Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Orang Bunian

with 46 comments


”Masih adakah orang bunian itu, Ayah?”

Si lelaki mengalihkan pandang, menatap nanap ke mata putrinya. Mata yang bertahun-tahun berusaha ia kenali, tapi selalu ada kabut yang menutupi. Mata sejernih itu. Mata sebening itu. Ada cerlang pagi, sibak matahari mulai naik, di dalamnya. Tapi cuma sebentar, sangat sebentar, sebelum gumpal kabut turun, merendah dari bukit-bukit, menebal menghalangi pendar.

Lalu dunia bagai dibelah. Lapis atas dan lapis bawah. Lapis atas, dunia di balik kabut itu, semata rahasia, kesenyapan, tempat yang entah kenapa dalam kepalanya hanya terhampar malam dan bintang-bintang. Sementara lapis bawah, ia lihat dirinya dan teman-temannya, para pemburu, bersama anjing-anjing yang menghambur dan menyalak, berlarian mengejar babi hutan yang mendudu, melanda semak atau belukar atau apa pun, terhosoh-hosoh ketakutan.

Tapi, sebetulnya, dunia lapis bawah itu juga tak semata terang. Ada banyak ceruk, lembah, dan lakuak (bahasa mereka untuk menyebut lembah-lembah kecil di antara undukan bukit) yang bila ditempuh akan menangkup lebat dedaun dan akar, menghalangi rembes rambat cahaya, menjadikan mata mereka seolah buta, tak bisa mengenali atau melihat apa-apa, menyerahkan arah hanya pada naluri atau krosak langkah dan gerung salak anjing-anjing mereka. Dan, sebetulnya pula, di lapis bawah ini, bukannya tak ada apa yang ia sebut rahasia.

Di tengah gelap ceruk, kelam lembah atau lindap lakuak, bisa saja tiba-tiba terbentang dunia terang. Dunia yang semua daun adalah bunga dan semua bunga adalah cahaya. Pohon-pohon meliuk, reranting berjalin, membentuk kubah dan pilar-pilar. Di situlah singgasana, alam jihin dan lelembut, dunia orang bunian. Tapi saat bertemu orang bunian, mereka tak boleh menyebut apa-apa. Karena jika bicara, siapa pun akan terbawa, tertawan, hidup selamanya di dunia orang bunian.

***

Dunia di balik kabut, dunia mereka para pemburu, dan dunia orang bunian baginya adalah dunia sendiri-sendiri. Ketiganya punya dan berjalan dalam ruang waktu masing-masing. Bahkan bagi ninik mamak, tetua kaumnya, setiap alam yang berbeda dikatakan samo manjago (saling jaga). Dan sebagai keturunan para peladang yang tak asing dengan hutan, dunia jihin dan lelembut, sebetulnya, tentu pula baginya biasa. Berbeda dari teman-temannya, para pemburu lain, yang kebanyakan datang dari kota-kota kecil di sekitar.

Teman-temannya itu, bisa juga dibilang, berburu lebih karena kesukaan. Di kepala mereka tak ada istilah hama babi kecuali gelak tawa, keriangan. Anjing-anjing mereka, sangat berbeda dari anjingnya, adalah anjing-anjing yang bersih, gagah, dan terpelihara. Anjing-anjing yang, seperti halnya juga tuan mereka, di matanya kadang terasa ganjil. Seolah tampak: mereka bukan bagian dari alam ini. Bukan bagian dari hutan ini. Dan, bila begitu, tidakkah sebenarnya teman-temannya bukan bagian dari lapis bawah, tempat di mana dirinya juga berada, salah satu dari tiga dunia?

Tetapi sebetulnya, bukan hanya antara dirinya dan teman-teman pemburu dari kota-kota kecil sekitar itu saja yang tampak berbeda. Antara dirinya dan teman-teman lain yang juga peladang dan sama berburu babi karena alasan hama pun kadang tak seperti dipikirkannya. Tapi memang begitulah mereka. Antara satu suku dengan suku lain selalu tak sama. Bahkan satu suku tetapi lain tempat bisa berbeda. Mereka menyebut, lain lubuk lain ikannya. Entah itu keyakinan entah pantangan, entah itu anjuran entah larangan. Tentang orang bunian itu misalnya.

Semua percaya, jika bertemu orang bunian mereka tak boleh bicara. Tapi akan ada pemburu, teman-temannya dari suku lain, yang menyertai dengan pantangan. Pantangan yang juga akan tak sama. Ada yang berpantang membawa apa pun peralatan berbuhul rotan, ada yang tak boleh rebahan di antara dua munggu. Ada yang kembali pulang jika melihat binatang dengan tingkah tertentu, ada yang dilarang menggauli istri pada Jumat malam sebelum berburu. Dan ia merasa senang (atau lega?) tak menerima pantangan apa pun dari tetua kaumnya kecuali menjaga apa yang mereka sebut sumangaik.

Bila ia membagi dunia jadi tiga, tiga bagian pulalah tetua kaumnya memerikan tubuh. Ada jasad, sesuatu yang jelas terlihat, ada ruh yang menghidupkan jasad. Yang ketiga, seperti ruh yang tak terlihat tapi serupa jasad yang hubungannya nyata dengan dunia, itulah sumangaik. Seseorang jadi gila atau pindah ke lain dunia, semisal dunia orang bunian, sumangaik merekalah yang sebenarnya hilang atau terbawa. Seseorang disantet, tasapo (bahasa mereka untuk menyebut orang yang diganggu makhluk halus), dipelet atau diguna-guna, sesungguhnya, sumangaik merekalah yang diambil ditarik pergi dari tubuh mereka. Dengan keyakinan demikianlah, selalu, ia tak pernah ragu memasuki hutan. Seperti halnya juga di hari itu.

Sebenarnya, hari itu pagi yang cerah. Semua tanda alam yang sangat ia kenali, sejak malam sampai dini hari, menunjukkan besoknya siang bakal cemerlang. Malam dingin, udara seperti parutan es, dan bumi bagai merembeskan air dari pori-pori tanah. Ia tahu, itulah saat di mana babi-babi melekap lama, menyuruk dalam ke kehangatan sarang, dan buru-buru keluar begitu subuh menjelang. Waktu yang pendek, jangka yang seketika, saat kabut terangkat dan embun dilibas matahari tiba-tiba, babi-babi masih akan berada di perlintasan. Itulah saat yang tepat. Mereka menyebutnya bakutiko: babi-babi masih berkeliaran saat mereka pas tiba di hutan.

Jarang sekali mereka bisa memilih buruan. Tapi hari itu sungguh istimewa. Ada empat ekor babi yang mereka lihat di perlintasan, dan mereka memilih yang gemuk, betina, besar, seekor induk muda, untuk mereka giring ke lembah. Saat si babi telah mengarah dan masuk ke jalan setapak yang mereka inginkan, anjing-anjing pun mereka lepaskan. Dan begitulah anjing-anjing segera menghambur, memburu. Dan, seperti para anjing itu, mereka pun ikut berlarian menerobos jalan pintas mengikuti perburuan anjing-anjing. Itulah saat paling riang, paling tegang, sekaligus paling heboh dalam berburu. Karena masing-masing mereka, selain bersorak, juga akan berteriak, mengabarkan segala apa yang mereka lihat kepada para pemburu lain yang mengepung dan memintas dari arah lain.

”Hoooiii, dia mengarah ke lakuuuaakk!”

”Pinggulnya dikoyak Si Puncooo!”

”Pintas dari Bukit Buraaaii!”

Punco adalah nama salah seekor anjing mereka. Dan rupanya anjing itu berhasil melukai si babi dan si babi lari ke lakuak. Bukit Burai adalah undukan beberapa bukit kecil di hutan itu. Bila mereka tak ingin kehilangan jejak karena banyaknya lakuak, memang, mereka harus memintas dari bukit itu. Sebelum si babi mencapainya, mereka harus menghadang lebih dulu.

Dan, saat itulah tiba-tiba lindap. Tiba-tiba gelap. Entah dari mana, gumpal kabut bagai muncul begitu saja. Apakah bukan kabut? Pada saat cuaca begitu cerah! Semua bunyi, semua suara, juga jadi senyap. Tak ada teriak, riuh sorak teman-temannya. Tak terdengar salak, hondoh-posoh anjing-anjing mereka. Ia, tiba-tiba, juga merasa seolah sendiri. Padahal sebelumnya ia yakin ada beberapa teman mengikutinya. Apakah karena gelap?

Ia memanggil, tapi tak ada jawaban dari teman-temannya. Ia berteriak, tapi yang membalas hanya gema sunyi suara sendiri. Apakah teman-temannya telah memilih jalan pintas lain? Mengandalkan naluri, ia teruskan langkah mengira arah ke Bukit Burai. Entah seratus meter, entah dua ratus meter, saat tiba-tiba kembali terang. Secepat hilang, secepat itu pula kembali benderang. Butuh beberapa detik baginya mengenali sekitar, sebelum kemudian merasa asing. Dunia di sekelilingnya, betapa indah. Pepohon besar melengkung seperti kubah. Akar-akar membelit, menjalin, seperti tirai berbaku-pilin. Di antara itu semua, dedaun merumbul dikepung bunga. Beberapa kuntum mencuat, mendongak, bagai berkilau karena cahaya.

Entah berapa lama ia terpana. Saat sadar, dadanya berdesir: dunia orang bunian?

Kesadarannya sebetulnya belumlah lengkap, belum sempurna, saat lamat- lamat ia dengar suara: orang merintih?

Dan, tak butuh lama untuk mencari. Tak jauh darinya, di belakang salah satu pohon yang melengkung itu, sesosok tubuh tersender ke sebongkah batu. Dan betapa ia sangat terkejut. Seorang perempuan! Perempuan muda. Merintih. Mengerang. Seperti terluka. Sebelah tangannya membekap pinggul, sebelah yang lain memegang akar menahan tubuh agar tak jatuh. Memang, di belakang batu itu menganga jurang.

Belum sempat ia melakukan apa- apa, sesosok lain bergerak, merangkak keluar dari semak-semak. Dan betapa ia lebih terkejut. Bayi! Seorang bayi!

Ia akan melangkah, bergegas hendak menolong ketika matanya terarah ke bekap tangan si perempuan. Luka itu! Sobek itu! Pinggul babi yang dikoyak Punco! Kembali ia sadar. Awas pada diri. Sumangaik.

Entah berapa lama ia tak bersuara. Hanya memandang si perempuan yang merintih minta tolong dan sosok bayi yang merangkak ke arahnya. Tiba-tiba, sayup, tapi makin lama semakin jelas, ia dengar suara itu: sorai-sorak, hondoh-posoh, gonggong salak. Dari ketinggian tempat ia berada, ia bisa melihat mereka: teman-temannya, bersama anjing-anjing yang menghambur, memburu, mengejar seekor babi yang tampak telah terluka.

Segera ia sadar. Ada yang salah.

Saat ia bergegas, si perempuan telah melorot. Tangannya tak lagi berpegang pada akar dan tubuh itu terguling, meluncur ke dalam jurang.

Lama ia terpaku. Dadanya sesak napasnya memburu. Di bawah, sedepa di depan kakinya, si bayi mendongak, menatapnya dengan mata itu. Mata itu. Mata yang bertahun-tahun—sampai remaja—berusaha ia kenali, tapi selalu ada kabut yang menutupi.

***

”Masih adakah orang bunian itu, Ayah?”

Si lelaki bagai tersadar, mengerjap-ngerjapkan mata, menarik tatapan dari mata putrinya. Mata sejernih itu. Mata sebening itu. Menahan desah, dialihkannya pandang. Lihatlah kini semua berubah. Bukit Burai bagai tak lagi ada, berganti dengan undukan-undukan tanah pribadi; pepohon bertinggi sedang yang teratur dan tertata dan vila di sana-sini.

Tiga dunia; dan tiga bagian tubuh, di manakah kini berada? Kalau saja ia seorang asing, seorang yang darahnya bukan tertumpah di tanah ini, ia yakin semua akan berlalu dalam lupa. Tak akan ada tempat, bahkan walau tempat itu sesal terbesar dalam hidupnya. Ia ceritakan semua pada putrinya. Perburuan, teman-temannya, anjing-anjing, babi-babi, dan terutama orang bunian. Tapi, tak pernah sanggup ia bercerita tentang seorang ibu muda yang terluka, merintih, mengerang, yang ia biarkan mati meninggalkan anaknya.

”Ayah?”

Sekilas, kembali ia menatap ke mata putrinya. Tetapi kabut itu, tiga dunia itu, bagai deras menolak, mendorong ia balik ke alam nyata: segala yang terbentang di hadapannya. Undukan-undukan itu, pepohonan yang teratur, vila-vila, Bukit Burai yang berubah. Terbayang pula ladang mereka, ladang-ladang penduduk sekitar dan kaumnya, yang telah jauh pindah ke lembah. Orang bunian itu, masih adakah? Sangat ingin ia menjawab: Tidak. Tetapi, lirih, mulutnya berkata, ”Masih.”

Payakumbuh, 15 Maret 2010

About these ads

Written by tukang kliping

25 April 2010 pada 09:21

Ditulis dalam Cerpen

Dikaitkatakan dengan

46 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Dua jempol!!

    Yanti

    26 April 2010 at 10:35

  2. Tragis banget. Gak kebayang betapa menyesalnya si tokoh cerita saat sadar perempuan dan si bayi itu ternyata bukan otang Bunian ya? Cerpen yang bagus….

    mala

    26 April 2010 at 10:52

  3. bagus

    riska

    26 April 2010 at 10:56

  4. kok terbitnya telat.hehehe…tp bagus og cerpennya

    Budi Setiyarso

    26 April 2010 at 11:57

  5. Menurut saya inilah lelebihan Gus Tf Sakai: Ia menguasai segala macam teknik penceritaan, baik realis maupun surealis. Kita bisa membaca surealis yang liar dalam cerpen “Boneka”, surealis yang kelam dalam “Belatung” ataupun surealis yang lugu dalam “Ulat dalam Sepatu”. Sedang untuk realis, kita bisa membaca realis yang sederhana dalam “Kaki yang Terhormat”, atau realis yang dingin dalam “Tukang Cukur”, dan dalam cerpen “Orang Bunian’ ini mungkin bisa disebut sebagai realis yang muram. Dan segala macam teknik atau bentuk penulisannya ini, bisa berbeda, menurut saya karena ia menyerahkan sepenuhnya kepada karakter cerita. Dengan menguasai segala macam teknik, saya yakin saat menulis ia tak lagi direpotkan atau berpikir tentang teknik. Teknik datang sendiri menyesuaikan diri dengan karakter cerita. Dan itulah sebab kenapa setiap cerpennya bisa berbeda, tidak mengulang-ulang atau menjiplak karya dia sendiri sebelumnya. Penyakit pengarang-pengarang terkenal, yang membuat dia akhirnya habis atau membuat kita bosan, karena kita mendapati bahkan hampir hapal cara berceritanya karena dia selalu mengulang teknik atau cara bercerita yang sama.
    Salut untuk Gus Tf Sakai.

    bhoernomo

    26 April 2010 at 12:11

  6. Bener, Mas Bhoernomo. Cerpen yang bagus, lebih bagus dari “Kaki yang Terhormat”.
    Gimana nomer HP yang aku berikan? Sudah jadi ngontak beliau? :-)

    Ira

    26 April 2010 at 14:23

  7. terlihat sekali kematangan dalam bercerita. Cerita ini diangkat dari kebiasaan berburu babi di Sumatera Barat dan dikaitkan dengan mitos lokal tentang orang bunian, dan sebagai hasilnya sebuah kritik terhadap kerusakan lingkungan yang diakibatkan merosotnya nilai2 filsafat timur di mana manusia dan alam adalah sebuah kesatuan. Namun terlebih dari itu kisah ini mengatakan bahwa terkadang kita turut andil dalam sebuah kerusakan terhadap lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Ik

    26 April 2010 at 18:50

  8. sebuah cerpen yang membuat saya begitu terhikmat. antara kemisteriusan orang bunian dengan pertanyaan: “masih adakah orang bunian itu ayah?” hmmm, salut banget buat Gus Tf Sakai.

    oei hendry

    26 April 2010 at 22:10

  9. Terus terang judulnya terlalu biasa, coba lakukan googling, maka orang bunian banyak tertera di sana. Tapi, kalo isi cerpen, siapa sih yang meragukana Gus Tf sakai???

    Bamby Cahyadi

    26 April 2010 at 22:51

  10. Selamat bagi “Kaki yang Terhormat” milik Gus Tf Sakai yang masuk dalam gerbong Cerpen Kompas Pilihan. Selamat juga kepada teman-teman lain yang terpilih. Moga menjadi inspirasi… AMIN.

    Hasan Al Banna

    27 April 2010 at 09:19

  11. @Ira: Terima kasih Mbak Ira, saya baru tahu Mbak Ira (karena saya menunggu dari Mas Bamby, he he) memberikan nomer HP Gus Tf Sakai di komentar cerpen R Yulia kemarin. Nanti saya akan mencoba kontak.
    @Mas Bamby: Apa maksudnya “googling” ya? Maafkan wawasan saya yang cetek sehingga tak tahu :-)

    bhoernomo

    27 April 2010 at 10:01

  12. Tau gak, dulu saya nyangka Gus tf Sakai itu cewe, hehehe….

    Yanti

    27 April 2010 at 10:04

  13. Loh, kok bisa nyangka cewe?! Apakah yanti tak pernah membaca buku atau biodata Gus TF sakai? Kan ada fotonya juga di situ. Cowo. Aku pernah ketemu di Pekanbaru tahun 2005 saat Kongres Cerpen. Beliau botak, tapi keren, he he (jarang lelaki botak yang keren :-)

    @Mas Bhoernomo: Terima kasih juga Mas. Lebih berterima kasih lagi kalau Mas mau ngabari aku apakah nomer itu masih aktif atau tidak :-)

    Ira

    27 April 2010 at 10:26

  14. Kalo aku kira dulu, waktu pertama-tama baca karya Gus Tf sakai, kukira penulis dari Jepang hehe…

    @ Boernomo: googling, maksuku kalau kita nyari di situs paman google hehe dengan kata kunci orang bunian.

    Bamby Cahyadi

    27 April 2010 at 12:32

  15. Seperti biasa, Da Gus menghadirkan sesuatu yang lain dalam tiap cerpennya. Dan setiap akhir sebuah cerita, selalu menyisakan banyak perenungan.

    Saya bertemu terakhir kali saat bedah buku puisinya “Akar Berpilin” di Jakarta beberapa bulan lalu.

    Melvi Yendra

    27 April 2010 at 15:14

  16. keren.

    kunto

    27 April 2010 at 19:52

  17. @Ira:
    Tentu sekarang saya tau Gus TF Sakai itu cowok. Maksud saya dulu, waktu saya mulai suka membaca cerita yang disebut sastra dan cuma di koran-koran atau majalah gak ada foto dan biodatanya. Saya juga gak tau kenapa punya kesan gitu. Mungkin karena cerpen-cerpen Gus TF Sakai yang saya baca waktu itu banyak bertema perempuan. Atau mungkin karena bahasanya yang sangat rapi, indah dan lembut (bahasa kok lembut, he he). Mungkin pula ada satu sebab lain Ira, sebab yang mungkin bisa dinilai aneh juga. Saya kok gak begitu suka sama cerita-cerita bertema perempuan yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan perempuan yang seperti Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu, dll yang disebut pembaharu atau sastrawan zaman reformasi itu. Kok saya merasa cara bercerita mereka terlalu kasar. Beda sama Gus TF Sakai yang ternyata malah cowo tapi kok saya senang. Hehehe……

    Yanti

    28 April 2010 at 09:21

  18. Oo begitu, hehe… Kok kita sama ya Yanti? Aku juga kurang suka karya-karya Ayu Utami atau Djenar. Kalau Dee agak lumayan. Aku sukanya malah karya Dorothea Rosa Herliany yang cerpen-cerpennya ditulis sebelum zaman reformasi. Tokoh-tokoh perempuan yang dia gambarkan juga perempuan-perempuan yang melawan dominasi laki-laki namun terasa lebih jujur, tidak berlebihan atau dipaksakan sehingga lebih hidup dan dekat banget dengan masalah kita, terutama kalau dia bercerita tentang perempuan sebagai istri/dalam keluarga. Namun sayangnya aku tak pernah lagi membaca cerpen-cerpen Dorothea Rosa Herliany. Dia lebih banyak menulis puisi.

    Ira

    28 April 2010 at 14:17

  19. Wah sama sama sama juga, Ira! Saya juga suka cerpen-cerpen Dorothea Rosa Herliany. Saya punya buku cerpennya “Perempuan Yang Menunggu” saya baca berkali-kali. Dia masih menulis cerpen kok, beberapa waktu lalu saya baca cerpennya di Suara Merdeka. Tentang seorang perempuan/istri juga, bagus!

    Yanti

    29 April 2010 at 08:06

  20. @Mas Bamby: Terima kasih pengetahuan tentang googling, Mas Bamby. Hehehe…
    @Ira: Saya belum coba kontak Gus Tf Sakai. Seperti Mbak Ira, saya juga masih ‘takut’. Kalau sudah, pasti nanti saya kabari :-)
    @Mas Melvi Yendra: Saya juga suka puisi-puisi Gus Tf Sakai tapi tak/belum menemukan buku “Akar Berpilin” itu di TB Gramedia. Di mana bisa kita peroleh ya Mas?

    bhoernomo

    29 April 2010 at 08:21

  21. Salam hangat selalu,
    Ramai sekali hari ini. Komentar yang bagus dari para ‘author’ maupun para pembaca budiman. Saya cukup terkesan dengan ide cerita. Untuk diksinya saya lira masih bagus karya-karya bung Gus tf Sakai yang lain. Sungguh saya mendapatkan wawasan orang bunian. Saya setuju dengan opini saudara Bhoernomo bahwa cerita yang di usung surealis di gabung denga realis( hmmm… ada realita ada juga abstraksi.Akan tetapi saya masih kurang menerima esensi cerita di atas. Kalau di suruh membanding-bandingkan karya-karya bung Gus tf Sakai, saya paling suka cerita JEJAK YANG KEKAL.Dalam jejak yang kekal saya menemukan pengetahuan yang dapat saya terik tentang revolusi manusia. Cerianya bagus sekali, tapi untuk cerita di atas saya masih menyangkan diksi bahasa. Salut untuk Anda bung. Cerita anda bermuatan proton dan neutron yang bisa menimbulkan signal-signal listrik dalam atom cerita Anda, terlebih lagi Anda juga membenamkan ide yang ‘aneh bin ajaib’, magical sentence. Terima kasih.

    Tova Zen

    29 April 2010 at 11:40

  22. Ya mantap, bagus banget!! Hanya dalam rentang satu pertanyaan “Masih adakah orang bunian itu, Ayah?” lalu dijawab, “Masih,” kita disuguhi misteri dan tragedi. Bisa kita maklumi betapa tersiksanya perasaan si tokoh di samping menyesal telah membiarkan seseorang — yang ternyata bukan orang bunian — mati juga gak tahu sampai remaja asal-usul si bayi.

    Narto

    29 April 2010 at 15:23

  23. @Bamby:
    Menurut saya gak masalah judulnya “Orang Bunian”. Karya-karya besar setarap nobel malah banyak memakai nama orang atau tempat untuk judul. Kalau dibawa ke kesusastraan dunia judul “Orang Bunian” malah unik, tak ada di manapun. Cerpen yang bagus.

    Reni

    30 April 2010 at 08:19

  24. Setuju Mas Bhoernomo! Pengarang-pengarang terkenal lain kayak Putu Wijaya atau Seno Gumira hanya mengulang-ulang karya sebelumnya. Gus TF Sakai memang beda!

    Firman

    30 April 2010 at 08:27

  25. @Yanti: Berarti Dorothea Rosa H masih menulis cerpen? Ingin sekali aku membaca seperti apa cerpennya sekarang. Sayang di kotaku hanya beredar koran-koran Jakarta. Aku sudah mencari dan ketemu http://www.suaramerdeka.com, tapi tak tahu bagaimana cara sampai ke rubrik cerpen. Bisa Yanti tolong tunjukin caranya?
    Aku juga punya “Perempuan yang Menunggu”. Great!
    @Mas Bhoernomo: Kok juga takut? Jeruk kan gak makan jeruk, hehehe!!

    Ira

    30 April 2010 at 09:11

  26. Cerpen bagus.

    moko

    30 April 2010 at 09:15

  27. Ceritanya mengharukan… bagus!

    diana

    30 April 2010 at 17:25

  28. Mengharukan… Aku menunggu buku kumpulan cerpen Mas Gus sesudah “Perantau” lho…..

    surya

    1 Mei 2010 at 09:13

  29. @Ira:
    Kalau gak bisa di Suara Merdeka mungkin bisa dicari di sriti.com. Ini situs cerpen koran yang juga mengliping koran-koran daerah.
    Aku mencoba SMS ke nomer HP Gus TF Sakai itu, masih aktif, masuk, tapi gak dibales :-(

    Yanti

    1 Mei 2010 at 10:00

  30. kereennn! Tapi, siapa sih ilustratornya?! Ngasaaaallll!!!!

    meki

    1 Mei 2010 at 10:13

  31. Orang Bunian, calon kuat Cerpen Terbaik Kompas 2010

    Rama Dira J

    1 Mei 2010 at 15:01

  32. @Yanti: Terima kasih info sriti.com-nya. Ternyata buaanyak buaaanget cerpen di situ! Baru aku ingat ini situs yang sama dengan yang pernah disebut Mas Bamby. Gimana kalau Gus TF Sakai coba ditelpon langsung? :-)

    Ira

    2 Mei 2010 at 08:18

  33. @Yanti: Aku sudah baca cerpen “Aku Ingin Menerkam Tetanggaku!” Dorothea itu. Kok aku merasa cerpen ini gak seperti cerpen-cerpen Dorothea dulu itu ya? Trauma seorang istri akibat kekerasan suami. Psikologis. Agak-agak suealis. Tapi kok aku merasa agak kurang lancar. Mungkin Dorothea Rosa sedang mencoba cara-cara menulis yang beda ya….

    Ira

    2 Mei 2010 at 10:21

  34. bagi orang yang beasal dari minang kabau, kata kata orang bunian sudah tak asing lagi. semua anak anak sering disuguhi dongeng tentang orang bunian yang sering membawa roh, diri –yang lebih sering jiwa anak anak untuk ditawan di suatu tempat yang orang lain tak tahu dimana. hanya orang yang pernah ke sana yang mengetahuinya, dan selama dongeng itu ada, belum ada cerita yang mengatakan kalau ada orang yang kembali dari sana dan membawa ceritanya kembali untuk diceritakan. jiwa dan diri orang itu telah tersesat.

    namun dalam cerpen ini, kita menemukan aura yang lain, mistik dan kesedihan yang amat terasa.

    selamat untuk bang TF. padahal aku sering terinspirasi dengan keseriuasan bang TF dalam membuat cerpen.

    surey

    16 Mei 2010 at 20:35

  35. suka ceritanya euy…

    A

    21 Mei 2010 at 13:43

  36. @tukang kliping
    Posting tgl 21 Mei 2010 jam 13:43 BUKAN dibuat oleh saya.
    Mohon perhatiannya. Terima kasih.

    A

    21 Mei 2010 at 14:05

  37. bsgud, saya pengagum cerpen-cerpen gus tf sakai

    farizal sikumbang

    25 Mei 2010 at 15:04

  38. Gus tf Sakai memang juara! Untaian kata-katanya mengalir, enak sekali di baca

    gibb

    26 Mei 2010 at 05:10

  39. Wah….okeyyy…keren, pesannya sip, proses penguatan pesan dengan gaya bahasa yang tragis membuat pembaca juga merasa miris..Siiip!! Mudahan pesannya juga nyampe..

    Sang Pedang

    15 Juni 2010 at 11:24

  40. wah! cerita yang kaya nuansa lokal (Sumbar kalie, he … he…) saya tidak hanya suka dengan cerpen-cerpennya da GUS. saya banyak belajar darinya. nuansa bahasa yang kuat dan kaya. saluteeeeeeeeeeeeeeeee! moga jadi cerpen terbaik kompas dan menjadi kovernya.

    zul afrita

    17 Juni 2010 at 12:39

  41. sepanjang pengetahuan dan perkoncoan kami selama ini, Gus Tf Sakai sebelum melahirkan sebuah karya selalu melakukan oksplorasi terhadap bahan yang akan dijadikan sebuah tulisan, sehingga didapatkannya penghayatan dan pemahaman yang mendalam, dan tentu saja ditambah intuisinya sebagai seorang penulis dan budayawan Minang, sehingga melahirkan sebuah karya yang apik, ciamik dan memukau..
    Salut buat sobatku Gus Tf Sakai..terus lahirkan karya2mu buat telaahan bagi peminat2 tulisanmu..Sobat!

    Edison Piliang

    18 Juni 2010 at 21:05

  42. bagi saya,Gus tf Sakai adalah jaminan kualitas. Dalam setiap cerpen yang ia tulis saya menemukan kedalaman makna yang tak pernah kering

    adam

    6 September 2010 at 08:01

  43. Gus TF Sakai memang hebat. Menunggu tulisan-tulisan berikutnya.

    Sutomo

    18 Oktober 2010 at 18:34

  44. salut selalu buat Bung Gus Tf Sakai. Semua tulisannya, cerpen maupun puisi, semua saya suka. Meski susah untuk mencari antologi puisinya. Mungkin ada teman yang bisa memberikan infonya?

    haris

    25 Mei 2011 at 07:05

  45. Cerita Bung Gus TF Sakai selalu indah, membuat saya “tenggelam” dalam dunia-nya.

    Wulan

    31 Mei 2012 at 11:47

  46. Bikin merinding,,,, anaknya kah orang bunian itu????

    mery

    18 Juni 2012 at 14:00


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.407 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: