

Ah, aku tak akan menyerah begitu saja. Aku akan setia menunggunya, mungkin bukan petang ini, bisa jadi ia tengah sibuk, banyak pekerjaan, atau ada halangan yang menyebabkan ia tak bisa datang. Mungkin. Mungkin saja. Mungkin saja ia akan datang besok petang. Besoknya lagi atau besoknya lagi.

Aku akan menunggu mata sayu itu kembali, kembali bercerita banyak hal kepadaku, tentang seseorang yang ia tunggu. Tentu saja, untuk memastikan apakah ia datang atau tidak, aku harus menunggunya di café ini, di meja paling pojok. Meja yang bisa membuatku leluasa menatap jalanan di luar sana. Dari jam empat sampai enam petang, aku harus di sini, memesan kopi dan sepotong kue, lalu menyandarkan kepala di dinding kaca sembari memutar kembali semua cerita yang ia uraikan di mataku: mataku yang menjadi sayu karena hanyut akan cerita-ceritanya itu. (*)

/C59, ditulis dari pojok café yang sepi, Januari 2010.

About these ads

Written by tukang kliping

9 Mei 2010 at 10:23

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

61 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Selamat, Gun! Semoga Kak pun belajar lebih jeli menangkap ide-ide yang berserakan mengepung keseharian kita. Sip!

    lakonhidup

    9 Mei 2010 at 17:04

  2. Perempuan, Kafe, Mata sayu, menunggu, UHHHH Membosankan! Sudah terlalu sering dijadikan bahan tulisan :-)

    Indarti

    9 Mei 2010 at 17:36

  3. oke, bro

    gendut

    9 Mei 2010 at 18:04

  4. Mata ayu azhari, mata sayu…

    Semendo

    10 Mei 2010 at 12:00

  5. Cerpen ini, cukup layak menembus Kompas. Apalagi cerpenisnya sangat sabar, ulet dan banyak belajar. Maka, cerpen ini layak mendapat bintang.

    Bamby Cahyadi

    10 Mei 2010 at 17:19

  6. Sependapat dengan Mbak Indarti, tidak sependapat dengan Mas Bamby. Tentu kita senang lagi-lagi ada pengarang baru. Tapi sungguh sayang bila pengarang baru ini tak lebih baik dari pengarang lama. Mestinya seperti Rama Dira dan Sungging Raga, yang cerpen pertamanya langsung masuk cerpen pilihan Kompas. Atau seperti Joni Ariadinata, Ugoran Prasad, dan Nukila Amal, yang cerpen pertamanya bahkan langsung terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas. Sangat menyegarkan!

    bhoernomo

    11 Mei 2010 at 09:26

  7. buat saya, semua orang punya kesempatan untuk menjadi yang terbaik, walaupun ada yang beruntung bisa langsung mendapatkannya di saat pertama dan ada yang harus bersabar menunggu.

    dimuatnya cerpen ini di kompas, saya pikir, sudah sebuah permakluman, bahwa cerpen ini terbaik–paling tidak untuk satu minggu ke depan…

    saya tak meragukan sedikit pun editor sastra di Kompas yang memegang halaman ini.

    salam,

    Melvi Yendra
    Depok, Jawa Barat

    Melvi Yendra

    11 Mei 2010 at 10:55

  8. @ Bhoernomo : Idealnya seperti itu, namun tentu khalayak pembaca bahkan redaktur sekaliber Kompas pun mengharapkan penulis-penulis cerpen baru dengan tema cerpen yang beragam. Tentu, tidak setiap cerpen yang dimuat di Kompas dari segi cerita berkualitas lebih baik dari cerpen-cerpen yang dimuat di koran lain atau bahkan cerpen yang beredar di dunia maya.

    Teman cerpenis Rama Dira dan Sungging Raga, adalah sebuah contoh yang bagus untuk cerpenis yang sedang mencoba menembus Kompas, akan tetapi tetap saja penilaian dan apresiasi datang dari khalayak pembaca. Nah, pada bagian ini lah kritikus sastra mengkritisi cerpen-cerpen di Kompas.

    Jadi menurutku, munculnya Guntur Alam, R Yulia, Novianti, Rifan Nazif dan beberapa cerpenis yang karyanya baru satu dimuat di Kompas itu lebih menyegarkan, ketimbang cerpenis langganan Kompas dengan mengusung tema cerpen yang itu-itu saja.

    Bamby Cahyadi

    11 Mei 2010 at 18:03

  9. Senada dengan ungkapan Uda Melvi dan Mas Bamby.

    Saya, sejujurnya, kadang heran saja dengan ungkapan-ungkapan yang ‘menghakimi’ sebuah karya orang lain sementara sang ‘hakim’ sendiri belum menghasilkan karya yang lebih baik alias baru sebatas penikmat. Lebih heran lagi jika sang ‘hakim’ itu tidak mencantumkan identitas sebenarnya alias berlindung di balik ‘simbol’ tertentu.

    Memberi kritikan adalah sah-sah saja, toh sifatnya sangat subjektif orang per orang, tapi mbok ya sambil bercermin diri saat menggoreskan kritikan itu. Ya, sedikit memiliki rasa ‘malu’ dan ‘penghargaan’ atas kerja keras seseorang, saya kira, jauh lebih bijak.

    Salam,

    Setta SS

    lakonhidup

    12 Mei 2010 at 09:52

  10. @Mas Bamby: Seperti saya katakan, saya senang adanya nama-nama baru dan kita sependapat akan hal itu. Yang saya tak sependapat, seperti dikatakan Mbak Indarti, cerpen ini jelek. Sangat klise. Bahkan, cerpen-cerpen pop pun sering bertema ini. Dan saya kecewa, karena saya membaca Kompas, bukan majalah wanita atau media cerpen remaja. Padahal sebelumnya, setiap ada nama baru, saya selalu menemukan cerpen yang beda dibanding karya cerpenis yang sudah mapan. Dan saya kira memang hal inilah mestinya jadi pegangan redaktur Kompas untuk memuat nama baru.

    bhoernomo

    12 Mei 2010 at 09:54

  11. Kukira mestinya tak ada masalah dengan yang namanya pendapat. Mau menilai bagus atau jelek itu hak seseorang. Dan cerpen ini bagiku juga jelek. Dan seperti juga Mas Bhoernomo, wajar saja kalau kita kemudian kecewa. Kan kita sudah ‘membuang’ waktu :-)

    Ira

    12 Mei 2010 at 10:16

  12. @ Ira:

    //Kan kita sudah ‘membuang’ waktu//

    Sebuah ungkapan ‘penyesalan’ yang terkesan lucu, bagi saya. Harusnya sebelum membaca, karena kita belum tahu yang kita baca itu bagus/tidak dan pasti salah satu dari keduanya adalah yang akan terjadi, sudah menyadari sepenuhnya ada kemungkinan //membuang waktu// itu.

    Mau kecewa, mau menggerutu, boleh-boleh saja, absolutely your right. Tetapi saya akan pilih tersenyum saja, biar tidak cepat tua. :)

    lakonhidup

    12 Mei 2010 at 10:47

  13. @Setta SS
    Seperti yg sdh dikatakan mas bhoernomo dan saudari Ira, “Penikmat” atau “Pembaca” tentunya jg punya hak penuh untuk menilai.
    Jika penilaian itu dirasakan bernada “menghakimi”, toh semuanya kembali terpulang pada pihak yg merasa dikritik:
    Apakah mau mencari manfaat dari kritik tsb? Atau memilih untuk marah dan merasa ‘terhina’?

    Saya sendiri justru heran dgn sebgian org di forum ini yg dari dulu terus saja mempermasalahkan “identitas” dan mempertanyakan hak org untuk berpendapat negatif jika org itu “baru sebatas penikmat” dan “belum menghasilkan karya”.

    Apakah dgn begitu berarti hanya “Penulis” dan “Redaktur” yg boleh menilai cerpen di sini?
    Dan pengkritik di luar kedua kategori itu lantas dianggap sbg “orang2 iri” yg harusnya “malu” dan lebih “menghargai”?

    Ingat komentar salah satu rekan kita di sini: Seni itu demokratis.
    Dan tolong diingat jg bhw kritik itu, seberapapun menghakimi, sebenarnya bisa kita ambil manfaatnya jika kita mau berhenti berpikiran negatif.

    Dgn adanya kritik, saya yakin para Penulis dan jg Redaktur Kompas, dan pd akhirnya sastra koran Indonesia jadi semakin maju.
    Terima kasih.

    A

    12 Mei 2010 at 10:52

  14. Bagi orang pintar 1 tulisan ini buruk,bagi orang pintar 2 tulisan ini bagus..bagi saya orang yang belum pintar tulisan ini bagus ketimbang tulisan saya..tapi toh lumayan menambah 1 kawan kita yang mau menulis..masalahnya kompas mungkin kehabisan penulis bagus karena penulisnya kebanyakan alih profesi menjadi kritikus..

    Giman

    12 Mei 2010 at 12:36

  15. @Giman
    Bos, seperti saya blg td, semua org baik itu “penulis”, “bukan penulis” atau “penulis yg belum masuk Kompas” bebas berpendapat tanpa perlu dicibir sbg ‘org pintar’, ‘kritikus’, dll.

    Kalo semuanya hanya boleh memuji2, lantas kapan para penulis dan Kompas mau berinovasi?

    A

    12 Mei 2010 at 12:47

  16. Saya setuju siapa pun berhak berpendapat, racun atau madu.
    Saya setuju nama samaran berarti siap mencaci maki, siap dicacimaki. Macam pejabat bertopeng di tengah malam, siap dituduh berbuat jahat dan siap digebuk dan dibakar.
    Saya juga setuju ‘penghakim tanpa cerpen’ macam manusia tak bermulut berkoar pedasnya sambal.
    Saya juga setuju cerpen macam masakan; berani menghidangkan mesti enak dirasakan. Siap bila ada yang muntah atau mencecap lidah. Siapapun itu, pandai memasak atau cuma tukang makan.

    Buruh SD

    12 Mei 2010 at 15:55

  17. @BuruhSD
    “Penghakim tanpa cerpen”? Wah, sebuah istilah baru nih selain “org pintar”, “kritikus”, lalu apa lagi?

    Kenapa tidak ada yg protes kalo ada yg memakai “nama samaran” tapi komentarnya berisi puja-puji?
    Kalo “Pemuji tanpa cerpen” tidak ada masalah?

    Sebegitu antipatinya sebagian org di forum ini thd kritik dan perbedaan pendapat?? :D

    A

    12 Mei 2010 at 16:06

  18. Saya kira rekan2 yg memberikan kritik di forum ini masih dlm batas2 kewajaran.
    Tidak ada tuh yg “Mencaci maki”, atau mengatakan “Bunuh diri saja, jgn menulis lagi”???
    Mereka hanya mengatakan ‘jelek’, ‘kurang suka’, bbrp beserta alasannya.
    Lantas di mana letak kesalahannya?

    “Tukang Makan” tidak boleh mengkritik “Pandai masak”?
    “Manusia tak bermulut tapi bisa berkoar pedasnya sambal”?
    He he…kalo mmg begitu berarti berlaku jg sebaliknya dong buat para “Tukang Makan” yg memuji “Pandai masak”?
    Manusia tak bermulut berkoar manisnya gula???
    Siap digebuk dan dibakar juga???

    SENI ITU DEMOKRATIS kawan…stop memaksakan pendapat anda :)

    A

    12 Mei 2010 at 17:19

  19. Masalahnya adalah; kita ngomong apapun seharusnya punya etika. Ngomong menantang di tengah preman, siap-siap saja kehilangan muka. Ngomong tak karuan di tengah rapat, siap-siap saja dipecat. Saya kira ada perbedaan antara ‘kritikan’ dan ‘caci maki’.
    Jadilah DPR, maka tak takjub melihat antipati thd perbedaan pendapat, sebab antipati juga bagian dari perbedaan pendapat.
    Maka tak heran juga dengan seni perang, mana musuh mana kawan. Dan tak heran juga bahwa pemuji adalah kawan dan pencaci maki adalah musuh.

    Buruh SD

    12 Mei 2010 at 17:46

  20. @BuruhSD
    Dr kacamata org yg selalu berpikir negatif, SEMUA kritik PASTI terlihat sebagai ‘caci maki’.
    SEMUA kritik PASTI terlihat seperti ‘menantang’ dan ‘tidak pny etika’.
    Mau hidup sebagai seniman atau manusia yg berhati negatif? Silahkan.
    Mau memusuhi semua org yg menilai kurang karya anda atau berseberangan pendapat dgn anda? Silahkan juga.

    A

    12 Mei 2010 at 18:02

  21. A: Mengherankan sekali orang sepintar Anda terjebak pada perkataannya sendiri. Tidakkah Anda memaksakan kehendak? Kayaknya perlu angket, siapakah orang paling arogan di forum ini, biar Anda tahu.
    Tengoklah DPR, siapakah manusia paling kritis selain kelompok mereka? Lihatlah buih Golkar pada saat ‘jadi musuh’ dan lihatlah sekarang. jadi kawan juga endingnya. Anda terlalu ‘muda’ untuk menghakimi forum ini penuh dengan ‘kebencian’.

    Buruh SD

    12 Mei 2010 at 18:22

  22. Memangnya seni butuh kritikan? Perlukah dibahas apakah Pramudya Ananta Toer atau Djenar atau Andre Hirata atau yang lain besar atau kecil karena kritikan? Cobalah tantang Seno Gumira Ajidarma menulis cerpen macam Sunaryono Basuki Ks! Seni menempatkan dirinya sendiri di luar kritik atau caci Bung!

    Buruh SD

    12 Mei 2010 at 18:32

  23. @BuruhSD
    Untungnya Pak Buruh, saya BUKAN anggota DPR.

    Seperti yg sdh saya katakan, dr kacamata org yg selalu berpikiran negatif, org yg berseberangan pendapat dgn dia PASTI selalu terlihat arogan dan memaksakan pendapat. Betul Pak Buruh?

    Seperti yg sdh berulang kali saya katakan di forum ini: coba tunjukkan KAPAN saya memaksakan kehendak di sini? KAPAN saya bertindak arogan?

    Bila anda tidak setuju dgn tulisan saya, silahkan berargumen, silahkan berdebat jika perlu. Nanti pasti bisa dicapai titik temu.
    Bila ada isi tulisan saya yg tdk jelas, silahkan bertanya. Saya pasti akan berusaha menjelaskan sebisa saya.
    Jika mmg saya berbuat keliru, saya dgn senang hati akan meminta maaf.
    TAPI
    sebaliknya, bila anda yg ternyata terbukti salah, anda jg harus meminta maaf. Cukup adil kan?

    Jangan setiap perbedaan pendapat saya, malah diputarbalikkan sebagai ‘pemaksaan pendapat’.
    Jadi kembali ke problem semula,
    kl teman anda berargumen berarti ‘berdiskusi’
    sdgkan kl lawan anda yg berargumen berarti ‘arogan’? Itu maksud anda Pak Buruh?

    A

    12 Mei 2010 at 18:43

  24. @BuruhSD
    Seni SANGAT BUTUH kritik Pak Buruh, supaya dia bisa SEMAKIN MAJU.
    Jika anda mau berpikir positif, semua kritik pasti bisa anda ambil manfaatnya untuk memajukan seni anda.

    Anda tidak mau mendengarkan kritik? Boleh juga.
    Tapi anda tidak bisa memaksa org untuk bungkam Pak Buruh.

    Saya hargai pendapat anda bhw seni tidak perlu dikritik.
    Tapi saya pny pendapat yg berbeda dari anda. Boleh kan? :)

    A

    12 Mei 2010 at 18:47

  25. senang rasanya ada forum diskusi yg mencerahkan seperti ini. Menurut saya apa yang diutarakan Rekan A sangat logis dan paling bisa diterima. Ayo kita ramaikan forum ini dengan keberagaman pendapat..

    Indarti

    12 Mei 2010 at 19:08

  26. Siapakah yang berpikiran negatif? Siapakah yang menulis ‘Stop memaksakan pendapat Anda’ Apakah saya memaksa Anda? nyatanya Anda terus ‘berdiskusi’. Siapakah yang menulis ‘tapi anda tidak bisa memaksa orang untuk bungkam’ Siapakah yang membungkam? Anda terlalu menganggap orang lain memaksa pendapatnya ke anda, dan anda merasa dipaksa, ini lebih dari pemaksaan Bung. Anda mencoba membungkam orang lain dengan perkataan ini. Siapakah yang membungkam? Aneh sekali.

    Buruh SD

    12 Mei 2010 at 19:13

  27. @BuruhSD
    Pak Buruh, kita langsung saja ke pokok permasalahan:

    1.Apa inti pendapat anda? Seni ‘tidak butuh’ kritik.
    Benar? Tolong koreksi jika saya salah, biar nanti tidak berputar2 lagi.
    2.Apa konsekuensi dari pendapat anda? Semua yg mengkritik di forum ini ‘tidak dibutuhkan’. Betul?
    Yg memuji boleh? BOLEH
    Yg mengkritik? TIDAK DIBUTUHKAN
    Benar atau salah? Tolong dijawab jg.

    3.Apa inti pendapat saya? Seni butuh kritik.
    Benar?
    4.Apa konsekuensi pendapat saya?
    Yg memuji boleh? BOLEH
    Yg mengkritik boleh? BOLEH

    Siapa yg membungkam?

    5.Apa komentar saya thd pendapat anda? Silahkan. Saya berulang kali bilang silahkan. Saya jg sudah bilang “Saya menghargai pendapat anda” di atas.
    Cukup jelas? Silahkan bertanya kl msh kurang jelas.

    6.Nah, sekrg apa komentar anda thd pendapat saya?
    Saya kutip kalimat anda: “Anda mencoba membungkam orang lain dengan perkataan ini.”
    ???

    Siapakah yg membungkam?
    Anda belum menjawab pertanyaan saya: Saya boleh atau tidak punya pendapat yg berbeda dari anda?
    Tolong jawab ya atau tidak.

    Jika anda bertanya hal yg sama, jawaban saya sudah jelas: YA, anda boleh pny pendapat yg berbeda.

    Ini yg anda sebut membungkam?
    Ini yg anda sebut memaksakan pendapat?
    Ini yg anda sebut “aneh sekali”?

    A

    12 Mei 2010 at 21:16

  28. @Indarti
    Terima kasih saudari Indarti. Mohon koreksi bila mmg banyak tulisan saya yg arogan dan memaksakan pendapat, krn bukan sekali ini saja saya dituduh begitu :)

    Harapan saya anda jg sering ikut berdiskusi. Jangan takut beradu argumen dgn org2 yg berbeda pendapat dgn anda.
    Dgn adanya argumentasi dan dialog, anda dan lawan bicara anda sama2 akan bertambah pengetahuannya.

    A

    12 Mei 2010 at 21:23

  29. Kembali ke soal cerpen Guntur Alam. Saya tidak sependapat dengan pernyataan bahwa cerpen Kompas harus lebih berkualitas daripada cerpen di Majalah Wanita atau majalah cerpen Remaja. Kebetulan saya membaca Majalah Story (majalah cerpen remaja) di edisi 10 majalah tsb ada cerpen karya DODI PRANANDA berjudul Kafe Bianglala, menurut saya cerpen itu sangat luar biasa, dikarang oleh cerpenis muda kelahiran tahun 1993. Saya cuplik bait cerpen Dodi:

    Lelaki sore dan perempuan sore, itulah kami. Kami yang selalu menunggu bianglala dan menunggu senja. Menunggu semua yang hadi begitu indah di sini, di Kafe Bianglala.

    Kami tak pernah menggerakan bibir kami untuk bicara. Kami punya arti untuk setiap gerakan-gerakan yang kami lakukan. Kami berbicara lewat batin.

    Nah, dari paragraf cerppen di majalah remaja itu, tampaklah bahwa secara kualitas, majalah remaja pun bisa setara dengan Kompas.

    Lalu ini satu paragraf Guntur Alam tentang keindahan:

    Apa matanya seperti mata sayumu? Mata yang begitu indah dengan kisah-kisah yang sangat menghanyutkan. Oh, tidak. Benarkah? Benarkah jauh lebih indah dari matamu yang sudah begitu mempesona? Ah, mata sayu itu mengangguk penuh keyakinan. Tak dapat aku bayangkan mata seseorang itu kalau matanya jauh lebih indah dari mata sayu perempuan ini. Alangkah sulit melukiskan mata yang jauh lebih indah dari matanya, sebab bagiku mata sayu itu sungguh mata yang luar biasa indahnya, kalau ada yang lebih indah. Oh, kanvas mana yang bisa menampungnya? Kuas mana yang bisa menggoreskannya? Pantaslah kalau mata sayu itu begitu menyukai seseorang yang ia tunggu itu. Pantaslah. Sangat pantas.

    Jadi menurut saya, cerpen Guntur adalah cerpen yang bernuansa pop dengan estetika sastra yang cukup mumpuni.

    Bamby Cahyadi

    12 Mei 2010 at 23:30

  30. Mungkin, sebagai pembaca cerpen Kompas, kita sudah harus membuka mata, membuka hati dan membuka diri, bahwa Kompas adalah bukan barometer kesuksesan seorang cerpenis dalam hal berkarya secara kualitas. Tapi, mungkin Kompas adalah sebuah pencapaian. Karena memang, kita sendiri yang menciptakan kondisi pencapaian itu.

    Sekarang, sejauhmana para cerpenis yang pernah menembus Kompas untuk melahirkan karya-karya cerpen setelah cerpennya masuk ke Kompas.

    Karena, banyak cerpenis yang setelah 12 tahun menulis cerpen, barulah tahun ke-12 itu cerpennya dimuat di Kompas. Tapi toh, cerpen-cerpennya yang lain banyak dimuat di media lain, selain Kompas.

    So, kesimpulan saya, kalau minggu depan, ada nama baru lagi yang dimuat di Kompas, artinya Redaktur Sastra Kompas, membaca cerpen-cerpen yang masuk ke maja (desk) mereka, bukan hanya melihat nama besar pengarangnya. Tabik untuk semua.

    Bamby Cahyadi

    12 Mei 2010 at 23:38

  31. @Bamby
    Saya sangat setuju dgn pendapat anda.
    Ttg perbedaan opini antara anda dan mas Bhoernomo, saya kira itu wajar, setiap org punya penilaian masing2 thd cerpen ini.

    Saya yakin pendapat anda dan pendapat mas bhoernomo sama2 valid dr sudut pandang masing2. Tidak ada diskriminasi antara “Penikmat”, “Penulis Kompas”, “Penulis yg blm masuk Kompas”, atau apalah itu.
    Semuanya bebas berpendapat di forum ini. Betul Bung Bamby?
    Terima kasih.

    A

    13 Mei 2010 at 06:45

  32. @A: Terima kasih Sdr A, benar, saya kira semua yang saya katakan sudah jelas

    @Mas Bamby: Maaf bila saya ungkapkan saya sudah menulis di mana-mana, tapi belum pernah dimuat Kompas. Secara pribadi saya tetap menilai cerpen-cerpen Kompas lebih berkualitas dibanding media-media lain yang pernah memuat cerpen saya. Artinya juga, saya tak keberatan bila dikatakan cerpen saya belum berkualitas.
    Di mana kita bisa mendapatkan Majalah Story itu ya? Apakah beredarnya cuma di Jkt? Saya belum menemukannya di kota saya, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Dan, siapa redakturnya? Saya tak menutup kemungkinan cerpen bagus juga dimuat di media wanita atau remaja bila redakturnya bagus. Tapi secara umum, seperti yang saya maksudkan pada kritikan saya, redaktur majalah wanita atau remaja hanya mementingkan karya yang laku, bukan kualitas.

    bhoernomo

    13 Mei 2010 at 10:49

  33. Salam hangat selalu.
    Penulis yang mencoba menjabarkan kelenturan arah gerak imajinitas kreasi dalam sebuah cerpen. Sebelumnya saya ucapkan selamat untuk bung Guntur Alam yang telah tembus ke ranah media Kompas. Sebagai peresensi tentu saja saya turut berbangga hati atas keberhasilan Anda merobek tabir selektivitas cerpen-cerpen yang masuk dalam kabin sang kapten yang di nahkodai redaktur Kompas. Pikiran positif patut di tuangkan untuk memberi penilaian saya yang masih objektif selaku perensensi agar tak melenceng dari bahan cerita. Akan tetapi dari setitik nohtah pemikiran saya, akan sanggup menorehkan sisi renung yang mungkin saja bertolak arah dengan para pembaca budiman yang lainnya.
    Mata Sayu itu bercerita tentang adanya penantian yang banyak sekali kisi janggal dari guratan kalimat yang saling terkait hingga membuat fakta menjadi fiktif. Secara terus terang saya ungkapkan kisah diatas amatlah klise, tak runtun dan hanya sejalan dengan awang pemikiran imaji si tokoh utama yang secara monoton memperhatikan gerak tingkah seorang wanita di dalam Café yang fokus pada abstraksi visualitas fisik sebuah organ yang benama mata. Isinya hampir mencangkup judul( kesesuaian yang terus di kuatkan dari paragrap per paragrap ). Saya juga menilai kisah diatas terlalu sering terlontar di ranah media, meskipun secara lihai bung Guntur Alam mengolah diksi dan ide cerita secara apik dan berbeda dari pengarang-pengarang sebelumnya.
    Singkatnya, cerpen diatas berisi sebuah kisah romantika yang terfokus dari kebersamaan waktu, tempat, dan nuansa hati yang girang dalam balutan cerita pararel. Terungkap dalam sebuah rasa seorang pria yang tertegun melihat sosok wanita yang di lihatnya selama bertahun-tahun di dalam café. Aneh lo bung Guntur! Kalimat dalam paragraf Anda sangat bertentangan dengan fakta yang ada. Ini adalah titik lemah dalam cerpen Anda. Saya tahu, Anda ingin mengungkapkan kisi fiktif tentang Mata Sayu yang Berbicara. Seolah-olah mulut si tokoh utama berinteraksi dengan mata sayu itu dalam sebuah percakapan tentang tanya sebuah penantian si Mata Sayu pada kekasihnya.
    Kita bisa telisik di paragrap tiga yang bertentangan dengan paragrap lima. Diksi cerita yang bagus, tapi ide ceritanya rancu sekali. Kutipan paragrap tiga :“Telah berapa lamakah aku menghabiskan hari-hariku di sini? Tiga tahun, empat tahun, atau mungkin telah lima tahun? Aku sendiri hampir lupa, berapa lama aku mendedikasikan hidupku untuk sesuatu yang disebut pekerjaan dan pastinya, baru kali itu aku melihatnya di sini, di café langgananku”. Kalimat ini bertantangan dengan : “Sayangnya, duga itu harus kubuang jauh-jauh. Berapa lama seseorang mau menunggu kekasihnya menempati janji kencan mereka? Satu hari, satu minggu, satu bulan, atau seperti perempuan itu yang telah tiga bulan setia menunggu di sini. Saban petang saat jam berada di angka empat sampai enam. Ah, tentu ia seorang kekasih yang demikian setia”. Jelas sekali pada awalnya wanita bermata sayu itu menunggu kekasih hatinya selama tiga atau lima tahun, bahkan sampai lupa berapa lama si tokoh utama menghitung waktu tunggu si mata sayu. Loncatan cerita langsung mengejutkan pikiran saya, kok bisa menjadi tiga bulan. Pertanyaan saya :Berapa lamakah sebenarnya si mata sayu menunggu kekasihnya?Tiga bulan? atau tiga bahkan lima tahun?.
    PERBINCANGAN IMAJIS
    Membaca cerita diatas, dari paragrap ke paragrap pembaca akan di pertemukan dengan puluhan daya imajinitas percakapan. Percakapan imajis bisa dari pikiran si tokoh utama yang berbincang dengan mata sayu(Ingat! Interaksi tidak di lakukan secara ‘face to face’). Semua hanya pandangan fiktif tentang MATA SAYU YANG BERBICARA. Berbicara dengan siapa? Tentu saja mata sayu itu hanyalah kiasan yang saya rasa kok aneh ya, seorang pria bisa mengkhayal sebegitu tingginya tentang mata yang sanggup mengungkapkan bahwa sang mata sayu tersebut sedang menanti kekasihnya. Kesan umum pergumulan itu ialah betapa sebuah penantian bisa menimbulkan gerak interaksi verbal yang bersifat abstrak. Saya kira si pria ‘telaten’ sekali mengawasi si mata sayu itu. Ini membuktikan bahwa manusia rindu akan sebuah penantian. Biasanya, sensitifitas indra lebih mengungkapkan kejujuran(terutama mata, jadi bagi para pembaca yang ingin mengetes kejujuran maka lihatlah mata, ini berdasarkan hasil penelitian lo dengan beberapa klein di United State dan United Kingdom). Mata sayu menerangkan kegundahan hati dalam sebuah penantian. Secara imajis timbul perbincangan yang menerangkan Mata Sayu itu seolah-olah berbicara secara imaji dengan si tokoh utama dalam cerita diatas. Mata Sayu di hajar derita dalam sebuah penantian pada sosok kekasih(ingat, yang menilai bukan si mata sayu tapi perbincangan fiktif dari hati si tokoh dengan mengamati mata si perempuan bermata sayu). Memang agak rumit, tapi retorikanya kental sekali dengan penilaian Mata Sayu yang berbicara secara imajis. Ini adalah konsekuensi logis interaksi dalam sebuah perbincangan imajis yang cenderung objektif pada rasa yang didera oleh si tokoh utama saat menatap si Mata Sayu dalam café yang sarat renungan tentang keindahan perasaan yang penuh dinamika akumulatif fiktif.
    MENGAJARKAN KESETIAAN
    Tentu saja nilai morality yang cenderung objektif bisa kita petik dari cerpen diatas. Kesetian yang benar-benar di tekankan pada cerita romantisme dua insan yang saling menanti. Tokoh utama hanyalah sebagai pion dalam percaturan untuk bergerak menyerbu kandang lawan guna menyampaian pesan bahwa penantian itu sangat menyiksa, jarang sekali orang sanggup bertahan dalam sebuah hubungan yang setia( tiadak seperti kaum selebritas yang boming dengan berita perceraian dan nihil kesetiaan, tapi kurang komitmen dalam berkomunikasi saat merentas hubungan). Bung Guntur, terimakasih saya ucapkan pada Anda karena telah memberikan wacana yang bisa menjadi bahan diskusi tentang pentingnya arti sebuah komunikasi(komunikasi di sini adalah Mata Sayu yang Berbicara) dalam merajut benang-benang kesetiaan yang kapan sja biasa sangat ruwet akibat konflik hidup insan manusia.
    Saya menunggu kisah yang lebih bagus lagi dari Anda. Sukses berkarya selalu.

    Tova Zen

    13 Mei 2010 at 17:31

  34. @ Mas Bhoernomo: Majalah Story beredar di seluruh Indonesia. Namun, beredar terbatas di beberapa kota Oh iya mas, kebetulan saya punya 2 buah edisi yang memuat cerpen Cafe Bianglala. Jika berkenan tinggalkan alamat kirim ke emailku. Di edisi 11 Majakah tersebut, juga ada cerpen bagus karya Ramma Renzya (kelahiran tahun 1995).

    Ini petikan paragraf pertama cerpen Ramma Renzya yg berjudul: Perca-perca pelupuk mata Bunda.

    Hari ini ibu ulang tahun! Tapi mata ibu mengandung secerca sendu. Ia duduk di sofa tua, menatap langit-langit. Dari dua bola mata itu tersirat kesedihan sekaligus kerinduan. Ada kepahitan pula di dalamnya. Bukanlah hari ini tak seharusnya demikian?

    Saat membaca paragraf awal, saya berpikir penulisnya adalah penulis dewasa, namun setelah menamatkan bacaan dan melihat bio data penulis, ia masih sangat muda. Sungguh luar biasa.

    Bamby Cahyadi

    13 Mei 2010 at 19:32

  35. Saya sependapat cerpen ini temanya sangat ngepop. Tapi kenapa Kompas mau memuatnya saya kira karena bahasanya yang terjaga dan rapi.

    @Mas Bamby & Mas Bhoernomo:
    Saya awalnya tak sengaja membaca Majalah Story, dipinjam seorang adik dari temannya. Ternyata, beberapa cerpen di dalamnya memang bagus dan menurut saya sudah bernilai sastra. Dan saya kira betul pendapat Mas Bhoernomo, tergantung siapa redakturnya juga. Kalau saya gak salah ingat, redaktur Story Cahya Sadar dan Reni Erina, pengarang yang dulu banyak menulis cerita remaja. Tetapi, tahu siapa redaktur tamunya? Gus TF Sakai! Saya kira, dari tangan Gus TF Sakailah nongolnya cerita-cerita bagus di Story itu. Dari contoh cerpen Dodi Prananda yang dikutip Mas Bamby, saya langsung merasakan aroma bahasa Gus TF Sakai. Gus TF Sakai juga memberikan semacam catatan pendek terhadap beberapa cerpen yang dimuat di Story. Catatan itu terasa ringan, akrab, namun cerdas yang menurut saya tak hanya berguna bagi pembaca, tetapi juga untuk para penulisnya.

    Yanti

    13 Mei 2010 at 20:40

  36. @Bamby: justru musibah klo majalah remaja bisa setara dg kompas. 2 cerpen yg dicuplik itu jg gak ada istimewanya, malah kyknya mendingan punya pacar saya deh (narsis dulu), 1993 juga lho lahirnya, bahkan dia user k.com juga dulunya sama sprti kita, nih contoh cerpennya:

    http://www.kemudian.com/node/232584

    wktu itu bung bamby psti blm kenal.

    S. Raga

    13 Mei 2010 at 20:50

  37. Bos A
    Bacalah komentar saya dan komentar Boss agaar takmengulang-ngulang pertannnyaan…

    Buruh SD

    13 Mei 2010 at 22:36

  38. @BuruhSD
    Apa susahnya sih Pak menjawab ya atau tidak?
    Takut terjebak perkataan sendiri?
    Jangan kuatir Pak, tdk ada jebak-menjebak, saya hanya mau mencari titik temu drpd buang waktu mencari jawaban anda yg berputar2.
    Kalo mmg anda membolehkan saya pny pendapat yg berbeda dr anda ya saya ucapkan terima kasih.
    Salam :)

    A

    14 Mei 2010 at 06:39

  39. Woww, redaktur tamu majalah Story itu Gus TF Sakai??! Padahal, sepertinya saya pernah melihat majalah itu di kota saya, Kotabumi, tapi kok tak merhatiin. Hi hi…. Harus beli nih!

    Ira

    14 Mei 2010 at 08:09

  40. @S Raga: Wah iya, “Dunia Jendela” pacarnya Mas Raga lumayan bagus! Aku suka. Juga puisi-puisinya. Jadi namanya Nihayatun, masih SMA! Apakah gak pernah coba mengirimkan ke koran? Calon pengarang perempuan masa depan…..

    Ira

    14 Mei 2010 at 08:26

  41. @Mas Bamby: Sungguh saya tak menyangka Mas akan bersedia mengirimkan majalah Story itu untuk saya. Terimakasih sekali Mas. Tapi biar saya minta tolong famili saya di Jkt untuk berlangganan dan mengirimkannya kepada saya. Saya ingin mengikuti catatan-catatan Gus Tf Sakai di majalah itu.

    @Yanti: Dulu ada majalah remaja namanya “Zaman” yang juga memuat cerpen-cerpen bagus. Dan redakturnya adalah… Putu Wijaya!
    Saya tahu Cahya Sadar, dulu dia redaktur pelaksana majalah remaja yang lumayan bagus juga bernama “Anita Cemerlang”. Kalau tak salah, waktu itu dia menggantikan posisi Adek Alwi. Gus Tf Sakai, Leila S Chudori, Kurnia Effendi dan banyak pengarang terkenal sekarang dulunya adalah para penulis di majalah “Anita Cemerlang” itu.

    bhoernomo

    14 Mei 2010 at 08:47

  42. kritik itu semua guna membangun kesempurnaan.terpenting dari semua adalah tidak berhenti berkarya meskipun hari kiamat datangnya esok pagi…bravo…..

    didik rowiyandana

    14 Mei 2010 at 10:33

  43. bagus lho

    budi

    14 Mei 2010 at 15:15

  44. Terima kasih atas saran, kritik, dan dukungan yang diberikan kepada saya. Komentar-komentar di forum ini memotivasi saya untuk berkarya lebih baik lagi. Terima kasih banyak. Salam hangat untuk Anda semua :-D

    Guntur Alam

    15 Mei 2010 at 07:04

  45. Buat bung Tova Zen, terima kasih atas koreksinya. Semoga saya akan mampu menjawab tantangan Anda: Memberikan karya yang lebih baik untuk Anda baca. Salam hangat … :-)

    Guntur Alam

    15 Mei 2010 at 07:07

  46. Salam Hangat Selalu,
    Perdebatan yang menarik sekali. Saya sedikit beropini tentang saudara-saudara yang riuh sekali dalam berdiskusi di forum ini.
    @Bung Buruh SD.
    Saya membaca komentar dari tulisan Anda di lembar cerpen berjudul Raja Kuru, Written by: Yanusa Nugroho. Saya akan beropini di lembar ini untuk Anda, sekaligus menjawab tulisan Anda di lembar ini tentang perlunya penilaian cerpen dan perlunya kritik.
    Saya jadi teringat ungkapan penulis Perancis, Stendhal (1783-1842) : ‘Hanya pola pikir yang luas mampu memiliki gaya yang mahal’. Setiap pemikiran karya yang tertuang dalam bentuk catatan mulai dari goresan tulisan di bukit batu, prasasti, daun lontar, kulit pohon, kertas(koran) ,buku(diary, resensi, makalah, majalah, tabloid dst) hingga ke ranah elektronik dunia maya. Semua itu di nilai sebagai tingkat perkembangan peradaban zaman, romantika, kenangan, fiksi hidup, kemoderenan hingga tapak jejak sejarah insan manusia. Tulisan bisa berupa pula firman Sang Maha Kuasa yang paling baik nilainya. Dari sini jelas sekali bahwa karya tulisan itu ada nilainya. Apakah nilai itu? Siapakah yang menilai? Kenapa harus dinilai?(Jangan di tonjok dong, jika seseorang menilai buruk karya tulisan orang lain). Semua itu harus ada sebagai tolak ukur urat budaya hadirnya suatu peradaban.
    Nilai itu berupa: baik-buruk, jelek-bagus, jempol-kelingking, datar-bergelombang, kecewa-bangga, klasik-kuno, basi-wangi, baku-lugu, lucu-aneh, senang-sedih, klise-anyar, imajis-biasa, tinggi-rendah, rapuh-kuat, kejam-murah hati, kelam-terang, menyentuh- keruh, menitikkan air mata-membosankan, menginspirasi-perlu dikoreksi, dan banyak sekali tolak ukurnya bung. Semua itu bisa ditelisik berdasarkan nilai pada plot cerita, ide cerita, tema cerita, diksi bahasa, karakter tokoh-tokoh, setting tempat, bahkan nilai dari sastra lokal dan sastra asing.Tentu juga bisa di ukur berdasarkan nominal angka(di sini jelas sekali angka yang tinggi menunjukkan nilai yang bagus, tentu berdasarkan kriteria di atas). Untuk blog dalam forum ini, penilaian cerpen di hasilkan dari hadirnya pengunjung blog, lantas mengomentari cerpen hingga bintang secara bertahap berkurang nilainya(jika setiap pengunjung suka dan merespon bagus, maka bintang akan bertambah).
    Saya mengerti yang Anda keluhkan, Anda menginginkan setiap orang agar menghargai karya dan tak perlu membanding-bandingkan berdasarkan ‘nilai’. Memang betul nilai itu bersifat subjektif sekali, masing-masing komentator bisa menilai baik buruknya suatu karya yang penulis tuangkan. Pertama, setiap individu punya rasa yang berbeda-beda dalam setiap penilaian. Kedua,Setiap individu punya tolak ukur yang berbeda dalam menilai karya( ada yang suka majas, ada yang suka cerita dengan bahasa mudah di cerna, ada yang suka ide yang menyentuh, ada yang suka horor, ada yang suka cerita detektif dst). Semua kembali ke pola pikir masing-masing individu untuk mengungkapkan isi otak dan isi kalbunya. Sesuai kutipan penulis Perancis diatas, hanya pola pikir yang luas yang mampu memiliki ‘style’ yang mahal. Seorang yang intelek tentu akan menilai cerpen dengan intelektualitasnya, berbeda terhadap orang yang ‘buta’ pengetahuan. Seorang yang peka perasaannya, tentu akan menilai cerpen berdasarkan kepekaan perasaannya, berbeda dengan orang yang tidak peka. Seorang yang tinggi moralnya/agamis tentu akan menilai cerpen tentang moralitas dan kalbunya. Seorang penulis akan berbeda pola pikirnya dengan pembaca, sama halnya dengan seorang pendengar akan berbeda pola pikirnya dengan pembicara. Mungkin kekesalan bung Buruh SD di dasarkan atas penjurian cerpen dalam satu pihak(bisa dari pihak juri saja, pihak kritikus, maupun penilaian dari pihak pembaca budiman). O, cerpen A masuk kumpulan terbaik, si B juga masuk, tapi si C tidak, malah si D jelek sekali cerpennya? Bahkan bung Buruh sampai berkata agar semua cerpen itu dianggap layak muat semua, atau bagus semua, sehingga penilaian itu hilang.
    Jika ingin menjadi penulis yang baik tentu harus mampu menjadi pembaca yang baik (membaca tentang keluhan, kritikan, hujatan, bahkan cacaian dari pembacanya). Seorang pembicara/public speaking yang baik tentu harus bisa menjadi pendengar yang baik(mendengarkan keluhan, kritikan, cacian dari pendengarnya/audience). Semakin luas pola pikir seseorang maka semakin mahal gaya pemikirannya tentang produk apa saja.
    Saya punya analogi ( cerpen kita analogikan pemimpin dan saya kutip dari tulisan Anda di lembar blog cerpen Raja Kuru dengan mengganti kata ‘cerpen’ menjadi kata ‘pemimpin’). MAKA: “Pemimpin religi, pemimpin kelamin, pemimpin PKI, pemimpin liris, pemimpin realis, pemimpin surealis, pemimpin pop, pemimpin sastra, pemimpin konvensional, pemimpin kontemporer… itu juga pembedaan yang ngawur! Semua pemimpin sama dan harus diterima!”
    Apakah Anda menginginkan hilangnya suatu penilaian tentang karakter sosok pemimpin?. Kita ambil contoh Hittler, Musolini, Stalin yang punya penilaian baik dan juga buruk. Jelas sekali mereka pemimpin yang baik dalam berorasi, pintar mempengarui masa, cerdas dalam taktik, baik bagi kaum Nazi,komunis. Akan tetapi buruk nilainya dari sisi moral, karena kejam, sadis, dan bengis terhadap musuh-musuhnya, hingga di kecam sebagai nilai buruk manusiawi dan peradaban. Apakah Harus di terima? Tak perlu dibandingkan? . Cerpen pun saya rasa harus ada penilaiannya.
    Di kehidupan ini pasti ada penilaiannya bung, termasuk baik buruknya nilai manusia di mata Tuhan. Jadi, saya sedikit resah tentang opini Anda yang menyamaratakan penilaian(lebih khusus penilaian cerpen). Berarti Anda tak menginginkan adanya suatu koreksi/perbaikan(dalam agama koreksi bisa berupa pertaubatan). Kritikus hadir karena perlu ada yang di koreksi dari cerpen yang tertuang dalam tulisan(tergantung dari pola pikir kritikus masing-masing yang menilai dari sudut pandang yang berbeda-beda). Saya jadi salut dengan orasi Anda di forum ini. Setidaknya Anda seorang yang intelek, oleh karena itu Anda menitikberatkan kesepahaman pandangan Anda sendiri yang menuntut setiap cerpen harus diapresiasi BAIK. Itu benar bung! Orang yang bijak adalah orang yang bisa menghargai karya orang lain, kalaupun ingin mengkritik harus bisa menunjukkan kelemahan karya itu di bagian mana, agar terjadi koreksi bagi penulis itu sendiri. Anda jangan menghakimi pendapat pembaca yang menganggap JELEK suatu cerpen. Itu hak pembaca. Atau JELEK menurut juri, sementara Anda dan pembaca merasa cerpen itu bagus. Itu hak juri berdasarkan pemikiran mereka. Mari bung, kita sama-sama belajar jujur dalam menilai suatu karya. Saya yakin masih banyak ide-ide yang menarik di sekitar kita untuk jadi bahan tulisan berupa kisah fiktif maupun fakta. Salam hangat selalu untuk Anda.
    Terimakasih untuk Tukang kliping, Anda bijak sekali mengomentari opini bung Buruh SD di lembar blog Raja Kuru.

    Tova Zen

    15 Mei 2010 at 08:30

  47. ‘Nguplek’ di dunia olahraga bikin saya jadi kuper di kalangan penulis fiksi ya. Baru tahu juga kalau (M) Cahya Sadar (Syaifuddin Darmakusuma) itu di Story. Kawan waktu sama-sama nulis cerpen anak-anak di Kawanku bersama Leila, Mas Satmowi (Si Kidal yang legendaris), dan beberapa lagi yang sudah agak lupa. Salam.

    Aba Mardjani

    15 Mei 2010 at 18:44

  48. @Tova Zen: 1.Anda sekarang lebih obyektif.
    2.Sudah saya jlaskan ke tukanh kliping.
    3.Adakah cerpen besar karena kritik? Kematian HB Jassin tidak mematikan seni (cerpen), lihat saja sekaranga. Kematian majalah/koran cerpen juga tidak mematikan cerpen. Cerpen tetap ada walau banyak pelaku yang mati.
    Akan ada yang menggantikannya semasih ada manusia bermimpi dan suka mimpi. cerpen kelamin tidak mati karena dikritik, cerpen PKI tidak mati karena dipenjara dan ditembak mati.

    Buruh SD

    16 Mei 2010 at 00:26

  49. Kritik cerpen hanya memebesarkan kritik itu sendiri. dilihat dari nasabnya saja sudah berbeda, satu fiksi satu nonfiksi. Kritik hanya menyebabkan hiruk pikuk, maka banyaklah orang melirik. Macam SBY tebar pesona maka banyak orang yang suka. Demiian sedikit, maaf tak sempat berpanjang-panjang

    toelakaN@Pacitan

    16 Mei 2010 at 00:33

  50. @BuruhSD & toelakaN
    Kritik itu pada dasarnya kan cuma salah satu dr dua bentuk apresiasi?
    Ada yg memuji, dan ada yg mencela.
    Itu saja.
    Tidak ada yg melarang sih kalo anda mau mengkaitkan kritik dengan tujuan tertentu, semisal: “MEMBUNUH CERPEN”, spt ditulis Pak Buruh.
    atau “membesarkan kritik itu sendiri” dan “tebar pesona”

    Tapi pertanyaannya: Kritikus mana yang pernah berniat “MEMATIKAN” cerpen?
    Sekali lagi saya lihat Pak Buruh dan sdr toelakaN lebih mengutamakan sisi negatif kritik dibanding MANFAATNYA.

    Ada karya seni, sudah pasti ada apresiasi.
    Suka atau tidak suka, apapun tujuannya.
    Tergantung dr sudut mana pikiran anda berdua mau melihat, negatif atau positif?

    Jangankan kritik, pujian saja punya banyak sisi negatifnya kok.

    A

    17 Mei 2010 at 07:07

  51. karya dan kritik emang akan selalu berdampingan.

    A

    27 Mei 2010 at 09:09

  52. Maaf, komen tgl 27 Mei 2010 jam 9:09 BUKAN dibuat oleh saya.
    Masih banyak huruf lain dlm alfabet yg bisa dijadikan nick shg tdk menimbulkan kerancuan. Terima kasih.

    A

    27 Mei 2010 at 10:05

  53. jika memang cerpen Indonesia tak perlu dikritik, kalo begitu tak usah ada pemilihan cerpen trbaik Kompas atau Pena kencana dll. Di luar sana saja ada pemilihan artis terburuk,ini supaya mereka bisa menjadi lebih baik di tahun mendatang. INGAT !! Tak ada cerpen yang tak retak.

    seoula

    28 Mei 2010 at 09:35

  54. Apakah memang di forum ini harus kita isi dgn keberagaman pendapat seperti yg pernah diutarakan saudari Indarti ?
    Memuji cerpen bisa beragam. mungkin ada yg memuji cerpenx karena suka diksinya, mungkin ada yg bilang hebat karena temanya baru, karena tekniknya baru dan unik, sebab gaya bahasax baru dan unik, kagum karena penulisnya baru, atau mungkin ada yg suka karena mau sama penulisx…Wkkk……….
    Atau memang harus diisi dengan senang atau tidak senang atau netral barangkali? Atau masih adakah yg lain?
    Haruskah cerpen itu dipuji-puji saja tak perlu dikritik atau disuka

    Hatare

    29 Mei 2010 at 21:10

  55. rupanya benar pula yang dikatakan lakon hidup, dibawah ini.

    Saya, sejujurnya, kadang heran saja dengan ungkapan-ungkapan yang ‘menghakimi’ sebuah karya orang lain sementara sang ‘hakim’ sendiri belum menghasilkan karya yang lebih baik alias baru sebatas penikmat. Lebih heran lagi jika sang ‘hakim’ itu tidak mencantumkan identitas sebenarnya alias berlindung di balik ‘simbol’ tertentu.
    Memberi kritikan adalah sah-sah saja, toh sifatnya sangat subjektif orang per orang, tapi mbok ya sambil bercermin diri saat menggoreskan kritikan itu. Ya, sedikit memiliki rasa ‘malu’ dan ‘penghargaan’ atas kerja keras seseorang, saya kira, jauh lebih bijak.
    Lebih heran lagi jika sang ‘hakim’ itu tidak mencantumkan identitas sebenarnya alias berlindung di balik ‘simbol’ tertentu.

    nah, di kalimat ini.
    Saya sih menghargai hak anda untuk beritikad tidak baik…
    jelas tampak sekali anda menghakimi.
    saya kira semua orang sudah tahu tentang betapa pengecutnya anda.
    jadi ini kali terakhir saya menanggapi anda, sebab saya tidak mau terjebak oleh debat kusir yang percuma dan tidak cerdas.

    A

    8 Juni 2010 at 14:53

  56. Jika anda mengutip komen bung lakonhidup, anda tentunya membaca jg jawaban saya utk beliau.
    Jika mmg ada itikad baik, tentu jawaban anda tdk akan seperti di atas.
    Selama ini sudah jelas sekali apa itikad anda.

    Maaf, banyak jalan yg bisa ditempuh utk menyelesaikan hal ini, tp tampaknya anda hanya tertarik untuk memaki2 saya sbg pengecut saja.
    Saya kira semua orang sudah tahu siapa pengecut sebenarnya di blog ini.

    A

    8 Juni 2010 at 15:14

  57. senangnya mendapat kritikan sebanyak ini, semangat trus cerpenis2 baru Indonesia! :)

    Puteri

    19 Juni 2010 at 17:29

  58. Artikel yang hebat, mudah2an bermanfaat bro. thanks

  59. mataku ikut sayu gara2 mata sayu… :)

    bisyri

    31 Agustus 2010 at 05:11

  60. hmm ceritanya bagus banget, waktu baca cerita ini dari kata kekata yang lain, penuh dengan penghayatan…kata-katanya indah tapi bermakna..:)

    Dedi Hardianto Putra

    11 Januari 2013 at 11:41

  61. Hebat

    Aryasuteja

    4 Oktober 2013 at 16:47


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.568 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: