Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Ada yang Menangis Sepanjang Hari…

with 51 comments


Tangisan itu seperti kesedihan yang mengapung di udara. Menyelesup ke rumah-rumah kampung pinggir kota itu. Karena hampir setiap hari mendengar orang menangis, maka para warga pun tak terlalu peduli.

Tapi ketika sampai malam tangis itu terus terdengar, sebagian warga pun menjadi mulai terganggu. Tiba-tiba saja tangis itu seperti mengingatkan pada banyak kesedihan yang diam-diam ingin mereka lupakan. Tangis itu jadi mirip cakar kucing yang menggaruk-garuk dinding rumah. Bagai mimpi buruk yang menggerayangi syaraf dan minta diperhatikan. Beberapa warga yang jengkel langsung mendatangi pos ronda.

”Siapa sih yang terus-terusan menangis begitu?!”

”Apa dia tak lagi punya urusan yang harus dikerjakan selain menangis seharian. Ini sudah keterlaluan!”

”Suruh keparat itu berhenti menangis,” sergah warga lainnya.

”Ah paling juga itu tangisan Kumirah,” ujar seorang peronda. ”Ia pasti masih sedih karena suaminya mati dibakar kemaren.”

Orang-orang terdiam. Mendadak saja mereka teringat Sidat yang ketangkap mencuri jagung rebus, kemudian dibantai ramai-ramai. Belum puas melihat Sidat bonyok dan ringsek, seseorang menyiramkan bensin ke tubuh suami Kumirah itu. Sidat mengerang-erang terkapar. Bau daging yang melepuh terbakar itu membuat mereka merinding. Bau daging bakar yang harum campur aroma bensin itu kini kembali tercium. Seakan masih menempel di udara. Bau yang bagai kembali mengapung bersama isak tangis. Adakah yang lebih menyedihkan dari tangisan itu?

Para peronda dan beberapa warga segera menuju kontrakan Kumirah. Kamar itu sepi terkunci. Tak ada tangis merembes dari dalamnya. Tangis itu mengambang di udara entah berasal dari mana. Seperti menggenang dan mengepung mereka. Mereka sudah sambangi tiap rumah, tapi tak menemukan siapa yang menangis begitu sedih begitu nelangsa seperti itu. Kadang tangis itu terdengar seperti suara tangis bayi yang rewel kelaparan. Kadang seperti suara perempuan terisak setelah digampar suaminya yang mabok. Kadang terisak panjang. Kadang seperti keluhan. Kadang seperti erang binatang sekarat. Kadang seperti sayatan panjang yang mengiris malam.

Berhari-hari tangisan itu terdengar timbul-tenggelam merepihkan kesedihan yang paling memilukan. Hidup sudah sedemikian penuh kesedihan kenapa pula mesti ditambah-tambahi mendengarkan tangisan yang begitu menyedihkan sepanjang hari seperti itu?

”Ini sudah keterlaluan!” geram seorang warga. ”Bukannya saya melarang orang menangis, tapi ya tahu diri dong. Masak nangis nggak berhenti-henti begitu.” Lalu kompak, warga sepakat mengadu pada Pak RT.

”Kami harap Pak RT segera mencari siapa yang terus-menerus menangis begitu…”

Lho, apa salahnya orang menangis. Kadang menangis kan ya perlu,” ujar Pak RT.

”Kalau nangisnya sebentar sih nggak papa. Kalau terus-terusan kan kami jadi terganggu.”

”Terus terang, kami juga jadi ikut-ikutan sedih karenanya.”

”Jadi kebawa pingin nangis…

”Itu namanya mengganggu ketertiban!”

”Pokoknya orang itu harus segera diamankan!”

Tak ingin terjadi hal-hal yang makin meresahkan, Pak RT segera menghubungi Ketua RW, karena barangkali yang terus-terusan menangis itu dari kampung sebelah. Seminggu lalu memang ada warga kampung dekat pembuangan sampah yang mati gantung diri setelah membunuh istri dan empat anaknya yang masih kecil. Mungkin roh orang itu masih gentayangan dan terus-terusan menangis. Namun Ketua RW menjelaskan kalau suara tangis itu memang terdengar di seluruh kampung.

”Warga seberang rel juga cerita, kalau mereka siang malam mendengar suara tangis itu,” kata Ketua RW. ”Makanya, kalau sampai nanti malem suara tangis itu terus terdengar, saya mau lapor Pak Lurah.”

***

Pada hari ke-3, suara tangis itu terdengar makin panjang dan menyedihkan. Tangisan itu terdengar begitu dekat, tetapi ketika didatangi seakan berasal dari tempat yang jauh. Tangis itu seperti air banjir yang meluber ke mana-mana. Orang-orang mendengar tangisan itu makin lama makin sarat rintihan dan kepedihan. Tangisan yang mengingatkan siapa pun pada kesedihan paling pedih dan tak terbahasakan. Siapakah dia yang terus-terusan menangis penuh kesedihan seperti itu? Bila orang itu menangis karena penderitaan, pastilah itu karena penderitaan yang benar-benar tak bisa lagi ditanggungnya kecuali dengan menangis terus-menerus sepanjang hari.

Pada hari ke-17 seluruh kota sudah digelisahkan tangisan itu. Para Lurah segera melapor Pak Camat. Tapi karena tak juga menemukan gerangan siapakah yang terus-terusan menangis, Pak Camat pun segera melapor pada Walikota, yang rupanya juga sudah merasakan kegelisahan warganya karena tangis yang terus-menerus terdengar sepanjang hari itu. Tangis itu telah benar-benar mengganggu karena orang-orang jadi tak lagi nyaman. Tangis itu makin terdengar ganjil ketika menyelusup di antara bising lalu-lintas. Tangis itu telah menjadi teror yang menyebalkan. Radio dan koran-koran ramai memberitakan. Mencoba mencari tahu siapakah yang terus- menerus menangis sepanjang hari, berhari-hari…

Orang-orang hanya bisa menduga dari manakah asal tangisan itu. Siapakah yang tahan terus- terusan menangis seperti itu.

”Mungkin itu tangis pembantu yang disiksa majikannya…”

”Mungkin itu tangisan buruh yang baru terkena PHK.”

”Mungkin itu tangisan korban mutilasi…”

”Barangkali itu tangisan bocah yang mati disodomi dan mayatnya dibuang ke dasar kali dan tak ditemukan sampai kini…”

”Barangkali itu tangisan pedagang kaki lima yang digusur dan tubuhnya tersiram air panas.”

”Atau bisa jadi itu tangisan kuntilanak…”

”Mungkin tangisan Suster Ngesot…”

Hingga hari ke-65 tangisan itu makin terdengar penuh kepedihan dan membuat Walikota segera menghadap Gubernur. Ternyata Gubernur memang sudah mendengar tentang tangis yang terdengar hingga ke seluruh provinsi. Tangisan itu bagai mengalir sepanjang jalan sepanjang sungai sepanjang hari sepanjang malam, melintasi perbukitan kering, merayap di hamparan sawah yang tergenang banjir dan terdengar gemanya yang panjang hingga ngarai dan lembah yang kelabu sampai ke dusun-dusun paling jauh di pedalaman.

Tangis itu mengalun sayup-sayup bersama galau angin yang melintasi padang savana dan teluk-teluk yang redup sampai ke pantai-pantai. Tangisan itu bagai mampu meredakan deru ombak hingga laut terlihat bening dan datar berkilauan di bawah cahaya bulan yang keperakan. Orang- orang termangu diluapi kesenduan setiap mendengar tangisan yang timbul tenggelam itu. Para penyair menuliskan sajak-sajak perihal kesenduan dan kesedihan tangis itu seakan-akan itulah tangisan paling menggetarkan yang pernah mereka dengar.

Pada hari ke-92 para menteri berkumpul membahas laporan para Gubernur perihal tangis yang telah terdengar ke seluruh negeri. Tangis itu bahkan terdengar begitu memelas ketika melintasi gang-gang becek di Ibu Kota. Terdengar terisak-isak serak bagai riak yang mengapung di gemerlap cahaya lampu gedung- gedung menjulang hingga setiap orang yang mendengar sekan diiris-iris kesedihan.

”Apakah kita mesti melaporkan hal ini pada Presiden?” kata seorang Menteri.

Menteri yang lain hanya diam.

***

Pada hari ke-100, tangis itu sampai juga ke kediaman Presiden yang asri dan megah. Tangis itu menyelusup lewat celah jendela, dan membuat Presiden tergeragap dari kantuknya. Ia menyangka itu tangis cucunya. Tadi sore anak dan menantunya memang mengajak cucu pertamanya tidur di sini. Mungkin dia kehausan, batin Presiden, lalu bangkit menuju kamar sebelah. Tapi cucunya yang mungil itu tampak lelap. Betapa pulas dan damai tidur cucunya itu. Lalu siapa yang menangis? Seperti terdengar dari luar sana. Pelan Presiden membuka jendela, tapi yang tampak hanya bayangan pagar yang baru direhab menghabiskan 22,5 Milyar.

Mendadak istrinya sudah di sampingnya.

”Ada apa?”

”Saya seperti mendengar suara tangis…”

”Siapa?”

”Entahlah…”

”Sudah, tidur saja. Besok kamu mesti pidato,” kata istrinya. ”Apa ya nanti kamu akan mengeluh hanya karena mendengar tangis itu?”

Presiden hanya tersenyum. Tetap berusaha tampak anggun dan tenang. Lalu menutup jendela.

***

Sementara tangisan itu terus mengalun dan angin perlahan-lahan bagai susut. Segala suara bagai meredup dan mengendap dalam gelap. Semesta terkesima dan seketika terdiam. Seekor lelawa yang terbang melintas malam mendadak berhenti di udara. Sebutir embun yang bergulir mendadak tergantung beku di ujung daun. Beberapa ekor kunang-kunang dengan cahaya kuning yang redup pucat terlihat diam mengapung dalam dingin. Semesta begitu hening. Tak ada suara selain tangis yang penuh kesedihan itu. Tangis yang terus mengalun mengalir hingga galaksi-galaksi paling jauh.

Apakah kau dengar tangisan itu?

Jakarta, 2007-2010

About these ads

Written by tukang kliping

28 Maret 2010 at 10:17

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

51 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wahwah.. ‘presiden’? ‘cucu pertama’? ’42 milyar’? Krn sindiran ini, Mas agus noor harus siap2 diciduk intel.. Hi2.. Tp cerpennya bagus! Sgt menarik. Walau mirip cerpen ‘bayi’ 2 mgu kmrn, tp di cerpen ‘bayi’ endingnya kurang menarik. Sy kira ada metafora dsna, tp tnyt itu tangis bayi beneran. Jauh dgn cerpen ini, sukses mas agus!

    Grom

    28 Maret 2010 at 15:38

    • ini saya tika ramadiani kita akan saran belum ada yang dipasaran tentang itu bukan bayi nangis beneran

      tika ramadiani

      1 Mei 2014 at 14:11

  2. Yups… Saya suka semua tulisan mas agus…. nuansanya hening yang biru. Pedih tapi selalu inspire. Tapi yang membuat saya benar-benar ‘gila’ adalah fiksi mininya. bikin merinding. Well, suatu saat saya akan menyusul…

    Mashdar

    28 Maret 2010 at 17:36

  3. pa mang cerpen tuh semua’y kelam gini y?
    g da yg ceria gtu?
    Untung dah gnti orde,coba klo msih yg lama,wah siap2 di ciduk tp bgus sih crpen’y,.

    hueeyy,.

    28 Maret 2010 at 20:49

  4. Tangisan hati nurani ya?
    Mungkin karena melihat ketimpangan dan ketidakadilan yang ada dimasyarakat selama ini.
    Tangisan bagi yg masih memiliki hati nurani mungkin?

    Erid

    28 Maret 2010 at 21:20

    • sepertinya begitu…

      fokus

      23 April 2011 at 14:14

  5. Sangat Agus Noor sekali, surealis yang sangat realis cerpen ini. Aura kumcer “sepotong bibir paling indah di dunia” kok berasa banget? Apakah karena nulisnya di tahun 2007 dan dilanjut 2010?

    Bamby Cahyadi

    28 Maret 2010 at 22:16

  6. Aroma tetap semerbak hidangan pena bung Agus Noor, meskipun cerpen bung Agus Noor kali ini saya nilai kurang imajis. Saya yakin bung Agus Noor ingin mengungkapkan tema berupa kontrol sosial. Sedikit banyak kritik dalam bumbu penyedap cerpennya kali ini berupa nilai-nilai keringkihan sosialita masyarakat. Saya banyak membaca koran-koran lokal yang menggaungkan beberapa skematis rasa keprihatinan kita pada kualitas kehidupan sosial bermasyarakat. Media sastra yang cukup mumpuni di jadikan barometer adalah cerpen. Tema yang bung Agus Noor angkat kali ini benar-benar mengimplementasikan semua kehidupan masyarakat kecil yang tertindas. Makna yang tersirat dalam benak saya saat membaca cerpen ini adalah kritik sosial.
    Meskipun konflik saya rasa kosong dan hanya berputar-putar pada siapa gerangan suara tangis itu? Hingga ujung cerita pun, belum ketahuan jelas abstraksi suara itu yang tiba-tiba hadir dalam bentuk prasangka sarkisme pada awalnya(ada cerita pembakaran orang yang akar masalahnya sekedar maling jagung rebus), dan suara tangis itu meyebar pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, berdunia, hingga bersemesta. Mungkin banyak makna yang ingin bung Agus utarakan dalam cerpennya kali ini. Misanya: mengulik kesedihan bagi Koban pembantu yang di siksa majikannya, korban PHK, mutilasi, sodomi, pagar seharga 22,5 milyar hingga kritikan tentang kuntilanak dan suster ngesot juga ada(yang hanya fiktif filmis).
    Bagus dan terkesan menarik, tapi tema yang di angkat terlalu umum. Kesan retorika cerita, rasa renyahnya cerita, hingga konfliknya terkesan kurang dramatic. Alurnya bisa di tebak sampai ending(hanya saja suara misteriusnya kok tidak di ungkapkan ya?). Pembaca di bawa hanyut dalam ruang imajinasi untuk menerka siapa gerangan suara itu? Dan terkesan menyentak saat kalimat penutup cerpen di akhiri “Apakah kau dengar tangisan itu?”. Lo kok saya jadi bingung? Suara siapa ya? Bung Agus Noor tahu? Boleh dong minta bocorannya tentang suara yang menggema hingga ke galaksi itu suara siapa?.
    Saya menunggu karya bung Agus Noor yang lebih imajis, romantis, sadis, perfeksionis, khayalan tingkat tinggi, hingga konflik cerita yang pekat berbau hororisme, yang bagai kepakan sayap malaikat yang membawa terbang alam bawah sadar saya saat merenungi kisah-kisah Anda. Sukses berkarya

    Tova Zen

    29 Maret 2010 at 12:39

  7. Salam Kenal, Menarik, saya baca, sampai tamat mas, ditunggu yang lainnya

    SE SAE

    30 Maret 2010 at 00:24

  8. sebuah sindiran kritikan, pada kemajuan peristiwa di indonesian yang terlantar…

    subaweh

    30 Maret 2010 at 10:33

  9. Kulihat ibu pertiwi sedang berduka hati… Mungkin yang menangis peri2 gunung dan peri2 dasar laut.

    Wulan

    30 Maret 2010 at 10:53

  10. Bagus banget…istilah renyahnya cerita surealis yang merealis kali yah? he he he

    Ditunggu cerita lainnya

    reganleonardus

    30 Maret 2010 at 14:18

  11. Saya seorang yang sangat suka membaca cerpen-cerpen Agus Noor. Tapi kini, setelah mencari dan membaca cerpen-cerpennya sejak awal, cerpen-cerpen Agus ternyata banyak mirip dengan cerpen-cerpen Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma dan Gus Tf Sakai. Saya dapat kesan Agus sering memproduksi ulang tema-tema yang sudah digarap oleh sastrawan-sastrawan terdahulu itu. Agus saya lihat hanya mempercanggih bahasa. Khusus untuk cerpennya yang ini saya jadi teringat pada cerpen Gus Tf Sakai “Lukisan Tua, Kota Lama, Lirih Tangis Setiap Senja” dalam kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta. Apa pendapat saya salah ya?

    bhoernomo

    1 April 2010 at 10:06

  12. Oh ya, saya ingat lagi, rasanya ada juga cerpen Gus Tf Sakai lain yang mirip ini, judulnya “Hilangnya Malam” dalam kumpulan cerpen “Perantau”.

    bhoernomo

    1 April 2010 at 10:10

  13. Haaaaaa, ini penulis yang ngandalin nama besar! ini mah,ngambil taste-narasi Hilangnya Malam, Gus tf Sakai, dalam kumcer Perantau! Cuma nambah-nambahin unsur korupsi, mutilasi, dll. Basi tau! Tentang fiksimini Agus Noor, itu bukan cerpen. itu mah skets yang disambung-sambungin….!!!

    Menik

    1 April 2010 at 11:28

    • kalo memang jiplakan ato mnurut gw ”pengembangan” msh ttp layak di baca n di renung kan…karna cerpen di hadirkan tuk mengingatkan apa2 yg sering terlupakan krn kesibukan jg melihat sisi lain dari kehidupan…..

      fokus

      23 April 2011 at 14:23

    • saya belum tentu bisa nulis cerpen seperti ini…jadi saya gak mungkin mengkritiknya….yang ada di otakku hanya kagum…kapaaan saya bisa nulis cerpen yang bisa dibaca orang banyak.apalagi dapat honor….pasti bangga banget.

      hapex

      13 September 2012 at 20:15

  14. BAGUS SEKALI CERPENNYA….

    Indra Pratama

    2 April 2010 at 14:18

  15. Cerpennya ok banget! bagus deh……..

    rarazephira

    4 April 2010 at 09:56

  16. Agus Noor mah epigon. Tak berani jadi diri sendiri

    Kambing Hitam

    5 April 2010 at 12:37

  17. Agus noor sering meneruskan tema atau menggali tema dari penulis-penulis pendahulunya. cerpennya yang masih berbekas dan saya suka adalah Telegram, dan Penjaga Kamar Mayat dan Sejumlah Fiksi Mini Lainnya. cerpen terakhir sudah lepas dari bayang2 seno namun saya malah teringat2 dengan cerpen2 Gabriel Garcia Marquez, meskipun penyajiannya yang pendek itu cukup menarik.

    ikan

    5 April 2010 at 21:34

  18. mgkn ada benarnya cerpen ini mirip dg cerpen gus tf sakai, tapi saya percaya mas Agus Noor tidak ada niat menjadi ‘epigon’.
    mungkin masalah tsb yg membuatnya gelisah, resah, hingga menumpahkannya dalam cerpen ini.
    ditunggu cerpen2 berikutnya mas,,

    arcobaleno

    7 April 2010 at 18:12

  19. gaya bertuturnya menarik..
    temax bagus…
    bagaimana carax menulis cerpen seperti ini ?

    penggemar Cerpen

    8 April 2010 at 00:29

  20. Masih bergaya surealis…. Itulah cerpen-cerpen Agus Noor. Pola dan sistem di dalam cerpen-cerpen Agos Noor hampir sama. Meskipun tidak seluruhnya.

    Polanya sederhana: Seseorang tidak dikenal terluka di sebuah rumah, semula hanya menjadi pembicaraan di rumah itu, tapi kemudian meningkat menjadi pembicaraan warga (rt, rw, lurah dst). Menjadi persoalan sosial.

    Demikian juga dengan suara tangisan dalam cerpen ini, hampir tidak jauh berbeda. Dengan kata lain, apakah Agos menyadari betul hal ini, kalau pola penulisanya mengarah mekanis seperti cerpen pop pada umumnya. Banyak penulis sastra terjebak pola penulisan yang sama, karena industri media yang begitu besar dan ditutut untuk produktif.
    Kalaupun pola ini memang menjadi suatu kesadaran Agus dalam teknik penulisannya, tinggal mungkin bagaimana memperkaya imajinasinya, seperti setidak-tidaknya lakon wayang yang sudah ada pakemnya, tapi setiap dalang punya karakter sendiri untuk memainkan anak-anak wayangnya.

    salam….

    Remmy Novaris DM

    8 April 2010 at 03:14

  21. Ya, mekanis, benar Mas Remmy, inilah yang saya rasakan pada kebanyakan cerpen-cerpen Agus Noor. Sayang sekali kalau kemampuannya mengolah bahasa jadi tak bernilai hanya karena dia menggunakan pola yang seragam dalam penulisannya. Agaknya, kalau saya boleh mengusul ke Mas Agus, cobalah cari tema-tema sendiri, jangan lagi menggali tema kepada para pendahulu seperti kata saudara Ikan (ini nama beneran atau samaran sih, he he, betul lagi kata Mas Remmy, sebaiknya kita pake nama asli biar gak dicurigai kalo memberi masukan). Dengan begitu, konsentrasi Mas Agus mungkin bisa terbagi tak hanya kepada pola penulisan yang seragam (mekanis), tetapi juga kepada penggarapan tema yang bisa jadi ciri sendiri dan membedakannya dengan Gus Tf Sakai, Seno Gumira dll.

    bhoernomo

    9 April 2010 at 10:25

  22. gw suka. dy bisa nulis dengan emosi stabil dr awal sampe akhir.

    nadine

    13 April 2010 at 16:11

  23. bagus…tapi kurang greget…

    yuli

    13 April 2010 at 21:45

  24. wah keren banget mas…, secara gak langsung menyinggung diriku hahahay

    yasir

    14 April 2010 at 09:27

  25. lepas dari masalah teknis-gaya bahasa-epigon? mari kita telisik esensi cerita yang dikandungnya…

    ewing

    15 April 2010 at 10:11

  26. Mantap bebarrr dahhhh…..
    Moga makin lancarrr smua-a….
    Met sukses yachhh…..

    kiki ajja la....

    27 Mei 2010 at 16:02

  27. Mantap benarrr dahhhh…..
    Moga makin lancarrr smua-a….
    Met sukses yachhh…..

    kiki ajja la....

    27 Mei 2010 at 16:02

  28. Sindirannya asyik, Mas!
    ^^

    Ending yg bikin pembaca penasaran..

    Salam,

    Phow Anks

    27 Mei 2010 at 20:54

  29. Saya adlh salah seorang yg sngat menyukai cerpen mas agus noor. Cara penyampainnya benar” indah dan membawa kita terbuai dlm imajinasi mas agus. Tetep berkarya mas

    Fannie

    31 Mei 2010 at 14:29

  30. aura seno jelas sekali pada cerpen2 mutakhir agus noor. Ketakjubannya pada seno, bisa dilihat dari bukunya Bibir Paling Indah di Dunia. Di cerpennya, agus mengoplos cerpen seno ke dalamnya. Tetap renyah, Bro.

    hoebartz

    1 Juni 2010 at 09:05

  31. cerpen”a kren,,
    mistery’a ok bgt

    ariyani nay

    2 Juni 2010 at 18:19

  32. waw bagus banget… mungkin tangisan itu adalah tangisan hati nurani kita masing-masing yang sudah lama terlupa.

    deny arisandi

    7 Juli 2010 at 08:59

  33. keren banget (y)

    helmi

    25 Juli 2010 at 13:43

  34. Tiap hari memang ada yang menangis di Negeri Ini, bahkan bagi mereka yg di sana tangisan itu seolah nyanyian..

    Mamat

    19 Agustus 2010 at 03:07

  35. Seno Gumira A. 10 x lebih ok

    m

    19 Agustus 2010 at 14:03

    • Setuju!! Ini cuma karya seorang pengekor, mencium pantat orang terus!! Kapan sastra Indonesia bisa maju kalau penulis macam ini justru diagung-agungkan!! SAMPAH!!!!

      Aureliano

      25 Agustus 2010 at 21:39

  36. Agus Noor, penulis asal Tegal yang keren banget.
    Salam kenal, dari Tegal juga. Tegale ning endi mas?

    ali irfan

    6 September 2010 at 13:27

  37. cerpen agus noor penuh inspiratif yang mengugah semangat saya untuk terus belajar. Sebagai murid sma saya ingin belajar bersamanya….

    widi suryanto

    9 Oktober 2010 at 20:19

  38. wao bagus bangetttt……..
    sampe nangis bacanya T.T
    tak jadiin referensi buat tugas resensi ahhh :D

    gatot

    12 Oktober 2010 at 07:50

  39. khusus buat presiden.
    memang presiden itu adalah seorang pengeluh, yang memengeluhkan segala penderitaannya sebagai kepala negara kepada rakyatnya.
    tapi benar pesan tokoh ‘istri’ presiden itu, yang berkata: ”Apa ya nanti kamu akan mengeluh hanya karena mendengar tangis itu?”

    louih luganda (sony tri harsono)

    3 November 2010 at 14:41

  40. Sebuah kritikan lagi. Membacanya sy seperti diajak ke sebuah rumah darimana tangisan itu muncul. Suaranya hafal benar. Tapi tetap saja pergi ke rumah itu, untuk memastikan siapa yang dari tadi bikin bising warga terus. O dia toh..

    Juno

    15 Februari 2011 at 12:17

  41. Saya merasa kurang puas dengan ending yang disajikan
    Saya kira akan ada sesuatu yang menggebrak di ahkir tulisan, namun malah jadi menggantung seperti ini. Bagi saya yang tidak tahu mengenai dunia sastra cerpen ini kurang bagus

    Diky Pratansyah

    24 April 2011 at 03:19

  42. menyentuh hati,andai yg disindir membaca

    pipit

    28 Mei 2011 at 11:38

  43. incredible…

    danial

    8 Januari 2012 at 05:25

  44. Aku suka nie cerpennya, mewakiLi tangisan rakyat_ hehehe, :)

    Afiezah Niah Hassan

    4 Maret 2012 at 17:45

  45. sangat luar biasa ceritannya…yang sederhana menjadi luar biasa di tanganmu…ini yang jarang diperhatikan oleh para pemimpin…mereka tidak melihat yang sederhana karena terhalang oleh pagar yang bernilai miliaran rupiah…

    r.dosom

    24 Maret 2012 at 19:19

  46. tangisan bumi, yang terkikis keegoisan..

    Ryzkiesomnia

    24 Juli 2012 at 04:40


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.582 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: