Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Raibnya Seorang Suami

leave a comment »


Pakbitels sedang keluar negeri, kata orang. Pakbitels sedang menyingkir dari hiruk-pikuk kehidupan kota dan kini menyepi ke sebuah desa di lereng gunung, kata yang lain. Pakbitels diamankan yang berwajib, ujar yang lain. Pakbitels mungkin diculik orang tak dikenal, komentar yang lain lagi. Bermacam-macam lagi kata orang mengenai Pakbitels.

Sehari sebelum raib, Pakbitels bercerita bahwa istrinya mengomel terus semalaman karena merasa disepelekan. Dianggap sepi. Dicuekin.

“Masak kerjamu baca iklan melulu. Ngapain kek! Cari duit kek! Ngojek kek! Ngobjek kek! Cari tambahan penghasilan apa kek! Jangan baca iklan melulu dong! ’Kan Ayah tahu tiap bulan keuangan kita defisit. Aku terpaksa ngutang ke tetangga! Malu ’kan aku ngutang terus!” semprot istrinya.

Sebelum itu, istri Pakbitels mengeluh tentang kebiasaan Pakbitels menonton acara televisi.

“Lagi serius dengar berita gempa bumi dan tsunami, eh dia malah cari saluran yang ada iklannya. Giliran muncul lagi berita, dia pindah lagi ke saluran lain yang menayangkan iklan. Apa nggak sebal? Padahal, di rumah cuma ada satu televisi.”

Sebelum itu, istri Pakbitels pun pernah bercerita pada tetangganya mengenai mulut Pakbitels yang berkicau sewaktu makan.

“Aku sering malu kalau makan di arisan keluarga atau pesta adat. Mulut suamiku itu lho. Ramenya minta ampun. Cap-cap-cap, gitu lho. Bayangkan kalau kami makan di hotel berbintang. Bisa ditertawakan orang ’kan?”

Bukan itu saja. Malah kebiasaan tidur Pakbitels pun bocor kepada karib istri Pakbitels.

“Ngorok-nya itu, lho. Aku tak tahan. Kadang-kadang aku mikir, aku tidur dengan macan atau dengan manusia. Cuma aku bingung, bagaimana cara menyetop ngorok suamiku itu.”

Bukan hanya itu. Masih ada lagi.

“Aku suka lampu mati kalau tidur. Eh, dia malah suka lampu terang benderang. Apa nggak sewot?”

Seorang pegawai di tempat Pakbitels bekerja yakin seyakin-yakinnya (sambil menyebut “Demi Allah…”), Pakbitels raib setelah membaca sebuah iklan koran nasional.

“Iklan apa?”

“Saya nggak tahu,” jawab si saksi.

“Apa Pakbitels meninggalkan kantor buru-buru?”

Si saksi menggeleng.

“Apa Pakbitels tampak sedih?”

“Tidak juga.”

“Pakbitels tegang?”

“Biasa-biasa saja kok waktu dia pergi.”

“Pamit pada Anda nggak?”

“Nggak tuh.”

Istri Pakbitels pun duduk di hadapanku. Tampak menonjol kerut di bawah matanya. Bola matanya masih memerah, pertanda baru saja berair.

“Suamiku hilang, Pak,” katanya tanpa basa-basi. Kata-kata itu meluncur dengan mantap. Matanya seperti mau basah.

Tak tahu harus berkata apa, aku hanya berkata, “Sejak kapan?”

“Sejak beberapa hari yang lalu, Pak,” katanya.

Aku belum juga tahu harus berkomentar apa.

“Tolonglah, Pak, temukan suamiku,” sambungnya. “Aku tak tahu lagi ke mana harus mencarinya. Aku sudah cari ke tempat-tempat yang sering dia kunjungi. Hasilnya nihil. Aku sudah cari ke tempat teman-temannya. Hasilnya nol juga.”

Sejujurnya, aku sebetulnya tak tahu ke mana Pakbitels pergi. Aku pun tak tahu ke mana harus mencari Pakbitels. Aku tak hafal tempat-tempat favoritnya.

“Bapak ’kan orang kepercayaan dia. Dia selalu cerita padaku mengenai Bapak,” tambahnya. “Satu-satunya orang yang mau mengerti dia cuma Bapak kata suamiku. Tolonglah, Pak.”

Alamak! Sesudah dia puji, dia pun minta tolong.

Sebelum meninggalkanku, istri Pakbitels masih sempat berkata, “Aku heran mengapa suamiku begitu tergila-gila pada iklan. Iklan apa saja dia sikat habis. Pokoknya, membaca iklan apa pun matanya selalu berbinar-binar ….”

Sepengakuan Pakbitels, sudah lama istrinya memperlakukannya semena-mena. Seenaknya! Untunglah Pakbitels masih bisa menahan diri. Namun, Pakbitels tersinggung berat ketika istrinya mulai mengutak-atik hobinya: baca iklan. Bayangkan. Pakbitels justru menemukan istrinya lewat iklan. Iklan cari jodoh.

“Coba kalau tak ada iklan itu,” kata Pakbitels pada suatu hari, “belum tentu dia punya suami sampai sekarang. Bisa-bisa dia jadi perawan tua. Tak laku!”

Aku membisu.

“Sekarang dia mencak-mencak tak karuan karena aku suka baca iklan. Coba di mana rasa keadilannya? Di mana rasa hormatnya terhadap suami?”

Aku pikir Pakbitels tak perlu komentarku. Jadi, aku biarkan saja dia menumpahkan semua unek-uneknya. Aku jadi keranjang sampahnya.

“Bayangkan,” sambungnya, “rumah yang kami tempati aku dapatkan dari iklan juga. Kalau aku tak baca iklan Rumah Dijual, belum tentu kami punya rumah yang sekarang. Tempatnya enak, masih banyak pohon di sekitarnya, dan tidak bising.”

Bukan hanya itu. Pakbitels meneruskan lagi.

“Ketika kami menikah, aku juga pasang iklan. Biar kenalan dan handai taulan kami tahu semua dan tidak menuduh kami kumpul kebo.”

Rupanya masih belum tercurah semua isi kepala Pakbitels.

“Ketika anak kami yang pertama dan kedua lahir, aku pasang iklan seperdelapan halaman. Agar semua orang tahu aku tidak mandul. Agar semua orang tahu istriku subur. Agar semua orang tahu kami bahagia.”

Lantas Pakbitels bertanya, “Kurang apa lagi aku, coba?”

Tampaknya pertanyaan itu untuk Pakbitels sendiri. Bukan untuk aku. Jadi, aku tak perlu buka mulut.

“Sekarang dia larang aku baca iklan, padahal aku hidup dari dan untuk iklan….”

Kalau aku pikir-pikir lagi sekarang, banyak untungnya Pakbitels bekerja di kantor kami. Dia hafal semua iklan yang dimuat di koran atau majalah yang dia baca tiap hari. Kalau kami perlu rumah, dia hafal di mana rumah yang dijual murah atau rumah yang dijual karena pemiliknya butuh uang alias BU. Orang yang cari mobil akan bertanya kepada Pakbitels. Bukan hanya itu. Pakbitels juga tahu di mana konser atau pertunjukan bagus sedang digelar. Uniknya lagi, dia pun hafal siapa saja yang meninggal dan di mana, dari keluarga siapa serta dimakamkan atau dikremasi di mana. Kalau ada model HP baru, TV baru, atau komputer baru yang diiklankan, kami tinggal bertanya kepada Pakbitels. Dia akan jawab lengkap dengan harga dan telepon yang bisa dihubungi.

Pakbitels juga tahu film bagus yang diputar di bioskop-bioskop di kota kami. Tanpa perlu baca iklan, kami tinggal bertanya kepada Pakbitels film apa yang bagus dan diputar di bioskop mana. Dia akan menjawab lengkap dengan nama-nama bintang filmnya. Pendek kata, kita butuh iklan apa saja, Pakbitels akan menjawabnya dengan sempurna.

Jadi, Pakbitels itu sangat kami perlukan di kantor meskipun dia cuma seorang pesuruh, seorang office boy. Pakbitels sudah menjadi iklan hidup bagi kami.

Sejak beberapa hari yang lalu, kami kehilangan jejak Pakbitels. Dia raib begitu saja. Tanpa pesan pada istri dan anak-anaknya. Tanpa kata-kata terakhir pada teman-teman kantornya.

Itulah yang membuatku bingung ketika istri Pakbitels duduk di depanku, padahal aku sendiri tak tahu-menahu mengapa Pakbitels raib dan tak tahu pula ke mana dia pergi.

“Tolonglah, Pak, temukan suamiku. Anak-anak menanyakan terus ayah mereka. Aku kewalahan menjawabnya.”

Seketika aku merasa didaulat menjadi seorang detektif partikelir yang harus menemukan jejak seseorang. Namun, aku tak merasa besar kepala. Aku tetap bergeming.

“Sudah ke orang pintar, Bu?”

Istri Pakbitels menggeleng. Lalu menyahut,

“Apa ada gunanya, Pak?”

Kali ini aku yang tak berkutik sembari angkat bahu.

“Sudah dilaporkan ke polisi?”

Istri Pakbitels menunduk. Tampak seperti menimbang-nimbang sesuatu. Beberapa jenak kemudian, wanita itu baru angkat bicara lagi.

“Ah, tidak usah, Pak. Saya tak punya duit ….”

Sampai sekarang aku tak habis pikir, iklan apa gerangan yang membuat Pakbitels tega meninggalkan keluarga dan pekerjaannya. Mungkinkah itu iklan pekerjaan baru yang gajinya lebih tinggi dari gaji Pakbitels sekarang? Barangkali iklan tinggal di luar negeri dengan green card sehingga Pakbitels bisa lepas dari kerusuhan, demonstrasi berkepanjangan, dan karut-marut di negeri sendiri? Atau mungkin iklan pemenang sayembara kecap merek Enak Tenan dengan hadiah berlayar keliling dunia? Siapa tahu Pakbitels mendapat hadiah berlayar dengan kapal pesiar mewah selama dua minggu dan tak sempat memberi tahu keluarga dan teman kantornya karena yakin dua minggu kemudian akan kembali ke rumah dan masuk kerja.

Ketika ihwal Pakbitels aku sampaikan kepada istriku, serta-merta dia menimpali, “Itulah …. Kita, para istri, sering sok tahu, menganggap kenal suami kita seratus persen, luar-dalam. Padahal tetap saja ada sisi gelap dari suami kita. Buktinya Bu Pakbitels itu.”

“Menurutmu, apa Pakbitels masih mungkin kembali pada istri dan anak-anaknya?”

“Mungkin saja. Siapa tahu.”

Diam-diam aku berharap, mudah-mudahan Pakbitels membaca tulisan ini dan menganggapnya sebagai iklan.

Jakarta, 28 Juli 2006

About these ads

Written by tukang kliping

17 Desember 2006 at 15:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.510 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: