Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Cerita tentang Hujan

with 10 comments


Bila hujan turun dan sedang sendirian, aku terkenang kepada Anatolia. Gadis kecil berusia enam tahun itu adalah putri seorang perempuan muda berwajah cantik. Zaitun namanya. Mereka tinggal di rumah sewaan yang bagus, beberapa meter di depan rumahku. Di rumah itu tidak ada lelaki yang tinggal menetap. Sopir yang mengantar-jemput Anatolia datang pagi, pulang sore. Ayah Si Anatolia tak pernah menampakkan batang hidungnya. Kini, rumah itu sunyi.

Sepanjang siang hari Minggu itu Anatolia tidak muncul di rumahku. Sejak pukul sepuluh pagi, dia menghadiri pesta ulang tahun Sofia, teman sebangkunya. Sore Minggu, Anatolia diantar ke rumahku oleh Uun, si pembantu rumah tangga yang telaten dan setia. Seperti tidak sabar, Anatolia meminta kepadaku bercerita tentang hujan.

”Paman, ceritalah tentang hujan,” pintanya sekali lagi.

”Ada apa dengan hujan?” tanyaku sambil memandangi hujan yang semakin deras. Pintu kubuka lebar agar ruangan menjadi terang. Jadi, aku tidak perlu menyalakan lampu.

Murid kelas satu sekolah dasar itu berpaling ke arah hujan. Dia mendengarkan nyanyian hujan di atap genting, daun, ranting, dahan, dan pepohonan. Rintik-rintik hujan itu bernada sendu. Suatu elegi, pikirku. Wajah imut Anatolia, sejak bertemu denganku selalu murung. Tatapan matanya pun sayu. Anak perempuan yang sedang tumbuh itu merindukan seseorang. Dia pun sangat membutuhkan kasih sayang.

Sering aku membayangkan, butiran-butiran hujan punya kaki kecil. Mereka selalu bersatu dan berbaris rapi. Makanya mereka menjadi sangat kuat. Jutaan butiran hujan menyelinap di antara akar-akar pepohonan di hutan, meresap, kemudian menetap di perut bumi. Tabungan air itu sangat bermanfaat bila tiba musim kemarau panjang. Kaki-kaki kecil hujan yang kuat itu tidak seperti kedua kaki Anatolia. Kaki anak itu tak bebas melangkah, sesuai kemauannya. Zaitun selalu melarangnya meninggalkan rumah. Kata Zaitun, di luar rumah, Ana bisa diculik orang jahat. Tetapi, setelah setahun bertetangga denganku, Zaitun mengizinkan Anatolia bermain di rumahku pada hari libur. Tentu saja, perawan kecil itu harus diantar Uun, bila Zaitun tidak di rumah.

Jika agak lama tidak bertemu Anatolia, kurasa ada yang hilang. Gadis kecil berwajah bulat telur dan berkulit kuning itu telah menjadi bagian dari hidupku. Di kantor, aku sering bercerita kepada kawan-kawan akrabku tentang Anatolia. Lantas, teman-temanku terkekeh. Mereka menduga, aku dan Zaitun, si cantik dan pintar itu, ada hubungan khusus. Kubantah: Aku hanya bersahabat dengan Anatolia! Tidak dengan ibunya! Hanya sekali aku bertemu dengan Zaitun, yakni ketika datang untuk berkenalan, awal tahun lalu.

”Ceritalah tentang hujan, Paman,” pinta Anatolia sekali lagi.

Dengan senang hati, kuceritakan ihwal terjadinya hujan: Mula-mula, sinar matahari memanaskan air sehingga berubah menjadi uap. Udara lembab yang hangat itu menjulang tinggi dan di atas menjadi dingin. Uap itu berubah menjadi butiran-butiran kecil air, yang dingin mengembun. Kemudian, terbentuklah gumpalan-gumpalan awan di langit. Titik-titik air di dalam awan itu menjadi semakin besar dan berat, lalu jatuh ke bumi sebagai hujan. Tiga perempat bagian hujan itu jatuh kembali ke lautan. Seperempatnya, jatuh di daratan.

Anatolia bertanya lagi, ”Paman, apakah hujan baik bagi makhluk hidup?” Kujawab, tentu saja hujan baik bagi semua makhluk hidup. Manusia dan hewan memerlukan air untuk minum dan mandi. Air pun digunakan manusia untuk mencuci pakaian, mobil, motor, sepeda, dan keperluan lain. Air hujan akan menyuburkan tanah. Bila tanah subur, tumbuhan apa pun hidup subur, segar, berseri, dan berguna bagi sesama hidup.

Anatolia bertanya pula, jika baik bagi semua makhluk, mengapa hujan menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor? Banjir bandang dan tanah longsor menyebabkan manusia dan makhluk lain menderita, dan benda-benda rusak, katanya.

Yakinlah, kataku, hujan tidak pernah jahat kepada makhluk hidup. Banjir bandang dan tanah longsor bukanlah kesalahan hujan! Bila hutan-hutan gundul setelah ditebangi secara liar oleh manusia, bisa terjadi banjir bandang dan tanah longsor. Banjir bandang dan tanah longsor pun bisa terjadi bila gedung-gedung jangkung telah berdiri rapat di tanah-tanah kosong, di banyak tempat. Sampah-sampah yang mengotori selokan, danau, sungai, dan laut, pun merupakan penyebab banjir. Jadi, bencana banjir bandang dan tanah longsor adalah kesalahan manusia, kataku tegas.

”Paman, ceritalah tentang teman-teman hujan,” pinta Anatolia pula. Kata Anatolia, Olga, teman sekelasnya pandai bercerita tentang katak yang menyanyi ramai-ramai untuk meminta hujan segera turun. Katak-katak itu menyanyi pada musim kemarau. Anatolia ingin mendengar cerita tentang teman-teman hujan yang lain lagi.

Selain katak, kataku, teman-teman hujan adalah manusia, hewan lain, dan tumbuh-tumbuhan. Hutan, belukar, sungai, danau, dan lautan adalah teman-teman hujan juga, lanjutku.

”Apa lagi cerita tentang hujan, Paman?” tanya Anatolia pula.

Suku Indian Aztec di Amerika Tengah memuja dewa hujan bernama Tlaloc, ceritaku. Suku-suku Indian di Amerika Utara melakukan tarian khusus agar para roh mengirim hujan ke negeri mereka untuk menyuburkan tanah pertanian. Apabila musim kemarau sangat panjang, biasanya umat Islam shalat sunah Istiqarah berjamaah untuk memohon kepada Allah Swt agar hujan turun ke bumi, sambungku. Umat agama yang lain pun berdoa, memohon kepada Tuhan agar hujan turun di musim kemarau, lanjutku.

Suhu adalah panas di udara, di sekeliling kita, lanjutku. Panas itu berasal dari matahari. Nah, ketika suhu sangat rendah, bukan hujan yang turun ke bumi, tetapi badai salju, bongkahan es, atau hujan salju, aku menyambung cerita.

”Apakah hujan salju turun di Jakarta, Paman?” Anatolia bertanya lagi.

”Paman belum pernah melihat hujan salju turun di Jakarta, Sayang,” jawabku.

Pada suatu hari Sabtu siang, aku berkunjung ke rumah Anatolia untuk kedua kalinya. Zaitun masih tugas di Korea Selatan. Sopir sedang mengantar Anatolia les piano. Hanya ada Uun di rumah itu. Kutanya Uun, mengapa ayah Anatolia pergi? Uun mau cerita, asal aku janji, tidak akan bilang kepada Zaitun dan Anatolia. Aku berjanji kepadanya, tidak akan cerita kepada siapa-siapa.

Uun bercerita, setelah menjenguk ke luar: Ayah Anatolia pergi setelah diusir Zaitun, katanya. Ketika itu, Anatolia akan ulang tahun ke-5, di rumah sewaan lama. Setelah tidak bekerja di perusahaan asing karena diberhentikan, ayah Anatolia menganggur. Akibat menganggur cukup lama, dia mudah tersinggung, pencemburu, suka marah-marah dengan kata-kata kasar. Ketika itu, ayah Anatolia membentak-bentak Zaitun. Lelaki itu minta uang lagi untuk membeli minuman keras. Tetapi, Zaitun menolak permintaan Uto. Ketika Uto hendak menempeleng Zaitun, Anatolia membela ibunya. Anak itu menggigit paha kanan ayahnya. Anak itu pun dibentak sang ayah dengan suara menggelegar. Ayah Anatolia diberhentikan dari pekerjaan karena ketahuan menggunakan uang perusahaan untuk berjudi, pesta-pesta, dan mabuk-mabukan, lanjut Uun.

Ayah Anatolia sejak pergi tidak pernah kembali, cerita Uun. Zaitun adalah majikan yang baik hati, Uun melanjutkan ceritanya. Beliau bekerja di perusahaan otomotif milik pengusaha Korea Selatan. Zaitun bergelar sarjana teknik jurusan mesin. Jabatannya tinggi di perusahaan otomotif besar itu. Zaitun selalu pulang malam. Beliau sering pula ditugaskan ke luar negeri. Anatolia menanyakan ibunya, bila Zaitun lama tidak pulang. Sering sekali Anatolia menangis bila terbangun di malam hari, lanjut Uun.

Anatolia yang berotak cerdas itu sempat bertanya kepadaku, mengapa Paman sendirian saja di rumah? Kujawab, aku belum punya istri. Apakah Paman enggak merasa sepi? Anatolia bertanya pula. Tentu saja sepi, jawabku. Tapi, Paman senang bikin cerita, membaca, lari pagi, seusai shalat Subuh, memasak, berkebun, dan nonton film bagus, tambahku.

Suatu hari Minggu, senja bergerimis. Aku dikejutkan suara perempuan mengucapkan salam di pintu gerbang. Di luar pagar berdiri Zaitun. Dia mengembangkan payung berdaun lebar. Wajah perempuan itu sangat pucat. Matanya sembab dan biru. Aku buru-buru membuka gembok pintu pagar. Kusilakan dia masuk. Zaitun memayungiku ketika aku menarik pintu gerbang. Serempak kami menuju ruang tamu.

Ada sedikit oleh-oleh, kata Zaitun sebelum duduk di sofa. Ia menyerahkan satu botol besar terbungkus kertas berkilap warna coklat. Isi botol itu adalah minuman bervitamin untuk penyegar tubuh dari negeri Korea, yakni air ginseng campur madu. Terima kasih, kataku setelah menyambut oleh-olehnya dari Korea Selatan itu. Kusilakan dia duduk. Tak lupa aku menanyakan, mengapa Anatolia tidak diajak? Zaitun terkejut setelah mendengar pertanyaanku. Dia menatapku dengan penuh curiga.

”Aku yakin, Anatolia ada di sini,” kata Zaitun. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang. ”Jadi, anakku tidak di sini?” Dia menyangka, aku menyembunyikan anaknya di rumahku.

Zaitun mengatakan, Anatolia pergi dari rumah, ketika dia sedang ke kantor. Anatolia tidak mau diajak pindah ke Korea Selatan, cerita Zaitun. Dia takut kepada Uto Kwon Lee, ayahnya. Hati-hati kubilang kepada Anatolia sebelum tidur tadi malam, aku dan Uto akan memperbaiki rumah tangga yang sempat retak. Uto sudah minta maaf. Dia menyesali semua perbuatan salahnya. Uto telah bertobat kepada Tuhan. Dia berjanji akan menjadi suami yang baik bagiku dan ayah yang pengasih-penyayang bagi Anatolia. Aku merenung selama sebulan, lalu memaafkannya. Anatolia yang selalu patuh kepadaku, tiba-tiba jadi pembangkang, lanjutnya sambil menyeka air mata.

Anatolia takut kepada Uto Kwon Lee, kata Zaitun. Anatolia selalu ingat, saat akan merayakan ulang tahunnya yang ke-5, dulu. Ayahnya tidak memberikan hadiah ulang tahun seperti biasanya, tetapi marah dengan suara kasar. Zaitun pamit, tapi terus menangis. Sekujur tubuhnya gemetar. Dia sangat panik. Dia khawatir, gadis kecilnya telah diculik orang jahat. Rasa waswas pun menyelinap dalam hatiku.

Malamnya, seiring rintik-rintik gerimis, kudengar orang mengucapkan salam di luar pagar. Segera kuraih payung. Pintu kubuka. Di luar pagar tampak olehku seorang lelaki dewasa dan dua gadis kecil. Buru-buru aku membuka gembok pintu gerbang.

”Eh, Anatolia!” teriakku ketika melihat gadis kecil itu bersama anak perempuan sebayanya di bawah payung lebar. Payung itu dipegang lelaki dewasa. Anatolia mengenalkan Sofia dan ayahnya, Pak Arif. Di ruang tamu, Anatolia bercerita. Dia ke rumah Sofia seusai les piano, tanpa diantar sopir. Pak Sopir lagi sakit. Ibu Sofia melarang Anatolia pulang sendirian. Sepulang dari kantor, seusai shalat Isya, Pak Arif dan Sofia mengantar Anatolia ke rumahku atas permintaan anak itu. Dia takut dimarahi ibunya. Setelah Pak Arif dan Sofia pamit, kuajak Anatolia makan sup telur puyuh hangat, masakanku. Dia menolak karena masih kenyang setelah makan bakso dan minum susu di rumah Sofia.

Satu jam lebih aku membujuk Anatolia agar mau pulang ke rumahnya. Kuceritakan tentang kedatangan Zaitun ke rumahku. Ibumu sangat panik dan sedih. ”Tapi, aku tidak mau ikut Ibu ke Korea Selatan!” Anatolia berteriak. ”Aku takut kepada Ayah,” lanjutnya sambil memelukku erat-erat.

Cerita Zaitun tentang penyesalan Uto Kwon Lee kuulangi. Lelaki itu akan menyayangi Anatolia. Dia pun berjanji akan menjadi suami yang baik bagi Zaitun. Lalu, kubujuk Anatolia agar segera pulang. Ibumu sangat takut kehilangan kamu, bisikku lembut. Setelah lama terdiam, perlahan muncul senyum samar-samar di wajah cantiknya. Paman mau mengantarkan aku pulang? Dia bertanya. Aku mengangguk. Kalau Ibu marah, bagaimana? Anatolia bertanya lagi. Kamu berkata jujur saja kepada Ibu, kataku. Kalau kamu merasa punya salah, minta maaf, ya? Paman yakin sekali, Ibu tidak marah lagi, kataku. Kudengar petir menggelegar di luar. Hujan semakin deras. Angin bertambah kencang. Televisi memberitakan, badai sedang mengamuk di pantai, malam itu.

Pukul delapan malam, kuantar Anatolia dengan mobil kijang tuaku ke rumahnya. Zaitun meraung, memeluk, dan menciumi anaknya. Ketika aku pamit, Anatolia berlari ke arahku. Dia menangis sambil merangkulku. Kubelai rambut lurusnya dan kuyakinkan dia bahwa Uto, ayahnya sangat merindukannya.

”Kalau aku ikut Ibu ke Korea Selatan, siapa menemani Paman?” Anatolia bertanya dengan lugu sambil menatapku.

”Eh, em, di kantor, ada teman-teman Paman,” jawabku gugup, tertahan-tahan.

***

Hari Minggu ini, hujan pun turun. Rumah sewaan di seberang sana kosong dan sepi. Aku terkenang kepada Anatolia. Sudah lama dia bersama orangtuanya di Korea Selatan. Bila gadis kecil itu minta cerita tentang hujan, kuharap ayah-ibunya dapat memenuhi keinginannya dengan senang hati….

Pasar Rebo, 16 Desember2008- 12 Januari 2009

About these ads

Written by tukang kliping

25 Januari 2009 at 07:28

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

10 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Saya suka dengan cerpen Anda. selamat atas cerpen yang menggugah. saya boleh gabung. saya punya banyak cerpen. boleh menjadi editor cerpen-cerpen saya?

    Januario Gonzaga

    27 Januari 2009 at 10:29

  2. salam kenal, tolong dong di sertakan juga ilustrasi gambarnya, di kecilin saja…

    makasih

    suklowor

    31 Januari 2009 at 10:46

  3. media itu jarang memberikan kesempatan pada penulis pemula untuk memuat karyanya……………………, kalau cara pandangannya mamsih klasik seperti ini mending ngak usah ada halaman sastra pada media manapun………………

    roney22

    31 Januari 2009 at 13:14

  4. menarik untuk kita baca cerpen cerita tentang hujan, namun ada yang kurang tepat bahkan salah dalam cerita tersebut dalam paragraf yang saya kutip berikut ini.
    “shalat sunah Istiqarah berjamaah untuk memohon kepada Allah Swt agar hujan turun ke bumi, sambungku. Umat agama yang lain pun berdoa, memohon kepada Tuhan agar hujan turun di musim kemarau, lanjutku.”
    bukankah salat shalat sunah istikarah untuk meminta antara pilihan-pilihan yang membuat kita bimbang atau mengharuskan kita untuk memilih? mungkin yang dimaksud adalah shalat istisqa’ (shalat minta hujan) terimakasih. wazzaki, S.PdI. lampung

    wazzaki

    19 Februari 2009 at 13:15

  5. koq nama penulisnya ga dicantumkan…

    Irwan

    5 Maret 2009 at 09:34

  6. @Irwan: semua penulis namanya saya cantumkan di tag, Anda sepertinya berkomentar sebelum membaca cerpennya :)

    cerpenkompas

    5 Maret 2009 at 09:43

  7. O YA, AKU TANGGAPI DULU YA KOMENTAR, PENULIS LAMA PASTI KARYANYA LEBIH HEBAT DARI PENULIS BARU! BUKANNYA KOMPAS MILIH2 ATO PANDANG BULU,
    YEEE…….KAYA DISUAP AJE KARO WONGE KOMPAS,
    ENGGAK KOK BENER,
    YANG AKU GAK PAHAM TUH, ADA GA YA ALIRAN YANG DIANUT CERPEN KOMPAS, SOALNYA HAMPIR SETIAP CERPEN/SASTRA DI MEDIA PUNYA ALIRAN TERSENDIRI, YA KAYA AGAMA AJE,WAH PANJANG BANGET YA KOMENTAR SAYA, SOOORRYEEE

    imam mandala putra

    10 Maret 2009 at 12:25

  8. kompas lebih bagus tidak membatasi cerpen pada gaya bahasa atau aliran tertentu, agar kreatifitasnya lebih banyak bahkan bisa paling banyak di dunia.

    riko

    24 April 2009 at 15:40

  9. kompas bagusnya tidak pandang bulu, biar yang baru kirim cerpennya ke kompas punya kesempatan dimuat. karena kalau hanya penulis lama yang dimuat,penulis baru tidak punya kesempatan.dan tidak ada regenerasi, kaya’ sepakbola aja.

    riko

    24 April 2009 at 15:49

  10. Whatever, cerpen ini hebat

    Moro

    28 Oktober 2011 at 06:19


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.512 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: